Halalkah Makanan Anda?

You are what you eat
You are what you eat

Penulis: Sri Nuryati, S.Si

Penerbit : Aqwamedika


 “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Makanan dalam Kacamata Islam

1. Halal Menurut Al-Qur’an, makanan yang halal adalah makanan yang baik (thayyib) dan bersih. Halal ini mencakup dzat (produknya) dan asal atau cara mendapatkan makanan tersebut.

2. Mubah Makanan yang mubah artinya makanan tersebut tidak dilarang juga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi. Status hukum ini dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi haram apabila makanan tersebut ternyata mengandung mudharat yang mengganggu kesehatan maupun mudharat lain yang menyelisihi ketentuan syara’.

3. Syubhat Makanan yang syubhat artinya makanan tersebut sifatnya meragukan, tidak jelas dasar hukumnya, serta masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama’. Menyikapi makanan seperti ini, hendaknya seorang Muslim menjauhinya atau lebih baik ditinggalkan, karena mendekati perkara-perkara yang syubhat lebih dekat pada hal yang diharamkan (cek HR. Bukhari-Muslim).

4. Makruh Makanan yang makruh artinya makanan tersebut dibenci atau tidak dianjurkan. Produk-produk yang dimakruhkan oleh Alloh dan Rosul-Nya adalah produk yang berpotensi merusakkan jiwa dan menimbulkan gangguan kesehatan.

5. Haram Makanan yang haram artinya dilarang untuk dikonsumsi. Konsekuensi dari pelanggaran terhadap larangan ini adalah dosa dan murka Alloh. (cek QS. Al-Maidah: 3). Rambu-rambu Produk Haram dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah

  1. Bangkai, kecuali bangkai ikan dan belalang, bangkai binatang yang tidak mempunyai darah mengalir (semut, lebah, dsb), dan tulang dari bangkai, tanduk, bulu, rambut, kuku, dan kulit karena asalnya adalah suci.
  2. Darah
  3. Daging babi
  4. Daging hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Alloh
  5. Hewan yang disembelih untuk berhala
  6. Minuman yang memabukkan
  7. Binatang jalalah (binatang yang memakan kotoran/tinja)
  8. Binatang buas (bertaring dan bercakar). Cek HR. Muslim dan Abu Dawud.
  9. Binatang yang disyari’atkan untuk dibunuh (burung gagak, rajawali, tikus, tokek, ular, kalajengking, dan anjing buas). Cek. HR. Bukhari-Muslim.
  10. Binatang yang tidak boleh dibunuh dan dimakan (semut, burung hud-hud, dan burung shurad). Cek HR. Nasa’i dan Ahmad.
  11. Semua binatang yang kotor, najis, dan menjijikkan

Hukum Daging Hewan yang Hidup di Dua Alam (Amphibia)

  1. Madzhab Hanafi dan Syafi’i: tidak boleh dimakan karena tergolong hewan yang kotor.
  2. Madzhab Maliki: boleh selama tidak ada dalil yang jelas mengharamkannya.
  3. Madzhab Hanabilah: haram jika tidak disembelih terlebih dahulu, kecuali bagi hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir, seperti kepiting (halal tanpa disembelih terlebih dulu). Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, hewan amfibi yang harus disembelih dahulu seperti: burung air, kura-kura, dan anjing laut, karena hewan-hewan ini memiliki darah yang mengalir.

Tata Cara Makan Sesuai Syari’at Islam

  1. Mencuci tangan sebelum makan
  2. Membaca Basmalah ketika memulai makan
  3. Mengambil makanan yang paling dekat dengan tangannya
  4. Makan dengan tangan kanan dan menggunakan tiga jari, karena makan menggunakan jari tangan (Jw. Muluk) dapat membantu proses pencernaan, karena jari tangan kita (yang sudah dibersihkan) mengandung bakteri nonpatogen (bukan penyebab penyakit) yang membantu proses pencernaan makanan.
  5. Mengunyah makanan dengan perlahan
  6. Makan sambil duduk, karena secara fisiologi, makan atau minum sambil berdiri dapat melukai saluran cerna.
  7. Tidak meniup makanan yang masih panas
  8. Minum dengan tiga kali nafas
  9. Mengakhiri makan dengan mengucap Hamdalah

Makanan dan Kesehatan

  1. Fungsi makanan
  2. Proses pertumbuhan
  3. Sumber energi untuk beraktivitas
  4. Menjaga kondisi organ tubuh dalam keadaan optimal
  5. Makanan yang sehat dan seimbang
  6. Makanan sehat
    • Mengandung nilai gizi yang dibutuhkan tubuh
    • Tidak mengandung BTP (Bahan Tambahan Pangan) yang berbahaya
    • Terbebas dari cemaran fisik (serpihan, debu), biologi (mikroba berbahaya), dan kimia (racun)
    • Higienis
    • Mudah dicerna oleh stubuh
  7. Makanan seimbang
    • Seimbang kuantitas (jumlah atau porsinya sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh)
    • Seimbang kualitas (kandungan zat gizinya sesuai dengan kebutuhan tubuh)

Produk-Produk yang Perlu Dicermati

  1. Produk babi
  2. Daging
  3. Lemak, rawan digunakan pada bahan pembuat kue dan kosmetik.
  4. Tulang, tepung tulang babi banyak digunakan di Cina sebagai bahan pembuat peralatan dapur.
  5. Kulit, banyak digunakan untuk keperluan suntik kolagen.
  6. Bulu, rawan digunakan untuk kuas pemoles kue.
  7. Gelatin dan Lesitin
  8. Gelatin: produk hewani yang berasal dari jaringan ikat kolagen kulit, otot, atau tulang. Negara Barat lebih banyak menggunakan gelatin babi sebagai bahan baku beberapa produk, karena kualitas gelatin babi lebih cocok digunakan pada produk pangan dibandingkan gelatin sapi atau kambing. Gelatin sapi atau kambing lebih cocok digunakan untuk industri aksesoris. Makanan yang biasanya mengandung gelatin dan harus diwaspadai asal gelatin yang digunakan antara lain: agar-agar, jeli, puding, permen, permen karet, jus buah, es krim, keju, dan margarin.
  9. Lesitin: turunan dari senyawa lipida yang tergolong lemak majemuk. Lesitin diperoleh dari ekstraksi zat-zat yang mengandung asam lemak, maka dari itu perlu dicermati darimana lemak tersebut berasal, jika menggunakan lemak hewan, hewan yang digunakan halal atau tidak. Dan jika berasal dari hewan yang halal, cermati pula proses penyembelihannya, syar’i atau tidak.
  10. Keju dan Whey
  11. Keju diperoleh dari fermentasi susu yang melibatkan proses enzimatis. Enzim yang digunakan adalah enzim rennin (rennet). Enzim ini diperoleh dari lambung hewan (sapi atau babi), sehingga perlu dicermati darimana enzim tersebut berasal.
  12. Whey merupakan hasil samping pembuatan keju, sehingga jika bahan baku pembuatan keju itu halal, maka dapat dikatakan pula whey yang dihasilkan juga halal.
  13. Fast food dan junk food

Contoh fast food antara lain: burger, french fries, mie instan. Dari aspek gizi, fast food adalah makanan yang tinggi karbohidrat, miskin vitamin dan serat, tetapi tinggi kalori, lemak, dan garam. Banyak referensi menyebutkan bahwa fast food menjadi penyebab meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif, seperti hipertensi, stroke, dan PJK (Penyakit Jantung Koroner). Sedangkan contoh junk food antara lain: snack-snack ringan yang rasanya gurih, manis, dan asin, misalnya: keripik, coke atau minuman bersoda, permen, dan snack yang manis-manis. Junk food juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya penyakit degeneratif, misalnya: Diabetes Mellitus dan obesitas.

Bahan Tambahan Pangan (BTP). BTP yang rawan status kehalalannya antara lain : pengemulsi (mengandung gelatin atau lesitin), pengembang (mengandung rum atau tidak), pewarna buatan, pemanis buatan.

Obat-obatan. Berobat hanya diperbolehkan menggunakan bahan yang halal, kecuali dalam kondisi terdesak (terpaksa, tidak ada alternatif bahan halal lain), maka dibolehkan menggunakan bahan haram yang memang secara ilmiah telah terbukti. Obat-obatan kimia perlu dicermati : asal bahan (misalnya mengandung alkohol atau tidak, biasanya alkohol digunakan sebagai pelarut obat-obatan dalam bentuk sirup), cangkang kapsul (jika obat dalam bentuk kapsul) karena rentan mengandung gelatin.

Kosmetik. Kosmetik rawan mengandung organ tubuh manusia yang jelas haram untuk digunakan, seperti : plasenta, kolagen, air ketuban, dan janin manusia.

Vaksin. Konsep imunisasi yang halal dan baik yaitu:

  1. Memberikan asupan zat gizi yang cukup yang dapat meningkatkan vitalitas dan memperkuat pertahanan atau sistem imun tubuh.
  2. Memberikan asupan zat gizi yang dapat meminimalisir melemahnya sistem imun tubuh.
  3. Jika menggunakan vaksin, maka gunakanlah bahan yang aman dan halal.

Bagaimana Mencegah Produk Haram Dikonsumsi Masyarakat?

  1. Sertifikasi halal dan kualifikasi logo halal pada produk
  2. Kesadaran pribadi untuk bersikap selektif dan cermat dalam membeli produk

Catatan: Artikel ini hanya berupa ringkasan buku. Mohon maaf jika pembahasan kurang detail.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s