Home Sweet Home

Literally, we need home, not only house.
Literally, we need home, not only house.

Betapa bangga kita tentang rumah seluas apa, sejumlah lantai, seharga berapa, senyaman apa, dan bagaimana mempercantiknya. Tanpa sadar bahwa rumah abadi kelak kita di akhirat belumlah dipasang batu pertamanya. (Salim A. Fillah)

Bapak sedang bersemangat sekali mengecat tembok rumah. Warna hijau. Entah menyengaja karena sebentar lagi Lebaran atau karena memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Yang jelas, Bapak tampak begitu serius, bahkan berkali-kali menegur, “Hati-hati kalau parkir motor. Nanti setangnya gores tembok.”

Kapanpun dimanapun, Ibu juga selalu menjadi yang terdepan soal bersih-bersih rumah. Paling vokal soal lantai berdebu. “Lantai ini pasti belum disapu, kan? Ngeres banget.” Kadang saya sampai menaruh curiga pada kaki Ibu, jangan-jangan ada sensor debunya.

Namun, naluri detektif(?) saya mencoba menerjemahkan kode-kode yang dilempar Bapak dan Ibu. Hipotesis pertama berbunyi: “Bapak dan Ibu sayang sekali dengan rumah ini.” Bahkan sebenarnya tidak cuma soal rumah. Soal kebendaan apapun, Bapak dan Ibu adalah orang yang paling setiti. Buktinya tivi dan kulkas, yang masih begitu setia menemani mereka sejak saya belum lahir, sampai saya sebesar ini.

Kulkas, yang dulunya sangat sering dibuka tutup pintunya karena tampak keren lampunya, sekarang lampunya sudah wafat, tapi alhamdulillah masih bisa buat menyimpan tahu, tempe, dan sayur sisa kemarin. Tivi, yang dulunya tampak sebagai kubus mahakeren bagi saya, sekarang sudah blawur dan banyak semutnya, tapi alhamdulillah masih bisa buat nonton berita dan hiburan bermutu di channel kesayangan. Maka seketika itu hipotesis kedua berbunyi: “Bapak dan Ibu sangat menjaga apa-apa yang dimilikinya.”

Bahkan mungkin termasuk menjaga kami; kedua putrinya.

Sekarang, rumah kami (dan seisinya) semakin lapuk termakan usia. Pelan tapi pasti, kami benar-benar sedang bersiap menghuni rumah baru yang diam-diam juga sedang kami bangun. Entah, di antara kami, rumah siapa yang lebih dulu selesai dibangun.

Rumah kecil ini, mungkin kelak hanya tinggal selembar kertas yang ditempel di dalam album foto dengan tambahan footnote bertuliskan “Home Sweet Home.” Tapi yang pasti mau jadi seperti apapun, rumah kecil ini kelak akan menjadi satu dari sekian banyak unsur yang mempersaksikan bagaimana model rumah kami di masa depan.


Benar, setiap rumah dibangun untuk ditinggali, bukan sekadar disinggahi. Namun ternyata, tidak semua rumah diciptakan untuk menetap. Benar, rumah adalah tempat kita tinggal. Tapi ternyata rumah kita disini, bukanlah default rumah untuk menetap. Sungguh, kita tidak selamanya berada disini.

Hari ini, saya mengenang doa Asiyah yang meminta dibangunkan rumah. Alih-alih mengiba rumah mewah berlantai empat lengkap dengan sekuritinya, justru yang dimintanya lebih dulu adalah letak, bukan model bangunan maupun perangkatnya. Coba perhatikan susunan kalimat di bawah ini.

“Wahai Rabbku, bangunkan untukku di sisi-Mu sebuah rumah di surga.” (QS. At-Tahrim: 11)

Kalimat itu…

Saya membacanya sebagai pertanda, bahwa ada yang lebih esensi dari sekadar membangun rumah. Saya merenunginya sebagai pelipur, bahwa hakikatnya, rumah adalah bangunan yang tidak sekadar menjadi tempat teduh bagi jasad, namun terlebih bagi jiwa.

Maka sejak malam ini, dari dalam rumah kecil ini, kami ingin melengkapi sebuah kalimat pinta,

Hai jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya

Maka masuklah ke dalam (golongan) hamba-hamba-Ku

Dan masuklah ke dalam surga-Ku

(QS. Al-Fajr: 27-30)

Endapkan tiap kali membaca ayat ini, kemudian pastikan ada air mata yang mengalir membasahi sajadah kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s