Tentang Kontribusi

Blog Pribadi Abu Ezra Al Fadhli

Kita sepakat bahwa seorang muslim wajib berkontribusi dalam dakwah dan jihad, sekecil apapun kontribusinya. Baik itu dengan menggunakan harta, tenaga, pikiran, jiwa, dan raga. Setiap orang dengan kompetensinya masing-masing bisa menyumbangkan apa yang ia miliki sebagai bagian dari kontribusinya untuk Islam.

Namun demikian seseorang tidak bisa memaksakan orang lain untuk berkontribusi dengan sesuatu yang sama. Sesuatu yang sesuai dengan apa yang ia atau golonganya miliki. Hal ini disebabkan bahwa setiap orang memiliki kapasitas ilmu, pengatahuan, dan pemahaman yang berbeda-beda dalam tataran praktis. Islam tidak menghendaki semua orang menjadi ahli fiqih, sebagaimana Islam juga tidak menghendaki semua orang menjadi ahli kesehatan. Semua memiliki porsinya, dan peradaban yang akan dibangun membutuhkan semua itu.

Kita tidak menutup mata bahwa ada sebagian orang yang memiliki multi talenta dalam ilmu dan pengetahuan sehingga ia bisa menjadi ahli fiqih sekaligus tabib yang ahli, bahkan memahami dengan mendalam tafisr Al-Quran dan ilmu Hadits. Namun, jumlah orang seperti…

Lihat pos aslinya 138 kata lagi

Iklan

Tentang Dakwah via Demokrasi

“Namun apa jadinya bila semua itu menjadi ajang saling vonis yang satu terhadap yang lainnya. Kelompok yang mengharamkan aktivitas dakwah parlemen memberikan vonis kafir-musyrik bahkan seringkali ditujukan secara ta’yin (personal), sedangkan para aktivis dakwah parlemen sering menuduh mereka yang anti demokrasi sebagai orang-orang yang menyerang dari dalam, menggunting dalam lipatan, dan menusuk dari belakang.”

Blog Pribadi Abu Ezra Al Fadhli

Democrazy Democrazy

Sampai saat ini saya masih berpegang pada pendapat yang disampaikan oleh Al Ustadz Farid Okbah, bahwa memanfaatkan demokrasi sebagai wasilah dakwah merupakan ikhtilaaf tanawwu’ fil ijtihaad [perbedaan pendapat variatif dalam berijtihad].[1] Namun adapun seseorang akan beramal memilih yang mana, tentu berbeda-beda tingkatan kewajibannya:

(1) Bila ia sanggup mengkaji dalil, maka wajib bagi dirinya melakukan tarjih (mengkaji mana yang lebih kuat dan dekat kepada kebenaran) atas pendapat-pendapat yang ada. Ini adalah maqam-nya para ulama dan mujtahid.

(2) Bila ia belum mampu, maka wajib bagi dirinya berijtihad untuk memilih jalan yang paling selamat di dunia dan terutama di akhirat, berdasarkan kaidah “yusannul khuruuj anikhtilaafil ulamaa” [disunnahkan keluar dari perbedaan pendapat para ulama]. Ini mungkin maqam-nya para thalabul ilmi. [2]

(3) Bila ia masih belum mampu karena sangat awam terhadap permasalahan tersebut, maka ijtihadnya adalah “memilih imam mana yang paling layak untuk ditaklidi.” [3] Saya harap kita sekalian…

Lihat pos aslinya 978 kata lagi