Lupa Rasanya Pulang

“Ibu, Ayah pulang !”

Gadis kecilku datang menghambur dalam pelukanku. Jagoan tampanku pun menyusul setelahnya. Seperti biasa. Belum ada yang berubah. Rumah selalu menyuguhkan kehangatan. Belum lagi, istriku. Wanita sederhana yang selalu berhasil menghiasi istanaku dengan tebaran cinta. Dia wanita yang tulus. Tidak banyak menuntut dan meminta. Justru aku yang banyak meminta darinya. Paling sering adalah pinta, “Dik, jaga anak-anak…”

“Gbrakk !”

Setumpuk buku di samping lengan kanan lelaki empat puluh tahunan itu berserakan di lantai. Ternyata ia baru saja tertidur di atas meja kerjanya. Pak Ilham, begitu dia biasa dipanggil. Lelaki berkacamata dengan frame cokelat itu kini sibuk menata kembali buku-bukunya, sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya. Dia selalu begitu, terlihat tenang. Rekan-rekan kerjanya mengenalnya sebagai sosok lelaki pekerja keras, serius, dan perfeksionis. Ia selalu berusaha menuntaskan pekerjaannya segera dan dengan cara yang sempurna. Dia begitu disegani di lingkungan kerjanya.

“Ketiduran ya, Pak?” Salah seorang rekan kerjanya menegur.

“Iya, Mas. Ndak tau nih, mata saya kok belakangan ini berat sekali rasanya.”

“Bapak terlalu memforsir diri kelihatannya. Wajah Bapak sampai pucat begitu. Istirahat dulu saja, Pak kalau begitu.”

“Tapi kerjaan saya masih banyak begini, Mas. Ndak enak kalau ditinggal. InsyaAlloh sebentar lagi beres kok.”

“Oh, nggih sampun, Pak. Saya tinggal dulu kalau begitu. Jangan lupa istirahat, Pak. Kalau njenengan sakit malah bisa berantakan kerjaannya.”

Inggih, Mas. Suwun sudah diingatkan.”

Lelaki muda 25 tahun itu pun berlalu meninggalkan Pak Ilham di ruang kerjanya. Sendiri. Pak Ilham masih berkutat dengan buku dan kertas-kertas kerjanya yang berhamburan. Sesekali ia mencoba menggeliatkan punggungnya. Kelihatannya, lelah begitu menggelayut berat di tubuhnya.

Pak Ilham bergerak maju mendekati jendela. Ia menatap keluar. Kosong. Tatapannya sayu. Wajahnya pucat. Dia benar-benar kehilangan energi dirinya.

“Aku rindu pulang…” Pak Ilham menggumam ringan.

Jam makan siang pun tiba. Seperti biasa, Pak Ilham selalu beranjak terlebih dulu ke masjid di depan kantornya. Dia selalu berusaha menemui Tuhannya di awal waktu. Suatu ketika, bawahannya pernah bertanya.

“Pak, bukannya lebih baik makan dulu ya baru shalat? Biar bisa lebih khusyuk gitu shalatnya?”

“Iya betul, Mas. Tapi itu khusus kalau dia sudah sangat lapar dan ndak bisa lagi ditahan. Kalau saya memang sudah terbiasa begini, jadi ya alhamdulillah bisa shalat di awal waktu tanpa melilit perutnya.”

“Bagi tipsnya dong, Pak, biar bisa begitu bagaimana caranya? Pasti Bapak selalu disediakan sarapan yang lezat dan mengenyangkan ya sama istri…”

Lelaki berkacamata itu menunduk seketika. Pandangannya nanar, menghambur ke segala arah tanpa arti.

“Saya cuma sarapan sama air putih kok, Mas. Kalau sarapannya terlalu lezat dan mengenyangkan, nanti malah ngantukan pas kerja. Mas, sudah iqomat. Saya shalat dulu ya. Monggo kalau mau ikut shalat berjama’ah sekalian.”

Nggih, Pak. Saya wudhu dulu.”

***

Istri yang selalu menyediakan sarapan? Ah, sudah lama sekali rasanya aku tidak sarapan dengan masakan lezat istriku. Sudah lupa rasanya.

Baiti jannati. Bagaimanakah rasanya? Adakah istanaku benar-benar surga dunia bagiku? Aku sudah lupa rasanya, bahkan aku tidak pernah tahu bagaimana tinggal di dalamnya.

Aku adalah lelaki 45 tahun dengan seorang istri cantik lengkap dengan segala hiasan dirinya yang membuat lelaki manapun akan merasa betah tinggal di rumah. Namun nyatanya? Sedikitpun aku tak merasakan demikian. Benar, istriku memang seorang istri yang rupawan, namun sayang, hatinya tidak menawan. Dia belum mampu menerima kekurangan diriku. Pintanya terlalu banyak dan berat untuk kupenuhi. Benar, istriku memang cantik rupawan dengan kulit putih mulus bersih, namun suaranya padaku tidak selembut kulitnya. Dia terlalu sering membentak padaku, hingga aku lupa bagaimana suara lembutnya ketika dulu.

Aku adalah seorang ayah dengan dua orang putra dan putri. Jagoan tampanku kini berusia 20 tahun. Benar, dia tampan. Dia meninggalkan banyak garis keturunan istriku; tinggi, putih, dan berhidung mancung. Benar, dia lelaki rupawan, namun sayang, dia terlalu banyak menghadiahkanku kekecewaan. Dua bulan yang lalu, kudengar kabar tentangnya, bahwa dia telah bermain candu yang membuatnya mendekam di dalam sel bisu.

Dan aku juga seorang ayah dari gadis belia berparas manis yang kini menikmati hidupnya di usia 18 tahun. Benar, dia memang gadis manis, namun sayang, hatinya belum tersentuh dengan manis. Dia juga meninggalkanku dengan sebaris kekecewaan mendalam. Dia selalu mendatangiku dengan bentakan keras, menagih ini dan itu, memaksaku bekerja semakin keras, dan meruntuhkan dinding penahan air mataku di kala malam. Kalian tahu, bagaimana perasaan seorang ayah yang tak mampu menghadiahkan buah hatinya ini dan itu? Kalian tahu, bagaimana perasaan seorang ayah yang hanya sanggup menatap bisu saat putri kecilnya lebih nyaman berada di luar istana kecil mereka, hanya karena mereka merasa, “Dunia luar lebih nyaman buatku.” Ya, putri kecilku yang dulu tangisnya begitu kurindu, kini ia lebih memilih meninggalkanku, meninggalkan istana kecilku. Ia pergi meninggalkanku tanpa pernah ada rasa rindu untuk kembali berjumpa denganku.

Mungkin, rumah yang dulu selalu kusebut istana raja itu lebih pantas disebut istana pasir yang telah goyah dan berhamburan diterjang kerasnya ombak di lautan kehidupan. Aku benar-benar lupa bagaimana rasanya pulang. Kepulangan yang seharusnya menjadi bingkisan manis penawar rindu, justru menjadi begitu hambar bagiku. Bahkan mungkin meninggalkan rasa pahit yang membuat lidah kelu. Jauh di dalam lubuk hatiku yang telah membiru, selalu tertinggal rasa rindu, namun selalu tertinggal pula rasa khawatir ingin bertemu.

Bagaimana kepulanganmu? Harap dan cemas yang selalu mengiringi langkah kepulangan menuju rumah tercintamu terbayarkah dengan rasa bahagia yang membuncah karena telah saling bertemu?

Adakah pelukan hangat istri dan anak-anakmu?

Adakah sapaan lembut istri yang menghambur padamu sambil menyeka keringat kerja kerasmu?

Adakah rengekan manja gadis dan jagoan kecil yang selalu rindu menunggu kepulanganmu?

Bagaimanakah rasanya? Aku sudah lupa rasanya pulang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s