Virus

c5ef4b4a93888d4cba72b6f967889a4c

Buat teman-teman aktivis R*his kampus atau adik-adik aktivis di sekolah yang kusayangi, tolong jangan pernah meremehkan yang namanya satir atau hijab saat rapat/syuro’/musyawarah atau apapun itu bentuk komunikasi. Jangan gampang ngeles. Jangan mudah beralasan.

“Ah, hati saya lapis baja kok mbak.”
“Ah, ini betulan bahas urusan dakwah kok mbak. Demi kemaslahatan umat.”
“Ah, ngobrolnya sambil nunduk-nunduk juga kok mbak.” (sumpelo?)
“Ah, kita mah udah biasa begini mbak, hati kita malah jadi resisten.” ((( omaigat )))

Apalagi jika apa yang kita tekuni ini bawa-bawa nama dakwah. Bawa-bawa urusan umat. Bawa-bawa judul iqomatuddin. Yang kesemua hal tadi adalah sebuah perkara besar dan tidak main-main.

Jangan mudah meremehkan kerikil kecil dalam perjalanan panjang yang sedang kita tempuh ini. Jangankan kerikil. Butiran debu itu kalau masuk mata pedihnya bukan main.

Sudah terlampau banyak kasus berjatuhannya para pejuang di jalan cinta yang belum halal… Layu sebelum sempat berkembang. Gugur sebelum sempat berkarya. Dan dari banyak kasus itu, sebagian besar problemnya bermula dari pola interaksi dengan lawan jenis yang terlalu lentur.

Nasib sebuah amanah seketika bisa keteteran, sebab urusan umat harus dibagi dua secara paksa dengan urusan si dia. Yang terus berkelebat dalam pikirannya bukan lagi cara menaklukkan hati saudara-saudaranya, tapi cara menaklukkan hati calon mertua.

Padahal jalan ini, bukanlah jalan untuk sekadar singgah bermain-main dan ber-hahahihi. Kita tidak sedang menjual gagasan dan keringat dengan tebusan tepuk tangan.

saya menuliskan ini karena sudah begitu resah melihat akhi dan ukhti hari ini…

yang konsentrasinya tak kunjung beranjak dari mencari jawaban pertanyaan kapan nikah,

yang diskusinya tak kunjung beranjak dari meng-ghibahi si ukhti shaleha,

yang bacaannya tak kunjung beranjak dari serial ta’aruf cinta.

yang ukhti pun tak kalah meresahkan, karena terus menebar kode siap nikah ke segala arah, melalui wasilah gambar jpeg yang dibubuhi quote tentang doa diam-diam.

kemana lagi ‘izzah itu, wahai Ukhti? :’)

saya jadi teringat nasehat seorang sahabat,

“Jika memang sudah timbul hasrat ingin menikah, cukuplah berbenah diri dan berdoa kepada Allaah. Bukan malah mengumbar perasaan di media sosial. Adakah manfaatnya?”

baiklah. kita semua sepakat pernah jatuh dalam kegalauan. namun segeralah sudahi dengan cara:

1. segeralah menikah
2. jika poin 1 belum mampu, ganti bahan bacaan dan topik obrolan!

akhir kata. selalu. tulisan ini pertama kali kunasehatkan untuk diriku sendiri.

best regards,

nina. 🙂

Radang

childhood_4.jpg
Ibarat penyakit, kalau yang diserang adalah organ vital, semisal otak, jantung, ginjal, dsb, tentu potensi melemahkannya akan jauh lebih besar ketimbang ketika yang diserang adalah organ lain. Contoh: radang. Radang kalau yang diserang adalah tenggorokan (faringitis), mungkin kita merasa biasa-biasa saja. “Ah, paling bentar juga sembuh.” Tapi jika peradangannya menyerang selaput otak (meningitis), bahkan mendengar namanya saja mungkin kita sudah merasa ngeri.
Seperti itulah kemaksiatan.
 
Kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang rakyat jelata, tentu efek merusaknya tak sebesar kemaksiatan pemimpinnya.
 
Kemaksiatan seorang sipil, tentu efek merusaknya tak sebesar kemaksiatan panglimanya.
 
Kemaksiatan seorang anak, tentu efek merusaknya tak sebesar kemaksiatan orangtuanya.
 
Kemaksiatan seorang anggota dan simpatisan, tentu efek merusaknya tak sebesar kemaksiatan mas’ulnya.
 
Kemaksiatan seorang mad’u, tentu efek merusaknya tak sebesar kemaksiatan murabbi (guru)nya.
 
Kemaksiatan seorang yang jahil (bodoh), tentu efek merusaknya tak sebesar kemaksiatan seorang ‘alim yang menjadi tempat banyak orang bertanya.
 
Terlebih jika kemaksiatan-kemaksiatan itu dilakukan terang-terangan, tanpa sadar, tanpa merasa bersalah. Astaghfirullaah, na’udzubillaahi min dzaalik.
 
Oleh sebab itu, perhatikan dimana posisi kita, sebagai apa kita saat ini. Jangan sampai tertundanya kemenangan, kepayahan besar yang kita alami, terjungkal-jungkalnya langkah kita, ternyata karena ulah kita sendiri.

Lebih parahnya, kita melakukan itu tanpa kita sadari.

Merasa sedang membangun, padahal hakikatnya merobohkan. Merasa sedang memperbaiki, padahal hakikatnya merusakkan. Merasa sedang mengokohkan, padahal hakikatnya melemahkan. Merasa sedang mempersatukan, padahal hakikatnya menceraiberaikan.
Lebih jeli menilai diri. Kenalilah dirimu sendiri, sebelum engkau banyak menilai orang lain. Pahamilah dirimu sendiri, sebelum orang lain lebih banyak paham tentang dirimu.
 
Allaahumma ‘arifni nafsii… Ya Allaah, kenalkanlah aku pada diriku sendiri…
 
Nasehat ini pertama kali kutujukan untuk diriku sendiri.
*disarikan dari taushiyah seorang Ustadz dan Ustadzah pada silaturrahim Idul Fitri 1437 H

Ummahatul Ghad

childhood_6

Sudah sejak lama saya punya hobi merangkai nama anak. Seingat saya sejak SD. Bermula dari hobi saya yang lain; main guru-guruan. Sebelum memulai “pertunjukan mengajar” itu, selayaknya guru betulan, saya selalu membuat daftar absen murid-murid. Saya mengarang seluruh nama murid-muridan itu, sebanyak sekitar 20-30. Di antara nama-nama itu, biasanya ada 2 atau 3 nama yang sengaja saya buat paling bagus susunannya. Dalam hati, “Yang ini buat nama anakku besok.” Entah kenapa ketika itu saya tampak visioner sekali. Wkwk.

Ternyata hobi merangkai nama-nama indah itu masih terbawa sampai sekarang. Kalau tidak salah ingat, terakhir saya merangkai nama idaman untuk anak, saya buat sebanyak 4 nama yang semuanya berinisial H.

Hasan Abdillah, Husain Abdillah, Hasna Syahida, Husna Shabrina.

Hehehe. *H yang ini ga masuk list loh*

Ada latar belakang historis dan filosofis dari nama-nama itu. *ciye

Hasan dan Husain. Selalu ada nilai historis yang begitu kuat di balik nama ini. Saya pernah bercita-cita memberi nama anak saya dengan dua nama ini dengan alasan,

“Hasanain adalah pemimpin pemuda di Surga. Hasanain adalah generasi yang mencintai ahlul bait, sekaligus mencintai para shahabat Nabi. Hasanain kami kelak salah satu di antaranya, in syaa Allaah.”

Begitulah doa saya. Biar Hasanain tidak lagi menjadi simbol penokohan sejarah yang keliru. Untuk itu, Hasanain juga harus lebih dulu pandai sejarah.

Sedangkan Hasna dan Husna. Hasna, ini anagram aja sih. Tapi ada makna baiknya juga, tetap mengandung doa. Kalau Husna, ada sedikit behind the scene-nya. Hehe. Ini nama seorang teman sekaligus kakak yang baik yang pernah saya kenal. 🙂

Itu dulu. Sekarang sih sudah direvisi**, meski masih belum bisa juga dapat acc dari bapak pembimbing. *eaaak 😀

Saya tuliskan disini biar bisa ikut diamini sidang pembaca ya. Hehehe.

Susunannya sebagai berikut: Nama lengkap — nama panggilan — harapan dan cita-cita — latar belakang *lah, ini mau nyusun nama apa nyusun sekripsi dah 😀

**Masih mungkin  direvisi lagi. 😀

Laki-laki (3 Nabi dan 2 Shahabat Nabi)

Ibrahim Ahnaf — Ibrahim Hafidz, ulama pejuang Tauhid dan saintis astronomi — Terinspirasi dari kisah Nabi Ibrahim ‘alayhissalaam. Beliau adalah seorang pejuang tauhid. Ingat kisahnya saat sedang berdiskusi ilmiah dengan ayahnya, yang ketika itu beliau membuat analogi dengan benda-benda langit? 🙂

Muhammad Al-Fatih — Muhammad — Hafidz, ulama mujahid, ahli strategi perang, dan panglima pasukan Muslimin — Terinspirasi dari kisah Nabi Muhammad shalallaahu ‘alayhi wasallam dan Sultan Mehmed II.

Zakir Isa Abdillah — Isa — Hafidz, ulama ahli kristologi dan perbandingan agama yang mengislamkan banyak orang — Terinspirasi dari kisah Nabi Isa ‘alayhissalaam, seorang Nabi yang membawa risalah tauhid, mengesakan Allah (karena inti dakwah seluruh Nabi adalah tauhid). Terinspirasi juga dari Ust. Zakir Naik (hafizhahullaah). Kristologi adalah cabang ilmu yang sepertinya belum banyak didalami umat Islam. Sengaja juga saya tambahkan kata Abdillah, sebagai penegas bahwa Isa adalah hamba Allah. Bdw, khusus Isa, namanya ada 3 kata.

Zakir Naik dan Zakir Isa, in syaa Allaah. 🙂

Fathi Hamzah — Hamzah — Hafidz, ulama mujahid, ahli berkuda dan memanah — Terinspirasi dari kisah Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah yang diberi julukan “Singa Allah”.

Abdullah Zubair — Zubair — Hafidz, ulama mujahid, diplomat, ahli sejarah Islam — Terinspirasi dari kisah Zubair bin Awwam beserta putranya, Abdullah bin Zubair. Keduanya adalah manusia istimewa, unggulan, dan kecintaan Rasulullah, maa syaa Allaah. 🙂

Perempuan (1 Ibunda Nabi*, 2 Istri Nabi, 1 Putri Nabi, 1 Shahabiyah Nabi)

*yang dimaksud ibunda Nabi disini adalah nenek. Hannah adalah nenek Nabi Isa.

Hannah Hanifah — Hannah — Hafidzah, ustadzah (guru, pendidik), pengelola lembaga pendidikan Islam, istri dan ibu ideologis (karena ada istri dan ibu yang berperan secara biologis saja) — Terinspirasi dari kisah Hannah, ibunda Maryam Ummu Isa radhiyallaahu ‘anhuma. Saking besarnya harapan memiliki anak yang shaleh, di rumahnya bahkan terdapat mihrab, sebuah tempat khusus untuk beribadah.

Khadijah Afifah — Khadijah — Hafidzah, ustadzah, pengusaha, istri dan ibu ideologis — Terinspirasi dari kisah Khadijah istri Rasulullah radhiyallaahu ‘anha.

Aisyah Rasyidah — Aisyah — Hafidzah, ustadzah, dokter kandungan (obsgyn), istri dan ibu ideologis — Terinspirasi dari kisah Aisyah istri Rasulullah radhiyallaahu ‘anha.

Fathimah Zakiyyah — Fathimah — Hafidzah, ustadzah, ahli sejarah Islam, istri dan ibu ideologis — Terinspirasi dari kisah Fathimah binti Rasulullah radhiyallaahu ‘anha. Nama Fathimah juga sarat nilai-nilai historis, maka saya bidik ia kelak untuk menjadi seorang ahli sejarah.

Rumaisha Adibah — Rumaisha — Hafidzah, ustadzah, ahli sastra dan peradaban Islam, istri dan ibu ideologis — Terinspirasi dari kisah Rumaisha (Ummu Sulaim) radhiyallaahu ‘anha. Yang paling menggetarkan dari kisah beliau adalah kesabarannya dalam berkhidmat kepada suami tepat ketika beliau diuji dengan wafatnya sang putra kesayangan. Menurut saya, kemampuan sastra beliau juga sangat berperan disini, karena meski dalam kondisi tertekan, beliau tetap dapat menuturkan jawaban terbaik untuk menenangkan hati sang suami. Di samping keimanan yang telah menghujam kuat, tentu hal ini juga butuh keahlian! 🙂

*Catatan: Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa yang perempuan rata-rata jadi ustadzah semua?

Sebab menurut saya, keahlian utama seorang perempuan adalah mendidik. Mendidik generasi. 🙂

Nama Terbaik

Di antara sunnah dalam memberi nama untuk anak adalah:

  1. Nama Abdullah dan Abdurrahman berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim) Karena nama tersebut adalah nama terbaik, sampai-sampai di kalangan para shahabat terdapat sekitar 300 orang yang bernama Abdullah.
  2. Nama yang menunjukkan penghambaan diri terhadap salah satu dari nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla, seperti Abdul Malik, Abdul Bashiir, Abdul ‘Aziz dan lain-lain.
  3. Bernama dengan nama para nabi dan rasul. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akhlak yang paling mulia dan memiliki amalan yang paling bersih. Diharapkan dengan memberi nama seorang anak dengan nama nabi ataupun rasul dapat mengenang mereka juga karakter dan perjuangan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga pernah menamakan anaknya dengan nama Ibrahim, nama ini juga beliau berikan kepada anak sulung Abu Musa radhiallahu ‘anhu dan beliau juga menamakan anak Abdullah bin Salaam dengan nama Yusuf.
  4. Memberi nama dengan nama orang-orang shalih di kalangan kaum muslimin terutama nama para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits shahih dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka.” (HR. Muslim)
  5. Memilih nama yang mengandung sifat yang sesuai orangnya, namun dengan syarat nama tersebut tidak mengandung pujian untuk diri sendiri, tidak mengandung makna yang buruk atau mengandung makna celaan). Contoh: Harits (orang yang berusaha) dan Hammam (orang yang berkeinginan kuat). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang dha’if dari Abu Wahb al-Jusyami bahwasanya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pakailah nama para nabi, nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, yang paling baik adalah Harits dan Hammam, dan yang paling jelek adalah Harb dan Murrah.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i)

Pengaruh Nama dan Pembentukan Karakter

Dalam sebuah kajian parenting, seorang Ustadz pernah menyampaikan bahwa pentingnya memberi nama yang baik untuk anak, selain sebagai isyarat doa, juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakternya, terutama jika namanya dilatarbelakangi oleh kisah atau sejarah orang-orang hebat. Anak-anak menjadi lebih mudah dinasehati (bi idznillaah) dengan mengisahkan kembali latar belakang ayah dan ibunya memilihkan nama itu untuknya, karena seketika sang anak akan teringat gambaran figur hebat itu.

Beliau menambahkan, “Dan sebagai Muslim, tidak ada sejarah yang lebih hebat dibandingkan sejarah Nabinya dan para salafus shaleh.”

Jadi pada suatu hari nanti,

Kalau Ibrahim sedang bandel-bandelnya, “Nak, Nabi Ibrahim pun pernah berdebat dengan ayahnya. Namun beliau melakukannya dengan santun. Oleh sebab itu Ibu memberimu nama Ibrahim…”

Kalau Muhammad sedang bandel-bandelnya, “Nak, Rasulullah adalah manusia yang banyak musuhnya. Tapi kau tahu, tak satupun dari musuhnya itu yang menampik kemuliaan budi pekertinya. Oleh sebab itu Ibu memberimu nama Muhammad…”

Kalau Fathimah sedang ngambek, “Nak, Fathimah itu punya julukan ‘ibu dari ayahnya’, saking berbakti dan sayangnya ia kepada ayah (orangtua)nya. Oleh sebab itu Ibu memberimu nama Fathimah…”

Menjadi apapun mereka, semoga kelak mereka menjadi generasi yang bermanfaat bagi umat, generasi yang kehadirannya tidak menambah beban umat, atau minimal… generasi yang punya mimpi besar untuk kebaikan umat.

Ya, meski sekadar bermimpi saja. Namun setidaknya, lewat mimpi-mimpi itu, saya jadi tahu akan menjadi seperti apa kelak dirinya.

In syaa Allaah… 🙂

Wallaahu a’lam.


Ummahatul ghad,

Lewat tangannya, ia mengukir generasi militan

Lewat lisannya, ia melangitkan doa-doa terbaik

Lewat hatinya, ia memeluk mereka,

buah hati, sekaligus pelita harapannya

Ummahatul ghad,

Bermimpi besarlah!

Rabbii hablii minash shalihiin…

©laninalathifa

(Ummu Ibrahim, Muhammad, Isa, Hamzah, Zubair, Hannah, Khadijah, Aisyah, Fathimah, Rumaisha, in syaa Allaah)

 

Semarang, 4 Syawal 1437 H 🙂

Terimakasih, Sakit Hati!

hati 5

Alkisah, ada seorang lelaki yang begitu memendam harap kepada sosok perempuan idamannya. Disebutnya nama perempuan itu berulang kali dalam doa-doanya, berharap nama mereka dipersatukan dalam mahligai pernikahan.

Tekadnya sudah membaja, yaitu hendak mempersuntingnya. Dipersiapkannya segala hal yang berguna dalam melancarkan itikad baiknya. Satu yang tak pernah luput; persiapan hati. Entah ini sudah usahanya yang keberapa dalam mencoba menjalin hubungan, meski berkali-kali pula ujungnya kepahitan dan sakit hati.

“Logika lelaki dibanding perasaannya adalah 9:1, namun seketika dapat berbalik menjadi 1:9 hanya gara-gara makhluk berjenis kelamin perempuan.”

Lelaki tuna asmara itu sadar betul dengan kelemahannya. Ia terlalu ambisius mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Termasuk dalam mendapatkan gadis pujaannya. Ia pun tersadar untuk memperbaiki diri. Maka ta’aruf syar’i pun menjadi pilihannya kini.

“Semoga segala yang berpangkal baik-baik akan menemukan ujung yang baik pula.” Batinnya sendu.

Lelaki itu semakin memantapkan dirinya meminang si gadis shaleha yang telah diincarnya selama setahun belakangan. Ia adalah teman satu kelas semasa SMA dulu. Gadis itu telah berhijrah. Di situlah titik kekaguman lelaki itu bermula. Padahal dulunya, semasa SMA tidak pernah terjadi chemistry apapun.

Genap sudah segala amunisi untuk mempersunting si gadis. Dibenahinya kerah kemeja abu-abu yang dikenakannya hari ini.

“Bismillah, insyaAllah pekan depan saya akan menemuinya. Mempersuntingnya. Semoga ini pencarian terakhirku. Aku pasrah, ya Allah…”

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Belum genap sepekan rencana manisnya itu, keesokan harinya ia justru lebih dulu mendapatkan amplop berwarna merah jambu yang mendarat persis di depan pintu rumahnya. Tertulis jelas di sampul depan undangan pernikahan itu.

“Dafinah dan Yusuf”

Demi apa. Tercekat luar biasalah perasaan lelaki malang itu. Tubuhnya hampir-hampir kejang seperti habis disambar petir. Lagi dan lagi. Pil pahit lagi dan lagi. Langit yang sedari tadi cerah pun mendadak berwarna kelabu, di sudut hatinya.

“Haruskah sakit hati lagi, ya Allah?

Tiga tahun yang lalu. Begitu keras usaha lelaki itu melupakan Dafinah, gadis terakhir yang membuat tidurnya tak pernah nyenyak. Namun semenjak kejadian itu, ia menyadari bahwa itulah skenario terbaik dari Allah. Disadarinya bahwa kesiapan dirinya belumlah genap, meski rasa cintanya berulang kali meyakinkannya demikian.

“Kelak, rumah tangga tak sekedar dijalani dengan cinta, namun juga akal sehat. Mungkin Allah memang melihatku belum benar-benar siap…”

Batinnya menghibur diri.

Tapi benar juga. Semenjak kejadian pahit tiga tahun silam, lelaki itu justru semakin bersemangat menata hidup. Karirnya melejit sebagai wirausahawan muda. MasyaAllah.

“Allah knows what’s best for us. Allah brings us the perfect giving on the perfect timing. Terimakasih, Dafinah. Jika saja amplop merah muda tiga tahun yang lalu itu tidak pernah mendarat di depan rumahku, mungkin saja aku tidak mendapatkan apa yang berhasil kuraih saat ini. Sekali lagi terimakasih, Dafinah. Terimakasih, sakit hati…”

Ya, lelaki itu menyadari bahwa Allah tidak pernah iseng dalam mengatur skenario hidup kita, meski mungkin seringkali tampak sangat tidak mengenakkan, bahkan menyakitkan hati. Allah benar-benar tidak pernah main-main dengan hidup kita. Justru bukankah seringnya kita sendirilah yang main-main dengan-Nya?

Seringkali, kita justru merasa perlu berterimakasih dengan segala pil pahit yang telah dengan paksa kita telan. Sebab dengan pil-pil itu, daya tahan jiwa kita menjadi lebih kuat dan mampu memperbaiki cara pandang kita melihat masa lalu.

Semoga kita dianugerahi hati yang lembut dan lapang, sehingga selalu berprasangka baik dengan segala bentuk ketetapan Allah.

Terimakasih, sakit hati…

Note:

*Tulisan ini fiksi yang diadaptasi dari kisah nyata seorang lelaki yang meraih kesuksesan setelah gagal menikahi gadis pujaannya. Selamat mengambil ibrah. 🙂

*Suer, ini ga lagi curhat! :p

Sungai yang Tak Pernah Kering

6091163-lg

Jauh di kedalaman hati bapak dan ibu kita,

tersimpan muara sungai yang tak pernah kering airnya

Mata air yang tak pernah surut pancarannya

Pelita yang tak pernah padam cahayanya

Udara yang tak pernah kikis embusannya

Jauh di kedalaman hati bapak dan ibu kita,

tersimpan senyawa ajaib yang melekatkan nama kita

Senyawa yang takkan pernah teroksidasi,

takkan pernahmenguapatau menyublim bersama udara

Senyawa yang akan mengekalkan nama kita,

menyatu bersama darah dan nafasnya

Senyawa yang akan mengalihkan gravitasi,

sehingga kitalah yang menjadi pusat buminya

Kita ini akan selalu menjadi gadis atau lelaki kecil mereka

Kita akan selalu menjadi yang diistimewakannya

Kita akan selalu menjadi sosok kesayangannya

Kita pula yang akan selalu menjadi yang dirindukannya

Tak peduli bagaimana kita kelak

Tak peduli seperti apa kita nanti

Tak peduli kita masih ingat padanya atau tidak

Nama kita telah terukir abadi…

Jauh sebelum kita memanggil namanya…

Kita mungkin saja tak percaya,

jika ada manusia sedalam itu setianya…

Terang saja kita tak percaya,

karena hati mereka,

laksana muara sungai yang tak pernah berisik untuk membuktikan cinta…

Sajak Renovasi

write 10

Tidak berjilbab, jangan terus-menerus dimaklumi

Belum menutup aurat, bergegaslah disesali

Asyik masyuk pacaran, segeralah diinsyafi

Keranjingan selfie, jangan biarkan menjadi hobi

Status penuh emosi, cobalah menahan diri

Meski demikian…

Jilbab yang lebih lebar, bukan berarti ia lebih shaleh

Gamis yang lebih gelap, bukan berarti ia lebih shaleh

Tidak pacaran, bukan berarti ia lebih shaleh

Tidak suka selfie, bukan berarti ia lebih shaleh

Statusnya nasehat, bukan berarti juga ia lebih shaleh

Ukuran keshalehan diri, tak sesederhana itu

Sungguh…

Yang merasa sudah baiklah yang justru sulit diperbaiki

Yang Lebih Baik?

Beautiful-Photography-HD-Wallpapers-2

Aku udah jilbaban syar’i ORI(?), biar bisa mencium bau surga dari jarak sekian sekian.

Sedang… Di antara kita ada yang jilbabnya belum ORI, bahkan belum jilbaban. Kemudian kita merasa lebih baik.

Aku udah odojan loh, tilawah pantang mundur, kan obat galau.

Sedang… Di antara kita membaca Al-Qur’an saja masih terbata-bata. Kemudian kita merasa lebih baik.

Aku udah mulai tahfidz, kejar setoran hafal sejuz sebulan, biar jadi keluarga Allah.

Sedang… Di antara kita huruf hijaiyah saja belum ngeh dimana letak bedanya. Kemudian kita merasa lebih baik.

Aku udah rutin ngaji tafsir, bahasa Arab, ustadznya lulusan Madinah lagi, yah kan biar makin ngerti sama Islam.

Sedang… Di antara kita abatasa masih terbata-bata mengeja. Kemudian kita merasa lebih baik.

Aku shalat jama’ah di masjid dong, eskalasi pahala cuy.

Sedang… Di antara kita wudhu saja tidak paham mana yang harus diguyur duluan. Kemudian kita merasa lebih baik.

Dan seterusnya…

Benar, Allah menyeleksi siapa yang lebih baik amalnya. Namun bagi kita, bukan itu tujuan kita beramal; untuk membuktikan kita ini lebih baik dibanding yang lain?

Katanya, “Surga itu luas, masak cuma buat kita? Ajak-ajak yang lain dong.”Loh benar, kita memang tidak bisa jadi shaleh sendirian, tapi sejak kapan kita bisa booking kapling di surga?

Benar, Allah menilai siapa yang lebih baik amalnya. Namun bagi kita, bukan itu tujuan kita beramal; agar ada pembanding siapa yang lebih layak?

Lalu, kalau kita sudah pergi haji, sudah jilbab syar’i ORI, sudah sedekah sejuta per hari, surga mutlak buat kita, yang lain mah terserah mau ambil kapling dimana?

Suatu ketika ‘Umar bin Khattab pernah iri dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, karena dilihatnya Abu Bakar lebih banyak sedekahnya dibanding dirinya. Bahkan tak hanya sedekah. Dalam banyak hal, Umar merasa begitu tersaingi. Umar merasa jauh ketinggalan. Umar merasa tak ada seujung kukunya Abu Bakar. Umar ingin berbuat sebagaimana Umar.

Tapi…

Dibalik kecemburuannya itu, sedetikpun keadaan itu tak pernah membuat Umar merasa lebih baik dan layak dari Abu Bakar. Buktinya ketika Abu Bakar wafat. Saat itulah Umar sadar bahwa ia telah kalah telak, dalam segala hal. Dan nyatanya, keduanya justru sama-sama telah mendapat kapling tempat terbaik di surga.

Berlomba-lomba dalam kebaikan. Ini argumen kita. Tapi jika sudah sama-sama di rel kebaikan, adilkah dikotomi si menang dan si kalah?

Bersaing. Benar. Kenyataannya, di dunia ini, bahkan dengan keluarga terdekat kita sendiri, sebenarnya masing-masing di antara kita tengah bersaing. Tapi haruskah kita saling beroposisi?

Berkompetisi. Benar. Kita memang saling berkompetisi, tapi haruskah kita saja yang layak menjadi pemenang?

Bersegera. Benar. Untuk urusan kebaikan, semestinya memang disegerakan –meski tidak selalu harus begitu–, tapi haruskah kita saja yang berhak memperoleh kesempatan itu?

Dalam banyak sisi, hari ini saya seperti melihat kompetisi kebaikan itu tak lagi sehat. Setidaknya saya mulai merasakan itu semenjak fenomena nyinyir dan menyindir dalam nasehat begitu membudaya.

Saya pernah nyinyir dan nyindirjuga, bahkan mungkin terselip dalam tulisan ini.Tapi hari ini, Ramadhan ini, semoga itu menjadi satu di antara sekian banyak perbuatan yang harus saya sesali dan taubati.

Mengapa?

Guyonan nyinyir bin nyindir ala-ala meme, bahkan tak jarang terselip kata-kata pedas yang terasa menyakitkan, biarpun niatnya dakwah dan nasehat, saya khawatir justru menutup pintu kebaikan, menghambat jalan hidayah.

Bertahap dalam nasehat. Benar. Ada orang yang memang bebal dengan nasehat. Iming-iming surga bahkan tak lagi manjur. Ancaman neraka tak membuatnya bergeming. Namun sebebal-bebalnya orang hari ini, saya yakin dia tak sebebal Fir’aun. Kalaupun 11-12 dengan Fir’aun, ingat, bahkan Allah pernah meminta Musa agar tetap santun dalam menasehatinya.

Kita beramal bukan agar lebih baik dari orang lain. Kita tidak sedang membandingkan prestasi. Hanya karena kita bisa berbuat lebih baik dari orang lain, tidak lantas membuat orang lain buruk dibanding kita.

Lakukan saja yang terbaik dari yang kita mampu. Selebihnya, biar Allah yang menilai…

#selfreminder