Keinginan Terbesar

nice

Ditulis oleh: Bunda Kaska

Disusun ulang oleh: Ummu Sulaim


Coba sama-sama jujur ya…

Apa sih keinginan terbesarmu saat ini?
Yang menguasai hati…
Yang berkelebat setiap saat…
Yang membuatmu gelisah karena tak kunjung terwujud…

Mungkin jawabannya…

  • Ingin punya rumah sendiri
  • Ingin bertemu jodohnya
  • Ingin sembuh dari sakit
  • Ingin punya usaha sendiri
  • Ingin naik jabatan
  • Ingin anak lulus ujian
  • Ingin punya kendaraan
  • dan lain-lain

Sadarkah kita jika semua keinginan itu begitu duniawi…

Bukan hal besar yang harus terwujud.

Mengapa?

Karena hakikatnya kita tidak akan dihisab, tidak pula akan dimurkai Allah jika hal-hal tersebut belum juga terwujud di saat kita lebih dulu dipanggil.

Dan lagi, sebenarnya kita tidak tahu keadaan mana yang Allah lebih ridha…

Mungkin Allah lebih ridha saat kita mengontrak dibanding memaksakan diri kredit rumah, yang membuka celah untuk terjerumus dalam riba.

Mungkin Allah lebih ridha saat anak kita tak kunjung lulus, lalu pada prosesnya ia justru menemukan jalan ketaatan kepada Allah, dibanding lulus segera namun ternyata justru menyusahkan banyak orang karena ilmu yang tak memberi manfaat sedikitpun kepadanya.

Mungkin Allah lebih ridha kita jika bersendiri dulu, karena kelak ketaatan kita terhadap suami itu sebuah perkara besar, siapa yang menjamin kita mampu melaluinya. Atau sebaliknya, amanah menjadi seorang suami pun tak kalah besar, siapa yang menjamin engkau mampu memanggulnya.

Mungkin Allah lebih ridha saat kita berjuang dengan rasa sakit, karena inilah kesempatan kita untuk mendekat kepada Allah, karena inilah kesempatan kita untuk mendapat ampunan Allah.

Meninggal sebelum punya rumah sendiri itu bukan masalah, asalkan bawa iman…
Meninggal sebelum menikah itu bukan masalah, asalkan bawa iman…
Meninggal sebelum sembuh juga bukan masalah, asalkan bawa iman…

Sok, kita renungkan lagi…
Bukan tidak boleh memiliki keinginan-keinginan semacam itu. Noted. Bukan tidak boleh. Namun jangan sampai keinginan tersebut melupakan tujuan utama kita.

Bahwa hidup kita saat ini sebenarnya adalah fase perjalanan menuju kampung akhirat.
Buat apa sibuk mewujudkan hal-hal yang sebenarnya bukan jaminan kita untuk mendapatkan keridhaan Allah beserta surga-Nya.

Jikalau kita sibuk menggunakan harta dan waktu kita di jalan Allah, untuk keperluan menambah ketaatan kepada-Nya, niscaya perkara-perkara sepele itu akan Allah kabulkan, jika memang itu jalan terbaik bagi agama dan dunia kita.

Ilustrasinya begini.

Jika kita diberi kesempatan untuk bertemu presiden atau raja, dimana setiap permintaan kita kepadanya akan diwujudkan. Kira-kira, akankah kita meminta sesuatu yang sepele dan sederhana?

Nah, seperti itulah kita dalam berdoa. Setiap kita berdoa, kita sedang “bertemu” Allah, menghadap pada-Nya, Raja segala Raja. Jika kita boleh meminta apa saja, dimana tak ada yang mustahil bagi kuasa-Nya, maka akankah kita juga akan meminta sesuatu yang sepele dan sederhana?

Jika kekayaan, rahmat, dan ampunan Allah itu mahaluas, fokuslah pada hal-hal besar dan istimewa, yang membawa kebaikan bagi kehidupan akhirat sebelum dunia. Sungguh, jika Allah telah menjamin kebaikan akhirat bagi seseorang, mustahil Dia akan menyia-nyiakannya di dunia.

Mohonlah masuk surga tanpa hisab
Mohonlah husnul khatimah
Mohonlah kebaikan dunia dan akhirat
Mohonlah keselamatan dari segala penyakit hati, sebelum penyakit fisik
Mohonlah keridhaan Allah dalam setiap amal perbuatan
Mohonlah kelapangan hati agar mudah bersyukur
Mohonlah petunjuk agar menjadi manusia yang berguna bagi umat
Mohonlah keistiqamahan hidayah dan juga jalan hidayah bagi orang lain
atau permohonan lain yang semisal itu.

Sungguh, jika kita tak segera fokus dengan hal-hal besar itu, niscaya segala keinginan dunia akan terus terbayang hingga kita mati. Padahal jika itu semua telah terwujud, tak ada satupun yang akan kita bawa mati. Justru kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang pernah kita miliki.

“Sesungguhnya Allah memberikan harta kepada orang yang Dia cintai dan orang yang tidak Dia cintai, sementara Dia tidak memberikan keimanan, melainkan kepada orang yang dicintai-Nya saja. Jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya Dia akan memberikan keimanan kepadanya.”

(HR. Al-Hakim)

Jadi…

Jika harta dunia dari Allah akan diberikan-Nya kepada siapa saja, tak peduli Allah ridha padanya atau tidak, cobalah kita fokus saja untuk mencari jalan selamat menuju kampung akhirat, menuju keridhaan Allah.

Sungguh, nasehat ini pertama kali kutujukan kepada diriku sendiri…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s