Terimakasih, Sakit Hati!

hati 5

Alkisah, ada seorang lelaki yang begitu memendam harap kepada sosok perempuan idamannya. Disebutnya nama perempuan itu berulang kali dalam doa-doanya, berharap nama mereka dipersatukan dalam mahligai pernikahan.

Tekadnya sudah membaja, yaitu hendak mempersuntingnya. Dipersiapkannya segala hal yang berguna dalam melancarkan itikad baiknya. Satu yang tak pernah luput; persiapan hati. Entah ini sudah usahanya yang keberapa dalam mencoba menjalin hubungan, meski berkali-kali pula ujungnya kepahitan dan sakit hati.

“Logika lelaki dibanding perasaannya adalah 9:1, namun seketika dapat berbalik menjadi 1:9 hanya gara-gara makhluk berjenis kelamin perempuan.”

Lelaki tuna asmara itu sadar betul dengan kelemahannya. Ia terlalu ambisius mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Termasuk dalam mendapatkan gadis pujaannya. Ia pun tersadar untuk memperbaiki diri. Maka ta’aruf syar’i pun menjadi pilihannya kini.

“Semoga segala yang berpangkal baik-baik akan menemukan ujung yang baik pula.” Batinnya sendu.

Lelaki itu semakin memantapkan dirinya meminang si gadis shaleha yang telah diincarnya selama setahun belakangan. Ia adalah teman satu kelas semasa SMA dulu. Gadis itu telah berhijrah. Di situlah titik kekaguman lelaki itu bermula. Padahal dulunya, semasa SMA tidak pernah terjadi chemistry apapun.

Genap sudah segala amunisi untuk mempersunting si gadis. Dibenahinya kerah kemeja abu-abu yang dikenakannya hari ini.

“Bismillah, insyaAllah pekan depan saya akan menemuinya. Mempersuntingnya. Semoga ini pencarian terakhirku. Aku pasrah, ya Allah…”

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Belum genap sepekan rencana manisnya itu, keesokan harinya ia justru lebih dulu mendapatkan amplop berwarna merah jambu yang mendarat persis di depan pintu rumahnya. Tertulis jelas di sampul depan undangan pernikahan itu.

“Dafinah dan Yusuf”

Demi apa. Tercekat luar biasalah perasaan lelaki malang itu. Tubuhnya hampir-hampir kejang seperti habis disambar petir. Lagi dan lagi. Pil pahit lagi dan lagi. Langit yang sedari tadi cerah pun mendadak berwarna kelabu, di sudut hatinya.

“Haruskah sakit hati lagi, ya Allah?

Tiga tahun yang lalu. Begitu keras usaha lelaki itu melupakan Dafinah, gadis terakhir yang membuat tidurnya tak pernah nyenyak. Namun semenjak kejadian itu, ia menyadari bahwa itulah skenario terbaik dari Allah. Disadarinya bahwa kesiapan dirinya belumlah genap, meski rasa cintanya berulang kali meyakinkannya demikian.

“Kelak, rumah tangga tak sekedar dijalani dengan cinta, namun juga akal sehat. Mungkin Allah memang melihatku belum benar-benar siap…”

Batinnya menghibur diri.

Tapi benar juga. Semenjak kejadian pahit tiga tahun silam, lelaki itu justru semakin bersemangat menata hidup. Karirnya melejit sebagai wirausahawan muda. MasyaAllah.

“Allah knows what’s best for us. Allah brings us the perfect giving on the perfect timing. Terimakasih, Dafinah. Jika saja amplop merah muda tiga tahun yang lalu itu tidak pernah mendarat di depan rumahku, mungkin saja aku tidak mendapatkan apa yang berhasil kuraih saat ini. Sekali lagi terimakasih, Dafinah. Terimakasih, sakit hati…”

Ya, lelaki itu menyadari bahwa Allah tidak pernah iseng dalam mengatur skenario hidup kita, meski mungkin seringkali tampak sangat tidak mengenakkan, bahkan menyakitkan hati. Allah benar-benar tidak pernah main-main dengan hidup kita. Justru bukankah seringnya kita sendirilah yang main-main dengan-Nya?

Seringkali, kita justru merasa perlu berterimakasih dengan segala pil pahit yang telah dengan paksa kita telan. Sebab dengan pil-pil itu, daya tahan jiwa kita menjadi lebih kuat dan mampu memperbaiki cara pandang kita melihat masa lalu.

Semoga kita dianugerahi hati yang lembut dan lapang, sehingga selalu berprasangka baik dengan segala bentuk ketetapan Allah.

Terimakasih, sakit hati…

Note:

*Tulisan ini fiksi yang diadaptasi dari kisah nyata seorang lelaki yang meraih kesuksesan setelah gagal menikahi gadis pujaannya. Selamat mengambil ibrah. 🙂

*Suer, ini ga lagi curhat! :p

Rahim

slide_6

“Rahimku memang tidak sempurna. Tapi rahim ibu tidak pernah tidak. Rahim ibu tidak pernah aplasia, karena kasih ibu tidak pernah cacat. Bodohnya, aku pernah meragukan itu. Padahal ‘rahim’ ibu lebih dari sekedar cukup…”

“Aplasia vagina disertai aplasia uterii.”

Dokter menjatuhkan vonis tanpa babibu. Saya terperangah, gagal paham. Soal penyakit, mengerti apa itu H5N1 saja saya sudah merasa hebat.

“Itu penyakit apa, Dok?”

“Kelainan organ reproduksi, tepatnya pada rahim. Rahim Anda tidak berkembang, Mbak.”

Rahim tidak berkembang? Oh, jadi hanya begitu penjelasannya. Singkat sekali, pikir saya. Saya belum puas.

“Bisa jelaskan lebih detail, Dok? Saya masih belum mengerti.” Saya terus mengejar pertanyaan.

“Begini, Mbak. Penyakit yang Mbak Sari alami ini tergolong penyakit langka, dimana rahim tidak terbentuk sempurna. Bahkan dari hasil USG, rahim mbak Sari tidak tampak. Rahim Mbak Sari tidak berkembang. Kondisi inilah yang membuat Mbak Sari tidak mengalami menstruasi.”

Rahim tidak tampak? Apa maksudnya? Rahim saya ghaib? Bagaimana mungkin? Tiba-tiba saya sangat skeptis, melawan kemungkinan. Saya masih belum puas dengan jawaban dokter berjilbab hijau itu. Saya masih menimpalinya dengan pertanyaan.

“Selain tidak bisa menstruasi, adakah dampak lain dari kelainan ini, Dok?”

“Begini Mbak. Dampak yang paling dikhawatirkan dari kelainan ini adalah Mbak Sari tidak bisa hamil…”

Saya tercekat bukan main. Bumi seperti berhenti mengorbit. Langit sekonyong-konyong dirobohkan di depan muka. Mata saya merabun akut. Saya kehilangan gravitasi, kemudian rubuh tanpa komando.

Berhari-hari saya mengurung diri di dalam kamar. Lidah terasa getir. Nafsu makan saya kolaps. Dada terasa sangat sempit, sampai-sampai oksigen rasanya begitu mahal. Semenjak vonis itu saya sering sesak nafas. Imun melemah. Tubuh kuyu, mata sayu. Mendadak saya seperti fobia dengan cermin. Setiap bercermin, saya merasa ditertawakan oleh bayangan saya sendiri. Dinding kamar seperti memantul-mantulkan cemooh. “Kamu bukan perempuan.” Berulang kali.

Berkali-kali saya memecahkan cermin dengan tangan sendiri. Hampir-hampir merobek nadi. Tapi takdir hidup saya belum surut. Rupanya Allah belum hendak menghentikan sistem regulasi darah dalam jantung saya. Padahal saya merasa hidup segan, mati mungkin lebih baik. Astaghfirullah. Saya sadar itu kata-kata kufur. Tapi, semua ini rasanya memang terlalu berat. Bahu saya terlalu rapuh. Iman saya belum membaja.

Saya pun terus menjauhi ibu. Terus menghakiminya sebagai manusia yang paling bersalah atas apa yang saya alami. Tidak hanya itu, saya juga menjaga jarak dengan ayah. Memutus hubungan dengan teman-teman. Apalagi dengan laki-laki. Saya mati rasa. Intinya, saya menutup diri dari pergaulan. Dunia luar terlalu buas bagi perempuan yang “bukan perempuan” seperti saya. Tiap hari saya disuguhkan iklan-iklan di televisi. Semuanya memuja perempuan ideal. Sedangkan saya? Jangankan ideal, setiap hari saya terus mempertanyakan takdir keperempuanan yang saya jalani.

Saya memang terlahir tanpa rahim. Mustahil punya anak. Saya mandul. Tapi hati saya tidak. Hati saya belum benar-benar mati rasa. Rahim saya boleh aplasia, tapi hati saya tidak. Perempuan mana yang tidak ingin menikah dan punya anak? Meraung kesakitan saat melahirkan, menimang bayi, menyusuinya, menggantikan popoknya. Semuanya memang merepotkan, tapi percayalah. Perempuan manapun selalu merindukan momen merepotkan itu. Saya benar-benar tampak seperti pungguk merindukan bulan. Seringkali saya masih merasa bahwa saya perempuan tulen, karena saya rindu menjadi ibu.

Sampai suatu ketika, saya seperti tersambar petir. Saya melihat ibu menangis malam-malam dalam sujudnya. Ibu tidak berhenti menyebut nama saya dalam doanya yang dibanjiri air mata.

“Kuatkan putriku, Ya Allah. Aku tahu segala takdir-Mu adalah baik, meski sering kami tampik. Jika memang kondisi Sari ini akibat ulahku, maka pindahkan rasa sakitnya padaku. Biar aku yang menanggung beban berat di pundaknya. Aku rela, asalkan senyumnya kembali seperti dulu…”

Seketika saya lumpuh. Hati rasanya kisut. Batin saya menjerit. Doa ibu sedemikian tulusnya. Memindahkan rasa sakit? Manusia macam apa yang rela menanggung sakit atas apa yang tidak seharusnya ia derita? Tiba-tiba Bumi seperti ruang hampa udara. Asfiksia.

“Rahimku memang tidak sempurna. Tapi rahim ibu tidak pernah tidak. Rahim ibu tidak pernah aplasia, karena kasih ibu tidak pernah cacat. Bodohnya, aku pernah meragukan itu. Padahal ‘rahim’ ibu lebih dari sekedar cukup. Allaahu ya Rahman ya Rahim. Ampuni dosaku, ampuni…”

Saya pun mengayun lengan. Mendekap tubuh ibu dari belakang.

“Bu, ternyata ‘rahim’ ibu lebih dari cukup. Sari minta maaf…”

(Tulisan ini diadaptasi dari kisah nyata. Sari bukan nama sebenarnya.)

Lupa Rasanya Pulang

“Ibu, Ayah pulang !”

Gadis kecilku datang menghambur dalam pelukanku. Jagoan tampanku pun menyusul setelahnya. Seperti biasa. Belum ada yang berubah. Rumah selalu menyuguhkan kehangatan. Belum lagi, istriku. Wanita sederhana yang selalu berhasil menghiasi istanaku dengan tebaran cinta. Dia wanita yang tulus. Tidak banyak menuntut dan meminta. Justru aku yang banyak meminta darinya. Paling sering adalah pinta, “Dik, jaga anak-anak…”

“Gbrakk !”

Setumpuk buku di samping lengan kanan lelaki empat puluh tahunan itu berserakan di lantai. Ternyata ia baru saja tertidur di atas meja kerjanya. Pak Ilham, begitu dia biasa dipanggil. Lelaki berkacamata dengan frame cokelat itu kini sibuk menata kembali buku-bukunya, sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya. Dia selalu begitu, terlihat tenang. Rekan-rekan kerjanya mengenalnya sebagai sosok lelaki pekerja keras, serius, dan perfeksionis. Ia selalu berusaha menuntaskan pekerjaannya segera dan dengan cara yang sempurna. Dia begitu disegani di lingkungan kerjanya.

“Ketiduran ya, Pak?” Salah seorang rekan kerjanya menegur.

“Iya, Mas. Ndak tau nih, mata saya kok belakangan ini berat sekali rasanya.”

“Bapak terlalu memforsir diri kelihatannya. Wajah Bapak sampai pucat begitu. Istirahat dulu saja, Pak kalau begitu.”

“Tapi kerjaan saya masih banyak begini, Mas. Ndak enak kalau ditinggal. InsyaAlloh sebentar lagi beres kok.”

“Oh, nggih sampun, Pak. Saya tinggal dulu kalau begitu. Jangan lupa istirahat, Pak. Kalau njenengan sakit malah bisa berantakan kerjaannya.”

Inggih, Mas. Suwun sudah diingatkan.”

Lelaki muda 25 tahun itu pun berlalu meninggalkan Pak Ilham di ruang kerjanya. Sendiri. Pak Ilham masih berkutat dengan buku dan kertas-kertas kerjanya yang berhamburan. Sesekali ia mencoba menggeliatkan punggungnya. Kelihatannya, lelah begitu menggelayut berat di tubuhnya.

Pak Ilham bergerak maju mendekati jendela. Ia menatap keluar. Kosong. Tatapannya sayu. Wajahnya pucat. Dia benar-benar kehilangan energi dirinya.

“Aku rindu pulang…” Pak Ilham menggumam ringan.

Jam makan siang pun tiba. Seperti biasa, Pak Ilham selalu beranjak terlebih dulu ke masjid di depan kantornya. Dia selalu berusaha menemui Tuhannya di awal waktu. Suatu ketika, bawahannya pernah bertanya.

“Pak, bukannya lebih baik makan dulu ya baru shalat? Biar bisa lebih khusyuk gitu shalatnya?”

“Iya betul, Mas. Tapi itu khusus kalau dia sudah sangat lapar dan ndak bisa lagi ditahan. Kalau saya memang sudah terbiasa begini, jadi ya alhamdulillah bisa shalat di awal waktu tanpa melilit perutnya.”

“Bagi tipsnya dong, Pak, biar bisa begitu bagaimana caranya? Pasti Bapak selalu disediakan sarapan yang lezat dan mengenyangkan ya sama istri…”

Lelaki berkacamata itu menunduk seketika. Pandangannya nanar, menghambur ke segala arah tanpa arti.

“Saya cuma sarapan sama air putih kok, Mas. Kalau sarapannya terlalu lezat dan mengenyangkan, nanti malah ngantukan pas kerja. Mas, sudah iqomat. Saya shalat dulu ya. Monggo kalau mau ikut shalat berjama’ah sekalian.”

Nggih, Pak. Saya wudhu dulu.”

***

Istri yang selalu menyediakan sarapan? Ah, sudah lama sekali rasanya aku tidak sarapan dengan masakan lezat istriku. Sudah lupa rasanya.

Baiti jannati. Bagaimanakah rasanya? Adakah istanaku benar-benar surga dunia bagiku? Aku sudah lupa rasanya, bahkan aku tidak pernah tahu bagaimana tinggal di dalamnya.

Aku adalah lelaki 45 tahun dengan seorang istri cantik lengkap dengan segala hiasan dirinya yang membuat lelaki manapun akan merasa betah tinggal di rumah. Namun nyatanya? Sedikitpun aku tak merasakan demikian. Benar, istriku memang seorang istri yang rupawan, namun sayang, hatinya tidak menawan. Dia belum mampu menerima kekurangan diriku. Pintanya terlalu banyak dan berat untuk kupenuhi. Benar, istriku memang cantik rupawan dengan kulit putih mulus bersih, namun suaranya padaku tidak selembut kulitnya. Dia terlalu sering membentak padaku, hingga aku lupa bagaimana suara lembutnya ketika dulu.

Aku adalah seorang ayah dengan dua orang putra dan putri. Jagoan tampanku kini berusia 20 tahun. Benar, dia tampan. Dia meninggalkan banyak garis keturunan istriku; tinggi, putih, dan berhidung mancung. Benar, dia lelaki rupawan, namun sayang, dia terlalu banyak menghadiahkanku kekecewaan. Dua bulan yang lalu, kudengar kabar tentangnya, bahwa dia telah bermain candu yang membuatnya mendekam di dalam sel bisu.

Dan aku juga seorang ayah dari gadis belia berparas manis yang kini menikmati hidupnya di usia 18 tahun. Benar, dia memang gadis manis, namun sayang, hatinya belum tersentuh dengan manis. Dia juga meninggalkanku dengan sebaris kekecewaan mendalam. Dia selalu mendatangiku dengan bentakan keras, menagih ini dan itu, memaksaku bekerja semakin keras, dan meruntuhkan dinding penahan air mataku di kala malam. Kalian tahu, bagaimana perasaan seorang ayah yang tak mampu menghadiahkan buah hatinya ini dan itu? Kalian tahu, bagaimana perasaan seorang ayah yang hanya sanggup menatap bisu saat putri kecilnya lebih nyaman berada di luar istana kecil mereka, hanya karena mereka merasa, “Dunia luar lebih nyaman buatku.” Ya, putri kecilku yang dulu tangisnya begitu kurindu, kini ia lebih memilih meninggalkanku, meninggalkan istana kecilku. Ia pergi meninggalkanku tanpa pernah ada rasa rindu untuk kembali berjumpa denganku.

Mungkin, rumah yang dulu selalu kusebut istana raja itu lebih pantas disebut istana pasir yang telah goyah dan berhamburan diterjang kerasnya ombak di lautan kehidupan. Aku benar-benar lupa bagaimana rasanya pulang. Kepulangan yang seharusnya menjadi bingkisan manis penawar rindu, justru menjadi begitu hambar bagiku. Bahkan mungkin meninggalkan rasa pahit yang membuat lidah kelu. Jauh di dalam lubuk hatiku yang telah membiru, selalu tertinggal rasa rindu, namun selalu tertinggal pula rasa khawatir ingin bertemu.

Bagaimana kepulanganmu? Harap dan cemas yang selalu mengiringi langkah kepulangan menuju rumah tercintamu terbayarkah dengan rasa bahagia yang membuncah karena telah saling bertemu?

Adakah pelukan hangat istri dan anak-anakmu?

Adakah sapaan lembut istri yang menghambur padamu sambil menyeka keringat kerja kerasmu?

Adakah rengekan manja gadis dan jagoan kecil yang selalu rindu menunggu kepulanganmu?

Bagaimanakah rasanya? Aku sudah lupa rasanya pulang.

Kacamata

“Semua orang, meski tanpa minus ataupun silindris, selalu melihat sesuatu dengan kacamata masing-masing.” (Rahne Putri)

Bukan. Cerita ini bukan tentang kacamata yang diperjualbelikan di pinggir-pinggir jalan. Ini tentang kacamata kita. Bukan tentang gangguan penglihatan. Ini tentang cara pandang kita. Bukan soal bicara empat mata, karena aku ingin mengajakmu bicara dari hati, tempat bersemayamnya segala pandangan mata.

Sebenarnya ini kisah tentang seorang lelaki yang memilih hidup sendiri, sampai ia bertemu mati. Orang-orang di sekelilingnya, entah dengan atau tanpa kacamata, memandangnya sebagai lelaki penyendiri yang aneh, lengkap dengan kacamata tuanya. Lelaki renta itu selalu menampakkan diri di waktu pagi, kemudian kembali di saat matahari memilih sembunyi.

“Bapak kok betah sih hidup sendiri sampai tua begini?” Celetuk tetangga samping kiri.

“Keluarga Bapak pergi kemana kok sampai Bapak hidup sebatang kara begini?” Singgung tetangga samping kanan.

“Saya tidak pernah merasa hidup sendiri. Setiap hari saya justru selalu merasa diawasi.” Jawab Pak Yoyok singkat.

“Saya yang pergi menjauhi keluarga, istri, anak-anak, dan sahabat. Saya sendiri yang memilih pergi.” Imbuh lelaki tua berkacamata itu.

“Lho, kenapa Pak? Boleh saya tahu?” Tetangga kiri begitu ingin tahu.

“Maaf Pak, saya hanya ingin menyimpan sendiri alasannya. Khawatir jika kisah saya nanti sedikitpun tidak memberi manfaat buat Bapak. Makanya selama ini saya memilih diam. Menanti saat yang tepat untuk bicara. Yaitu di tengah kesendirian. Bercerita sepuas-puasnya dengan Dzat yang tak pernah membocorkan rahasia.”

Pak Yoyok mengucap salam, dan berlalu meninggalkan tetangga kanan dan kirinya.

“Seandainya mereka tahu bahwa aku hidup sendiri untuk sebuah alasan. Aku hanya lelaki tua mantan narapidana. Keluarga besar belum bisa ikhlas menerima kepulanganku. Tetangga sekeliling rumah kecilku juga demikian. Masih menyimpan dendam kesumat yang entah kapan surut. Memaksa istri dan anak-anak menutup telinga rapat-rapat mendengar olokan yang sebenarnya sangat menyakitkan, bukan buatku, tapi buat mereka, istriku, anak-anakku. Hanya saja aku pilih untuk dipendam. Aku tak ingin anak-anakku tumbuh berkembang dengan olok dan cacian tentang Ayah mereka. Tentang sosok yang seharusnya mereka banggakan.

Aku pun memilih pergi (lagi) untuk sebuah alasan. Menjaga mereka yang kucintai disana. Sebab kadang, jarak adalah cara untuk menjaga. Hanya saja, orang-orang itu tidak (belum) mengerti. Masing-masing orang bertindak karena sebuah alasan. Entah itu mampu mereka pahami, atau tidak sama sekali. Sejujurnya aku, benar-benar ingin berubah, meski mereka sudah lebih dulu ragu dan menolak diriku yang baru. Dan jika suatu hari nanti aku pergi mati, aku ingin pergi dengan sebaik-baik kepergian. Biarlah istri dan anak-anakku aman dalam penjagaan-Nya, bukan penjagaanku. Seperti yang sudah-sudah, saat aku menyia-nyiakan mereka dengan segala perilaku burukku. Dia-lah yang selalu menjaga keluarga kecilku di rumah. Semoga, ada kenangan manis yang masih di terekam di memori jangka panjang anak-anakku. Setidaknya, aku pergi sebagai Ayah yang baik.”

Lelaki tua berkacamata itupun benar-benar pergi mati. Kacamatanya tertinggal di atas meja. Tertinggal pula kacamata-kacamata tentang dirinya, yang penuh prasangka tentang siapa dan bagaimana dirinya.

“Manusia adalah pengacara yang hebat untuk kesalahan diri sendiri, tetapi berubah menjadi hakim yang mahsyur untuk kesalahan orang lain.” (Tere Liye)

Soulmate

Mereka bilang dua sejoli itu soulmate abadi. Kemanapun pergi selalu melengkapi. Dimana ada suami, tak jauh di dekatnya pasti ada sang istri. Mereka bilang pasangan muda itu soulmate romantis. Kemanapun pergi selalu ada kata “Sayang, Honey, Sweetheart,” dan sapaan lain yang mereka sebut itu bumbu romantis.

Dua sejoli itu, begitu sempurna di mata mereka. Suami tampan, bersanding  dengan wanita yang tak kalah rupawan. Ah, surga dunia, begitulah yang mereka simpulkan.

Dua sejoli itu dulu sama-sama tak pernah tahu, jika takdir-Nya mempersatukan mereka dalam sebuah bahtera. Sang wanita pernah mempertautkan hatinya kepada sosok pangeran yang lain. Begitu pula dengan sang lelaki yang kini menjadi raja yang bertahta di singgasana hatinya. Jalan kisah pun mengalir berbeda. Mereka bertemu, saling mengenal, berbagi cerita, hingga akhirnya saling percaya untuk berbagi hati dalam ikatan suci.

Menikah. Ya, merekapun menikah. Menghalalkan ikatan hati yang sebelumnya pernah terjalin mesra. Ya, mereka pernah mesra sebelum waktunya, hingga beberapa lama. Merekapun semakin mesra. Orang-orang yang dulu pernah mengaguminya, semakin menjadi-jadi rasa kagumnya. Entah kagum karena apa.

Mereka pun menjalani kehidupan rumah tangga layaknya orang biasa. Bertemu, bertatap muka, berbagi rasa dan cerita. Mungkin ini sebabnya orang-orang menyebutnya bahtera. Bukankah setiap bahtera selalu membutuhkan seorang nahkoda? Hanya seorang, meskipun awak kapal bisa saja lebih dari seorang. Dan mungkin ini sebabnya, seorang nahkoda harus paham betul cara navigasi dan mengemudi.

Bahtera yang baru saja mereka arungi bersama ternyata goyah tergoncang. Bukan. Bukan ombak besar yang menghantam. Bahtera yang terlihat kokoh itu ternyata rapuh dari dalam. Kesalahan ada pada sang nahkoda. Ia gamang. Ia gentar. Ia telah gagal mengemudikan bahtera kebanggaannya.

Sang permaisuri menunduk menahan tangisan. Ia tergoncang hebat dan dirundung kenestapaan mendalam.

“Sungguh, jika kupahami makna bahtera sebelumnya, aku benar-benar ingin dinahkodai seseorang yang tak hanya membuat duniaku bahagia di sisinya. Aku pun ingin akhiratku aman bersamanya…”

Sang permaisuri menutup kalimatnya dengan diam, tanpa sepatah kata.

Terminal, Gadis Kecil, dan Ayah

“Nak, suatu saat nanti kau akan mampu pahami, betapa majemuknya jalan hidup yang dilalui seseorang. Seperti hari ini, kau berpisah dengan Ayah menuju terminal yang berbeda. Namun, pada akhirnya kita menuju pada satu pemberhentian terakhir. Seberapapun sering engkau transit, ingat, kau selalu punya tujuan akhir. Jaga dirimu baik-baik. Tidak selamanya engkau dalam penjagaan Ayah. Siapapun nantinya (manusia) yang menjagamu, semoga nantinya ia menemanimu dengan baik menuju terminal akhir. Semoga, kita dipertemukan lagi disana, di terminal akhir.”

Kata seorang Ayah kepada anak gadisnya yang terus bertanya. “Mengapa kita berhenti dulu disini? Mengapa kita mengambil rute ini? Mengapa ada penumpang yang naik, beserta itu pula ada yang turun? Mengapa begini, mengapa begitu, Yah?”

Gadis kecil itu mengangguk-anggukkan kepala. Berpura-pura memahami maksud Ayah. Padahal, jauh di kedalaman hatinya, ada definisi yang belum tercerna sempurna. Seperti bolus-bolus dalam perut ruminansia, yang suatu waktu dimuntahkan kembali dan mewujud tanda tanya.

“Ayah, apakah kita satu tujuan? Apakah kita menuju satu terminal?”

Dan sang Ayah pun terus berbicara. Bergumam dengan dirinya sendiri. Sesekali tercenung, bahwa gadis kecilnya sudah sebesar ini. Dan dengan malu-malu, dalam benak Ayah tersembul rahasia, bahwa anak perempuan tetaplah anak perempuan. Gadis kecil Ayah, sampai kapanpun.

“Siapapun nantinya (manusia) yang menjagamu, semoga nantinya ia menemanimu dengan baik menuju terminal akhir.”

Ayah terus mengulang-ulang kalimat itu. Sementara gadis kecil yang ia genggam erat tangannya, terus menganggukkan kepala. Entah benar-benar paham, atau barangkali hanya berpura-pura.

Sebentar Lagi Pulang

“Cinta pada pasangan bisa hilang, tetapi tak ada yang mampu memutus hubungan orang tua dengan anak-anaknya. Ketahuilah, tidak ada yang berhak merusak kenangan indah anak-anak bersama ayah dan ibundanya.” (Asma Nadia)

Anak perempuan itu terus menunggu, entah sampai kapan. Ia hanya yakin, sebentar lagi ayahandanya pulang. Ia menunggu di depan pintu ditemani langit mendung. Sambil sesekali memainkan ujung rok motif bunga-bunganya, ia mengukir nama Ayah dari balik kaca jendela yang berdebu.

“Ayah sebentar lagi pulang kan, Bu?” Tanya gadis kecil itu.

Diam. Tanpa jawaban.

“Bu, Hana sayang sama Ayah. Ibu juga kan? Sini Bu, temenin Hana di depan pintu. Ayah sebentar lagi pulang.”

Hening. Tanpa suara.

Anak perempuan itu terus menunggu, entah sampai kapan. Ia berharap penantiannya tidak sia-sia. Binar matanya penuh isyarat bahwa pertemuan itu sebuah niscaya.

Anak perempuan yang terus menunggu itu sulit mencerna kata cerai, rupanya. Baginya, cerai adalah pergi untuk kembali.

“Cerai itu apa sih, Bu? Ayah pergi ke kantor berhari-hari itu cerai ya, Bu? Cerai itu masih bisa pulang kan, Bu?”

Rumah kecil itu masih hening. Namun gadis kecil itu terus bertanya. Bersamaan dengan itu, hujan diguyur dengan derasnya. Menyembunyikan isak tangis ibundanya. Air mata ibu terlanjur raung, sedari tadi.