Tetap Berprestasi dengan Hijab Syar’i

textgram_1493202477

Materi Kulwap FULDFEI (18 Februari 2017)

Dengan mengharap ridha Allaah, materi ini ditulis dan disampaikan oleh @laninalathifa. Semoga Allaah meridhai amal yang sedikit ini…

Bismillaahirrahmanirrahim,

Alhamdulillaah, hari ini istilah hijab syar’i sudah bukan lagi istilah asing. Bahkan ia sudah menjadi semacam trend. Semoga trend yang positif, yang menyadarkan Muslimah bahwa berhijab bukanlah puncak sebuah amal. Justru ia termasuk perkara dasar yang wajib diilmui dan diamalkan seorang Muslimah.

Hijab dimaknai sebagai penghalang. Sesuatu yang menghalangi. Memangnya apa yang dihalangi dari seorang perempuan? Ingat, perempuan dianalogikan sebagai perhiasan. Itu artinya, dari sisi dan sudut manapun, perempuan itu pasti memiliki daya tarik.

Maka hijab sebenarnya bisa dimaknai sebagai 2 hal.

Pertama, hijab sebagai pakaian, sebagaimana yang telah kita pahami selama ini. Fungsi hijab disini adalah untuk menutupi aurat. Lebar, longgar, tidak menerawang. Memakainya adalah untuk ‘menyembunyikan’ kecantikan, bukan malah untuk menarik perhatian.

Lalu hijab yang kedua adalah hijab interaksi. Terhadap siapa? Terhadap lawan jenis, terlebih yang bukan mahramnya. Islam mengajarkan adab-adab dalam bermuamalah, termasuk juga memberi batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Untuk itu islam begitu menjaga kesucian nasab, karena islam begitu menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Tak dipungkiri lagi, betapa pentingnya peran perempuan bagi sebuah peradaban. Bangkit atau runtuhnya sebuah peradaban tak pernah lepas dari sepak terjang kaum wanita. Karakter muslimah yang kokoh, atas izin Allah, dapat mendobrak tiga dinding keterbatasan, yaitu kebodohan, kebobrokan akhlak, dan rapuhnya ruhiyah. Ketiga hal inilah yang semestinya diwaspadai oleh muslimah.

Seorang wanita kelak akan melahirkan dan mendidik generasi. Lewat tangannyalah mereka mengukir generasi Qurani. Dari sekian tugas dan peran penting wanita dalam peradaban manusia, tentu kita memahami bahwa wanita bukan makhluk “kelas dua yang dipandang sebelah mata”. Wanita bukanlah budak peradaban sebagaimana anggapan orang jahiliyah terdahulu. Bahkan perilaku budaya masyarakat modern saat ini masih juga merendahkan kaum perempuan dengan menjadikan mereka komoditas di panggung hiburan. Beragam tayangan di layar kaca tak pernah absen mempromosikan tubuh-tubuh perempuan. Maka tak heran jika kemudian muncul istilah kejahiliyahan modern. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Menyadari betapa pentingnya peran Muslimah dalam membangun sebuah peradaban, tentu Islam telah mengatur bagaimana ia harus berkarya dan beraktivitas, dalam rangka mendukung peran fungsionalnya. Berikut ini saya coba ringkaskan 3 hal yang perlu diperhatikan oleh muslimah dalam berkarya dan beraktivitas.

Syar’i. Jangan pernah abaikan sisi syari’at dalam apapun aktivitas kita, sebab Islam adalah agama yang syumul (menyeluruh). Bahkan urusan buang air saja diuraikan dalam syari’at dengan begitu detailnya. Maka syar’i disini tidak hanya penampilannya saja, namun juga mencakup pemikiran, karakter, dan akhlaknya. Fisik, akal, dan ruhnya selalu hidup di atas nilai-nilai Islam dengan bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah. Teladannya adalah para shahabiyah, bukan artis-artis ibukotah. Makanan akalnya adalah ilmu yang bermanfaat, bukan majalah-majalah hiburan atau komik lucu sesaat. Suplemen ruhnya adalah Al-Quran, bukan lagu-lagu roman picisan.

Berprestasi. Prestasi disini tidak melulu soal akademik ya… Berprestasi bisa bermakna lebih luas dari itu. Intinya, seorang yang mampu melejitkan potensi dirinya untuk kemaslahatan dunia dan akhiratnya, disitulah ia bisa dikatakan sebagai muslimah yang berprestasi.

Menginspirasi. Menginspirasi disini maknanya adalah prestasi yang dilejitkannya itu membawa manfaat bagi umat, bagi orang banyak, bagi sekelilingnya. Oleh sebab itu, jangan jadi muslimah yang egois, apatis, cuek dengan lingkungan sekitar ya… Jadilah muslimah yang peduli, yang pikirannya tidak hanya berkelebat memikirkan dirinya sendiri. Ingat, sebuah peradaban besar itu tak pernah bisa dibangun sendirian! Dan tentu saja, tidak ada peradaban terbaik, kecuali peradaban Islami. Tidak ada kesibukan terbaik, kecuali sibuk dalam aktivitas dan amal Islami.

Hijab syar’i, benarkah ia menjadi penghalang muslimah dalam berkarya dan beraktivitas?

Mestinya kita tidak perlu pikir panjang untuk menjawab ini, sebab jawabannya jelas. TIDAK.

Kita pun tidak perlu pusing-pusing memikirkan alasan dari jawaban pertanyaan ini. Yang pertama dan utama, semua bermuara dari niat. Niat kita dalam berhijab. Semoga tiada jawaban lain selain untuk menunaikan perintah Allaah. Untuk beribadah kepada Allaah. Untuk mencari ridha Allaah.

Ya. Sebab hijab adalah perintah Allaah, bukan sekadar fashion trend. Yakinlah bahwa ketika Allaah memerintahkan sesuatu, pasti di baliknya ada hikmah dan kebaikan yang besar. Dan bagi sesiapa yang ikhlas berusaha melakukan perintah-Nya, seberjuang apapun itu, Allaah pasti akan menolongnya dan membalas jerih payahnya dengan sebaik-baik balasan.

Jadi kalau niat kita sudah benar, tentu pertanyaan-pertanyaan usil semacam di atas tidak perlu lagi menghantui pikiran kita. Jangan takut ‘ga laku’ hanya karena kita berhijab syar’i. Jangan khawatir seret rizki hanya karena kita berhijab syar’i. Jangan cemas ga bisa sekolah tinggi hanya karena kita berhijab syar’i. Percayalah, Allaah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berusaha taat. Tidak ada tips lain dalam hal ini, kecuali menguatkan keyakinan dan meluruskan niat dalam berhijab.

Lalu biar aktivitas kita tetep bisa syar’i dengan hijab syar’i gimana sih?

Kembali ke poin di atas. Tentang makna hijab. Jadi dalam aktivitasnya sebagai muslimah, makna hijab jangan dipahami setengah-setengah. Sekali lagi, hijab bukan cuma urusan pakaian saja. Hijab syar’i mestinya dihiasi dengan rasa malu. Bukan sekadar dihiasi bros cantik. Hijab syar’i mestinya menjadi ‘penghalang’ seorang muslimah untuk melakukan hal-hal yang dapat menjatuhkan muru’ah (kehormatan) dirinya.

Bingkailah rasa malu pada tempatnya. Jangan sampai terbalik. Di antara malu yang tidak pada tempatnya adalah malu untuk menuntut ilmu, malu untuk mengembangkan potensi diri (minder), atau malu untuk menunjukkan identitas kemuslimahannya karena malu kalau-kalau mendapat label negatif dari orang-orang. Misalnya, dicap sok alim, sok suci, sok baik, teroris, blablabla. Ingat, bahkan para Nabi terdahulu pernah mendapat predikat yang lebih keji dari itu. Maka selain dihiasi dengan rasa malu, hiasilah pula hijab syar’i dengan kesabaran… 🙂

In syaa Allaah segini dulu yah. Semoga sedikit sharing hari ini bermanfaat. Mohon maaf pabila ada silap kata. Semoga Allaah senantiasa membimbing kita dalam berilmu dan beramal. Aamiin.

Sedikit closing statement dari saya…

Hijrah kita jangan berhenti di titik hijab syar’i. Lejitkan potensi diri, meraih ridha illahi, jannah adalah tempat kita mengistirahatkan diri…

Emansipasi; Dari Siapa Untuk Siapa?

textgram_1493202083

Semarang, 23 April 2017 (26 Rajab 1438)

Bismillaahirrahmanirrahim,

Jadi gini, ini adalah materi Kulwap UKKI UNNES. Iya, ceritanya lagi sok-sokan ngisi kulwap, hehehe. 😀 Tempo hari dimintai tolong teman untuk cuap-cuap di grup whatsapp Lentera Muslimah. Bismillaah, saya iyain aja. Menyadari kekurangan dan ke-apalah-an saya, menyanggupi tawaran itu semata-mata berharap ada manfaat dan barokah dari cuap-cuap lewat dinding maya. Semoga Allaah ridhai amal yang sedikit ini. 🙂

Topik diskusinya kemarin tentang emansipasi. Sebenarnya ini adalah pengalaman kedua saya ngisi kulwap. Artikel kulwap pertama saya share menyusul yah. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.


Sesi materi

Sebenarnya emansipasi itu apa sih? Saya kutipkan dulu definisinya dari KBBI ya:

Emansipasi adalah (1) pembebasan dari perbudakan, (2) persamaan hal dalam berbagai aspek kehidupan; proses pelepasan diri wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju.

Hari Kartini 21 April lalu identik dengan topik emansipasi, sebab sampai hari ini rakyat Indonesia masih percaya bahwa emansipasi adalah buah pikir yang diperjuangkan Kartini. Tapi pertanyaannya, emansipasi yang bagaimanakah yang diinginkan Kartini? Persamaan hak di sisi manakah yang diperjuangkan Kartini? Konteks ini seringkali luput ditelisik para wanita, bahkan Muslimah –sebagai kaum yang diwarisi Al-Qur’an dan As-Sunnah– seakan-akan ikut terbawa arus emansipasi yang maknanya masih berkabut.

Kita coba bold dulu definisi KBBI di atas. Persamaan hal dalam berbagai kehidupan. Bermuara dari definisi ini diusunglah tema-tema seputar kesetaraan gender.

Lalu pertanyaannya, mungkinkah?

Beberapa hari ini saya sedang asik menikmati tulisan Buya Hamka dalam 2 bukunya. Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan dan yang satu lagi berjudul Ghirah, Cemburu Karena Allah.

Izinkan saya mengutip dan mengisahkan beberapa isinya disini ya. Menarik sekali. 🙂

Dalam buku pertama (Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan), ulama perintis Majelis Ulama Indonesia ini menuliskan bahwa Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan bukanlah berarti bahwa pekerjaan yang hanya bahu lelaki yang kuat memikulnya, lalu perempuan disuruh pula memikulnya.”

Tentu sesuatu yang mustahil jika laki-laki dan perempuan yang memang secara kodratnya diciptakan berbeda, lalu mereka menuntut hak yang sama dalam segala hal. Islam, sebagai agama yang syumul (menyeluruh), dalam syari’atnya bahkan menetapkan perintah yang ‘cocok’ dengan kondisi perempuan.

Ada kisah menarik yang saya dapatkan juga di buku Buya Hamka. Ketika itu beliau mengisahkan bahwa di tahun 1938, di Minangkabau, ada pemuda yang dipenjara 15 tahun karena membunuh seorang lelaki ketahuan menzinahi saudara perempuannya. Ketika lelaki itu ditanya tentang hukuman yang diterimanya, ia menjawab dengan mantap, bahwa ia senang dan legawa menerima hukuman itu. Justru jika ia diam ketika menyaksikan saudara perempuannya dinodai kehormatannya, itulah sebuah kehinaan yang besar. Sebuah kecemburuan yang mulai pudar hari ini…

Perempuan, secara fitrahnya memang butuh dilindungi, diayomi, dididik, dan dibina. karena itulah Islam mengibaratkannya gelas-gelas kaca, yang butuh kelembutan dalam merawatnya.

Emansipasi yang didengungkan hari ini jelas lahir dari pemikiran sekuler yang ingin mencabut sense of belonging umat Islam terhadap agamanya. Para perintisnya mencoba menggiring pemahaman Muslimah untuk menuntut persamaan hak di segala bidang, dengan dalih emansipasi.

Peradaban Barat, yang begitu keukeuh memperjuangkan hal ini, justru menampilkan ketidakadilan pemikirannya sendiri di berbagai tempat. Salah satu contohnya di Inggris. Di dalam UU Inggris, ketika seorang perempuan bersuami, seluruh hartanya akan menjadi milik suaminya. Selain itu, Barat juga memiliki kultur yang bertentangan dengan ajaran Islam, yaitu menasabkan nama perempuan dengan nama suaminya. Bukankah kultur semacam ini secara tidak langsung mencederai makna emansipasi itu sendiri? Perempuan yang menikah seolah menjadi hak penuh suaminya, dimana ia tak memiliki hak atas dirinya sendiri. Tak heran, di Barat angka perceraian begitu tinggi, sehingga mereka memilih tradisi kumpul kebo ketimbang menikah. Perempuan Barat banyak yang takut menikah karena konsekuensi hukum yang tidak mudah.

Sekali lagi, Allah telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan fitrah penciptaan yang berbeda. Semua tentu mengandung hikmah yang besar. Kedudukan yang sederajat di sisi Allah adalah dalam usaha mereka meraih gelar takwa. Tapi pada praktik fungsionalnya, perempuan tetaplah perempuan, lelaki tetaplah lelaki.

Untuk itu mengapa lelakilah yang disebut sebagai qowwam. Mengapa perempuan diciptakan diciptakan dari tulang rusuk. Mengapa lelakilah yang diwajibkan mencari nafkah. Mengapa perempuan diperintahkan taat kepada suami dan mendidik anak-anaknya.

Tentu semua ada hikmah yang begitu indah… 🙂


Sesi tanya jawab

Tanya 1: Apakah emansipasi adalah bagian dari ghazwul fikri?

Jawab: Jika emansipasi yang dimaksud adalah persamaan hak lelaki dan perempuan di segala bidang, sebagaimana yang didengungkan kaum sekuler, tentu itu bagian dari ghazwul fikri, perang pemikiran, yang tujuannya mencabut ruh Islam dari akal dan hati kaum muslimin.

Tanya 2: Bagaimana menanggapi hal ini? Bolehkah kita memperingati dan meneladani sosok Kartini?

Kalau memperingati, sebagai umat Islam tentu kita mencukupkan diri dengan hari Raya yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Itulah hari besar umat Islam yang disunnahkan untuk dirayakan dengan penuh kegembiraan. Merayakannya (dengan memperhatikan kaidah syar’i) akan mendulang pahala, in syaa Allaah.

Lalu jika pertanyaannya, bolehkah meneladani sosok Kartini? Sebagaimana artikel yang saya tulis sebelumnya, lalu di-repost di Kiblat Muslimah (Kartini dan Kodrat yang Pudar), tulisan-tulisan seputar Kartini masih begitu simpang siur kebenarannya. Banyak pro-kontra soal status kepahlawanannya, meski pada artikel tersebut saya menyoroti salah satu isi surat yang disebut-sebut milik Kartini, dimana isi surat tersebut memang ada benarnya, bahwa ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya.

Maka saya sampaikan bahwa sebagai Muslimah, kita tak perlu ikut bingung. B Allah dan Rasul-Nya telah menjamin kebaikan agama dan akhlak para istri Rasulullah, yang mendapat gelar sebagai Ummahatul Mukminin; Ibunda orang-orang yang beriman? Jadi semestinya merekalah yang lebih dulu kita jadikan panutan. Merekalah ibu kita, ibunda para Muslimah…

Adapun pahlawan Muslimah dari Indonesia, tidak hanya Kartini sebenarnya. Ada Rohana Kudus, Rahmah El Yunusiyah, dsb.

Tanya 3: Bagaimana sudut pandang Islam tentang kepemimpinan wanita.

Ada nash yang sangat jelas akan hal ini. Coba dibuka QS. An-Nisaa’: 34

Ar rijaalu qowwamuuna ‘alan nisaa.

Lelakilah yang dipilih menjadi pemimpin wanita. Mengapa?

Mari kita garisbawahi kalimat berikutnya,

Bimaa fadhdholallaahu ba’dhohum ‘alaa ba’dhin.

Karena Allaah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk menjadikan laki-laki sebagai pemimpin kaum wanita karena kelebihan yang telah dianugerahkan Allaah kepada kaum lelaki. Kelebihan yang khusus diberikan kepada laki-laki inilah yang mendukung peran fungsionalnya sebagai pemimpin.

Termasuk pada aplikasinya, konsensus ulama mewajibkan syarat seorang khalifah atau pemimpin negara adalah laki-laki. Pucuk kepemimpinan tertinggi haruslah diamanahkan kepada laki-laki.

Ada perbedaan pendapat ulama mengenai boleh tidaknya jika wanita memimpin dalam lingkup yang lebih sempit (dalam kondisi heterogen; lelaki dan perempuan dalam satu tempat). Pendapat yang membolehkan memberlakukan syarat yang cukup ketat, di antaranya adalah ketiadaan laki-laki yang berkompeten untuk mengurus hal tersebut.

Tentu hal di atas sama sekali bukan bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Justru berlakunya syari’at tersebut adalah untuk melindungi fitrah perempuan.

Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan bukanlah berarti bahwa pekerjaan yang hanya bahu lelaki yang kuat memikulnya, lalu perempuan disuruh pula memikulnya.”

Bahu perempuan tidak didesain untuk memikul amanah yang amat berat sebagai khalifah atau pemimpin negara. 🙂

Closing statement

“Sesungguhnya laki-laki dan wanita yang Muslim, laki-laki dan wanita yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan wanita yang berlaku benar, laki-laki dan wanita yang sabar, laki-laki dan wanita yang khusyu’, laki-laki dan wanita yang bersedekah, laki-laki dan wanita yang berpuasa, laki-laki dan wanita yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan wanita yang banyak mengingat Allaah, sungguh Allaah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Beginilah Islam mengajarkan kita ’emansipasi’…

Wallaahu ta’ala a’lam. Wastaghfirullaah, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamin, semoga bermanfaat. 🙂

Presiden yang Di-Bully?

pemimpin zhalim

قال رسول الله ﷺ “ يقبض الله الأرض يوم القيامة ، ويطوي السموات بيمينه ثم يقول “ أنا الملك أين ملوك الأرض؟ “ البخاري 7382

Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Allah menggenggam bumi pada hari Kiamat dan menggulung langit dengan tangan kanan-Nya, lalu Ia berseru, ‘Akulah Raja, mana para raja dunia?’.”

Allah tunjukkan kekuasan-Nya pada hari Kiamat dengan menggenggam bumi dan menggulung langit dengan tangan kanan-Nya. Fakta yang belum terjadi tapi harus sudah diyakini. Hari itu yang Allah hinakan adalah para penguasa di dunia. Bisa raja, bisa perdana menteri, bisa presiden, dll.

Semuanya dipanggil dalam konteks ‘bully’. Saat Allah pamerkan kekuasaan-Nya sambil ‘mem-bully’ mantan-mantan penguasa dunia seolah membawa pesan bahwa yang paling Allah murkai adalah para ‘pesaing’ kekuasaan-Nya. Yang paling Allah musuhi adalah para penguasa dunia yang menggunakan kekuasaannya untuk durhaka kepada Allah, tak gunakan aturan Allah.

Oleh sebab itu, durhaka paling bejat dan destruktif adalah kedurhakaan yang dipayungi kekuasaan, legal secara konstitusi dan dikawal tentara serta polisi. Bukan tukang sihir yang Allah sebut, bukan koruptor, bukan pendeta, bukan perampok, bukan pezina, dsb. Melainkan yang Allah ancam pertama kali adalah para penguasa.

(diinisiasi dari kultwit Ust. Lukman Hakim, Lc; @LHSyuhada)

Petani dan Panen Rayanya

gmo-wheat

Bismillaah, sesekali nulis yang agak panjang dan serius. Moga bermanfaat… 🙂

Sungguh, tidak ada pendidik terbaik, guru terbaik, da’i terbaik, atau murabbi terbaik melebihi Rasulullah. Kalau ada pepatah, “Jika melihat ada orang sukses, keren, tersohor nama baiknya, tanyakan siapa orangtua dan gurunya…” barangkali itu ada benarnya.

Murid-murid terbaik tentu lahir dari hasil didikan terbaik, lewat sentuhan terbaik, dari tangan-tangan terbaik pula.

Sejenak mentadabburi QS. Al-Fath ayat 29…

Pada ayat inilah Allah telah menyifati bagaimana karakter hasil didikan Rasulullah.

(1) “…dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka (orang-orang yang beriman).”

Jadi ternyata, indikator keberhasilan proses tarbiyah yang pertama adalah soal wala’ wal bara’. Maa syaa Allaah, pembahasan yang ga main-main. Hasil didikan terbaik adalah mereka yang paham wala’ wal bara’-nya mau dibawa kemana. Terarah. Kepada siapa loyalitasnya diberikan, kepada siapa pula harus jaga jarak.

(2) “Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya…”

Karakter selanjutnya adalah bersemangat untuk selalu ingin menjadi yang terdepan dalam beramal shaleh, dimana tujuannya untuk mencari keridhaan Allah. Bukan karena takut, ga enak, atau bahkan cuma caper sama gurunya. Kalo boleh nyaingin Yamaha yang punya jargon “selalu terdepan”, maka bagi mereka, “Akhirat, selalu terdepan.” Jadi untuk urusan akhirat, jiwa kompetitif mereka akan selalu berpijar, menyala-nyala. Sedangkan untuk urusan dunia, mereka akan mengedepankan kaidah itsar, mendahulukan saudaranya. *dan ya Allaah, ini berat banget aplikasinya* T_T

(3) “Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud…”

Next, tanda bekas sujud ini tak sekadar jidat yang menghitam ya. Bukan itu. Melainkan imu dan amal yaumi dihiasi dengan akhlak mulia. Sholatnya, rukuknya, sujudnya meninggalkan bekas berupa pancaran kemuliaan akhlaknya. Akhlak mulia ini banyak sekali cabangnya. Panjang kalo mau didetailkan. Tapi termasuk di antara akhlak mulia yang utama adalah: MENJAGA LISAN. Karena, barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, falyaqul khayran aw liyashmut.

Tiga hal di atas jika benar-benar menjelma dalam diri para mad’u, anak-anak didik kita, niscaya, hasilnya tidak lain dan tidak bukan adalah:

“Ibarat benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu tumbuh menjadi kuat, besar, dan tegak lurus di atas batangnya.”

Kita terjemahkan kalimat di atas sebagai: Generasi yang berkualitas –sebagai analogi dari hasil panen yang ranum, panen raya–

Tapi ternyata ayatnya tidak berhenti sampai di situ…

“Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya…”

Termasuk di antara yang membahagiakan para guru adalah ketika melihat anak didiknya bisa LEBIH SUKSES ketimbang dirinya. Di antara ciri kesuksesan proses tarbiyah adalah ketika mampu mencetak generasi yang LEBIH HEBAT ketimbang guru-gurunya. Jadi berkualitas saja ga cukup ternyata ya… Tapi berkualitas dan bahkan bisa LEBIH BAIK daripada gurunya. :’)

Dan lagi-lagi, ayatnya belum berhenti sampai di situ…

“…karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”

Jadi, karakter yang tidak boleh luput adalah ketika hasil panen yang luar biasa mengagumkan itu… pada akhirnya mampu menggentarkan hati musuh-musuh Allah. Sungguh, tidak ada manfaatnya bibit unggul hasil rekayasa genetika, karena dalam jangka panjang, akumulasi residunya punya efek destruktif bagi tubuh.

Maksudnya…

Tidak ada artinya bibit unggul jika ternyata keunggulan kualitasnya justru dimanfaatkan oleh musuh-musuh Allah, baik disadari atau tidak. Dimanfaatkan secara ga sadar itu banyak. Bahkan seringnya begitu. Tapi dimanfaatkan secara sadar, ternyata juga ada! Bahkan memang karena dia maunya begitu… Kok bisa?

Jawabannya ada di poin nomor (2):

“Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya…”

Dan itu antitesisnya. Artinya, rukuk dan sujud mereka sudah bukan lagi untuk mencari wajah dan keridhaan-Nya. Melainkan mencari dunia dan seisinya.

Sekarang pertanyaannya, kita semua sebelum menjadi guru pasti pernah menjadi murid, kan? Lalu kira-kira kita ini, murid yang bagaimanakah karakternya? Sudahkah kita menjadi kabar gembira bagi orangtua kita, guru-guru kita? Sudahkah kita menjadi hasil panen yang dituai dengan senyum merekah dan tangis bahagia? Ayolah, jawab dalam hati aja. :’)

Yaa hayyu yaa qayyuum, birahmatika astaghiitsu, fa ashlihlii sya’nii kullahu, wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ain. Wallaahu a’lam.

*tulisan ini pertama kali kunasehatkan untuk diriku sendiri*

Tak Pernah Sendiri

childhood_1

Berwasiat dalam kebenaran dan menetapi kesabaran adalah satu di antara keteladanan yang pernah hidup di masa para sahabat Nabi radhiyallaahu ‘anhum.

Mereka selalu mengingatkan satu sama lainnya.

Saling memotivasi, menasehati, menggugah kesadaran akan dekatnya tujuan, dan saling melekatkan ukhuwah dalam memikul beban dan amanah.

Mereka saling mewasiatkan, bahwa setiap pembela kebenaran selalu bersama saudaranya, takkan pernah sendirian.

Mereka saling menyemangati, bukan mematahkan semangat.

Kau tahu mengapa demikian?

Karena dien ini takkan pernah dapat tegak, kecuali dengan jama’ah yang kokoh…

Hidup berjama’ah seringkali memang tidak mengenakkan.

Ada hati yang seringkali terluka dan tersakiti.

Tapi ketahuilah, bahwa diri kita tanpa ukhuwah di atas iman ini,

sungguh lemahnya dan tak berarti apa-apa…

Bersabarlah dalam ukhuwah…

Bersabarlah dalam menetapi jama’ah…

Bersabarlah dalam memperjuangkan jannah…

Dek…

ruang rindu

dek, saya tau, saya bukan kaka yang baik. tapi asal kamu tau, kaka sayang sama kamu. sungguh.

dek, saya tau, saya ini kaka yang cerewet. tapi asal kamu tau, seringkali cerewet adalah tanda sayang.

dek, saya tau, saya ini sok tangguh, sok pedulian. tapi asal kamu tau, sungguh ini bukan sok pedulian, tapi karena memang betulan peduli.

dek, saya sadar, saya ini banyak menuntut ini dan itu. banyak jejali tugas. banyak berbusa-busa. tapi asal kamu tau, sungguh ini bukan sekadar tuntutan, tugas, dan retorika. melainkan karsa, asa, dan rasa. kamu adalah tunas yang kunanti-nanti menjadi bernas.

dek, saya minta maaf, jikalau saya bukan kaka yang asik. setidaknya biar engkau belajar bahwa hidup di dunia ini memang ga selalu asik. dan kita, harus bisa bertahan dari ketidakasikan sementara itu.

dek, saya minta maaf, jikalau pernah tampak setengah hati dalam membersamaimu. tapi asal kau tau, doa saya tak pernah setengah-setengah, in syaa Allaah.

dek, saya minta maaf, jikalau seringkali salah memahamimu. sebab kadang, memahami diriku sendiri aku tak mampu.

dek, saya minta maaf, jikalau saya belum bisa jadi kaka yang baik. tapi asal kau tau, saya sudah berusaha.

dek, saya minta maaf, jikalau ukhuwah seringkali justru terasa menyakitkan.

dek, saya minta maaf, jikalau saya tak mahir mem-verbalkan cinta, sebab bagiku cinta bukan lagi sebuah kata benda. seringkali kita cukup berbuat sesuatu, hingga akhirnya ia tau, cinta itu apa.

dek, saya minta maaf… sudikah segala khilaf dimaafkan?

“Dalam dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang lain dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali. Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’ad bin Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar.

Pahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang yang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain belum jua mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.” (ust. salimafillah)

halo dek. apa kabar? :))

Virus

c5ef4b4a93888d4cba72b6f967889a4c

Buat teman-teman aktivis R*his kampus atau adik-adik aktivis di sekolah yang kusayangi, tolong jangan pernah meremehkan yang namanya satir atau hijab saat rapat/syuro’/musyawarah atau apapun itu bentuk komunikasi. Jangan gampang ngeles. Jangan mudah beralasan.

“Ah, hati saya lapis baja kok mbak.”
“Ah, ini betulan bahas urusan dakwah kok mbak. Demi kemaslahatan umat.”
“Ah, ngobrolnya sambil nunduk-nunduk juga kok mbak.” (sumpelo?)
“Ah, kita mah udah biasa begini mbak, hati kita malah jadi resisten.” ((( omaigat )))

Apalagi jika apa yang kita tekuni ini bawa-bawa nama dakwah. Bawa-bawa urusan umat. Bawa-bawa judul iqomatuddin. Yang kesemua hal tadi adalah sebuah perkara besar dan tidak main-main.

Jangan mudah meremehkan kerikil kecil dalam perjalanan panjang yang sedang kita tempuh ini. Jangankan kerikil. Butiran debu itu kalau masuk mata pedihnya bukan main.

Sudah terlampau banyak kasus berjatuhannya para pejuang di jalan cinta yang belum halal… Layu sebelum sempat berkembang. Gugur sebelum sempat berkarya. Dan dari banyak kasus itu, sebagian besar problemnya bermula dari pola interaksi dengan lawan jenis yang terlalu lentur.

Nasib sebuah amanah seketika bisa keteteran, sebab urusan umat harus dibagi dua secara paksa dengan urusan si dia. Yang terus berkelebat dalam pikirannya bukan lagi cara menaklukkan hati saudara-saudaranya, tapi cara menaklukkan hati calon mertua.

Padahal jalan ini, bukanlah jalan untuk sekadar singgah bermain-main dan ber-hahahihi. Kita tidak sedang menjual gagasan dan keringat dengan tebusan tepuk tangan.

saya menuliskan ini karena sudah begitu resah melihat akhi dan ukhti hari ini…

yang konsentrasinya tak kunjung beranjak dari mencari jawaban pertanyaan kapan nikah,

yang diskusinya tak kunjung beranjak dari meng-ghibahi si ukhti shaleha,

yang bacaannya tak kunjung beranjak dari serial ta’aruf cinta.

yang ukhti pun tak kalah meresahkan, karena terus menebar kode siap nikah ke segala arah, melalui wasilah gambar jpeg yang dibubuhi quote tentang doa diam-diam.

kemana lagi ‘izzah itu, wahai Ukhti? :’)

saya jadi teringat nasehat seorang sahabat,

“Jika memang sudah timbul hasrat ingin menikah, cukuplah berbenah diri dan berdoa kepada Allaah. Bukan malah mengumbar perasaan di media sosial. Adakah manfaatnya?”

baiklah. kita semua sepakat pernah jatuh dalam kegalauan. namun segeralah sudahi dengan cara:

1. segeralah menikah
2. jika poin 1 belum mampu, ganti bahan bacaan dan topik obrolan!

akhir kata. selalu. tulisan ini pertama kali kunasehatkan untuk diriku sendiri.

best regards,

nina. 🙂