Yang Lebih Baik?

Beautiful-Photography-HD-Wallpapers-2

Aku udah jilbaban syar’i ORI(?), biar bisa mencium bau surga dari jarak sekian sekian.

Sedang… Di antara kita ada yang jilbabnya belum ORI, bahkan belum jilbaban. Kemudian kita merasa lebih baik.

Aku udah odojan loh, tilawah pantang mundur, kan obat galau.

Sedang… Di antara kita membaca Al-Qur’an saja masih terbata-bata. Kemudian kita merasa lebih baik.

Aku udah mulai tahfidz, kejar setoran hafal sejuz sebulan, biar jadi keluarga Allah.

Sedang… Di antara kita huruf hijaiyah saja belum ngeh dimana letak bedanya. Kemudian kita merasa lebih baik.

Aku udah rutin ngaji tafsir, bahasa Arab, ustadznya lulusan Madinah lagi, yah kan biar makin ngerti sama Islam.

Sedang… Di antara kita abatasa masih terbata-bata mengeja. Kemudian kita merasa lebih baik.

Aku shalat jama’ah di masjid dong, eskalasi pahala cuy.

Sedang… Di antara kita wudhu saja tidak paham mana yang harus diguyur duluan. Kemudian kita merasa lebih baik.

Dan seterusnya…

ā€”

Benar, Allah menyeleksi siapa yang lebih baik amalnya. Namun bagi kita, bukan itu tujuan kita beramal; untuk membuktikan kita ini lebih baik dibanding yang lain?

Katanya, “Surga itu luas, masak cuma buat kita? Ajak-ajak yang lain dong.”Loh benar, kita memang tidak bisa jadi shaleh sendirian, tapi sejak kapan kita bisa booking kapling di surga?

Benar, Allah menilai siapa yang lebih baik amalnya. Namun bagi kita, bukan itu tujuan kita beramal; agar ada pembanding siapa yang lebih layak?

Lalu, kalau kita sudah pergi haji, sudah jilbab syar’i ORI, sudah sedekah sejuta per hari, surga mutlak buat kita, yang lain mah terserah mau ambil kapling dimana?

ā€”

Suatu ketika ‘Umar bin Khattab pernah iri dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, karena dilihatnya Abu Bakar lebih banyak sedekahnya dibanding dirinya. Bahkan tak hanya sedekah. Dalam banyak hal, Umar merasa begitu tersaingi. Umar merasa jauh ketinggalan. Umar merasa tak ada seujung kukunya Abu Bakar. Umar ingin berbuat sebagaimana Umar.

Tapi…

Dibalik kecemburuannya itu, sedetikpun keadaan itu tak pernah membuat Umar merasa lebih baik dan layak dari Abu Bakar. Buktinya ketika Abu Bakar wafat. Saat itulah Umar sadar bahwa ia telah kalah telak, dalam segala hal. Dan nyatanya, keduanya justru sama-sama telah mendapat kapling tempat terbaik di surga.

ā€”

Berlomba-lomba dalam kebaikan. Ini argumen kita. Tapi jika sudah sama-sama di rel kebaikan, adilkah dikotomi si menang dan si kalah?

Bersaing. Benar. Kenyataannya, di dunia ini, bahkan dengan keluarga terdekat kita sendiri, sebenarnya masing-masing di antara kita tengah bersaing. Tapi haruskah kita saling beroposisi?

Berkompetisi. Benar. Kita memang saling berkompetisi, tapi haruskah kita saja yang layak menjadi pemenang?

Bersegera. Benar. Untuk urusan kebaikan, semestinya memang disegerakan –meski tidak selalu harus begitu–, tapi haruskah kita saja yang berhak memperoleh kesempatan itu?

Dalam banyak sisi, hari ini saya seperti melihat kompetisi kebaikan itu tak lagi sehat. Setidaknya saya mulai merasakan itu semenjak fenomena nyinyir dan menyindir dalam nasehat begitu membudaya.

Saya pernah nyinyir dan nyindirjuga, bahkan mungkin terselip dalam tulisan ini.Tapi hari ini, Ramadhan ini, semoga itu menjadi satu di antara sekian banyak perbuatan yang harus saya sesali dan taubati.

Mengapa?

Guyonan nyinyir bin nyindir ala-ala meme, bahkan tak jarang terselip kata-kata pedas yang terasa menyakitkan, biarpun niatnya dakwah dan nasehat, saya khawatir justru menutup pintu kebaikan, menghambat jalan hidayah.

Bertahap dalam nasehat. Benar. Ada orang yang memang bebal dengan nasehat. Iming-iming surga bahkan tak lagi manjur. Ancaman neraka tak membuatnya bergeming. Namun sebebal-bebalnya orang hari ini, saya yakin dia tak sebebal Fir’aun. Kalaupun 11-12 dengan Fir’aun, ingat, bahkan Allah pernah meminta Musa agar tetap santun dalam menasehatinya.

Kita beramal bukan agar lebih baik dari orang lain. Kita tidak sedang membandingkan prestasi. Hanya karena kita bisa berbuat lebih baik dari orang lain, tidak lantas membuat orang lain buruk dibanding kita.

Lakukan saja yang terbaik dari yang kita mampu. Selebihnya, biar Allah yang menilai…

#selfreminder

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s