When Words Turn Into Weapons

write 9
Tulisan ini disarikan dari buku “Menjadi Powerful Da’i dengan Menulis Buku” karya Pak Bambang Trim.

Of all the weapons of destruction that man could invent, the most terrible and the most powerful was the word. Daggers and spears left traces of blood. Arrows could be seen at a distance. Poisons were detected in the end and avoided. But the words managed to destroy without leaving clues. (Paulo Coelho)

“Sungguh, Indonesia kini membutuhkan lebih banyak lagi para da’i penulis yang bisa menggalang kekuatan pemikiran di garda terdepan perjuangan menegakkan syariat dan meniscayakan kebangkitan Islam di Indonesia. Banyak sekali pertempuran pemikiran yang harus dihadapi para da’i, terutama di bidang tulis-menulis. Hanya kekuatan pena yang bisa menghadapi kekuatan pena. Hanya buku yang bisa menghadapi buku.” Ungkap Pak Bambang Trim membuka tulisan ini.

Dakwah, semestinya tidak lagi didefiniskan secara sempit berupa ceramah dan khutbah saja, sebab dakwah adalah sebuah aktivitas yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Maka dalam konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa ceramah saja belum cukup untuk dapat menuntaskan problematika yang dihadapi umat.

Dakwah adalah upaya mengajak orang pada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran, apapun bentuknya, apapun perannya. Oleh sebab itu, dakwah sebenarnya dapat dilakukan oleh siapapun dalam bentuk apapun. Maka dari itu, da’i seharusnya bukan lagi pekerjaan para tokoh bertitel ustadz atau ustadzah saja. Setiap kita bisa dan harus menjadi da’i yang menyeru pada kebaikan itu. 🙂

Sesungguhnya, sejarah hanya diwarnai dengan dua warna, yaitu merah darah para syuhada dan hitam tinta para ulama. (Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah)

Maka cukuplah mulia seorang yang menggunakan penanya untuk berdakwah, sebab Allaah pun telah bersumpah dengan pena dalam surah Al-Qalam. Maka kelak jika para syuhada itu mempersaksikan pedang mereka sebagai senjata, biarlah para ulama turut mempersaksikan senjata mereka berupa tulisan; kata-kata.

Kekuatan kata-kata memang tak selamanya bisa menancap kuat dalam pikiran seseorang. Sebagai ilustrasi, Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam pernah melarang para shahabatnya untuk menuliskan hadits-hadits sebelum program hafalan dan penulisan Al-Quran selesai lebih dulu. Namun, setelah Al-Quran diyakini dapat dihafal dan mulai dituliskan, barulah beliau shalallaahu ‘alayhi wasallam mengizinkan para shahabat untuk menghimpun dan menuliskan hadits. Maka dari ilustrasi ini, dapat kita simpulkan bahwa Rasulullah meyakini jika basis dakwah pun harus dibangun dengan kekuatan qalam; pena, tulisan, kata-kata.

Dengan qalam tersebut, kelak akan ada sesuatu yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga dengannya, akan ada hikmah dan pelajaran yang dapat direnungkan.

Tuliskanlah, Meski Hanya Satu Ayat

Efektivitas tulisan sebenarnya bisa menjangkau secara massal, bertahan lama dari masa ke masa, sangat fleksibel dengan perubahan, serta dapat dibaca kapanpun-dimanapun-dalam kondisi apapun. Namun yang mencengangkan adalah kata-kata sastrawan Taufiq Ismail berikut ini,

Selain buta membaca, bangsa kita juga rabun menulis.

Itu artinya, kegiatan membaca dan menulis ternyata belum menjadi sebuah kemampuan untuk melihat dengan cerdas setiap fenomena yang terjadi di dunia ini. Padahal, sudah menjadi bukti sejarah bahwa Islam mengalami masa keemasan ketika ilmu begitu melimpah dan dituangkan ke dalam berjilid-jilid karya tulis berupa buku. Penulisan kembali Al-Quran dan Al-Hadits juga sebenarnya cukup menjadi bukti kuat bahwa umat Islam memiliki keandalan dalam menyusun kitab yang sebelumnya tersebar berupa hafalan, sehingga dapat dirumuskan menjadi karya yang terstruktur sebagai bagian dari karunia Allaah Ta’ala.

Jika sekarang para da’i meninggalkan kebiasaan membaca dan menulis, tentu hal ini akan menjadi sebuah kemunduran telak. Bukankah kita telah dan sedang menyaksikannya saat ini? Bagaimana melongonya kita melihat aliran gagasan yang begitu dahsyat dari para penulis non-Muslim yang begitu tendensius. Iya, kan?

Jika perlu bukti, baiklah, sebutlah satu nama diantara para penulis non-Muslim paling populer. Oke, coba nama ini dulu: Dale Carnegie, yang begitu memukau khalayak dengan gagasan-gagasan lewat tulisan tentang pengembangan diri. Tidak cukup sampai disitu, bahkan ilmu pengembangan diri itu menjadi ajang training jutaan rupiah yang dibanjiri orang-orang yang haus motivasi. Salah satu buku terkenalnya adalah How to Win Friends and Influence People yang berkisah tentang pentingnya silaturrahmi dan mengembangkan prinsip dipercaya oleh orang lain. Anyway, saya punya buku ini di rumah, warisan dari budhe saya. Hehehe. 😀

Bukti lain adalah gagasan yang dituangkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People, yang kemudian diperbarui dengan judul The 8th Habit. Kabarnya, buku tersebut terjual satu juta kopi hanya dalam waktu setahun pasca diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam 32 bahasa. Fantastik!

Dalam buku tersebut, Covey memaparkan hasil penelitiannya tentang karakter manusia untuk dapat mencapai kesuksesan. Bahkan pada buku terakhir, ia menambahkan pentingnya suara hati yang bermakna sebagai spriritualitas yang tinggi.

Satu nama lagi, J.K. Rowling. Anda pasti sudah sangat mafhum dengan yang satu ini. Novelis paling populer abad ini, mungkin ya. Karya fenomenalnya; Harry Potter yang sebenarnya sarat dengan propaganda ilmu sihir itu memang nyatanya telah berhasil menyihir sebagian besar kawula muda negeri ini. 😦

Memang harus kita akui, mereka adalah para penulis Barat yang hebat. Soal ini, mau tidak mau kita memang harus mengakuinya demikian, sebab meski sebagian besar mereka tidak melahirkan gagasan yang berlandaskan syariat, namun apa yang datang dari Barat tidak perlu semuanya ditampik. Kita tetap bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang berharga dari mereka.

Namun, adalah sebuah keanehan ketika kita (khususnya sebagai umat Islam) tahu bahwa kita telah memiliki contoh nyata yang lebih hebat, yaitu Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallam, tetapi kita seolah-olah mencukupkan diri dengan apa yang digagas oleh ilmuwan-ilmuwan Barat. Apa yang dipaparkan oleh Carnegie dan Covey sebenarnya sudah ditunjukkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah. Namun keanehan itu semakin nyata ketika kita merasa bahwa apa yang dibawa oleh kedua orang tersebut adalah sesuatu yang baru bagi umat Islam.

Dari sini semoga kita bisa mulai menarik benang merah. Carnegie dan Covey semestinya menjadi hikmah besar bagi umat Islam, bahwa mereka benar-benar berpikir dan menuliskan apa yang dipikirkannya sehingga menjadi gelombang perubahan yang dahsyat bagi manusia. Maka sampai hari ini, sungguh naif jika kita tidak atau belum segera memulai menuliskan apapun tentang kedahsyatan Islam; dien kita.

Andaikan dihadapkan kepadaku dua orang penulis, maka aku akan memilih yang paling gigih. Tanpa bakat, orang bisa menjadi penulis hebat. Namun tanpa kegigihan, seorang penulis berbakat tak berarti apa-apa. (Mohammad Fauzil Adhim)

Tiga Bekal Menulis

Banyak yang bilang menulis itu sulit. Yang pasti, di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Allaah mengaruniakan tekad, i’tikad, dan manfaat sehingga menulis menjadi aktivitas yang penuh tantangan sekaligus mengasyikkan. Namun ingat, meski kemampuan menulis adalah karunia Allaah, kemampuan tersebut bukanlah bakat yang dibawa sejak lahir. Menulis adalah kemampuan yang bisa dan sangat mungkin dipelajari.

Pak Bambang Trim mencoba membagikan tips bagi kita semua tentang bagaimana menstimulus gagasan untuk memulai sebuah tulisan. Ini dia. 🙂

1. Banyak membaca Yap! Pasangan menulis tidak lain dan tidak bukan adalah membaca. Banyak membaca dapat merangsang gagasan, memperkaya kosa kata, dan menemukan gaya tulisan.

2. Banyak berjalan Bepergian akan memberikan input dan hikmah yang besar bagi kita. Hal inilah yang dapat menstimulus ide dalam pikiran kita. Ingatlah, para ulama terdahulu yang banyak menulis buku umumnya adalah para pengembara. Maka mulai saat ini, jangan lagi sekadar jalan-jalan, travelling, atau naik gunung. Tapi niatkan sesuatu yang lebih bermakna dari itu, yaitu sebagai sarana untuk menekuri ayat-ayat-Nya. Termasuk juga, rajin-rajinlah berjalan untuk mendatangi majelis atau kajian ilmu, seperti: seminar, bedah buku, talkshow, dan sebagainya. 😉

3. Banyak bersilaturrahmi Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam pernah mengingatkan kita tentang kedahsyatan silaturrahmi, diantaranya dapat menjadi jalan pembuka rezeki. Rezeki silaturrahmi itu bisa berupa ilmu dan ide untuk tulisan. Oleh sebab itu, jangan pernah lagi melewatkan momen untuk bersilaturrahmi kepada orang-orang yang keberadaannya di dunia ini sarat akan hikmah, pelajaran, dan inspirasi. Temukan mereka di sekitar kita! 😉

Gagasan yang tidak diminati orang akan sia-sia. Tulisan yang tidak dibaca orang akan sia-sia. Lebih sia-sia lagi dakwah dan pemikiran yang tidak diterbitkan. (Bambang Trim)


Catatan: Resume buku ini in syaa Allaah akan saya bagi menjadi beberapa bagian. To be continued… 😉

Iklan

Tanpa Ijazah

Graduation Diploma

Give a man a fish and you feed him for a day; teach a man to fish and you feed him for a lifetime. (Maimonides)

Alhamdulillaah, setahun lalu ternyata saya berhasil dinyatakan lulus secara resmi dengan predikat cumlaude (ini ajaib 😀 ), meski tanpa ijazah. Tapi saya tetap melalui serangkaian proses kelulusan tersebut, mulai dari praktik kerja lapangan, penelitian, menyusun karya tulis ilmiah, sampai prosesi wisuda, meski tanpa ijazah. Yap, saya telah melalui semuanya, meski mungkin sebagian menganggap belum sempurna, karena sekali lagi: tanpa ijazah. 🙂

Kok bisa? Hehehe. 😀

Terus terang, kala itu saya memang sudah tidak lagi berhasrat pada ijazah. Satu, karena sampai hari ini saya memang belum mengumpulkan revisian, haha. 😀 Dua, saya belum siap membayar biaya administrasinya 😆 Bukan karena mahal sih. Kalaupun sampai harus menabung, sebenarnya untuk mencapai nominalnya tidak akan memakan waktu sampai bertahun-tahun, hehe.

Nah, kalau penasaran, silakan baca pada alasan ketiga. (Ini khusus buat yang penasaran aja loh yaaa) 😀

Tiga, saya hanya ingin membuktikan (pada diri saya sendiri sebenarnya), bahwa…

Buah dari ilmu bukan terletak pada ijazah, sebab tanpa ijazah, manusia tetap bisa bertahan hidup, berkarya, dan menebar manfaat.

Betul, sebenarnya saya hanya ingin membuktikan itu kok. Maaf jika terdengar mengecewakan. Namun percayalah, dalam hidup, saya tidak pernah berhasrat untuk mengecewakan orang lain. Sungguh. 🙂


There are three constants in our life: changes, choices and principles. (Stephen Covey)

Setiap pilihan pasti menimbulkan konsekuensi. Ya kan?

Yap, saya sepenuhnya menyadari itu. Salah satu bentuk konsekuensi itu adalah suka tidak suka, mau tidak mau, saya harus menerima kenyataan bahwa kelak akan kecil kemungkinan saya bisa bekerja di instansi formal. Padahal, begitulah harapan ayah dan ibu. Hehe. Sekali lagi, maaf terdengar mengecewakan. 🙂

Saya masih mengingat betul bagaimana gigihnya Ibu menginginkan saya bekerja sebagai PNS. Sebagaimana Bapak, yang kala itu pernah terlihat sangat kecewa ketika tahu saya batal diterima di sebuah rumah sakit yang cukup bonafit disini.

Sampai pernah suatu ketika Ibu berseloroh, “Oalah Mbak, Mbak… Kalau tahu kamu sekarang jadi guru ngaji dan tukang nulis, dulu kamu taksekolahin di I**N aja.”

Hehehe. Saya hanya tersenyum simpul. Mencoba memahami kalimat Ibu yang terdengar seperti bermajas. 🙂

Beberapa teman juga begitu. Pernah ada yang menimpali, “Nin, kalo sekarang kerjaanmu ngajar dan nulis, ngapain dulu kuliah di gizi? Ilmu gizinya ga kepake dong…”

Saya selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa itu dengan jawaban yang nyaris sama.

“Ilmu giziku in syaa Allaah tetep kepake kok. Jangan khawatir. Kalo soal ngajar dan nulis, ini cuma bagian dari ikhtiar mengetuk pintu rezeki yang lain. Boleh, kan?”


Sekarang, saya hanya ingin mensyukuri apa yang telah, sedang, dan akan saya jalani. Bagaimana saya yang dulu tentu saja adalah bagian dari bagaimana saya sekarang. Maka bagaimana saya hari ini adalah bagaimana saya esok hari, beberapa waktu setelah hari ini.

Sekarang, alhamdulillaah, in syaa Allaah Ibu dan Bapak telah ridha dengan apa yang telah saya pilih dan jalani saat ini. Bahkan suatu ketika, kata-kata Ibu terdengar begitu mengharukan, “Ternyata memang ya, rezeki itu ndak selamanya berupa materi, karena kalau yang dicari materi terus ya ndak ada habisnya…”

Sekarang, alhamdulillaah, saya menyaksikan sendiri bagaimana Bapak begitu bersemangat belajar membaca Al-Quran. Saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan aktivitas saya sekarang. Namun jika boleh dihubung-hubungkan, semoga saja memang ada korelasinya. 🙂

Sekarang, alhamdulillaah, meski dengan penghasilan -yang bagi sebagian orang mungkin tampak sedikit- (well, menurut saya banyak sedikit adalah soal sudut pandang ya, hehe), tapi dengan itu saya bisa menyisihkannya sedikit demi sedikit untuk “membahagiakan” Ibu dan Bapak. Paling tidak, uang bensin, pulsa, dan pembalut sudah bisa saya tangani sendiri. Meski sederhana, namun semoga itu meringankan. 🙂

Dan sekarang, alhamdulillaah, saya merasakan betul bagaimana tenangnya menjalani pekerjaan saya saat ini.

Do what you love, love what you do.

Salah satu faktor ketenangan yang saya rasakan adalah: lingkungan bekerja yang kondusif.

Mulai dari urusan hijab dan jam shalat yang tetap terjaga, minimnya ikhtilat atau interaksi dengan lawan jenis -jikapun ada, intensitasnya tidak sering-, hampir tidak pernah lagi pulang larut malam, serta dikelilingi anak-anak yang kesehariannya dekat dengan Al-Quran. Yang terakhir ini, maa syaa Allaah, membuat saya tersadar bahwa betapa jauhnya saya selama ini dengan Al-Quran; sang cahaya terang.

Haadzaa min fadhli Rabbi, maa syaa Allaah…


Apa yang saya tulis barusan sekadar sharing pengalaman loh ya. Saya sama sekali tidak bermaksud menjustifikasi siapapun. Tulisan ini juga bukan vonis bahwa pekerjaan ideal adalah sebagaimana yang saya jalani. Sungguh, tulisan ini jangan dipahami demikian. 🙂

Hanya saja, jika boleh memilih sekali lagi, libatkan Allaah dalam setiap destinasi kita. Apapun, tidak hanya soal pekerjaan. Sebab memang, ternyata tugas kita adalah berkhidmat menjadi abdi-Nya. Tidak lebih.

Tugas kita berikutnya adalah mencari celah untuk menikmati tugas itu. Maka berikhtiarlah mencari celah itu. 🙂

Dapatkan rejeki di tempat yang memuliakan dirimu, juga memuliakan Allah. Jangan paksakan diri untuk mengais rejeki di tempat yang tidak mengindahkan keyakinanmu pada tuntunan-Nya, atau menggantungkan diri pada majikan yang menjauhkanmu dari ridha Allah. Itu hanya akan menghinakanmu.

Allah tidak akan membiarkan hamba yang mengimani-Nya sepenuh hati dan sepenuh pengabdian terlunta-lunta dalam kekurangan rejeki. Allah Maha Kaya. Allah Maha Kaya. Allah Maha Kaya.

(Abi Chondro)


Oyap, salah satu bentuk memanfaatkan ilmu gizi yang sudah saya pelajari adalah: lewat tulisan. Yah, mau bagaimana lagi. Namanya juga tukang nulis, tukang sapu naskah. Wehehe. In syaa Allaah, sebagian tulisan akan dimuat disini, sebagian lagi kadang dimuat di majalah kesehatan -jika sedang beruntung 😀 –

Nah jadi sudah ya, jangan khawatir lagi kalau saya sudah benar-benar melupakan gizi. Ketahuilah, sekali-kali saya tidak pernah menganggapnya sebagai masa lalu.

Literally, i’m nutritionist. Yeayyy! 😉

Rahim

slide_6

“Rahimku memang tidak sempurna. Tapi rahim ibu tidak pernah tidak. Rahim ibu tidak pernah aplasia, karena kasih ibu tidak pernah cacat. Bodohnya, aku pernah meragukan itu. Padahal ‘rahim’ ibu lebih dari sekedar cukup…”

“Aplasia vagina disertai aplasia uterii.”

Dokter menjatuhkan vonis tanpa babibu. Saya terperangah, gagal paham. Soal penyakit, mengerti apa itu H5N1 saja saya sudah merasa hebat.

“Itu penyakit apa, Dok?”

“Kelainan organ reproduksi, tepatnya pada rahim. Rahim Anda tidak berkembang, Mbak.”

Rahim tidak berkembang? Oh, jadi hanya begitu penjelasannya. Singkat sekali, pikir saya. Saya belum puas.

“Bisa jelaskan lebih detail, Dok? Saya masih belum mengerti.” Saya terus mengejar pertanyaan.

“Begini, Mbak. Penyakit yang Mbak Sari alami ini tergolong penyakit langka, dimana rahim tidak terbentuk sempurna. Bahkan dari hasil USG, rahim mbak Sari tidak tampak. Rahim Mbak Sari tidak berkembang. Kondisi inilah yang membuat Mbak Sari tidak mengalami menstruasi.”

Rahim tidak tampak? Apa maksudnya? Rahim saya ghaib? Bagaimana mungkin? Tiba-tiba saya sangat skeptis, melawan kemungkinan. Saya masih belum puas dengan jawaban dokter berjilbab hijau itu. Saya masih menimpalinya dengan pertanyaan.

“Selain tidak bisa menstruasi, adakah dampak lain dari kelainan ini, Dok?”

“Begini Mbak. Dampak yang paling dikhawatirkan dari kelainan ini adalah Mbak Sari tidak bisa hamil…”

Saya tercekat bukan main. Bumi seperti berhenti mengorbit. Langit sekonyong-konyong dirobohkan di depan muka. Mata saya merabun akut. Saya kehilangan gravitasi, kemudian rubuh tanpa komando.

Berhari-hari saya mengurung diri di dalam kamar. Lidah terasa getir. Nafsu makan saya kolaps. Dada terasa sangat sempit, sampai-sampai oksigen rasanya begitu mahal. Semenjak vonis itu saya sering sesak nafas. Imun melemah. Tubuh kuyu, mata sayu. Mendadak saya seperti fobia dengan cermin. Setiap bercermin, saya merasa ditertawakan oleh bayangan saya sendiri. Dinding kamar seperti memantul-mantulkan cemooh. “Kamu bukan perempuan.” Berulang kali.

Berkali-kali saya memecahkan cermin dengan tangan sendiri. Hampir-hampir merobek nadi. Tapi takdir hidup saya belum surut. Rupanya Allah belum hendak menghentikan sistem regulasi darah dalam jantung saya. Padahal saya merasa hidup segan, mati mungkin lebih baik. Astaghfirullah. Saya sadar itu kata-kata kufur. Tapi, semua ini rasanya memang terlalu berat. Bahu saya terlalu rapuh. Iman saya belum membaja.

Saya pun terus menjauhi ibu. Terus menghakiminya sebagai manusia yang paling bersalah atas apa yang saya alami. Tidak hanya itu, saya juga menjaga jarak dengan ayah. Memutus hubungan dengan teman-teman. Apalagi dengan laki-laki. Saya mati rasa. Intinya, saya menutup diri dari pergaulan. Dunia luar terlalu buas bagi perempuan yang “bukan perempuan” seperti saya. Tiap hari saya disuguhkan iklan-iklan di televisi. Semuanya memuja perempuan ideal. Sedangkan saya? Jangankan ideal, setiap hari saya terus mempertanyakan takdir keperempuanan yang saya jalani.

Saya memang terlahir tanpa rahim. Mustahil punya anak. Saya mandul. Tapi hati saya tidak. Hati saya belum benar-benar mati rasa. Rahim saya boleh aplasia, tapi hati saya tidak. Perempuan mana yang tidak ingin menikah dan punya anak? Meraung kesakitan saat melahirkan, menimang bayi, menyusuinya, menggantikan popoknya. Semuanya memang merepotkan, tapi percayalah. Perempuan manapun selalu merindukan momen merepotkan itu. Saya benar-benar tampak seperti pungguk merindukan bulan. Seringkali saya masih merasa bahwa saya perempuan tulen, karena saya rindu menjadi ibu.

Sampai suatu ketika, saya seperti tersambar petir. Saya melihat ibu menangis malam-malam dalam sujudnya. Ibu tidak berhenti menyebut nama saya dalam doanya yang dibanjiri air mata.

“Kuatkan putriku, Ya Allah. Aku tahu segala takdir-Mu adalah baik, meski sering kami tampik. Jika memang kondisi Sari ini akibat ulahku, maka pindahkan rasa sakitnya padaku. Biar aku yang menanggung beban berat di pundaknya. Aku rela, asalkan senyumnya kembali seperti dulu…”

Seketika saya lumpuh. Hati rasanya kisut. Batin saya menjerit. Doa ibu sedemikian tulusnya. Memindahkan rasa sakit? Manusia macam apa yang rela menanggung sakit atas apa yang tidak seharusnya ia derita? Tiba-tiba Bumi seperti ruang hampa udara. Asfiksia.

“Rahimku memang tidak sempurna. Tapi rahim ibu tidak pernah tidak. Rahim ibu tidak pernah aplasia, karena kasih ibu tidak pernah cacat. Bodohnya, aku pernah meragukan itu. Padahal ‘rahim’ ibu lebih dari sekedar cukup. Allaahu ya Rahman ya Rahim. Ampuni dosaku, ampuni…”

Saya pun mengayun lengan. Mendekap tubuh ibu dari belakang.

“Bu, ternyata ‘rahim’ ibu lebih dari cukup. Sari minta maaf…”

(Tulisan ini diadaptasi dari kisah nyata. Sari bukan nama sebenarnya.)

Syam, Negeri Jihad dan Tarbiyah

Langit S

Syam juga merupakan negeri yang paling bersejarah, negeri yang tanahnya paling dipersengketakan oleh manusia di muka bumi, negeri yang dijanjikan oleh Allah sebagai pusat kekuatan umat Islam di akhir zaman. Musuh-musuh Islam notabene adalah umat yang paham betul bagaimana sejarah Islam. Mereka adalah kaum yang membaca hadits-hadits shahih dari Rasulullaah. Hal ini yang membuat mereka gigih memperebutkan tanah Syam, Mereka khawatir jika Syam jatuh ke tangan umat Islam, maka umat Islam akan memimpin dunia. Oleh sebab itu, sangatlah ironi jika umat Islam tidak tahu dan tidak mau mengkaji Islam dengan membaca dan memahami hadits-hadits Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam.

Secara garis besar, tarbiyah memiliki 3 fungsi utama, yaitu:

  1. Penyambung generasi

“ Jika suatu negeri tidak ada tarbiyah Islamiyah, maka negeri itu tidak akan paham dengan perjuangan Rasulullaah dan para shahabat. Dan mustahil negeri itu bisa memahami Islam secara kaffah.”

  1. Penanaman ruh ajaran Islam
  2. Perantara pembinaan dalam melahirkan generasi Islam yang berkualitas

Mengapa Syam (Palestina, Suriah, Libanon, Yordania, dan beberapa ulama menyebut pula tanah Israel) disebut negeri yang diberkahi? Menurut tafsir Ath-Thabari, negeri Syam menjadi negeri yang diberkahi dengan banyaknya buah-buahan dan sungai yang secara khusus diperuntukkan bagi negeri tersebut. Selain itu, Syam merupakan negeri yang Allah bersumpah dengannya dalam surah At-Tin. Dalam sebuah tafsir menyebutkan bahwa maksud Allah menyebut kata “At-Tiin” dalam ayat 1 dan 2 adalah sebuah negeri, negeri yang menghasilkan buah Tin dan Zaitun. Dalam ilmu tafsir, jika Allah bersumpah atas sesuatu, maka yang perlu diperhatikan adalah isi sumpah tersebut. Isi sumpah Allah dalam surah At-Tin adalah tentang pendidikan, dimana Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, lengkap dengan akal. Dengan akal tersebut, hendaknya manusia dapat melaksanakan pendidikan untuk mengenal Allah.

Syam juga merupakan negeri yang paling bersejarah, negeri yang tanahnya paling dipersengketakan oleh manusia di muka bumi, negeri yang dijanjikan oleh Allah sebagai pusat kekuatan umat Islam di akhir zaman. Musuh-musuh Islam notabene adalah umat yang paham betul bagaimana sejarah Islam. Mereka adalah kaum yang membaca hadits-hadits shahih dari Rasulullaah. Hal ini yang membuat mereka gigih memperebutkan tanah Syam, Mereka khawatir jika Syam jatuh ke tangan umat Islam, maka umat Islam akan memimpin dunia. Oleh sebab itu, sangatlah ironi jika umat Islam tidak tahu dan tidak mau mengkaji Islam dengan membaca dan memahami hadits-hadits Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam.

Sedikitnya ada 8 kedudukan strategis Baitul Maqdis (Syam) bagi Islam, antara lain:

  1. Negeri wahyu dan kenabian
  2. Tanah Isra’ dan Mi’raj
  3. Tanah kiblat pertama umat Islam
  4. Tanah yang ditaklukkan tanpa perang
  5. Tanah kesabaran dan jihad
  6. Tanah yang dijanjikan
  7. Kota khilafah di masa depan
  8. Tempat seluruh manusia akan dikumpulkan di padang Mahsyar

Secara garis besar, musuh umat Islam saat ini terbagi menjadi 2 kubu, yaitu Yahudi dan Syi’ah. Meskipun hari ini, Syi’ah di Libanon terlihat seperti sedang memerangi Yahudi, tetapi sebenarnya antara Syi’ah dan Yahudi sedang bersama-sama memerangi Islam. Kondisi Suriah hari ini adalah dalam kepungan musuh-musuh Islam dan diliputi kesulitan yang luar biasa, karena tempat tinggal mereka telah dibombardir dan kebun-kebun mereka telah dibakar.

“Hari ini, secara negara tidak ada yang membantu Suriah. Menurut dr. Romy (Direktur RSL Salma), negara yang memberikan perhatian cukup intens bagi Suriah hanya dua, yaitu Turki dan Indonesia. Bahkan, anak-anak Suriah menciptakan lagu dengan bahasa amiyah yang menyebut-nyebut Indonesia. Mereka juga bercita-cita ingin melihat bagaimana Indonesia.” imbuh Ust. Miqdad selaku narasumber kajian ini.

“Ya Akhi, kapan-kapan datang lagi kesini, karena Suriah adalah negeri kedua kalian setelah Indonesia.” Ungkap salah seorang warga Suriah saat melepas kepulangan relawan ke Indonesia seperti yang diceritakan oleh Ustadz Miqdad.

Kondisi lain di Suriah adalah terhentinya kegiatan pendidikan. Banyak ulama’ dan pendidik yang telah menemui kesyahidan (insyaAllaah). Proyek kemanusiaan yang sedang digiatkan oleh para relawan adalah pembangunan tenda-tenda untuk masjid dan tempat pendidikan bagi anak-anak.

Kemudian apa saja peran kaum Muslimin dalam membantu Muslimin Suriah maupun yang lain? Beliau menjelaskan bahwa hal-hal yang dapat dilakukan umat Islam dalam membantu Muslimin yang tertindas antara lain :

  1. Bantuan kemanusiaan dalam bentuk pengobatan, makanan, tempat tinggal, dsb yang dilakukan atas dasar lillaah dan ukhuwah Islamiyyah
  2. Menemani mereka dalam perjuangan ‘izzul Islam wal Muslimin, karena mereka sudah merasa sangat senang saat relawan mengatakan, “Nahnu ma’akum.” (Kami bersama kalian)
  3. Memberikan pendidikan dan dakwah Islamiyyah, khususnya bagi pemuda dan anak-anak
  4. Senantiasa menyertakan mereka dalam doa

Allaahumma a’izzal islamaa wa muslimin, wa adzillasy syirka wal musyrikin, wa dammir a’daa ad-diin, wahmi hawzatal islaami yaa Robbal ‘alamiin…

Dosa dan Karbon Monoksida

This post originally taken from kuntawiaji.tumblr.com
This post originally taken from kuntawiaji.tumblr.com

“Know that if people are impressed with you, in reality they are impressed with the beauty of Allah’s covering of your sins.” [Ibnu Al-Jauzi]

Karbon monoksida (CO) adalah gas beracun yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa. Ikatannya terhadap hemoglobin (Hb) adalah 200 kali lebih kuat dibandingkan oksigen. Selain zatnya sendiri yang bersifat toksik, di dalam tubuh ia mengurangi ikatan Hb dengan oksigen sehingga tubuh semakin lama semakin kekurangan oksigen. Dan kemudian lama-kelamaan kita pun mati.

Mungkin itu juga perumpamaan dosa. Dosa tidak berwarna, tidak berbau, tidak dapat dirasakan kehadirannya oleh orang lain, sering juga oleh diri sendiri. Dosa bersifat toksik bagi tubuh. Semakin lama akan semakin bertumpuk hingga akhirnya diri kita kehilangan hati nurani diri kita sendiri. Dosa tidak berwarna, tidak berbau, tidak dapat dirasakan oleh orang lain.

Imam Adz-Dzahabi berkata, seandainya dosa memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang akan duduk bersama kita. Seandainya dosa berbau, berwarna, dan dapat dirasakan, kita akan malu untuk berinteraksi dengan orang lain. Kita malu semalu-malunya. Tidak akan kita keluar rumah barang sejengkal dan sedetik pun. Kita tutup pintu kita rapat-rapat hingga kita rela untuk tenggelam dalam lautan dosa kita sendiri.

Seperti nasehat Ustadz Salim A. Fillah, janganlah kita berbangga dengan menjulangnya nama kita, berlimpahnya hidup kita, karena semua itu semata-mata karena Allah menutup aib kita. Semua itu semata-mata karena Allah begitu baiknya membuat dosa menjadi tidak berbau dan tidak berwarna. Kita dihargai oleh orang lain karena Allah menutup dosa kita, menutupi kesalahan dan kekhilafan kita. Karena itu lah, mudah-mudahan kita tidak lagi membuka dosa dan aib saudara kita, seperti halnya kita tidak ingin aib dan dosa kita diketahui.

Nasihat ini ditujukan pertama kali untuk diri saya sendiri. 😥

Matre!

81-wedding-planning-and-servicesBismillaahirrahmanirrahim,

“Mba, jaman sekarang jadi perempuan itu harus matre. Kalo nyari suami yang kerjanya udah mapan. Sekarang, tampang itu ga jaminan. Kalo bisa nyari yang pegawai aja, Mba, yang terjamin masa depannya. Lihat saya ini lho mba, sekarang jadi begini hidupnya, pontang-panting (blahblahblah).”  

Uweeeeh. Apaan coba. Serius, kalimat yang barusan mendarat secara mulus di telinga saya itu luar biasa menyetrum! 😆

Kuping saya berasa diasep, panas, ngebul. Haha. Habisnya ibu-ibu itu semangat banget “provokasi”nya. Luar biasa, bukan? 😀

Sayangnya, bedhug maghrib masih lama. Kalimat ibu X barusan sukses membuat saya semakin dahaga. Tenggorokan terasa kering kerontang. Aneh ya? Padahal yang menggebu-gebu kan ibunya. Saya, cuma duduk manis mendengarkan sambil menundukkan kepala. Persis penganten yang terduduk malu di pelaminan. *lah, apaan* 😆

Matre.

Judulnya sengaja saya bikin nyetrum juga. Biar menimbulkan kesan silau di mata. Haha. *jahat kamu nin* 😀

Jadi begini Saudara, ceritanya sore kemarin, saya mampir ke sebuah toko. Kebetulan, yang jaga toko itu tetangga saya sendiri. Dan, pastilah kami terjebak obrolan ngalor ngidul. Mulai dari beliau menanyakan kabar kuliah saya, urusan kerja, nanya-nanya kolesterol, asam urat juga, dan sampailah pula pada poin, “Mba Nina umurnya berapa sekarang?”

Sebenernya ga ada salahnya sih nanya umur. Saya sama sekali ga menyangka kalo dari pertanyaan umur itu akan berujung pada obrolan yang memanas, yaitu pernikahan. #eaaa 😳

Beliau melanjutkan pertanyaannya. Iya sih, beliau sedikit kepo kayaknya. Tapi saya yakin, ibu tersebut asing dengan istilah kepo, jadi saya mengurungkan niat untuk bilang, “Hayooo, ibu kepo yaaa?” Alhamdulillah, saya masih menjunjung nilai-nilai budi pekerti. 😛

Jadi ya sudahlah, lagian bukan pertanyaan yang jawabannya rahasia-rahasia banget. Kasian juga kalo beliau penasaran. Kalo ga bisa tidur kan berabe. Akhirnya saya jelaskan begini begitu. Udah persis narasumber dalam acara Satu Jam Bersama Nina. *apa deh* 😀

“Mba, udah usia segitu harusnya udah mulai mikir ke arah sana lho…”

Uwooow, ke arah sana? Arah mana, Bu? Utara, selatan, tenggara, barat daya? Mana Bu, mana? Iya sih, saya sok polos. 🙄

“Udah punya pacar belum, Mba?”

Udah dong, Bu. Kemarin saya dapet oleh-oleh haji dari eyang putri. 😆

“Udah punya calon belum? Saya punya kenalan tentara lho Mba, ada angkatan udara, laut, darat. Polisi juga ada.”

Nah. Telak. Habislah saya disitu. 😆

“Hehe, ndak Bu, terimakasih.” 😳

“Engga? Lho, kenapa? Kenalan saya itu udah pada mapan lho. Ga suka sama tentara ya? Wah, padahal masa depannya terjamin lho Mba. Sukanya apa? Kayaknya model-model Mba Nina sukanya dosen atau dokter gitu ya?”

Hebat, kan? Ibu tersebut bisa meramal segala coba. Saya hanya membatin kecut, “Emang saya keliatan kayak proposal tesis ya sampai dibilang sukanya sama dosen? Atau jangan-jangan malah mirip stetoskop karena dibilang perempuan “semodel saya” ini sukanya sama dokter.”

Ckckck. Air mana air, saya mau wudhu, panas! 😀

Tapi saya sih cuma mesam-mesem. *cuma?*

“Hehe, ya doanya aja Bu, moga-moga besok dapet yang baik untuk dunia akhirat. Sebenernya saya udah mulai mikir ‘kesana’, Bu, tapi apa daya, urusan skripsi dan pekerjaan jauh lebih menyita pikiran saya.”

Saya menjawab singkat, mencoba meredam semangat ibu-ibu separuh baya itu. Heran juga sih, ini yang mau nikah siapa, yang heboh siapa. 😆

Dan pada akhirnya, epilog drama sore hari itu berakhir dengan quote dari ibu-ibu separuh baya golden ways,

“Mba, jadi perempuan di jaman sekarang itu memang harus sedikit matre. Demi masa depan.”

Clep. Saya pun terlarut dalam perenungan abad 20(?)

Dan maa syaa Allaah. Kira-kira, hikmah apa yang bisa diambil dari kisah di atas, Saudara? 🙄


Usia dua puluh sekian memang usia yang rentan mengalami sindrom galau nikah. Menurut saya wajar, sih. Bukan sesuatu yang harus dibilang ‘wow’ sambil ngguling-ngguling. 😀 Bahkan, kadang yang galau lebih hebat justru orang-orang di sekitar kita. Kalo anak gadis, biasanya yang galau adalah ibundanya. Kalo laki-laki, yang galau hebat pastinya diri sendiri. Wkwkwk. 😀

Itu poin pertama, bahwa kegalauan jombloers ternyata dirasakan pula oleh orang-orang terdekatnya, bahkan mungkin mereka jauh lebih galau. Khawatir kalo kita bakal menjomblo sampai tua. Kedua, sekaligus topik utama dari tulisan abstrak ini adalah: Matre. Apakah kehidupan rumah tangga memang se-frontal itu perjuangannya, Saudara? Saya jadi semakin merenung, hehe. 🙂 Saya yakin, ga semua orang punya persepsi tendensius semacam itu. Saya juga mencoba berhusnudzan dengan ibu-ibu separuh baya itu. Beliau jauh lebih berpengalaman untuk urusan rumah tangga, karena sudah cukup makan asam garam mengarungi bahtera pernikahan. Jadi, saya ga punya kapasitas yang cukup berbobot untuk meng-counter statement beliau, karena persepsi saya nantinya pasti lebih condong pada idealisme.

Padahal, pernikahan itu tidak selamanya mulus sesuai idealisme kita di masa muda. Namanya juga menyatukan dua isi kepala dan hati yang berbeda, dengan karakter pribadi dan latar belakang keluarga yang berbeda pula. Kemudian tentang masa depan. Apakah kemapanan profesi adalah satu-satunya jalan menuju kemapanan masa depan? Siapa sih yang bisa menjamin masa depan kita? Ingin sekali meralat kata-kata ibu tadi, karena terkesan menyandarkan masa depan hanya sebatas materi. Tapi sekali lagi, saya tidak punya posisi tawar yang oke, hehe. 🙂 Anggaplah, ibu-ibu itu salah ucap, salah persepsi. Semoga sandaran masa depan kita tetap satu, yaitu Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

Jadi intinya? Hehe, saya kembalikan ke temen-temen aja sih. Tulisan ini bukan bermaksud menggiring pemahaman teman-teman untuk menyempurnakan kriteria. Emang siapa kita kok pede amat minta sosok yang sempurna? Sampai tutup zaman pun, kita ga akan pernah ketemu dengan yang namanya Mr/Mrs. Perfect itu. Mau yang shalih dengan profesi dokter, dosen, pengusaha, guru, engineer, yang pasti yang gajinya besar, kerjanya jelas dan mapan, masa depan pun terjamin, apapunlah. Masing-masing kita pasti punya kriteria. Tapi, jangan sampai esensi pernikahan itu menjadi kabur hanya karena kita terlalu kaku dengan kriteria. Iya betul, demi masa depan. Tapi masa depan yang bagaimana? Bukankah masa depan kita adalah sebuah negeri bernama akhirat? Saya yakin, setebal apapun dompet laki-laki, kalo hatinya ga menebal karena ketaqwaan, kita bisa apa? Bisa-bisa kita gigit jari terhadap masa depan yang sebenarnya. Wal ‘iyadzubillaah. Nangis ga sih kalo ketemu yang kayak gini? 😥

“Lebih baik memikirkan ‘bagaimana’ daripada ‘siapa’. Sebab ‘bagaimana’ lebih membuat kita bersiap, sedangkan ‘siapa’ terkadang hanya meninggalkan kecewa.” (quote nemu di Tumblr, lupa punya siapa)

Iya, yang lebih esensi sebenarnya adalah pertanyaan ‘bagaimana’ bukan ‘siapa’. Bagaimana sebenarnya pernikahan itu? Bagaimana kiat-kiat jitu mengarunginya? Bagaimana meraup keberkahannya? Bagaimana harmonisasinya? Sepertinya itu yang lebih penting kita pikirkan jauh-jauh hari, ketimbang membelit pikiran dengan kriteria. Allaahu a’lam, wastaghfirullaah. Selamat merenung. 🙂

Kontemplasi Ramadhan 1434 H (dua tahun silam… nostalgia… wkwkwk) 😛

Distraksi

tumblr_nd8l2r7cM31rchk9io1_500

Imam As-Syafi’i pernah menyampaikan nasihat kepada muridnya,

“Saudaraku, kalian tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara ini. Akan aku kabarkan kepadamu secara terperinci yaitu dzakaa-un (kecerdasan)hirsun (semangat)ijtihaadun (cita-cita yang tinggi)bulghatun (bekal)mulazamatul ustadzi (duduk dalam majelis bersama ustadz),dan tuuluzzamani (waktu yang panjang).”

Salah satu adab belajar adalah bersungguh-sungguh. Seperti pepatah Arab yang dikutip Ahmad Fuadi dalam novel Negeri Lima Menara, “Man Jadda Wa Jada; siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil.” Seperti nasehat Imam Al-Ghazali, “Ilmu tidak akan memberimu walau sebagian, hingga engkau memberikan dirimu utuh kepada ilmu.”

Salah satu ciri bersungguh-sungguh adalah mencari tempat yang kondusif untuk belajar. Imam Al-Ghazali menggunakan bahasa “hijrah” dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada urusan duniawi. Maka dari itu, dalam pendidikan Islam ada yang namanya pesantren, dimana para murid memang hijrah dari rumahnya untuk belajar dengan fokus disana.

Maka dari itu pula, mengapa para ulama jaman dahulu prestasinya luar biasa. Imam Syafi’i sudah hafal Al-Qur’an di usia 10 tahun. Jaman dulu anak-anak belum terdistraksi oleh Doraemon, Dragon Ball, atau Naruto. Bukan hanya Al-Qur’an dan hadits yang mereka hafal, kalau kita baca buku fiqih hanya untuk dipahami, para ulama jaman dulu menghafalkan kitab-kitab tersebut. Konon, Ibnu Taimiyyah ketika menulis Majmu Fatawa yang mencapai 36 jilid itu, ketika mengutip pendapat ulama, beliau bukan mengutip dengan membuka kitab, tetapi mengutip langsung dari hafalannya.

Kondisi sekarang ini, hijrah yang penting adalah hijrah pikiran, yaitu hijrah dari berbagai distraksi, gangguan dan godaan yang bisa mengalihkan fokus kita dari belajar. Ini memang problem masa kini. Mungkin jaman sekarang bisa disebut sebagai age of distraction. Teknologi yang dulunya dikembangkan untuk membantu pekerjaan manusia, justru berubah menjadi sesuatu yang mengalihkan fokus kita dari hal-hal yang penting.

Media sosial sepertinya bisa menjadi terdakwa utama distraksi itu. Berbagai jenis media sosial selalu lengkap dengan notifikasi yang meraung-raung minta dicek. Hal yang mengganggu fokus belajar, ternyata kita bawa-bawa di dalam saku baju.

Irfan Habibie Martanegara

Gimanaaaa? Berasa ditampar ga sih? 😥 😥 😥

Sedangkan kalo kata Pak Prie GS,

“Banyak soal rumit dipikir secara sederhana, banyak soal sederhana dipikir secara rumit. Itulah biang kerumitan.”

Bisa jadi, kerumitan hidup kita selama ini karena terjebaknya pikiran, perasaan, dan rutinitas kita sehari-hari dengan hal yang remeh-temeh. Atau sebaliknya, terbiasa meremeh-temehkan sesuatu yang sebenarnya urgen dan esensi.

Astaghfirullaah. Semoga Allah melindungi kita dari hal yang begitu itu. 😥

“Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi; shahih)