Al-Fatihah Pertama

ayah ibu

Membaca artikel-artikel seputar parenting, saya pernah menemukan soal ini, “Ajarkan anakmu membaca Al-Fatihah.” Inti dari tulisan itu adalah bahwa Al-Fatihah seharusnya menjadi ayat Al-Quran yang diajarkan langsung oleh ayah dan ibu, bukan guru ngaji, atau bahkan (maaf) PRT. Alasannya sederhana, karena Al-Fatihah adalah surat yang akan dibaca berulang kali oleh sang anak saat shalat. Pahala jariyah untuk si pengajar, tentunya.

Iya, saya setuju. Sangat setuju, bahkan. Tapi jujur saya lupa, siapa yang pertama kali mengajarkan itu kepada saya. Sebab saya memang tidak terlahir dari keluarga kyai, ustadz, atau lingkungan agamis lainnya, meskipun saya pernah mencicipi teduhnya belajar Al-Quran di TPQ. Maka bisa jadi, orang yang pertama kali mengajarkan Al-Fatihah itu justru ustadz/ah di TPQ.

Tapi bagi saya, kebaikan orang tua tetaplah tidak terganti oleh posisi pengajar kebaikan di TPQ manapun. Kontraksi rahim ibu yang pernah menjadi jaminan hidup dan matinya, tentu saja tidak terbayar dengan kebaikan ustadzah yang mengajarkan Al-Fatihah. Kerja keras ayah sedari pagi hingga petang tentu juga tidak sebanding dengan kesabaran ustadz yang menemani kita bermuraja’ah. Kesabaran mereka dalam membesarkan kita selama ini, semoga menjadi penebus kekurangan-kekurangan mereka dalam mendidik kita.

Iya, saya sadar betul bahwa mereka memang bukan orang tua terbaik di dunia ini. Tapi sampai kapanpun, merekalah ayah dan ibu terbaik di dunia saya. Semoga Allaah melimpahkan kebaikan dunia dan akhirat buat ayah dan ibu terbaik kita. Dan semoga, Allaah pun menolong kita menjadi anak-anak yang shalih bagi mereka. Aamiin. :’)

Iklan

Kartini Masa Kini dan Kodrat yang Pudar

kartini 2017

Euforia selebrasi 21 April masih berulang di tahun ini. Anak-anak sekolah kembali memecah perhatian para pengguna jalan dengan kilauan perhiasan sanggul, busana, dan kosmetik yang katanya “Ala Kartini”. Didukung dengan perangkat elektronik canggih abad ini, anak-anak perempuan penerus bangsa itu juga turut disibukkan dengan berfoto ria di setiap sudut jalan dan ruang, mengabadikan momen dan bedak yang tidak anti luntur. Ada yang berkelindan dalam pikiran. Seperti inikah style Kartini tempo dulu? Inikah yang dulu diperjuangkan Kartini lewat tulisannya? Lalu dimanakah sebenarnya relevansi antara meneladani spirit belajar Kartini dengan merias rupa anak-anak sekolah dengan make up super tebal?

Terpisah dari anak-anak perempuan dan para calon ibu di masa depan itu, tulisan-tulisan seputar Kartini masih membanjiri media sosial. Siapa dan bagaimana Kartini terus menuai pro-kontra. Ada yang menyoroti fakta kedekatan Kartini dengan Belanda dan Theosofi. Ada juga yang menelisik sisi spiritualitas Kartini. Namun kali ini, mari sejenak kita melepaskan diri dari pro-kontra Kartini, sang putri priyayi.

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902)

Salah satu isi surat Kartini di atas mungkin jarang dibicarakan. Padahal, isi surat tersebut justru merefleksikan apa yang selama ini menjadi mimpinya. Mengapa ia begitu bersemangat menyuarakan pendidikan bagi kaum perempuan. Ternyata karena Kartini menyadari peran domestik perempuan sebagai madrasah bagi buah hatinya, dan ia ingin kaumnya juga menyadari peran vital itu.

Kartini kala itu merasakan sendiri bagaimana perempuan tidak dipenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan. Mereka menghabiskan waktu dalam pingitan, bagaikan burung yang terpenjara dalam sangkar. Ia menyadari posisinya kala itu dan tak ingin terus terkungkung dalam kondisi demikian. Kartini mendobrak tradisi itu. Kartini melawan. Kartini berjuang. Ia dan kaumnya merasa berhak memperoleh pendidikan.

“…Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anakTangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Lantas bagaimanakah ibu dapat mendidik anak kalau ia sendiri tak berpendidikan?”

Hampir di setiap suratnya, Kartini mengangkat tema besar tentang pendidikan perempuan. Ia bertumpu pada persoalan bahwa perempuan adalah sekolah pertama bagi buah hatinya, generasinya. Namun yang mengherankan, hari ini apa yang didengungkan oleh khalayak tentang emansipasi, yang konon lahir dari buah pikir dan perjuangan Kartini, justru seakan menjauhkan perempuan dari semangat keibuan itu sendiri. Spirit back to home justru dipandang sebelah mata dan dianggap menyalahi konsep emansipasi wanita.

Emansipasi yang diterjemahkan publik hari ini adalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Perempuan berkarir sebebas mungkin, berpendidikan setinggi mungkin, memperoleh kesetaraan hak dengan lelaki di setiap lini, berlomba mengembangkan diri dan meraih prestasi, namun mereka terlena dengan itu semua hingga lupa bahwa Allah menitipkan rahim dalam jiwa dan tubuhnya. Rahim dalam jiwa berupa kelembutan dan kasih sayang, rahim dalam tubuh berupa “wadah” untuk tempat bertumbuh janin yang kelak menjadi generasi penerusnya. Kedua hal ini adalah fitrah mulia yang tak dimiliki kaum lelaki.

Perempuan mendadak lupa kodrat bahwa di belakangnya ada generasi yang menantinya untuk dididik dan dibesarkan sepenuh jiwa. Perempuan juga mendadak lupa betapa terhormatnya kedudukan istri yang taat kepada suaminya, melebihi kehormatan gelar duniawi yang berhasil diraihnya. Bukankah prestasi ini yang telah ditawarkan oleh Rasulullah kepada kaum wanitanya? Lalu mengapa para Muslimah seakan berlomba mencari kemuliaan lain di luar semua itu?

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan dan kehormatannya (dari perbuatan zina), dan ia taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR. Ahmad)

Perempuan masa kini barangkali sudah terlalu sibuk memoles fisik, berusaha eksis di mata publik, tapi jika ditanya kesiapan dan kesadarannya menjadi ibu pendidik, seolah mereka terdiam tak berkutik. Jadi benarkah emansipasi hari ini telah ditempatkan sesuai kodrat dan fungsinya? Jika belum, sudah saatnya kita tak lagi terjebak pada euforia selebrasi semata. Untuk apa mempercantik fisik “ala Kartini” jika pola pikir kita justru kontradiktif dengan apa yang selama ini Kartini perjuangkan.

Euforia hari Kartini semestinya tidak membuat kita menanggalkan fitrah keperempuanan yang kita miliki. Kartini tak pernah meminta dibebastugaskan dari kewajiban sebagai seorang ibu dan istri. Melalui surat-suratnya, Kartini seolah berpesan kepada perempuan untuk bangun dan sadar terhadap kodratnya sebagai “ratu” di dalam rumah yang terhormat; menjadi istri pendukung suami dan ibu pendidik generasi. Tentu untuk melakukan dua tugas besar ini, perempuan membutuhkan ilmu dan pendidikan.

Sekali lagi, terlepas dari pro-kontra soal kisah kepahlawanan Kartini, sebagai Muslimah semestinya kita tak ikut limbung dan hilang arah. Tak ada yang perlu dirayakan dari 21 April, tak ada yang istimewa dari tanggal itu. Islam telah lebih dulu mengajarkan kita spirit keilmuan dan pendidikan, sesuatu yang konon begitu diperjuangkan Kartini. Namun demikian, esensi perjuangan Kartini semestinya juga dimiliki para Muslimah untuk berkarya dan berprestasi dari dalam rumah. Sebagai umat yang diwarisi Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai pengaburan makna emansipasi justru mencederai fitrah kita sebagai perempuan, sebab dien kita telah menempatkan perempuan pada kedudukan yang mulia.

Salam,

Nina dan keresahannya. 🙂

Menyatukan Frekuensi

munir 2

Pernah suatu saat saya terbayang, sebenarnya apa sih yang membuat Suciwati kala itu begitu mantap menerima pinangan Munir; lelaki yang “sukses” menjadi “buronan” aparat pemerintah karena keberanian level singa dalam mengungkap borok dalam kasus penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Tapi seketika rasa penarasan saya terjawab karena teringat sebuah kalimat, bahwa seorang lelaki bermental singa, tentu layak mendapatkan perempuan yang bermental singa pula. Saya rasa, keduanya memang klop. Laiknya pedang bertemu baju besinya yang saling menjaga, menguatkan, dan mendukung. Kisah Munir dan orang-orang bermental pejuang yang semisal dengannya, memang selalu menarik diungkap dari sisi yang berbeda. Sebagai wanita, tentu kita perlu tertarik untuk menelisik kisah sepak terjang sang istri. Apa yang membuatnya seberani itu bersuamikan lelaki yang namanya –jika boleh dikatakan–, “di-blacklist pemerintah”, karena dianggap membahayakan kaum elite yang haus harta, tahta, dan tentu saja… darah.

“Pahlawan adalah Martir Kebebasan.”

Saya teringat kata-kata Suciwati tentang sang suami, yang diungkapkannya pada bulan April dua tahun silam saat acara peresmian jalan Munir di kawasan Den Haag, Belanda. Ia berujar bahwa suaminya pernah menuturkan, seorang yang pantas disebut pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara.

munir 1

Pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara. (Munir Umar Thalib)

Wanita yang sempat menyayangkan mengapa nama suaminya justru “diabadikan” di negeri lain, bukan di tanah kelahiran suaminya sendiri inipun menambahkan, “Nilai-nilai yang diyakini dan hal-hal baik yang dilakukan oleh seorang pejuang kebenaran tak perlu dikenang (dengan penghargaan, –ed).” Karena baginya, kebenaran dan keadilan adalah sesuatu yang pantas diperjuangkan siapapun di muka bumi ini, entah dihargai atau tidak.

Peran Ganda Seorang Istri

Sepak terjangnya mengungkap dalang pembunuh sang suami yang hingga saat ini belum juga terungkap tuntas, tak putus dilakukannya. Di samping itu, ia adalah seorang single fighter yang berperan ganda; mendidik dan membesarkan anak-anak, serta menjadi ‘benteng pertama’ dalam mem-back up perjuangan suaminya. Tidak itu saja, bahkan (menurut sebuah sumber yang pernah saya baca) Suciwati bersama rekan-rekannya mendirikan taman kanak-kanak di Malang. Luar biasa, bukan? Tentu ketangguhan semacam ini patut diapresiasi bahkan ditiru wanita masa kini. Betapa wanita tidak selalu identik dengan sifat lemah dan tak berdaya. Kelembutan naluri tidak berarti berbanding lurus dengan kelemahan mental.

Fitrah wanita sebagai pendidik generasi yang menuntut kita memahami dunia anak-anak, bahkan tak jarang membuat kita perlu bertingkah seperti anak-anak, tak berarti membuat jiwa dan karakter kita kekanak-kanakan juga, bukan?

Menikah; Seni Menyatukan Frekuensi

Suciwati tidak pernah berjuang seorang diri, sebab istri-istri pejuang telah diwakilkan oleh banyak nama. Suciwati adalah salah satu potret wanita tangguh. Bahkan jauh sebelum Munir berjuang bersama istrinya, memperjuangkan sesuatu yang telah menjadi nafas dalam geraknya, Nabi Ibrahim juga telah berjuang bersama istrinya, Hajar. Memperjuangkan sebuah keyakinan, “Jika yang kita kerjakan ini adalah perintah Allah, niscaya kita takkan pernah disia-siakan oleh-Nya.”

Atau sebagaimana kebenaran abadi yang diperjuangkan Rasulullah bersama Khadijah, di masa-masa kritis awal mereka berdua berjuang dan bergerak. Atau sebagaimana istri Najmuddin Ayyub yang mencari suami yang sefrekuensi visi dengannya, hingga akhirnya –bi idznillah, bermula dari kesamaan visi itulah lahir Shalahuddin Ayyub, Al-Fatihnya Palestina. Lalu ada juga istri Buya Hamka yang pernah mengingatkan suaminya untuk “menjauhi kursi penguasa” karena baginya amanah sebagai seorang penjaga masjid lebih utama di sisi Allah.

Menyinggung Suciwati, saya pun teringat istri Siyono (Allahu yarham), Mufida. Segepok “uang tutup mulut” dari aparat pemerintah atas kasus pembunuhan suaminya; imam masjid yang ditangkap tanpa surat izin penangkapan lalu pulang dalam kondisi nyawa telah meregang, ditolaknya mentah-mentah. Sebuah perjuangan mempertahankan izzah dan keyakinan yang patut diteladani.

Barangkali apa yang menjadi inspirasi dan nafas perjuangan Munir dan istrinya tidak sama dengan beberapa contoh figur teladan di atas. Tapi skenario hidup yang mereka alami serupa. Kehilangan seorang suami atau bahkan istri pejuang. Kehilangan nahkoda atau awak perjuangan. Kehilangan belahan jiwa yang dicintai, bahkan lebih dari sekadar belahan jiwa. Sebab nafas perjuangan mereka telah mengalir sehati sejiwa. Skenario semacam itu tentu berpotensi membuat oleng bahtera yang tengah berlayar di tengah samudera yang berombak ganas. Namun sejak awal, mereka telah memilih mengikrarkan akad mitsaqan ghalizha di atas sebuah kesamaan frekuensi, keselarasan visi dan misi. Kesamaan frekuensi inilah yang menjadi benih awal timbulnya sakinah, ketenangan dalam rumah tangga. In sya Allah.

JCPP

Kesamaan Tujuan adalah Titik Awal Keberangkatan

Bermodalkan rasa “klik” yang tumbuh dari kesibukan yang sama di dunia advokasi buruh, meski ia sendiripun telah menyadari konsekuensi jika hidup bersama Munir, Suciwati menerima pinangan aktivis HAM itu. Katanya, “Karena apa yang kami perjuangkan sama…”

Kesamaan tujuan dan ruang gerak inilah yang memang lebih mudah menumbuhkan ketenangan jiwa, karena kita paham apa yang partner hidup kita kerjakan, bagaimana lingkungan dan rekan-rekan kerjanya, serta yang lebih penting adalah memahami bagaimana risiko dan konsekuensi menjalani hidup bersamanya. Saya tidak mengatakan bahwa guru tidak cocok dengan dokter, atau relawan kemanusiaan tidak klop dengan pegawai kantoran karena atmosfer dan konsekuensi ruang gerak yang berbeda. Tapi yang ingin saya garisbawahi adalah kesetaraan ghoyyah (tujuan) dalam mengarungi bahtera pernikahan, agar pernikahan itu tak sekadar digadang-gadang keindahannya di dunia, namun abadi hingga surga.

Maka jika boleh merumuskan teori, jangan cari pasangan yang pasang gelarnya cuma sampai S2 (sehidup semati), ini jelas sangat kurang. Atau cuma S3 (sehidup semati seperjuangan), ini juga masih kurang. Tapi carilah yang S4 (sehidup semati sesurga seperjuangan), nah barangkali ini barulah lengkap. 🙂

Yaa Rabb, anugerahkanlah kepada kami keshiddiqan dalam ghayyah, keikhlasan dalam melangkah, serta kesabaran dalam memperjuangkan Jannah. Aamiin.

Best regards,

Nina dan remah-remah pikirannya 😉

Dialog Iman: Pilih Mana, Nak?

faktor pendidikan anak

Nak, nak, kalo disuruh milih nih…

Satu. Sekolah yang suuuper baguuus. gedungnya bertingkat, ada pake lift, ada AC-nya, ada kolam renangnya, ada banyak fasilitas bermainnya, ada ayunan, ada rumah pasir yang seru itu. Tapi… Disana kalian ga diajarin Al-Qur’an, ga diajarin nutup aurat, ga diajarin shalat, ga ada teman yang suka nasehatin.

Lalu dua,

Sekolah yang biasa aja. Gedungnya sederhana, ada kipas angin juga alhamdulillah, dindingnya berlapis tembok juga alhamdulillah, lantainya berkeramik juga alhamdulillah, kalo hujan ada bocor-bocor dikit, kalo panas ada sumuk-sumuk dikit, ga ada mainan seru. Tapi… Disana kalian diajarin Al-Qur’an, diajarin shalat, diajarin nutup aurat, temannya baek-baek, suka nasehatin pula.

Kalian pilih yang mana nak?

Tanpa dikomando, anak-anak serempak menjawab, “Duaaaaa!”

Dengan ekspresi super polosnya, cuma satu anak di kelas Awwal satu yang jawab, “Satu…” karena katanya pengen nyobain kolam renangnya… Hihihi, maa syaa Allaah. Berani beda yang patut diapresiasi. 🙂

Yakin nih? Emang apa enaknya tempat kayak gitu?

Dan tampak dengan seyakin-yakinnya mereka menjawab lagi, “Iyaaa, soalnya kan kita bisa belajar Al-Qur’an, ga buka-buka aurat, punya teman-teman baik juga…”

Maa syaa Allaah, inilah fitrah anak-anak, dimana setiap anak di muka bumi ini, tanpa kecuali, sebenarnya diciptakan dengan desain yang sama: mudah menerima kebenaran. Justru yang menjadi pengecualian adalah orang tuanya (termasuk guru-gurunya). Mau diapakan, dikemanakan, dan dibagaimanakan fitrah-fitrah bersih nan jujur itu…

Selamat Dunia Akhirat(?)

fitrah anak

Papan baliho iklan sebuah sekolah kenamaan yang mejeng di pinggir jalan yang biasa saya lewati, ternyata berhasil mengusik perhatian. Strategi marketing yang sukses. Jargonnya nggak nanggung. “Selamat Dunia Akhirat”. Sambil lewat, saya hanya bisa mengamini. Mudah-mudahan segenap jajaran instansi sekolah tersebut benar-benar berkomitmen dengan visinya. Kerja keras.

Selamat dunia akhirat. Tentu ini sebuah visi besar yang harus diapresiasi. Rata-rata sekolah berbasis Islam memanggul cita-cita yang sama. Namun mengawal proses untuk mewujudkannya adalah konsekuensi lain dari ‘iming-iming’ itu. Sungguh, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan sarana dan fasilitas di dalamnya.

Memilihkan sekolah atau metode pendidikan terbaik bagi anak-anak kita memang bagian dari ikhtiar. Namun buah dari ikhtiar tidak jatuh jauh dari tujuan dan niat kita. Bagi lembaga maupun nonlembaga pendidikan pun demikian. Menyediakan berbagai fasilitas terbaik bagi anak didik juga bagian dari ikhtiar. Namun ketiadaan sumber daya manusia yang beradab, menjadikan segala fasilitas itu tiada artinya. Niat yang benar tidak selalu berbuah baik. Ikhtiar yang baik juga tidak selalu berdasar niat yang benar. Keduanya disebut ujian. Namun semestinya, niat yang jujur sejalan dengan ikhtiar yang benar.

Guru-guru berkualitas internasional bisa saja kita ‘beli’ ilmu dan pengalamannya. Namun, tidak ada yang mampu membeli keikhlasannya, kecuali Allaah. Anak-anak yang lugu, polos, dan lucu-lucu itu bisa saja kita titipkan pada lembaga-lembaga berkelas internasional. Namun, tidak ada yang ‘menjual’ fitrahnya yang bersih dan lurus, kecuali Allaah.

Lalu berhasratkah kita para orangtua dan pendidik ‘membeli’ fitrahnya? Tidak ada alat tukar fitrah anak-anak kita selain dengan fitrah itu sendiri. Tukar dengan iman kita. Tukar dengan doa kita. Tukar dengan kesabaran kita. Tukar dengan keikhlasan kita. Tukar dengan ikhtiar terbaik kita; ikhtiar yang diridhai-Nya.

Laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Petani dan Panen Rayanya

gmo-wheat

Bismillaah, sesekali nulis yang agak panjang dan serius. Moga bermanfaat… 🙂

Sungguh, tidak ada pendidik terbaik, guru terbaik, da’i terbaik, atau murabbi terbaik melebihi Rasulullah. Kalau ada pepatah, “Jika melihat ada orang sukses, keren, tersohor nama baiknya, tanyakan siapa orangtua dan gurunya…” barangkali itu ada benarnya.

Murid-murid terbaik tentu lahir dari hasil didikan terbaik, lewat sentuhan terbaik, dari tangan-tangan terbaik pula.

Sejenak mentadabburi QS. Al-Fath ayat 29…

Pada ayat inilah Allah telah menyifati bagaimana karakter hasil didikan Rasulullah.

(1) “…dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka (orang-orang yang beriman).”

Jadi ternyata, indikator keberhasilan proses tarbiyah yang pertama adalah soal wala’ wal bara’. Maa syaa Allaah, pembahasan yang ga main-main. Hasil didikan terbaik adalah mereka yang paham wala’ wal bara’-nya mau dibawa kemana. Terarah. Kepada siapa loyalitasnya diberikan, kepada siapa pula harus jaga jarak.

(2) “Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya…”

Karakter selanjutnya adalah bersemangat untuk selalu ingin menjadi yang terdepan dalam beramal shaleh, dimana tujuannya untuk mencari keridhaan Allah. Bukan karena takut, ga enak, atau bahkan cuma caper sama gurunya. Kalo boleh nyaingin Yamaha yang punya jargon “selalu terdepan”, maka bagi mereka, “Akhirat, selalu terdepan.” Jadi untuk urusan akhirat, jiwa kompetitif mereka akan selalu berpijar, menyala-nyala. Sedangkan untuk urusan dunia, mereka akan mengedepankan kaidah itsar, mendahulukan saudaranya. *dan ya Allaah, ini berat banget aplikasinya* T_T

(3) “Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud…”

Next, tanda bekas sujud ini tak sekadar jidat yang menghitam ya. Bukan itu. Melainkan imu dan amal yaumi dihiasi dengan akhlak mulia. Sholatnya, rukuknya, sujudnya meninggalkan bekas berupa pancaran kemuliaan akhlaknya. Akhlak mulia ini banyak sekali cabangnya. Panjang kalo mau didetailkan. Tapi termasuk di antara akhlak mulia yang utama adalah: MENJAGA LISAN. Karena, barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, falyaqul khayran aw liyashmut.

Tiga hal di atas jika benar-benar menjelma dalam diri para mad’u, anak-anak didik kita, niscaya, hasilnya tidak lain dan tidak bukan adalah:

“Ibarat benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu tumbuh menjadi kuat, besar, dan tegak lurus di atas batangnya.”

Kita terjemahkan kalimat di atas sebagai: Generasi yang berkualitas –sebagai analogi dari hasil panen yang ranum, panen raya–

Tapi ternyata ayatnya tidak berhenti sampai di situ…

“Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya…”

Termasuk di antara yang membahagiakan para guru adalah ketika melihat anak didiknya bisa LEBIH SUKSES ketimbang dirinya. Di antara ciri kesuksesan proses tarbiyah adalah ketika mampu mencetak generasi yang LEBIH HEBAT ketimbang guru-gurunya. Jadi berkualitas saja ga cukup ternyata ya… Tapi berkualitas dan bahkan bisa LEBIH BAIK daripada gurunya. :’)

Dan lagi-lagi, ayatnya belum berhenti sampai di situ…

“…karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”

Jadi, karakter yang tidak boleh luput adalah ketika hasil panen yang luar biasa mengagumkan itu… pada akhirnya mampu menggentarkan hati musuh-musuh Allah. Sungguh, tidak ada manfaatnya bibit unggul hasil rekayasa genetika, karena dalam jangka panjang, akumulasi residunya punya efek destruktif bagi tubuh.

Maksudnya…

Tidak ada artinya bibit unggul jika ternyata keunggulan kualitasnya justru dimanfaatkan oleh musuh-musuh Allah, baik disadari atau tidak. Dimanfaatkan secara ga sadar itu banyak. Bahkan seringnya begitu. Tapi dimanfaatkan secara sadar, ternyata juga ada! Bahkan memang karena dia maunya begitu… Kok bisa?

Jawabannya ada di poin nomor (2):

“Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya…”

Dan itu antitesisnya. Artinya, rukuk dan sujud mereka sudah bukan lagi untuk mencari wajah dan keridhaan-Nya. Melainkan mencari dunia dan seisinya.

Sekarang pertanyaannya, kita semua sebelum menjadi guru pasti pernah menjadi murid, kan? Lalu kira-kira kita ini, murid yang bagaimanakah karakternya? Sudahkah kita menjadi kabar gembira bagi orangtua kita, guru-guru kita? Sudahkah kita menjadi hasil panen yang dituai dengan senyum merekah dan tangis bahagia? Ayolah, jawab dalam hati aja. :’)

Yaa hayyu yaa qayyuum, birahmatika astaghiitsu, fa ashlihlii sya’nii kullahu, wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ain. Wallaahu a’lam.

*tulisan ini pertama kali kunasehatkan untuk diriku sendiri*

Sabar = Tetap Bergerak!

the_butterfly_jar__by_lostinthisphotograph

Sayyid Quthb mengawali penjelasan tentang keimanan dalam tafsirnya, Fii Dzilaalil-Quran dengan tafsir surat Al-Ashr.

Tulis beliau,

“Ia adalah gerak, amal, pembangunan, dan pemakmuran menuju Allah. Ia bukan sesuatu yang layu, pasif, dan bersembunyi di dalam hati nurani.”

Kemudian satu sentuhan kalimat akhir dari penjelasan beliau rahimahullah tersebut adalah,

“Keimanan juga bukan sekedar sekumpulan niat baik yang tak tercerminkan dalam sebuah gerak.”

Sabar adalah sebagian dari bukti iman.

Maka bersabar, sama sekali tidak berarti berhenti bergerak.

Sabar, sama sekali tidak sama dengan berdiam.

Sabar, sama sekali tidak sama dengan kelembaman.

Meski memang, ada kalanya sabar membuat kita bergerak melambat…

Ada kalanya sabar membuat kita berhenti sejenak, mengoreksi langkah yang telah tertambat.

Ada kalanya pula, sabar membuat kita memaksa diri memutar ulang kenangan,

memulai lagi langkah baik yang sempat tertunda dan tertahan,

atau memangkas ketergelinciran yang pernah tertawan di tengah jalan, biar tak lagi terulang.

Sabar, adalah dengan tetap bergerak,

meski pelan, sedikit demi sedikit, atau memang dengan percepatan.

Asal tetap terarah, terorganisir, dan fokus pada tujuan.

Begitulah seni mengolah kesabaran,

agar ia menjelma menjadi sebenar-benar kesabaran yang indah…