Rahim

slide_6

“Rahimku memang tidak sempurna. Tapi rahim ibu tidak pernah tidak. Rahim ibu tidak pernah aplasia, karena kasih ibu tidak pernah cacat. Bodohnya, aku pernah meragukan itu. Padahal ‘rahim’ ibu lebih dari sekedar cukup…”

“Aplasia vagina disertai aplasia uterii.”

Dokter menjatuhkan vonis tanpa babibu. Saya terperangah, gagal paham. Soal penyakit, mengerti apa itu H5N1 saja saya sudah merasa hebat.

“Itu penyakit apa, Dok?”

“Kelainan organ reproduksi, tepatnya pada rahim. Rahim Anda tidak berkembang, Mbak.”

Rahim tidak berkembang? Oh, jadi hanya begitu penjelasannya. Singkat sekali, pikir saya. Saya belum puas.

“Bisa jelaskan lebih detail, Dok? Saya masih belum mengerti.” Saya terus mengejar pertanyaan.

“Begini, Mbak. Penyakit yang Mbak Sari alami ini tergolong penyakit langka, dimana rahim tidak terbentuk sempurna. Bahkan dari hasil USG, rahim mbak Sari tidak tampak. Rahim Mbak Sari tidak berkembang. Kondisi inilah yang membuat Mbak Sari tidak mengalami menstruasi.”

Rahim tidak tampak? Apa maksudnya? Rahim saya ghaib? Bagaimana mungkin? Tiba-tiba saya sangat skeptis, melawan kemungkinan. Saya masih belum puas dengan jawaban dokter berjilbab hijau itu. Saya masih menimpalinya dengan pertanyaan.

“Selain tidak bisa menstruasi, adakah dampak lain dari kelainan ini, Dok?”

“Begini Mbak. Dampak yang paling dikhawatirkan dari kelainan ini adalah Mbak Sari tidak bisa hamil…”

Saya tercekat bukan main. Bumi seperti berhenti mengorbit. Langit sekonyong-konyong dirobohkan di depan muka. Mata saya merabun akut. Saya kehilangan gravitasi, kemudian rubuh tanpa komando.

Berhari-hari saya mengurung diri di dalam kamar. Lidah terasa getir. Nafsu makan saya kolaps. Dada terasa sangat sempit, sampai-sampai oksigen rasanya begitu mahal. Semenjak vonis itu saya sering sesak nafas. Imun melemah. Tubuh kuyu, mata sayu. Mendadak saya seperti fobia dengan cermin. Setiap bercermin, saya merasa ditertawakan oleh bayangan saya sendiri. Dinding kamar seperti memantul-mantulkan cemooh. “Kamu bukan perempuan.” Berulang kali.

Berkali-kali saya memecahkan cermin dengan tangan sendiri. Hampir-hampir merobek nadi. Tapi takdir hidup saya belum surut. Rupanya Allah belum hendak menghentikan sistem regulasi darah dalam jantung saya. Padahal saya merasa hidup segan, mati mungkin lebih baik. Astaghfirullah. Saya sadar itu kata-kata kufur. Tapi, semua ini rasanya memang terlalu berat. Bahu saya terlalu rapuh. Iman saya belum membaja.

Saya pun terus menjauhi ibu. Terus menghakiminya sebagai manusia yang paling bersalah atas apa yang saya alami. Tidak hanya itu, saya juga menjaga jarak dengan ayah. Memutus hubungan dengan teman-teman. Apalagi dengan laki-laki. Saya mati rasa. Intinya, saya menutup diri dari pergaulan. Dunia luar terlalu buas bagi perempuan yang “bukan perempuan” seperti saya. Tiap hari saya disuguhkan iklan-iklan di televisi. Semuanya memuja perempuan ideal. Sedangkan saya? Jangankan ideal, setiap hari saya terus mempertanyakan takdir keperempuanan yang saya jalani.

Saya memang terlahir tanpa rahim. Mustahil punya anak. Saya mandul. Tapi hati saya tidak. Hati saya belum benar-benar mati rasa. Rahim saya boleh aplasia, tapi hati saya tidak. Perempuan mana yang tidak ingin menikah dan punya anak? Meraung kesakitan saat melahirkan, menimang bayi, menyusuinya, menggantikan popoknya. Semuanya memang merepotkan, tapi percayalah. Perempuan manapun selalu merindukan momen merepotkan itu. Saya benar-benar tampak seperti pungguk merindukan bulan. Seringkali saya masih merasa bahwa saya perempuan tulen, karena saya rindu menjadi ibu.

Sampai suatu ketika, saya seperti tersambar petir. Saya melihat ibu menangis malam-malam dalam sujudnya. Ibu tidak berhenti menyebut nama saya dalam doanya yang dibanjiri air mata.

“Kuatkan putriku, Ya Allah. Aku tahu segala takdir-Mu adalah baik, meski sering kami tampik. Jika memang kondisi Sari ini akibat ulahku, maka pindahkan rasa sakitnya padaku. Biar aku yang menanggung beban berat di pundaknya. Aku rela, asalkan senyumnya kembali seperti dulu…”

Seketika saya lumpuh. Hati rasanya kisut. Batin saya menjerit. Doa ibu sedemikian tulusnya. Memindahkan rasa sakit? Manusia macam apa yang rela menanggung sakit atas apa yang tidak seharusnya ia derita? Tiba-tiba Bumi seperti ruang hampa udara. Asfiksia.

“Rahimku memang tidak sempurna. Tapi rahim ibu tidak pernah tidak. Rahim ibu tidak pernah aplasia, karena kasih ibu tidak pernah cacat. Bodohnya, aku pernah meragukan itu. Padahal ‘rahim’ ibu lebih dari sekedar cukup. Allaahu ya Rahman ya Rahim. Ampuni dosaku, ampuni…”

Saya pun mengayun lengan. Mendekap tubuh ibu dari belakang.

“Bu, ternyata ‘rahim’ ibu lebih dari cukup. Sari minta maaf…”

(Tulisan ini diadaptasi dari kisah nyata. Sari bukan nama sebenarnya.)

This Life is a Game

slide_4
Disadur dari tulisan Fahd Pahdepie dalam buku “Perjalanan Rasa”

“Dan tiadalah kehidupan di dunia ini, kecuali permainan dan kesenangan belaka.” (QS. 6 : 32)

Hidup adalah permainan. Tetapi kita selalu salah sangka. Kita pikir dalam hidup, kita bisa bermain-main menjalaninya. Padahal, tak ada satu pun permainan yang bisa dimenangkan dengan main-main. Setelah memainkan God of War III, Bettlefield III, dan Assassin’s Creed III yang baru kumengerti bahwa game-game itu bukan hanya memiliki teknologi visual yang canggih, namun sekaligus didukung oleh riset sejarah dan ilmu pengetahuan yang serius.

Maka, aku pun semakin yakin bahwa permainan bukanlah hal yang bisa diselesaikan dengan main-main.

Dan kita, selalu diberi kesempatan untuk menoleh ke belakang, memeriksa apa saja yang pernah kita lakukan dan putuskan. Tetapi bukan untuk kembali, sebab waktu tak bisa diulang dan hidup tak bisa ditegakkan dengan kata “seharusnya” atau “semestinya”. Apa yang telah terjadi barangkali memang harus terjadi dan tak pernah ada manusia yang sanggup lolos dari hisapan lubang hitam kesalahan.

Sepertinya kita memang perlu memandang hidup yang berupa permainan itu, dengan kacamata yang baru,

bahwa dalam hidup, bukan berarti kita bisa main-main menjalaninya.

Seperti bermain video game. Hidup di dunia, bermainlah dengan serius, dengan imajinasi, visi bermain, strategi, skill, dan ketekunan. Kemudian sisanya, berbahagialah!

Rahasia

bintang

“Oleh sebab itu Allah merahasiakan masa depan, agar manusia terus berusaha melakukan yang terbaik, terus berusaha memperbaiki amalan. Karena tidak seorangpun manusia diberi kemampuan membaca tanda-tanda, perihal amalan mana yang Allah terima.”

Jika hidup manusia (benar-benar) seperti permainan, layaknya Mario Bros dalam Nintendo, yang membenturkan kepala berulang-ulang pada tumpukan batu bata merah, kemudian serta merta beberapa keping koin emas berhamburan. Jika manusia (benar-benar) seperti Mario Bros, yang tahu pasti berapa keping koin yang akan dibawa pulang. Jika, dan hanya jika.

Jika hidup manusia (benar-benar) seperti permainan, layaknya Need For Speed dalam Sega, yang mendeksripsikan dimana letak destinasi dan seberapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh. Jika hidup manusia (benar-benar) seperti Need For Speed yang tahu pasti berapa jauh lagi jarak tempuh menuju garis finish. Jika, dan hanya jika.

Kemudian, jika manusia diberi kantong plastik putih untuk menyimpan pundi-pundi pahala yang Allah berikan. Dilengkapi reward counter untuk mengalkulasi seberapa banyak pahala yang telah ia raup. Difasilitasi screen capture yang menangkap detail perkara yang mendatangkan pahala. Dianugerahi kemampuan melakukan transkripsi pada kode-kode langit, untuk menerjemahkan sejumlah pahala yang terejawantah. Jika manusia begitu, adakah mereka masih berlomba-lomba menimbunnya?

Kemudian, jika manusia diberi kantong plastik hitam untuk menampung limbah-limbah dosa yang mereka kerjakan. Dilengkapi punishment counter untuk menghitung seberapa banyak pelanggaran yang telah ia lakukan. Difasilitasi screen capture yang mampu menyorot sinyal-sinyal maksiat. Dianugerahi kemampuan menerjemahkan sandi pada rahasia-rahasia langit, untuk mengalihbahasakan setumpuk dosa yang telah menjelma. Jika manusia begitu, adakah mereka masih bersikeras menjauh?

Sayangnya, tidak satupun fitur yang baru saja kita andai-andai, benar-benar Allah berikan. Sayangnya? Oh bukan. Untungnya. Iya, untungnya kita tidak seperti gadget yang dilengkapi fitur serba canggih, meski sebagian manusia ada yang terus sibuk mengejar definisi sempurna.

Untungnya, Allah merahasiakan begitu banyak hal. Merahasiakan pahala. Menutupi dosa. Menahan dan menyembunyikan sebagian rezeki. Semuanya menguji seberapa besar kesabaran kita “menjaga” rahasia-Nya. Agar kita tidak cepat puas dengan satu amalan, sehingga timbul niat untuk terus memperbaikinya. Agar kita tidak terang-terangan membongkar aib yang telah Ia tutupi. Agar kita tidak berhenti berpengharapan. Dan muara dari semua bentuk rahasia itu adalah, agar kita terus ingat bahwa semesta begitu kerdil dan kecil, bahkan lebih renik dari skala mikroskopis.

Ada rahasia yang tidak terjamah logika, yang bermanifestasi dengan cara-cara yang tidak selalu logis. Begitulah cara-Nya menjelmakan harapan-harapan yang tampak mustahil. Ada rahasia yang tidak pernah berubah status menjadi rahasia umum, karena hanya pemiliknyalah yang terus menjaga kerahasiaan itu abadi, sampai waktu “terbongkarnya” tiba. Sampai-sampai manusia tidak habis pikir, bagaimana mungkin itu terjadi, merasa percaya tidak percaya. Jangan takut, memang begitulah cara-Nya menyimpan rahasia.

Belajarlah menikmatinya. Menikmati rahasia… 🙂

Bersinggungan

lampu

“Sejatinya setiap orang adalah pasangan cerita dari cerita yang lain

Setiap orang akan menyingggung takdir hidup orang lain

Mungkin saja kau berpengaruh pada hidup orang lain di luar sana

Mungkin juga kaulah pengaruh dari kesuksesan teman terdekatmu

Mungkin saja kau adalah bagian dari doa-doa di sujud panjangnya

Mungkin juga kaulah jalan dari perbuatan baik di muka bumi

Siapa yang tahu?”

(sayangnya saya lupa ini quote siapa 😥 )

Pernahkah engkau menyadari, bahwa boleh jadi orbit rejeki kita bersinggungan dengan orbit rejeki orang lain? Tentu saja, itu bukan sebuah kebetulan. Semesta ini ibarat panggung kompleksitas yang bercerita. Ada rangkaian skenario rumit, yang jika kita hubung-hubungkan, entah, mungkin tidak akan ada habisnya.

Pernahkah terbersit dalam pikiranmu, bahwa boleh jadi segala keberuntungan yang pernah kita alami, adalah bagian dari keberuntungan orang lain? Meski kita tidak pernah menyadari itu, bahkan orang lain itupun tidak pernah menyadarinya. Kita terus saja berbangga diri, bahwa pencapaian itu karena kehebatan kita sendiri. Melupakan pintu keberuntungan yang dibuka perlahan oleh orang lain. Melupakan anak kunci yang dulunya terjatuh di lorong, kemudian diambilkan oleh orang lain. Bahkan melupakan Ia yang membingkiskan rejeki dengan beragam cara.

Pernahkah terpikir dalam benakmu, bahwa boleh jadi engkau sendiri adalah bagian dari keping kebahagiaan orang lain? Engkaulah pasangan rejeki orang lain. Engkau pulalah yang akan menjadi bagian dari takdir hidup orang lain. Adakah engkau merasa?

Mungkin akan sulit kita sadari, sebab hari ini manusia telah dipusingkan dengan takdir hidupnya sendiri. Tanpa sempat menduga bahwa takdir-takdir yang bergumul di langit itu saling bersinggungan, meski dibingkiskan terpisah satu sama lain.

Mungkin akan sulit kita pahami, sebab kita pun masih sulit memahami orbit takdir kita sendiri. Sehingga kita masih saja bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin takdir kita menyinggung orbit takdir yang lain?” Sebenarnya, semua itu mungkin. Hanya saja kita yang kadang melawan teori probabilitas, kemudian berseloroh, “Ah, itu kan hanya retorika statistik.”

Mungkin, yang kita butuhkan adalah melihat lebih dalam. Sebab pernahkah mengira jika Bumi tanpa sampah, justru menjadi hamparan gersang bagi pemulung? Pernahkah mengira jika skripsimu yang memusingkan itu justru menjadi keping rejeki bagi pemilik rental dan fotokopi? Pernahkah mengira jika seorang pasien justru menjadi jodoh bagi dokter atau perawatnya? Pernahkah mengira jika amplop cokelat yang tertinggal di rumah seorang gadis, justru menjadi jalannya mendapatkan amplop merah muda berisi tulisan, “Maukah engkau hidup sederhana bersamaku?” Yang dikirimkan oleh tukang pos yang sama. Pernahkah, pernahkah?

Mungkin itulah sebabnya kita harus terus berbuat baik. Sebab siapa sangka jika kebaikan kita sekecil apapun, menjadi binar kebahagiaan luar biasa buat orang lain, meski ia jauh disana.

Lupa Rasanya Pulang

“Ibu, Ayah pulang !”

Gadis kecilku datang menghambur dalam pelukanku. Jagoan tampanku pun menyusul setelahnya. Seperti biasa. Belum ada yang berubah. Rumah selalu menyuguhkan kehangatan. Belum lagi, istriku. Wanita sederhana yang selalu berhasil menghiasi istanaku dengan tebaran cinta. Dia wanita yang tulus. Tidak banyak menuntut dan meminta. Justru aku yang banyak meminta darinya. Paling sering adalah pinta, “Dik, jaga anak-anak…”

“Gbrakk !”

Setumpuk buku di samping lengan kanan lelaki empat puluh tahunan itu berserakan di lantai. Ternyata ia baru saja tertidur di atas meja kerjanya. Pak Ilham, begitu dia biasa dipanggil. Lelaki berkacamata dengan frame cokelat itu kini sibuk menata kembali buku-bukunya, sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya. Dia selalu begitu, terlihat tenang. Rekan-rekan kerjanya mengenalnya sebagai sosok lelaki pekerja keras, serius, dan perfeksionis. Ia selalu berusaha menuntaskan pekerjaannya segera dan dengan cara yang sempurna. Dia begitu disegani di lingkungan kerjanya.

“Ketiduran ya, Pak?” Salah seorang rekan kerjanya menegur.

“Iya, Mas. Ndak tau nih, mata saya kok belakangan ini berat sekali rasanya.”

“Bapak terlalu memforsir diri kelihatannya. Wajah Bapak sampai pucat begitu. Istirahat dulu saja, Pak kalau begitu.”

“Tapi kerjaan saya masih banyak begini, Mas. Ndak enak kalau ditinggal. InsyaAlloh sebentar lagi beres kok.”

“Oh, nggih sampun, Pak. Saya tinggal dulu kalau begitu. Jangan lupa istirahat, Pak. Kalau njenengan sakit malah bisa berantakan kerjaannya.”

Inggih, Mas. Suwun sudah diingatkan.”

Lelaki muda 25 tahun itu pun berlalu meninggalkan Pak Ilham di ruang kerjanya. Sendiri. Pak Ilham masih berkutat dengan buku dan kertas-kertas kerjanya yang berhamburan. Sesekali ia mencoba menggeliatkan punggungnya. Kelihatannya, lelah begitu menggelayut berat di tubuhnya.

Pak Ilham bergerak maju mendekati jendela. Ia menatap keluar. Kosong. Tatapannya sayu. Wajahnya pucat. Dia benar-benar kehilangan energi dirinya.

“Aku rindu pulang…” Pak Ilham menggumam ringan.

Jam makan siang pun tiba. Seperti biasa, Pak Ilham selalu beranjak terlebih dulu ke masjid di depan kantornya. Dia selalu berusaha menemui Tuhannya di awal waktu. Suatu ketika, bawahannya pernah bertanya.

“Pak, bukannya lebih baik makan dulu ya baru shalat? Biar bisa lebih khusyuk gitu shalatnya?”

“Iya betul, Mas. Tapi itu khusus kalau dia sudah sangat lapar dan ndak bisa lagi ditahan. Kalau saya memang sudah terbiasa begini, jadi ya alhamdulillah bisa shalat di awal waktu tanpa melilit perutnya.”

“Bagi tipsnya dong, Pak, biar bisa begitu bagaimana caranya? Pasti Bapak selalu disediakan sarapan yang lezat dan mengenyangkan ya sama istri…”

Lelaki berkacamata itu menunduk seketika. Pandangannya nanar, menghambur ke segala arah tanpa arti.

“Saya cuma sarapan sama air putih kok, Mas. Kalau sarapannya terlalu lezat dan mengenyangkan, nanti malah ngantukan pas kerja. Mas, sudah iqomat. Saya shalat dulu ya. Monggo kalau mau ikut shalat berjama’ah sekalian.”

Nggih, Pak. Saya wudhu dulu.”

***

Istri yang selalu menyediakan sarapan? Ah, sudah lama sekali rasanya aku tidak sarapan dengan masakan lezat istriku. Sudah lupa rasanya.

Baiti jannati. Bagaimanakah rasanya? Adakah istanaku benar-benar surga dunia bagiku? Aku sudah lupa rasanya, bahkan aku tidak pernah tahu bagaimana tinggal di dalamnya.

Aku adalah lelaki 45 tahun dengan seorang istri cantik lengkap dengan segala hiasan dirinya yang membuat lelaki manapun akan merasa betah tinggal di rumah. Namun nyatanya? Sedikitpun aku tak merasakan demikian. Benar, istriku memang seorang istri yang rupawan, namun sayang, hatinya tidak menawan. Dia belum mampu menerima kekurangan diriku. Pintanya terlalu banyak dan berat untuk kupenuhi. Benar, istriku memang cantik rupawan dengan kulit putih mulus bersih, namun suaranya padaku tidak selembut kulitnya. Dia terlalu sering membentak padaku, hingga aku lupa bagaimana suara lembutnya ketika dulu.

Aku adalah seorang ayah dengan dua orang putra dan putri. Jagoan tampanku kini berusia 20 tahun. Benar, dia tampan. Dia meninggalkan banyak garis keturunan istriku; tinggi, putih, dan berhidung mancung. Benar, dia lelaki rupawan, namun sayang, dia terlalu banyak menghadiahkanku kekecewaan. Dua bulan yang lalu, kudengar kabar tentangnya, bahwa dia telah bermain candu yang membuatnya mendekam di dalam sel bisu.

Dan aku juga seorang ayah dari gadis belia berparas manis yang kini menikmati hidupnya di usia 18 tahun. Benar, dia memang gadis manis, namun sayang, hatinya belum tersentuh dengan manis. Dia juga meninggalkanku dengan sebaris kekecewaan mendalam. Dia selalu mendatangiku dengan bentakan keras, menagih ini dan itu, memaksaku bekerja semakin keras, dan meruntuhkan dinding penahan air mataku di kala malam. Kalian tahu, bagaimana perasaan seorang ayah yang tak mampu menghadiahkan buah hatinya ini dan itu? Kalian tahu, bagaimana perasaan seorang ayah yang hanya sanggup menatap bisu saat putri kecilnya lebih nyaman berada di luar istana kecil mereka, hanya karena mereka merasa, “Dunia luar lebih nyaman buatku.” Ya, putri kecilku yang dulu tangisnya begitu kurindu, kini ia lebih memilih meninggalkanku, meninggalkan istana kecilku. Ia pergi meninggalkanku tanpa pernah ada rasa rindu untuk kembali berjumpa denganku.

Mungkin, rumah yang dulu selalu kusebut istana raja itu lebih pantas disebut istana pasir yang telah goyah dan berhamburan diterjang kerasnya ombak di lautan kehidupan. Aku benar-benar lupa bagaimana rasanya pulang. Kepulangan yang seharusnya menjadi bingkisan manis penawar rindu, justru menjadi begitu hambar bagiku. Bahkan mungkin meninggalkan rasa pahit yang membuat lidah kelu. Jauh di dalam lubuk hatiku yang telah membiru, selalu tertinggal rasa rindu, namun selalu tertinggal pula rasa khawatir ingin bertemu.

Bagaimana kepulanganmu? Harap dan cemas yang selalu mengiringi langkah kepulangan menuju rumah tercintamu terbayarkah dengan rasa bahagia yang membuncah karena telah saling bertemu?

Adakah pelukan hangat istri dan anak-anakmu?

Adakah sapaan lembut istri yang menghambur padamu sambil menyeka keringat kerja kerasmu?

Adakah rengekan manja gadis dan jagoan kecil yang selalu rindu menunggu kepulanganmu?

Bagaimanakah rasanya? Aku sudah lupa rasanya pulang.

Kacamata

“Semua orang, meski tanpa minus ataupun silindris, selalu melihat sesuatu dengan kacamata masing-masing.” (Rahne Putri)

Bukan. Cerita ini bukan tentang kacamata yang diperjualbelikan di pinggir-pinggir jalan. Ini tentang kacamata kita. Bukan tentang gangguan penglihatan. Ini tentang cara pandang kita. Bukan soal bicara empat mata, karena aku ingin mengajakmu bicara dari hati, tempat bersemayamnya segala pandangan mata.

Sebenarnya ini kisah tentang seorang lelaki yang memilih hidup sendiri, sampai ia bertemu mati. Orang-orang di sekelilingnya, entah dengan atau tanpa kacamata, memandangnya sebagai lelaki penyendiri yang aneh, lengkap dengan kacamata tuanya. Lelaki renta itu selalu menampakkan diri di waktu pagi, kemudian kembali di saat matahari memilih sembunyi.

“Bapak kok betah sih hidup sendiri sampai tua begini?” Celetuk tetangga samping kiri.

“Keluarga Bapak pergi kemana kok sampai Bapak hidup sebatang kara begini?” Singgung tetangga samping kanan.

“Saya tidak pernah merasa hidup sendiri. Setiap hari saya justru selalu merasa diawasi.” Jawab Pak Yoyok singkat.

“Saya yang pergi menjauhi keluarga, istri, anak-anak, dan sahabat. Saya sendiri yang memilih pergi.” Imbuh lelaki tua berkacamata itu.

“Lho, kenapa Pak? Boleh saya tahu?” Tetangga kiri begitu ingin tahu.

“Maaf Pak, saya hanya ingin menyimpan sendiri alasannya. Khawatir jika kisah saya nanti sedikitpun tidak memberi manfaat buat Bapak. Makanya selama ini saya memilih diam. Menanti saat yang tepat untuk bicara. Yaitu di tengah kesendirian. Bercerita sepuas-puasnya dengan Dzat yang tak pernah membocorkan rahasia.”

Pak Yoyok mengucap salam, dan berlalu meninggalkan tetangga kanan dan kirinya.

“Seandainya mereka tahu bahwa aku hidup sendiri untuk sebuah alasan. Aku hanya lelaki tua mantan narapidana. Keluarga besar belum bisa ikhlas menerima kepulanganku. Tetangga sekeliling rumah kecilku juga demikian. Masih menyimpan dendam kesumat yang entah kapan surut. Memaksa istri dan anak-anak menutup telinga rapat-rapat mendengar olokan yang sebenarnya sangat menyakitkan, bukan buatku, tapi buat mereka, istriku, anak-anakku. Hanya saja aku pilih untuk dipendam. Aku tak ingin anak-anakku tumbuh berkembang dengan olok dan cacian tentang Ayah mereka. Tentang sosok yang seharusnya mereka banggakan.

Aku pun memilih pergi (lagi) untuk sebuah alasan. Menjaga mereka yang kucintai disana. Sebab kadang, jarak adalah cara untuk menjaga. Hanya saja, orang-orang itu tidak (belum) mengerti. Masing-masing orang bertindak karena sebuah alasan. Entah itu mampu mereka pahami, atau tidak sama sekali. Sejujurnya aku, benar-benar ingin berubah, meski mereka sudah lebih dulu ragu dan menolak diriku yang baru. Dan jika suatu hari nanti aku pergi mati, aku ingin pergi dengan sebaik-baik kepergian. Biarlah istri dan anak-anakku aman dalam penjagaan-Nya, bukan penjagaanku. Seperti yang sudah-sudah, saat aku menyia-nyiakan mereka dengan segala perilaku burukku. Dia-lah yang selalu menjaga keluarga kecilku di rumah. Semoga, ada kenangan manis yang masih di terekam di memori jangka panjang anak-anakku. Setidaknya, aku pergi sebagai Ayah yang baik.”

Lelaki tua berkacamata itupun benar-benar pergi mati. Kacamatanya tertinggal di atas meja. Tertinggal pula kacamata-kacamata tentang dirinya, yang penuh prasangka tentang siapa dan bagaimana dirinya.

“Manusia adalah pengacara yang hebat untuk kesalahan diri sendiri, tetapi berubah menjadi hakim yang mahsyur untuk kesalahan orang lain.” (Tere Liye)

Soulmate

Mereka bilang dua sejoli itu soulmate abadi. Kemanapun pergi selalu melengkapi. Dimana ada suami, tak jauh di dekatnya pasti ada sang istri. Mereka bilang pasangan muda itu soulmate romantis. Kemanapun pergi selalu ada kata “Sayang, Honey, Sweetheart,” dan sapaan lain yang mereka sebut itu bumbu romantis.

Dua sejoli itu, begitu sempurna di mata mereka. Suami tampan, bersanding  dengan wanita yang tak kalah rupawan. Ah, surga dunia, begitulah yang mereka simpulkan.

Dua sejoli itu dulu sama-sama tak pernah tahu, jika takdir-Nya mempersatukan mereka dalam sebuah bahtera. Sang wanita pernah mempertautkan hatinya kepada sosok pangeran yang lain. Begitu pula dengan sang lelaki yang kini menjadi raja yang bertahta di singgasana hatinya. Jalan kisah pun mengalir berbeda. Mereka bertemu, saling mengenal, berbagi cerita, hingga akhirnya saling percaya untuk berbagi hati dalam ikatan suci.

Menikah. Ya, merekapun menikah. Menghalalkan ikatan hati yang sebelumnya pernah terjalin mesra. Ya, mereka pernah mesra sebelum waktunya, hingga beberapa lama. Merekapun semakin mesra. Orang-orang yang dulu pernah mengaguminya, semakin menjadi-jadi rasa kagumnya. Entah kagum karena apa.

Mereka pun menjalani kehidupan rumah tangga layaknya orang biasa. Bertemu, bertatap muka, berbagi rasa dan cerita. Mungkin ini sebabnya orang-orang menyebutnya bahtera. Bukankah setiap bahtera selalu membutuhkan seorang nahkoda? Hanya seorang, meskipun awak kapal bisa saja lebih dari seorang. Dan mungkin ini sebabnya, seorang nahkoda harus paham betul cara navigasi dan mengemudi.

Bahtera yang baru saja mereka arungi bersama ternyata goyah tergoncang. Bukan. Bukan ombak besar yang menghantam. Bahtera yang terlihat kokoh itu ternyata rapuh dari dalam. Kesalahan ada pada sang nahkoda. Ia gamang. Ia gentar. Ia telah gagal mengemudikan bahtera kebanggaannya.

Sang permaisuri menunduk menahan tangisan. Ia tergoncang hebat dan dirundung kenestapaan mendalam.

“Sungguh, jika kupahami makna bahtera sebelumnya, aku benar-benar ingin dinahkodai seseorang yang tak hanya membuat duniaku bahagia di sisinya. Aku pun ingin akhiratku aman bersamanya…”

Sang permaisuri menutup kalimatnya dengan diam, tanpa sepatah kata.