Metamorfosis

il_fullxfull.228649598

Pertolongan Allah tidak akan turun kepada orang-orang yang pasif dan enggan bergerak untuk menciptakan perubahan. (Dr. Raghib As-Sirjani)

Lihatlah kupu-kupu bersayap indah yang terbang di langit. Sayapnya indah, menyejukkan pandangan, luar biasa. Sebelum ia menjadi indah, ia bermetamorfosis. Kecantikannya berproses. Keindahannya adalah buah kesabaran. Benar, kupu-kupu adalah binatang yang pandai sekali bersabar. Berawal dari seekor ulat bulu yang rakus. Bentuknya aneh, bahkan menjijikkan bagi sebagian orang. Sama sekali tidak menarik. Namun, coba amati apa yang di kemudian hari terjadi padanya? Tubuhnya bertransformasi. Kali ini menjadi sebentuk kepompong yang tenang dalam selimutnya. Hari-harinya ibarat rahib yang mengasingkan diri, tidak makan dan minum. Hari-hari pun berlalu. Kupu-kupu indah yang kita tunggu-tunggu pun lahir. Ia melepaskan diri secara perlahan dari tabirnya. Sebuah perubahan yang sempurna.

Sebagaimana kupu-kupu yang dalam perjalanan hidupnya harus singgah terlebih dulu di zona tidak nyaman. Berawal dari ulat yang disia-siakan, berlanjut menjadi kepompong yang terasing, kemudian barulah ia tumbuh menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Begitulah.

Sometimes, people with the worst past have the best future. Cause every righteous person has a past, and every sinner has a future.

Masa lalu yang sempurna hanya ada di dalam tenses bahasa inggris, yang kita sebut dengan past perfect. Maka kita pun menyadari bahwa kita tak perlu perlu lagi berandai-andai dengan masa lalu, “Ah, andai saja dulu aku begini, aku begitu.” Penyesalan selalu datang terlambat, bukan? Namun bukan itu yang kita mau. Menyesal memang langkah awal untuk berubah, tetapi kita di masa depan adalah rangkaian dari hari-hari yang kita jalani saat ini. Maka petiklah pelajaran dari hari kemarin. Perbaiki hari ini, sebab future perfect sebagaimana dalam tenses masih sangat mungkin diperjuangkan. Siapapun kita di masa lalu, kita tetap berhak menjadi muslim dan muslimah yang lebih baik di hari ini dan seterusnya.

Seburuk-buruk masa lalu kita, jangan lupa bahwa akan tetap ada alasan untuk bersyukur. Bersyukur karena kita tidak memiliki semua yang kita inginkan, karena jika kita memiliki semuanya, maka apalagi yang hendak kita cari? Bersyukur karena kita tidak mengetahui sesuatu, karena itu memberi kita kesempatan untuk terus belajar. Bersyukur atas masa-masa sulit yang kita hadapi, karena itu membuat kita belajar mendewasakan diri. Bersyukur atas segala keterbatasan yang kita miliki, karena itu membuka kesempatan kita untuk terus memperbaiki diri.

“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus…” Ini adalah doa yang hampir tidak pernah luput dari lisan manusia. Perubahan diri untuk menjadi lebih baik, lebih shaleh dan shalehah, lebih bertakwa dari sebelumnya adalah target keseharian seorang Muslim. Yang pasti, keshalehan bukan sekadar sebuah predikat, melainkan sebuah proses. Tidak ada kata puncak keshalehan, sebab kita harus terus mendakinya. Keimanan adalah sesuatu yang harus terus didaki. Suatu saat ia bisa naik karena ketaatan kita kepada-Nya. Pun sebaliknya, iman pun bisa tergerus perlahan karena kemaksiatan kita kepada-Nya. Sebagaimana jalan menuju Surga yang begitu mendaki dan terjal, sedangkan jalan menuju Neraka begitu mudah membuat kita meluncur.

Bersabarlah dengan proses. Petiklah pelajaran dari seekor kupu-kupu. Bukankah kupu-kupu indah yang kita lihat hari ini hanyalah seekor ulat bulu di hari kemarin?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s