Rahim

slide_6

“Rahimku memang tidak sempurna. Tapi rahim ibu tidak pernah tidak. Rahim ibu tidak pernah aplasia, karena kasih ibu tidak pernah cacat. Bodohnya, aku pernah meragukan itu. Padahal ‘rahim’ ibu lebih dari sekedar cukup…”

“Aplasia vagina disertai aplasia uterii.”

Dokter menjatuhkan vonis tanpa babibu. Saya terperangah, gagal paham. Soal penyakit, mengerti apa itu H5N1 saja saya sudah merasa hebat.

“Itu penyakit apa, Dok?”

“Kelainan organ reproduksi, tepatnya pada rahim. Rahim Anda tidak berkembang, Mbak.”

Rahim tidak berkembang? Oh, jadi hanya begitu penjelasannya. Singkat sekali, pikir saya. Saya belum puas.

“Bisa jelaskan lebih detail, Dok? Saya masih belum mengerti.” Saya terus mengejar pertanyaan.

“Begini, Mbak. Penyakit yang Mbak Sari alami ini tergolong penyakit langka, dimana rahim tidak terbentuk sempurna. Bahkan dari hasil USG, rahim mbak Sari tidak tampak. Rahim Mbak Sari tidak berkembang. Kondisi inilah yang membuat Mbak Sari tidak mengalami menstruasi.”

Rahim tidak tampak? Apa maksudnya? Rahim saya ghaib? Bagaimana mungkin? Tiba-tiba saya sangat skeptis, melawan kemungkinan. Saya masih belum puas dengan jawaban dokter berjilbab hijau itu. Saya masih menimpalinya dengan pertanyaan.

“Selain tidak bisa menstruasi, adakah dampak lain dari kelainan ini, Dok?”

“Begini Mbak. Dampak yang paling dikhawatirkan dari kelainan ini adalah Mbak Sari tidak bisa hamil…”

Saya tercekat bukan main. Bumi seperti berhenti mengorbit. Langit sekonyong-konyong dirobohkan di depan muka. Mata saya merabun akut. Saya kehilangan gravitasi, kemudian rubuh tanpa komando.

Berhari-hari saya mengurung diri di dalam kamar. Lidah terasa getir. Nafsu makan saya kolaps. Dada terasa sangat sempit, sampai-sampai oksigen rasanya begitu mahal. Semenjak vonis itu saya sering sesak nafas. Imun melemah. Tubuh kuyu, mata sayu. Mendadak saya seperti fobia dengan cermin. Setiap bercermin, saya merasa ditertawakan oleh bayangan saya sendiri. Dinding kamar seperti memantul-mantulkan cemooh. “Kamu bukan perempuan.” Berulang kali.

Berkali-kali saya memecahkan cermin dengan tangan sendiri. Hampir-hampir merobek nadi. Tapi takdir hidup saya belum surut. Rupanya Allah belum hendak menghentikan sistem regulasi darah dalam jantung saya. Padahal saya merasa hidup segan, mati mungkin lebih baik. Astaghfirullah. Saya sadar itu kata-kata kufur. Tapi, semua ini rasanya memang terlalu berat. Bahu saya terlalu rapuh. Iman saya belum membaja.

Saya pun terus menjauhi ibu. Terus menghakiminya sebagai manusia yang paling bersalah atas apa yang saya alami. Tidak hanya itu, saya juga menjaga jarak dengan ayah. Memutus hubungan dengan teman-teman. Apalagi dengan laki-laki. Saya mati rasa. Intinya, saya menutup diri dari pergaulan. Dunia luar terlalu buas bagi perempuan yang “bukan perempuan” seperti saya. Tiap hari saya disuguhkan iklan-iklan di televisi. Semuanya memuja perempuan ideal. Sedangkan saya? Jangankan ideal, setiap hari saya terus mempertanyakan takdir keperempuanan yang saya jalani.

Saya memang terlahir tanpa rahim. Mustahil punya anak. Saya mandul. Tapi hati saya tidak. Hati saya belum benar-benar mati rasa. Rahim saya boleh aplasia, tapi hati saya tidak. Perempuan mana yang tidak ingin menikah dan punya anak? Meraung kesakitan saat melahirkan, menimang bayi, menyusuinya, menggantikan popoknya. Semuanya memang merepotkan, tapi percayalah. Perempuan manapun selalu merindukan momen merepotkan itu. Saya benar-benar tampak seperti pungguk merindukan bulan. Seringkali saya masih merasa bahwa saya perempuan tulen, karena saya rindu menjadi ibu.

Sampai suatu ketika, saya seperti tersambar petir. Saya melihat ibu menangis malam-malam dalam sujudnya. Ibu tidak berhenti menyebut nama saya dalam doanya yang dibanjiri air mata.

“Kuatkan putriku, Ya Allah. Aku tahu segala takdir-Mu adalah baik, meski sering kami tampik. Jika memang kondisi Sari ini akibat ulahku, maka pindahkan rasa sakitnya padaku. Biar aku yang menanggung beban berat di pundaknya. Aku rela, asalkan senyumnya kembali seperti dulu…”

Seketika saya lumpuh. Hati rasanya kisut. Batin saya menjerit. Doa ibu sedemikian tulusnya. Memindahkan rasa sakit? Manusia macam apa yang rela menanggung sakit atas apa yang tidak seharusnya ia derita? Tiba-tiba Bumi seperti ruang hampa udara. Asfiksia.

“Rahimku memang tidak sempurna. Tapi rahim ibu tidak pernah tidak. Rahim ibu tidak pernah aplasia, karena kasih ibu tidak pernah cacat. Bodohnya, aku pernah meragukan itu. Padahal ‘rahim’ ibu lebih dari sekedar cukup. Allaahu ya Rahman ya Rahim. Ampuni dosaku, ampuni…”

Saya pun mengayun lengan. Mendekap tubuh ibu dari belakang.

“Bu, ternyata ‘rahim’ ibu lebih dari cukup. Sari minta maaf…”

(Tulisan ini diadaptasi dari kisah nyata. Sari bukan nama sebenarnya.)

Iklan

2 thoughts on “Rahim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s