Virus

c5ef4b4a93888d4cba72b6f967889a4c

Buat teman-teman aktivis R*his kampus atau adik-adik aktivis di sekolah yang kusayangi, tolong jangan pernah meremehkan yang namanya satir atau hijab saat rapat/syuro’/musyawarah atau apapun itu bentuk komunikasi. Jangan gampang ngeles. Jangan mudah beralasan.

“Ah, hati saya lapis baja kok mbak.”
“Ah, ini betulan bahas urusan dakwah kok mbak. Demi kemaslahatan umat.”
“Ah, ngobrolnya sambil nunduk-nunduk juga kok mbak.” (sumpelo?)
“Ah, kita mah udah biasa begini mbak, hati kita malah jadi resisten.” ((( omaigat )))

Apalagi jika apa yang kita tekuni ini bawa-bawa nama dakwah. Bawa-bawa urusan umat. Bawa-bawa judul iqomatuddin. Yang kesemua hal tadi adalah sebuah perkara besar dan tidak main-main.

Jangan mudah meremehkan kerikil kecil dalam perjalanan panjang yang sedang kita tempuh ini. Jangankan kerikil. Butiran debu itu kalau masuk mata pedihnya bukan main.

Sudah terlampau banyak kasus berjatuhannya para pejuang di jalan cinta yang belum halal… Layu sebelum sempat berkembang. Gugur sebelum sempat berkarya. Dan dari banyak kasus itu, sebagian besar problemnya bermula dari pola interaksi dengan lawan jenis yang terlalu lentur.

Nasib sebuah amanah seketika bisa keteteran, sebab urusan umat harus dibagi dua secara paksa dengan urusan si dia. Yang terus berkelebat dalam pikirannya bukan lagi cara menaklukkan hati saudara-saudaranya, tapi cara menaklukkan hati calon mertua.

Padahal jalan ini, bukanlah jalan untuk sekadar singgah bermain-main dan ber-hahahihi. Kita tidak sedang menjual gagasan dan keringat dengan tebusan tepuk tangan.

saya menuliskan ini karena sudah begitu resah melihat akhi dan ukhti hari ini…

yang konsentrasinya tak kunjung beranjak dari mencari jawaban pertanyaan kapan nikah,

yang diskusinya tak kunjung beranjak dari meng-ghibahi si ukhti shaleha,

yang bacaannya tak kunjung beranjak dari serial ta’aruf cinta.

yang ukhti pun tak kalah meresahkan, karena terus menebar kode siap nikah ke segala arah, melalui wasilah gambar jpeg yang dibubuhi quote tentang doa diam-diam.

kemana lagi ‘izzah itu, wahai Ukhti? :’)

saya jadi teringat nasehat seorang sahabat,

“Jika memang sudah timbul hasrat ingin menikah, cukuplah berbenah diri dan berdoa kepada Allaah. Bukan malah mengumbar perasaan di media sosial. Adakah manfaatnya?”

baiklah. kita semua sepakat pernah jatuh dalam kegalauan. namun segeralah sudahi dengan cara:

1. segeralah menikah
2. jika poin 1 belum mampu, ganti bahan bacaan dan topik obrolan!

akhir kata. selalu. tulisan ini pertama kali kunasehatkan untuk diriku sendiri.

best regards,

nina. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s