Soulmate

Mereka bilang dua sejoli itu soulmate abadi. Kemanapun pergi selalu melengkapi. Dimana ada suami, tak jauh di dekatnya pasti ada sang istri. Mereka bilang pasangan muda itu soulmate romantis. Kemanapun pergi selalu ada kata “Sayang, Honey, Sweetheart,” dan sapaan lain yang mereka sebut itu bumbu romantis.

Dua sejoli itu, begitu sempurna di mata mereka. Suami tampan, bersanding  dengan wanita yang tak kalah rupawan. Ah, surga dunia, begitulah yang mereka simpulkan.

Dua sejoli itu dulu sama-sama tak pernah tahu, jika takdir-Nya mempersatukan mereka dalam sebuah bahtera. Sang wanita pernah mempertautkan hatinya kepada sosok pangeran yang lain. Begitu pula dengan sang lelaki yang kini menjadi raja yang bertahta di singgasana hatinya. Jalan kisah pun mengalir berbeda. Mereka bertemu, saling mengenal, berbagi cerita, hingga akhirnya saling percaya untuk berbagi hati dalam ikatan suci.

Menikah. Ya, merekapun menikah. Menghalalkan ikatan hati yang sebelumnya pernah terjalin mesra. Ya, mereka pernah mesra sebelum waktunya, hingga beberapa lama. Merekapun semakin mesra. Orang-orang yang dulu pernah mengaguminya, semakin menjadi-jadi rasa kagumnya. Entah kagum karena apa.

Mereka pun menjalani kehidupan rumah tangga layaknya orang biasa. Bertemu, bertatap muka, berbagi rasa dan cerita. Mungkin ini sebabnya orang-orang menyebutnya bahtera. Bukankah setiap bahtera selalu membutuhkan seorang nahkoda? Hanya seorang, meskipun awak kapal bisa saja lebih dari seorang. Dan mungkin ini sebabnya, seorang nahkoda harus paham betul cara navigasi dan mengemudi.

Bahtera yang baru saja mereka arungi bersama ternyata goyah tergoncang. Bukan. Bukan ombak besar yang menghantam. Bahtera yang terlihat kokoh itu ternyata rapuh dari dalam. Kesalahan ada pada sang nahkoda. Ia gamang. Ia gentar. Ia telah gagal mengemudikan bahtera kebanggaannya.

Sang permaisuri menunduk menahan tangisan. Ia tergoncang hebat dan dirundung kenestapaan mendalam.

“Sungguh, jika kupahami makna bahtera sebelumnya, aku benar-benar ingin dinahkodai seseorang yang tak hanya membuat duniaku bahagia di sisinya. Aku pun ingin akhiratku aman bersamanya…”

Sang permaisuri menutup kalimatnya dengan diam, tanpa sepatah kata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s