Qiyamullail dan Kesehatan Janin

come back

Rahim ibu merupakan lingkungan pertama yang membentuk seorang manusia. Lingkungan pertama ini sangat erat hubungannya dengan perkembangan janin. Janin adalah bagian yang tak terpisahkan dari ibu yang mengandungnya. Karena itulah, semua kondisi dan keadaan yang dialami oleh ibu akan berpengaruh terhadap janin.

Hasil studi dan riset yang dilakukan oleh para ahli (Dr. Fakhir Aqil, ‘Ilm Al-Nafs Al-Tarbawi hal: 46-47), membuktikan bahwa kesehatan jasmani dan kondisi psikis ibu sangat berpengaruh pada janin. Rasa cemas, kalut, takut, dan sebagainya, dapat mengakibatkan hal yang serupa pada jiwa anak. Ibu hamil sebaiknya tak hanya memperhatikan kesehatan fisik, kesehatan psikis pun sama pentingnya. Pasalnya, kondisi psikis yang kurang baik akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik. Jika keduanya dalam kondisi tak sehat, akan berpengaruh terhadap pertumbuhan janin. Stres bisa memicu terjadinya perdarahan yang berpengaruh terhadap suplai oksigen ke janin. Stres yang dialami ibu hamil dapat meningkatkan Corticotrophin Releasing Hormone (CRH) di awal kehamilan. CRH secara berurutan dapat menyebabkan kelahiran prematur, karena dapat membatasi aliran darah ke daerah rahim dan menghambat bayi memperoleh oksigen secara optimal. Jika suplai oksigen berkurang, bisa memicu terjadinya kelainan pertumbuhan janin.

Setiap orang sebenarnya mengalami stres, namun kadarnya ada yang ringan dan berat. Kadar yang berat biasanya akan mempengaruhi kondisi kejiwaan ibu sehingga menyebabkan daya tahan tubuhnya menurun. Jika daya tahan tubuh menurun, dikhawatirkan membuat ibu mudah terserang penyakit. Penyebab stres pada ibu hamil umumnya ialah kondisi kehamilan itu sendiri, seperti mual-muntah yang terlalu berat, morning sickness, kecemasan terhadap penampilan yang berubah pasca hamil, dan lainnya. Tetapi ada pula yang disebabkan dari luar, semisal beban pekerjaan yang terasa sangat berat saat hamil sebagaimana yang banyak dialami oleh para wanita karir yang memiliki aktivitas cukup padat.

Sebuah penelitian mengungkapkan, 10% wanita hamil berpotensi mengalami stres, dari yang ringan hingga berat. Stres ringan biasanya dapat diatasi sendiri dengan melakukan hal-hal menyenangkan atau relaksasi. Tetapi stres ringan yang diremehkan, terus-menerus dipendam dan dirasakan sendiri, serta tidak segera diatasi, akan terakumulasi yang pada akhirnya dapat berpotensi menjadi stres berat.

DETEKSI DAN ANTISIPASI

Yang pertama dapat dilakukan adalah mencari penyebab stres. Apakah karena beban pekerjaan yang terlalu menekan atau karena sebab lain. Nah, carilah solusi untuk mengatasi supaya bebannya berkurang. Bila karena tekanan pekerjaan di kantor, cobalah  berbicara dengan atasan mengenai kondisi kehamilan, sehingga butuh keringanan pekerjaan; mengorganisasikan pekerjaan lebih baik agar tak menumpuk terlalu lama; meminta diantar-jemput oleh suami saat pergi atau pulang kantor; mendelegasikan tugas-tugas ke bawahan, dan lainnya.

Selanjutnya, ibu hamil bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti membaca buku, bertemu teman-teman lama, berlibur ke tempat yang nyaman bersama keluarga, atau meminta waktu cuti dari kantor sampai kondisinya membaik. Ketika melakukan aktivitas menyenangkan tersebut,  lepaskanlah pikiran-pikiran yang terkait dengan kantor. Nikmati kesenangan itu secara maksimal, sehingga semua beban yang tersimpan bisa keluar dengan bebas.

Jangan lupa meminta dukungan dari suami, orangtua, saudara dan teman, atau anak terhadap kehamilan yang sedang Anda jalani. Suami hendaknya lebih memahami kondisi istrinya yang sedang hamil dengan membantu pekerjaan-pekerjaan rumah yang sulit dilakukan ibu hamil atau membantu meringankan beban kehamilan seperti memijat bagian yang pegal. Dari orangtua, ibu hamil bisa meminta petuah-petuah berdasarkan pengalaman yang sudah lebih dulu mereka alami. Sementara dari anak, bangunlah rasa pengertiannya untuk memahami kondisi kehamilan sang ibu.

Pengaruh Qiyamullail terhadap Psikis Ibu hamil dan Janin

“Bangunlah (untuk beribadah) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)…” (QS. Al-Muzzammil: 2)

Ibadah tahajud memang menakjubkan. Terlihat berat pada awal pelaksanaan ketika belum terbiasa, tetapi akan menjadi sesuatu yang ringan, menentramkan, bahkan dapat membuat sang pengamal qiyamullail tersebut menitikkan air mata ketika melewatkan satu kesempatannya.

Dr. Sholeh dalam bukunya yang berjudul, “Terapi Shalat Tahajud” berhasil memaparkan sebab ilmiah dari ibadah yang membutuhkan kesungguhan ini. Diilhami dari sebuah sabda Nabi SAW, “Shalat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan diri dari penyakit.” (HR. Tirmidzi), maka beliau pun menjadikannya sebagai bahan disertasi dengan topik khusus tentang hormon kortisol dan kaitannya dengan shalat tahajud.

Dalam dunia medis, hormon kortisol dan metabolismenya dibutuhkan untuk melawan stres harian, hanya saja di sisi lain, secara alami kortisol pun berpengaruh negatif dalam menekan sistem imun (daya tahan tubuh), yang dapat mengakibatkan seseorang rentan terhadap penyakit. Pertanyaannya adalah, “Bagaimana cara kita menurunkan kadar kortisol secara umum agar sistem imun kita tidak terganggu, namun di sisi lain kita tetap kuat menghadapi stres?”

Maa syaa Allaah, ternyata jawaban dari pertanyaan itu telah berhasil dipaparkan oleh hasil peneitian Dr. Sholeh di atas. Kunci jawaban tersebut adalah dengan melakukan qiyamullail atau shalat tahajud. Pada penelitian beliau yang melibatkan sekitar 41 responden siswa di salah satu SMA di Surabaya, beliau berhasil mempertahankan disertasinya dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Judul disertasi beliau adalah, “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi.”

Hasilnya: didapatkan kadar hormon kortisol yang stabil dan relatif lebih rendah pada siswa yang mampu melaksanakan shalat tahajud secara rutin. Ketika diuji kadar sistem imunnya, diperoleh hasil yang bermakna pada uji statistik dalam kelompok tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa shalat tahajud berpengaruh terhadap peningkatan respon ketahanan tubuh. Hal ini dapat terjadi karena shalat tahajud yang dijalankan secara tepat, kontinyu, khusyuk, dan ikhlas mampu menumbuhkan persepsi dan motivasi positif, serta membantu memperbaiki mekanisme tubuh dalam mengatasi perubahan yang tengah dihadapi atau beban yang diterima. Hal ini tentu saja berpengaruh positif terhadap ibu hamil yang mengalami perubahan cukup drastis dalam kehidupannya, baik secara fisiologis (tubuhnya) maupun perubahan psikologis (kejiwaan).

Maroji’:

Ramadhani, Egha Zainur. Super Health: Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Yogyakarta: Pro-U Media. 2007.

Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kesehatan Ash-Shihah Edisi November 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s