Bersinggungan

lampu

“Sejatinya setiap orang adalah pasangan cerita dari cerita yang lain

Setiap orang akan menyingggung takdir hidup orang lain

Mungkin saja kau berpengaruh pada hidup orang lain di luar sana

Mungkin juga kaulah pengaruh dari kesuksesan teman terdekatmu

Mungkin saja kau adalah bagian dari doa-doa di sujud panjangnya

Mungkin juga kaulah jalan dari perbuatan baik di muka bumi

Siapa yang tahu?”

(sayangnya saya lupa ini quote siapa 😥 )

Pernahkah engkau menyadari, bahwa boleh jadi orbit rejeki kita bersinggungan dengan orbit rejeki orang lain? Tentu saja, itu bukan sebuah kebetulan. Semesta ini ibarat panggung kompleksitas yang bercerita. Ada rangkaian skenario rumit, yang jika kita hubung-hubungkan, entah, mungkin tidak akan ada habisnya.

Pernahkah terbersit dalam pikiranmu, bahwa boleh jadi segala keberuntungan yang pernah kita alami, adalah bagian dari keberuntungan orang lain? Meski kita tidak pernah menyadari itu, bahkan orang lain itupun tidak pernah menyadarinya. Kita terus saja berbangga diri, bahwa pencapaian itu karena kehebatan kita sendiri. Melupakan pintu keberuntungan yang dibuka perlahan oleh orang lain. Melupakan anak kunci yang dulunya terjatuh di lorong, kemudian diambilkan oleh orang lain. Bahkan melupakan Ia yang membingkiskan rejeki dengan beragam cara.

Pernahkah terpikir dalam benakmu, bahwa boleh jadi engkau sendiri adalah bagian dari keping kebahagiaan orang lain? Engkaulah pasangan rejeki orang lain. Engkau pulalah yang akan menjadi bagian dari takdir hidup orang lain. Adakah engkau merasa?

Mungkin akan sulit kita sadari, sebab hari ini manusia telah dipusingkan dengan takdir hidupnya sendiri. Tanpa sempat menduga bahwa takdir-takdir yang bergumul di langit itu saling bersinggungan, meski dibingkiskan terpisah satu sama lain.

Mungkin akan sulit kita pahami, sebab kita pun masih sulit memahami orbit takdir kita sendiri. Sehingga kita masih saja bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin takdir kita menyinggung orbit takdir yang lain?” Sebenarnya, semua itu mungkin. Hanya saja kita yang kadang melawan teori probabilitas, kemudian berseloroh, “Ah, itu kan hanya retorika statistik.”

Mungkin, yang kita butuhkan adalah melihat lebih dalam. Sebab pernahkah mengira jika Bumi tanpa sampah, justru menjadi hamparan gersang bagi pemulung? Pernahkah mengira jika skripsimu yang memusingkan itu justru menjadi keping rejeki bagi pemilik rental dan fotokopi? Pernahkah mengira jika seorang pasien justru menjadi jodoh bagi dokter atau perawatnya? Pernahkah mengira jika amplop cokelat yang tertinggal di rumah seorang gadis, justru menjadi jalannya mendapatkan amplop merah muda berisi tulisan, “Maukah engkau hidup sederhana bersamaku?” Yang dikirimkan oleh tukang pos yang sama. Pernahkah, pernahkah?

Mungkin itulah sebabnya kita harus terus berbuat baik. Sebab siapa sangka jika kebaikan kita sekecil apapun, menjadi binar kebahagiaan luar biasa buat orang lain, meski ia jauh disana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s