Ayah ASI

dad-and-baby

“You can shower your wife with all breastfeed gadgets in the world, but by the end of the day, she just neeed you beside her.”

 

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Membahas topik seputar ASI (Air Susu Ibu) biasanya identik dengan perempuan, sehingga seolah-olah muncullah hipotesis bahwa ASI adalah urusan ibu-ibu. Benarkah? Kemudian dimanakah kontribusi ayah dalam proses bonding ini? Benarkah menyusui adalah monopoli hubungan ibu dan anak?

Topik Ash-Shihah kali ini mencoba mengangkat isu seputar Father Breastfeeding atau Ayah ASI. Topik ini sempat mem-booming lewat sebuah buku bertajuk #AyahASI yang berisi tentang kisah delapan ayah dalam mendampingi istri tercinta mereka saat menyusui.

Sebenarnya bagaimanakah peran ayah dalam menyusui? Bagaimanakah kontribusi ayah untuk mengambil bagian dalam proses bonding atau jalinan perasaan orang tua-anak melalui ASI?

Menurut dr. Utami Roesli, Sp.A, “Penelitian menunjukkan bahwa dari 115 orang ibu yang suaminya tidak memberikan dukungan untuk menyusui secara eksklusif, ternyata tingkat keberhasilannya hanya sebesar 26,9 persen. Sementara pada kelompok ibu menyusui yang mendapat dukungan dari ayah, tingkat keberhasilannya hampir 100 persen, yakni 98,1 persen.”

Dalam sebuah penelitian lain pun menyebutkan bahwa 50% kegagalan pemberian ASI Eksklusif merupakan 50% kegagalan ayah (suami) dalam mendukung ASI eksklusif, sebab peran suami adalah pendukung, bukan penuntut, apalagi penghambat tercapainya program ASI Eksklusif.

Menyusui adalah bentuk komunikasi antara ibu dan anak. Perlu diketahui bahwa ada dua hormon yang memiliki peranan penting dalam menyusui, yaitu hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin erat kaitannya dengan produksi ASI, sementara oksitosin erat kaitannya dengan kelancaran ASI yang keluar. Hebatnya, hormon oksitosin ini ternyata dipengaruhi oleh perasaan dan pikiran seorang ibu, dimana hormon ini dapat dirangsang melalui sentuhan, gambar dan suara. Semua perasaan positif akan meningkatkan hormon oksitosin. Itu artinya, semakin baik perasaan ibu (good mood) maka ASI akan keluar semakin lancar (deras). Begitupun sebaliknya, jika banyak unsur negatif dalam pikiran dan perasaan ibu (bad mood), maka hal tersebut akan menghambat sekresi hormon oksitosin, sehingga ASI tidak lancar. Oleh sebab itu, kontribusi ayah dalam keberhasilan ASI eksklusif terletak pada membantu tercapainya kondisi good mood istri saat menyusui.

“You can shower your wife with all breastfeed gadgets in the world, but by the end of the day, she just neeed you beside her.”

Yap. Yang dibutuhkan oleh seorang istri yang sedang menyusui bukan sekedar terpenuhinya segala komponen yang membantu proses menyusui, seperti pompa ASI, kulkas dan botol kaca untuk bank ASI, asupan nutrisi yang memadai, dan sebagainya. Ternyata bukan hanya itu. Sebagaimana fitrah perempuan yang selalu ingin dimengerti, maka sebenarnya yang dibutuhkan istri adalah perhatian dan kesiapsiagaan suami.

Menyusui adalah sebuah proses kehidupan yang cukup menyita waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaan perempuan. Bagaimana saat perempuan kehilangan kepercayaan diri saat menyusui, sehingga menyebabkan ASI tidak lancar. Bagaimana saat perempuan harus rela payudaranya lecet karena menyusui. Bagaimana perempuan harus terjaga semalaman demi buah hati yang terus merengek karena lapar. Semua itu harus dimengerti suami jauh-jauh hari, bahwa menjadi ibu memang tidaklah mudah.

“Menyusui adalah sebuah proses. Proses itu membutuhkan waktu untuk mencapai hasil yang maksimal dan tidak bisa dicapai secara instan.” (A. Rahmat Hidayat)

Berikut ini adalah beberapa kiat menjadi Ayah ASI super. Semoga dapat dipraktikkan. Happy “breastfeeding”, Dad! 🙂

  • Be A Nice Personal Assistant. Jika sedang berada di rumah atau pulang kerja, terlibatlah dalam mengurus bayi. Bisa dengan menggendongnya, membuat dia tertidur, menggantikan popok, mengajak bicara, bermain dan lainnya. Biarkan istri kita beristirahat sebentar. Ingat, jika kita (suami) pulang ke rumah untuk beristirahat, maka kemanakah istri kita untuk beristirahat? Kemana lagi arah pulang itu jika bukan suami? Ingat, kadang perempuan hanya membutuhkan dua telinga yang bersedia mendengarkan dengan baik, bukan lisan yang terus menuntut ini dan itu. 🙂
  • Be A Google Man. Menyusui banyak tantangannya, mulai dari puting payudara yang lecet sehingga hasil perahannya mungkin menurun. Cobalah mencari tahu banyak hal tentang ASI dan proses menyusui. Memang, sudah seharusnya perempuan lebih mumpuni soal ini, tetapi tidak ada salahnya juga kan jika pria juga tidak kalah pintar soal ASI? Mulai saat ini, ubah mindset bahwa ASI bukan lagi topik ibu-ibu.
  • Make your own surprise. Istri selalu senang dengan kejutan kecil yang berarti. Kejutan kecil itu tidak harus dengan barang-barang mahal. Cukup dengan memberinya perhatian seperti membuatkan istri sarapan, menyediakan waktu atau bahkan mempersiapkan makan malam, atau sekedar memberikan pijitan tanpa diminta. Ingat, rasa senang akan membuat hormon oksitosin meningkat dan ASI menjadi lancar.
  • Be A Guardian AngelDi Indonesia ada begitu banyak mitos seputar menyusui yang bisa memengaruhi semangat seorang ibu. Suami harus menjadi benteng pertahanan istri dari segala serangan mitos tersebut. Suami, bagaimanapun adalah benteng terakhir seorang istri, sehingga jangan biarkan dia merasa berjuang sendirian mengurus anak. Percayalah, menjadi orangtua bukan monopoli tugas seorang istri.
  • Best Nurse Ever. Menghubungi dokter atau konselor laktasi mungkin akan memakan waktu lebih lama ketika istri menemui tantangan dalam menyusui, apalagi ketika puting lecet atau halangan lainnya. Cari tau segala hal tentang common problemsmenyusui dan cara mengatasinya. Jadilah perawat nomor satu bagi istri ketika menyusui.
  • Last but not least:Find Your Own Support. Kita paling tahu siapa istri kita dan bagaimana membuatnya nyaman dan senang. Cari cara sendiri untuk memberikan dukungan untuk istri kita. Apapun bentuknya pasti seorang istri akan menghargai usaha kita. Bukankah menikah itu untuk mencapai tujuan bersama? Kalau tidak berusaha bersama, lalu apa jadinya?

Kemudian, berikut ini adalah beberapa informasi seputar kriteria rumah sakit yang “sayang ibu dan anak”. Atau dengan kata lain, rumah sakit yang mendukung keberhasilan program ASI Eksklusif.

  1. Tersedia kelas untuk kelompok pemberian ASI
  2. Memiliki aturan tentang ASI eksklusif
  3. Mengajarkan ibu cara menyusui, dan menjaga agar terus menyusui, walau terpisah dari bayinya
  4. Memiliki tenaga kesehatan yang telah dilatih Manajemen Laktasi
  5. Tidak memberi minum atau makanan lain kepada bayi selain ASI pasca melahirkan, kecuali ada indikasi medis
  6. Melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
  7. Mendukung ibu dapat memberi ASI sesuai kemauan bayi (on demand)
  8.  Memberikan penjelasan manfaat menyusui dan ASI eksklusif
  9. Tidak memberi dot atau kempeng pada bayi yang menyusu
  10. Menyediakan ruang rawat gabung ibu dan bayi.

Maroji’:

Al-Qur’anul Karim

ayahasi.org

10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui – WHO

Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kesehatan Ash-Shihah Edisi Desember 2013

Iklan

Lautan Hikmah di Balik ASI

“Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”
“Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

ASI; Ungkapan Cinta Illahi

ASI adalah ungkapan kasih sayang Allah sekaligus anugerah yang luar biasa terhadap setiap bayi yang terlahir ke muka bumi. Di dalam surat cinta-Nya, bertebaran ayat-ayat tentang ASI, di antaranya:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawarahan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Hikmah ayat yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an tersebut, setidaknya menekankan bahwa Air Susu Ibu (ASI) sangat penting. Walaupun masih ada perbedaan pendapat tentang wajib atau tidaknya menyusui, tapi selayaknya bagi seorang muslim menghormati ayat-ayat Allah tersebut. Terlepas wajib atau tidaknya hukum menyusui, dalam ayat tersebut dengan tegas menganjurkan untuk menyempurnakan masa penyusuan. Dan di sana juga disinggung tentang peran sang ayah, untuk mencukupi keperluan sandang dan pangan si ibu, agar si ibu dapat menyusui dengan baik, sehingga jelas bahwa menyusui adalah kerja tim. Keputusan untuk menyapih seorang anak sebelum waktu dua tahun harus dilakukan dengan persetujuan bersama antara suami istri, dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi si bayi. Inspirasi utama dari pengambilan keputusan ini harus didasarkan pada penghormatan kepada perintah Allah dan pelaksanaan hukum-Nya, dan tidak bertujuan meremehkan perintah-Nya. Demikian pula jika seorang ibu tidak bisa menyusui, dan diputuskan untuk menyusukan bayinya pada wanita lain, sehingga hak sang bayi untuk mendapat ASI tetap tertunaikan.

Bagaimana dengan ASI Eksklusif?

Ayat di atas menunjukkan bahwa masa sempurna menyusui (laktasi) adalah 2 tahun penuh. Turunnya wahyu tentang rentang waktu yang ideal untuk menyusui ini merupakan nikmat Allah yang tak ternilai harganya. Allah SWT sudah memberikan petunjuk syar’i yang berhubungan dengan periode menyusui. Tuntunan syariat ini sudah diturunkan berabad-abad sebelum ada hasil penelitian yang membuktikan bahwa 2 tahun pertama adalah “The Golden Age”, yaitu masa yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Meskipun demikian, ada yang berpendapat bahwa tidak mengapa apabila tidak mampu menyusui anaknya selama 2 tahun, dimana hal ini terkait perbedaan hukum fiqih. Namun, selama seorang ibu mampu menyempurnakan periode tersebut, tentu hal itu akan lebih baik.

Menurut penelitian para ahli, yaitu dokter maupun ahli gizi, ASI Eksklusif dianjurkan dilakukan selama 4 atau 6 bulan karena beberapa alasan berikut:

  1. Mulai usia 6 bulan enzim dan pencernaan bayi mulai berkembang dan matang, serta siap menerima makanan selain ASI. Pencernaan bayi di usia sebelum 6 bulan masih sangat rentan dan sensitif terhadap zat asing, termasuk makanan. ASI adalah satu-satunya makanan yang memiliki komposisi gizi yang ideal bagi bayi, karena dapat dicerna dengan baik oleh pencernaan bayi.
  2. Setelah usia enam bulan anak akan mulai tumbuh giginya. Bayi di atas usia 6 bulan juga harus mulai dilatih untuk mengunyah. Kegiatan mengunyah ini, akan mengantarkannya kepada pembiasaan gerakan otot-otot mulutnya. Dengan otot-otot mulut yang terlatih ini, maka bayi akan mengalami kemudahan untuk belajar berbicara. Sedangkan cita rasa yang dihantarkan oleh makanan-makanan tersebut akan mendorong sel-sel indera pengecapnya untuk mulai mempelajari perbedaan antara makanan satu dengan makanan lain dan mulai membaginya dalam kategori-kategori yang disusun rapi dalam otaknya.
  3. Bayi mulai pula melakukan tahap belajar duduk, lalu berdiri, lalu berjalan. Keempat aktivitas ini, memerlukan tulang yang kuat, energi yang tepat, tenaga yang besar dan koordinasi kerja organ-organ tubuh yang seimbang. Sehingga bayi juga perlu protein, baik protein hewani (seperti susu, keju, daging, telur, dll) ataupun protein nabati (seperti tempe, tahu, kacang-kacangan, dll) karena protein tersebut bisa membantu tubuh untuk membentuk sel-sel darah yang berguna agar kerja otak dan jantung menjadi maksimal.
  4. Anak secara naluri mulai menaruh apa saja yang ia pegang di mulutnya, oleh karena itu kita harus benar-benar mengawasi.

Menyusui; Niatkan untuk Beribadah

‘Amru bin Abdullah pernah berkata kepada istri yang menyusui bayinya, “Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahu Wata’ala.”

Maa syaa Allaah, pelajaran yang sangat berharga. Betapa mungkin kita lupa bahwa menyusui hendaklah diniatkan ibadah, bukan sekedar insting atau dorongan naluri saja. Ini merupakan bentuk investasi kita di dunia dan akhirat. Semoga anak kita menjadi anak yang bersyukur pada Rabb-nya dan orang tuanya.

”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Menyusui; Memulai dengan Benar

Menyusui adalah cara yang alami dan normal untuk memberikan nutrisi pada bayi dan batita, dan ASI adalah susu yang dibuat khusus untuk bayi manusia. Mengawali dengan benar membantu untuk memastikan bahwa menyusui merupakan pengalaman yang menyenangkan untuk ibu dan bayi.

Prinsip dasar dari menyusui adalah membuat bayi melekat dengan baik. Bayi yang melekat dengan baik akan mendapatkan ASI dengan baik pula. Bayi yang tidak melekat dengan baik akan lebih sulit mendapatkan ASI, terutama jika ASI sedikit. Produksi ASI di awal kelahiran memang sedikit; ini hal yang normal dan alamiah, akan tetapi apabila bayi tidak melekat dengan baik, bayi akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan ASI. Inilah sebabnya mengapa banyak ibu “tidak memiliki cukup kolostrum”. Hampir semua ibu mempunyai cukup kolostrum tetapi bayinya tidak mendapatkannya.  Bayi tidak membutuhkan ASI yang banyak di hari-hari pertama, melainkan sesuai dengan kebutuhannya. Berikut ini adalah beberapa cara agar menyusui terasa lebih mudah:

  • Bayi seharusnya langsung mendapatkan kontak kulit dengan ibunya dan menyusu segera setelah ia lahir. Mayoritas bayi yang baru lahir dapat kontak kulit dengan ibunya dan diberi kesempatan menyusu dalam beberapa menit  setelah dilahirkan. Bahkan, penelitian membuktikan bahwa, bayi yang baru berusia beberapa menit dapat merayap ke arah payudara dari perut si ibu, melekat¸ dan mulai menyusu sendiri. Proses ini disebut Inisiasi Menyusui Dini (IMD). IMD adalah proses awal bonding (ikatan antara ibu-anak) setelah bayi bersinggungan dengan dunia luar.
  • Bayi sebaiknya tetap mendapatkan kontak kulit dengan ibunya sesering mungkin, segera setelah lahir dan pada minggu-minggu pertama dalam kehidupannya. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kontak kulit antara ibu dan bayi dapat membuat bayi tetap hangat sebagaimana di dalam inkubator. Kontak kulit merupakan hal yang baik dan sangat penting untuk ibu dan bayi, bahkan jika bayinya tidak melakukan pelekatan (sedang menyusu).
  • Kontak kulit membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan barunya. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih normal, oksigen dalam darah lebih banyak, suhu tubuh lebih stabil dan kadar gula darah lebih tinggi. Lebih jauh, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan kontak kulit pada minggu-minggu pertama kehidupannya, (bukan hanya saat menyusu) perkembangan otaknya lebih baik.
  • Pelekatan yang benar sangat menentukan keberhasilan menyusui

Maroji’:

Al-Quran Al-Karim

Sunardi. Ayah Beri Aku ASI. Solo: Aqwamedika. 2008.

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Bedah ASI. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 2008.

www.nbci.ca (Official page of Breastfeeding and Lactation Consultant Training)

Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kesehatan Ash-Shihah Edisi Desember 2013

Qiyamullail dan Kesehatan Janin

come back

Rahim ibu merupakan lingkungan pertama yang membentuk seorang manusia. Lingkungan pertama ini sangat erat hubungannya dengan perkembangan janin. Janin adalah bagian yang tak terpisahkan dari ibu yang mengandungnya. Karena itulah, semua kondisi dan keadaan yang dialami oleh ibu akan berpengaruh terhadap janin.

Hasil studi dan riset yang dilakukan oleh para ahli (Dr. Fakhir Aqil, ‘Ilm Al-Nafs Al-Tarbawi hal: 46-47), membuktikan bahwa kesehatan jasmani dan kondisi psikis ibu sangat berpengaruh pada janin. Rasa cemas, kalut, takut, dan sebagainya, dapat mengakibatkan hal yang serupa pada jiwa anak. Ibu hamil sebaiknya tak hanya memperhatikan kesehatan fisik, kesehatan psikis pun sama pentingnya. Pasalnya, kondisi psikis yang kurang baik akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik. Jika keduanya dalam kondisi tak sehat, akan berpengaruh terhadap pertumbuhan janin. Stres bisa memicu terjadinya perdarahan yang berpengaruh terhadap suplai oksigen ke janin. Stres yang dialami ibu hamil dapat meningkatkan Corticotrophin Releasing Hormone (CRH) di awal kehamilan. CRH secara berurutan dapat menyebabkan kelahiran prematur, karena dapat membatasi aliran darah ke daerah rahim dan menghambat bayi memperoleh oksigen secara optimal. Jika suplai oksigen berkurang, bisa memicu terjadinya kelainan pertumbuhan janin.

Setiap orang sebenarnya mengalami stres, namun kadarnya ada yang ringan dan berat. Kadar yang berat biasanya akan mempengaruhi kondisi kejiwaan ibu sehingga menyebabkan daya tahan tubuhnya menurun. Jika daya tahan tubuh menurun, dikhawatirkan membuat ibu mudah terserang penyakit. Penyebab stres pada ibu hamil umumnya ialah kondisi kehamilan itu sendiri, seperti mual-muntah yang terlalu berat, morning sickness, kecemasan terhadap penampilan yang berubah pasca hamil, dan lainnya. Tetapi ada pula yang disebabkan dari luar, semisal beban pekerjaan yang terasa sangat berat saat hamil sebagaimana yang banyak dialami oleh para wanita karir yang memiliki aktivitas cukup padat.

Sebuah penelitian mengungkapkan, 10% wanita hamil berpotensi mengalami stres, dari yang ringan hingga berat. Stres ringan biasanya dapat diatasi sendiri dengan melakukan hal-hal menyenangkan atau relaksasi. Tetapi stres ringan yang diremehkan, terus-menerus dipendam dan dirasakan sendiri, serta tidak segera diatasi, akan terakumulasi yang pada akhirnya dapat berpotensi menjadi stres berat.

DETEKSI DAN ANTISIPASI

Yang pertama dapat dilakukan adalah mencari penyebab stres. Apakah karena beban pekerjaan yang terlalu menekan atau karena sebab lain. Nah, carilah solusi untuk mengatasi supaya bebannya berkurang. Bila karena tekanan pekerjaan di kantor, cobalah  berbicara dengan atasan mengenai kondisi kehamilan, sehingga butuh keringanan pekerjaan; mengorganisasikan pekerjaan lebih baik agar tak menumpuk terlalu lama; meminta diantar-jemput oleh suami saat pergi atau pulang kantor; mendelegasikan tugas-tugas ke bawahan, dan lainnya.

Selanjutnya, ibu hamil bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti membaca buku, bertemu teman-teman lama, berlibur ke tempat yang nyaman bersama keluarga, atau meminta waktu cuti dari kantor sampai kondisinya membaik. Ketika melakukan aktivitas menyenangkan tersebut,  lepaskanlah pikiran-pikiran yang terkait dengan kantor. Nikmati kesenangan itu secara maksimal, sehingga semua beban yang tersimpan bisa keluar dengan bebas.

Jangan lupa meminta dukungan dari suami, orangtua, saudara dan teman, atau anak terhadap kehamilan yang sedang Anda jalani. Suami hendaknya lebih memahami kondisi istrinya yang sedang hamil dengan membantu pekerjaan-pekerjaan rumah yang sulit dilakukan ibu hamil atau membantu meringankan beban kehamilan seperti memijat bagian yang pegal. Dari orangtua, ibu hamil bisa meminta petuah-petuah berdasarkan pengalaman yang sudah lebih dulu mereka alami. Sementara dari anak, bangunlah rasa pengertiannya untuk memahami kondisi kehamilan sang ibu.

Pengaruh Qiyamullail terhadap Psikis Ibu hamil dan Janin

“Bangunlah (untuk beribadah) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)…” (QS. Al-Muzzammil: 2)

Ibadah tahajud memang menakjubkan. Terlihat berat pada awal pelaksanaan ketika belum terbiasa, tetapi akan menjadi sesuatu yang ringan, menentramkan, bahkan dapat membuat sang pengamal qiyamullail tersebut menitikkan air mata ketika melewatkan satu kesempatannya.

Dr. Sholeh dalam bukunya yang berjudul, “Terapi Shalat Tahajud” berhasil memaparkan sebab ilmiah dari ibadah yang membutuhkan kesungguhan ini. Diilhami dari sebuah sabda Nabi SAW, “Shalat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan diri dari penyakit.” (HR. Tirmidzi), maka beliau pun menjadikannya sebagai bahan disertasi dengan topik khusus tentang hormon kortisol dan kaitannya dengan shalat tahajud.

Dalam dunia medis, hormon kortisol dan metabolismenya dibutuhkan untuk melawan stres harian, hanya saja di sisi lain, secara alami kortisol pun berpengaruh negatif dalam menekan sistem imun (daya tahan tubuh), yang dapat mengakibatkan seseorang rentan terhadap penyakit. Pertanyaannya adalah, “Bagaimana cara kita menurunkan kadar kortisol secara umum agar sistem imun kita tidak terganggu, namun di sisi lain kita tetap kuat menghadapi stres?”

Maa syaa Allaah, ternyata jawaban dari pertanyaan itu telah berhasil dipaparkan oleh hasil peneitian Dr. Sholeh di atas. Kunci jawaban tersebut adalah dengan melakukan qiyamullail atau shalat tahajud. Pada penelitian beliau yang melibatkan sekitar 41 responden siswa di salah satu SMA di Surabaya, beliau berhasil mempertahankan disertasinya dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Judul disertasi beliau adalah, “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi.”

Hasilnya: didapatkan kadar hormon kortisol yang stabil dan relatif lebih rendah pada siswa yang mampu melaksanakan shalat tahajud secara rutin. Ketika diuji kadar sistem imunnya, diperoleh hasil yang bermakna pada uji statistik dalam kelompok tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa shalat tahajud berpengaruh terhadap peningkatan respon ketahanan tubuh. Hal ini dapat terjadi karena shalat tahajud yang dijalankan secara tepat, kontinyu, khusyuk, dan ikhlas mampu menumbuhkan persepsi dan motivasi positif, serta membantu memperbaiki mekanisme tubuh dalam mengatasi perubahan yang tengah dihadapi atau beban yang diterima. Hal ini tentu saja berpengaruh positif terhadap ibu hamil yang mengalami perubahan cukup drastis dalam kehidupannya, baik secara fisiologis (tubuhnya) maupun perubahan psikologis (kejiwaan).

Maroji’:

Ramadhani, Egha Zainur. Super Health: Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Yogyakarta: Pro-U Media. 2007.

Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kesehatan Ash-Shihah Edisi November 2014

Tak Sekadar Surat Cinta

“Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Yunus: 57]
“Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Yunus: 57]
Sebagian orang malas membaca Al-Quran, padahal di dalamnya terdapat petunjuk hidup bagi manusia, baik bagi kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Sebagian orang merasa tak memiliki waktu untuk membaca Al Quran, padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar, yang dihitung kebaikan pada setiap hurufnya. Sebagian orang pun telah kebingungan mencari obat, baik bagi raga maupun jiwanya, padahal obat itu dekat. Ialah Al-Quran yang dibiarkan berdebu, tersimpan rapi di dalam almari-almari masjid.

“Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Yunus: 57]

Membaca Al-Quran; Perdagangan yang Tidak Pernah Merugi

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” [QS. Fathir: 29-30]

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Mutharrif bin Abdullah –salah seorang tab’in- jika membaca ayat ini beliau berkata, “Ini adalah ayat bagi orang-orang yang suka membaca Al-Quran.”

Di antara sebab mengakrabi Al-Quran adalah perdagangan yang tidak akan merugi adalah sebagai berikut:

  • Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan, bahkan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan.

Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran, maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” [HR. Tirmidzi, dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’ no. 6469]

  • Membaca Al-Quran adalah contoh amalan baik, dimana amalan kebaikan akan menghapuskan kesalahan.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” [QS. Hud: 114]

  • Setiap kali bertambah kuantitas bacaan, bertambah pula ganjaran pahala dari Allah.

Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam, maka dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” [HR. Ahmad, dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’ no. 6468]

  • Membaca Al-Quran, bagaimanapun keadaannya (lancar maupun terbata-bata) adalah kebaikan

Seorang yang lancar membaca Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia yang senantiasa staat kepada Allah. Adapun yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan merasa kesulitan atas bacaan tersebut, maka baginya dua pahala.” [HR. Muslim]

  • Bacaan Al-Quran dapat menjadi syafa’at bagi pembacanya

Bacalah Al-Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” [HR. Muslim]

Al-Quran dan Keindahan Tata Bahasa

Tidak ada kitab pegangan umat sepanjang sejarah yang kesucian dan kemurniannya senantiasa terjaga dari noda hitam tangan-tangan manusia fasik yang ingin menggubah keagungan kitab suci tersebut, melainkan Al-Quran. Hanya kitab ini yang cahayanya dari hari ke hari justru semakin kuat menyinari kegelapan hati yang tertutup oleh kebodohan, fanatisme, dan keangkuhan dari cahaya kebenaran. Al-Quran disebut mukjizat karena tidak mampu ditandingi oleh para ahli sastra dan ilmuwan untuk mendatangkan kitab tandingan yang mampu menyamai atau bahkan menyaingi derajat keindahan dan ketinggian bahasa Al-Quran. Al-Quran adalah kitab penyejuk kalbu bagi umat dari segala penyakit, baik yang menggerogoti jiwa maupun raga manusia.

Menyitir penjelasan Syaikh Ibnu Atiyyah tentang kesempurnaan tata bahasa Al-Quran, beliau mengatakan,

“Sisi terkuat Al-Quran adalah pada sistematika, keshahihan makna, dan kefasihan kosa katanya. Yang demikian itu karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah mengetahui kata mana yang tepat untuk menyertai kata pertama untuk merangkai makna demi makna dari awal hingga akhir. Manusia diciptakan dengan segala keterbatasan, kebodohan, sifat lupa, dan kelemahan ilmunya dalam segala ha. Sementara itu, sistematika Al-Quran datang dengan derajat estetika yang tinggi menjulang, sehingga tampak jelas kesalahan perkataan mereka, yaitu orang-orang Arab yang berupaya mendatangkan yang serupa dengan Al-Quran, namun kekuatan mereka dicabut sehingga mereka lemah tidak berdaya menandingi Al-Quran.

Sungguh, tidak ada satu pun yang mampu mendatangkan kitab tandingan. Jika Anda meyakini kelemahan mutlak manusia tanpa terkecuali dan melihat bagaimana orang fasih menyusun khutbah atau bait syair dengan sekuat tenaga, kemudian ia senantiasa memperbaiki bagian-bagiannya setahun penuh, kemudian Anda menyodorkannya pada yang lain dan ia pun masih mengoreksi dan memperbaiki, dan begitulah seterusnya. Adapun Al-Quran, perbedaannya sangat jauh dengan kreasi-kreasi sastra manusia. Jika Anda ingin membuang satu kata dari ayat-ayatnya dan menggantinya dengan kata lain, yakinlah Anda tidak akan menemukan kata lain yang lebih tepat darinya dilihat dari sistematika pemaknaan yang ada.”

Al-Quran; Fakta Medis dan Psikologis

Banyak ayat Al-Quran yang mengisyaratkan tentang pengobatan, karena bagaimana pun Al-Quran memang diturunkan Allah sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin. Hal ini termaktub dalam sebuah ayat,

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang dzalim, selain kerugian.” [QS. Al-Isra’: 82]

Menurut hasil penelitian Al-Qadi di Florida Amerika Serikat yang dirilis oleh Malik Badri, membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan bacaan Al-Quran, seorang Muslim –baik yang mampu berbahasa Arab ataupun tidak- mampu merasakan perubahan fisiologis yang cukup besar. Perubahan fisiologis itu antara lain seperti penurunan depresi, kesedihan, bahkan dapat menimbulkan rasa tenang dan meningkatkan sistem imun (daya tahan) tubuh. Penelitian Qadi ini dilakukan dengan bantuan peralatan elektronik mutakhir untuk mendeteksi detak jantung, ketahanan otot dan kulit terhadap aliran listrik. Hasilnya menunjukkan bahwa Al-Quran berpengaruh hingga sebesar 97% dalam memberikan efek ketenangan dan penyembuhan penyakit.

Hasil penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian serupa yang dilakukan oleh Muhammad Salim yang telah dipublikasikan oleh Universitas Boston. Obyek penelitian Salim adalah lima orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan dua wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab. Mereka juga tidak diberi tahu jika yang akan diperdengarkan kepadanya adalah Al-Quran. Penelitian ini dilakukan sebanyak 210 kali yang terbagi dalam 2 perlakuan, yaitu membacakan Al-Quran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Quran. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa responden mendapatkan ketenangan hingga 65% ketika diperdengarkan bacaan Al-Quran, dan hanya 35% ketika diperdengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Quran.

Pengaruh yang serupa juga ditunjukkan pada janin dan bayi yang diperdengarkan Al-Quran. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar “Konseling dan Psikoterapi Islam” pada tahun 1997, beliau memaparkan bahwa bayi berusia 48 jam yang diperdengarkan bacaan Al-Quran menunjukkan respon tersenyum dan kondisi psikis yang lebih tenang.

Tidak dipungkiri lagi bahwa Al-Quran adalah kitab suci yang berisi nasihat, kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta berita ancaman bagi mereka yang ingkar. Oleh sebab itu, di dalamnya terdapat selaksa kalimat-kalimat baik yang dalam istilah Al-Quran sendiri disebut ahsan al-hadits. Kalimat-kalimat yang penuh kebaikan tersebut dapat memberikan efek autosugesti yang positif bagi manusia. Autosugesti positif dapat menimbulkan rasa tenang dan dorongan positif untuk melakukan hal-hal baik.

Indahnya mengakrabi Al-Quran, baik dengan membaca, mentadabburi, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnya. Benar-benar bukan sekedar “surat cinta”, kan? Semoga kita mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah karena mengakrabinya. Maa syaa Allaah…

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al-Quran dan akan merendahkan kaum yang lain dengannya pula.” [HR. Muslim]

Maroji’:

Ramadhani, Ega Zainur dr. Super Health: Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Yogyakarta: Pro-U Media. 2007.

Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kesehatan Ash-Shihah Edisi Juli 2014

Lup

Allaahummarhamna bil Qur'an...
Allaahummarhamna bil Qur’an…

Ini kaca pembesar yang biasa dipakai bapak buat membaca Qur’an, meski sambil terbata-bata dan menyipit-nyipitkan mata, karena mungkin penglihatannya tidak sejelas dulu, sewaktu masih muda.

Iya, alhamdulillaah, bapak masih bersemangat, meski untuk bertahan dengan semangatnya, beliau harus berjuang dengan keterbatasannya sendiri; sehat dan waktu luang. Semoga Allaah mengistiqomahkannya dan menetapkan amalnya sebagai amal yang Allaah ridhai.

Tapi kaca pembesar bapak seperti mengingatkan saya bahwa…

Belajarlah Al-Qur’an selagi kita tak butuh alat bantu untuk mendekatkan diri dengannya. Selagi penglihatan kita sehat, lidah belum kelu, pendengaran masih peka, dan daya ingat belum melemah kronis.

Kita tidak tahu bagaimana masa tua kita. Itupun jika diberi panjang umur, bisa merasakan menjadi manula. Mungkin saja kelak ada masanya kita merasa begitu kepayahan dalam menghafal satu ayat pendek saja. Jangankan menghafal, membacanya saja mungkin sudah sangat menguras keringat. Maa syaa Allaah.

Memang benar, jika yang dibaca adalah Al-Qur’an, sepayah apapun kita mengeja kalimatnya, Allaah akan menetapkannya sebagai pahala. Namun, tidakkah kita iba -pada diri kita sendiri- jika seumur hidup terus terbata-bata membaca petunjuk?

Al-Qur’an masih setia menunggu kita menyempatkan waktu untuknya. Namun sayangnya kita terus saja mengulur dan berharap kelak akan bisa ditarik lagi. Kita pikir usia kita serupa dengan benang layang-layang, bisa ditarik ulur?

Tak terasa kita datangi ia di penghujung waktu, di sisa usia dan kekuatan kita. Kacamata tebal pun kelak menjadi saksi, betapa masa muda begitu cepat berlalu.

Semoga tidak banyak yang kita sesali di masa tua kita kelak.

Allaahummarhamna bil Qur’an…

~Kontemplasi Hari Arafah 1436 H~