Mendidik Anak dengan Positive Parenting ala Nabi

NAKI_1

“Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).” — Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Bismillaahirrahmanirrahiim,

Tulisan kali ini adalah ekstraksi kajian Ramadhan 1438 H bertema “Anakku Mutiara Hidupku” di Masjid Al-Azhar 14 Semarang yang menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ust. Mohammad Fauzil Adhim (hafizhahullaah).

Saya terlambat sekitar setengah jam, jadi mungkin ada bagian yang terpotong ya. Belum lagi narasi beliau yang rasanya ingin dicetak tebal semua, sedangkan kemampuan menulis cepat saya terbatas. Hehehe. Semoga sedikit yang saya bagi ini bermanfaat. Wallaahul muwaffiq.

Di awal pemaparan, hal yang saya garisbawahi adalah tentang konsep aqil baligh. Mengapa anak-anak di masa sekarang lebih cepat baligh? Mayoritas masyarakat serempak menjawab, “Karena makanan anak-anak masa kini lebih bergizi.” Beliau menampik tegas pendapat ini. Menurut beliau, kalau memang ini alasan yang digunakan masyarakat, mestinya anak-anak di Timur Tengah kematangan seksualnya lebih cepat dibandingkan anak-anak Amerika, Eropa, atau Asia, seperti: Indonesia.

Makanan masyarakat Timur Tengah jauh lebih bergizi tinggi, terlebih protein dan lemak (jadi nostalgia materi kuliah dulu, bahwa nutrisi yang merangsang pembentukan hormon adalah protein dan lemak), tetapi mengapa anak-anak di Amerika, Eropa, atau Asia justru lebih cepat mengalami menarche? Padahal Amerika dan Eropa dengan budaya junk food-nya, Asia (Indonesia contohnya) dengan budaya makanan yang dominan karbohidrat dan sayur mayur.

Jawaban yang lebih tepat untuk pertanyaan di atas adalah, “Karena exposure dan rangsangan seksual terhadap anak-anak di wilayah-wilayah tersebut lebih dahsyat!” Anak-anak kita hari ini lebih cepat baligh ternyata bukan semata-mata karena asupan nutrisi yang lebih baik, tetapi juga karena rangsangan seksual di sekitar mereka yang lebih besar, dengan atau tanpa kita sadari. Astaghfirullaah… Contoh sexual exposure: ikhtilath (bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan) di sekolah anak-anak kita hari ini. Belum lagi paparan televisi dan internet yang serba bebas dan tak terkendali, yang sudah menyelinap ke rumah-rumah keluarga Muslim, lewat ponsel yang bebas digenggam kapanpun, dimanapun, siapapun.

Mohon maaf, beberapa bagian tercatat berupa poin-poinnya saja.

  • Memperdengarkan musik Mozart katanya merangsang anak untuk matang daya analitiknya, khususnya pada pelajaran eksak, seperti: matematika. Padahal waktu saya ke berkesempatan berkunjung ke Wina, saya baru sadar bahwa orang-orang Wina sendiri tidak pernah “mengidolakan” Mozart. Itu semua cuma permainan bisnis. Bahkan Mozart saja tidak pandai matematika. Begini kurang lebih yang beliau sampaikan.
  • Kita perlu belajar mendidik anak untuk mencintai amal shaleh, bukan mencintai dirinya karena telah beramal shaleh, karena ini benih ‘ujub (berbangga diri), riya, dan sum’ah (suka pamer).
  • Kita juga perlu belajar mendidik anak siap diolok/direndahkan. Ada sharing pengalaman dari beliau ketika mengajarkan kepada putra-putrinya respon ketika disakiti teman. Ajarkan kepada anak konsep selfhelp dan survive yang benar. Pertama, ajarkan anak untuk bersabar pada pukulan yang pertama dengan mendoakan teman yang menzhaliminya. Kedua, jika masih disakiti, ajarkan anak untuk bersabar dengan menasehatinya. Ketiga, jika masih terus disakiti, sabar kali ini adalah kelemahan. Balas, tapi jangan melampaui batas.
  • Anak usia 6 – 7 tahun = masa tamyiz, mampu membedakan yang benar – salah, baik – buruk à ajarkan shalat yang benar, usia sebelum itu berupa dorongan atau ajakan saja, jika anak belum mau, jangan paksa, itu hak dia.
  • Anak usia 10 tahun = persiapan masa baligh dan mukallaf (terkena beban syari’at) –> sex education dalam Islam sebenarnya bagian integral dari pendidikan Islam itu sendiri, bukan berdiri sendiri –> contoh: mengajarkan shalat yang didahului mengajarkan thaharah (bersuci) kan pasti menyinggung soal ini (pembatal wudhu, sebab mandi janabah, dsb) –> tanamkan dalam diri anak bahwa pelanggaran terbesar pada fase mukallaf adalah meninggalkan shalat!

Konsep Islam dalam Memerintah dan Melarang

Saat melarang sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Luqman: 13 – 19. Setidaknya, beliau mencoba merangkumkan garisbesarnya menjadi 3 hal, yaitu:

  • Awali kalimat larangan dengan panggilang sayang (lembut atau kasar?) –> cermati ayatnya, “Yaa bunayya…” bukan “Yaa, Ibnii…” yang secara bahasa maknanya sama, tapi kadar kelembutannya berbeda.
  • Ikuti dengan serangkaian perintah –> catatan: jika perintahnya berurutan, pastikan anak sedang dalam kondisi nyaman dan perintah tersebut tidak untuk dikerjakaan saat itu juga (menghindari misunderstanding).
  • Ikuti larangan dengan penjelasan –> memberi perintah tanpa penjelasan dapat melahirkan kejumudan (statis, skeptis).

Saat memerintahkan sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Ali-Imran: 102 – 103. Garisbesarnya adalah:

  • Awali dengan panggilan yang baik dan memuliakan –> cermati ayatnya, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu…”
  • Ikuti dengan perintah/komando yang jelas
  • Iktui pula dengan larangan sebagai penegas

Rambu-rambu dalam Perintah dan Larangan

Beliau memaparkan 3 hal yang perlu diperhatikan dalam memerintah atau melarang, yaitu:

  • Jauhi fazhzhan (suara yang keras dan kasar)
  • Jauhi ghalizhal qalbi (hati yang kaku dan keras)
  • Jauhi suara keledai (suara yang “sengak” dan tidak enak didengar)

Beberapa catatan tambahan…

  • Jika terjadi pelanggaran adab, ambil pelajaran dari kisah Umar bin Abu Salamah tentang makan dengan tangan kanan.

Dari ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau makan, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, makanlah makanan yang terdekat denganmu.” ‘Umar bin Abu Salamah) berkata, “Maka sejak itu aku makan dengan cara itu (cara yang diajarkan oleh Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam).” [HR. Ahmad]

  • Jika terjadi pelanggaran halal-haram, ambil pelajaran dari kisah Hasan bin Ali saat memakan kurma sedekah.

Dari Rabi’ah bin Syaiban berkata, “Aku bertanya pada Hasan bin Ali radhiyallaahu ‘anhu, “Apa yang paling berkesan bagimu tentang diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Aku pernah masuk ke ruang sedekah bersama beliau, lalu aku mengambil sebutir kurma dan memasukkannya ke dalam mulutku. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera menegurku, “Buang kurma itu, sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi kita (ahlul bait).” [HR. Ahmad]

  • Jika bermaksud memberi teguran keras, ambil pelajaran dari kisah Ibnu ‘Umar tentang pemuda Quraisy yang sedang menjadikan burung sebagai sasaran anak panah. Teguran keras (bahkan hingga keluar peringatan tentang laknat) sebaiknya diberikan ketika anak menjelang remaja, itupun untuk perbuatan zhalim yang mengancam nyawa, baik manusia maupun binatang.

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia sedang lewat di depan pemuda-pemuda Quraisy yang melempari seekor burung, dan mereka memberikan kepada pemilik burung itu satu tombak untuk setiap lemparan yang salah. Ketika mereka melihat Ibnu ‘Umar datang, pemuda-pemuda itu berlarian, beliau berkata, “Siapa yang melakukan ini? Sungguh, Allah telah melaknat pelaku perbuatan ini! Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran (kekerasan).” [HR. Bukhari – Muslim]

Bekal Penting Membangun Diskusi dengan Anak

Beliau memaparkan ini sebagai jawaban dari salah seorang peserta, “Bagaimana agar orangtua dapat berdiskusi dengan anak-anak (terkait perintah dan larangan)?” Beliau menjelaskan,

  1. Tumbuhkan rasa percaya anak terhadap orangtua. Kuncinya ada pada QS. An-Nisaa’: 9. Qaulan sadiidaa… Qaulan sadiidaa adalah perkataan yang setidaknya mencakup 5 hal, yaitu:
  • Straight to the point
  • Tidak menutupi kebenaran
  • Tidak mengandung kebohongan
  • Mau mengakui kesalahan di depan anak
  • Mau meminta maaf kepada anak
  1. Tumbuhkan rasa hormat anak kepada orangtua –> rasa hormat itu ditumbuhkan, bukan diperintah, “Kamu harus hormat ya, Nak, sama Ayah Ibu..” Ustadz menambahkan, “Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).”

Bagaimana Pengaruh Lingkungan terhadap Pendidikan Anak?

Ini juga pertanyaan peserta. Ustadz membuka jawaban dengan pertanyaan, “Mengapa anak yang hidup di lingkungan yang sama dapat tumbuh dengan karakter dan pemahaman yang berbeda?” Lalu beliau menjelaskan bahwa hal ini setidaknya terjadi karena:

  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua (keluarga inti) terhadap anak-anaknya
  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua terhadap teman anak-anaknya à coba teman anak-anak diajak ke rumah, dibuat nyaman bermain di rumah bersama anak-anak, sambil menasehati dan meluruskan jika ada yang keliru
  • Bekali anak-anak dengan visi dan misi yang kuat sebelum melangkah keluar rumah –> gali lagi pelajaran di QS. Luqman, atau Adz-Dzariyat: 56, atau Ali-Imran: 110.

In syaa Allaah cukup, semoga bermanfaat. Sebaik-baik perkataan adalah kalamullah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah yang datang dari Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam.

Wallaahu a’lam, wastaghfirullaah wa atuubu ilaih, laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Diresume dengan segala keterbatasan, oleh:

@laninalathifa 🙂

*bismillaah, saatnya ngeblog lagi! tadaaa! 😀

Iklan

Tetap Berprestasi dengan Hijab Syar’i

textgram_1493202477

Materi Kulwap FULDFEI (18 Februari 2017)

Dengan mengharap ridha Allaah, materi ini ditulis dan disampaikan oleh @laninalathifa. Semoga Allaah meridhai amal yang sedikit ini…

Bismillaahirrahmanirrahim,

Alhamdulillaah, hari ini istilah hijab syar’i sudah bukan lagi istilah asing. Bahkan ia sudah menjadi semacam trend. Semoga trend yang positif, yang menyadarkan Muslimah bahwa berhijab bukanlah puncak sebuah amal. Justru ia termasuk perkara dasar yang wajib diilmui dan diamalkan seorang Muslimah.

Hijab dimaknai sebagai penghalang. Sesuatu yang menghalangi. Memangnya apa yang dihalangi dari seorang perempuan? Ingat, perempuan dianalogikan sebagai perhiasan. Itu artinya, dari sisi dan sudut manapun, perempuan itu pasti memiliki daya tarik.

Maka hijab sebenarnya bisa dimaknai sebagai 2 hal.

Pertama, hijab sebagai pakaian, sebagaimana yang telah kita pahami selama ini. Fungsi hijab disini adalah untuk menutupi aurat. Lebar, longgar, tidak menerawang. Memakainya adalah untuk ‘menyembunyikan’ kecantikan, bukan malah untuk menarik perhatian.

Lalu hijab yang kedua adalah hijab interaksi. Terhadap siapa? Terhadap lawan jenis, terlebih yang bukan mahramnya. Islam mengajarkan adab-adab dalam bermuamalah, termasuk juga memberi batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Untuk itu islam begitu menjaga kesucian nasab, karena islam begitu menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Tak dipungkiri lagi, betapa pentingnya peran perempuan bagi sebuah peradaban. Bangkit atau runtuhnya sebuah peradaban tak pernah lepas dari sepak terjang kaum wanita. Karakter muslimah yang kokoh, atas izin Allah, dapat mendobrak tiga dinding keterbatasan, yaitu kebodohan, kebobrokan akhlak, dan rapuhnya ruhiyah. Ketiga hal inilah yang semestinya diwaspadai oleh muslimah.

Seorang wanita kelak akan melahirkan dan mendidik generasi. Lewat tangannyalah mereka mengukir generasi Qurani. Dari sekian tugas dan peran penting wanita dalam peradaban manusia, tentu kita memahami bahwa wanita bukan makhluk “kelas dua yang dipandang sebelah mata”. Wanita bukanlah budak peradaban sebagaimana anggapan orang jahiliyah terdahulu. Bahkan perilaku budaya masyarakat modern saat ini masih juga merendahkan kaum perempuan dengan menjadikan mereka komoditas di panggung hiburan. Beragam tayangan di layar kaca tak pernah absen mempromosikan tubuh-tubuh perempuan. Maka tak heran jika kemudian muncul istilah kejahiliyahan modern. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Menyadari betapa pentingnya peran Muslimah dalam membangun sebuah peradaban, tentu Islam telah mengatur bagaimana ia harus berkarya dan beraktivitas, dalam rangka mendukung peran fungsionalnya. Berikut ini saya coba ringkaskan 3 hal yang perlu diperhatikan oleh muslimah dalam berkarya dan beraktivitas.

Syar’i. Jangan pernah abaikan sisi syari’at dalam apapun aktivitas kita, sebab Islam adalah agama yang syumul (menyeluruh). Bahkan urusan buang air saja diuraikan dalam syari’at dengan begitu detailnya. Maka syar’i disini tidak hanya penampilannya saja, namun juga mencakup pemikiran, karakter, dan akhlaknya. Fisik, akal, dan ruhnya selalu hidup di atas nilai-nilai Islam dengan bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah. Teladannya adalah para shahabiyah, bukan artis-artis ibukotah. Makanan akalnya adalah ilmu yang bermanfaat, bukan majalah-majalah hiburan atau komik lucu sesaat. Suplemen ruhnya adalah Al-Quran, bukan lagu-lagu roman picisan.

Berprestasi. Prestasi disini tidak melulu soal akademik ya… Berprestasi bisa bermakna lebih luas dari itu. Intinya, seorang yang mampu melejitkan potensi dirinya untuk kemaslahatan dunia dan akhiratnya, disitulah ia bisa dikatakan sebagai muslimah yang berprestasi.

Menginspirasi. Menginspirasi disini maknanya adalah prestasi yang dilejitkannya itu membawa manfaat bagi umat, bagi orang banyak, bagi sekelilingnya. Oleh sebab itu, jangan jadi muslimah yang egois, apatis, cuek dengan lingkungan sekitar ya… Jadilah muslimah yang peduli, yang pikirannya tidak hanya berkelebat memikirkan dirinya sendiri. Ingat, sebuah peradaban besar itu tak pernah bisa dibangun sendirian! Dan tentu saja, tidak ada peradaban terbaik, kecuali peradaban Islami. Tidak ada kesibukan terbaik, kecuali sibuk dalam aktivitas dan amal Islami.

Hijab syar’i, benarkah ia menjadi penghalang muslimah dalam berkarya dan beraktivitas?

Mestinya kita tidak perlu pikir panjang untuk menjawab ini, sebab jawabannya jelas. TIDAK.

Kita pun tidak perlu pusing-pusing memikirkan alasan dari jawaban pertanyaan ini. Yang pertama dan utama, semua bermuara dari niat. Niat kita dalam berhijab. Semoga tiada jawaban lain selain untuk menunaikan perintah Allaah. Untuk beribadah kepada Allaah. Untuk mencari ridha Allaah.

Ya. Sebab hijab adalah perintah Allaah, bukan sekadar fashion trend. Yakinlah bahwa ketika Allaah memerintahkan sesuatu, pasti di baliknya ada hikmah dan kebaikan yang besar. Dan bagi sesiapa yang ikhlas berusaha melakukan perintah-Nya, seberjuang apapun itu, Allaah pasti akan menolongnya dan membalas jerih payahnya dengan sebaik-baik balasan.

Jadi kalau niat kita sudah benar, tentu pertanyaan-pertanyaan usil semacam di atas tidak perlu lagi menghantui pikiran kita. Jangan takut ‘ga laku’ hanya karena kita berhijab syar’i. Jangan khawatir seret rizki hanya karena kita berhijab syar’i. Jangan cemas ga bisa sekolah tinggi hanya karena kita berhijab syar’i. Percayalah, Allaah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berusaha taat. Tidak ada tips lain dalam hal ini, kecuali menguatkan keyakinan dan meluruskan niat dalam berhijab.

Lalu biar aktivitas kita tetep bisa syar’i dengan hijab syar’i gimana sih?

Kembali ke poin di atas. Tentang makna hijab. Jadi dalam aktivitasnya sebagai muslimah, makna hijab jangan dipahami setengah-setengah. Sekali lagi, hijab bukan cuma urusan pakaian saja. Hijab syar’i mestinya dihiasi dengan rasa malu. Bukan sekadar dihiasi bros cantik. Hijab syar’i mestinya menjadi ‘penghalang’ seorang muslimah untuk melakukan hal-hal yang dapat menjatuhkan muru’ah (kehormatan) dirinya.

Bingkailah rasa malu pada tempatnya. Jangan sampai terbalik. Di antara malu yang tidak pada tempatnya adalah malu untuk menuntut ilmu, malu untuk mengembangkan potensi diri (minder), atau malu untuk menunjukkan identitas kemuslimahannya karena malu kalau-kalau mendapat label negatif dari orang-orang. Misalnya, dicap sok alim, sok suci, sok baik, teroris, blablabla. Ingat, bahkan para Nabi terdahulu pernah mendapat predikat yang lebih keji dari itu. Maka selain dihiasi dengan rasa malu, hiasilah pula hijab syar’i dengan kesabaran… 🙂

In syaa Allaah segini dulu yah. Semoga sedikit sharing hari ini bermanfaat. Mohon maaf pabila ada silap kata. Semoga Allaah senantiasa membimbing kita dalam berilmu dan beramal. Aamiin.

Sedikit closing statement dari saya…

Hijrah kita jangan berhenti di titik hijab syar’i. Lejitkan potensi diri, meraih ridha illahi, jannah adalah tempat kita mengistirahatkan diri…