Tanpa Ijazah

Graduation Diploma

Give a man a fish and you feed him for a day; teach a man to fish and you feed him for a lifetime. (Maimonides)

Alhamdulillaah, setahun lalu ternyata saya berhasil dinyatakan lulus secara resmi dengan predikat cumlaude (ini ajaib πŸ˜€ ), meski tanpa ijazah. Tapi saya tetap melalui serangkaian proses kelulusan tersebut, mulai dari praktik kerja lapangan, penelitian, menyusun karya tulis ilmiah, sampai prosesi wisuda, meski tanpa ijazah. Yap, saya telah melalui semuanya, meski mungkin sebagian menganggap belum sempurna, karena sekali lagi: tanpa ijazah. πŸ™‚

Kok bisa? Hehehe. πŸ˜€

Terus terang, kala itu saya memang sudah tidak lagi berhasrat pada ijazah. Satu, karena sampai hari ini saya memang belum mengumpulkan revisian, haha. πŸ˜€ Dua, saya belum siap membayar biaya administrasinya πŸ˜† Bukan karena mahal sih. Kalaupun sampai harus menabung, sebenarnya untuk mencapai nominalnya tidak akan memakan waktu sampai bertahun-tahun, hehe.

Nah, kalau penasaran, silakan baca pada alasan ketiga. (Ini khusus buat yang penasaran aja loh yaaa) πŸ˜€

Tiga, saya hanya ingin membuktikan (pada diri saya sendiri sebenarnya), bahwa…

Buah dari ilmu bukan terletak pada ijazah, sebab tanpa ijazah, manusia tetap bisa bertahan hidup, berkarya, dan menebar manfaat.

Betul, sebenarnya saya hanya ingin membuktikan itu kok. Maaf jika terdengar mengecewakan. Namun percayalah, dalam hidup, saya tidak pernah berhasrat untuk mengecewakan orang lain. Sungguh. πŸ™‚


There are three constants in our life: changes, choices and principles. (Stephen Covey)

Setiap pilihan pasti menimbulkan konsekuensi. Ya kan?

Yap, saya sepenuhnya menyadari itu. Salah satu bentuk konsekuensi itu adalah suka tidak suka, mau tidak mau, saya harus menerima kenyataan bahwa kelak akan kecil kemungkinan saya bisa bekerja di instansi formal. Padahal, begitulah harapan ayah dan ibu. Hehe. Sekali lagi, maaf terdengar mengecewakan. πŸ™‚

Saya masih mengingat betul bagaimana gigihnya Ibu menginginkan saya bekerja sebagai PNS. Sebagaimana Bapak, yang kala itu pernah terlihat sangat kecewa ketika tahu saya batal diterima di sebuah rumah sakit yang cukup bonafit disini.

Sampai pernah suatu ketika Ibu berseloroh, “Oalah Mbak, Mbak… Kalau tahu kamu sekarang jadi guru ngaji dan tukang nulis, dulu kamu taksekolahin di I**N aja.”

Hehehe. Saya hanya tersenyum simpul. Mencoba memahami kalimat Ibu yang terdengar seperti bermajas. πŸ™‚

Beberapa teman juga begitu. Pernah ada yang menimpali, “Nin, kalo sekarang kerjaanmu ngajar dan nulis, ngapain dulu kuliah di gizi? Ilmu gizinya ga kepake dong…”

Saya selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa itu dengan jawaban yang nyaris sama.

“Ilmu giziku in syaa Allaah tetep kepake kok. Jangan khawatir. Kalo soal ngajar dan nulis, ini cuma bagian dari ikhtiar mengetuk pintu rezeki yang lain. Boleh, kan?”


Sekarang, saya hanya ingin mensyukuri apa yang telah, sedang, dan akan saya jalani. Bagaimana saya yang dulu tentu saja adalah bagian dari bagaimana saya sekarang. Maka bagaimana saya hari ini adalah bagaimana saya esok hari, beberapa waktu setelah hari ini.

Sekarang, alhamdulillaah, in syaa Allaah Ibu dan Bapak telah ridha dengan apa yang telah saya pilih dan jalani saat ini. Bahkan suatu ketika, kata-kata Ibu terdengar begitu mengharukan, “Ternyata memang ya, rezeki itu ndak selamanya berupa materi, karena kalau yang dicari materi terus ya ndak ada habisnya…”

Sekarang, alhamdulillaah, saya menyaksikan sendiri bagaimana Bapak begitu bersemangat belajar membaca Al-Quran. Saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan aktivitas saya sekarang. Namun jika boleh dihubung-hubungkan, semoga saja memang ada korelasinya. πŸ™‚

Sekarang, alhamdulillaah, meski dengan penghasilan -yang bagi sebagian orang mungkin tampak sedikit- (well, menurut saya banyak sedikit adalah soal sudut pandang ya, hehe), tapi dengan itu saya bisa menyisihkannya sedikit demi sedikit untuk “membahagiakan” Ibu dan Bapak. Paling tidak, uang bensin, pulsa, dan pembalut sudah bisa saya tangani sendiri. Meski sederhana, namun semoga itu meringankan. πŸ™‚

Dan sekarang, alhamdulillaah, saya merasakan betul bagaimana tenangnya menjalani pekerjaan saya saat ini.

Do what you love, love what you do.

Salah satu faktor ketenangan yang saya rasakan adalah: lingkungan bekerja yang kondusif.

Mulai dari urusan hijab dan jam shalat yang tetap terjaga, minimnya ikhtilat atau interaksi dengan lawan jenis -jikapun ada, intensitasnya tidak sering-, hampir tidak pernah lagi pulang larut malam, serta dikelilingi anak-anak yang kesehariannya dekat dengan Al-Quran. Yang terakhir ini, maa syaa Allaah, membuat saya tersadar bahwa betapa jauhnya saya selama ini dengan Al-Quran; sang cahaya terang.

Haadzaa min fadhli Rabbi, maa syaa Allaah…


Apa yang saya tulis barusan sekadar sharing pengalaman loh ya. Saya sama sekali tidak bermaksud menjustifikasi siapapun. Tulisan ini juga bukan vonis bahwa pekerjaan ideal adalah sebagaimana yang saya jalani. Sungguh, tulisan ini jangan dipahami demikian. πŸ™‚

Hanya saja, jika boleh memilih sekali lagi, libatkan Allaah dalam setiap destinasi kita. Apapun, tidak hanya soal pekerjaan. Sebab memang, ternyata tugas kita adalah berkhidmat menjadi abdi-Nya. Tidak lebih.

Tugas kita berikutnya adalah mencari celah untuk menikmati tugas itu. Maka berikhtiarlah mencari celah itu. πŸ™‚

Dapatkan rejeki di tempat yang memuliakan dirimu, juga memuliakan Allah. Jangan paksakan diri untuk mengais rejeki di tempat yang tidak mengindahkan keyakinanmu pada tuntunan-Nya, atau menggantungkan diri pada majikan yang menjauhkanmu dari ridha Allah. Itu hanya akan menghinakanmu.

Allah tidak akan membiarkan hamba yang mengimani-Nya sepenuh hati dan sepenuh pengabdian terlunta-lunta dalam kekurangan rejeki. Allah Maha Kaya. Allah Maha Kaya. Allah Maha Kaya.

(Abi Chondro)


Oyap, salah satu bentuk memanfaatkan ilmu gizi yang sudah saya pelajari adalah: lewat tulisan. Yah, mau bagaimana lagi. Namanya juga tukang nulis, tukang sapu naskah. Wehehe. In syaa Allaah, sebagian tulisan akan dimuat disini, sebagian lagi kadang dimuat di majalah kesehatan -jika sedang beruntung πŸ˜€ –

Nah jadi sudah ya, jangan khawatir lagi kalau saya sudah benar-benar melupakan gizi. Ketahuilah, sekali-kali saya tidak pernah menganggapnya sebagai masa lalu.

Literally, i’m nutritionist. Yeayyy! πŸ˜‰

Iklan

2 thoughts on “Tanpa Ijazah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s