Matre!

81-wedding-planning-and-servicesBismillaahirrahmanirrahim,

“Mba, jaman sekarang jadi perempuan itu harus matre. Kalo nyari suami yang kerjanya udah mapan. Sekarang, tampang itu ga jaminan. Kalo bisa nyari yang pegawai aja, Mba, yang terjamin masa depannya. Lihat saya ini lho mba, sekarang jadi begini hidupnya, pontang-panting (blahblahblah).”  

Uweeeeh. Apaan coba. Serius, kalimat yang barusan mendarat secara mulus di telinga saya itu luar biasa menyetrum! 😆

Kuping saya berasa diasep, panas, ngebul. Haha. Habisnya ibu-ibu itu semangat banget “provokasi”nya. Luar biasa, bukan? 😀

Sayangnya, bedhug maghrib masih lama. Kalimat ibu X barusan sukses membuat saya semakin dahaga. Tenggorokan terasa kering kerontang. Aneh ya? Padahal yang menggebu-gebu kan ibunya. Saya, cuma duduk manis mendengarkan sambil menundukkan kepala. Persis penganten yang terduduk malu di pelaminan. *lah, apaan* 😆

Matre.

Judulnya sengaja saya bikin nyetrum juga. Biar menimbulkan kesan silau di mata. Haha. *jahat kamu nin* 😀

Jadi begini Saudara, ceritanya sore kemarin, saya mampir ke sebuah toko. Kebetulan, yang jaga toko itu tetangga saya sendiri. Dan, pastilah kami terjebak obrolan ngalor ngidul. Mulai dari beliau menanyakan kabar kuliah saya, urusan kerja, nanya-nanya kolesterol, asam urat juga, dan sampailah pula pada poin, “Mba Nina umurnya berapa sekarang?”

Sebenernya ga ada salahnya sih nanya umur. Saya sama sekali ga menyangka kalo dari pertanyaan umur itu akan berujung pada obrolan yang memanas, yaitu pernikahan. #eaaa 😳

Beliau melanjutkan pertanyaannya. Iya sih, beliau sedikit kepo kayaknya. Tapi saya yakin, ibu tersebut asing dengan istilah kepo, jadi saya mengurungkan niat untuk bilang, “Hayooo, ibu kepo yaaa?” Alhamdulillah, saya masih menjunjung nilai-nilai budi pekerti. 😛

Jadi ya sudahlah, lagian bukan pertanyaan yang jawabannya rahasia-rahasia banget. Kasian juga kalo beliau penasaran. Kalo ga bisa tidur kan berabe. Akhirnya saya jelaskan begini begitu. Udah persis narasumber dalam acara Satu Jam Bersama Nina. *apa deh* 😀

“Mba, udah usia segitu harusnya udah mulai mikir ke arah sana lho…”

Uwooow, ke arah sana? Arah mana, Bu? Utara, selatan, tenggara, barat daya? Mana Bu, mana? Iya sih, saya sok polos. 🙄

“Udah punya pacar belum, Mba?”

Udah dong, Bu. Kemarin saya dapet oleh-oleh haji dari eyang putri. 😆

“Udah punya calon belum? Saya punya kenalan tentara lho Mba, ada angkatan udara, laut, darat. Polisi juga ada.”

Nah. Telak. Habislah saya disitu. 😆

“Hehe, ndak Bu, terimakasih.” 😳

“Engga? Lho, kenapa? Kenalan saya itu udah pada mapan lho. Ga suka sama tentara ya? Wah, padahal masa depannya terjamin lho Mba. Sukanya apa? Kayaknya model-model Mba Nina sukanya dosen atau dokter gitu ya?”

Hebat, kan? Ibu tersebut bisa meramal segala coba. Saya hanya membatin kecut, “Emang saya keliatan kayak proposal tesis ya sampai dibilang sukanya sama dosen? Atau jangan-jangan malah mirip stetoskop karena dibilang perempuan “semodel saya” ini sukanya sama dokter.”

Ckckck. Air mana air, saya mau wudhu, panas! 😀

Tapi saya sih cuma mesam-mesem. *cuma?*

“Hehe, ya doanya aja Bu, moga-moga besok dapet yang baik untuk dunia akhirat. Sebenernya saya udah mulai mikir ‘kesana’, Bu, tapi apa daya, urusan skripsi dan pekerjaan jauh lebih menyita pikiran saya.”

Saya menjawab singkat, mencoba meredam semangat ibu-ibu separuh baya itu. Heran juga sih, ini yang mau nikah siapa, yang heboh siapa. 😆

Dan pada akhirnya, epilog drama sore hari itu berakhir dengan quote dari ibu-ibu separuh baya golden ways,

“Mba, jadi perempuan di jaman sekarang itu memang harus sedikit matre. Demi masa depan.”

Clep. Saya pun terlarut dalam perenungan abad 20(?)

Dan maa syaa Allaah. Kira-kira, hikmah apa yang bisa diambil dari kisah di atas, Saudara? 🙄


Usia dua puluh sekian memang usia yang rentan mengalami sindrom galau nikah. Menurut saya wajar, sih. Bukan sesuatu yang harus dibilang ‘wow’ sambil ngguling-ngguling. 😀 Bahkan, kadang yang galau lebih hebat justru orang-orang di sekitar kita. Kalo anak gadis, biasanya yang galau adalah ibundanya. Kalo laki-laki, yang galau hebat pastinya diri sendiri. Wkwkwk. 😀

Itu poin pertama, bahwa kegalauan jombloers ternyata dirasakan pula oleh orang-orang terdekatnya, bahkan mungkin mereka jauh lebih galau. Khawatir kalo kita bakal menjomblo sampai tua. Kedua, sekaligus topik utama dari tulisan abstrak ini adalah: Matre. Apakah kehidupan rumah tangga memang se-frontal itu perjuangannya, Saudara? Saya jadi semakin merenung, hehe. 🙂 Saya yakin, ga semua orang punya persepsi tendensius semacam itu. Saya juga mencoba berhusnudzan dengan ibu-ibu separuh baya itu. Beliau jauh lebih berpengalaman untuk urusan rumah tangga, karena sudah cukup makan asam garam mengarungi bahtera pernikahan. Jadi, saya ga punya kapasitas yang cukup berbobot untuk meng-counter statement beliau, karena persepsi saya nantinya pasti lebih condong pada idealisme.

Padahal, pernikahan itu tidak selamanya mulus sesuai idealisme kita di masa muda. Namanya juga menyatukan dua isi kepala dan hati yang berbeda, dengan karakter pribadi dan latar belakang keluarga yang berbeda pula. Kemudian tentang masa depan. Apakah kemapanan profesi adalah satu-satunya jalan menuju kemapanan masa depan? Siapa sih yang bisa menjamin masa depan kita? Ingin sekali meralat kata-kata ibu tadi, karena terkesan menyandarkan masa depan hanya sebatas materi. Tapi sekali lagi, saya tidak punya posisi tawar yang oke, hehe. 🙂 Anggaplah, ibu-ibu itu salah ucap, salah persepsi. Semoga sandaran masa depan kita tetap satu, yaitu Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

Jadi intinya? Hehe, saya kembalikan ke temen-temen aja sih. Tulisan ini bukan bermaksud menggiring pemahaman teman-teman untuk menyempurnakan kriteria. Emang siapa kita kok pede amat minta sosok yang sempurna? Sampai tutup zaman pun, kita ga akan pernah ketemu dengan yang namanya Mr/Mrs. Perfect itu. Mau yang shalih dengan profesi dokter, dosen, pengusaha, guru, engineer, yang pasti yang gajinya besar, kerjanya jelas dan mapan, masa depan pun terjamin, apapunlah. Masing-masing kita pasti punya kriteria. Tapi, jangan sampai esensi pernikahan itu menjadi kabur hanya karena kita terlalu kaku dengan kriteria. Iya betul, demi masa depan. Tapi masa depan yang bagaimana? Bukankah masa depan kita adalah sebuah negeri bernama akhirat? Saya yakin, setebal apapun dompet laki-laki, kalo hatinya ga menebal karena ketaqwaan, kita bisa apa? Bisa-bisa kita gigit jari terhadap masa depan yang sebenarnya. Wal ‘iyadzubillaah. Nangis ga sih kalo ketemu yang kayak gini? 😥

“Lebih baik memikirkan ‘bagaimana’ daripada ‘siapa’. Sebab ‘bagaimana’ lebih membuat kita bersiap, sedangkan ‘siapa’ terkadang hanya meninggalkan kecewa.” (quote nemu di Tumblr, lupa punya siapa)

Iya, yang lebih esensi sebenarnya adalah pertanyaan ‘bagaimana’ bukan ‘siapa’. Bagaimana sebenarnya pernikahan itu? Bagaimana kiat-kiat jitu mengarunginya? Bagaimana meraup keberkahannya? Bagaimana harmonisasinya? Sepertinya itu yang lebih penting kita pikirkan jauh-jauh hari, ketimbang membelit pikiran dengan kriteria. Allaahu a’lam, wastaghfirullaah. Selamat merenung. 🙂

Kontemplasi Ramadhan 1434 H (dua tahun silam… nostalgia… wkwkwk) 😛

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s