Petani dan Panen Rayanya

gmo-wheat

Bismillaah, sesekali nulis yang agak panjang dan serius. Moga bermanfaat… 🙂

Sungguh, tidak ada pendidik terbaik, guru terbaik, da’i terbaik, atau murabbi terbaik melebihi Rasulullah. Kalau ada pepatah, “Jika melihat ada orang sukses, keren, tersohor nama baiknya, tanyakan siapa orangtua dan gurunya…” barangkali itu ada benarnya.

Murid-murid terbaik tentu lahir dari hasil didikan terbaik, lewat sentuhan terbaik, dari tangan-tangan terbaik pula.

Sejenak mentadabburi QS. Al-Fath ayat 29…

Pada ayat inilah Allah telah menyifati bagaimana karakter hasil didikan Rasulullah.

(1) “…dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka (orang-orang yang beriman).”

Jadi ternyata, indikator keberhasilan proses tarbiyah yang pertama adalah soal wala’ wal bara’. Maa syaa Allaah, pembahasan yang ga main-main. Hasil didikan terbaik adalah mereka yang paham wala’ wal bara’-nya mau dibawa kemana. Terarah. Kepada siapa loyalitasnya diberikan, kepada siapa pula harus jaga jarak.

(2) “Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya…”

Karakter selanjutnya adalah bersemangat untuk selalu ingin menjadi yang terdepan dalam beramal shaleh, dimana tujuannya untuk mencari keridhaan Allah. Bukan karena takut, ga enak, atau bahkan cuma caper sama gurunya. Kalo boleh nyaingin Yamaha yang punya jargon “selalu terdepan”, maka bagi mereka, “Akhirat, selalu terdepan.” Jadi untuk urusan akhirat, jiwa kompetitif mereka akan selalu berpijar, menyala-nyala. Sedangkan untuk urusan dunia, mereka akan mengedepankan kaidah itsar, mendahulukan saudaranya. *dan ya Allaah, ini berat banget aplikasinya* T_T

(3) “Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud…”

Next, tanda bekas sujud ini tak sekadar jidat yang menghitam ya. Bukan itu. Melainkan imu dan amal yaumi dihiasi dengan akhlak mulia. Sholatnya, rukuknya, sujudnya meninggalkan bekas berupa pancaran kemuliaan akhlaknya. Akhlak mulia ini banyak sekali cabangnya. Panjang kalo mau didetailkan. Tapi termasuk di antara akhlak mulia yang utama adalah: MENJAGA LISAN. Karena, barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, falyaqul khayran aw liyashmut.

Tiga hal di atas jika benar-benar menjelma dalam diri para mad’u, anak-anak didik kita, niscaya, hasilnya tidak lain dan tidak bukan adalah:

“Ibarat benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu tumbuh menjadi kuat, besar, dan tegak lurus di atas batangnya.”

Kita terjemahkan kalimat di atas sebagai: Generasi yang berkualitas –sebagai analogi dari hasil panen yang ranum, panen raya–

Tapi ternyata ayatnya tidak berhenti sampai di situ…

“Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya…”

Termasuk di antara yang membahagiakan para guru adalah ketika melihat anak didiknya bisa LEBIH SUKSES ketimbang dirinya. Di antara ciri kesuksesan proses tarbiyah adalah ketika mampu mencetak generasi yang LEBIH HEBAT ketimbang guru-gurunya. Jadi berkualitas saja ga cukup ternyata ya… Tapi berkualitas dan bahkan bisa LEBIH BAIK daripada gurunya. :’)

Dan lagi-lagi, ayatnya belum berhenti sampai di situ…

“…karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”

Jadi, karakter yang tidak boleh luput adalah ketika hasil panen yang luar biasa mengagumkan itu… pada akhirnya mampu menggentarkan hati musuh-musuh Allah. Sungguh, tidak ada manfaatnya bibit unggul hasil rekayasa genetika, karena dalam jangka panjang, akumulasi residunya punya efek destruktif bagi tubuh.

Maksudnya…

Tidak ada artinya bibit unggul jika ternyata keunggulan kualitasnya justru dimanfaatkan oleh musuh-musuh Allah, baik disadari atau tidak. Dimanfaatkan secara ga sadar itu banyak. Bahkan seringnya begitu. Tapi dimanfaatkan secara sadar, ternyata juga ada! Bahkan memang karena dia maunya begitu… Kok bisa?

Jawabannya ada di poin nomor (2):

“Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya…”

Dan itu antitesisnya. Artinya, rukuk dan sujud mereka sudah bukan lagi untuk mencari wajah dan keridhaan-Nya. Melainkan mencari dunia dan seisinya.

Sekarang pertanyaannya, kita semua sebelum menjadi guru pasti pernah menjadi murid, kan? Lalu kira-kira kita ini, murid yang bagaimanakah karakternya? Sudahkah kita menjadi kabar gembira bagi orangtua kita, guru-guru kita? Sudahkah kita menjadi hasil panen yang dituai dengan senyum merekah dan tangis bahagia? Ayolah, jawab dalam hati aja. :’)

Yaa hayyu yaa qayyuum, birahmatika astaghiitsu, fa ashlihlii sya’nii kullahu, wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ain. Wallaahu a’lam.

*tulisan ini pertama kali kunasehatkan untuk diriku sendiri*

Iklan