Lautan Hikmah di Balik ASI

“Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”
“Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

ASI; Ungkapan Cinta Illahi

ASI adalah ungkapan kasih sayang Allah sekaligus anugerah yang luar biasa terhadap setiap bayi yang terlahir ke muka bumi. Di dalam surat cinta-Nya, bertebaran ayat-ayat tentang ASI, di antaranya:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawarahan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Hikmah ayat yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an tersebut, setidaknya menekankan bahwa Air Susu Ibu (ASI) sangat penting. Walaupun masih ada perbedaan pendapat tentang wajib atau tidaknya menyusui, tapi selayaknya bagi seorang muslim menghormati ayat-ayat Allah tersebut. Terlepas wajib atau tidaknya hukum menyusui, dalam ayat tersebut dengan tegas menganjurkan untuk menyempurnakan masa penyusuan. Dan di sana juga disinggung tentang peran sang ayah, untuk mencukupi keperluan sandang dan pangan si ibu, agar si ibu dapat menyusui dengan baik, sehingga jelas bahwa menyusui adalah kerja tim. Keputusan untuk menyapih seorang anak sebelum waktu dua tahun harus dilakukan dengan persetujuan bersama antara suami istri, dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi si bayi. Inspirasi utama dari pengambilan keputusan ini harus didasarkan pada penghormatan kepada perintah Allah dan pelaksanaan hukum-Nya, dan tidak bertujuan meremehkan perintah-Nya. Demikian pula jika seorang ibu tidak bisa menyusui, dan diputuskan untuk menyusukan bayinya pada wanita lain, sehingga hak sang bayi untuk mendapat ASI tetap tertunaikan.

Bagaimana dengan ASI Eksklusif?

Ayat di atas menunjukkan bahwa masa sempurna menyusui (laktasi) adalah 2 tahun penuh. Turunnya wahyu tentang rentang waktu yang ideal untuk menyusui ini merupakan nikmat Allah yang tak ternilai harganya. Allah SWT sudah memberikan petunjuk syar’i yang berhubungan dengan periode menyusui. Tuntunan syariat ini sudah diturunkan berabad-abad sebelum ada hasil penelitian yang membuktikan bahwa 2 tahun pertama adalah “The Golden Age”, yaitu masa yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Meskipun demikian, ada yang berpendapat bahwa tidak mengapa apabila tidak mampu menyusui anaknya selama 2 tahun, dimana hal ini terkait perbedaan hukum fiqih. Namun, selama seorang ibu mampu menyempurnakan periode tersebut, tentu hal itu akan lebih baik.

Menurut penelitian para ahli, yaitu dokter maupun ahli gizi, ASI Eksklusif dianjurkan dilakukan selama 4 atau 6 bulan karena beberapa alasan berikut:

  1. Mulai usia 6 bulan enzim dan pencernaan bayi mulai berkembang dan matang, serta siap menerima makanan selain ASI. Pencernaan bayi di usia sebelum 6 bulan masih sangat rentan dan sensitif terhadap zat asing, termasuk makanan. ASI adalah satu-satunya makanan yang memiliki komposisi gizi yang ideal bagi bayi, karena dapat dicerna dengan baik oleh pencernaan bayi.
  2. Setelah usia enam bulan anak akan mulai tumbuh giginya. Bayi di atas usia 6 bulan juga harus mulai dilatih untuk mengunyah. Kegiatan mengunyah ini, akan mengantarkannya kepada pembiasaan gerakan otot-otot mulutnya. Dengan otot-otot mulut yang terlatih ini, maka bayi akan mengalami kemudahan untuk belajar berbicara. Sedangkan cita rasa yang dihantarkan oleh makanan-makanan tersebut akan mendorong sel-sel indera pengecapnya untuk mulai mempelajari perbedaan antara makanan satu dengan makanan lain dan mulai membaginya dalam kategori-kategori yang disusun rapi dalam otaknya.
  3. Bayi mulai pula melakukan tahap belajar duduk, lalu berdiri, lalu berjalan. Keempat aktivitas ini, memerlukan tulang yang kuat, energi yang tepat, tenaga yang besar dan koordinasi kerja organ-organ tubuh yang seimbang. Sehingga bayi juga perlu protein, baik protein hewani (seperti susu, keju, daging, telur, dll) ataupun protein nabati (seperti tempe, tahu, kacang-kacangan, dll) karena protein tersebut bisa membantu tubuh untuk membentuk sel-sel darah yang berguna agar kerja otak dan jantung menjadi maksimal.
  4. Anak secara naluri mulai menaruh apa saja yang ia pegang di mulutnya, oleh karena itu kita harus benar-benar mengawasi.

Menyusui; Niatkan untuk Beribadah

‘Amru bin Abdullah pernah berkata kepada istri yang menyusui bayinya, “Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahu Wata’ala.”

Maa syaa Allaah, pelajaran yang sangat berharga. Betapa mungkin kita lupa bahwa menyusui hendaklah diniatkan ibadah, bukan sekedar insting atau dorongan naluri saja. Ini merupakan bentuk investasi kita di dunia dan akhirat. Semoga anak kita menjadi anak yang bersyukur pada Rabb-nya dan orang tuanya.

”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Menyusui; Memulai dengan Benar

Menyusui adalah cara yang alami dan normal untuk memberikan nutrisi pada bayi dan batita, dan ASI adalah susu yang dibuat khusus untuk bayi manusia. Mengawali dengan benar membantu untuk memastikan bahwa menyusui merupakan pengalaman yang menyenangkan untuk ibu dan bayi.

Prinsip dasar dari menyusui adalah membuat bayi melekat dengan baik. Bayi yang melekat dengan baik akan mendapatkan ASI dengan baik pula. Bayi yang tidak melekat dengan baik akan lebih sulit mendapatkan ASI, terutama jika ASI sedikit. Produksi ASI di awal kelahiran memang sedikit; ini hal yang normal dan alamiah, akan tetapi apabila bayi tidak melekat dengan baik, bayi akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan ASI. Inilah sebabnya mengapa banyak ibu “tidak memiliki cukup kolostrum”. Hampir semua ibu mempunyai cukup kolostrum tetapi bayinya tidak mendapatkannya.  Bayi tidak membutuhkan ASI yang banyak di hari-hari pertama, melainkan sesuai dengan kebutuhannya. Berikut ini adalah beberapa cara agar menyusui terasa lebih mudah:

  • Bayi seharusnya langsung mendapatkan kontak kulit dengan ibunya dan menyusu segera setelah ia lahir. Mayoritas bayi yang baru lahir dapat kontak kulit dengan ibunya dan diberi kesempatan menyusu dalam beberapa menit  setelah dilahirkan. Bahkan, penelitian membuktikan bahwa, bayi yang baru berusia beberapa menit dapat merayap ke arah payudara dari perut si ibu, melekat¸ dan mulai menyusu sendiri. Proses ini disebut Inisiasi Menyusui Dini (IMD). IMD adalah proses awal bonding (ikatan antara ibu-anak) setelah bayi bersinggungan dengan dunia luar.
  • Bayi sebaiknya tetap mendapatkan kontak kulit dengan ibunya sesering mungkin, segera setelah lahir dan pada minggu-minggu pertama dalam kehidupannya. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kontak kulit antara ibu dan bayi dapat membuat bayi tetap hangat sebagaimana di dalam inkubator. Kontak kulit merupakan hal yang baik dan sangat penting untuk ibu dan bayi, bahkan jika bayinya tidak melakukan pelekatan (sedang menyusu).
  • Kontak kulit membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan barunya. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih normal, oksigen dalam darah lebih banyak, suhu tubuh lebih stabil dan kadar gula darah lebih tinggi. Lebih jauh, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan kontak kulit pada minggu-minggu pertama kehidupannya, (bukan hanya saat menyusu) perkembangan otaknya lebih baik.
  • Pelekatan yang benar sangat menentukan keberhasilan menyusui

Maroji’:

Al-Quran Al-Karim

Sunardi. Ayah Beri Aku ASI. Solo: Aqwamedika. 2008.

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Bedah ASI. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 2008.

www.nbci.ca (Official page of Breastfeeding and Lactation Consultant Training)

Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kesehatan Ash-Shihah Edisi Desember 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s