Sebentar Lagi Pulang

“Cinta pada pasangan bisa hilang, tetapi tak ada yang mampu memutus hubungan orang tua dengan anak-anaknya. Ketahuilah, tidak ada yang berhak merusak kenangan indah anak-anak bersama ayah dan ibundanya.” (Asma Nadia)

Anak perempuan itu terus menunggu, entah sampai kapan. Ia hanya yakin, sebentar lagi ayahandanya pulang. Ia menunggu di depan pintu ditemani langit mendung. Sambil sesekali memainkan ujung rok motif bunga-bunganya, ia mengukir nama Ayah dari balik kaca jendela yang berdebu.

“Ayah sebentar lagi pulang kan, Bu?” Tanya gadis kecil itu.

Diam. Tanpa jawaban.

“Bu, Hana sayang sama Ayah. Ibu juga kan? Sini Bu, temenin Hana di depan pintu. Ayah sebentar lagi pulang.”

Hening. Tanpa suara.

Anak perempuan itu terus menunggu, entah sampai kapan. Ia berharap penantiannya tidak sia-sia. Binar matanya penuh isyarat bahwa pertemuan itu sebuah niscaya.

Anak perempuan yang terus menunggu itu sulit mencerna kata cerai, rupanya. Baginya, cerai adalah pergi untuk kembali.

“Cerai itu apa sih, Bu? Ayah pergi ke kantor berhari-hari itu cerai ya, Bu? Cerai itu masih bisa pulang kan, Bu?”

Rumah kecil itu masih hening. Namun gadis kecil itu terus bertanya. Bersamaan dengan itu, hujan diguyur dengan derasnya. Menyembunyikan isak tangis ibundanya. Air mata ibu terlanjur raung, sedari tadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s