Bukan Zaman Abrahah

Sejarah selalu memiliki periode. Sejarah pasti diciptakan oleh para punggawanya. Kelak, kitalah bagian dari sejarah itu.
Sejarah selalu memiliki periode. Sejarah pasti diciptakan oleh para punggawanya. Kelak, kitalah bagian dari sejarah itu.

Penulis: Dr. Raghib As-Sirjani

Penerbit: Aqwam

“Kemenangan membutuhkan kerja keras, karena kini bukan lagi zaman Abrahah, sebuah era dimana musuh-musuh Islam dibinasakan dengan pertolongan langsung dari Alloh Ta’ala berupa burung-burung ababil. Jika kalian menolong agama Alloh, pastilah Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.”

Peristiwa “Pasukan Gajah” merupakan peristiwa terakhir dalam menolong agama Alloh dengan cara yang “luar biasa”, yaitu dengan mengirimkan pasukan burung Ababil yang menghanguskan musuh-musuh-Nya. Alloh telah memberikan berbagai aturan yang jelas dalam melakukan perubahan, dimana keberadaannya berbeda-beda sesuai tahapan yang dilalui kaum muslimin. Pada suatu masa, kaum muslimin cukup hanya berdakwah saja, bisa dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Pada suatu masa yang lain, kaum muslimin perlu melakukan perjanjian damai. Namun, pada saat yang lain pula, mereka perlu meninggikan bendera jihad. Bagaimanapun bentuk usaha itu, yang pasti saat ini:

“Pertolongan Alloh tidak akan turun kepada orang-orang yang pasif dan enggan bergerak untuk menciptakan perubahan.”

Sesungguhnya, kondisi yang saat ini sedang menimpa umat Islam bukan lagi sekedar problem kenegaraan, masyarakat, ataupun individu. Ini adalah problem umat Islam secara keseluruhan. Sadarkah kita, jika umat yang berabad-abad lalu mendongakkan kepala terhadap orang-orang kafir, kini justru mengangguk-anggukkan kepala ke sisi Barat dan Timur? Permasalahan utama umat Islam saat ini adalah permasalahan yang bersifat pemikiran, yakni ketidakpahaman terhadap Islam, bukan semata-mata masalah kekuatan (fisik). Bukankah saat ini jumlah umat Islam berada pada jumlah yang sangat fantastis? Ingatkah kita dengan kisah perang Badar yang dengan ijin-Nya dapat meraih gemilang, padahal jumlah kaum Muslimin saat itu sangatlah sedikit (300 : 1000). Tetapi, karena kualitas ruhaniyah (bukan jasmaniyah) mereka, maka Alloh-pun mempergilirkan kemenangan itu kepada mereka (bisa dibuka QS. Ali-Imran : 123). Solusi nyata dari problematika ini adalah kembali memahami Islam dari sumber-sumber aslinya.

10 Prinsip yang Harus Dipahami Umat Islam

  1. Jika Engkau menolong agama Alloh, niscaya Dia akan menolongmu (QS. Muhammad: 7)
  1. Umat Islam adalah umat pilihan yang tidak akan pernah mati. Sunnah pergiliran itu pasti, dimana selain mempergilirkan kemenangan, Alloh juga mempergilirkan generasi. Generasi Islam yang rusak akan digantikan dengan generasi yang shalih, yaitu generasi yang merindukan jihad, berjuang, bergerak, dan mempersembahkan segala sesuatunya kepada Alloh Ta’ala semata. (QS. Muhammad: 38)
  1. Umat dzolim yang memusuhi umat Islam pasti binasa (QS. Ali Imran: 196-197)
  1. Kegagalan sangat erat dengan perpecahan dan berbantah-bantahan. “Kemenangan tidak akan bersisian dengan perpecah-belahan.” (QS. Al-Anfal: 46 dan Ali-Imron: 103). Bukankah Rasulullah juga telah berpesan kepada kita untuk bergabung dan saling menguatkan dalam jama’ah?
  1. Kemenangan tidak dapat diimpor dari negara/bangsa/umat lain.

    “Bukankah untuk menggaruk kulit tidak ada yang sebanding dengan kuku jari sendiri? Seperti itulah kemenangan. Kita yang membutuhkan kemenangan, maka kita sendirilah yang mengusahakan, bukan dengan mengemis pada musuh untuk meminta bantuan.”

  1. Suatu kaum akan dipimpin dengan orang yang sesuai dengan kondisi kaum tersebut. Pada dasarnya, pemerintah adalah gambaran riil kondisi suatu masyarakat yang dipimpinnya.
  1. Waspadai strategi usang yang diusung musuh-musuh Alloh (Amerika dan sekutunya). Strategi perlawanan yang dilakukan Amerika dan antek-anteknya sebenarnya merupakan strategi usang kaum kafir berabad-abad silam untuk mengeluarkan kita dari cahaya Islam. Mereka hanya melakukan modernisasi, hingga tanpa sadar saat ini kita sedang kembali diperangi.
  1. Umat Islam bukan umat yang lemah. Umat Islam adalah umat yang dianugerahi berbagai macam potensi. Di atas semua potensi yang ada pada tubuh umat Islam, ada satu kekuatan yang mahadahsyat, yaitu kekuatan aqidah yang TIDAK DIMILIKI UMAT LAIN, yaitu kekuatan berupa keyakinan yang menghujam: “Cukuplah Alloh sebagai pelindung kami, dan tiada pelindung sedikitpun bagi mereka.”
  1. Kejayaan Islam membutuhkan rasa tanggung jawab individual. Jikalau seluruh umat Islam hanya duduk berpangku tangan dan enggan melakukan pergerakan, maka untuk alasan apa kita ikut bermalas-malasan? Jikalau seluruh manusia ingin pergi ke Neraka, maka untuk alasan apa kita juga mengikuti kebinasaan mereka?
  1. Jangan menunda pekerjaan yang bisa dikerjakan saat ini hingga menunggu saat berikutnya

    Setan tidak serta merta membisiki kita untuk berhenti berbuat kebaikan, melainkan hanya menyuruh kita dengan menundanya, maka berbuatlah sekarang, saat ini juga.

Kemudian Apa yang Bisa Dilakukan Kaum Muslimin?

  1. Jelaskan pandangan dan persepsi Islam terhadap perubahan. Ajarilah orang lain semampu kita. Ciptakanlah suasana yang dapat membuat umat Islam bangga dengan ke-Islamannya, sehingga tumbuhlah dalam jiwa-jiwa mereka harapan untuk bangkit, cinta berjihad fii sabilillah, serta kerinduan untuk meraih kesyahidan.
  2. Membina anak-anak dan para pemuda dalam rangka perbaikan serta menebarkan ruh jihad dan semangat juang untuk menyongsong kejayaan Islam.
  3. Senantiasa memanjatkan doa dengan penuh ketundukan mengiringi berbagai usaha yang telah dikerjakan.

Mengapa Umat Islam Terpuruk Seperti Ini?

Faktor penyebab keterpurukan itu secara garis besar terbagi menjadi 2, yaitu:

  1. Ulah kaum muslimin sendiri, yaitu ketika mereka melalaikan agama Alloh, bahkan jusru bersekutu dengan musuh-musuh-Nya.
  2. Konspirasi jahat musuh-musuh Alloh yang benang merahnya sudah ditenun sejak berabad-abad silam. Konspirasi jahat tersebut memainkan berbagai peran antagonis, diantaranya: kejahatan dalam memalsukan sejara, kejahatan memutar-balikkan fakta, sekaligus bermain peran sebagai “pembunuh karakter”, serta kejahatan dalam mendewakan negara Barat.

Tentu belum kering dalam benak kita, bagaimana mereka memberikan label-label yang memunculkan Islamofobia di hati umat Islam saat ini, seperti: teroris, Islam radikal, Islam garis keras, dsb. Padahal label-label tersebut tersemat pada tubuh umat Islam yang berusaha menjalankan syari’at-Nya, bukan pada kaum yang secara terang-terangan membunuhi anak-anak dan wanita, bukan pada kaum yang secara sistematis merusak pemikiran pemuda penerus perjuangan.

10 Realita bahwa Umat Islam Tidak Akan Pernah Mati

  1. Sunnah pergiliran. Alloh ‘Azza wa jalla berkehendak mempergilirkan masa kejayaan dan kemunduran di antara manusia agar kita dapat mengambil pelajaran. (QS. Ali-Imran: 140)
  1. Umat Islam adalah umat yang selalu unggul dan menang. Tabiat Islam adalah:

    “Keberadaannya tidak akan jatuh, kecuali setelahnya pasti bangkit kembali. Eksistensinya tidak akan melemah, kecuali setelahnya akan kuat kembali. Dan kedudukannya tidak akan terhina, kecuali setelahnya akan mulia kembali. Mengapa demikian? Karena tabiat umat Islam adalah umat yang menjadi saksi atas umat yang lainnya.”

  1. Hakikat peperangan. “Sesungguhnya jika terjadi peperangan antara umat Islam dengan orang-orang kafir, maka hakikatnya orang-orang kafir tersebut sedang memerangi Alloh. Peperangan yang terjadi sebenarnya adalah antara Alloh dengan orang yang keluar dari jalan-Nya, mengingkari-Nya, ridha dengan hukum selain hukum-Nya, dan rela mengambil syari’at selain dari Kitab-Nya yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 17)
  1. Hakikat berita gembira dalam Al-Quran dan As-Sunnah. “Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47) “Sesungguhnya urusan ini (Islam) benar-benar akan menguasai daerah-daerah yang mampu dijangkau siang dan malam (yaitu seluruh bumi).” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)
  1. Hakikat sebuah sejarah. “Tidak ada sejarah di muka bumi ini yang menyamai sejarah kaum Muslimin. Dan tidak ada pula generasi di muka bumi ini yang mampu menyamai generasi kaum Muslimin. Tabiat kita memang berbeda dengan mereka, karena Alloh sendirilah yang akan memuliakan perjuangan kita.”
  1. Hakikat sebuah realitas. Realita hari ini yang dapat kita saksikan adalah semakin berkembangnya umat Islam di muka bumi ini.
  1. Hakikat musuh. “Musuh umat Islam hakikatnya adalah musuh-musuh Alloh. Mereka adalah kaum yang suka berzina, minum-minuman keras, dan terbiasa dengan berbagai kemaksiatan. Maka, dengan alasan apa kita meragukan pertolongan Alloh jikalau musuh-musuh kita adalah manusia yang berperilaku demikian?”
  1. Pertolongan Alloh sejalan dengan usaha yang maksimal. “Ingatlah, bahwa pertolongan Alloh itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)
  1. Harapan bukanlah sesuatu yang dapat diminta dengan tergesa-gesa

    “Jangan terlalu cepat berprasangka bahwa pertolongan Alloh datang terlambat. Alloh lebih tahu dengan apa yang pantas kita dapatkan saat ini.”

  1. Pahala tidak diukur dengan datangnya pertolongan, melainkan amal perbuatan. Ketahuilah, sesungguhnya pahala akan lenyap jika keyakinan terhadap datangnya pertolongan juga hilang. Sebab, pertolongan tidak akan datang kecuali dengan keyakinan akan kedatangannya. (QS. Al-Hajj: 15)

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali-Imran: 139)

Sejarah selalu memiliki periode. Dan kita (umat Islam) adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, sebab Alloh adalah pelindung kita, Nabi Muhammad adalah teladan terbaik kita, syari’at Islam adalah syari’at kita yang mulia, yang mencakup urusan dien dan dunia, jasad dan ruhani, juga akal dan hati, serta persaudaraan diantara umat Islam adalah persaudaraan yang paling kuat ikatannya. Maka ketahuilah dan tanamkan dalam-dalam keyakinan hati kita, bahwa masa depan adalah milik dien yang mulia ini (Islam), bukan milik umat yang lain. Bukankah cahaya fajar tidak akan muncul kecuali setelah hari berpindah dari pelukan malam?

Sekilas tentang penulis

Syaikh Dr. Raghib As-Sirjani adalah seorang dosen kehormatan di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo. Pernah lulus dengan predikat cumlaude serta meraih gelar doktor di bidang Spesialis Bedah Ginjal di tahun 1998. Di sela kesibukannya, beliau sempat menyelesaikan program tahfidzul Qur’an 30 juz pada tahun 1991. Penulis kelahiran 1964 ini dikenal memiliki perhatian serius terhadap berbagai persoalan umat. Salah satu sumbangsih berharganya bagi umat Islam adalah mendirikan Islamic Civilization Centre for Historical Studies di Kairo.

Subhanallaah. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s