Al-Fatihah Pertama

ayah ibu

Membaca artikel-artikel seputar parenting, saya pernah menemukan soal ini, “Ajarkan anakmu membaca Al-Fatihah.” Inti dari tulisan itu adalah bahwa Al-Fatihah seharusnya menjadi ayat Al-Quran yang diajarkan langsung oleh ayah dan ibu, bukan guru ngaji, atau bahkan (maaf) PRT. Alasannya sederhana, karena Al-Fatihah adalah surat yang akan dibaca berulang kali oleh sang anak saat shalat. Pahala jariyah untuk si pengajar, tentunya.

Iya, saya setuju. Sangat setuju, bahkan. Tapi jujur saya lupa, siapa yang pertama kali mengajarkan itu kepada saya. Sebab saya memang tidak terlahir dari keluarga kyai, ustadz, atau lingkungan agamis lainnya, meskipun saya pernah mencicipi teduhnya belajar Al-Quran di TPQ. Maka bisa jadi, orang yang pertama kali mengajarkan Al-Fatihah itu justru ustadz/ah di TPQ.

Tapi bagi saya, kebaikan orang tua tetaplah tidak terganti oleh posisi pengajar kebaikan di TPQ manapun. Kontraksi rahim ibu yang pernah menjadi jaminan hidup dan matinya, tentu saja tidak terbayar dengan kebaikan ustadzah yang mengajarkan Al-Fatihah. Kerja keras ayah sedari pagi hingga petang tentu juga tidak sebanding dengan kesabaran ustadz yang menemani kita bermuraja’ah. Kesabaran mereka dalam membesarkan kita selama ini, semoga menjadi penebus kekurangan-kekurangan mereka dalam mendidik kita.

Iya, saya sadar betul bahwa mereka memang bukan orang tua terbaik di dunia ini. Tapi sampai kapanpun, merekalah ayah dan ibu terbaik di dunia saya. Semoga Allaah melimpahkan kebaikan dunia dan akhirat buat ayah dan ibu terbaik kita. Dan semoga, Allaah pun menolong kita menjadi anak-anak yang shalih bagi mereka. Aamiin. :’)

Iklan

Dialog Iman: Pilih Mana, Nak?

faktor pendidikan anak

Nak, nak, kalo disuruh milih nih…

Satu. Sekolah yang suuuper baguuus. gedungnya bertingkat, ada pake lift, ada AC-nya, ada kolam renangnya, ada banyak fasilitas bermainnya, ada ayunan, ada rumah pasir yang seru itu. Tapi… Disana kalian ga diajarin Al-Qur’an, ga diajarin nutup aurat, ga diajarin shalat, ga ada teman yang suka nasehatin.

Lalu dua,

Sekolah yang biasa aja. Gedungnya sederhana, ada kipas angin juga alhamdulillah, dindingnya berlapis tembok juga alhamdulillah, lantainya berkeramik juga alhamdulillah, kalo hujan ada bocor-bocor dikit, kalo panas ada sumuk-sumuk dikit, ga ada mainan seru. Tapi… Disana kalian diajarin Al-Qur’an, diajarin shalat, diajarin nutup aurat, temannya baek-baek, suka nasehatin pula.

Kalian pilih yang mana nak?

Tanpa dikomando, anak-anak serempak menjawab, “Duaaaaa!”

Dengan ekspresi super polosnya, cuma satu anak di kelas Awwal satu yang jawab, “Satu…” karena katanya pengen nyobain kolam renangnya… Hihihi, maa syaa Allaah. Berani beda yang patut diapresiasi. 🙂

Yakin nih? Emang apa enaknya tempat kayak gitu?

Dan tampak dengan seyakin-yakinnya mereka menjawab lagi, “Iyaaa, soalnya kan kita bisa belajar Al-Qur’an, ga buka-buka aurat, punya teman-teman baik juga…”

Maa syaa Allaah, inilah fitrah anak-anak, dimana setiap anak di muka bumi ini, tanpa kecuali, sebenarnya diciptakan dengan desain yang sama: mudah menerima kebenaran. Justru yang menjadi pengecualian adalah orang tuanya (termasuk guru-gurunya). Mau diapakan, dikemanakan, dan dibagaimanakan fitrah-fitrah bersih nan jujur itu…

Petani dan Panen Rayanya

gmo-wheat

Bismillaah, sesekali nulis yang agak panjang dan serius. Moga bermanfaat… 🙂

Sungguh, tidak ada pendidik terbaik, guru terbaik, da’i terbaik, atau murabbi terbaik melebihi Rasulullah. Kalau ada pepatah, “Jika melihat ada orang sukses, keren, tersohor nama baiknya, tanyakan siapa orangtua dan gurunya…” barangkali itu ada benarnya.

Murid-murid terbaik tentu lahir dari hasil didikan terbaik, lewat sentuhan terbaik, dari tangan-tangan terbaik pula.

Sejenak mentadabburi QS. Al-Fath ayat 29…

Pada ayat inilah Allah telah menyifati bagaimana karakter hasil didikan Rasulullah.

(1) “…dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka (orang-orang yang beriman).”

Jadi ternyata, indikator keberhasilan proses tarbiyah yang pertama adalah soal wala’ wal bara’. Maa syaa Allaah, pembahasan yang ga main-main. Hasil didikan terbaik adalah mereka yang paham wala’ wal bara’-nya mau dibawa kemana. Terarah. Kepada siapa loyalitasnya diberikan, kepada siapa pula harus jaga jarak.

(2) “Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya…”

Karakter selanjutnya adalah bersemangat untuk selalu ingin menjadi yang terdepan dalam beramal shaleh, dimana tujuannya untuk mencari keridhaan Allah. Bukan karena takut, ga enak, atau bahkan cuma caper sama gurunya. Kalo boleh nyaingin Yamaha yang punya jargon “selalu terdepan”, maka bagi mereka, “Akhirat, selalu terdepan.” Jadi untuk urusan akhirat, jiwa kompetitif mereka akan selalu berpijar, menyala-nyala. Sedangkan untuk urusan dunia, mereka akan mengedepankan kaidah itsar, mendahulukan saudaranya. *dan ya Allaah, ini berat banget aplikasinya* T_T

(3) “Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud…”

Next, tanda bekas sujud ini tak sekadar jidat yang menghitam ya. Bukan itu. Melainkan imu dan amal yaumi dihiasi dengan akhlak mulia. Sholatnya, rukuknya, sujudnya meninggalkan bekas berupa pancaran kemuliaan akhlaknya. Akhlak mulia ini banyak sekali cabangnya. Panjang kalo mau didetailkan. Tapi termasuk di antara akhlak mulia yang utama adalah: MENJAGA LISAN. Karena, barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, falyaqul khayran aw liyashmut.

Tiga hal di atas jika benar-benar menjelma dalam diri para mad’u, anak-anak didik kita, niscaya, hasilnya tidak lain dan tidak bukan adalah:

“Ibarat benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu tumbuh menjadi kuat, besar, dan tegak lurus di atas batangnya.”

Kita terjemahkan kalimat di atas sebagai: Generasi yang berkualitas –sebagai analogi dari hasil panen yang ranum, panen raya–

Tapi ternyata ayatnya tidak berhenti sampai di situ…

“Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya…”

Termasuk di antara yang membahagiakan para guru adalah ketika melihat anak didiknya bisa LEBIH SUKSES ketimbang dirinya. Di antara ciri kesuksesan proses tarbiyah adalah ketika mampu mencetak generasi yang LEBIH HEBAT ketimbang guru-gurunya. Jadi berkualitas saja ga cukup ternyata ya… Tapi berkualitas dan bahkan bisa LEBIH BAIK daripada gurunya. :’)

Dan lagi-lagi, ayatnya belum berhenti sampai di situ…

“…karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”

Jadi, karakter yang tidak boleh luput adalah ketika hasil panen yang luar biasa mengagumkan itu… pada akhirnya mampu menggentarkan hati musuh-musuh Allah. Sungguh, tidak ada manfaatnya bibit unggul hasil rekayasa genetika, karena dalam jangka panjang, akumulasi residunya punya efek destruktif bagi tubuh.

Maksudnya…

Tidak ada artinya bibit unggul jika ternyata keunggulan kualitasnya justru dimanfaatkan oleh musuh-musuh Allah, baik disadari atau tidak. Dimanfaatkan secara ga sadar itu banyak. Bahkan seringnya begitu. Tapi dimanfaatkan secara sadar, ternyata juga ada! Bahkan memang karena dia maunya begitu… Kok bisa?

Jawabannya ada di poin nomor (2):

“Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya…”

Dan itu antitesisnya. Artinya, rukuk dan sujud mereka sudah bukan lagi untuk mencari wajah dan keridhaan-Nya. Melainkan mencari dunia dan seisinya.

Sekarang pertanyaannya, kita semua sebelum menjadi guru pasti pernah menjadi murid, kan? Lalu kira-kira kita ini, murid yang bagaimanakah karakternya? Sudahkah kita menjadi kabar gembira bagi orangtua kita, guru-guru kita? Sudahkah kita menjadi hasil panen yang dituai dengan senyum merekah dan tangis bahagia? Ayolah, jawab dalam hati aja. :’)

Yaa hayyu yaa qayyuum, birahmatika astaghiitsu, fa ashlihlii sya’nii kullahu, wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ain. Wallaahu a’lam.

*tulisan ini pertama kali kunasehatkan untuk diriku sendiri*

Semir Sepatu

boot
bukan sepatu Fir’aun

Selalu ada harga yang harus dibayarkan untuk setiap pilihan hidup yang kita jalani. Yang lugu, lempeng, on the track, ada konsekuensinya. Yang nekad dan nabrak-nabrak, juga ada konsekuensinya.

Mau jilbaban, ada konsekuensinya. Lebar dikit terasa gerah, belum lagi nyinyir dari tetangga sebelah. “Hih, jilbab model apaan tuh segedhe gitu. Budaya Arab itu mah. Ga nusantara banget.”

Mau ga jilbaban, seksi-seksian, juga ada konsekuensinya. Kebuka atas, disuit-suit. Kebuka bawah, disawer-sawer. Mulai dari kelas televisi nasional –tawaran iklan sabun mandi sampai kacang goreng–, sampai kelas warung remang-remang yang colek dikit bayarannya pulsa telponan. Belum lagi kalo kebobolan. Nama baik keluarga? Ah, lupakan.

Mau jomblo tanpa pacaran, ada konsekuensinya. Paling banter, jadi bahan bully dan ojok-ojokan, “kamu kapan, kamu kapan”. Yang pacaran maju terus, juga ada konsekuensinya. Digantung, di-ha-te-esin, di-elo-gue-end-in, dan kegetiran semacamnya. Belum lagi kalo cemburu dikit, clurit melayang. Horor ya? Tuh, di tivi banyak.

Mau jual gorengan, jual sendal, jual ember cucian, angkut sampah, dorong gerobak sayur, nyemir sepatu orang, banyak konsekuensinya. Paling banter, soal stigma dan sistem kasta di negeri ini yang belum juga kadaluwarsa.

Tapi jangan dikira, tukang copet, mau yang dari kelas ekonomi sampai eksekutif, juga banyak konsekuensinya. Kalo copet kelas ekonomi, paling banter harus siap digebukin massa. Sementara yang eksekutif, harus siap menghuni bui rasa hotel bintang lima. Kedengerannya menggiurkan sih, tapi sekali copet mah ya copet aja, biarpun pake kostum jas parlente ala pangeran tuksedo.

Dalam hidup, kita seperti ga bisa lepas dari konsekuensi demi konsekuensi. Pedihnya, seringkali kita ga siap, ga sadar, bahkan ‘auk ah gelap’. Kita sering mendobrak-dobrak jalan pintas, sementara kita terlupa bahwa ga semua jalan pintas itu aman dilewati. Banyak ranjau, banyak jeblokan, sementara kita merasa jiwa kita begitu setrong melewati itu semua. Kita sering membercandai aturan-Nya, sementara kita di saat yang sama selalu mengemis ini dan itu, mengiba kemurahan-Nya.

Maka jika setiap jalan ada harga tiket masuknya, tidakkah kita pilih jalan yang ‘lebih kecil risikonya’? Setidaknya jalan yang membuat kita ga harus bayar dua kali lipat atau bahkan lebih. Sudah bayar di dunia, masih ditagih pula di akhirat. Meski kita pun sadar diri, ‘yang kecil risikonya’ saja belum tentu mampu kita lewati dengan selamat.

Duhai diri, betapa menjadi debu di sendal jepit Bilal bin Rabah jauh lebih berkelas di mata-Nya, ketimbang menjadi semir sepatu di sepatu parlente Fir’aun.

*ah lupakan, ini hanya remah-remah pikiran

Dek…

ruang rindu

dek, saya tau, saya bukan kaka yang baik. tapi asal kamu tau, kaka sayang sama kamu. sungguh.

dek, saya tau, saya ini kaka yang cerewet. tapi asal kamu tau, seringkali cerewet adalah tanda sayang.

dek, saya tau, saya ini sok tangguh, sok pedulian. tapi asal kamu tau, sungguh ini bukan sok pedulian, tapi karena memang betulan peduli.

dek, saya sadar, saya ini banyak menuntut ini dan itu. banyak jejali tugas. banyak berbusa-busa. tapi asal kamu tau, sungguh ini bukan sekadar tuntutan, tugas, dan retorika. melainkan karsa, asa, dan rasa. kamu adalah tunas yang kunanti-nanti menjadi bernas.

dek, saya minta maaf, jikalau saya bukan kaka yang asik. setidaknya biar engkau belajar bahwa hidup di dunia ini memang ga selalu asik. dan kita, harus bisa bertahan dari ketidakasikan sementara itu.

dek, saya minta maaf, jikalau pernah tampak setengah hati dalam membersamaimu. tapi asal kau tau, doa saya tak pernah setengah-setengah, in syaa Allaah.

dek, saya minta maaf, jikalau seringkali salah memahamimu. sebab kadang, memahami diriku sendiri aku tak mampu.

dek, saya minta maaf, jikalau saya belum bisa jadi kaka yang baik. tapi asal kau tau, saya sudah berusaha.

dek, saya minta maaf, jikalau ukhuwah seringkali justru terasa menyakitkan.

dek, saya minta maaf, jikalau saya tak mahir mem-verbalkan cinta, sebab bagiku cinta bukan lagi sebuah kata benda. seringkali kita cukup berbuat sesuatu, hingga akhirnya ia tau, cinta itu apa.

dek, saya minta maaf… sudikah segala khilaf dimaafkan?

“Dalam dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang lain dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali. Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’ad bin Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar.

Pahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang yang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain belum jua mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.” (ust. salimafillah)

halo dek. apa kabar? :))

BBO… Oh… BBO

childhood_3

Salah satu perangkat wajib dari pembelajaran di Kuttab adalah BBO (Belajar Bersama Orangtua). Ini semacam lembar portofolio yang berisi rangkuman materi ajar selama 2 pekan, tugas atau PR, dan laporan hasil pendampingan belajar (yang diisi oleh wali santri kemudian diserahkan kepada guru kelas). Namanya juga belajar bersama orangtua, maka lembaran BBO diserahkan kepada wali santri, rangkuman materi menjadi arsip bagi wali santri, dan penugasan adalah aspek wajib yang harus dikerjakan santri bersama orangtuanya.

Ada yang menarik hari ini. Membaca lembar BBO (Belajar Bersama Orangtua) hari ini diliputi rasa geli sekaligus terharu. Hehehe. 😀

BBO pertama.

Tugas: membiasakan diri untuk membaca ta’wudz ketika marah.

Laporan:

“Alhamdulillaah, ada kejadian menarik dari kaka Sholihah (nama disamarkan). Kemarin 2 adik dari kaka Sholihah bertengkar, adu mulut sampai pukul-pukulan. Tiba-tiba kaka Sholihah datang melerai. Ia memegangi si adik yang sedang marah, kemudian, “Dek, baca ta’awudz, baca ta’awudz!” Sambil mencoba men-talqinkan kalimat “A’uudzubillaahi minasy syaithanirrajiim…”. Bahkan ia juga menuntun si adik yang sedang tersedu-sedu itu untuk melantunkan terjemahnya, “Aku berlindung kepada Allaah dari godaan setan yang terkutuk…” Begitu terus berulang kali, sampai akhirnya si adik mengikuti komandonya, meski masih sambil tersedu-sedu. Ending cerita, alhamdulillaah, si kaka berhasil mendamaikan keduanya.”

BBO kedua.

Tugas: berlatih menangis saat membaca Al-Qur’an.

Laporan:

“Saya heran kenapa kaka Qonita (nama disamarkan), berkali-kali bolak-balik ke dapur untuk minum. Eh ternyata katanya… ini demi menuntaskan tugas bbo-nya kali ini. Dia bilang air matanya yang keluar hanya sedikit, setetes-setetes saja. Dan dia berharap dengan minum air yang banyak, air matanya jadi banyak juga…”

Rabbii hablii minash shaalihiin. Yaa Rabbanaa, jadikan anak-anak kami, anak didik kami, anak-anak di sekeliling kami, anak-anak di segala penjuru Bumi manapun, menjadi anak yang shalih, menjadi kebanggaan ummat, menjadi generasi yang membawa cahaya gemilang peradaban.

Saya percaya, seperti apapun kita sebagai orangtua (pendidiknya), segala keterbatasan kita, seberjuang apa kita mendidiknya, anak-anak memiliki fitrah yang luhur, bersih, dan mudah dekat pada kebenaran. Dengan mengharap ridha dan pertolongan-Nya, mari kawal fitrah anak-anak kita, wahai Ayah Bunda, dan segenap Guru… 🙂

best regards,

nina, guru yang tuntas belajarnya

Virus

c5ef4b4a93888d4cba72b6f967889a4c

Buat teman-teman aktivis R*his kampus atau adik-adik aktivis di sekolah yang kusayangi, tolong jangan pernah meremehkan yang namanya satir atau hijab saat rapat/syuro’/musyawarah atau apapun itu bentuk komunikasi. Jangan gampang ngeles. Jangan mudah beralasan.

“Ah, hati saya lapis baja kok mbak.”
“Ah, ini betulan bahas urusan dakwah kok mbak. Demi kemaslahatan umat.”
“Ah, ngobrolnya sambil nunduk-nunduk juga kok mbak.” (sumpelo?)
“Ah, kita mah udah biasa begini mbak, hati kita malah jadi resisten.” ((( omaigat )))

Apalagi jika apa yang kita tekuni ini bawa-bawa nama dakwah. Bawa-bawa urusan umat. Bawa-bawa judul iqomatuddin. Yang kesemua hal tadi adalah sebuah perkara besar dan tidak main-main.

Jangan mudah meremehkan kerikil kecil dalam perjalanan panjang yang sedang kita tempuh ini. Jangankan kerikil. Butiran debu itu kalau masuk mata pedihnya bukan main.

Sudah terlampau banyak kasus berjatuhannya para pejuang di jalan cinta yang belum halal… Layu sebelum sempat berkembang. Gugur sebelum sempat berkarya. Dan dari banyak kasus itu, sebagian besar problemnya bermula dari pola interaksi dengan lawan jenis yang terlalu lentur.

Nasib sebuah amanah seketika bisa keteteran, sebab urusan umat harus dibagi dua secara paksa dengan urusan si dia. Yang terus berkelebat dalam pikirannya bukan lagi cara menaklukkan hati saudara-saudaranya, tapi cara menaklukkan hati calon mertua.

Padahal jalan ini, bukanlah jalan untuk sekadar singgah bermain-main dan ber-hahahihi. Kita tidak sedang menjual gagasan dan keringat dengan tebusan tepuk tangan.

saya menuliskan ini karena sudah begitu resah melihat akhi dan ukhti hari ini…

yang konsentrasinya tak kunjung beranjak dari mencari jawaban pertanyaan kapan nikah,

yang diskusinya tak kunjung beranjak dari meng-ghibahi si ukhti shaleha,

yang bacaannya tak kunjung beranjak dari serial ta’aruf cinta.

yang ukhti pun tak kalah meresahkan, karena terus menebar kode siap nikah ke segala arah, melalui wasilah gambar jpeg yang dibubuhi quote tentang doa diam-diam.

kemana lagi ‘izzah itu, wahai Ukhti? :’)

saya jadi teringat nasehat seorang sahabat,

“Jika memang sudah timbul hasrat ingin menikah, cukuplah berbenah diri dan berdoa kepada Allaah. Bukan malah mengumbar perasaan di media sosial. Adakah manfaatnya?”

baiklah. kita semua sepakat pernah jatuh dalam kegalauan. namun segeralah sudahi dengan cara:

1. segeralah menikah
2. jika poin 1 belum mampu, ganti bahan bacaan dan topik obrolan!

akhir kata. selalu. tulisan ini pertama kali kunasehatkan untuk diriku sendiri.

best regards,

nina. 🙂