Sabar = Tetap Bergerak!

the_butterfly_jar__by_lostinthisphotograph

Sayyid Quthb mengawali penjelasan tentang keimanan dalam tafsirnya, Fii Dzilaalil-Quran dengan tafsir surat Al-Ashr.

Tulis beliau,

“Ia adalah gerak, amal, pembangunan, dan pemakmuran menuju Allah. Ia bukan sesuatu yang layu, pasif, dan bersembunyi di dalam hati nurani.”

Kemudian satu sentuhan kalimat akhir dari penjelasan beliau rahimahullah tersebut adalah,

“Keimanan juga bukan sekedar sekumpulan niat baik yang tak tercerminkan dalam sebuah gerak.”

Sabar adalah sebagian dari bukti iman.

Maka bersabar, sama sekali tidak berarti berhenti bergerak.

Sabar, sama sekali tidak sama dengan berdiam.

Sabar, sama sekali tidak sama dengan kelembaman.

Meski memang, ada kalanya sabar membuat kita bergerak melambat…

Ada kalanya sabar membuat kita berhenti sejenak, mengoreksi langkah yang telah tertambat.

Ada kalanya pula, sabar membuat kita memaksa diri memutar ulang kenangan,

memulai lagi langkah baik yang sempat tertunda dan tertahan,

atau memangkas ketergelinciran yang pernah tertawan di tengah jalan, biar tak lagi terulang.

Sabar, adalah dengan tetap bergerak,

meski pelan, sedikit demi sedikit, atau memang dengan percepatan.

Asal tetap terarah, terorganisir, dan fokus pada tujuan.

Begitulah seni mengolah kesabaran,

agar ia menjelma menjadi sebenar-benar kesabaran yang indah…

Tak Pernah Sendiri

childhood_1

Berwasiat dalam kebenaran dan menetapi kesabaran adalah satu di antara keteladanan yang pernah hidup di masa para sahabat Nabi radhiyallaahu ‘anhum.

Mereka selalu mengingatkan satu sama lainnya.

Saling memotivasi, menasehati, menggugah kesadaran akan dekatnya tujuan, dan saling melekatkan ukhuwah dalam memikul beban dan amanah.

Mereka saling mewasiatkan, bahwa setiap pembela kebenaran selalu bersama saudaranya, takkan pernah sendirian.

Mereka saling menyemangati, bukan mematahkan semangat.

Kau tahu mengapa demikian?

Karena dien ini takkan pernah dapat tegak, kecuali dengan jama’ah yang kokoh…

Hidup berjama’ah seringkali memang tidak mengenakkan.

Ada hati yang seringkali terluka dan tersakiti.

Tapi ketahuilah, bahwa diri kita tanpa ukhuwah di atas iman ini,

sungguh lemahnya dan tak berarti apa-apa…

Bersabarlah dalam ukhuwah…

Bersabarlah dalam menetapi jama’ah…

Bersabarlah dalam memperjuangkan jannah…

Semir Sepatu

boot
bukan sepatu Fir’aun

Selalu ada harga yang harus dibayarkan untuk setiap pilihan hidup yang kita jalani. Yang lugu, lempeng, on the track, ada konsekuensinya. Yang nekad dan nabrak-nabrak, juga ada konsekuensinya.

Mau jilbaban, ada konsekuensinya. Lebar dikit terasa gerah, belum lagi nyinyir dari tetangga sebelah. “Hih, jilbab model apaan tuh segedhe gitu. Budaya Arab itu mah. Ga nusantara banget.”

Mau ga jilbaban, seksi-seksian, juga ada konsekuensinya. Kebuka atas, disuit-suit. Kebuka bawah, disawer-sawer. Mulai dari kelas televisi nasional –tawaran iklan sabun mandi sampai kacang goreng–, sampai kelas warung remang-remang yang colek dikit bayarannya pulsa telponan. Belum lagi kalo kebobolan. Nama baik keluarga? Ah, lupakan.

Mau jomblo tanpa pacaran, ada konsekuensinya. Paling banter, jadi bahan bully dan ojok-ojokan, “kamu kapan, kamu kapan”. Yang pacaran maju terus, juga ada konsekuensinya. Digantung, di-ha-te-esin, di-elo-gue-end-in, dan kegetiran semacamnya. Belum lagi kalo cemburu dikit, clurit melayang. Horor ya? Tuh, di tivi banyak.

Mau jual gorengan, jual sendal, jual ember cucian, angkut sampah, dorong gerobak sayur, nyemir sepatu orang, banyak konsekuensinya. Paling banter, soal stigma dan sistem kasta di negeri ini yang belum juga kadaluwarsa.

Tapi jangan dikira, tukang copet, mau yang dari kelas ekonomi sampai eksekutif, juga banyak konsekuensinya. Kalo copet kelas ekonomi, paling banter harus siap digebukin massa. Sementara yang eksekutif, harus siap menghuni bui rasa hotel bintang lima. Kedengerannya menggiurkan sih, tapi sekali copet mah ya copet aja, biarpun pake kostum jas parlente ala pangeran tuksedo.

Dalam hidup, kita seperti ga bisa lepas dari konsekuensi demi konsekuensi. Pedihnya, seringkali kita ga siap, ga sadar, bahkan ‘auk ah gelap’. Kita sering mendobrak-dobrak jalan pintas, sementara kita terlupa bahwa ga semua jalan pintas itu aman dilewati. Banyak ranjau, banyak jeblokan, sementara kita merasa jiwa kita begitu setrong melewati itu semua. Kita sering membercandai aturan-Nya, sementara kita di saat yang sama selalu mengemis ini dan itu, mengiba kemurahan-Nya.

Maka jika setiap jalan ada harga tiket masuknya, tidakkah kita pilih jalan yang ‘lebih kecil risikonya’? Setidaknya jalan yang membuat kita ga harus bayar dua kali lipat atau bahkan lebih. Sudah bayar di dunia, masih ditagih pula di akhirat. Meski kita pun sadar diri, ‘yang kecil risikonya’ saja belum tentu mampu kita lewati dengan selamat.

Duhai diri, betapa menjadi debu di sendal jepit Bilal bin Rabah jauh lebih berkelas di mata-Nya, ketimbang menjadi semir sepatu di sepatu parlente Fir’aun.

*ah lupakan, ini hanya remah-remah pikiran

Dek…

ruang rindu

dek, saya tau, saya bukan kaka yang baik. tapi asal kamu tau, kaka sayang sama kamu. sungguh.

dek, saya tau, saya ini kaka yang cerewet. tapi asal kamu tau, seringkali cerewet adalah tanda sayang.

dek, saya tau, saya ini sok tangguh, sok pedulian. tapi asal kamu tau, sungguh ini bukan sok pedulian, tapi karena memang betulan peduli.

dek, saya sadar, saya ini banyak menuntut ini dan itu. banyak jejali tugas. banyak berbusa-busa. tapi asal kamu tau, sungguh ini bukan sekadar tuntutan, tugas, dan retorika. melainkan karsa, asa, dan rasa. kamu adalah tunas yang kunanti-nanti menjadi bernas.

dek, saya minta maaf, jikalau saya bukan kaka yang asik. setidaknya biar engkau belajar bahwa hidup di dunia ini memang ga selalu asik. dan kita, harus bisa bertahan dari ketidakasikan sementara itu.

dek, saya minta maaf, jikalau pernah tampak setengah hati dalam membersamaimu. tapi asal kau tau, doa saya tak pernah setengah-setengah, in syaa Allaah.

dek, saya minta maaf, jikalau seringkali salah memahamimu. sebab kadang, memahami diriku sendiri aku tak mampu.

dek, saya minta maaf, jikalau saya belum bisa jadi kaka yang baik. tapi asal kau tau, saya sudah berusaha.

dek, saya minta maaf, jikalau ukhuwah seringkali justru terasa menyakitkan.

dek, saya minta maaf, jikalau saya tak mahir mem-verbalkan cinta, sebab bagiku cinta bukan lagi sebuah kata benda. seringkali kita cukup berbuat sesuatu, hingga akhirnya ia tau, cinta itu apa.

dek, saya minta maaf… sudikah segala khilaf dimaafkan?

“Dalam dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang lain dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali. Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’ad bin Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar.

Pahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang yang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain belum jua mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.” (ust. salimafillah)

halo dek. apa kabar? :))

6 Jenis Gaya Bicara menurut Al-Quran

words

1. Qaulan sadida (QS. An-Nisaa’: 9, Al-Ahzab: 70)

Maknanya, perkataan yang tepat, kena sasaran, sesuai situasi dan kondisi, baik sesuai dari segi konten maupun konteks.

2. Qaulan ma’rufa (QS. An-Nisaa’: 5 dan 8, Al-Baqarah: 235, Al-Anfal: 32)

Maknanya, perkataan yang baik, sopan, halus, indah, benar, penuh penghargaan, menyenangkan, dan sesuai dengan kaidah hukum serta logika.

3. Qaulan baligha (QS. An-Nisaa: 63)

Maknanya, perkataan yang fasih, tepat, jelas, efektif, dan mampu mengungkapkan apa yang dimaksudkannya.

4. Qaulan maysura (QS. Al-Isra’: 28)

Maknanya, perkataan yang mudah. Ath-Thabari dan Buya Hamka mengatakan, makna mudah disini adalah perkataan yang mudah dimengerti, gaya bahasanya lunak, menyenangkan dan layak didengar, halus dan lemah lembut sehingga tidak membuat lawan bicara tersinggung, serta menimbulkan rasa optimis bagi lawan bicara.

5. Qaulan layyina (QS. Thaha: 44)

Maknanya, perkataan yang lemah lembut sehingga dapat menyentuh hati lawan bicara. Ini erat kaitannya dengan suasana hati orang yang berbicara. Berbicara dengan hati yang tulus dan menghargai kondisi lawan bicara akan melahirkan ucapan yang lemah lembut. Kelemahlembutan tidak hanya dapat mengantarkan sampainya informasi, namun juga berpotensi mengubah sudut pandang, sikap, dan perilaku lawan bicara, bi idznillaah.

6. Qaulan karima (QS. Al-Isra’: 23)

Maknanya, perkataan yang mulia, yang penuh penghargaan dan penghormatan kepada lawan bicara.

Jika diperhatikan, 3 dari 6 gaya bicara tersebut tercantum di dalam surat An-Nisaa’, surat yang banyak berbicara tentang perempuan, yang seolah-olah mengingatkan kita bahwa ketergelinciran yang paling sering terjadi di kalangan wanita disebabkan oleh lisannya…

#selfreminder

BBO… Oh… BBO

childhood_3

Salah satu perangkat wajib dari pembelajaran di Kuttab adalah BBO (Belajar Bersama Orangtua). Ini semacam lembar portofolio yang berisi rangkuman materi ajar selama 2 pekan, tugas atau PR, dan laporan hasil pendampingan belajar (yang diisi oleh wali santri kemudian diserahkan kepada guru kelas). Namanya juga belajar bersama orangtua, maka lembaran BBO diserahkan kepada wali santri, rangkuman materi menjadi arsip bagi wali santri, dan penugasan adalah aspek wajib yang harus dikerjakan santri bersama orangtuanya.

Ada yang menarik hari ini. Membaca lembar BBO (Belajar Bersama Orangtua) hari ini diliputi rasa geli sekaligus terharu. Hehehe. 😀

BBO pertama.

Tugas: membiasakan diri untuk membaca ta’wudz ketika marah.

Laporan:

“Alhamdulillaah, ada kejadian menarik dari kaka Sholihah (nama disamarkan). Kemarin 2 adik dari kaka Sholihah bertengkar, adu mulut sampai pukul-pukulan. Tiba-tiba kaka Sholihah datang melerai. Ia memegangi si adik yang sedang marah, kemudian, “Dek, baca ta’awudz, baca ta’awudz!” Sambil mencoba men-talqinkan kalimat “A’uudzubillaahi minasy syaithanirrajiim…”. Bahkan ia juga menuntun si adik yang sedang tersedu-sedu itu untuk melantunkan terjemahnya, “Aku berlindung kepada Allaah dari godaan setan yang terkutuk…” Begitu terus berulang kali, sampai akhirnya si adik mengikuti komandonya, meski masih sambil tersedu-sedu. Ending cerita, alhamdulillaah, si kaka berhasil mendamaikan keduanya.”

BBO kedua.

Tugas: berlatih menangis saat membaca Al-Qur’an.

Laporan:

“Saya heran kenapa kaka Qonita (nama disamarkan), berkali-kali bolak-balik ke dapur untuk minum. Eh ternyata katanya… ini demi menuntaskan tugas bbo-nya kali ini. Dia bilang air matanya yang keluar hanya sedikit, setetes-setetes saja. Dan dia berharap dengan minum air yang banyak, air matanya jadi banyak juga…”

Rabbii hablii minash shaalihiin. Yaa Rabbanaa, jadikan anak-anak kami, anak didik kami, anak-anak di sekeliling kami, anak-anak di segala penjuru Bumi manapun, menjadi anak yang shalih, menjadi kebanggaan ummat, menjadi generasi yang membawa cahaya gemilang peradaban.

Saya percaya, seperti apapun kita sebagai orangtua (pendidiknya), segala keterbatasan kita, seberjuang apa kita mendidiknya, anak-anak memiliki fitrah yang luhur, bersih, dan mudah dekat pada kebenaran. Dengan mengharap ridha dan pertolongan-Nya, mari kawal fitrah anak-anak kita, wahai Ayah Bunda, dan segenap Guru… 🙂

best regards,

nina, guru yang tuntas belajarnya