Surat Cinta

hati 3

“Cinta tidak seharusnya membuat kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta tidak seharusnya membuat kita menghinakan diri, melainkan menghembuskan kegagahan. Dan tidak seharusnya pula cinta melemahkan semangat, namun justru membangkitkannya. Begitulah seharusnya cinta itu ada.” [Buya Hamka]

*silakan baca pelan-pelan ya, Adik* 😉

Adikku,

Semua orang juga pasti tahu bahwa memang sakit rasanya ketika tahu bahwa yang kita cintai ternyata bukan milik kita. Terus memendam rindu ya buat apa. Terbakar cemburu pun bukan hak kita. Pada akhirnya air matalah yang harus jatuh dikorbankan atas nama perjuangan cinta, katanya. Jika rasa yang tumbuh itu hanya menimbulkan sakit, itu tidak lain karena ia memang belum halal buat kita. Lambung letaknya dekat dengan hati. Jika kita diwajibkan menjaga apa-apa yang masuk ke lambung, maka hati pun memiliki hak atas itu. Tidak sekedar baik, tetapi juga halal, kan?

Adikku,

Begitu mudahnya anak-anak muda seusia kita mengumbar kata cinta. Dengan mudahnya mereka menyulap lisan yang dulunya cap cis cus soal game dan pertandingan bola dengan, “Aku cinta kamu.” Padahal, dimana-mana kata cinta menimbulkan konsekuensi. Tidak semudah itu. Tidak cuma urusan tiga kata, habis perkara.

Seperti halnya kita mengaku mencintai Ayah dan Ibu, tapi wujud bakti kita nihil. Sama halnya ketika kita mengaku mencintai Islam sebagai agama, tapi attitude kita justru menusuk kemuliaan Islam itu sendiri dari belakang. Sekali lagi Adikku, kata cinta selalu membutuhkan konsekuensi. Bukan seberapa banyak bibir kita latah mengumbar, “I Love You” di segala penjuru. Ini soal pembuktian. Apa yang keluar dari lisan hanyalah bumbu. Apa jadinya jika kita memasak terlalu banyak bumbu? Tidak enak juga, bukan?

Adikku,

Kita sama-sama sedang dalam ruang tunggu. Ketahuilah bahwa di luar sana begitu banyak orang yang rela menghabiskan waktu, perasaaan, dan penghidupan singkatnya semasa dalam ruang tunggu itu dengan kesia-siaan. Buat apa bibir berbusa-busa menjanjikan cinta jika kita justru mendurhakai-Nya? Buat apa? Pelaminan belum pasti, dosa sudah pasti iya. Ketahuilah bahwa cinta yang berapi-api itu, jika tanpa persaksian dari-Nya, ialah yang mewujud menjadi anak panah setan. Kamu masih ingat kan, setan berasal darimana? Dari api. Panasnya bukan menghangatkan jiwamu. Tapi membakarnya. Itu menipu.

Adikku,

Kita telah sama-sama tahu bahwa setiap kita pasti memiliki rasa itu. Hanya saja, dimana-mana perasaan yang dibiarkan tumbuh subur tanpa keridhaan dari-Nya, hanya akan menyita segenap akal sehatmu. Si dia yang seharusnya menjadi ladang amalmu, menjadi tiada artinya karena setiap detik kita mengingatnya justru menyisakan pilu. Iya, pilu. Karena Allah tidak meridhainya.

Adikku,

Di sela ruang tunggu ini, kewajibanmu hanyalah mengisi setiap jedanya dengan kebermanfaatan. Berbagilah cinta dengan cara yang layak. Sebab kita telah sepakat bahwa cinta bukan lagi perkara yang hanya membuat kita termehek-mehek sesaat. Anak muda seusia kita pasti memiliki energi cinta yang besar. Kita bisa menyalurkan energi itu menjadi lebih bermakna. Bukan sekedar dengan bujuk rayu dan harapan palsu.

Ada Ayah dan Ibu yang menunggu pembuktian cintamu. Ada sahabat-sahabat baikmu. Ada anak-anak yatim. Ada anak-anak yang buta Al-Quran. Ada kakek nenek penjual mainan keliling. Atau bahkan hanya ada seekor kucing yang merindukan ikan asin. Tidakkah masih banyak yang menunggu pembuktian cinta kita?

Adikku,

Jodoh pasti bertemu. Entah kapan, dimana, bagaimana caranya, dan dengan siapa nantinya. Kewajiban kita meyakini itu. Jika kita masih bertanya-tanya, jangan-jangan karena kita meragu. Padahal, Allah yang mengatur setiap detail skenario hidup kita, dengan sebaik-baik pengaturan. Allah yang Maha Menggenapkan apapun yang sempat ganjil. Allah pula yang Maha Mengetahui apa yang pantas dan apa yang terbaik untuk kita.

Adikku,

Kita tidak perlu iri dengan setiap keadaan orang lain. Sering kali apa yang kita lihat begitu palsu. Tidak semua pasangan mereguk bahagia. Pun tidak semua yang tengah dalam kesendirian mustahil merasakan ketenangan jiwa. Kesiapanmu menerima konsekuensi cinta adalah dengan pernikahan. Hanya dengan itu. Tidak perlu iri dengan mereka yang secara lahir tampak romantis, mesra, dan dipuja-puja sebagai pasangan ideal. Namun hakikatnya mereka sedang mengkhianati Tuhan. Oleh sebab itu, jangan sampai illah-mu tertukar.

Adikku,

Tidak semua gelombang perasaan harus dituruti. Termasuk perasaanmu hari ini. Jika memang itu terlalu menyakitimu, maka sudahi. Bukan karena kita percaya bahwa cinta tak harus memiliki. Namun lebih dari itu, karena cinta ibarat energi. Jika ia tidak menggerakkanmu menjadi lebih baik, maka yang ada hanya sebaliknya. Kita telah sama-sama tahu bahwa rasa itu adalah sebuah fitrah yang tidak dapat dipungkiri, maka memastikan kemana muaranya menjadi jawaban atas segala kecamuk perasaanmu hari ini. Pada akhirnya kita sendirilah yang memilih, hendak menjadikan energi perasaan itu mengubah kita menjadi seperti apa.

Adikku,

Berdamailah dengan perasaanmu. Sungguh, kita benar-benar hanya diberi hati yang cuma satu. Jangan biarkan ia diisi oleh sesuatu yang belum pantas mengisi kekosongannya. Jangan pula biarkan ia kosong dari rasa cinta kepada-Nya, sebab Dia-lah Yang Maha Mengetahui, siapa yang pantas menggenapkan separuh hati kita. Bersabarlah… 🙂

Iklan

2 thoughts on “Surat Cinta

  1. Reblogged this on ciputemon's journal and commented:
    Cinta itu fitrah dan cinta tidak pernah salah asal kita tahu cara yang benar untuk membingkainya. Cara yang benar itu seperti apa? Di ruang tunggu, kita senantiasa bersama-Nya untuk memaknai cinta langsung dari Sang Maha Cinta.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s