Semir Sepatu

boot
bukan sepatu Fir’aun

Selalu ada harga yang harus dibayarkan untuk setiap pilihan hidup yang kita jalani. Yang lugu, lempeng, on the track, ada konsekuensinya. Yang nekad dan nabrak-nabrak, juga ada konsekuensinya.

Mau jilbaban, ada konsekuensinya. Lebar dikit terasa gerah, belum lagi nyinyir dari tetangga sebelah. “Hih, jilbab model apaan tuh segedhe gitu. Budaya Arab itu mah. Ga nusantara banget.”

Mau ga jilbaban, seksi-seksian, juga ada konsekuensinya. Kebuka atas, disuit-suit. Kebuka bawah, disawer-sawer. Mulai dari kelas televisi nasional –tawaran iklan sabun mandi sampai kacang goreng–, sampai kelas warung remang-remang yang colek dikit bayarannya pulsa telponan. Belum lagi kalo kebobolan. Nama baik keluarga? Ah, lupakan.

Mau jomblo tanpa pacaran, ada konsekuensinya. Paling banter, jadi bahan bully dan ojok-ojokan, “kamu kapan, kamu kapan”. Yang pacaran maju terus, juga ada konsekuensinya. Digantung, di-ha-te-esin, di-elo-gue-end-in, dan kegetiran semacamnya. Belum lagi kalo cemburu dikit, clurit melayang. Horor ya? Tuh, di tivi banyak.

Mau jual gorengan, jual sendal, jual ember cucian, angkut sampah, dorong gerobak sayur, nyemir sepatu orang, banyak konsekuensinya. Paling banter, soal stigma dan sistem kasta di negeri ini yang belum juga kadaluwarsa.

Tapi jangan dikira, tukang copet, mau yang dari kelas ekonomi sampai eksekutif, juga banyak konsekuensinya. Kalo copet kelas ekonomi, paling banter harus siap digebukin massa. Sementara yang eksekutif, harus siap menghuni bui rasa hotel bintang lima. Kedengerannya menggiurkan sih, tapi sekali copet mah ya copet aja, biarpun pake kostum jas parlente ala pangeran tuksedo.

Dalam hidup, kita seperti ga bisa lepas dari konsekuensi demi konsekuensi. Pedihnya, seringkali kita ga siap, ga sadar, bahkan ‘auk ah gelap’. Kita sering mendobrak-dobrak jalan pintas, sementara kita terlupa bahwa ga semua jalan pintas itu aman dilewati. Banyak ranjau, banyak jeblokan, sementara kita merasa jiwa kita begitu setrong melewati itu semua. Kita sering membercandai aturan-Nya, sementara kita di saat yang sama selalu mengemis ini dan itu, mengiba kemurahan-Nya.

Maka jika setiap jalan ada harga tiket masuknya, tidakkah kita pilih jalan yang ‘lebih kecil risikonya’? Setidaknya jalan yang membuat kita ga harus bayar dua kali lipat atau bahkan lebih. Sudah bayar di dunia, masih ditagih pula di akhirat. Meski kita pun sadar diri, ‘yang kecil risikonya’ saja belum tentu mampu kita lewati dengan selamat.

Duhai diri, betapa menjadi debu di sendal jepit Bilal bin Rabah jauh lebih berkelas di mata-Nya, ketimbang menjadi semir sepatu di sepatu parlente Fir’aun.

*ah lupakan, ini hanya remah-remah pikiran

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s