Distraksi

tumblr_nd8l2r7cM31rchk9io1_500

Imam As-Syafi’i pernah menyampaikan nasihat kepada muridnya,

“Saudaraku, kalian tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara ini. Akan aku kabarkan kepadamu secara terperinci yaitu dzakaa-un (kecerdasan)hirsun (semangat)ijtihaadun (cita-cita yang tinggi)bulghatun (bekal)mulazamatul ustadzi (duduk dalam majelis bersama ustadz),dan tuuluzzamani (waktu yang panjang).”

Salah satu adab belajar adalah bersungguh-sungguh. Seperti pepatah Arab yang dikutip Ahmad Fuadi dalam novel Negeri Lima Menara, “Man Jadda Wa Jada; siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil.” Seperti nasehat Imam Al-Ghazali, “Ilmu tidak akan memberimu walau sebagian, hingga engkau memberikan dirimu utuh kepada ilmu.”

Salah satu ciri bersungguh-sungguh adalah mencari tempat yang kondusif untuk belajar. Imam Al-Ghazali menggunakan bahasa “hijrah” dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada urusan duniawi. Maka dari itu, dalam pendidikan Islam ada yang namanya pesantren, dimana para murid memang hijrah dari rumahnya untuk belajar dengan fokus disana.

Maka dari itu pula, mengapa para ulama jaman dahulu prestasinya luar biasa. Imam Syafi’i sudah hafal Al-Qur’an di usia 10 tahun. Jaman dulu anak-anak belum terdistraksi oleh Doraemon, Dragon Ball, atau Naruto. Bukan hanya Al-Qur’an dan hadits yang mereka hafal, kalau kita baca buku fiqih hanya untuk dipahami, para ulama jaman dulu menghafalkan kitab-kitab tersebut. Konon, Ibnu Taimiyyah ketika menulis Majmu Fatawa yang mencapai 36 jilid itu, ketika mengutip pendapat ulama, beliau bukan mengutip dengan membuka kitab, tetapi mengutip langsung dari hafalannya.

Kondisi sekarang ini, hijrah yang penting adalah hijrah pikiran, yaitu hijrah dari berbagai distraksi, gangguan dan godaan yang bisa mengalihkan fokus kita dari belajar. Ini memang problem masa kini. Mungkin jaman sekarang bisa disebut sebagai age of distraction. Teknologi yang dulunya dikembangkan untuk membantu pekerjaan manusia, justru berubah menjadi sesuatu yang mengalihkan fokus kita dari hal-hal yang penting.

Media sosial sepertinya bisa menjadi terdakwa utama distraksi itu. Berbagai jenis media sosial selalu lengkap dengan notifikasi yang meraung-raung minta dicek. Hal yang mengganggu fokus belajar, ternyata kita bawa-bawa di dalam saku baju.

Irfan Habibie Martanegara

Gimanaaaa? Berasa ditampar ga sih? 😥 😥 😥

Sedangkan kalo kata Pak Prie GS,

“Banyak soal rumit dipikir secara sederhana, banyak soal sederhana dipikir secara rumit. Itulah biang kerumitan.”

Bisa jadi, kerumitan hidup kita selama ini karena terjebaknya pikiran, perasaan, dan rutinitas kita sehari-hari dengan hal yang remeh-temeh. Atau sebaliknya, terbiasa meremeh-temehkan sesuatu yang sebenarnya urgen dan esensi.

Astaghfirullaah. Semoga Allah melindungi kita dari hal yang begitu itu. 😥

“Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi; shahih)

Iklan

2 thoughts on “Distraksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s