Strategi Dua Lengan

tumblr_my60wueil51qedj2ho1_1280

“Wahai manusia, tak lama lagi, kalian akan menjadi tentara yang dikirim ke berbagai wilayah, yaitu tentara yang berjuang di Syam, tentara yang berjuang di Irak, dan tentara yang berjuang di Yaman. Kaum muslimin menyambutnya dengan penuh suka cita. Mereka akan menjadi para pembebas, yang membebaskan wilayah-wilayah yang luas, dan nantinya menjadi bagian wilayah Islam, yang sudah dibebaskan.”

(Isi salah satu khotbah Rasulullaah Shalallaahu ‘alayhi wasallam yang pernah disampaikan di hadapan kaum Muslimin; diriwayatkan oleh Irbad bin Sariyah)

Jihad fi sabilillah adalah satu dari sekian perintah langit yang tak terbantahkan. Beragam cara dipraktekkan oleh sekian banyak kelompok pengusung jihad. Ada yang sinergis, namun tak jarang pula saling bertabrakan. Mulai dari start timing penggunaan kekuatan, sasaran yang dituju, hingga wilayah yang menjadi tempat yang hendak direbut; apakah di tempat tinggal sendiri atau di negeri lain. Bahkan orientasi jihad juga menjadi topik diskusi yang tak kunjung usai. Sementara itu, kekuatan musuh-musuh Islam masih mencengkeram dengan kuat. Hembusan isu terorisme yang ditiup Barat mempersempit ruang gerak jihadis. Meski demikian, upaya untuk menemukan bentuk jihad yang ideal harus terus dilakukan, meski harus mengorbankan banyak hal.

Menurut Abdullah bin Muhammad, penulis buku “Strategi Dua Lengan”, seperti yang disampaikan oleh Ustadz Bambang Sukirno (selaku narasumber dalam bedah buku ini), bahwa setiap chaos adalah peluang. Maka, fenomena Arab Spring ini pun menarik untuk dikaji dan dikaitkan dengan strategi global gerakan Islam dalam rangka mendirikan Khilafah Islamiyah. Ditinjau dari dua hal, pertama, kekuatan kontrol Amerika terhadap dunia sedikit demi sedikit memudar, seiring dengan terkurasnya energi untuk menjalankan energi untuk menjalankan mesin-mesin perang di berbagai negara. Kedua, prahara politik yang dialami oleh negara-negara dengan penduduk Muslim yang taat kepada agamanya.

Yang dimaksud dengan Strategi Dua Lengan dalam buku ini adalah Syam dan Yaman. Dua wilayah tersebut oleh penulis dijadikan tamtsil (contoh) sebagai dua lengan, yang harus saling bekerja sama untuk sebuah proyek besar, mendirikan Khilafah Islamiyah. Dua wilayah itu merupakan daerah vital dari jantung kota dunia Islam yang bisa digunakan untuk memotivasi publik kaum muslimin. Dua tempat itu pula memiliki daerah pertahanan yang tidak buruk dari segi rintangan alamnya, memiliki sumber air dan makanan, yang menempatkan para jihadis dalam posisi aman dalam hal ketahanan pangan.

Yaman berdekatan dengan daerah yang memiliki pengaruh religius. Secara teritorial, Yaman terhubung dengan Hijaz yang di dalamnya terdapat dua kota bersejarah bagi umat Islam, uaitu Makkah dan Madinah. Jerusalem berada di wilayah Syam yang mencakup Suriah, Yordania, Lebanon, dan Palestina. Dengan memandang karakter manusia dari dua tempat itu, cukup dikatakan bahwa penduduk Syam dan Yaman merupakan orang-orang yang paling banyak berpartisipasi dalam masalah jihad.

Mayoritas pelaku jihad di Afghanistan berasal dari Yaman, dan tidak akan ada jihad di Irak tanpa kehadiran orang-orang dari wilayah Syam. Lebih dari itu, Nabi SAW telah memilih mereka di antara negara-negara kaum muslimin dengan rasa bangga dan kata-kata yang menyenangkan. Kemulian negeri Syam dan Yaman juga disebutkan di dalam hadits-hadits. Salah satu hadits tersebut seperti yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam Al Kabirdari Abu Umamah RA. Ia berkata, “Rasululah SAW bersabda,

‘Allah menempatkan Syam di depanku dan Yaman di belakangku dan berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, Aku letakkan di depanmu ghanimah dan rezeki, dan di belakangmu sebuah tambahan (kekuatan).”

Setidaknya ada lima hal kelebihan negeri Syam dan Yaman atas negeri kaum Muslimin yang lain, sehingga kedua negeri tersebut menjadi pendukung tegaknya Khilafah Islamiyah. Kelima hal yang dibahas secara detail di dalam buku ini, yaitu :

Pertama, Syam dan Yaman tidak berada di zona mati. Maksudnya, jika terjadi peperangan disana maka puluhan saksi mata, analis, reporter dan lainnya akan keluar memberikan komentarnya menghidupkan kejadian yang ada. Kedua, lokasi Syam dan Yaman termasuk dekat dengan wilayah-wilayah yang memiliki pengaruh keagamaan. Ketiga, Syam dan Yaman memiliki letak geografis pegunungan dimana keduanya memiliki topografi yang mendukung aktivitas militer defensif. Keempat, wilayah Syam dan Yaman memiliki ketahanan pangan demi mencukupi kebutuhan makanan dan air bagi masyarakat jika terjadi blokade ekonomi oleh kekuatan kufur internasional. Kelima, Syam dan Yaman memiliki penduduk yang karakternya yang suka membantu, mempunyai presentasi keyakinan agama yang layak, memiliki keberanian, sabar menanggung penderitaan dan kehidupan yang keras.

Ustadz Abu Rusydan (narasumber) menambahkan, “Strategi dua lengan yang menitikberatkan pada Syam sebagai kekuatan utama dan Yaman sebagai pendukung merupakan keniscayaan sejarah dan nubuwah yang dipahami lebih dulu oleh kaum Yahudi dibandingkan kaum Muslimin. Hal inilah yang menjadi dilema bagi para ulama sekaligus mujahid, seperti Sayyid Quthb dan Syaikh Mush’ab As-Suri. Jika kemudian ada yang bertanya, ‘Jika ini disebut strategi, tetapi mengapa justru dibeberkan?’ Maka jawabannya adalah untuk memahamkan keniscayaan sejarah dan nubuwah ini kepada kaum Muslimin, serta memberikan gambaran arah perjuangan Islam.”

Pada bab “Miniatur Khilafah” dalam buku Strategi Dua Lengan, Ustadz Abu Rusydan menjabarkan bahwa gagasan penegakan khilafah Islamiyah belum bisa divisualisasikan untuk saat ini, karena pada saat ini dua tema yang sangat sensitif di tengah masyarakat kaum Muslimin adalah Jihad dan Penegakan Syari’at. Itulah yang menjadi alasan mengapa kedua hal tersebut belum mampu divisualisasikan pada saat ini, sehingga umat Islam harus bersama-sama mendukung jihad sebagai solusi penegakan Khilafah Islamiyah. Penegakan syari’at Islam tidak mungkin terwujud, kecuali di dalam kekuasaan politik Islam.

Beliau pun menambahkan, “Titik sentral pemikiran Sayyid Quthb, Syaikh Abdullaah Azzam, maupun Abdullaah bin Muhammad adalah bahwa manusia dalam hidup bermasyarakat harus diatur dengan hukum Allaah Ta’ala, dimana nantinya para pemegang kekuasaan politik adalah mereka yang melaksanakan hukum Allaah, bukan membuat sendiri undang-undang buatan manusia.”

Selain itu, beliau juga memaparkan beberapa hal penting lain yang dibahas di dalam buku ini, yaitu dua hal penghambat strategi ini dapat dilaksanakan. Dua hal tersebut adalah, yang pertama tidak ditegakkan atau ditanamkannya jihad di bumi Saudi. Selama ini, kerajaan Saudi menanamkan kesan kepada umat Islam bahwa role model Islam yang benar adalah model yang dikembangkan oleh Arab Saudi. Padahal, salah seorang pangeran Saudi sendiri telah mengungkapkan bagaimana buruknya kondisi Arab Saudi saat ini. Penghambat kedua adalah kekuatan Hizbullah yang melakukan penetrasi ideologi Syi’ah di berbagai negeri kaum Muslimin, seperti di Libanon dan Yaman.

Allaahumma a’izzal islamaa wa muslimin, wa adzillasy syirka wal musyrikin, wa dammir a’daa ad-diin, wahmi hawzatal islaami yaa Robbal ‘alamiin…

Allaahu a’lam bish shawwab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s