Mewariskan Keshalehan

mewariskan keshalehan

Allaah akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak Allaah di waktu mudanya. Allaah akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan, kecerdasan, bahkan hingga keturunannya. Maka jagalah hak-hak Allaah di masa-masa lapang, agar Ia menjaga kita di masa sempit dan hilang kekuatan.

Visioner. Inilah yang seharusnya menjadi karakter utama seorang Muslim. Pandangan hidup seorang Muslim tidak sekadar berkutat pada kehidupan dunianya saja, melainkan terbentang jauh hingga kehidupan setelah matinya; akhirat. Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga, keluarga Muslim hendaknya tak sekadar mengupayakan kebahagiaan semu di dunia, namun juga kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya.

Keluarga bervisi akhirat tentu berpangkal dari pasangan yang visioner pula. Keluarga yang sholeh akan melahirkan anak-anak yang sholeh pula, atas izin Allaah. Sebuah pohon yang tumbuh subur dengan buah yang ranum, tentu berasal dari benih yang baik dan akar yang kuat. Keshalehan ayah dan ibu adalah faktor penentu keshalehan anak-anak.

Mari kita luangkan sejenak akal dan hati kita untuk merenungi sebuah kisah berharga dari seorang pemuda sholeh. Ia adalah seorang pemuda yang kokoh keimanannya, meski ujian keimanan justru datang dari keluarganya sendiri; ayahnya. Siapakah pemuda mengagumkan ini?

Ya, dialah Ibrahim ‘alayhissalam, seorang Nabi sekaligus kekasih Allaah. Sebelum kita menyimak pribadinya sebagai seorang ayah, terlebih dulu kita simak bagaimana Al-Qur’an telah mengabadikan gambaran kokohnya aqidah Nabi Ibrahim tatkala masih belia. Pada surah Al-Anbiya’ ayat 52 – 70, tergambar jelas bagaimana Ibrahim mencoba berdiskusi tentang keimanan kepada Allaah terhadap ayahnya. Bahkan dengan sepenuh keberanian, ia menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya.

Tatkala Ibrahim telah menjadi ayah, keshalehannya pun terus memancar kuat. Hal ini tergambar jelas ketika turun perintah Allaah untuk menyembelih putra kesayangannya, Isma’il alayhissalam. Tak keluar sedikitpun gerutu dari lisannya ketika menerima titah seberat itu. Simak juga bagaimana penuturan Isma’il ketika sang ayah menanyakan pendapatnya tentang perintah Allaah tersebut. “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allaah kepadamu. In syaa Allaah, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kini kita beralih pada kisah seorang pemuda mengagumkan lainnya. Ialah Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Siapakah di antara kita yang belum mendengar kisahnya yang menakjubkan? Ia adalah seorang yang dipercaya menjadi “asisten” Rasulullaah tatkala usianya masih sangat belia. Ia juga salah seorang dari 7 shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Ibarat perguruan tinggi, Anas bin Malik telah banyak “meluluskan” ulama-ulama hebat dalam sejarah.

Keshalehan dirinya tak diragukan lagi, sehingga suatu ketika beliau pernah didoakan Rasulullaah, “Ya Allaah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya.” Maka benar saja, berkat doa Nabawi tersebut, terkumpullah beberapa keistimewaan padanya; usia yang panjang, anak yang banyak dan sholeh, harta yang banyak, serta ilmu yang luas. Maa syaa Allaah!

Membicarakan Anas bin Malik tentu tak lepas dari peran besar sosok ibunda sholehah yang telah membentuk kepribadian dan mendidik akhlaknya. Ialah Ummu Sulaim radhiyallaahu ‘anha, seorang yang ibu yang rela “menghadiahkan” anaknya di usia 8 tahun kepada Rasulullaah, sebagai bentuk kecintaannya kepada beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Dari sekelumit kisah nyata di atas, kita dapat memetik sebuah pelajaran berharga. Keshalehan Ibrahim telah terbentuk sempurna di usia mudanya, sebelum ia berumah tangga. Isma’il pun mewarisi keshalehannya. Keshalehan Ummu Sulaim telah diwariskan kepada Anas bin Malik. Anas bin Malik pun telah mewariskan keshalehannya kepada seluruh keturunannya.

Maka sampai disini, semoga kita telah memahami betapa pentingnya membangun keshalehan diri –sesuatu yang layak diperjuangkan di masa-masa single, ketimbang terus menghabiskan waktu dalam kegalauan yang berpotensi memandulkan produktivitas.

Kisah di atas menjadi pengingat bagi generasi muda, para ikhwan dan akhwat yang akan maupun sedang memulai langkah membangun keluarga. Keshalehan di masa muda akan lebih mudah diwariskan daripada keshalehan yang dibangun tatkala rambut telah dipenuhi uban. Hal ini semata-mata merupakan bentuk penjagaan dan balasan Allaah bagi orang yang telah bersungguh-sungguh menjaga hak Allaah di masa mudanya.

Kisah di atas semoga juga menjadi pengingat bagi orang tua agar terus berupaya membimbing anak-anak mudanya dalam bingkai keimanan, agar kelak mereka memiliki bekal yang memadai saat amanah menjadi suami, istri, ayah, atau ibu bergulir di pundak mereka.

Sungguh, peradaban besar bercahaya dimulai dari keluarga, dari rumah-rumah kita. Oleh sebab itu, jadikan pernikahan sebagai momentum melipatgandakan ketakwaan, mengakumulasi semangat perbaikan, dan meregenerasi keshalehan… In syaa Allaah.

Persiapkan perbekalan menuju perjalanan panjang!

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lil muttaqiinaa imaamaa. Rabbanaa hablanaa milladunka dzurriyyatan thayyibah. Rabbanaa wa taqabbal du’aaa’…

[Rekomendasi bacaan]

‘Ulwan, Abdullah Nashih. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Solo: Insan Kamil. 2012.

Al-‘Adawy, Musthafa. Fiqih Tarbiyah Abna wa Tha’ifah min Nasha’ih Al-Athibba. Jakarta: Qisthi Press. 2006.

Baswedan, Sufyan bin Fuad. Ibunda Para Ulama. Jakarta: Pustaka Al-Inabah. 2014.

Ashari, Budi. Inspirasi dari Rumah Cahaya. Depok: CS Publishing. 2014.

Klepon Brokoli

Bukan foto sebenarnya (poorskinnychef.wordpress.com)
Maaf ya, foto di atas bukan foto sebenarnya. Soalnya, begitu hasil eksperimen saya ini mateng dan sukses (alias bisa dimakan), saya terharu, ga sempat foto-foto, apalagi foto selfie bareng si klepon. Yang penting beneran jadi, alhamdulillaah… Bdw, karena pewarnanya murni dari sari brokoli, alhasil, warna hijaunya ga terlalu kontras, cenderung lebih pucat. Tapi enak kok, beneran! 😀
Selamat bereksperimen, semoga sukses.

.: KLEPON BROKOLI :.

A. Bahan bulet-bulet
25 sdm tepung ketan putih
5 sdm tepung tapioka/kanji

B. Bahan pewarna (sekaligus tambahan nutrisi)
100 gram brokoli
3 lembar daun pandan, potong-potong

C. Bahan isi dan taburan
100 gram gula jawa, iris kecil
50 gram kelapa parut

Cara membuat
1. Campur bahan bulet-bulet dengan sejumput garam, aduk rata, sisihkan
2. Blender brokoli dan daun pandan. Brokoli sengaja diblender mentah biar kandungan gizinya ga banyak yang hilang karena 2x pemanasan. Saring.
3. Campur brokoli yang telah dihaluskan dan disaring dengan bahan A, tambahkan air hangat sedikit demi sedikit, uleni sampai kalis (adonan tidak menempel di tangan)
4. Pipihkan adonan, isi dengan gula jawa, bentuk bulatan
5. Rebus adonan ke dalam air mendidih sampai mengapung, tunggu 2-3 menit biar matang sempurna, angkat
6. Sajikan bersama taburan kelapa

Hasil Jadi: 25-30 bulatan (tergantung ukuran)

Nilai Gizi Per Porsi (1 Porsi = 4 bulatan)
Energi: 221 kkal
Protein: 2,8 gram
Lemak: 1,6 gram
Karbohidrat: 48,8 gram

Pismol Isi Coklat

*nostalgia resep 😀

Bahan:
(2 pangkat 3 dikurangi 2) buah pisang. Saya pake pisang raja, kebetulan di rumah adanya itu, udah kehitaman pula, hihihi
Cokelat secukupnya (saya pake meses, kalo ga suka, boleh pake yang lain)

Kulit molen:
(20 pangkat 2 dikurangi 50) gram terigu
(√100 x 5) gram gula pasir (lebih baik pilih yang kekuningan, kalo putih banget, khawatir di-bleaching #tips)
(5 pangkat 3) gram margarin (Jawa: bluben), lelehkan
0,5 sdt vanilli bubuk
0,25 sdt garam
(√25 x 3 x 10) ml air mateng

Cara membuat:
a. Isi: Pisang dibelah menjadi 2 bagian, kemudian potong-potong (p x l x t terserah)
b. Kulit:
– Campur semua bahan kulit yang berjenis kering (terigu, gula, vanili, garem)
– Masukkan margarin leleh, aduk rata
– Tambahkan air sedikit demi sedikit sampai adonan kalis (kalis = ga nempel di tangan)
– Giling adonan sampai tipis
– Gulung pisang bersamaan dengan coklat meses. Lanjutkan sampai adonan habis
– Goreng dengan api sedang sampai kuning keemasan
– Angkat, hidangkan, tunggu agak dingin

Hasil Jadi: 20 buah
Nilai Gizi Per Porsi (1 buah):
Energi              = 194 kkal
Protein             = 2,2 g
Lemak             = 11,2 g
Karbohidrat     = 22,5 g
Kolesterol        = 0 mg

Mie Ayam A la Kadarnya :D

Favorit nih. Lebih suka mie ayam daripada bakso. Hihihi. Alhamdulillaah, pernah dapat resep mie ayam homemade dari seorang ummahat. Udah lama banget dapet resep ini. Prakteknya juga udah lama banget. Belum praktekin lagi. Wuaaa, saya sudah lama ga eksperimen di dapur, hiks. Jadi maaf ya, ini nostalgia resep ceritanya. 😀
Bahan utama:
  1. Ayam 250 g, cuci bersih, rebus, potong dadu/suwir-suwir (Karena saya belinya ayam pedaging -ayam kampung mahal, hehe- jadi air rebusannya (air kaldunya) saya buang, saya agak ngeri sama isu ayam pedaging yang disuntik hormon, huhuhu ><)
  2. Mie telor 1 bungkus
  3. Sawi hijau 100 g (kemarin saya beli 4000, cuma kepake 2000, alias 1/2 iket) cuci bersih, potong-potong, rebus, sisihkan
  4. Daun bawang secukupnya (kemarin saya beli 500, cuma kepake 2 helai) cuci bersih, potong-potong, sisihkan
  5. Minyak untuk menumis
  6. Air 500 ml (untuk kuah)

Bahan bumbu (kuah ayam):

  1. Bawang putih 2 siung
  2. Merica 1/2 sdt
  3. Kunyit 1 ruas jari, bersihkan, bakar sebentar (biar ga langu dan lebih sedep, katanya)
  4. Kemiri 1/2 butir
  5. Daun jeruk 2 helai
  6. Sereh 1 batang, geprek
  7. Salam laos secukupnya
  8. Gula jawa 50 g, sisir (kira-kira seukuran 2 sdm)
  9. Kecap 3 sdm
  10. Garam secukupnya
Bahan tambahan:
  1. Bakso
  2. Bawang goreng
  3. Pangsit (kemarin ga pake, ga ada stok di rumah, haha)
  4. Kerupuk
  5. Acar mentimun (kemarin ga pake, ga sempet ngacar)
  6. Saos/sambel
Cara membuat:
  1. Didihkan air. Rebus mie dengan 2 sdm minyak goreng, biar ga lengket. Masak selama 2-3 menit. Angkat, sisihkan.
  2. Haluskan bumbu nomor 1-4
  3. Panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan bumbu nomor 5-7. Tumis sampai layu. Tambahkan air, gula jawa, dan ayam yang telah dipotong-potong. Masak hingga mendidih. Tambahkan kecap dan garam. Angkat. (Note: Menambahkan garam sebaiknya di akhir proses ya, karena yodium punya sifat ga tahan panas. Sayang kalo rusak karena dipanasin terlalu lama #nutritionfacts)
  4. Siapkan wadah penyaji. Tata mie dan sawi. Siram dengan kuah ayam. Taburi dengan daun bawang dan bawang goreng. Tambahkan bakso/pangsit/kerupuk/acar/seadanya bahan. Kalo rasanya kurang mantep, tambahkan garem/kecap/sambel sendiri sesuai selera.
  5. Alhamdulillaah, siap disantap. Jangan lupa basmallah yaaa 😀
Hasil jadi: 4 porsi
 
Nilai gizi per porsi:
  • Energi : 498 kkal
  • Protein : 22,3 g
  • Lemak : 27,5 g
  • Karbohidrat : 40,6 g
  • Kolesterol : 49,4 g

Roti Siram Kuah Jahe

Kata Zingiber berasal dari bahasa Arab, Zanjabil. Al-Quran telah menyebut-nyebut rempah ini dalam sebuah ayat, “Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.” (QS. Al-Insan: 17)

Masak jahe hari ini buat berbuka puasa kayak enak nih. Hayuk! 😀

Bahan isi:

2 lembar roti tawar, potong dadu

2 sendok makan kismis kuning atau dapat diganti kacang tanah, kolang-kaling, cincau, agar-agar, atau irisan kurma (sesuai selera) >> Note: Kemarin saya pake kolang-kaling dan cincau

Bahan kuah:

500 ml air

4 cm jahe segar, bakar, memarkan

1 batang serai, memarkan

1 lembar daun pandan, potong-potong

150 gram gula merah

2 sendok makan gula pasir

¼ sendok teh garam

500 ml santan encer

Cara Membuat:

  1. Panggang roti dalam oven hingga agak kering. Angkat, sisihkan. Jika tidak suka roti panggang, roti dapat langsung digunakan tanpa dipanggang terlebih dulu.
  2. Kuah: rebus air bersama jahe, serai, pandan, gula merah, gula pasir dan garam hingga mendidih.
  3. Susun potongan roti dalam mangkuk
  4. Tuangkan kuah
  5. Taburkan kismis atau bahan tambahan lainnya
  6. Sajikan selagi hangat

Hasil jadi: 4 porsi

Nilai gizi per porsi:

Energi              : 366 kkal

Protein             : 3,5 g

Lemak             : 13,3 g

Karbohidrat     : 61,9 g

Al-Fatihah Pertama

ayah ibu

Membaca artikel-artikel seputar parenting, saya pernah menemukan soal ini, “Ajarkan anakmu membaca Al-Fatihah.” Inti dari tulisan itu adalah bahwa Al-Fatihah seharusnya menjadi ayat Al-Quran yang diajarkan langsung oleh ayah dan ibu, bukan guru ngaji, atau bahkan (maaf) PRT. Alasannya sederhana, karena Al-Fatihah adalah surat yang akan dibaca berulang kali oleh sang anak saat shalat. Pahala jariyah untuk si pengajar, tentunya.

Iya, saya setuju. Sangat setuju, bahkan. Tapi jujur saya lupa, siapa yang pertama kali mengajarkan itu kepada saya. Sebab saya memang tidak terlahir dari keluarga kyai, ustadz, atau lingkungan agamis lainnya, meskipun saya pernah mencicipi teduhnya belajar Al-Quran di TPQ. Maka bisa jadi, orang yang pertama kali mengajarkan Al-Fatihah itu justru ustadz/ah di TPQ.

Tapi bagi saya, kebaikan orang tua tetaplah tidak terganti oleh posisi pengajar kebaikan di TPQ manapun. Kontraksi rahim ibu yang pernah menjadi jaminan hidup dan matinya, tentu saja tidak terbayar dengan kebaikan ustadzah yang mengajarkan Al-Fatihah. Kerja keras ayah sedari pagi hingga petang tentu juga tidak sebanding dengan kesabaran ustadz yang menemani kita bermuraja’ah. Kesabaran mereka dalam membesarkan kita selama ini, semoga menjadi penebus kekurangan-kekurangan mereka dalam mendidik kita.

Iya, saya sadar betul bahwa mereka memang bukan orang tua terbaik di dunia ini. Tapi sampai kapanpun, merekalah ayah dan ibu terbaik di dunia saya. Semoga Allaah melimpahkan kebaikan dunia dan akhirat buat ayah dan ibu terbaik kita. Dan semoga, Allaah pun menolong kita menjadi anak-anak yang shalih bagi mereka. Aamiin. :’)

Keluarga Bercahaya

keluarga bercahaya

Salah satu ciri khas Al-Qur’an adalah pada penamaan suratnya. Selalu ada kaitan antara nama surat dengan salah satu ayat di dalam surat tersebut. Contohnya, surat Al-Baqarah yang di dalamnya terdapat kisah tentang sapi betina. Atau Ali Imran, yang di dalamnya memuat kisah indah keluarga Imran yang dimuliakan. Atau juga surat An-Naml, yang di dalamnya terabadikan kisah unik antara semut dan nabi Sulaiman.

Lalu tentang keluarga, ada surat yang begitu padat berisikan tema-tema keluarga, dari awal hingga akhirnya. Ialah surah An-Nuur. Maa syaa Allaah, namanya saja menyiratkan harapan bahwa keluarga Muslim harus bercahaya. Coba baca kesinambungan ayat dan hikmah dari surat ini, khususnya pada ayat 35 – 37.

Pada ayat 35, Allah menerangkan mukjizat informatif tentang cahaya, bahwa Allah-lah sang pemberi cahaya di langit dan bumi. Lalu ayat berikutnya, secara langsung Allah menyambung ayat tersebut dengan redaksi yang kontennya “how to”, bagaimana cara mendapatkan “cahaya” itu. Jawabannya, dengan banyak bertasbih (berdzikir) kepada Allah, khususnya di dalam masjid-masjid, baik di waktu pagi maupun petang. Masjid dan ibadah. Ternyata ini kunci rumah-rumah yang bercahaya itu.

Kesinambungan ayatnya ternyata tidak berhenti sampai disitu. Pada ayat 37, Allah pun masih melengkapi redaksi ayat dengan konten yang sifatnya, “what and why”. Apa yang membuat sebuah rumah (keluarga) kehilangan “cahaya”nya? Jawabannya, bisnis dan perniagaan dunia. Mengapa? Kok bisa? Jawaban lengkapnya, laki-laki yang dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari ibadah kepada Allah…

Jadi ternyata, penyebab hilangnya “cahaya” di dalam rumah-rumah kita adalah karena pekerjaan, bisnis, dan mata pencaharian yang seringkali menggeser prioritas ibadah kita kepada Allah. Yang menarik, ayat ini secara tegas menyandingkan kata “lelaki” sebagai subyeknya. Mengapa? Karena laki-lakilah yang diamanahi tugas sebagai qowwam, yang menafkahi, yang memang kesehariannya pasti beririsan dengan dunia bisnis dan mata pencaharian.

Maa syaa Allaah. Hanya kepada Allaah kita memohon pertolongan. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

*Tulisan ini disadur dari buku “Inspirasi Rumah Cahaya, tulisan Ust. Budi Ashari, Lc (hafizhahullaah)

*Disclaimer: Buku ini daging banget, maa syaa Allaah. Ga bosan merepetisi. Saya hanya mencoba menarasikannya kembali. Semoga bermanfaat. 😊