When Words Turn Into Weapons

write 9
Tulisan ini disarikan dari buku “Menjadi Powerful Da’i dengan Menulis Buku” karya Pak Bambang Trim.

Of all the weapons of destruction that man could invent, the most terrible and the most powerful was the word. Daggers and spears left traces of blood. Arrows could be seen at a distance. Poisons were detected in the end and avoided. But the words managed to destroy without leaving clues. (Paulo Coelho)

“Sungguh, Indonesia kini membutuhkan lebih banyak lagi para da’i penulis yang bisa menggalang kekuatan pemikiran di garda terdepan perjuangan menegakkan syariat dan meniscayakan kebangkitan Islam di Indonesia. Banyak sekali pertempuran pemikiran yang harus dihadapi para da’i, terutama di bidang tulis-menulis. Hanya kekuatan pena yang bisa menghadapi kekuatan pena. Hanya buku yang bisa menghadapi buku.” Ungkap Pak Bambang Trim membuka tulisan ini.

Dakwah, semestinya tidak lagi didefiniskan secara sempit berupa ceramah dan khutbah saja, sebab dakwah adalah sebuah aktivitas yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Maka dalam konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa ceramah saja belum cukup untuk dapat menuntaskan problematika yang dihadapi umat.

Dakwah adalah upaya mengajak orang pada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran, apapun bentuknya, apapun perannya. Oleh sebab itu, dakwah sebenarnya dapat dilakukan oleh siapapun dalam bentuk apapun. Maka dari itu, da’i seharusnya bukan lagi pekerjaan para tokoh bertitel ustadz atau ustadzah saja. Setiap kita bisa dan harus menjadi da’i yang menyeru pada kebaikan itu. πŸ™‚

Sesungguhnya, sejarah hanya diwarnai dengan dua warna, yaitu merah darah para syuhada dan hitam tinta para ulama. (Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah)

Maka cukuplah mulia seorang yang menggunakan penanya untuk berdakwah, sebab Allaah pun telah bersumpah dengan pena dalam surah Al-Qalam. Maka kelak jika para syuhada itu mempersaksikan pedang mereka sebagai senjata, biarlah para ulama turut mempersaksikan senjata mereka berupa tulisan; kata-kata.

Kekuatan kata-kata memang tak selamanya bisa menancap kuat dalam pikiran seseorang. Sebagai ilustrasi, Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam pernah melarang para shahabatnya untuk menuliskan hadits-hadits sebelum program hafalan dan penulisan Al-Quran selesai lebih dulu. Namun, setelah Al-Quran diyakini dapat dihafal dan mulai dituliskan, barulah beliau shalallaahu ‘alayhi wasallam mengizinkan para shahabat untuk menghimpun dan menuliskan hadits. Maka dari ilustrasi ini, dapat kita simpulkan bahwa Rasulullah meyakini jika basis dakwah pun harus dibangun dengan kekuatan qalam; pena, tulisan, kata-kata.

Dengan qalam tersebut, kelak akan ada sesuatu yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga dengannya, akan ada hikmah dan pelajaran yang dapat direnungkan.

Tuliskanlah, Meski Hanya Satu Ayat

Efektivitas tulisan sebenarnya bisa menjangkau secara massal, bertahan lama dari masa ke masa, sangat fleksibel dengan perubahan, serta dapat dibaca kapanpun-dimanapun-dalam kondisi apapun. Namun yang mencengangkan adalah kata-kata sastrawan Taufiq Ismail berikut ini,

Selain buta membaca, bangsa kita juga rabun menulis.

Itu artinya, kegiatan membaca dan menulis ternyata belum menjadi sebuah kemampuan untuk melihat dengan cerdas setiap fenomena yang terjadi di dunia ini. Padahal, sudah menjadi bukti sejarah bahwa Islam mengalami masa keemasan ketika ilmu begitu melimpah dan dituangkan ke dalam berjilid-jilid karya tulis berupa buku. Penulisan kembali Al-Quran dan Al-Hadits juga sebenarnya cukup menjadi bukti kuat bahwa umat Islam memiliki keandalan dalam menyusun kitab yang sebelumnya tersebar berupa hafalan, sehingga dapat dirumuskan menjadi karya yang terstruktur sebagai bagian dari karunia Allaah Ta’ala.

Jika sekarang para da’i meninggalkan kebiasaan membaca dan menulis, tentu hal ini akan menjadi sebuah kemunduran telak. Bukankah kita telah dan sedang menyaksikannya saat ini? Bagaimana melongonya kita melihat aliran gagasan yang begitu dahsyat dari para penulis non-Muslim yang begitu tendensius. Iya, kan?

Jika perlu bukti, baiklah, sebutlah satu nama diantara para penulis non-Muslim paling populer. Oke, coba nama ini dulu: Dale Carnegie, yang begitu memukau khalayak dengan gagasan-gagasan lewat tulisan tentang pengembangan diri. Tidak cukup sampai disitu, bahkan ilmu pengembangan diri itu menjadi ajang training jutaan rupiah yang dibanjiri orang-orang yang haus motivasi. Salah satu buku terkenalnya adalah How to Win Friends and Influence People yang berkisah tentang pentingnya silaturrahmi dan mengembangkan prinsip dipercaya oleh orang lain. Anyway, saya punya buku ini di rumah, warisan dari budhe saya. Hehehe. πŸ˜€

Bukti lain adalah gagasan yang dituangkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People, yang kemudian diperbarui dengan judul The 8th Habit. Kabarnya, buku tersebut terjual satu juta kopi hanya dalam waktu setahun pasca diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam 32 bahasa. Fantastik!

Dalam buku tersebut, Covey memaparkan hasil penelitiannya tentang karakter manusia untuk dapat mencapai kesuksesan. Bahkan pada buku terakhir, ia menambahkan pentingnya suara hati yang bermakna sebagai spriritualitas yang tinggi.

Satu nama lagi, J.K. Rowling. Anda pasti sudah sangat mafhum dengan yang satu ini. Novelis paling populer abad ini, mungkin ya. Karya fenomenalnya; Harry Potter yang sebenarnya sarat dengan propaganda ilmu sihir itu memang nyatanya telah berhasil menyihir sebagian besar kawula muda negeri ini. 😦

Memang harus kita akui, mereka adalah para penulis Barat yang hebat. Soal ini, mau tidak mau kita memang harus mengakuinya demikian, sebab meski sebagian besar mereka tidak melahirkan gagasan yang berlandaskan syariat, namun apa yang datang dari Barat tidak perlu semuanya ditampik. Kita tetap bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang berharga dari mereka.

Namun, adalah sebuah keanehan ketika kita (khususnya sebagai umat Islam) tahu bahwa kita telah memiliki contoh nyata yang lebih hebat, yaitu Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallam, tetapi kita seolah-olah mencukupkan diri dengan apa yang digagas oleh ilmuwan-ilmuwan Barat. Apa yang dipaparkan oleh Carnegie dan Covey sebenarnya sudah ditunjukkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah. Namun keanehan itu semakin nyata ketika kita merasa bahwa apa yang dibawa oleh kedua orang tersebut adalah sesuatu yang baru bagi umat Islam.

Dari sini semoga kita bisa mulai menarik benang merah. Carnegie dan Covey semestinya menjadi hikmah besar bagi umat Islam, bahwa mereka benar-benar berpikir dan menuliskan apa yang dipikirkannya sehingga menjadi gelombang perubahan yang dahsyat bagi manusia. Maka sampai hari ini, sungguh naif jika kita tidak atau belum segera memulai menuliskan apapun tentang kedahsyatan Islam; dien kita.

Andaikan dihadapkan kepadaku dua orang penulis, maka aku akan memilih yang paling gigih. Tanpa bakat, orang bisa menjadi penulis hebat. Namun tanpa kegigihan, seorang penulis berbakat tak berarti apa-apa. (Mohammad Fauzil Adhim)

Tiga Bekal Menulis

Banyak yang bilang menulis itu sulit. Yang pasti, di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Allaah mengaruniakan tekad, i’tikad, dan manfaat sehingga menulis menjadi aktivitas yang penuh tantangan sekaligus mengasyikkan. Namun ingat, meski kemampuan menulis adalah karunia Allaah, kemampuan tersebut bukanlah bakat yang dibawa sejak lahir. Menulis adalah kemampuan yang bisa dan sangat mungkin dipelajari.

Pak Bambang Trim mencoba membagikan tips bagi kita semua tentang bagaimana menstimulus gagasan untuk memulai sebuah tulisan. Ini dia. πŸ™‚

1. Banyak membaca Yap! Pasangan menulis tidak lain dan tidak bukan adalah membaca. Banyak membaca dapat merangsang gagasan, memperkaya kosa kata, dan menemukan gaya tulisan.

2. Banyak berjalan Bepergian akan memberikan input dan hikmah yang besar bagi kita. Hal inilah yang dapat menstimulus ide dalam pikiran kita. Ingatlah, para ulama terdahulu yang banyak menulis buku umumnya adalah para pengembara. Maka mulai saat ini, jangan lagi sekadar jalan-jalan, travelling, atau naik gunung. Tapi niatkan sesuatu yang lebih bermakna dari itu, yaitu sebagai sarana untuk menekuri ayat-ayat-Nya. Termasuk juga, rajin-rajinlah berjalan untuk mendatangi majelis atau kajian ilmu, seperti: seminar, bedah buku, talkshow, dan sebagainya. πŸ˜‰

3. Banyak bersilaturrahmi Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam pernah mengingatkan kita tentang kedahsyatan silaturrahmi, diantaranya dapat menjadi jalan pembuka rezeki. Rezeki silaturrahmi itu bisa berupa ilmu dan ide untuk tulisan. Oleh sebab itu, jangan pernah lagi melewatkan momen untuk bersilaturrahmi kepada orang-orang yang keberadaannya di dunia ini sarat akan hikmah, pelajaran, dan inspirasi. Temukan mereka di sekitar kita! πŸ˜‰

Gagasan yang tidak diminati orang akan sia-sia. Tulisan yang tidak dibaca orang akan sia-sia. Lebih sia-sia lagi dakwah dan pemikiran yang tidak diterbitkan. (Bambang Trim)


Catatan: Resume buku ini in syaa Allaah akan saya bagi menjadi beberapa bagian. To be continued… πŸ˜‰

Iklan

Inspiring Words for Bloggers

Menulis itu, emm, semacam katarsis. Dan blog adalah salah satu wadah penampungnya. :))

Arip Yeuh!

inspiring words for bloggers

Selamat malam Minggu bagi yg merayakan!

Meminjam judul bukunya Mohammad Fauzil Adhim, Inspiring Words for Writers, saya menyortir berbagai kata-kata motivasi yg diperuntukan buat para penulis, khususnya narablog.Β Sebenarnya ini dibuat sebagai nutrien saja bagi diri pribadi.

  1. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. – Pramoedya Ananta Toer
  2. Semua harus ditulis. Apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti akan berguna.– Pramoedya Ananta Toer
  3. Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. – Pramoedya Ananta Toer
  4. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. – Ali bin Abi Thalib
  5. Jika kamu bukan seorang raja, Jika kamu bukan seorang ulama besar, Jadilah seorang penulis! – Imam Ghozali
  6. Mungkin ada orang yang menulis untuk mengatakan kata hatinya, maafkan aku kalau salah, karena…

Lihat pos aslinya 519 kata lagi

Nantinya Setelah Mati

Barangsiapa yang menjadi pelopor (mengajak) satu sunnah yang baik dalam Islam, kemudian diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mengikutinya, tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka. (HR. Muslim)

Ada orang yang telah dikubur mati, namun ternyata ia masih beramal di muka bumi. Dan ada pula orang yang jasadnya masih berada di muka Bumi, tetapi keberadaannya layaknya orang yang telah mati. Orang yang enggan menyambut hidayah, menutup mata dari seruan kebaikan menuju Rabbnya, hakikatnya seperti orang mati meskipun jasadnya masih mampu berkeliaran di Bumi. Sedikitpun ia tidak mampu mengambil manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain. Adapun orang yang menerima hidayah setelah sebelumnya tersesat dan tidak tahu apa-apa, ibarat orang yang kembali hidup dari kematiannya.

Kebodohan (terhadap ilmu syar’i) adalah kematian bagi ahlinya, sebelum ia mati meninggalkan dunia. Jasadnya adalah kuburan bagi ruhnya, sebelum tanah menjadi kuburannya. (Abdullah bin Mubarak dalam kitab Ighatsul Lahfan karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya terang, dimana dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang dalam keadaan gelap gulita, yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? (QS. Al-An’am: 122)

Begitulah perumpamaan dari Allah terhadap orang yang menerima ilmu dan hidayah maupun orang yang menampiknya. Orang yang menyambut ilmu syar’i dan mengamalkannya bukan saja memiliki keutamaan hidup di dunia, bahkan ia bisa menjadi penyeru manusia di jalan kebaikan. Nantinya, meski jasadnya telah berkalang tanah, ilmunya akan terus tersebar di penjuru permukaan Bumi. Ilmu yang ditinggalkannya masih mampu mengajak manusia ke jalan Allah, meski penyampainya telah tiada.

Manusia yang semasa hidup hatinya diterangi oleh cahaya ilmu dan hidayah Allah, dimana ia berjalan di muka Bumi dengan aturan Rabbnya, kemudian ia menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan seperti dirinya, maka ialah pelopor kebaikan bagi orang-orang yang mengikutinya, baik yang tinggal satu masa dengannya, maupun generasi setelahnya.

Tengoklah kisah para salafush shalih yang telah meninggalkan bekas berupa “buku pintar” dan karya-karya tulisannya yang lain. Begitulah cara mereka menjadi penyeru kebaikan, bahkan hingga setelah kematiannya. Nasehat dan petuah-petuah ilahiyah mereka termaktub abadi dan menjadi cahaya bagi para pembacanya.

Karya para ulama’ ibarat anak panah yang akan hidup hingga hari kiamat. (Ibnul Jauzi)

Karya-karya itu menjadi sumber penghasilan (berupa pahala yang tidak putus) bagi para penulisnya yang ikhlas. Dimana nilai penghasilan itu tergantung sejauh mana peredaran ilmunya dan hingga kapan ilmu itu dimanfaatkan orang lain. Ilmu yang dimanfaatkan orang lain akan menjadi pahala yang terus mengalir, meskipun sang pemilik telah tiada.

Namun, bagi orang-orang yang tidak memiliki kapabilitas ilmu untuk berkarya, masih ada pilihan lain untuk dijadikan jejak kebaikan yang ia tinggalkan setelah matinya. Jejak itu dapat ditinggalkan salah satunya dengan cara membangun atau berpartisipasi dalam pendirian lembaga maupun markas dakwah. Selagi proyek-proyek dakwah yang dibangun itu masih berjalan, maka para pendiri dan orang-orang yang berperan di dalamnya akan mendapat pahala seperti para pengelolanya yang masih hidup. Ia mendapat pahala dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh penerusnya yang menjalankan misi dakwah ilallah. Baik pahala sebagai pelopor kebaikan, maupun sebagai orang yang mengajak atau menunjukkan kepada kebaikan.

Jadi, bukankah jalan kebaikan dan ladang pahala itu terbuka lebar sekali? Jika kita mulai lelah, maka serulah diri sendiri, “Sebentar lagi, sebentar lagi. Waktu istirahat kita sebentar lagi, insyaAllaah…”

Disadur dari artikel Ustadz Abu Umar Abdillah dalam majalah Islam Ar-Risalah

(reblogged from Perpustakaan Islam As-Salam)