Tetap Berprestasi dengan Hijab Syar’i

textgram_1493202477

Materi Kulwap FULDFEI (18 Februari 2017)

Dengan mengharap ridha Allaah, materi ini ditulis dan disampaikan oleh @laninalathifa. Semoga Allaah meridhai amal yang sedikit ini…

Bismillaahirrahmanirrahim,

Alhamdulillaah, hari ini istilah hijab syar’i sudah bukan lagi istilah asing. Bahkan ia sudah menjadi semacam trend. Semoga trend yang positif, yang menyadarkan Muslimah bahwa berhijab bukanlah puncak sebuah amal. Justru ia termasuk perkara dasar yang wajib diilmui dan diamalkan seorang Muslimah.

Hijab dimaknai sebagai penghalang. Sesuatu yang menghalangi. Memangnya apa yang dihalangi dari seorang perempuan? Ingat, perempuan dianalogikan sebagai perhiasan. Itu artinya, dari sisi dan sudut manapun, perempuan itu pasti memiliki daya tarik.

Maka hijab sebenarnya bisa dimaknai sebagai 2 hal.

Pertama, hijab sebagai pakaian, sebagaimana yang telah kita pahami selama ini. Fungsi hijab disini adalah untuk menutupi aurat. Lebar, longgar, tidak menerawang. Memakainya adalah untuk ‘menyembunyikan’ kecantikan, bukan malah untuk menarik perhatian.

Lalu hijab yang kedua adalah hijab interaksi. Terhadap siapa? Terhadap lawan jenis, terlebih yang bukan mahramnya. Islam mengajarkan adab-adab dalam bermuamalah, termasuk juga memberi batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Untuk itu islam begitu menjaga kesucian nasab, karena islam begitu menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Tak dipungkiri lagi, betapa pentingnya peran perempuan bagi sebuah peradaban. Bangkit atau runtuhnya sebuah peradaban tak pernah lepas dari sepak terjang kaum wanita. Karakter muslimah yang kokoh, atas izin Allah, dapat mendobrak tiga dinding keterbatasan, yaitu kebodohan, kebobrokan akhlak, dan rapuhnya ruhiyah. Ketiga hal inilah yang semestinya diwaspadai oleh muslimah.

Seorang wanita kelak akan melahirkan dan mendidik generasi. Lewat tangannyalah mereka mengukir generasi Qurani. Dari sekian tugas dan peran penting wanita dalam peradaban manusia, tentu kita memahami bahwa wanita bukan makhluk “kelas dua yang dipandang sebelah mata”. Wanita bukanlah budak peradaban sebagaimana anggapan orang jahiliyah terdahulu. Bahkan perilaku budaya masyarakat modern saat ini masih juga merendahkan kaum perempuan dengan menjadikan mereka komoditas di panggung hiburan. Beragam tayangan di layar kaca tak pernah absen mempromosikan tubuh-tubuh perempuan. Maka tak heran jika kemudian muncul istilah kejahiliyahan modern. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Menyadari betapa pentingnya peran Muslimah dalam membangun sebuah peradaban, tentu Islam telah mengatur bagaimana ia harus berkarya dan beraktivitas, dalam rangka mendukung peran fungsionalnya. Berikut ini saya coba ringkaskan 3 hal yang perlu diperhatikan oleh muslimah dalam berkarya dan beraktivitas.

Syar’i. Jangan pernah abaikan sisi syari’at dalam apapun aktivitas kita, sebab Islam adalah agama yang syumul (menyeluruh). Bahkan urusan buang air saja diuraikan dalam syari’at dengan begitu detailnya. Maka syar’i disini tidak hanya penampilannya saja, namun juga mencakup pemikiran, karakter, dan akhlaknya. Fisik, akal, dan ruhnya selalu hidup di atas nilai-nilai Islam dengan bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah. Teladannya adalah para shahabiyah, bukan artis-artis ibukotah. Makanan akalnya adalah ilmu yang bermanfaat, bukan majalah-majalah hiburan atau komik lucu sesaat. Suplemen ruhnya adalah Al-Quran, bukan lagu-lagu roman picisan.

Berprestasi. Prestasi disini tidak melulu soal akademik ya… Berprestasi bisa bermakna lebih luas dari itu. Intinya, seorang yang mampu melejitkan potensi dirinya untuk kemaslahatan dunia dan akhiratnya, disitulah ia bisa dikatakan sebagai muslimah yang berprestasi.

Menginspirasi. Menginspirasi disini maknanya adalah prestasi yang dilejitkannya itu membawa manfaat bagi umat, bagi orang banyak, bagi sekelilingnya. Oleh sebab itu, jangan jadi muslimah yang egois, apatis, cuek dengan lingkungan sekitar ya… Jadilah muslimah yang peduli, yang pikirannya tidak hanya berkelebat memikirkan dirinya sendiri. Ingat, sebuah peradaban besar itu tak pernah bisa dibangun sendirian! Dan tentu saja, tidak ada peradaban terbaik, kecuali peradaban Islami. Tidak ada kesibukan terbaik, kecuali sibuk dalam aktivitas dan amal Islami.

Hijab syar’i, benarkah ia menjadi penghalang muslimah dalam berkarya dan beraktivitas?

Mestinya kita tidak perlu pikir panjang untuk menjawab ini, sebab jawabannya jelas. TIDAK.

Kita pun tidak perlu pusing-pusing memikirkan alasan dari jawaban pertanyaan ini. Yang pertama dan utama, semua bermuara dari niat. Niat kita dalam berhijab. Semoga tiada jawaban lain selain untuk menunaikan perintah Allaah. Untuk beribadah kepada Allaah. Untuk mencari ridha Allaah.

Ya. Sebab hijab adalah perintah Allaah, bukan sekadar fashion trend. Yakinlah bahwa ketika Allaah memerintahkan sesuatu, pasti di baliknya ada hikmah dan kebaikan yang besar. Dan bagi sesiapa yang ikhlas berusaha melakukan perintah-Nya, seberjuang apapun itu, Allaah pasti akan menolongnya dan membalas jerih payahnya dengan sebaik-baik balasan.

Jadi kalau niat kita sudah benar, tentu pertanyaan-pertanyaan usil semacam di atas tidak perlu lagi menghantui pikiran kita. Jangan takut ‘ga laku’ hanya karena kita berhijab syar’i. Jangan khawatir seret rizki hanya karena kita berhijab syar’i. Jangan cemas ga bisa sekolah tinggi hanya karena kita berhijab syar’i. Percayalah, Allaah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berusaha taat. Tidak ada tips lain dalam hal ini, kecuali menguatkan keyakinan dan meluruskan niat dalam berhijab.

Lalu biar aktivitas kita tetep bisa syar’i dengan hijab syar’i gimana sih?

Kembali ke poin di atas. Tentang makna hijab. Jadi dalam aktivitasnya sebagai muslimah, makna hijab jangan dipahami setengah-setengah. Sekali lagi, hijab bukan cuma urusan pakaian saja. Hijab syar’i mestinya dihiasi dengan rasa malu. Bukan sekadar dihiasi bros cantik. Hijab syar’i mestinya menjadi ‘penghalang’ seorang muslimah untuk melakukan hal-hal yang dapat menjatuhkan muru’ah (kehormatan) dirinya.

Bingkailah rasa malu pada tempatnya. Jangan sampai terbalik. Di antara malu yang tidak pada tempatnya adalah malu untuk menuntut ilmu, malu untuk mengembangkan potensi diri (minder), atau malu untuk menunjukkan identitas kemuslimahannya karena malu kalau-kalau mendapat label negatif dari orang-orang. Misalnya, dicap sok alim, sok suci, sok baik, teroris, blablabla. Ingat, bahkan para Nabi terdahulu pernah mendapat predikat yang lebih keji dari itu. Maka selain dihiasi dengan rasa malu, hiasilah pula hijab syar’i dengan kesabaran… 🙂

In syaa Allaah segini dulu yah. Semoga sedikit sharing hari ini bermanfaat. Mohon maaf pabila ada silap kata. Semoga Allaah senantiasa membimbing kita dalam berilmu dan beramal. Aamiin.

Sedikit closing statement dari saya…

Hijrah kita jangan berhenti di titik hijab syar’i. Lejitkan potensi diri, meraih ridha illahi, jannah adalah tempat kita mengistirahatkan diri…

Iklan

Emansipasi; Dari Siapa Untuk Siapa?

textgram_1493202083

Semarang, 23 April 2017 (26 Rajab 1438)

Bismillaahirrahmanirrahim,

Jadi gini, ini adalah materi Kulwap UKKI UNNES. Iya, ceritanya lagi sok-sokan ngisi kulwap, hehehe. 😀 Tempo hari dimintai tolong teman untuk cuap-cuap di grup whatsapp Lentera Muslimah. Bismillaah, saya iyain aja. Menyadari kekurangan dan ke-apalah-an saya, menyanggupi tawaran itu semata-mata berharap ada manfaat dan barokah dari cuap-cuap lewat dinding maya. Semoga Allaah ridhai amal yang sedikit ini. 🙂

Topik diskusinya kemarin tentang emansipasi. Sebenarnya ini adalah pengalaman kedua saya ngisi kulwap. Artikel kulwap pertama saya share menyusul yah. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.


Sesi materi

Sebenarnya emansipasi itu apa sih? Saya kutipkan dulu definisinya dari KBBI ya:

Emansipasi adalah (1) pembebasan dari perbudakan, (2) persamaan hal dalam berbagai aspek kehidupan; proses pelepasan diri wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju.

Hari Kartini 21 April lalu identik dengan topik emansipasi, sebab sampai hari ini rakyat Indonesia masih percaya bahwa emansipasi adalah buah pikir yang diperjuangkan Kartini. Tapi pertanyaannya, emansipasi yang bagaimanakah yang diinginkan Kartini? Persamaan hak di sisi manakah yang diperjuangkan Kartini? Konteks ini seringkali luput ditelisik para wanita, bahkan Muslimah –sebagai kaum yang diwarisi Al-Qur’an dan As-Sunnah– seakan-akan ikut terbawa arus emansipasi yang maknanya masih berkabut.

Kita coba bold dulu definisi KBBI di atas. Persamaan hal dalam berbagai kehidupan. Bermuara dari definisi ini diusunglah tema-tema seputar kesetaraan gender.

Lalu pertanyaannya, mungkinkah?

Beberapa hari ini saya sedang asik menikmati tulisan Buya Hamka dalam 2 bukunya. Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan dan yang satu lagi berjudul Ghirah, Cemburu Karena Allah.

Izinkan saya mengutip dan mengisahkan beberapa isinya disini ya. Menarik sekali. 🙂

Dalam buku pertama (Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan), ulama perintis Majelis Ulama Indonesia ini menuliskan bahwa Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan bukanlah berarti bahwa pekerjaan yang hanya bahu lelaki yang kuat memikulnya, lalu perempuan disuruh pula memikulnya.”

Tentu sesuatu yang mustahil jika laki-laki dan perempuan yang memang secara kodratnya diciptakan berbeda, lalu mereka menuntut hak yang sama dalam segala hal. Islam, sebagai agama yang syumul (menyeluruh), dalam syari’atnya bahkan menetapkan perintah yang ‘cocok’ dengan kondisi perempuan.

Ada kisah menarik yang saya dapatkan juga di buku Buya Hamka. Ketika itu beliau mengisahkan bahwa di tahun 1938, di Minangkabau, ada pemuda yang dipenjara 15 tahun karena membunuh seorang lelaki ketahuan menzinahi saudara perempuannya. Ketika lelaki itu ditanya tentang hukuman yang diterimanya, ia menjawab dengan mantap, bahwa ia senang dan legawa menerima hukuman itu. Justru jika ia diam ketika menyaksikan saudara perempuannya dinodai kehormatannya, itulah sebuah kehinaan yang besar. Sebuah kecemburuan yang mulai pudar hari ini…

Perempuan, secara fitrahnya memang butuh dilindungi, diayomi, dididik, dan dibina. karena itulah Islam mengibaratkannya gelas-gelas kaca, yang butuh kelembutan dalam merawatnya.

Emansipasi yang didengungkan hari ini jelas lahir dari pemikiran sekuler yang ingin mencabut sense of belonging umat Islam terhadap agamanya. Para perintisnya mencoba menggiring pemahaman Muslimah untuk menuntut persamaan hak di segala bidang, dengan dalih emansipasi.

Peradaban Barat, yang begitu keukeuh memperjuangkan hal ini, justru menampilkan ketidakadilan pemikirannya sendiri di berbagai tempat. Salah satu contohnya di Inggris. Di dalam UU Inggris, ketika seorang perempuan bersuami, seluruh hartanya akan menjadi milik suaminya. Selain itu, Barat juga memiliki kultur yang bertentangan dengan ajaran Islam, yaitu menasabkan nama perempuan dengan nama suaminya. Bukankah kultur semacam ini secara tidak langsung mencederai makna emansipasi itu sendiri? Perempuan yang menikah seolah menjadi hak penuh suaminya, dimana ia tak memiliki hak atas dirinya sendiri. Tak heran, di Barat angka perceraian begitu tinggi, sehingga mereka memilih tradisi kumpul kebo ketimbang menikah. Perempuan Barat banyak yang takut menikah karena konsekuensi hukum yang tidak mudah.

Sekali lagi, Allah telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan fitrah penciptaan yang berbeda. Semua tentu mengandung hikmah yang besar. Kedudukan yang sederajat di sisi Allah adalah dalam usaha mereka meraih gelar takwa. Tapi pada praktik fungsionalnya, perempuan tetaplah perempuan, lelaki tetaplah lelaki.

Untuk itu mengapa lelakilah yang disebut sebagai qowwam. Mengapa perempuan diciptakan diciptakan dari tulang rusuk. Mengapa lelakilah yang diwajibkan mencari nafkah. Mengapa perempuan diperintahkan taat kepada suami dan mendidik anak-anaknya.

Tentu semua ada hikmah yang begitu indah… 🙂


Sesi tanya jawab

Tanya 1: Apakah emansipasi adalah bagian dari ghazwul fikri?

Jawab: Jika emansipasi yang dimaksud adalah persamaan hak lelaki dan perempuan di segala bidang, sebagaimana yang didengungkan kaum sekuler, tentu itu bagian dari ghazwul fikri, perang pemikiran, yang tujuannya mencabut ruh Islam dari akal dan hati kaum muslimin.

Tanya 2: Bagaimana menanggapi hal ini? Bolehkah kita memperingati dan meneladani sosok Kartini?

Kalau memperingati, sebagai umat Islam tentu kita mencukupkan diri dengan hari Raya yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Itulah hari besar umat Islam yang disunnahkan untuk dirayakan dengan penuh kegembiraan. Merayakannya (dengan memperhatikan kaidah syar’i) akan mendulang pahala, in syaa Allaah.

Lalu jika pertanyaannya, bolehkah meneladani sosok Kartini? Sebagaimana artikel yang saya tulis sebelumnya, lalu di-repost di Kiblat Muslimah (Kartini dan Kodrat yang Pudar), tulisan-tulisan seputar Kartini masih begitu simpang siur kebenarannya. Banyak pro-kontra soal status kepahlawanannya, meski pada artikel tersebut saya menyoroti salah satu isi surat yang disebut-sebut milik Kartini, dimana isi surat tersebut memang ada benarnya, bahwa ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya.

Maka saya sampaikan bahwa sebagai Muslimah, kita tak perlu ikut bingung. B Allah dan Rasul-Nya telah menjamin kebaikan agama dan akhlak para istri Rasulullah, yang mendapat gelar sebagai Ummahatul Mukminin; Ibunda orang-orang yang beriman? Jadi semestinya merekalah yang lebih dulu kita jadikan panutan. Merekalah ibu kita, ibunda para Muslimah…

Adapun pahlawan Muslimah dari Indonesia, tidak hanya Kartini sebenarnya. Ada Rohana Kudus, Rahmah El Yunusiyah, dsb.

Tanya 3: Bagaimana sudut pandang Islam tentang kepemimpinan wanita.

Ada nash yang sangat jelas akan hal ini. Coba dibuka QS. An-Nisaa’: 34

Ar rijaalu qowwamuuna ‘alan nisaa.

Lelakilah yang dipilih menjadi pemimpin wanita. Mengapa?

Mari kita garisbawahi kalimat berikutnya,

Bimaa fadhdholallaahu ba’dhohum ‘alaa ba’dhin.

Karena Allaah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk menjadikan laki-laki sebagai pemimpin kaum wanita karena kelebihan yang telah dianugerahkan Allaah kepada kaum lelaki. Kelebihan yang khusus diberikan kepada laki-laki inilah yang mendukung peran fungsionalnya sebagai pemimpin.

Termasuk pada aplikasinya, konsensus ulama mewajibkan syarat seorang khalifah atau pemimpin negara adalah laki-laki. Pucuk kepemimpinan tertinggi haruslah diamanahkan kepada laki-laki.

Ada perbedaan pendapat ulama mengenai boleh tidaknya jika wanita memimpin dalam lingkup yang lebih sempit (dalam kondisi heterogen; lelaki dan perempuan dalam satu tempat). Pendapat yang membolehkan memberlakukan syarat yang cukup ketat, di antaranya adalah ketiadaan laki-laki yang berkompeten untuk mengurus hal tersebut.

Tentu hal di atas sama sekali bukan bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Justru berlakunya syari’at tersebut adalah untuk melindungi fitrah perempuan.

Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan bukanlah berarti bahwa pekerjaan yang hanya bahu lelaki yang kuat memikulnya, lalu perempuan disuruh pula memikulnya.”

Bahu perempuan tidak didesain untuk memikul amanah yang amat berat sebagai khalifah atau pemimpin negara. 🙂

Closing statement

“Sesungguhnya laki-laki dan wanita yang Muslim, laki-laki dan wanita yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan wanita yang berlaku benar, laki-laki dan wanita yang sabar, laki-laki dan wanita yang khusyu’, laki-laki dan wanita yang bersedekah, laki-laki dan wanita yang berpuasa, laki-laki dan wanita yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan wanita yang banyak mengingat Allaah, sungguh Allaah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Beginilah Islam mengajarkan kita ’emansipasi’…

Wallaahu ta’ala a’lam. Wastaghfirullaah, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamin, semoga bermanfaat. 🙂

Kartini Masa Kini dan Kodrat yang Pudar

kartini 2017

Euforia selebrasi 21 April masih berulang di tahun ini. Anak-anak sekolah kembali memecah perhatian para pengguna jalan dengan kilauan perhiasan sanggul, busana, dan kosmetik yang katanya “Ala Kartini”. Didukung dengan perangkat elektronik canggih abad ini, anak-anak perempuan penerus bangsa itu juga turut disibukkan dengan berfoto ria di setiap sudut jalan dan ruang, mengabadikan momen dan bedak yang tidak anti luntur. Ada yang berkelindan dalam pikiran. Seperti inikah style Kartini tempo dulu? Inikah yang dulu diperjuangkan Kartini lewat tulisannya? Lalu dimanakah sebenarnya relevansi antara meneladani spirit belajar Kartini dengan merias rupa anak-anak sekolah dengan make up super tebal?

Terpisah dari anak-anak perempuan dan para calon ibu di masa depan itu, tulisan-tulisan seputar Kartini masih membanjiri media sosial. Siapa dan bagaimana Kartini terus menuai pro-kontra. Ada yang menyoroti fakta kedekatan Kartini dengan Belanda dan Theosofi. Ada juga yang menelisik sisi spiritualitas Kartini. Namun kali ini, mari sejenak kita melepaskan diri dari pro-kontra Kartini, sang putri priyayi.

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902)

Salah satu isi surat Kartini di atas mungkin jarang dibicarakan. Padahal, isi surat tersebut justru merefleksikan apa yang selama ini menjadi mimpinya. Mengapa ia begitu bersemangat menyuarakan pendidikan bagi kaum perempuan. Ternyata karena Kartini menyadari peran domestik perempuan sebagai madrasah bagi buah hatinya, dan ia ingin kaumnya juga menyadari peran vital itu.

Kartini kala itu merasakan sendiri bagaimana perempuan tidak dipenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan. Mereka menghabiskan waktu dalam pingitan, bagaikan burung yang terpenjara dalam sangkar. Ia menyadari posisinya kala itu dan tak ingin terus terkungkung dalam kondisi demikian. Kartini mendobrak tradisi itu. Kartini melawan. Kartini berjuang. Ia dan kaumnya merasa berhak memperoleh pendidikan.

“…Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anakTangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Lantas bagaimanakah ibu dapat mendidik anak kalau ia sendiri tak berpendidikan?”

Hampir di setiap suratnya, Kartini mengangkat tema besar tentang pendidikan perempuan. Ia bertumpu pada persoalan bahwa perempuan adalah sekolah pertama bagi buah hatinya, generasinya. Namun yang mengherankan, hari ini apa yang didengungkan oleh khalayak tentang emansipasi, yang konon lahir dari buah pikir dan perjuangan Kartini, justru seakan menjauhkan perempuan dari semangat keibuan itu sendiri. Spirit back to home justru dipandang sebelah mata dan dianggap menyalahi konsep emansipasi wanita.

Emansipasi yang diterjemahkan publik hari ini adalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Perempuan berkarir sebebas mungkin, berpendidikan setinggi mungkin, memperoleh kesetaraan hak dengan lelaki di setiap lini, berlomba mengembangkan diri dan meraih prestasi, namun mereka terlena dengan itu semua hingga lupa bahwa Allah menitipkan rahim dalam jiwa dan tubuhnya. Rahim dalam jiwa berupa kelembutan dan kasih sayang, rahim dalam tubuh berupa “wadah” untuk tempat bertumbuh janin yang kelak menjadi generasi penerusnya. Kedua hal ini adalah fitrah mulia yang tak dimiliki kaum lelaki.

Perempuan mendadak lupa kodrat bahwa di belakangnya ada generasi yang menantinya untuk dididik dan dibesarkan sepenuh jiwa. Perempuan juga mendadak lupa betapa terhormatnya kedudukan istri yang taat kepada suaminya, melebihi kehormatan gelar duniawi yang berhasil diraihnya. Bukankah prestasi ini yang telah ditawarkan oleh Rasulullah kepada kaum wanitanya? Lalu mengapa para Muslimah seakan berlomba mencari kemuliaan lain di luar semua itu?

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan dan kehormatannya (dari perbuatan zina), dan ia taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR. Ahmad)

Perempuan masa kini barangkali sudah terlalu sibuk memoles fisik, berusaha eksis di mata publik, tapi jika ditanya kesiapan dan kesadarannya menjadi ibu pendidik, seolah mereka terdiam tak berkutik. Jadi benarkah emansipasi hari ini telah ditempatkan sesuai kodrat dan fungsinya? Jika belum, sudah saatnya kita tak lagi terjebak pada euforia selebrasi semata. Untuk apa mempercantik fisik “ala Kartini” jika pola pikir kita justru kontradiktif dengan apa yang selama ini Kartini perjuangkan.

Euforia hari Kartini semestinya tidak membuat kita menanggalkan fitrah keperempuanan yang kita miliki. Kartini tak pernah meminta dibebastugaskan dari kewajiban sebagai seorang ibu dan istri. Melalui surat-suratnya, Kartini seolah berpesan kepada perempuan untuk bangun dan sadar terhadap kodratnya sebagai “ratu” di dalam rumah yang terhormat; menjadi istri pendukung suami dan ibu pendidik generasi. Tentu untuk melakukan dua tugas besar ini, perempuan membutuhkan ilmu dan pendidikan.

Sekali lagi, terlepas dari pro-kontra soal kisah kepahlawanan Kartini, sebagai Muslimah semestinya kita tak ikut limbung dan hilang arah. Tak ada yang perlu dirayakan dari 21 April, tak ada yang istimewa dari tanggal itu. Islam telah lebih dulu mengajarkan kita spirit keilmuan dan pendidikan, sesuatu yang konon begitu diperjuangkan Kartini. Namun demikian, esensi perjuangan Kartini semestinya juga dimiliki para Muslimah untuk berkarya dan berprestasi dari dalam rumah. Sebagai umat yang diwarisi Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai pengaburan makna emansipasi justru mencederai fitrah kita sebagai perempuan, sebab dien kita telah menempatkan perempuan pada kedudukan yang mulia.

Salam,

Nina dan keresahannya. 🙂

Menyatukan Frekuensi

munir 2

Pernah suatu saat saya terbayang, sebenarnya apa sih yang membuat Suciwati kala itu begitu mantap menerima pinangan Munir; lelaki yang “sukses” menjadi “buronan” aparat pemerintah karena keberanian level singa dalam mengungkap borok dalam kasus penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Tapi seketika rasa penarasan saya terjawab karena teringat sebuah kalimat, bahwa seorang lelaki bermental singa, tentu layak mendapatkan perempuan yang bermental singa pula. Saya rasa, keduanya memang klop. Laiknya pedang bertemu baju besinya yang saling menjaga, menguatkan, dan mendukung. Kisah Munir dan orang-orang bermental pejuang yang semisal dengannya, memang selalu menarik diungkap dari sisi yang berbeda. Sebagai wanita, tentu kita perlu tertarik untuk menelisik kisah sepak terjang sang istri. Apa yang membuatnya seberani itu bersuamikan lelaki yang namanya –jika boleh dikatakan–, “di-blacklist pemerintah”, karena dianggap membahayakan kaum elite yang haus harta, tahta, dan tentu saja… darah.

“Pahlawan adalah Martir Kebebasan.”

Saya teringat kata-kata Suciwati tentang sang suami, yang diungkapkannya pada bulan April dua tahun silam saat acara peresmian jalan Munir di kawasan Den Haag, Belanda. Ia berujar bahwa suaminya pernah menuturkan, seorang yang pantas disebut pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara.

munir 1

Pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara. (Munir Umar Thalib)

Wanita yang sempat menyayangkan mengapa nama suaminya justru “diabadikan” di negeri lain, bukan di tanah kelahiran suaminya sendiri inipun menambahkan, “Nilai-nilai yang diyakini dan hal-hal baik yang dilakukan oleh seorang pejuang kebenaran tak perlu dikenang (dengan penghargaan, –ed).” Karena baginya, kebenaran dan keadilan adalah sesuatu yang pantas diperjuangkan siapapun di muka bumi ini, entah dihargai atau tidak.

Peran Ganda Seorang Istri

Sepak terjangnya mengungkap dalang pembunuh sang suami yang hingga saat ini belum juga terungkap tuntas, tak putus dilakukannya. Di samping itu, ia adalah seorang single fighter yang berperan ganda; mendidik dan membesarkan anak-anak, serta menjadi ‘benteng pertama’ dalam mem-back up perjuangan suaminya. Tidak itu saja, bahkan (menurut sebuah sumber yang pernah saya baca) Suciwati bersama rekan-rekannya mendirikan taman kanak-kanak di Malang. Luar biasa, bukan? Tentu ketangguhan semacam ini patut diapresiasi bahkan ditiru wanita masa kini. Betapa wanita tidak selalu identik dengan sifat lemah dan tak berdaya. Kelembutan naluri tidak berarti berbanding lurus dengan kelemahan mental.

Fitrah wanita sebagai pendidik generasi yang menuntut kita memahami dunia anak-anak, bahkan tak jarang membuat kita perlu bertingkah seperti anak-anak, tak berarti membuat jiwa dan karakter kita kekanak-kanakan juga, bukan?

Menikah; Seni Menyatukan Frekuensi

Suciwati tidak pernah berjuang seorang diri, sebab istri-istri pejuang telah diwakilkan oleh banyak nama. Suciwati adalah salah satu potret wanita tangguh. Bahkan jauh sebelum Munir berjuang bersama istrinya, memperjuangkan sesuatu yang telah menjadi nafas dalam geraknya, Nabi Ibrahim juga telah berjuang bersama istrinya, Hajar. Memperjuangkan sebuah keyakinan, “Jika yang kita kerjakan ini adalah perintah Allah, niscaya kita takkan pernah disia-siakan oleh-Nya.”

Atau sebagaimana kebenaran abadi yang diperjuangkan Rasulullah bersama Khadijah, di masa-masa kritis awal mereka berdua berjuang dan bergerak. Atau sebagaimana istri Najmuddin Ayyub yang mencari suami yang sefrekuensi visi dengannya, hingga akhirnya –bi idznillah, bermula dari kesamaan visi itulah lahir Shalahuddin Ayyub, Al-Fatihnya Palestina. Lalu ada juga istri Buya Hamka yang pernah mengingatkan suaminya untuk “menjauhi kursi penguasa” karena baginya amanah sebagai seorang penjaga masjid lebih utama di sisi Allah.

Menyinggung Suciwati, saya pun teringat istri Siyono (Allahu yarham), Mufida. Segepok “uang tutup mulut” dari aparat pemerintah atas kasus pembunuhan suaminya; imam masjid yang ditangkap tanpa surat izin penangkapan lalu pulang dalam kondisi nyawa telah meregang, ditolaknya mentah-mentah. Sebuah perjuangan mempertahankan izzah dan keyakinan yang patut diteladani.

Barangkali apa yang menjadi inspirasi dan nafas perjuangan Munir dan istrinya tidak sama dengan beberapa contoh figur teladan di atas. Tapi skenario hidup yang mereka alami serupa. Kehilangan seorang suami atau bahkan istri pejuang. Kehilangan nahkoda atau awak perjuangan. Kehilangan belahan jiwa yang dicintai, bahkan lebih dari sekadar belahan jiwa. Sebab nafas perjuangan mereka telah mengalir sehati sejiwa. Skenario semacam itu tentu berpotensi membuat oleng bahtera yang tengah berlayar di tengah samudera yang berombak ganas. Namun sejak awal, mereka telah memilih mengikrarkan akad mitsaqan ghalizha di atas sebuah kesamaan frekuensi, keselarasan visi dan misi. Kesamaan frekuensi inilah yang menjadi benih awal timbulnya sakinah, ketenangan dalam rumah tangga. In sya Allah.

JCPP

Kesamaan Tujuan adalah Titik Awal Keberangkatan

Bermodalkan rasa “klik” yang tumbuh dari kesibukan yang sama di dunia advokasi buruh, meski ia sendiripun telah menyadari konsekuensi jika hidup bersama Munir, Suciwati menerima pinangan aktivis HAM itu. Katanya, “Karena apa yang kami perjuangkan sama…”

Kesamaan tujuan dan ruang gerak inilah yang memang lebih mudah menumbuhkan ketenangan jiwa, karena kita paham apa yang partner hidup kita kerjakan, bagaimana lingkungan dan rekan-rekan kerjanya, serta yang lebih penting adalah memahami bagaimana risiko dan konsekuensi menjalani hidup bersamanya. Saya tidak mengatakan bahwa guru tidak cocok dengan dokter, atau relawan kemanusiaan tidak klop dengan pegawai kantoran karena atmosfer dan konsekuensi ruang gerak yang berbeda. Tapi yang ingin saya garisbawahi adalah kesetaraan ghoyyah (tujuan) dalam mengarungi bahtera pernikahan, agar pernikahan itu tak sekadar digadang-gadang keindahannya di dunia, namun abadi hingga surga.

Maka jika boleh merumuskan teori, jangan cari pasangan yang pasang gelarnya cuma sampai S2 (sehidup semati), ini jelas sangat kurang. Atau cuma S3 (sehidup semati seperjuangan), ini juga masih kurang. Tapi carilah yang S4 (sehidup semati sesurga seperjuangan), nah barangkali ini barulah lengkap. 🙂

Yaa Rabb, anugerahkanlah kepada kami keshiddiqan dalam ghayyah, keikhlasan dalam melangkah, serta kesabaran dalam memperjuangkan Jannah. Aamiin.

Best regards,

Nina dan remah-remah pikirannya 😉