Laa Tahzan… #1

original

Salah satu cara Allah menghibur Nabi adalah dengan mengisahkan orang-orang terdahulu yang sama-sama pernah diberi ujian.

Bismillaahirrahmanirrahim,

Sedih. Kita pasti pernah bersedih, kan. Gundah gulana, muram durja, hati terasa gelap tak tahu harus berbuat apa.

Bahkan Rasulullah pun pernah bersedih.

Hanya saja kesedihan beliau shalallahu ‘alayhi wasallam berkutat pada urusan dien, agama Allah.

Barangkali tidak seperti kesedihan kita. Yang seringkali menangisi hal remeh yang itu-itu saja. *nyindirdirisendiri(1) 😥

Kembali pada pembahasan kesedihan Rasulullah. Kali ini saya mau menuangkan hasil ekstraksi dari kajian Ust. Budi Ashari, dengan judul asli: Ayat-Ayat Hiburan untuk Perjuangan yang Melelahkan. Saya bagi menjadi 2 part, in syaa Allaah. Semoga Allaah beri saya panjang dan berkah umur, biar blog-blog saya tetap terurus dengan postingan-postingan layak baca. Heuheu. Aamiin. 😉

Beginilah Cara-Nya Menghibur

Seluruh isi Al-Qur’an sejatinya adalah hiburan bagi Rasulullah, sebab turunnya ayat adalah tanda perhatian langsung dari Allah bagi beliau. Jadi setiap kali turun sebuah ayat, hati beliau seketika teduh, sebab Allah secara langsung sedang menegur beliau.

Kita, pernahkah merasa sedemikian itu ketika membaca sebuah ayat? *nyindirdirisendiri(2) 😥

Salah satu cara Allah menghibur Nabi adalah dengan mengisahkan orang-orang terdahulu yang sama-sama pernah diberi ujian.

Ibrahnya:

  1. Menyadarkan bahwa sejatinya bukan kita saja yang diuji
  2. Membuka mata bahwa ujian kita boleh jadi bukanlah ujian paling berat yang pernah ada dalam kehidupan manusia di muka bumi ini. Di ujung Bumi yang lain, ada manusia yang stase ujiannya berlipat kali lebih berat daripada kita. Hanya saja kita tidak tahu.

Mengapa Orang yang Bersedih Harus Dihibur?

Dalam kitab Madarijus Salikin, salah satu karya fenomenal Ibnu Qayyim, terdapat satu bab yang secara khusus membahas tentang kesedihan. Fyi, Madarijus Salikin konon kabarnya adalah salah satu kitab yang secara terperinci mengupas ayat “iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in”. Konon katanya juga, banyak ulama lain yang mengupas ayat yang sama dalam kitab-kitab yang lain. Maa syaa Allaah. Bayangkan loh, itu cuma mengupas satu ayat, tapi penulisnya beda-beda dan tertuang dalam kitab yang berbeda pula.

Duh, makin tampaklah diri ini bagai sepersekian partikel debu yang terbang tertiup angin… 😥

Kembali yah. Jadi dalam masterpiece Ibnu Qayyim tersebut, beliau menyebutkan bahwa sebenarnya manusia tidak diminta untuk bersedih, meski setiap manusia pasti akan mengalami kesedihan tersebut.

Ibnu Qayyim menambahkan bahwa terkait hal tersebut, setidaknya Al-Qur’an selalu bersikap di antara 2 hal terhadap kesedihan; melarang atau meniadakan.

Contoh dimana Al-Qur’an melarang kita untuk bersedih; QS. Ali-Imran: 139 atau At-Taubah: 40 (ntar cek sendiri ayatnya ya, sekalian tilawah 😉 ). Kalimat larangan itu biasanya berbunyi, “Janganlah kamu bersedih…”

Sedangkan contoh dimana Al-Qur’an meniadakan atau bermaksud menghilangkan kesedihan adalah pada QS. Al-Baqarah: 38. Kalimat peniadaan itu biasanya berbunyi, “Dan kamu tidak akan bersedih…”. Coba kita buktikan sendiri ya. Cek Qur’an kita masing-masing.

Mengapa kesedihan harus dihibur, harus dihilangkan?

Karena…

  1. Sedih itu menghentikan gerak dan melemahkan hati. Ketika hati melemah, inilah celah setan untuk membuat seseorang berhenti berbuat baik, karena timbulnya keputusasaan.
  2. Salah satu pintu setan adalah berandai-andai (terhadap masa lalu). Andai aja dulu aku begini, andai dulu aku begitu… Berandai-andai yang dilarang adalah pengandaian kosong, yang tidak mengubah apa-apa, kecuali penyesalan berkepanjangan dan keputusasaan. Termasuk prasangka. Buktinya, Rasulullah melarang umatnya ketika sedang bertiga dalam majelis, dua orang di antaranya saling berbisik sambil nyuekin orang ketiga. Ibrah dari larangan ini adalah: membuat orang ketiga sedih! Berawal dari sedih, menumbuhkan prasangka dan kedengkian, kemudian berbuah permusuhan. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Bahkan Nabi Berlindung dari Rasa Gelisah dan Sedih

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ , وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ ,وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari penguasaan orang lain.” (HR. Bukhari)

Al-Hamm dan Al-Huzn

الْهَمِّ; adalah kesedihan terhadap apa-apa yang belum terjadi. Kegelisahan.

الْحُزْنِ; adalah kesedihan terhadap apa-apa yang telah terjadi, atau sedih karena kehilangan sesuatu yang dicintai.

Keduanya sama-sama tidak baik, oleh sebab itu Rasulullah berlindung dari kedua sifat ini.

Poin yang menarik; QS. Fathir: 34

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

“Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri’.”

Sebelum membahas ayat ini, di awal saya ingin menasehati diri bahwa…

Surga tidaklah didapat karena amal shaleh. Surga didapat karena rahmat-Nya, karena kasih sayang-Nya.

Bukan berarti amal shaleh itu tidak penting, namun sebenarnya ini pengingat agar kita (khususnya saya sendiri) tidak mudah merasa bangga dan puas terhadap segala amal yang kita kerjakan. Ibarat kunci, amal shaleh adalah salah satu gerigi yang akan membuka pintu rahmat-Nya. Sungguh, bukan amal shaleh yang menjadi satu-satunya penebus surga buat kita. Segala kenikmatan surga yang bersifat mutlak itu, tidaklah pantas jika hanya dijadikan “alat tukar” amal ibadah manusia. Jangan pernah merasa cukup. Jangan pernah merasa telah banyak beramal. Sebab kita tidak bisa menjamin, apakah amal ibadah kita pantas diterima oleh-Nya.

Allah Maha Mensyukuri…

Syakuur dalam ayat di atas bermakna yang paling pandai berterima kasih. Allah adalah Dzat yang Syakuur. Ini seolah-olah mengingatkan kita bahwa sebenarnya tanpa “iming-iming” surga saja, kita ini sudah layak untuk beramal dan beribadah kepada-Nya, karena nikmat dari Allah di dunia ini saja sudah tak terhitung banyaknya. Namun karena Allah adalah Dzat yang Syakuur, maka Allah kelak masih menganugerahkan kenikmatan surga yang tak terperi, bagi hamba-hamba yang dirahmati-Nya.

Al-Huzn dan Al-Hazan

Kembali ke QS. Fathir: 34. Jadi ayat di atas sebenarnya adalah kalimat yang kelak dilontarkan oleh para penghuni surga.

Poin menarik lainnya dari ayat ini terletak pada kata,

الْحَزَنَ

Al-Hazan; artinya sama-sama kesedihan, namun berbeda di harokat, sehingga mengubah maknanya. Kalau sebelumnya kita membahas Al-Huzn, maka di bagian ini kita gantian disuguhi kata Al-Hazan.

Dua kata yang memiliki arti yang sama, namun makna yang berbeda. Sekali lagi, “hanya karena beda harokat”.

Al-Huzn dan Al-Hazan; memiliki akar kata yang sama. Tersusun dari huruf-huruf yang sama pula. H, Z, N (Ha, Zain, Nun).

Tapi…

Al-Huzn; H, Z, N disandingkan dengan dhommah + sukun.

Dhommah; secara bahasa artinya dirangkul, dikelilingi. Sedangkan sukun; secara bahasa maknanya menetap di tempat *inget kata sakinah*

Jadi kesedihan dalam kata Al-Huzn bermakna kesedihan yang mengelilingi dan menetap.

Nah sedangkan…

Al-Hazan dalam QS. Fathir; H, Z, N disandingkan dengan fathah + fathah

Fathah; bermakna membuka, terbuka

Jadi, kesedihan dalam kata Al-Hazan di atas bermakna terbukanya kesedihan atau bisa pula berarti kenangan tentang kesedihan yang sudah tidak lagi menyisakan kesedihan. Kesimpulannya, sedih disini tinggal kenangan.

Pantas saja jika kalimat ini kelak diucapkan oleh penduduk surga…

Indahnya bahasa Arab. Ya Allah, beri kami kesempatan untuk memahaminya… :’)

(bersambung, in syaa Allaah…) 😉