Sirkus

circus 2

Semenjak saya punya binatang peliharaan di rumah, saya merasa jadi semakin sensitif dengan perlakuan orang-orang terhadap binatang. Saya jadi begitu mudah menangis melihat monyet joget-joget yang diberi kostum ala Sarinah pergi ke mall nyari diskonan. Saya juga jadi mudah trenyuh melihat kucing yang mampir neduh di rak sandal depan rumah. Semenjak itu juga, saya jadi tidak tertarik sama sekali dengan sirkus. Yang ada dalam benak saya melihat arena sirkus adalah, sebegitu suramnya-kah hidup manusia, sampai-sampai minta dihibur sama gajah, lumba-lumba, dan anjing laut?

Tapi memang sih, manusia itu suka seenaknya sendiri. Mereka merasa telah menimbun banyak masalah, kemudian minta sering-sering dihibur. Hanya saja, kenapa memilih mengadu kepada binatang? Kamu pikir binatang-binatang itu lempeng-lempeng saja hidupnya? Kesimpulannya, sengenes inikah hidup kita, wahai manusia?

Sekarang waktunya saya curhat. Curhat dong, Mah…

Hampir sebulan ini saya kerja part-time jadi baby sitter-nya Nyonyah Kucing yang habis lahiran. Kucing indekos depan rumah lahir kuartet, sedangkan kucing rumahan saya triplet. Persalinan mereka cuma selisih 4 hari. Meski masih bayi merah, tapi memang beda sih ya, mana kucing blesteran, mana kucing kampung. Sampai hari ini keduanya masih menyusui, meski ga eksklusif, karena di usia bayi-bayi yang baru sebulan, sang emak telah membiarkan anak-anaknya makan selain air susu ibunya.

Padahal menurut ilmu gizi yang pernah saya pelajari, makanan terbaik bagi bayi adalah air susu ibunya selama 6 bulan pertama. Entah mengapa nyonyah-nyonyah kucing tersebut begitu tega membiarkan bayi-bayinya mengunyah nasi lembek, sebelum mereka bisa buang air pada tempatnya. Di satu sisi, saya sekeluarga cukup kerepotan menangani limbah yang dibuangnya semena-mena. Di sisi lain, negeri kucing memang tak pernah mengangkat menteri kesehatan untuk mengurusi perkara semacam ini.

Ini bukan kali pertama saya menangani bayi kucing dan emaknya. Pengalaman ini kurang lebih sudah berjalan selama setahun: memelihara kucing. Saya perhatikan, sebenarnya mereka pun memiliki masalah hidup yang mungkin sama peliknya dengan kita. Meski di satu sisi, manusia menang: dibekali akal sehat. Sedangkan di sisi lain, binatang juga menang: tidak dimintai pertanggungjawaban.

Maka tak heran jika seorang ‘Ibnu Khattab radhiyallaahu ‘anhu pernah bergumam, “Andai aku menjadi jerami… Andai aku tidak menjadi apa-apa… Andai aku menjadi orang yang dilupakan.” (Shifathus Shafwah, I/285)

Kucing kesayangan saya, Winky, beberapa waktu yang lalu habis galau pengen kawin. Meracau, ga mau makan, gegulingan, mondar-mandir tak tentu arah. Iya, sebagian manusia juga melakukan hal yang sama saat sedang galau. Winky mungkin saja nyaris bunuh diri, jika tak ada lagi iman di hatinya. Bunuh diri itu dosa besar, wahai manusia!

Kisah nyata lain, Leon. Emaknya Winky and the gank. Beberapa waktu belakangan, dia hobi pergi tanpa pamit, pulang tanpa permisi. Ga sopan banget, kan? Waktu itu dia hampir sebulan ga pulang ke rumah. Sudah sempat saya tangisi, eh kemudian pulang, terus minta makan. Gemas juga sih. Tapi saya pikir dia ini hasil salah asuh kedua orangtuanya. Kasian juga. Rawan mengalami BLAST effect —bored, lonely, afraid, stress, tired

Dan contoh yang terakhir, kali ini hasil pengamatan dan perenungan saya selama kurun waktu setahun terakhir, semenjak hidup bersama kucing-kucing itu. Saya seperti menemukan sebuah teori yang agaknya layak diangkat menjadi topik penelitian calon dokter hewan. Hipotesis saya ini bermula dari kecondongan hati saya pada satu-dua ekor kucing –dari total 15 ekor kucing yang tersebar di seantero rumah tipe 36 milik orangtua saya–

Sepakat soal hati, bahwa perasaan manusia mudah condong kepada salah satu di antara sekian banyak pilihan. Termasuk saya. Di antara kelimabelasan kucing-kucing itu, hanya 2 kucing yang memiliki tempat istimewa di hati saya. Bahkan tidak hanya saya, ibu dan adik saya juga demikian. Yang lain bukan berarti tak sayang, hanya saja kadarnya berbeda. Anyway, saya dan keluarga memang memiliki chemistry dengan kucing, fyi.

Ada satu kucing yang paling sering bikin serumah mangkel–anyel–tapi ujung-ujungnya ga tegaan. Dialah Jamet, nama aslinya Slamet. Dia ditakdirkan selamat saat ketiga saudaranya meninggal pasca dilahirkan. Dia juga ditakdirkan selamat ketika usianya baru seminggu, sang emak yang masih berkewajiban menyusuinya pergi dari rumah tanpa ijin, kabar, dan kejelasan kapan pulang. Terjawab sudah kan, kenapa dia diberi nama Slamet alias Jamet?

Nah, si Jamet ini, sepertinya karena pernah mengalami beban psikologis di masa kanak-kanaknya, sekarang dia tumbuh menjadi kucing betina muda yang hiperaktif dan temperamental. Sikapnya ini membuat kami sering memarahinya, melabelinya nakal, dan berkali-kali mengancamnya, “Kamu kalo nakal terus, keluar aja ya, biar hidup sama kucing liar!” Di antara kelimabelasan kucing itu, bisa dibilang dialah yang kurang mendapat perhatian dari kami.

Tapi anehnya, setiap kali Ibu berusaha mengeluarkan Jamet dari rumah, dia selalu menolak. Seperti sudah sangat nyaman tinggal disini, meski dia berulang kali mendengar kalimat bernada negatif yang dilayangkan kepadanya, serta perlakuan “pilih kasih” terhadap dia dibanding teman-temannya.

Nah, dari sinilah saya mengambil kesimpulan bahwa salah asuh itu tidak hanya terjadi di dunia manusia. Kucing juga bisa menjadi korban salah asuh manusia yang sedari awal berniat memeliharanya, ternyata belum sepenuhnya memelihara. Kemudian saya tersadar bahwa ternyata selama ini saya hanya merawat mereka sebatas fisik. Belum menghadirkan hati. Ah, kenapa jadi semelankolis ini sih?

Pertanyaannya kemudian, jika perlakuan kita terhadap kucing saja berpengaruh terhadap perilakunya, bagaimana perlakuan kita terhadap manusia, yang notabene satu spesies, senasib, dan sepenanggungan?

Maka arena sirkus yang saya lihat tempo hari seperti mengingatkan saya dengan Winky, Leon, Jamet, dan krucil-krucil saya yang lain. Binatang juga butuh dihibur, yah, setidaknya disayang. Mereka diam-diam juga memendam kerumitan hidup. Mereka juga makhluk yang haus kasih sayang.

Sama seperti kita, anak-anak kita, segenap manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s