Ayah ASI

dad-and-baby

“You can shower your wife with all breastfeed gadgets in the world, but by the end of the day, she just neeed you beside her.”

 

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Membahas topik seputar ASI (Air Susu Ibu) biasanya identik dengan perempuan, sehingga seolah-olah muncullah hipotesis bahwa ASI adalah urusan ibu-ibu. Benarkah? Kemudian dimanakah kontribusi ayah dalam proses bonding ini? Benarkah menyusui adalah monopoli hubungan ibu dan anak?

Topik Ash-Shihah kali ini mencoba mengangkat isu seputar Father Breastfeeding atau Ayah ASI. Topik ini sempat mem-booming lewat sebuah buku bertajuk #AyahASI yang berisi tentang kisah delapan ayah dalam mendampingi istri tercinta mereka saat menyusui.

Sebenarnya bagaimanakah peran ayah dalam menyusui? Bagaimanakah kontribusi ayah untuk mengambil bagian dalam proses bonding atau jalinan perasaan orang tua-anak melalui ASI?

Menurut dr. Utami Roesli, Sp.A, “Penelitian menunjukkan bahwa dari 115 orang ibu yang suaminya tidak memberikan dukungan untuk menyusui secara eksklusif, ternyata tingkat keberhasilannya hanya sebesar 26,9 persen. Sementara pada kelompok ibu menyusui yang mendapat dukungan dari ayah, tingkat keberhasilannya hampir 100 persen, yakni 98,1 persen.”

Dalam sebuah penelitian lain pun menyebutkan bahwa 50% kegagalan pemberian ASI Eksklusif merupakan 50% kegagalan ayah (suami) dalam mendukung ASI eksklusif, sebab peran suami adalah pendukung, bukan penuntut, apalagi penghambat tercapainya program ASI Eksklusif.

Menyusui adalah bentuk komunikasi antara ibu dan anak. Perlu diketahui bahwa ada dua hormon yang memiliki peranan penting dalam menyusui, yaitu hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin erat kaitannya dengan produksi ASI, sementara oksitosin erat kaitannya dengan kelancaran ASI yang keluar. Hebatnya, hormon oksitosin ini ternyata dipengaruhi oleh perasaan dan pikiran seorang ibu, dimana hormon ini dapat dirangsang melalui sentuhan, gambar dan suara. Semua perasaan positif akan meningkatkan hormon oksitosin. Itu artinya, semakin baik perasaan ibu (good mood) maka ASI akan keluar semakin lancar (deras). Begitupun sebaliknya, jika banyak unsur negatif dalam pikiran dan perasaan ibu (bad mood), maka hal tersebut akan menghambat sekresi hormon oksitosin, sehingga ASI tidak lancar. Oleh sebab itu, kontribusi ayah dalam keberhasilan ASI eksklusif terletak pada membantu tercapainya kondisi good mood istri saat menyusui.

“You can shower your wife with all breastfeed gadgets in the world, but by the end of the day, she just neeed you beside her.”

Yap. Yang dibutuhkan oleh seorang istri yang sedang menyusui bukan sekedar terpenuhinya segala komponen yang membantu proses menyusui, seperti pompa ASI, kulkas dan botol kaca untuk bank ASI, asupan nutrisi yang memadai, dan sebagainya. Ternyata bukan hanya itu. Sebagaimana fitrah perempuan yang selalu ingin dimengerti, maka sebenarnya yang dibutuhkan istri adalah perhatian dan kesiapsiagaan suami.

Menyusui adalah sebuah proses kehidupan yang cukup menyita waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaan perempuan. Bagaimana saat perempuan kehilangan kepercayaan diri saat menyusui, sehingga menyebabkan ASI tidak lancar. Bagaimana saat perempuan harus rela payudaranya lecet karena menyusui. Bagaimana perempuan harus terjaga semalaman demi buah hati yang terus merengek karena lapar. Semua itu harus dimengerti suami jauh-jauh hari, bahwa menjadi ibu memang tidaklah mudah.

“Menyusui adalah sebuah proses. Proses itu membutuhkan waktu untuk mencapai hasil yang maksimal dan tidak bisa dicapai secara instan.” (A. Rahmat Hidayat)

Berikut ini adalah beberapa kiat menjadi Ayah ASI super. Semoga dapat dipraktikkan. Happy “breastfeeding”, Dad! 🙂

  • Be A Nice Personal Assistant. Jika sedang berada di rumah atau pulang kerja, terlibatlah dalam mengurus bayi. Bisa dengan menggendongnya, membuat dia tertidur, menggantikan popok, mengajak bicara, bermain dan lainnya. Biarkan istri kita beristirahat sebentar. Ingat, jika kita (suami) pulang ke rumah untuk beristirahat, maka kemanakah istri kita untuk beristirahat? Kemana lagi arah pulang itu jika bukan suami? Ingat, kadang perempuan hanya membutuhkan dua telinga yang bersedia mendengarkan dengan baik, bukan lisan yang terus menuntut ini dan itu. 🙂
  • Be A Google Man. Menyusui banyak tantangannya, mulai dari puting payudara yang lecet sehingga hasil perahannya mungkin menurun. Cobalah mencari tahu banyak hal tentang ASI dan proses menyusui. Memang, sudah seharusnya perempuan lebih mumpuni soal ini, tetapi tidak ada salahnya juga kan jika pria juga tidak kalah pintar soal ASI? Mulai saat ini, ubah mindset bahwa ASI bukan lagi topik ibu-ibu.
  • Make your own surprise. Istri selalu senang dengan kejutan kecil yang berarti. Kejutan kecil itu tidak harus dengan barang-barang mahal. Cukup dengan memberinya perhatian seperti membuatkan istri sarapan, menyediakan waktu atau bahkan mempersiapkan makan malam, atau sekedar memberikan pijitan tanpa diminta. Ingat, rasa senang akan membuat hormon oksitosin meningkat dan ASI menjadi lancar.
  • Be A Guardian AngelDi Indonesia ada begitu banyak mitos seputar menyusui yang bisa memengaruhi semangat seorang ibu. Suami harus menjadi benteng pertahanan istri dari segala serangan mitos tersebut. Suami, bagaimanapun adalah benteng terakhir seorang istri, sehingga jangan biarkan dia merasa berjuang sendirian mengurus anak. Percayalah, menjadi orangtua bukan monopoli tugas seorang istri.
  • Best Nurse Ever. Menghubungi dokter atau konselor laktasi mungkin akan memakan waktu lebih lama ketika istri menemui tantangan dalam menyusui, apalagi ketika puting lecet atau halangan lainnya. Cari tau segala hal tentang common problemsmenyusui dan cara mengatasinya. Jadilah perawat nomor satu bagi istri ketika menyusui.
  • Last but not least:Find Your Own Support. Kita paling tahu siapa istri kita dan bagaimana membuatnya nyaman dan senang. Cari cara sendiri untuk memberikan dukungan untuk istri kita. Apapun bentuknya pasti seorang istri akan menghargai usaha kita. Bukankah menikah itu untuk mencapai tujuan bersama? Kalau tidak berusaha bersama, lalu apa jadinya?

Kemudian, berikut ini adalah beberapa informasi seputar kriteria rumah sakit yang “sayang ibu dan anak”. Atau dengan kata lain, rumah sakit yang mendukung keberhasilan program ASI Eksklusif.

  1. Tersedia kelas untuk kelompok pemberian ASI
  2. Memiliki aturan tentang ASI eksklusif
  3. Mengajarkan ibu cara menyusui, dan menjaga agar terus menyusui, walau terpisah dari bayinya
  4. Memiliki tenaga kesehatan yang telah dilatih Manajemen Laktasi
  5. Tidak memberi minum atau makanan lain kepada bayi selain ASI pasca melahirkan, kecuali ada indikasi medis
  6. Melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
  7. Mendukung ibu dapat memberi ASI sesuai kemauan bayi (on demand)
  8.  Memberikan penjelasan manfaat menyusui dan ASI eksklusif
  9. Tidak memberi dot atau kempeng pada bayi yang menyusu
  10. Menyediakan ruang rawat gabung ibu dan bayi.

Maroji’:

Al-Qur’anul Karim

ayahasi.org

10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui – WHO

Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kesehatan Ash-Shihah Edisi Desember 2013

Iklan

One thought on “Ayah ASI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s