Mendidik Anak dengan Positive Parenting ala Nabi

NAKI_1

“Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).” — Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Bismillaahirrahmanirrahiim,

Tulisan kali ini adalah ekstraksi kajian Ramadhan 1438 H bertema “Anakku Mutiara Hidupku” di Masjid Al-Azhar 14 Semarang yang menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ust. Mohammad Fauzil Adhim (hafizhahullaah).

Saya terlambat sekitar setengah jam, jadi mungkin ada bagian yang terpotong ya. Belum lagi narasi beliau yang rasanya ingin dicetak tebal semua, sedangkan kemampuan menulis cepat saya terbatas. Hehehe. Semoga sedikit yang saya bagi ini bermanfaat. Wallaahul muwaffiq.

Di awal pemaparan, hal yang saya garisbawahi adalah tentang konsep aqil baligh. Mengapa anak-anak di masa sekarang lebih cepat baligh? Mayoritas masyarakat serempak menjawab, “Karena makanan anak-anak masa kini lebih bergizi.” Beliau menampik tegas pendapat ini. Menurut beliau, kalau memang ini alasan yang digunakan masyarakat, mestinya anak-anak di Timur Tengah kematangan seksualnya lebih cepat dibandingkan anak-anak Amerika, Eropa, atau Asia, seperti: Indonesia.

Makanan masyarakat Timur Tengah jauh lebih bergizi tinggi, terlebih protein dan lemak (jadi nostalgia materi kuliah dulu, bahwa nutrisi yang merangsang pembentukan hormon adalah protein dan lemak), tetapi mengapa anak-anak di Amerika, Eropa, atau Asia justru lebih cepat mengalami menarche? Padahal Amerika dan Eropa dengan budaya junk food-nya, Asia (Indonesia contohnya) dengan budaya makanan yang dominan karbohidrat dan sayur mayur.

Jawaban yang lebih tepat untuk pertanyaan di atas adalah, “Karena exposure dan rangsangan seksual terhadap anak-anak di wilayah-wilayah tersebut lebih dahsyat!” Anak-anak kita hari ini lebih cepat baligh ternyata bukan semata-mata karena asupan nutrisi yang lebih baik, tetapi juga karena rangsangan seksual di sekitar mereka yang lebih besar, dengan atau tanpa kita sadari. Astaghfirullaah… Contoh sexual exposure: ikhtilath (bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan) di sekolah anak-anak kita hari ini. Belum lagi paparan televisi dan internet yang serba bebas dan tak terkendali, yang sudah menyelinap ke rumah-rumah keluarga Muslim, lewat ponsel yang bebas digenggam kapanpun, dimanapun, siapapun.

Mohon maaf, beberapa bagian tercatat berupa poin-poinnya saja.

  • Memperdengarkan musik Mozart katanya merangsang anak untuk matang daya analitiknya, khususnya pada pelajaran eksak, seperti: matematika. Padahal waktu saya ke berkesempatan berkunjung ke Wina, saya baru sadar bahwa orang-orang Wina sendiri tidak pernah “mengidolakan” Mozart. Itu semua cuma permainan bisnis. Bahkan Mozart saja tidak pandai matematika. Begini kurang lebih yang beliau sampaikan.
  • Kita perlu belajar mendidik anak untuk mencintai amal shaleh, bukan mencintai dirinya karena telah beramal shaleh, karena ini benih ‘ujub (berbangga diri), riya, dan sum’ah (suka pamer).
  • Kita juga perlu belajar mendidik anak siap diolok/direndahkan. Ada sharing pengalaman dari beliau ketika mengajarkan kepada putra-putrinya respon ketika disakiti teman. Ajarkan kepada anak konsep selfhelp dan survive yang benar. Pertama, ajarkan anak untuk bersabar pada pukulan yang pertama dengan mendoakan teman yang menzhaliminya. Kedua, jika masih disakiti, ajarkan anak untuk bersabar dengan menasehatinya. Ketiga, jika masih terus disakiti, sabar kali ini adalah kelemahan. Balas, tapi jangan melampaui batas.
  • Anak usia 6 – 7 tahun = masa tamyiz, mampu membedakan yang benar – salah, baik – buruk à ajarkan shalat yang benar, usia sebelum itu berupa dorongan atau ajakan saja, jika anak belum mau, jangan paksa, itu hak dia.
  • Anak usia 10 tahun = persiapan masa baligh dan mukallaf (terkena beban syari’at) –> sex education dalam Islam sebenarnya bagian integral dari pendidikan Islam itu sendiri, bukan berdiri sendiri –> contoh: mengajarkan shalat yang didahului mengajarkan thaharah (bersuci) kan pasti menyinggung soal ini (pembatal wudhu, sebab mandi janabah, dsb) –> tanamkan dalam diri anak bahwa pelanggaran terbesar pada fase mukallaf adalah meninggalkan shalat!

Konsep Islam dalam Memerintah dan Melarang

Saat melarang sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Luqman: 13 – 19. Setidaknya, beliau mencoba merangkumkan garisbesarnya menjadi 3 hal, yaitu:

  • Awali kalimat larangan dengan panggilang sayang (lembut atau kasar?) –> cermati ayatnya, “Yaa bunayya…” bukan “Yaa, Ibnii…” yang secara bahasa maknanya sama, tapi kadar kelembutannya berbeda.
  • Ikuti dengan serangkaian perintah –> catatan: jika perintahnya berurutan, pastikan anak sedang dalam kondisi nyaman dan perintah tersebut tidak untuk dikerjakaan saat itu juga (menghindari misunderstanding).
  • Ikuti larangan dengan penjelasan –> memberi perintah tanpa penjelasan dapat melahirkan kejumudan (statis, skeptis).

Saat memerintahkan sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Ali-Imran: 102 – 103. Garisbesarnya adalah:

  • Awali dengan panggilan yang baik dan memuliakan –> cermati ayatnya, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu…”
  • Ikuti dengan perintah/komando yang jelas
  • Iktui pula dengan larangan sebagai penegas

Rambu-rambu dalam Perintah dan Larangan

Beliau memaparkan 3 hal yang perlu diperhatikan dalam memerintah atau melarang, yaitu:

  • Jauhi fazhzhan (suara yang keras dan kasar)
  • Jauhi ghalizhal qalbi (hati yang kaku dan keras)
  • Jauhi suara keledai (suara yang “sengak” dan tidak enak didengar)

Beberapa catatan tambahan…

  • Jika terjadi pelanggaran adab, ambil pelajaran dari kisah Umar bin Abu Salamah tentang makan dengan tangan kanan.

Dari ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau makan, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, makanlah makanan yang terdekat denganmu.” ‘Umar bin Abu Salamah) berkata, “Maka sejak itu aku makan dengan cara itu (cara yang diajarkan oleh Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam).” [HR. Ahmad]

  • Jika terjadi pelanggaran halal-haram, ambil pelajaran dari kisah Hasan bin Ali saat memakan kurma sedekah.

Dari Rabi’ah bin Syaiban berkata, “Aku bertanya pada Hasan bin Ali radhiyallaahu ‘anhu, “Apa yang paling berkesan bagimu tentang diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Aku pernah masuk ke ruang sedekah bersama beliau, lalu aku mengambil sebutir kurma dan memasukkannya ke dalam mulutku. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera menegurku, “Buang kurma itu, sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi kita (ahlul bait).” [HR. Ahmad]

  • Jika bermaksud memberi teguran keras, ambil pelajaran dari kisah Ibnu ‘Umar tentang pemuda Quraisy yang sedang menjadikan burung sebagai sasaran anak panah. Teguran keras (bahkan hingga keluar peringatan tentang laknat) sebaiknya diberikan ketika anak menjelang remaja, itupun untuk perbuatan zhalim yang mengancam nyawa, baik manusia maupun binatang.

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia sedang lewat di depan pemuda-pemuda Quraisy yang melempari seekor burung, dan mereka memberikan kepada pemilik burung itu satu tombak untuk setiap lemparan yang salah. Ketika mereka melihat Ibnu ‘Umar datang, pemuda-pemuda itu berlarian, beliau berkata, “Siapa yang melakukan ini? Sungguh, Allah telah melaknat pelaku perbuatan ini! Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran (kekerasan).” [HR. Bukhari – Muslim]

Bekal Penting Membangun Diskusi dengan Anak

Beliau memaparkan ini sebagai jawaban dari salah seorang peserta, “Bagaimana agar orangtua dapat berdiskusi dengan anak-anak (terkait perintah dan larangan)?” Beliau menjelaskan,

  1. Tumbuhkan rasa percaya anak terhadap orangtua. Kuncinya ada pada QS. An-Nisaa’: 9. Qaulan sadiidaa… Qaulan sadiidaa adalah perkataan yang setidaknya mencakup 5 hal, yaitu:
  • Straight to the point
  • Tidak menutupi kebenaran
  • Tidak mengandung kebohongan
  • Mau mengakui kesalahan di depan anak
  • Mau meminta maaf kepada anak
  1. Tumbuhkan rasa hormat anak kepada orangtua –> rasa hormat itu ditumbuhkan, bukan diperintah, “Kamu harus hormat ya, Nak, sama Ayah Ibu..” Ustadz menambahkan, “Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).”

Bagaimana Pengaruh Lingkungan terhadap Pendidikan Anak?

Ini juga pertanyaan peserta. Ustadz membuka jawaban dengan pertanyaan, “Mengapa anak yang hidup di lingkungan yang sama dapat tumbuh dengan karakter dan pemahaman yang berbeda?” Lalu beliau menjelaskan bahwa hal ini setidaknya terjadi karena:

  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua (keluarga inti) terhadap anak-anaknya
  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua terhadap teman anak-anaknya à coba teman anak-anak diajak ke rumah, dibuat nyaman bermain di rumah bersama anak-anak, sambil menasehati dan meluruskan jika ada yang keliru
  • Bekali anak-anak dengan visi dan misi yang kuat sebelum melangkah keluar rumah –> gali lagi pelajaran di QS. Luqman, atau Adz-Dzariyat: 56, atau Ali-Imran: 110.

In syaa Allaah cukup, semoga bermanfaat. Sebaik-baik perkataan adalah kalamullah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah yang datang dari Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam.

Wallaahu a’lam, wastaghfirullaah wa atuubu ilaih, laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Diresume dengan segala keterbatasan, oleh:

@laninalathifa 🙂

*bismillaah, saatnya ngeblog lagi! tadaaa! 😀

Iklan

Tetap Berprestasi dengan Hijab Syar’i

textgram_1493202477

Materi Kulwap FULDFEI (18 Februari 2017)

Dengan mengharap ridha Allaah, materi ini ditulis dan disampaikan oleh @laninalathifa. Semoga Allaah meridhai amal yang sedikit ini…

Bismillaahirrahmanirrahim,

Alhamdulillaah, hari ini istilah hijab syar’i sudah bukan lagi istilah asing. Bahkan ia sudah menjadi semacam trend. Semoga trend yang positif, yang menyadarkan Muslimah bahwa berhijab bukanlah puncak sebuah amal. Justru ia termasuk perkara dasar yang wajib diilmui dan diamalkan seorang Muslimah.

Hijab dimaknai sebagai penghalang. Sesuatu yang menghalangi. Memangnya apa yang dihalangi dari seorang perempuan? Ingat, perempuan dianalogikan sebagai perhiasan. Itu artinya, dari sisi dan sudut manapun, perempuan itu pasti memiliki daya tarik.

Maka hijab sebenarnya bisa dimaknai sebagai 2 hal.

Pertama, hijab sebagai pakaian, sebagaimana yang telah kita pahami selama ini. Fungsi hijab disini adalah untuk menutupi aurat. Lebar, longgar, tidak menerawang. Memakainya adalah untuk ‘menyembunyikan’ kecantikan, bukan malah untuk menarik perhatian.

Lalu hijab yang kedua adalah hijab interaksi. Terhadap siapa? Terhadap lawan jenis, terlebih yang bukan mahramnya. Islam mengajarkan adab-adab dalam bermuamalah, termasuk juga memberi batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Untuk itu islam begitu menjaga kesucian nasab, karena islam begitu menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Tak dipungkiri lagi, betapa pentingnya peran perempuan bagi sebuah peradaban. Bangkit atau runtuhnya sebuah peradaban tak pernah lepas dari sepak terjang kaum wanita. Karakter muslimah yang kokoh, atas izin Allah, dapat mendobrak tiga dinding keterbatasan, yaitu kebodohan, kebobrokan akhlak, dan rapuhnya ruhiyah. Ketiga hal inilah yang semestinya diwaspadai oleh muslimah.

Seorang wanita kelak akan melahirkan dan mendidik generasi. Lewat tangannyalah mereka mengukir generasi Qurani. Dari sekian tugas dan peran penting wanita dalam peradaban manusia, tentu kita memahami bahwa wanita bukan makhluk “kelas dua yang dipandang sebelah mata”. Wanita bukanlah budak peradaban sebagaimana anggapan orang jahiliyah terdahulu. Bahkan perilaku budaya masyarakat modern saat ini masih juga merendahkan kaum perempuan dengan menjadikan mereka komoditas di panggung hiburan. Beragam tayangan di layar kaca tak pernah absen mempromosikan tubuh-tubuh perempuan. Maka tak heran jika kemudian muncul istilah kejahiliyahan modern. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Menyadari betapa pentingnya peran Muslimah dalam membangun sebuah peradaban, tentu Islam telah mengatur bagaimana ia harus berkarya dan beraktivitas, dalam rangka mendukung peran fungsionalnya. Berikut ini saya coba ringkaskan 3 hal yang perlu diperhatikan oleh muslimah dalam berkarya dan beraktivitas.

Syar’i. Jangan pernah abaikan sisi syari’at dalam apapun aktivitas kita, sebab Islam adalah agama yang syumul (menyeluruh). Bahkan urusan buang air saja diuraikan dalam syari’at dengan begitu detailnya. Maka syar’i disini tidak hanya penampilannya saja, namun juga mencakup pemikiran, karakter, dan akhlaknya. Fisik, akal, dan ruhnya selalu hidup di atas nilai-nilai Islam dengan bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah. Teladannya adalah para shahabiyah, bukan artis-artis ibukotah. Makanan akalnya adalah ilmu yang bermanfaat, bukan majalah-majalah hiburan atau komik lucu sesaat. Suplemen ruhnya adalah Al-Quran, bukan lagu-lagu roman picisan.

Berprestasi. Prestasi disini tidak melulu soal akademik ya… Berprestasi bisa bermakna lebih luas dari itu. Intinya, seorang yang mampu melejitkan potensi dirinya untuk kemaslahatan dunia dan akhiratnya, disitulah ia bisa dikatakan sebagai muslimah yang berprestasi.

Menginspirasi. Menginspirasi disini maknanya adalah prestasi yang dilejitkannya itu membawa manfaat bagi umat, bagi orang banyak, bagi sekelilingnya. Oleh sebab itu, jangan jadi muslimah yang egois, apatis, cuek dengan lingkungan sekitar ya… Jadilah muslimah yang peduli, yang pikirannya tidak hanya berkelebat memikirkan dirinya sendiri. Ingat, sebuah peradaban besar itu tak pernah bisa dibangun sendirian! Dan tentu saja, tidak ada peradaban terbaik, kecuali peradaban Islami. Tidak ada kesibukan terbaik, kecuali sibuk dalam aktivitas dan amal Islami.

Hijab syar’i, benarkah ia menjadi penghalang muslimah dalam berkarya dan beraktivitas?

Mestinya kita tidak perlu pikir panjang untuk menjawab ini, sebab jawabannya jelas. TIDAK.

Kita pun tidak perlu pusing-pusing memikirkan alasan dari jawaban pertanyaan ini. Yang pertama dan utama, semua bermuara dari niat. Niat kita dalam berhijab. Semoga tiada jawaban lain selain untuk menunaikan perintah Allaah. Untuk beribadah kepada Allaah. Untuk mencari ridha Allaah.

Ya. Sebab hijab adalah perintah Allaah, bukan sekadar fashion trend. Yakinlah bahwa ketika Allaah memerintahkan sesuatu, pasti di baliknya ada hikmah dan kebaikan yang besar. Dan bagi sesiapa yang ikhlas berusaha melakukan perintah-Nya, seberjuang apapun itu, Allaah pasti akan menolongnya dan membalas jerih payahnya dengan sebaik-baik balasan.

Jadi kalau niat kita sudah benar, tentu pertanyaan-pertanyaan usil semacam di atas tidak perlu lagi menghantui pikiran kita. Jangan takut ‘ga laku’ hanya karena kita berhijab syar’i. Jangan khawatir seret rizki hanya karena kita berhijab syar’i. Jangan cemas ga bisa sekolah tinggi hanya karena kita berhijab syar’i. Percayalah, Allaah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berusaha taat. Tidak ada tips lain dalam hal ini, kecuali menguatkan keyakinan dan meluruskan niat dalam berhijab.

Lalu biar aktivitas kita tetep bisa syar’i dengan hijab syar’i gimana sih?

Kembali ke poin di atas. Tentang makna hijab. Jadi dalam aktivitasnya sebagai muslimah, makna hijab jangan dipahami setengah-setengah. Sekali lagi, hijab bukan cuma urusan pakaian saja. Hijab syar’i mestinya dihiasi dengan rasa malu. Bukan sekadar dihiasi bros cantik. Hijab syar’i mestinya menjadi ‘penghalang’ seorang muslimah untuk melakukan hal-hal yang dapat menjatuhkan muru’ah (kehormatan) dirinya.

Bingkailah rasa malu pada tempatnya. Jangan sampai terbalik. Di antara malu yang tidak pada tempatnya adalah malu untuk menuntut ilmu, malu untuk mengembangkan potensi diri (minder), atau malu untuk menunjukkan identitas kemuslimahannya karena malu kalau-kalau mendapat label negatif dari orang-orang. Misalnya, dicap sok alim, sok suci, sok baik, teroris, blablabla. Ingat, bahkan para Nabi terdahulu pernah mendapat predikat yang lebih keji dari itu. Maka selain dihiasi dengan rasa malu, hiasilah pula hijab syar’i dengan kesabaran… 🙂

In syaa Allaah segini dulu yah. Semoga sedikit sharing hari ini bermanfaat. Mohon maaf pabila ada silap kata. Semoga Allaah senantiasa membimbing kita dalam berilmu dan beramal. Aamiin.

Sedikit closing statement dari saya…

Hijrah kita jangan berhenti di titik hijab syar’i. Lejitkan potensi diri, meraih ridha illahi, jannah adalah tempat kita mengistirahatkan diri…

Emansipasi; Dari Siapa Untuk Siapa?

textgram_1493202083

Semarang, 23 April 2017 (26 Rajab 1438)

Bismillaahirrahmanirrahim,

Jadi gini, ini adalah materi Kulwap UKKI UNNES. Iya, ceritanya lagi sok-sokan ngisi kulwap, hehehe. 😀 Tempo hari dimintai tolong teman untuk cuap-cuap di grup whatsapp Lentera Muslimah. Bismillaah, saya iyain aja. Menyadari kekurangan dan ke-apalah-an saya, menyanggupi tawaran itu semata-mata berharap ada manfaat dan barokah dari cuap-cuap lewat dinding maya. Semoga Allaah ridhai amal yang sedikit ini. 🙂

Topik diskusinya kemarin tentang emansipasi. Sebenarnya ini adalah pengalaman kedua saya ngisi kulwap. Artikel kulwap pertama saya share menyusul yah. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.


Sesi materi

Sebenarnya emansipasi itu apa sih? Saya kutipkan dulu definisinya dari KBBI ya:

Emansipasi adalah (1) pembebasan dari perbudakan, (2) persamaan hal dalam berbagai aspek kehidupan; proses pelepasan diri wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju.

Hari Kartini 21 April lalu identik dengan topik emansipasi, sebab sampai hari ini rakyat Indonesia masih percaya bahwa emansipasi adalah buah pikir yang diperjuangkan Kartini. Tapi pertanyaannya, emansipasi yang bagaimanakah yang diinginkan Kartini? Persamaan hak di sisi manakah yang diperjuangkan Kartini? Konteks ini seringkali luput ditelisik para wanita, bahkan Muslimah –sebagai kaum yang diwarisi Al-Qur’an dan As-Sunnah– seakan-akan ikut terbawa arus emansipasi yang maknanya masih berkabut.

Kita coba bold dulu definisi KBBI di atas. Persamaan hal dalam berbagai kehidupan. Bermuara dari definisi ini diusunglah tema-tema seputar kesetaraan gender.

Lalu pertanyaannya, mungkinkah?

Beberapa hari ini saya sedang asik menikmati tulisan Buya Hamka dalam 2 bukunya. Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan dan yang satu lagi berjudul Ghirah, Cemburu Karena Allah.

Izinkan saya mengutip dan mengisahkan beberapa isinya disini ya. Menarik sekali. 🙂

Dalam buku pertama (Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan), ulama perintis Majelis Ulama Indonesia ini menuliskan bahwa Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan bukanlah berarti bahwa pekerjaan yang hanya bahu lelaki yang kuat memikulnya, lalu perempuan disuruh pula memikulnya.”

Tentu sesuatu yang mustahil jika laki-laki dan perempuan yang memang secara kodratnya diciptakan berbeda, lalu mereka menuntut hak yang sama dalam segala hal. Islam, sebagai agama yang syumul (menyeluruh), dalam syari’atnya bahkan menetapkan perintah yang ‘cocok’ dengan kondisi perempuan.

Ada kisah menarik yang saya dapatkan juga di buku Buya Hamka. Ketika itu beliau mengisahkan bahwa di tahun 1938, di Minangkabau, ada pemuda yang dipenjara 15 tahun karena membunuh seorang lelaki ketahuan menzinahi saudara perempuannya. Ketika lelaki itu ditanya tentang hukuman yang diterimanya, ia menjawab dengan mantap, bahwa ia senang dan legawa menerima hukuman itu. Justru jika ia diam ketika menyaksikan saudara perempuannya dinodai kehormatannya, itulah sebuah kehinaan yang besar. Sebuah kecemburuan yang mulai pudar hari ini…

Perempuan, secara fitrahnya memang butuh dilindungi, diayomi, dididik, dan dibina. karena itulah Islam mengibaratkannya gelas-gelas kaca, yang butuh kelembutan dalam merawatnya.

Emansipasi yang didengungkan hari ini jelas lahir dari pemikiran sekuler yang ingin mencabut sense of belonging umat Islam terhadap agamanya. Para perintisnya mencoba menggiring pemahaman Muslimah untuk menuntut persamaan hak di segala bidang, dengan dalih emansipasi.

Peradaban Barat, yang begitu keukeuh memperjuangkan hal ini, justru menampilkan ketidakadilan pemikirannya sendiri di berbagai tempat. Salah satu contohnya di Inggris. Di dalam UU Inggris, ketika seorang perempuan bersuami, seluruh hartanya akan menjadi milik suaminya. Selain itu, Barat juga memiliki kultur yang bertentangan dengan ajaran Islam, yaitu menasabkan nama perempuan dengan nama suaminya. Bukankah kultur semacam ini secara tidak langsung mencederai makna emansipasi itu sendiri? Perempuan yang menikah seolah menjadi hak penuh suaminya, dimana ia tak memiliki hak atas dirinya sendiri. Tak heran, di Barat angka perceraian begitu tinggi, sehingga mereka memilih tradisi kumpul kebo ketimbang menikah. Perempuan Barat banyak yang takut menikah karena konsekuensi hukum yang tidak mudah.

Sekali lagi, Allah telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan fitrah penciptaan yang berbeda. Semua tentu mengandung hikmah yang besar. Kedudukan yang sederajat di sisi Allah adalah dalam usaha mereka meraih gelar takwa. Tapi pada praktik fungsionalnya, perempuan tetaplah perempuan, lelaki tetaplah lelaki.

Untuk itu mengapa lelakilah yang disebut sebagai qowwam. Mengapa perempuan diciptakan diciptakan dari tulang rusuk. Mengapa lelakilah yang diwajibkan mencari nafkah. Mengapa perempuan diperintahkan taat kepada suami dan mendidik anak-anaknya.

Tentu semua ada hikmah yang begitu indah… 🙂


Sesi tanya jawab

Tanya 1: Apakah emansipasi adalah bagian dari ghazwul fikri?

Jawab: Jika emansipasi yang dimaksud adalah persamaan hak lelaki dan perempuan di segala bidang, sebagaimana yang didengungkan kaum sekuler, tentu itu bagian dari ghazwul fikri, perang pemikiran, yang tujuannya mencabut ruh Islam dari akal dan hati kaum muslimin.

Tanya 2: Bagaimana menanggapi hal ini? Bolehkah kita memperingati dan meneladani sosok Kartini?

Kalau memperingati, sebagai umat Islam tentu kita mencukupkan diri dengan hari Raya yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Itulah hari besar umat Islam yang disunnahkan untuk dirayakan dengan penuh kegembiraan. Merayakannya (dengan memperhatikan kaidah syar’i) akan mendulang pahala, in syaa Allaah.

Lalu jika pertanyaannya, bolehkah meneladani sosok Kartini? Sebagaimana artikel yang saya tulis sebelumnya, lalu di-repost di Kiblat Muslimah (Kartini dan Kodrat yang Pudar), tulisan-tulisan seputar Kartini masih begitu simpang siur kebenarannya. Banyak pro-kontra soal status kepahlawanannya, meski pada artikel tersebut saya menyoroti salah satu isi surat yang disebut-sebut milik Kartini, dimana isi surat tersebut memang ada benarnya, bahwa ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya.

Maka saya sampaikan bahwa sebagai Muslimah, kita tak perlu ikut bingung. B Allah dan Rasul-Nya telah menjamin kebaikan agama dan akhlak para istri Rasulullah, yang mendapat gelar sebagai Ummahatul Mukminin; Ibunda orang-orang yang beriman? Jadi semestinya merekalah yang lebih dulu kita jadikan panutan. Merekalah ibu kita, ibunda para Muslimah…

Adapun pahlawan Muslimah dari Indonesia, tidak hanya Kartini sebenarnya. Ada Rohana Kudus, Rahmah El Yunusiyah, dsb.

Tanya 3: Bagaimana sudut pandang Islam tentang kepemimpinan wanita.

Ada nash yang sangat jelas akan hal ini. Coba dibuka QS. An-Nisaa’: 34

Ar rijaalu qowwamuuna ‘alan nisaa.

Lelakilah yang dipilih menjadi pemimpin wanita. Mengapa?

Mari kita garisbawahi kalimat berikutnya,

Bimaa fadhdholallaahu ba’dhohum ‘alaa ba’dhin.

Karena Allaah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk menjadikan laki-laki sebagai pemimpin kaum wanita karena kelebihan yang telah dianugerahkan Allaah kepada kaum lelaki. Kelebihan yang khusus diberikan kepada laki-laki inilah yang mendukung peran fungsionalnya sebagai pemimpin.

Termasuk pada aplikasinya, konsensus ulama mewajibkan syarat seorang khalifah atau pemimpin negara adalah laki-laki. Pucuk kepemimpinan tertinggi haruslah diamanahkan kepada laki-laki.

Ada perbedaan pendapat ulama mengenai boleh tidaknya jika wanita memimpin dalam lingkup yang lebih sempit (dalam kondisi heterogen; lelaki dan perempuan dalam satu tempat). Pendapat yang membolehkan memberlakukan syarat yang cukup ketat, di antaranya adalah ketiadaan laki-laki yang berkompeten untuk mengurus hal tersebut.

Tentu hal di atas sama sekali bukan bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Justru berlakunya syari’at tersebut adalah untuk melindungi fitrah perempuan.

Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan bukanlah berarti bahwa pekerjaan yang hanya bahu lelaki yang kuat memikulnya, lalu perempuan disuruh pula memikulnya.”

Bahu perempuan tidak didesain untuk memikul amanah yang amat berat sebagai khalifah atau pemimpin negara. 🙂

Closing statement

“Sesungguhnya laki-laki dan wanita yang Muslim, laki-laki dan wanita yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan wanita yang berlaku benar, laki-laki dan wanita yang sabar, laki-laki dan wanita yang khusyu’, laki-laki dan wanita yang bersedekah, laki-laki dan wanita yang berpuasa, laki-laki dan wanita yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan wanita yang banyak mengingat Allaah, sungguh Allaah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Beginilah Islam mengajarkan kita ’emansipasi’…

Wallaahu ta’ala a’lam. Wastaghfirullaah, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamin, semoga bermanfaat. 🙂

Laa Tahzan… #1

original

Salah satu cara Allah menghibur Nabi adalah dengan mengisahkan orang-orang terdahulu yang sama-sama pernah diberi ujian.

Bismillaahirrahmanirrahim,

Sedih. Kita pasti pernah bersedih, kan. Gundah gulana, muram durja, hati terasa gelap tak tahu harus berbuat apa.

Bahkan Rasulullah pun pernah bersedih.

Hanya saja kesedihan beliau shalallahu ‘alayhi wasallam berkutat pada urusan dien, agama Allah.

Barangkali tidak seperti kesedihan kita. Yang seringkali menangisi hal remeh yang itu-itu saja. *nyindirdirisendiri(1) 😥

Kembali pada pembahasan kesedihan Rasulullah. Kali ini saya mau menuangkan hasil ekstraksi dari kajian Ust. Budi Ashari, dengan judul asli: Ayat-Ayat Hiburan untuk Perjuangan yang Melelahkan. Saya bagi menjadi 2 part, in syaa Allaah. Semoga Allaah beri saya panjang dan berkah umur, biar blog-blog saya tetap terurus dengan postingan-postingan layak baca. Heuheu. Aamiin. 😉

Beginilah Cara-Nya Menghibur

Seluruh isi Al-Qur’an sejatinya adalah hiburan bagi Rasulullah, sebab turunnya ayat adalah tanda perhatian langsung dari Allah bagi beliau. Jadi setiap kali turun sebuah ayat, hati beliau seketika teduh, sebab Allah secara langsung sedang menegur beliau.

Kita, pernahkah merasa sedemikian itu ketika membaca sebuah ayat? *nyindirdirisendiri(2) 😥

Salah satu cara Allah menghibur Nabi adalah dengan mengisahkan orang-orang terdahulu yang sama-sama pernah diberi ujian.

Ibrahnya:

  1. Menyadarkan bahwa sejatinya bukan kita saja yang diuji
  2. Membuka mata bahwa ujian kita boleh jadi bukanlah ujian paling berat yang pernah ada dalam kehidupan manusia di muka bumi ini. Di ujung Bumi yang lain, ada manusia yang stase ujiannya berlipat kali lebih berat daripada kita. Hanya saja kita tidak tahu.

Mengapa Orang yang Bersedih Harus Dihibur?

Dalam kitab Madarijus Salikin, salah satu karya fenomenal Ibnu Qayyim, terdapat satu bab yang secara khusus membahas tentang kesedihan. Fyi, Madarijus Salikin konon kabarnya adalah salah satu kitab yang secara terperinci mengupas ayat “iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in”. Konon katanya juga, banyak ulama lain yang mengupas ayat yang sama dalam kitab-kitab yang lain. Maa syaa Allaah. Bayangkan loh, itu cuma mengupas satu ayat, tapi penulisnya beda-beda dan tertuang dalam kitab yang berbeda pula.

Duh, makin tampaklah diri ini bagai sepersekian partikel debu yang terbang tertiup angin… 😥

Kembali yah. Jadi dalam masterpiece Ibnu Qayyim tersebut, beliau menyebutkan bahwa sebenarnya manusia tidak diminta untuk bersedih, meski setiap manusia pasti akan mengalami kesedihan tersebut.

Ibnu Qayyim menambahkan bahwa terkait hal tersebut, setidaknya Al-Qur’an selalu bersikap di antara 2 hal terhadap kesedihan; melarang atau meniadakan.

Contoh dimana Al-Qur’an melarang kita untuk bersedih; QS. Ali-Imran: 139 atau At-Taubah: 40 (ntar cek sendiri ayatnya ya, sekalian tilawah 😉 ). Kalimat larangan itu biasanya berbunyi, “Janganlah kamu bersedih…”

Sedangkan contoh dimana Al-Qur’an meniadakan atau bermaksud menghilangkan kesedihan adalah pada QS. Al-Baqarah: 38. Kalimat peniadaan itu biasanya berbunyi, “Dan kamu tidak akan bersedih…”. Coba kita buktikan sendiri ya. Cek Qur’an kita masing-masing.

Mengapa kesedihan harus dihibur, harus dihilangkan?

Karena…

  1. Sedih itu menghentikan gerak dan melemahkan hati. Ketika hati melemah, inilah celah setan untuk membuat seseorang berhenti berbuat baik, karena timbulnya keputusasaan.
  2. Salah satu pintu setan adalah berandai-andai (terhadap masa lalu). Andai aja dulu aku begini, andai dulu aku begitu… Berandai-andai yang dilarang adalah pengandaian kosong, yang tidak mengubah apa-apa, kecuali penyesalan berkepanjangan dan keputusasaan. Termasuk prasangka. Buktinya, Rasulullah melarang umatnya ketika sedang bertiga dalam majelis, dua orang di antaranya saling berbisik sambil nyuekin orang ketiga. Ibrah dari larangan ini adalah: membuat orang ketiga sedih! Berawal dari sedih, menumbuhkan prasangka dan kedengkian, kemudian berbuah permusuhan. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Bahkan Nabi Berlindung dari Rasa Gelisah dan Sedih

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ , وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ ,وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari penguasaan orang lain.” (HR. Bukhari)

Al-Hamm dan Al-Huzn

الْهَمِّ; adalah kesedihan terhadap apa-apa yang belum terjadi. Kegelisahan.

الْحُزْنِ; adalah kesedihan terhadap apa-apa yang telah terjadi, atau sedih karena kehilangan sesuatu yang dicintai.

Keduanya sama-sama tidak baik, oleh sebab itu Rasulullah berlindung dari kedua sifat ini.

Poin yang menarik; QS. Fathir: 34

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

“Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri’.”

Sebelum membahas ayat ini, di awal saya ingin menasehati diri bahwa…

Surga tidaklah didapat karena amal shaleh. Surga didapat karena rahmat-Nya, karena kasih sayang-Nya.

Bukan berarti amal shaleh itu tidak penting, namun sebenarnya ini pengingat agar kita (khususnya saya sendiri) tidak mudah merasa bangga dan puas terhadap segala amal yang kita kerjakan. Ibarat kunci, amal shaleh adalah salah satu gerigi yang akan membuka pintu rahmat-Nya. Sungguh, bukan amal shaleh yang menjadi satu-satunya penebus surga buat kita. Segala kenikmatan surga yang bersifat mutlak itu, tidaklah pantas jika hanya dijadikan “alat tukar” amal ibadah manusia. Jangan pernah merasa cukup. Jangan pernah merasa telah banyak beramal. Sebab kita tidak bisa menjamin, apakah amal ibadah kita pantas diterima oleh-Nya.

Allah Maha Mensyukuri…

Syakuur dalam ayat di atas bermakna yang paling pandai berterima kasih. Allah adalah Dzat yang Syakuur. Ini seolah-olah mengingatkan kita bahwa sebenarnya tanpa “iming-iming” surga saja, kita ini sudah layak untuk beramal dan beribadah kepada-Nya, karena nikmat dari Allah di dunia ini saja sudah tak terhitung banyaknya. Namun karena Allah adalah Dzat yang Syakuur, maka Allah kelak masih menganugerahkan kenikmatan surga yang tak terperi, bagi hamba-hamba yang dirahmati-Nya.

Al-Huzn dan Al-Hazan

Kembali ke QS. Fathir: 34. Jadi ayat di atas sebenarnya adalah kalimat yang kelak dilontarkan oleh para penghuni surga.

Poin menarik lainnya dari ayat ini terletak pada kata,

الْحَزَنَ

Al-Hazan; artinya sama-sama kesedihan, namun berbeda di harokat, sehingga mengubah maknanya. Kalau sebelumnya kita membahas Al-Huzn, maka di bagian ini kita gantian disuguhi kata Al-Hazan.

Dua kata yang memiliki arti yang sama, namun makna yang berbeda. Sekali lagi, “hanya karena beda harokat”.

Al-Huzn dan Al-Hazan; memiliki akar kata yang sama. Tersusun dari huruf-huruf yang sama pula. H, Z, N (Ha, Zain, Nun).

Tapi…

Al-Huzn; H, Z, N disandingkan dengan dhommah + sukun.

Dhommah; secara bahasa artinya dirangkul, dikelilingi. Sedangkan sukun; secara bahasa maknanya menetap di tempat *inget kata sakinah*

Jadi kesedihan dalam kata Al-Huzn bermakna kesedihan yang mengelilingi dan menetap.

Nah sedangkan…

Al-Hazan dalam QS. Fathir; H, Z, N disandingkan dengan fathah + fathah

Fathah; bermakna membuka, terbuka

Jadi, kesedihan dalam kata Al-Hazan di atas bermakna terbukanya kesedihan atau bisa pula berarti kenangan tentang kesedihan yang sudah tidak lagi menyisakan kesedihan. Kesimpulannya, sedih disini tinggal kenangan.

Pantas saja jika kalimat ini kelak diucapkan oleh penduduk surga…

Indahnya bahasa Arab. Ya Allah, beri kami kesempatan untuk memahaminya… :’)

(bersambung, in syaa Allaah…) 😉

 

 

Syam, Negeri Jihad dan Tarbiyah

Langit S

Syam juga merupakan negeri yang paling bersejarah, negeri yang tanahnya paling dipersengketakan oleh manusia di muka bumi, negeri yang dijanjikan oleh Allah sebagai pusat kekuatan umat Islam di akhir zaman. Musuh-musuh Islam notabene adalah umat yang paham betul bagaimana sejarah Islam. Mereka adalah kaum yang membaca hadits-hadits shahih dari Rasulullaah. Hal ini yang membuat mereka gigih memperebutkan tanah Syam, Mereka khawatir jika Syam jatuh ke tangan umat Islam, maka umat Islam akan memimpin dunia. Oleh sebab itu, sangatlah ironi jika umat Islam tidak tahu dan tidak mau mengkaji Islam dengan membaca dan memahami hadits-hadits Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam.

Secara garis besar, tarbiyah memiliki 3 fungsi utama, yaitu:

  1. Penyambung generasi

“ Jika suatu negeri tidak ada tarbiyah Islamiyah, maka negeri itu tidak akan paham dengan perjuangan Rasulullaah dan para shahabat. Dan mustahil negeri itu bisa memahami Islam secara kaffah.”

  1. Penanaman ruh ajaran Islam
  2. Perantara pembinaan dalam melahirkan generasi Islam yang berkualitas

Mengapa Syam (Palestina, Suriah, Libanon, Yordania, dan beberapa ulama menyebut pula tanah Israel) disebut negeri yang diberkahi? Menurut tafsir Ath-Thabari, negeri Syam menjadi negeri yang diberkahi dengan banyaknya buah-buahan dan sungai yang secara khusus diperuntukkan bagi negeri tersebut. Selain itu, Syam merupakan negeri yang Allah bersumpah dengannya dalam surah At-Tin. Dalam sebuah tafsir menyebutkan bahwa maksud Allah menyebut kata “At-Tiin” dalam ayat 1 dan 2 adalah sebuah negeri, negeri yang menghasilkan buah Tin dan Zaitun. Dalam ilmu tafsir, jika Allah bersumpah atas sesuatu, maka yang perlu diperhatikan adalah isi sumpah tersebut. Isi sumpah Allah dalam surah At-Tin adalah tentang pendidikan, dimana Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, lengkap dengan akal. Dengan akal tersebut, hendaknya manusia dapat melaksanakan pendidikan untuk mengenal Allah.

Syam juga merupakan negeri yang paling bersejarah, negeri yang tanahnya paling dipersengketakan oleh manusia di muka bumi, negeri yang dijanjikan oleh Allah sebagai pusat kekuatan umat Islam di akhir zaman. Musuh-musuh Islam notabene adalah umat yang paham betul bagaimana sejarah Islam. Mereka adalah kaum yang membaca hadits-hadits shahih dari Rasulullaah. Hal ini yang membuat mereka gigih memperebutkan tanah Syam, Mereka khawatir jika Syam jatuh ke tangan umat Islam, maka umat Islam akan memimpin dunia. Oleh sebab itu, sangatlah ironi jika umat Islam tidak tahu dan tidak mau mengkaji Islam dengan membaca dan memahami hadits-hadits Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam.

Sedikitnya ada 8 kedudukan strategis Baitul Maqdis (Syam) bagi Islam, antara lain:

  1. Negeri wahyu dan kenabian
  2. Tanah Isra’ dan Mi’raj
  3. Tanah kiblat pertama umat Islam
  4. Tanah yang ditaklukkan tanpa perang
  5. Tanah kesabaran dan jihad
  6. Tanah yang dijanjikan
  7. Kota khilafah di masa depan
  8. Tempat seluruh manusia akan dikumpulkan di padang Mahsyar

Secara garis besar, musuh umat Islam saat ini terbagi menjadi 2 kubu, yaitu Yahudi dan Syi’ah. Meskipun hari ini, Syi’ah di Libanon terlihat seperti sedang memerangi Yahudi, tetapi sebenarnya antara Syi’ah dan Yahudi sedang bersama-sama memerangi Islam. Kondisi Suriah hari ini adalah dalam kepungan musuh-musuh Islam dan diliputi kesulitan yang luar biasa, karena tempat tinggal mereka telah dibombardir dan kebun-kebun mereka telah dibakar.

“Hari ini, secara negara tidak ada yang membantu Suriah. Menurut dr. Romy (Direktur RSL Salma), negara yang memberikan perhatian cukup intens bagi Suriah hanya dua, yaitu Turki dan Indonesia. Bahkan, anak-anak Suriah menciptakan lagu dengan bahasa amiyah yang menyebut-nyebut Indonesia. Mereka juga bercita-cita ingin melihat bagaimana Indonesia.” imbuh Ust. Miqdad selaku narasumber kajian ini.

“Ya Akhi, kapan-kapan datang lagi kesini, karena Suriah adalah negeri kedua kalian setelah Indonesia.” Ungkap salah seorang warga Suriah saat melepas kepulangan relawan ke Indonesia seperti yang diceritakan oleh Ustadz Miqdad.

Kondisi lain di Suriah adalah terhentinya kegiatan pendidikan. Banyak ulama’ dan pendidik yang telah menemui kesyahidan (insyaAllaah). Proyek kemanusiaan yang sedang digiatkan oleh para relawan adalah pembangunan tenda-tenda untuk masjid dan tempat pendidikan bagi anak-anak.

Kemudian apa saja peran kaum Muslimin dalam membantu Muslimin Suriah maupun yang lain? Beliau menjelaskan bahwa hal-hal yang dapat dilakukan umat Islam dalam membantu Muslimin yang tertindas antara lain :

  1. Bantuan kemanusiaan dalam bentuk pengobatan, makanan, tempat tinggal, dsb yang dilakukan atas dasar lillaah dan ukhuwah Islamiyyah
  2. Menemani mereka dalam perjuangan ‘izzul Islam wal Muslimin, karena mereka sudah merasa sangat senang saat relawan mengatakan, “Nahnu ma’akum.” (Kami bersama kalian)
  3. Memberikan pendidikan dan dakwah Islamiyyah, khususnya bagi pemuda dan anak-anak
  4. Senantiasa menyertakan mereka dalam doa

Allaahumma a’izzal islamaa wa muslimin, wa adzillasy syirka wal musyrikin, wa dammir a’daa ad-diin, wahmi hawzatal islaami yaa Robbal ‘alamiin…

Strategi Dua Lengan

tumblr_my60wueil51qedj2ho1_1280

“Wahai manusia, tak lama lagi, kalian akan menjadi tentara yang dikirim ke berbagai wilayah, yaitu tentara yang berjuang di Syam, tentara yang berjuang di Irak, dan tentara yang berjuang di Yaman. Kaum muslimin menyambutnya dengan penuh suka cita. Mereka akan menjadi para pembebas, yang membebaskan wilayah-wilayah yang luas, dan nantinya menjadi bagian wilayah Islam, yang sudah dibebaskan.”

(Isi salah satu khotbah Rasulullaah Shalallaahu ‘alayhi wasallam yang pernah disampaikan di hadapan kaum Muslimin; diriwayatkan oleh Irbad bin Sariyah)

Jihad fi sabilillah adalah satu dari sekian perintah langit yang tak terbantahkan. Beragam cara dipraktekkan oleh sekian banyak kelompok pengusung jihad. Ada yang sinergis, namun tak jarang pula saling bertabrakan. Mulai dari start timing penggunaan kekuatan, sasaran yang dituju, hingga wilayah yang menjadi tempat yang hendak direbut; apakah di tempat tinggal sendiri atau di negeri lain. Bahkan orientasi jihad juga menjadi topik diskusi yang tak kunjung usai. Sementara itu, kekuatan musuh-musuh Islam masih mencengkeram dengan kuat. Hembusan isu terorisme yang ditiup Barat mempersempit ruang gerak jihadis. Meski demikian, upaya untuk menemukan bentuk jihad yang ideal harus terus dilakukan, meski harus mengorbankan banyak hal.

Menurut Abdullah bin Muhammad, penulis buku “Strategi Dua Lengan”, seperti yang disampaikan oleh Ustadz Bambang Sukirno (selaku narasumber dalam bedah buku ini), bahwa setiap chaos adalah peluang. Maka, fenomena Arab Spring ini pun menarik untuk dikaji dan dikaitkan dengan strategi global gerakan Islam dalam rangka mendirikan Khilafah Islamiyah. Ditinjau dari dua hal, pertama, kekuatan kontrol Amerika terhadap dunia sedikit demi sedikit memudar, seiring dengan terkurasnya energi untuk menjalankan energi untuk menjalankan mesin-mesin perang di berbagai negara. Kedua, prahara politik yang dialami oleh negara-negara dengan penduduk Muslim yang taat kepada agamanya.

Yang dimaksud dengan Strategi Dua Lengan dalam buku ini adalah Syam dan Yaman. Dua wilayah tersebut oleh penulis dijadikan tamtsil (contoh) sebagai dua lengan, yang harus saling bekerja sama untuk sebuah proyek besar, mendirikan Khilafah Islamiyah. Dua wilayah itu merupakan daerah vital dari jantung kota dunia Islam yang bisa digunakan untuk memotivasi publik kaum muslimin. Dua tempat itu pula memiliki daerah pertahanan yang tidak buruk dari segi rintangan alamnya, memiliki sumber air dan makanan, yang menempatkan para jihadis dalam posisi aman dalam hal ketahanan pangan.

Yaman berdekatan dengan daerah yang memiliki pengaruh religius. Secara teritorial, Yaman terhubung dengan Hijaz yang di dalamnya terdapat dua kota bersejarah bagi umat Islam, uaitu Makkah dan Madinah. Jerusalem berada di wilayah Syam yang mencakup Suriah, Yordania, Lebanon, dan Palestina. Dengan memandang karakter manusia dari dua tempat itu, cukup dikatakan bahwa penduduk Syam dan Yaman merupakan orang-orang yang paling banyak berpartisipasi dalam masalah jihad.

Mayoritas pelaku jihad di Afghanistan berasal dari Yaman, dan tidak akan ada jihad di Irak tanpa kehadiran orang-orang dari wilayah Syam. Lebih dari itu, Nabi SAW telah memilih mereka di antara negara-negara kaum muslimin dengan rasa bangga dan kata-kata yang menyenangkan. Kemulian negeri Syam dan Yaman juga disebutkan di dalam hadits-hadits. Salah satu hadits tersebut seperti yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam Al Kabirdari Abu Umamah RA. Ia berkata, “Rasululah SAW bersabda,

‘Allah menempatkan Syam di depanku dan Yaman di belakangku dan berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, Aku letakkan di depanmu ghanimah dan rezeki, dan di belakangmu sebuah tambahan (kekuatan).”

Setidaknya ada lima hal kelebihan negeri Syam dan Yaman atas negeri kaum Muslimin yang lain, sehingga kedua negeri tersebut menjadi pendukung tegaknya Khilafah Islamiyah. Kelima hal yang dibahas secara detail di dalam buku ini, yaitu :

Pertama, Syam dan Yaman tidak berada di zona mati. Maksudnya, jika terjadi peperangan disana maka puluhan saksi mata, analis, reporter dan lainnya akan keluar memberikan komentarnya menghidupkan kejadian yang ada. Kedua, lokasi Syam dan Yaman termasuk dekat dengan wilayah-wilayah yang memiliki pengaruh keagamaan. Ketiga, Syam dan Yaman memiliki letak geografis pegunungan dimana keduanya memiliki topografi yang mendukung aktivitas militer defensif. Keempat, wilayah Syam dan Yaman memiliki ketahanan pangan demi mencukupi kebutuhan makanan dan air bagi masyarakat jika terjadi blokade ekonomi oleh kekuatan kufur internasional. Kelima, Syam dan Yaman memiliki penduduk yang karakternya yang suka membantu, mempunyai presentasi keyakinan agama yang layak, memiliki keberanian, sabar menanggung penderitaan dan kehidupan yang keras.

Ustadz Abu Rusydan (narasumber) menambahkan, “Strategi dua lengan yang menitikberatkan pada Syam sebagai kekuatan utama dan Yaman sebagai pendukung merupakan keniscayaan sejarah dan nubuwah yang dipahami lebih dulu oleh kaum Yahudi dibandingkan kaum Muslimin. Hal inilah yang menjadi dilema bagi para ulama sekaligus mujahid, seperti Sayyid Quthb dan Syaikh Mush’ab As-Suri. Jika kemudian ada yang bertanya, ‘Jika ini disebut strategi, tetapi mengapa justru dibeberkan?’ Maka jawabannya adalah untuk memahamkan keniscayaan sejarah dan nubuwah ini kepada kaum Muslimin, serta memberikan gambaran arah perjuangan Islam.”

Pada bab “Miniatur Khilafah” dalam buku Strategi Dua Lengan, Ustadz Abu Rusydan menjabarkan bahwa gagasan penegakan khilafah Islamiyah belum bisa divisualisasikan untuk saat ini, karena pada saat ini dua tema yang sangat sensitif di tengah masyarakat kaum Muslimin adalah Jihad dan Penegakan Syari’at. Itulah yang menjadi alasan mengapa kedua hal tersebut belum mampu divisualisasikan pada saat ini, sehingga umat Islam harus bersama-sama mendukung jihad sebagai solusi penegakan Khilafah Islamiyah. Penegakan syari’at Islam tidak mungkin terwujud, kecuali di dalam kekuasaan politik Islam.

Beliau pun menambahkan, “Titik sentral pemikiran Sayyid Quthb, Syaikh Abdullaah Azzam, maupun Abdullaah bin Muhammad adalah bahwa manusia dalam hidup bermasyarakat harus diatur dengan hukum Allaah Ta’ala, dimana nantinya para pemegang kekuasaan politik adalah mereka yang melaksanakan hukum Allaah, bukan membuat sendiri undang-undang buatan manusia.”

Selain itu, beliau juga memaparkan beberapa hal penting lain yang dibahas di dalam buku ini, yaitu dua hal penghambat strategi ini dapat dilaksanakan. Dua hal tersebut adalah, yang pertama tidak ditegakkan atau ditanamkannya jihad di bumi Saudi. Selama ini, kerajaan Saudi menanamkan kesan kepada umat Islam bahwa role model Islam yang benar adalah model yang dikembangkan oleh Arab Saudi. Padahal, salah seorang pangeran Saudi sendiri telah mengungkapkan bagaimana buruknya kondisi Arab Saudi saat ini. Penghambat kedua adalah kekuatan Hizbullah yang melakukan penetrasi ideologi Syi’ah di berbagai negeri kaum Muslimin, seperti di Libanon dan Yaman.

Allaahumma a’izzal islamaa wa muslimin, wa adzillasy syirka wal musyrikin, wa dammir a’daa ad-diin, wahmi hawzatal islaami yaa Robbal ‘alamiin…

Allaahu a’lam bish shawwab.

Superb Mother

crown-cute-flower-crown-girl-Favim.com-2617400

“Sebab nasib peradaban berada di tangan para ibu.” (Superb Mother)

Note ini adalah resume seminar pendidikan anak bersama Ibu Septi Peni Wulandari, founder Institut Ibu Profesional. Seminar ini diselenggarakan oleh Muslimah Center Undip di Masjid Kampus Undip pada hari Sabtu, 11 Januari 2014 (repost dari Tumblr). Selamat menyimak, semoga bermanfaat ya. 🙂

Keteladanan berbicara lebih keras daripada sekedar kata-kata.

Kalo ga salah sih gitu ya bunyi kutipan dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais. Ternyata, begitulah seharusnya pola pendidikan untuk anak-anak. Mengutamakan gerakan yang benar daripada sekedar kata-kata.

Prolog yang disampaikan Ibu Septi Peni Wulandari dalam seminar parentingnya kali ini menjelaskan bahwa ada tiga poin kunci melejitkan potensi anak. Pertama, berupa gerakan atau praktik nyata, bukan sekedar kata-kata. Sebab anak-anak akan lebih banyak meniru daripada mendengarkan. Kedua, hadapilah anak-anak dengan senyuman dan wajah ceria. Pastikan bahwa seorang ibu harus dalam kondisi good mood saat akan berhadapan langsung dengan anak-anak. Jika mood sedang tidak baik, maka menghindarlah dari anak-anak sementara waktu, kemudian kembalilah kepada mereka dalam kondisi yang sudah kembali ceria. Dan ketiga, menjiwai kejiwaan anak-anak. Sebab anak-anak membutuhkan teman bermain yang membuat mereka merasa nyaman.

Di awal materi, beliau pun sempat bercerita sedikit soal proses pernikahannya. Kala itu, sang suami melamar beliau dengan kata-kata,

“Saya ingin nantinya anak-anak saya dididik oleh ibunya, bukan oleh orang lain, sekalipun itu kakek atau neneknya sendiri.”

Nah, gegara “ditembak” pake kalimat itu, Bu Septi rela ga bekerja, padahal saat itu SK PNS beliau sudah turun. Yap, kita tau sendiri gimana perjuangannya mendapatkan SK PNS. Dan pastilah bukan keputusan yang mudah saat beliau lebih memilih menjadi ibu rumah tangga. Tapi tekad beliau terlanjur membaja. Beliau memilih mengabdikan diri menjadi pegawai rumah tangga. Wuwuwu, keren dan so sweet bangetlah. Heuheu. 😀

Di Indonesia, ternyata ibu rumah tangga masih dianggap sebelah mata. Karena label IRT berarti wanita yang ga punya pekerjaan, alias pengangguran. Oleh sebab itu, “karir” sebagai IRT di Indonesia bukan karir yang prestisius, sehingga masih banyak disepelekan.

Nah, ada tips nih dari Bu Septi. Beliau menyampaikan bahwa menjadi IRT bukanlah pekerjaan mudah, meskipun orang-orang masih memandangnya sebelah mata. Bisa dibilang, IRT adalah sebuah profesi yang membutuhkan profesionalitas seorang perempuan dalam mengabdikan dirinya bagi keluarga. Seorang wanita yang memutuskan menjadi IRT harus ada rasa bangga dulu dengan profesinya, sebab hal itulah yang nanti akan membantunya “berkarir” dengan lebih enjoy, tanpa merasa tertekan.

Seven to Seven (7 to 7), Apa Artinya?

Tips dari Bu Septi biar IRT menghargai karirnya sebagai IRT adalah 7 to 7. Maksudnya, menanggalkan baju daster dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam. Masih belum ngeh ya? Hihi. Jadi gini, Dear. Seorang IRT seharusnya memposisikan dirinya selayaknya wanita karir yang bekerja di kantor. Bedanya, kantor ibu rumah tangga adalah di dalam rumahnya sendiri. Jadi, selayaknya bekerja di kantor, tetaplah berpakaian rapi dan menarik meskipun di dalam rumah sendiri, karena rumah adalah kantor kita nantinya. Kemudian, mungkin perlu juga nih seorang IRT punya kartu nama dengan mencantumkan posisi pekerjaannya sebagai Manajer. Yap, manajer rumah tangga, alias ibu rumah tangga. Tujuannya, biar mindset kita terbiasa bahwa menjadi IRT adalah karir yang prestisius. 🙂

Membangun Komitmen: Belajar Seumur Hidup

Sebuah keluarga yang masing-masing anggota keluarga memiliki latar belakang pendidikan tinggi seharusnya membangun komitmen di awal perjalanan rumah tangganya. Komitmen itu adalah dengan menanggalkan titel pendidikan anggota keluarga. Bangunlah kesadaran antar anggota keluarga bahwa titel suami/istri/anak yang sesungguhnya adalah almarhum/almarhumah. Jadi, bersiaplah belajar di universitas kehidupan, sebab sekolah formal pun bagian dari siklus kehidupan. Komitmen seperti ini akan membantu anggota keluarga untuk membangun kesadaran bahwa belajar adalah aktivitas seumur hidup, bukan semata-mata lulus, wisuda, mendapat gelar kesarjanaan, kemudian merasa selesailah kewajiban belajar mereka.

Empat Tahapan Menjadi Ibu Profesional

Institut Ibu Profesional yang diprakarsai oleh Ibu Septi Peni Wulandari ini meringkaskan sedikitnya empat kurikulum utama untuk menjadi seorang Ibu Profesional, yaitu:

Bunda Sayang

Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:

  1. Komunikasi jernih
  2. Anak mandiri
  3. Anak berprestasi
  4. Anak pembelajar

Bunda Cekatan

Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:

  1. Manajemen waktu
  2. Finansial keluarga
  3. Rumah elok
  4. Safety riding/driving
  5. Home team
  6. Dapur ceria
  7. Dokumentasi digital
  8. English community

Bunda Shalihah

Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:

  1. Leadership for mommies
  2. Train the trainers
  3. Public speaking
  4. Professional grooming
  5. Sharing community

Bunda Produktif

Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:

  1. Master mind
  2. Rumah produktif
  3. Jejaring usaha
  4. Bunda pialang

“Sebenarnya bukan orang tua yang mendidik anak, tetapi anaklah yang secara tidak langsung mendidik orang tuanya.”

Beliau sempat mengurai sedikit pengalamannya saat menemukan bakat dan minat anak-anaknya. Setiap anak memiliki bakat, hobi, dan kesukaan masing-masing. Tugas orang tua adalah mengoptimalkan potensi itu agar mereka menjadi ahli di bidang yang mereka gemari. Beliau juga menceritakan kisah anak sulungnya yang berhasil melanjutkan studi di luar negeri (Singapura) pada usia 15 tahun tanpa ijazah pendidikan di Indonesia. Dan putrinya tersebut juga berhasil membiayai sendiri kebutuhan hidupnya selama tinggal di negeri orang. Semua itu berbekal ilmu kemandirian yang diajarkan sang bunda.

“Merangsang anak untuk dapat hidup mandiri di usia 16 tahun adalah dengan ‘mendoktrin’ mereka sejak usia 0 – 12 tahun dengan kisah-kisah para sahabat Nabi yang berhasil berkarya di usia muda.”

Anak Belajar Apa?

Setidaknya ada empat hal dasar yang dipelajari anak, yaitu:

  1. Intellectual curiousity atau rasa ingin tahu
  2. Creative imagination atau kemampuan berimajinasi yang tinggi
  3. Art of discovery and invention atau kemampuan untuk menemukan dan atau menciptakan sesuatu yang baru
  4. Noble attitudes atau akhlak yang mulia

Bagaimana Anak Belajar?

  1. Bermain
  2. Memaknai aktivitas sehari-hari
  3. Mengerjakan “proyek” tertentu
  4. Nyantrik atau belajar langsung pada orang/ahlinya (dilakukan saat usia anak > 9 tahun)

Tips Mengetahui Potensi Anak

  1. Usia 0 – 8 tahun pola belajar anak adalah bermain (bermain sambil belajar)
  2. Usia 9 – 12 tahun pola belajar anak adalah kegiatan non pelajaran
  3. Usia 12 – 15 tahun mulai memfokuskan belajar pada kegiatan yang ia suka
  4. Pada usia 16 tahun, bantu anak mengembangkan hobi/minat/bakatnya dan rangsang kemandiriannya untuk dapat menghasilkan income dengan hobinya tersebut

Pentingnya Manajemen Waktu Ibu Rumah Tangga

Seorang IRT harus berlatih memanajemen waktu, yaitu dengan membagi waktunya untuk ketiga hal di bawah ini:

  1. Waktu untuk meningkatkan potensi diri
  2. Waktu untuk mengurus keluarga
  3. Waktu untuk diri sendiri (refreshing)

Penutup

Menjadi ibu rumah tangga harus dijalani dengan tulus dan penuh rasa bahagia, tetapi bagaimana dengan wanita yang hidup underpressure, misalnya karena ditelantarkan suaminya?

“Percayalah, bahwa wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik pula. Begitupun sebaliknya. Jadi, jika kita wanita baik-baik, tetapi suami kita ternyata tidak, maka boleh jadi Allah menguji kebaikan kita dengan kesabaran menghadapinya. Kebaikan dari Allah itu bisa berupa anugerah maupun ujian.”


Komentar saya selepas mengikuti seminar ini: Maa syaa Allaah! 🙂

Saya jadi malu sama diri sendiri. Ngerasa belum apa-apa banget untuk menjadi seorang ibu profesional. Soalnya ternyata menjadi seorang ibu itu ga gampang, apalagi ibu profesional. Kuncinya tiga: Belajar, belajar, belajar.

Mangatse para calon ibu! 😀