Tentang Dakwah via Demokrasi

“Namun apa jadinya bila semua itu menjadi ajang saling vonis yang satu terhadap yang lainnya. Kelompok yang mengharamkan aktivitas dakwah parlemen memberikan vonis kafir-musyrik bahkan seringkali ditujukan secara ta’yin (personal), sedangkan para aktivis dakwah parlemen sering menuduh mereka yang anti demokrasi sebagai orang-orang yang menyerang dari dalam, menggunting dalam lipatan, dan menusuk dari belakang.”

Blog Pribadi Abu Ezra Al Fadhli

Democrazy Democrazy

Sampai saat ini saya masih berpegang pada pendapat yang disampaikan oleh Al Ustadz Farid Okbah, bahwa memanfaatkan demokrasi sebagai wasilah dakwah merupakan ikhtilaaf tanawwu’ fil ijtihaad [perbedaan pendapat variatif dalam berijtihad].[1] Namun adapun seseorang akan beramal memilih yang mana, tentu berbeda-beda tingkatan kewajibannya:

(1) Bila ia sanggup mengkaji dalil, maka wajib bagi dirinya melakukan tarjih (mengkaji mana yang lebih kuat dan dekat kepada kebenaran) atas pendapat-pendapat yang ada. Ini adalah maqam-nya para ulama dan mujtahid.

(2) Bila ia belum mampu, maka wajib bagi dirinya berijtihad untuk memilih jalan yang paling selamat di dunia dan terutama di akhirat, berdasarkan kaidah “yusannul khuruuj anikhtilaafil ulamaa” [disunnahkan keluar dari perbedaan pendapat para ulama]. Ini mungkin maqam-nya para thalabul ilmi. [2]

(3) Bila ia masih belum mampu karena sangat awam terhadap permasalahan tersebut, maka ijtihadnya adalah “memilih imam mana yang paling layak untuk ditaklidi.” [3] Saya harap kita sekalian…

Lihat pos aslinya 978 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s