Mempersiapkan Masa Baligh pada Anak

mempersiapkan masa baligh

Mempersiapkan masa baligh berarti juga mempersiapkan generasi muda yang kokoh dan meyakinkan, sebagaimana Al-Qur’an telah menggambarkannya sebagai sosok yang matang secara mental, kokoh dalam tauhid, berkata ‘tidak’ pada kemaksiatan, sekaligus berani melawan kezhaliman.

Baligh, Tak Sekadar Fase Hidup

Seiring proses kehidupannya, seorang anak akan mengalami perubahan secara fisik maupun psikis, dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Di antara dua masa tersebut, ada masa peralihan, yang biasanya dikenal dengan istilah remaja atau masa puber. Fenomena menarik yang perlu dikritisi oleh para pakar adalah memendeknya usia pubertas anak-anak kita hari ini, yang ditengarai bukan semata-mata disebabkan oleh asupan nutrisi, melainkan karena paparan dan rangsangan seksual yang begitu agresif dan terlampau dini.

Kecenderungan ini pun menumbuhkan fenomena baru, yaitu fenomena anak-anak baligh tetapi belum akil. Matang secara fisik namun tidak diimbangi kematangan mental dan pemikiran. Baligh yang tidak integral. Padahal dalam pandangan Islam, fase kehidupan manusia hanya terbagi menjadi dua tahap, yaitu fase kanak-kanak dan fase dewasa atau baligh.

Adanya perbedaan di antara dua fase ini didasarkan pada pembebanan hukum syariah (mukallaf). Seorang yang telah dewasa (baligh) dan memiliki akal yang sehat, praktis akan dihadapkan pada konsekuensi dan tanggung jawab penuh terhadap seluruh perbuatan yang dilakukannya. Dia mendapat pahala dengan melakukan perbuatan wajib dan sunnah dan berdosa ketika meninggalkan perbuatan wajib atau melakukan perbuatan haram. Adapun anak kecil atau orang dewasa yang tidak sempurna akalnya, tidaklah terbebani dengan hal tersebut. Inilah makna baligh yang sesungguhnya menurut Islam.

Oleh sebab itu, sangat penting bagi orangtua untuk selalu mengamati perkembangan anak-anaknya dan mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan mereka, baik secara fisik, mental, terlebih pemantapan iman dan ilmu, sehingga saat baligh kepribadian Islam anak telah terbentuk.

Masa baligh perlu dipersiapkan, karena mempersiapkan anak-anak memasuki usia baligh tidak hanya semata-mata mempersiapkan mereka secara individu untuk bisa menjalani hidup sebagai orang dewasa, tetapi juga dalam rangka menjalankan tugas mulia sebagai hamba Allah Ta’ala. Artinya, memasuki usia baligh anak dipersiapkan agar siap menjadi pemimpin yang terbaik bagi umat pada masa yang akan datang dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi.

Anak tidak lagi kaget dengan perubahan kondisinya saat itu, karena telah terlatih untuk mengendalikan pola pikir dan sikapnya berdasarkan Islam, sehingga di masa balighnya mereka telah siap untuk menerima segala konsekuensi syariat yang dibebankan kepadanya. Jika masa baligh betul-betul dipersiapkan dengan baik, takkan ada lagi istilah ‘baligh tapi belum akil’. Inilah pertanggung-jawaban terberat orangtua di hadapan Allah Ta’ala.

Bagaimana Mempersiapkan Masa Baligh?

Seorang pakar pendidikan Islam, Dr. Khalid Ahmad Syanthut telah melakukan penelitian tentang anak-anak remaja di Mekah dan Madinah. Subyek dari penelitian ini adalah keluarga yang memiliki komitmen tinggi terhadap Islam dan mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan Islami. Target penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan psikologis anak-anak yang memasuki masa pubertas.

Ternyata hasilnya cukup menggembirakan. Meski penelitian ini dilakukan di tengah masyarakat Muslim yang sebenarnya masih jauh dari ideal, tetapi hasilnya jauh berbeda dengan masyarakat lain (non muslim, khususnya dalam hal ini adalah Barat –Amerika–)

Penelitian beliau dilengkapi dengan kuesioner kepada para orangtua tentang sarana yang digunakan untuk menghadapi anak-anak di masa remaja. Berikut ini beberapa hal yang dapat kita jadikan acuan (diurutkan berdasarkan jawaban yang paling banyak digunakan):

  1. Turut sertanya keluarga (orangtua) dalam membimbing anak-anaknya memilih teman
  2. Mengisi waktu mereka dengan olahraga, khususnya berenang
  3. Mengisi waktu mereka dengan membaca serta mendampinginya belajar
  4. Mengikutsertakan mereka ke kajian-kajian di masjid dan ulama (mulazamah)
  5. Mengintensifkan pengawasan dan pengarahan orangtua
  6. Mengisi waktu mereka dengan ibadah (mulai membiasakan qiyamullail)
  7. Mengikutsertakan mereka ke halaqoh-halaqoh Qur’an
  8. Mengikutsertakan mereka ke camp-camp Islami
  9. Mengisi waktu mereka dengan kegiatan-kegiatan ilmiah atau kegiatan pengembangan lifeskill dan minat bakat (komputer/IT, otomotif, bertani-beternak, sains, jurnalistik-literasi, dsb)
  10. Keteladanan orangtua
  11. Keterbukaan orangtua terhadap anak serta memposisikan diri sebagai teman bagi anak
  12. Membiasakan anak untuk berpuasa
  13. Doa orangtua

Ketigabelas poin di atas mungkin masih sangat sederhana. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana upaya orangtua mempersiapkan anak-anaknya menghadapi masa baligh, bagaimana para orangtua mengisi waktu anak-anak mereka yang sedang bertumbuh besar. Ternyata Islamlah yang menjadi panduan keluarga-keluarga tersebut. Ya, karena kita adalah keluarga Muslim, tentu tidak ada panduan terbaik selain Al-Qur’an dan As-Sunnah.

“Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka ketahuilah, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia takkan tersesat dan takkan celaka…” (QS. Thaha: 123)

Wallaahu a’lam.


Referensi bacaan:

Ashari, Budi. Remaja, Antara Hijaz dan Amerika (Panduan Penyiapan Masa Baligh). Depok: Parenting Nabawiyah.

Mewariskan Keshalehan

mewariskan keshalehan

Allaah akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak Allaah di waktu mudanya. Allaah akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan, kecerdasan, bahkan hingga keturunannya. Maka jagalah hak-hak Allaah di masa-masa lapang, agar Ia menjaga kita di masa sempit dan hilang kekuatan.

Visioner. Inilah yang seharusnya menjadi karakter utama seorang Muslim. Pandangan hidup seorang Muslim tidak sekadar berkutat pada kehidupan dunianya saja, melainkan terbentang jauh hingga kehidupan setelah matinya; akhirat. Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga, keluarga Muslim hendaknya tak sekadar mengupayakan kebahagiaan semu di dunia, namun juga kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya.

Keluarga bervisi akhirat tentu berpangkal dari pasangan yang visioner pula. Keluarga yang sholeh akan melahirkan anak-anak yang sholeh pula, atas izin Allaah. Sebuah pohon yang tumbuh subur dengan buah yang ranum, tentu berasal dari benih yang baik dan akar yang kuat. Keshalehan ayah dan ibu adalah faktor penentu keshalehan anak-anak.

Mari kita luangkan sejenak akal dan hati kita untuk merenungi sebuah kisah berharga dari seorang pemuda sholeh. Ia adalah seorang pemuda yang kokoh keimanannya, meski ujian keimanan justru datang dari keluarganya sendiri; ayahnya. Siapakah pemuda mengagumkan ini?

Ya, dialah Ibrahim ‘alayhissalam, seorang Nabi sekaligus kekasih Allaah. Sebelum kita menyimak pribadinya sebagai seorang ayah, terlebih dulu kita simak bagaimana Al-Qur’an telah mengabadikan gambaran kokohnya aqidah Nabi Ibrahim tatkala masih belia. Pada surah Al-Anbiya’ ayat 52 – 70, tergambar jelas bagaimana Ibrahim mencoba berdiskusi tentang keimanan kepada Allaah terhadap ayahnya. Bahkan dengan sepenuh keberanian, ia menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya.

Tatkala Ibrahim telah menjadi ayah, keshalehannya pun terus memancar kuat. Hal ini tergambar jelas ketika turun perintah Allaah untuk menyembelih putra kesayangannya, Isma’il alayhissalam. Tak keluar sedikitpun gerutu dari lisannya ketika menerima titah seberat itu. Simak juga bagaimana penuturan Isma’il ketika sang ayah menanyakan pendapatnya tentang perintah Allaah tersebut. “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allaah kepadamu. In syaa Allaah, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kini kita beralih pada kisah seorang pemuda mengagumkan lainnya. Ialah Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Siapakah di antara kita yang belum mendengar kisahnya yang menakjubkan? Ia adalah seorang yang dipercaya menjadi “asisten” Rasulullaah tatkala usianya masih sangat belia. Ia juga salah seorang dari 7 shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Ibarat perguruan tinggi, Anas bin Malik telah banyak “meluluskan” ulama-ulama hebat dalam sejarah.

Keshalehan dirinya tak diragukan lagi, sehingga suatu ketika beliau pernah didoakan Rasulullaah, “Ya Allaah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya.” Maka benar saja, berkat doa Nabawi tersebut, terkumpullah beberapa keistimewaan padanya; usia yang panjang, anak yang banyak dan sholeh, harta yang banyak, serta ilmu yang luas. Maa syaa Allaah!

Membicarakan Anas bin Malik tentu tak lepas dari peran besar sosok ibunda sholehah yang telah membentuk kepribadian dan mendidik akhlaknya. Ialah Ummu Sulaim radhiyallaahu ‘anha, seorang yang ibu yang rela “menghadiahkan” anaknya di usia 8 tahun kepada Rasulullaah, sebagai bentuk kecintaannya kepada beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Dari sekelumit kisah nyata di atas, kita dapat memetik sebuah pelajaran berharga. Keshalehan Ibrahim telah terbentuk sempurna di usia mudanya, sebelum ia berumah tangga. Isma’il pun mewarisi keshalehannya. Keshalehan Ummu Sulaim telah diwariskan kepada Anas bin Malik. Anas bin Malik pun telah mewariskan keshalehannya kepada seluruh keturunannya.

Maka sampai disini, semoga kita telah memahami betapa pentingnya membangun keshalehan diri –sesuatu yang layak diperjuangkan di masa-masa single, ketimbang terus menghabiskan waktu dalam kegalauan yang berpotensi memandulkan produktivitas.

Kisah di atas menjadi pengingat bagi generasi muda, para ikhwan dan akhwat yang akan maupun sedang memulai langkah membangun keluarga. Keshalehan di masa muda akan lebih mudah diwariskan daripada keshalehan yang dibangun tatkala rambut telah dipenuhi uban. Hal ini semata-mata merupakan bentuk penjagaan dan balasan Allaah bagi orang yang telah bersungguh-sungguh menjaga hak Allaah di masa mudanya.

Kisah di atas semoga juga menjadi pengingat bagi orang tua agar terus berupaya membimbing anak-anak mudanya dalam bingkai keimanan, agar kelak mereka memiliki bekal yang memadai saat amanah menjadi suami, istri, ayah, atau ibu bergulir di pundak mereka.

Sungguh, peradaban besar bercahaya dimulai dari keluarga, dari rumah-rumah kita. Oleh sebab itu, jadikan pernikahan sebagai momentum melipatgandakan ketakwaan, mengakumulasi semangat perbaikan, dan meregenerasi keshalehan… In syaa Allaah.

Persiapkan perbekalan menuju perjalanan panjang!

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lil muttaqiinaa imaamaa. Rabbanaa hablanaa milladunka dzurriyyatan thayyibah. Rabbanaa wa taqabbal du’aaa’…

[Rekomendasi bacaan]

‘Ulwan, Abdullah Nashih. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Solo: Insan Kamil. 2012.

Al-‘Adawy, Musthafa. Fiqih Tarbiyah Abna wa Tha’ifah min Nasha’ih Al-Athibba. Jakarta: Qisthi Press. 2006.

Baswedan, Sufyan bin Fuad. Ibunda Para Ulama. Jakarta: Pustaka Al-Inabah. 2014.

Ashari, Budi. Inspirasi dari Rumah Cahaya. Depok: CS Publishing. 2014.

Al-Fatihah Pertama

ayah ibu

Membaca artikel-artikel seputar parenting, saya pernah menemukan soal ini, “Ajarkan anakmu membaca Al-Fatihah.” Inti dari tulisan itu adalah bahwa Al-Fatihah seharusnya menjadi ayat Al-Quran yang diajarkan langsung oleh ayah dan ibu, bukan guru ngaji, atau bahkan (maaf) PRT. Alasannya sederhana, karena Al-Fatihah adalah surat yang akan dibaca berulang kali oleh sang anak saat shalat. Pahala jariyah untuk si pengajar, tentunya.

Iya, saya setuju. Sangat setuju, bahkan. Tapi jujur saya lupa, siapa yang pertama kali mengajarkan itu kepada saya. Sebab saya memang tidak terlahir dari keluarga kyai, ustadz, atau lingkungan agamis lainnya, meskipun saya pernah mencicipi teduhnya belajar Al-Quran di TPQ. Maka bisa jadi, orang yang pertama kali mengajarkan Al-Fatihah itu justru ustadz/ah di TPQ.

Tapi bagi saya, kebaikan orang tua tetaplah tidak terganti oleh posisi pengajar kebaikan di TPQ manapun. Kontraksi rahim ibu yang pernah menjadi jaminan hidup dan matinya, tentu saja tidak terbayar dengan kebaikan ustadzah yang mengajarkan Al-Fatihah. Kerja keras ayah sedari pagi hingga petang tentu juga tidak sebanding dengan kesabaran ustadz yang menemani kita bermuraja’ah. Kesabaran mereka dalam membesarkan kita selama ini, semoga menjadi penebus kekurangan-kekurangan mereka dalam mendidik kita.

Iya, saya sadar betul bahwa mereka memang bukan orang tua terbaik di dunia ini. Tapi sampai kapanpun, merekalah ayah dan ibu terbaik di dunia saya. Semoga Allaah melimpahkan kebaikan dunia dan akhirat buat ayah dan ibu terbaik kita. Dan semoga, Allaah pun menolong kita menjadi anak-anak yang shalih bagi mereka. Aamiin. :’)

Keluarga Bercahaya

keluarga bercahaya

Salah satu ciri khas Al-Qur’an adalah pada penamaan suratnya. Selalu ada kaitan antara nama surat dengan salah satu ayat di dalam surat tersebut. Contohnya, surat Al-Baqarah yang di dalamnya terdapat kisah tentang sapi betina. Atau Ali Imran, yang di dalamnya memuat kisah indah keluarga Imran yang dimuliakan. Atau juga surat An-Naml, yang di dalamnya terabadikan kisah unik antara semut dan nabi Sulaiman.

Lalu tentang keluarga, ada surat yang begitu padat berisikan tema-tema keluarga, dari awal hingga akhirnya. Ialah surah An-Nuur. Maa syaa Allaah, namanya saja menyiratkan harapan bahwa keluarga Muslim harus bercahaya. Coba baca kesinambungan ayat dan hikmah dari surat ini, khususnya pada ayat 35 – 37.

Pada ayat 35, Allah menerangkan mukjizat informatif tentang cahaya, bahwa Allah-lah sang pemberi cahaya di langit dan bumi. Lalu ayat berikutnya, secara langsung Allah menyambung ayat tersebut dengan redaksi yang kontennya “how to”, bagaimana cara mendapatkan “cahaya” itu. Jawabannya, dengan banyak bertasbih (berdzikir) kepada Allah, khususnya di dalam masjid-masjid, baik di waktu pagi maupun petang. Masjid dan ibadah. Ternyata ini kunci rumah-rumah yang bercahaya itu.

Kesinambungan ayatnya ternyata tidak berhenti sampai disitu. Pada ayat 37, Allah pun masih melengkapi redaksi ayat dengan konten yang sifatnya, “what and why”. Apa yang membuat sebuah rumah (keluarga) kehilangan “cahaya”nya? Jawabannya, bisnis dan perniagaan dunia. Mengapa? Kok bisa? Jawaban lengkapnya, laki-laki yang dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari ibadah kepada Allah…

Jadi ternyata, penyebab hilangnya “cahaya” di dalam rumah-rumah kita adalah karena pekerjaan, bisnis, dan mata pencaharian yang seringkali menggeser prioritas ibadah kita kepada Allah. Yang menarik, ayat ini secara tegas menyandingkan kata “lelaki” sebagai subyeknya. Mengapa? Karena laki-lakilah yang diamanahi tugas sebagai qowwam, yang menafkahi, yang memang kesehariannya pasti beririsan dengan dunia bisnis dan mata pencaharian.

Maa syaa Allaah. Hanya kepada Allaah kita memohon pertolongan. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

*Tulisan ini disadur dari buku “Inspirasi Rumah Cahaya, tulisan Ust. Budi Ashari, Lc (hafizhahullaah)

*Disclaimer: Buku ini daging banget, maa syaa Allaah. Ga bosan merepetisi. Saya hanya mencoba menarasikannya kembali. Semoga bermanfaat. 😊

Menjadi Lelaki

being man

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” [QS. An-Nisaa’: 34]

*note: tulisan ini repost dari blog jadul. rencananya sih mau angkut2 tulisan dari fesbuk dan blog jadul kesini. semoga rencana yang tak sekadar wacana yaaa, hihihi :p

Mengapa Allah memilih lelaki sebagai qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga?

As simply, jawaban atas pertanyaan itu hanya ada 2, yaitu:

  1.  Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain
  2. Karena laki-laki telah menafkahkan sebagian harta mereka

Alasan pertama. Kita menyadari bahwa perempuan memiliki kelebihan sebagaimana laki-laki, tetapi Allah menetapkan kelebihan laki-laki atas perempuan adalah dalam rangka menunjang kesuksesan kepemimpinan rumah tangga. Di sisi lain, kelebihan perempuan, seperti kelembutan, ketenangan, dan rasa kasih sayang diciptakan-Nya dalam rangka menunjang kesuksesannya sebagai pendidik dan teman anak-anak bertumbuh dan berkembang.

Jadi, jika kita mengetahui bahwa perempuan lebih banyak berbuat berdasarkan perasaannya, tentu saja itu bukan sebagai bentuk kelemahan atau kekurangan dirinya, melainkan kelebihan yang dibutuhkan untuk memelihara sifat-sifat alami pendidikan anak. Oleh sebab itu, porsi kelebihan ini kurang mendukung jika diposisikan sebagai pemegang tampuk kepemimpinan rumah tangga.

Alasan kedua. Laki-laki telah menafkahkan sebagian harta mereka (untuk keluarganya). Oleh sebab itu, usaha lelaki untuk menjadi qawwam seutuhnya tidak lain adalah upaya untuk menonjolkan dan menguatkan kelebihannya dalam memimpin, termasuk memenuhi kebutuhan belanja keluarga. Usaha untuk menjadi seutuhnya lelaki adalah usaha untuk menguatkan keistimewaan fisik dan psikis, serta optimalisasi diri dalam berpenghasilan.


Menjadi lelaki, karakter adalah penting dalam hidupnya, sebab nantinya karakter itulah yang akan sangat menentukan seberapa baik pilihan-pilihan yang diambil dalam sejarah hidupnya. Maka, membentuk karakter adalah hal penting dalam kehidupan seorang laki-laki. Kelak, menjadi laki-laki berarti menjadi qawwam bagi perempuannya, bagi anak-anaknya, bagi keluarganya, dan bagi generasi yang diwariskannya.

Menjadi lelaki, karakter dan kesadaran diri adalah variabel yang akan menentukannya mengambil keputusan-keputusan penting, yang bahkan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Maka menjadi laki-laki, harus mampu menentukan karakter terbaiknya, jauh sebelum ia memperbaiki atau bahkan mewariskan karakter bagi orang lain.

Menjadi lelaki, bisa saja semata-mata mengandalkan penampilan, popularitas, status sosial, atau sederet parameter lain. Tapi tidakkah kita ingat bahwa parameter yang baru saja kita sebut itu sangat rentan dihabiskan oleh waktu? Penampilan bisa menipu, fisik bisa segera melemah, popularitas bisa sewaktu-waktu kandas, dan status sosial pun sangatlah nisbi. Semua hal berubah oleh waktu. Maka menjadi laki-laki, jika karakternya lemah dan abu-abu, semua parameter itu akan tampak semakin semu.

Menjadi lelaki adalah menjadi laki-laki bagi perempuannya. Menjadi lelaki adalah menjadi qawwam bagi perempuannya. Menjadi lelaki adalah menonjolkan keunggulan fisik dan psikisnya demi ketenteraman perempuan dan anak-anaknya. Menjadi lelaki adalah perjuangan menempa kepribadian diri.

Selamat menjadi lelaki. Semoga tidak lelah memperjuangkan kehormatan menjadi sebenar-benar qawwam!

Reff: “Menjadi Laki-Laki” (Eko Novianto Nugroho; Penerbit: Gema Insani Press)

Mendidik Anak dengan Positive Parenting ala Nabi

NAKI_1

“Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).” — Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Bismillaahirrahmanirrahiim,

Tulisan kali ini adalah ekstraksi kajian Ramadhan 1438 H bertema “Anakku Mutiara Hidupku” di Masjid Al-Azhar 14 Semarang yang menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ust. Mohammad Fauzil Adhim (hafizhahullaah).

Saya terlambat sekitar setengah jam, jadi mungkin ada bagian yang terpotong ya. Belum lagi narasi beliau yang rasanya ingin dicetak tebal semua, sedangkan kemampuan menulis cepat saya terbatas. Hehehe. Semoga sedikit yang saya bagi ini bermanfaat. Wallaahul muwaffiq.

Di awal pemaparan, hal yang saya garisbawahi adalah tentang konsep aqil baligh. Mengapa anak-anak di masa sekarang lebih cepat baligh? Mayoritas masyarakat serempak menjawab, “Karena makanan anak-anak masa kini lebih bergizi.” Beliau menampik tegas pendapat ini. Menurut beliau, kalau memang ini alasan yang digunakan masyarakat, mestinya anak-anak di Timur Tengah kematangan seksualnya lebih cepat dibandingkan anak-anak Amerika, Eropa, atau Asia, seperti: Indonesia.

Makanan masyarakat Timur Tengah jauh lebih bergizi tinggi, terlebih protein dan lemak (jadi nostalgia materi kuliah dulu, bahwa nutrisi yang merangsang pembentukan hormon adalah protein dan lemak), tetapi mengapa anak-anak di Amerika, Eropa, atau Asia justru lebih cepat mengalami menarche? Padahal Amerika dan Eropa dengan budaya junk food-nya, Asia (Indonesia contohnya) dengan budaya makanan yang dominan karbohidrat dan sayur mayur.

Jawaban yang lebih tepat untuk pertanyaan di atas adalah, “Karena exposure dan rangsangan seksual terhadap anak-anak di wilayah-wilayah tersebut lebih dahsyat!” Anak-anak kita hari ini lebih cepat baligh ternyata bukan semata-mata karena asupan nutrisi yang lebih baik, tetapi juga karena rangsangan seksual di sekitar mereka yang lebih besar, dengan atau tanpa kita sadari. Astaghfirullaah… Contoh sexual exposure: ikhtilath (bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan) di sekolah anak-anak kita hari ini. Belum lagi paparan televisi dan internet yang serba bebas dan tak terkendali, yang sudah menyelinap ke rumah-rumah keluarga Muslim, lewat ponsel yang bebas digenggam kapanpun, dimanapun, siapapun.

Mohon maaf, beberapa bagian tercatat berupa poin-poinnya saja.

  • Memperdengarkan musik Mozart katanya merangsang anak untuk matang daya analitiknya, khususnya pada pelajaran eksak, seperti: matematika. Padahal waktu saya ke berkesempatan berkunjung ke Wina, saya baru sadar bahwa orang-orang Wina sendiri tidak pernah “mengidolakan” Mozart. Itu semua cuma permainan bisnis. Bahkan Mozart saja tidak pandai matematika. Begini kurang lebih yang beliau sampaikan.
  • Kita perlu belajar mendidik anak untuk mencintai amal shaleh, bukan mencintai dirinya karena telah beramal shaleh, karena ini benih ‘ujub (berbangga diri), riya, dan sum’ah (suka pamer).
  • Kita juga perlu belajar mendidik anak siap diolok/direndahkan. Ada sharing pengalaman dari beliau ketika mengajarkan kepada putra-putrinya respon ketika disakiti teman. Ajarkan kepada anak konsep selfhelp dan survive yang benar. Pertama, ajarkan anak untuk bersabar pada pukulan yang pertama dengan mendoakan teman yang menzhaliminya. Kedua, jika masih disakiti, ajarkan anak untuk bersabar dengan menasehatinya. Ketiga, jika masih terus disakiti, sabar kali ini adalah kelemahan. Balas, tapi jangan melampaui batas.
  • Anak usia 6 – 7 tahun = masa tamyiz, mampu membedakan yang benar – salah, baik – buruk à ajarkan shalat yang benar, usia sebelum itu berupa dorongan atau ajakan saja, jika anak belum mau, jangan paksa, itu hak dia.
  • Anak usia 10 tahun = persiapan masa baligh dan mukallaf (terkena beban syari’at) –> sex education dalam Islam sebenarnya bagian integral dari pendidikan Islam itu sendiri, bukan berdiri sendiri –> contoh: mengajarkan shalat yang didahului mengajarkan thaharah (bersuci) kan pasti menyinggung soal ini (pembatal wudhu, sebab mandi janabah, dsb) –> tanamkan dalam diri anak bahwa pelanggaran terbesar pada fase mukallaf adalah meninggalkan shalat!

Konsep Islam dalam Memerintah dan Melarang

Saat melarang sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Luqman: 13 – 19. Setidaknya, beliau mencoba merangkumkan garisbesarnya menjadi 3 hal, yaitu:

  • Awali kalimat larangan dengan panggilang sayang (lembut atau kasar?) –> cermati ayatnya, “Yaa bunayya…” bukan “Yaa, Ibnii…” yang secara bahasa maknanya sama, tapi kadar kelembutannya berbeda.
  • Ikuti dengan serangkaian perintah –> catatan: jika perintahnya berurutan, pastikan anak sedang dalam kondisi nyaman dan perintah tersebut tidak untuk dikerjakaan saat itu juga (menghindari misunderstanding).
  • Ikuti larangan dengan penjelasan –> memberi perintah tanpa penjelasan dapat melahirkan kejumudan (statis, skeptis).

Saat memerintahkan sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Ali-Imran: 102 – 103. Garisbesarnya adalah:

  • Awali dengan panggilan yang baik dan memuliakan –> cermati ayatnya, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu…”
  • Ikuti dengan perintah/komando yang jelas
  • Iktui pula dengan larangan sebagai penegas

Rambu-rambu dalam Perintah dan Larangan

Beliau memaparkan 3 hal yang perlu diperhatikan dalam memerintah atau melarang, yaitu:

  • Jauhi fazhzhan (suara yang keras dan kasar)
  • Jauhi ghalizhal qalbi (hati yang kaku dan keras)
  • Jauhi suara keledai (suara yang “sengak” dan tidak enak didengar)

Beberapa catatan tambahan…

  • Jika terjadi pelanggaran adab, ambil pelajaran dari kisah Umar bin Abu Salamah tentang makan dengan tangan kanan.

Dari ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau makan, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, makanlah makanan yang terdekat denganmu.” ‘Umar bin Abu Salamah) berkata, “Maka sejak itu aku makan dengan cara itu (cara yang diajarkan oleh Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam).” [HR. Ahmad]

  • Jika terjadi pelanggaran halal-haram, ambil pelajaran dari kisah Hasan bin Ali saat memakan kurma sedekah.

Dari Rabi’ah bin Syaiban berkata, “Aku bertanya pada Hasan bin Ali radhiyallaahu ‘anhu, “Apa yang paling berkesan bagimu tentang diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Aku pernah masuk ke ruang sedekah bersama beliau, lalu aku mengambil sebutir kurma dan memasukkannya ke dalam mulutku. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera menegurku, “Buang kurma itu, sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi kita (ahlul bait).” [HR. Ahmad]

  • Jika bermaksud memberi teguran keras, ambil pelajaran dari kisah Ibnu ‘Umar tentang pemuda Quraisy yang sedang menjadikan burung sebagai sasaran anak panah. Teguran keras (bahkan hingga keluar peringatan tentang laknat) sebaiknya diberikan ketika anak menjelang remaja, itupun untuk perbuatan zhalim yang mengancam nyawa, baik manusia maupun binatang.

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia sedang lewat di depan pemuda-pemuda Quraisy yang melempari seekor burung, dan mereka memberikan kepada pemilik burung itu satu tombak untuk setiap lemparan yang salah. Ketika mereka melihat Ibnu ‘Umar datang, pemuda-pemuda itu berlarian, beliau berkata, “Siapa yang melakukan ini? Sungguh, Allah telah melaknat pelaku perbuatan ini! Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran (kekerasan).” [HR. Bukhari – Muslim]

Bekal Penting Membangun Diskusi dengan Anak

Beliau memaparkan ini sebagai jawaban dari salah seorang peserta, “Bagaimana agar orangtua dapat berdiskusi dengan anak-anak (terkait perintah dan larangan)?” Beliau menjelaskan,

  1. Tumbuhkan rasa percaya anak terhadap orangtua. Kuncinya ada pada QS. An-Nisaa’: 9. Qaulan sadiidaa… Qaulan sadiidaa adalah perkataan yang setidaknya mencakup 5 hal, yaitu:
  • Straight to the point
  • Tidak menutupi kebenaran
  • Tidak mengandung kebohongan
  • Mau mengakui kesalahan di depan anak
  • Mau meminta maaf kepada anak
  1. Tumbuhkan rasa hormat anak kepada orangtua –> rasa hormat itu ditumbuhkan, bukan diperintah, “Kamu harus hormat ya, Nak, sama Ayah Ibu..” Ustadz menambahkan, “Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).”

Bagaimana Pengaruh Lingkungan terhadap Pendidikan Anak?

Ini juga pertanyaan peserta. Ustadz membuka jawaban dengan pertanyaan, “Mengapa anak yang hidup di lingkungan yang sama dapat tumbuh dengan karakter dan pemahaman yang berbeda?” Lalu beliau menjelaskan bahwa hal ini setidaknya terjadi karena:

  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua (keluarga inti) terhadap anak-anaknya
  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua terhadap teman anak-anaknya à coba teman anak-anak diajak ke rumah, dibuat nyaman bermain di rumah bersama anak-anak, sambil menasehati dan meluruskan jika ada yang keliru
  • Bekali anak-anak dengan visi dan misi yang kuat sebelum melangkah keluar rumah –> gali lagi pelajaran di QS. Luqman, atau Adz-Dzariyat: 56, atau Ali-Imran: 110.

In syaa Allaah cukup, semoga bermanfaat. Sebaik-baik perkataan adalah kalamullah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah yang datang dari Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam.

Wallaahu a’lam, wastaghfirullaah wa atuubu ilaih, laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Diresume dengan segala keterbatasan, oleh:

@laninalathifa 🙂

*bismillaah, saatnya ngeblog lagi! tadaaa! 😀

Menyatukan Frekuensi

munir 2

Pernah suatu saat saya terbayang, sebenarnya apa sih yang membuat Suciwati kala itu begitu mantap menerima pinangan Munir; lelaki yang “sukses” menjadi “buronan” aparat pemerintah karena keberanian level singa dalam mengungkap borok dalam kasus penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Tapi seketika rasa penarasan saya terjawab karena teringat sebuah kalimat, bahwa seorang lelaki bermental singa, tentu layak mendapatkan perempuan yang bermental singa pula. Saya rasa, keduanya memang klop. Laiknya pedang bertemu baju besinya yang saling menjaga, menguatkan, dan mendukung. Kisah Munir dan orang-orang bermental pejuang yang semisal dengannya, memang selalu menarik diungkap dari sisi yang berbeda. Sebagai wanita, tentu kita perlu tertarik untuk menelisik kisah sepak terjang sang istri. Apa yang membuatnya seberani itu bersuamikan lelaki yang namanya –jika boleh dikatakan–, “di-blacklist pemerintah”, karena dianggap membahayakan kaum elite yang haus harta, tahta, dan tentu saja… darah.

“Pahlawan adalah Martir Kebebasan.”

Saya teringat kata-kata Suciwati tentang sang suami, yang diungkapkannya pada bulan April dua tahun silam saat acara peresmian jalan Munir di kawasan Den Haag, Belanda. Ia berujar bahwa suaminya pernah menuturkan, seorang yang pantas disebut pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara.

munir 1

Pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara. (Munir Umar Thalib)

Wanita yang sempat menyayangkan mengapa nama suaminya justru “diabadikan” di negeri lain, bukan di tanah kelahiran suaminya sendiri inipun menambahkan, “Nilai-nilai yang diyakini dan hal-hal baik yang dilakukan oleh seorang pejuang kebenaran tak perlu dikenang (dengan penghargaan, –ed).” Karena baginya, kebenaran dan keadilan adalah sesuatu yang pantas diperjuangkan siapapun di muka bumi ini, entah dihargai atau tidak.

Peran Ganda Seorang Istri

Sepak terjangnya mengungkap dalang pembunuh sang suami yang hingga saat ini belum juga terungkap tuntas, tak putus dilakukannya. Di samping itu, ia adalah seorang single fighter yang berperan ganda; mendidik dan membesarkan anak-anak, serta menjadi ‘benteng pertama’ dalam mem-back up perjuangan suaminya. Tidak itu saja, bahkan (menurut sebuah sumber yang pernah saya baca) Suciwati bersama rekan-rekannya mendirikan taman kanak-kanak di Malang. Luar biasa, bukan? Tentu ketangguhan semacam ini patut diapresiasi bahkan ditiru wanita masa kini. Betapa wanita tidak selalu identik dengan sifat lemah dan tak berdaya. Kelembutan naluri tidak berarti berbanding lurus dengan kelemahan mental.

Fitrah wanita sebagai pendidik generasi yang menuntut kita memahami dunia anak-anak, bahkan tak jarang membuat kita perlu bertingkah seperti anak-anak, tak berarti membuat jiwa dan karakter kita kekanak-kanakan juga, bukan?

Menikah; Seni Menyatukan Frekuensi

Suciwati tidak pernah berjuang seorang diri, sebab istri-istri pejuang telah diwakilkan oleh banyak nama. Suciwati adalah salah satu potret wanita tangguh. Bahkan jauh sebelum Munir berjuang bersama istrinya, memperjuangkan sesuatu yang telah menjadi nafas dalam geraknya, Nabi Ibrahim juga telah berjuang bersama istrinya, Hajar. Memperjuangkan sebuah keyakinan, “Jika yang kita kerjakan ini adalah perintah Allah, niscaya kita takkan pernah disia-siakan oleh-Nya.”

Atau sebagaimana kebenaran abadi yang diperjuangkan Rasulullah bersama Khadijah, di masa-masa kritis awal mereka berdua berjuang dan bergerak. Atau sebagaimana istri Najmuddin Ayyub yang mencari suami yang sefrekuensi visi dengannya, hingga akhirnya –bi idznillah, bermula dari kesamaan visi itulah lahir Shalahuddin Ayyub, Al-Fatihnya Palestina. Lalu ada juga istri Buya Hamka yang pernah mengingatkan suaminya untuk “menjauhi kursi penguasa” karena baginya amanah sebagai seorang penjaga masjid lebih utama di sisi Allah.

Menyinggung Suciwati, saya pun teringat istri Siyono (Allahu yarham), Mufida. Segepok “uang tutup mulut” dari aparat pemerintah atas kasus pembunuhan suaminya; imam masjid yang ditangkap tanpa surat izin penangkapan lalu pulang dalam kondisi nyawa telah meregang, ditolaknya mentah-mentah. Sebuah perjuangan mempertahankan izzah dan keyakinan yang patut diteladani.

Barangkali apa yang menjadi inspirasi dan nafas perjuangan Munir dan istrinya tidak sama dengan beberapa contoh figur teladan di atas. Tapi skenario hidup yang mereka alami serupa. Kehilangan seorang suami atau bahkan istri pejuang. Kehilangan nahkoda atau awak perjuangan. Kehilangan belahan jiwa yang dicintai, bahkan lebih dari sekadar belahan jiwa. Sebab nafas perjuangan mereka telah mengalir sehati sejiwa. Skenario semacam itu tentu berpotensi membuat oleng bahtera yang tengah berlayar di tengah samudera yang berombak ganas. Namun sejak awal, mereka telah memilih mengikrarkan akad mitsaqan ghalizha di atas sebuah kesamaan frekuensi, keselarasan visi dan misi. Kesamaan frekuensi inilah yang menjadi benih awal timbulnya sakinah, ketenangan dalam rumah tangga. In sya Allah.

JCPP

Kesamaan Tujuan adalah Titik Awal Keberangkatan

Bermodalkan rasa “klik” yang tumbuh dari kesibukan yang sama di dunia advokasi buruh, meski ia sendiripun telah menyadari konsekuensi jika hidup bersama Munir, Suciwati menerima pinangan aktivis HAM itu. Katanya, “Karena apa yang kami perjuangkan sama…”

Kesamaan tujuan dan ruang gerak inilah yang memang lebih mudah menumbuhkan ketenangan jiwa, karena kita paham apa yang partner hidup kita kerjakan, bagaimana lingkungan dan rekan-rekan kerjanya, serta yang lebih penting adalah memahami bagaimana risiko dan konsekuensi menjalani hidup bersamanya. Saya tidak mengatakan bahwa guru tidak cocok dengan dokter, atau relawan kemanusiaan tidak klop dengan pegawai kantoran karena atmosfer dan konsekuensi ruang gerak yang berbeda. Tapi yang ingin saya garisbawahi adalah kesetaraan ghoyyah (tujuan) dalam mengarungi bahtera pernikahan, agar pernikahan itu tak sekadar digadang-gadang keindahannya di dunia, namun abadi hingga surga.

Maka jika boleh merumuskan teori, jangan cari pasangan yang pasang gelarnya cuma sampai S2 (sehidup semati), ini jelas sangat kurang. Atau cuma S3 (sehidup semati seperjuangan), ini juga masih kurang. Tapi carilah yang S4 (sehidup semati sesurga seperjuangan), nah barangkali ini barulah lengkap. 🙂

Yaa Rabb, anugerahkanlah kepada kami keshiddiqan dalam ghayyah, keikhlasan dalam melangkah, serta kesabaran dalam memperjuangkan Jannah. Aamiin.

Best regards,

Nina dan remah-remah pikirannya 😉