Terimakasih, Sakit Hati!

hati 5

Alkisah, ada seorang lelaki yang begitu memendam harap kepada sosok perempuan idamannya. Disebutnya nama perempuan itu berulang kali dalam doa-doanya, berharap nama mereka dipersatukan dalam mahligai pernikahan.

Tekadnya sudah membaja, yaitu hendak mempersuntingnya. Dipersiapkannya segala hal yang berguna dalam melancarkan itikad baiknya. Satu yang tak pernah luput; persiapan hati. Entah ini sudah usahanya yang keberapa dalam mencoba menjalin hubungan, meski berkali-kali pula ujungnya kepahitan dan sakit hati.

“Logika lelaki dibanding perasaannya adalah 9:1, namun seketika dapat berbalik menjadi 1:9 hanya gara-gara makhluk berjenis kelamin perempuan.”

Lelaki tuna asmara itu sadar betul dengan kelemahannya. Ia terlalu ambisius mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Termasuk dalam mendapatkan gadis pujaannya. Ia pun tersadar untuk memperbaiki diri. Maka ta’aruf syar’i pun menjadi pilihannya kini.

“Semoga segala yang berpangkal baik-baik akan menemukan ujung yang baik pula.” Batinnya sendu.

Lelaki itu semakin memantapkan dirinya meminang si gadis shaleha yang telah diincarnya selama setahun belakangan. Ia adalah teman satu kelas semasa SMA dulu. Gadis itu telah berhijrah. Di situlah titik kekaguman lelaki itu bermula. Padahal dulunya, semasa SMA tidak pernah terjadi chemistry apapun.

Genap sudah segala amunisi untuk mempersunting si gadis. Dibenahinya kerah kemeja abu-abu yang dikenakannya hari ini.

“Bismillah, insyaAllah pekan depan saya akan menemuinya. Mempersuntingnya. Semoga ini pencarian terakhirku. Aku pasrah, ya Allah…”

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Belum genap sepekan rencana manisnya itu, keesokan harinya ia justru lebih dulu mendapatkan amplop berwarna merah jambu yang mendarat persis di depan pintu rumahnya. Tertulis jelas di sampul depan undangan pernikahan itu.

“Dafinah dan Yusuf”

Demi apa. Tercekat luar biasalah perasaan lelaki malang itu. Tubuhnya hampir-hampir kejang seperti habis disambar petir. Lagi dan lagi. Pil pahit lagi dan lagi. Langit yang sedari tadi cerah pun mendadak berwarna kelabu, di sudut hatinya.

“Haruskah sakit hati lagi, ya Allah?

Tiga tahun yang lalu. Begitu keras usaha lelaki itu melupakan Dafinah, gadis terakhir yang membuat tidurnya tak pernah nyenyak. Namun semenjak kejadian itu, ia menyadari bahwa itulah skenario terbaik dari Allah. Disadarinya bahwa kesiapan dirinya belumlah genap, meski rasa cintanya berulang kali meyakinkannya demikian.

“Kelak, rumah tangga tak sekedar dijalani dengan cinta, namun juga akal sehat. Mungkin Allah memang melihatku belum benar-benar siap…”

Batinnya menghibur diri.

Tapi benar juga. Semenjak kejadian pahit tiga tahun silam, lelaki itu justru semakin bersemangat menata hidup. Karirnya melejit sebagai wirausahawan muda. MasyaAllah.

“Allah knows what’s best for us. Allah brings us the perfect giving on the perfect timing. Terimakasih, Dafinah. Jika saja amplop merah muda tiga tahun yang lalu itu tidak pernah mendarat di depan rumahku, mungkin saja aku tidak mendapatkan apa yang berhasil kuraih saat ini. Sekali lagi terimakasih, Dafinah. Terimakasih, sakit hati…”

Ya, lelaki itu menyadari bahwa Allah tidak pernah iseng dalam mengatur skenario hidup kita, meski mungkin seringkali tampak sangat tidak mengenakkan, bahkan menyakitkan hati. Allah benar-benar tidak pernah main-main dengan hidup kita. Justru bukankah seringnya kita sendirilah yang main-main dengan-Nya?

Seringkali, kita justru merasa perlu berterimakasih dengan segala pil pahit yang telah dengan paksa kita telan. Sebab dengan pil-pil itu, daya tahan jiwa kita menjadi lebih kuat dan mampu memperbaiki cara pandang kita melihat masa lalu.

Semoga kita dianugerahi hati yang lembut dan lapang, sehingga selalu berprasangka baik dengan segala bentuk ketetapan Allah.

Terimakasih, sakit hati…

Note:

*Tulisan ini fiksi yang diadaptasi dari kisah nyata seorang lelaki yang meraih kesuksesan setelah gagal menikahi gadis pujaannya. Selamat mengambil ibrah. 🙂

*Suer, ini ga lagi curhat! :p

Iklan

One thought on “Terimakasih, Sakit Hati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s