Dicari: Pendidik Sholeh!

pendidik yang shaleh

Oleh: Ust. Budi Ashari, Lc

Kebesaran seorang pendidik bisa dilihat dari hasil didikannya. Dunia hingga hari ini belum bisa menduplikat pemimpin sesholeh dan sehebat Umar bin Abdul Aziz. Dia adalah hasil dari perjalanan panjang sebuah pendidikan.

Agar kita sadar bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah karya besar para pendidiknya, perlu diketahui beberapa hal:

  1. Ayah dari Umar yaitu Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang Gubernur Mesir yang bertugas lebih dari 20 tahun. Sementara Umar bin Abdul Aziz besar dan menuntut ilmu di Madinah, kota kelahirannya. Jadi keberadaan anak dan orangtua yang berjauhan jelas memerlukan pengasuhan para pendidik yang istimewa.
  2. Umar bin Abdul Aziz bukan anak yang sudah mudah diatur sejak awal. Ada beberapa kisah di masa kecilnya Umar yang menunjukkan bahwa gaya seorang anak pejabat begitu lekat pada dirinya. Seperti menghabiskan waktu untuk bersolek yang mengakibatkan terabaikannya kewajiban.

Juga kisah berikut ini,

Suatu saat Umar bin Abdul Aziz ditanya, “Bagaimana kisah pertama kali kamu menjadi baik?”

Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Suatu saat saya ingin memukul pembantu saya. Dia berkata kepada saya, ‘Hai Umar, ingatlah suatu malam yang paginya adalah hari kiamat’.”

Artinya, Umar bin Abdul Aziz yang memang cerdas dan sesungguhnya sangat bersemangat belajar sejak awal usianya, juga mempunyai celah-celah diri yang memerlukan seorang pendidik yang mampu mengubahnya menjadi ledakan potensi yang dahsyat.

Salah seorang pendidik Umar bin Abdul Aziz yang langsung diserahi oleh ayahnya adalah seseorang yang bernama: Sholeh bin Kaisan. Kita harus mengenal Sholeh bin Kaisan. Sebagai petunjuk bagi para pendidik atau pengasuh generasi yang diserahi amanah untuk mendidik anak orang lain. Beginilah pendidik yang berhasil melahirkan pemimpin fenomenal tiada duanya di bumi ini!

Sholeh bin Kaisan sebenarnya tadinya hanya seorang maula (mantan budak yang dibebaskan) Bani Ghifar. Tapi begitulah, ilmu dan iman mengangkat seseorang. Hingga para ahli sejarah dan ulama seperti adz-Dzahabi (dalam Siyar a’lam an Nubala’ dan Tadzkiroh al Huffadz ) menyebut Sholeh bin Kaisan sebagai berikut: Al Imam, Al Hafidz, Ats Tsiqoh, salah satu ulama besar hadits.

Sholeh mengumpulkan ilmu hadits, fikih dan muruah (kewibawaan menjaga kehormatan diri). Dia adalah salah seorang ulama besar Kota Madinah. Sebutan Imam, Hafidz, Tsiqoh adalah merupakan sebutan para ahli hadits yang menunjukkan tingkatan ilmu yang sangat tinggi dan amanah serta kesholehan yang tidak diragukan.

Dari semua sifat mulia inilah maka para pendidik hari ini bisa belajar. Bahwa seorang pendidik harus benar-benar menghiasi dirinya dengan berbagai sifat mulai tersebut. Setidaknya ada 3 sifat yang ada pada gelar-gelar bagi Sholeh bin Kaisan, yang harus ada pada sifat para pendidik hari ini:

a. Ilmu yang mumpuni
b. Kesholehan yang tidak diragukan
c. Muruah (sebuah sifat yang menjaga seseorang dari rusaknya citra, walau hal tersebut bukan dosa)

Sholeh bin Kaisan diberikan Allah usia yang panjang. Menurut sebagian riwayat, Sholeh meninggal dengan usia lebih dari 100 tahun. Meninggal setelah tahun 140 H. Dengan usia yang panjang itulah, dia bisa menyaksikan hasil didikannya yaitu Umar bin Abdul Aziz saat menjadi Khalifah hingga Umar meninggal tahun 101 H. Umar bin Abdul Aziz yang telah merasakan hasil didikan dalam dirinya yang telah ditempa oleh Sholeh bin Kaisan, maka Umar juga menitipkan anak-anaknya agar dididik juga oleh Sholeh bin Kaisan.

Dr. Ali Ash-Shallaby menjelaskan hal ini, “Seorang guru atau pendidik terhitung sebagai salah satu ruang sudut dalam proses pengajaran. Umar bin Abdul Aziz telah memilih pendidik bagi anak-anaknya dari orang terdekatnya, sangat dikenalnya dan sangat dipercayainya.” (Lihat dalam bukunya, “Umar ibn Abdil Aziz”)

Orang itu adalah Sholeh bin Kaisan. Penjelasan ini selain menjadi pelajaran bagi para pendidik, juga menjadi wejangan bagi para orangtua yang mau menitipkan anak-anaknya dalam pendidikan. Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang ayah menitipkan pendidikan dan pengasuhan anaknya kepada orang yang dikenalnya betul dari semua sisi juga sangat dipercayainya.

Para pendidik – arsyadakumullah (semoga Allah membimbing antum semua) -, menjadi guru atau pendidik generasi bukanlah sekadar sebuah profesi yang dengannya seseorang mendapatkan uang. Tetapi ini adalah amal mulia yang membanggakan di sisi Allah.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik dengan keilmuwan yang tak diragukan.
Jangan berhenti belajar ketika telah menjadi guru.
Karena inilah masalah yang sering dijumpai dari para guru.
Peningkatan ilmu hampir tidak terlihat saat telah menjadi seorang guru.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik dengan kesholehan diri yang tidak meragukan lagi.
Karena anak didik kita tidak hanya mendengarkan ilmu yang disampaikan.
Tetapi juga melihat gerak-gerik para guru.
Kesholehan guru adalah sesuatu yang tidak terajarkan tetapi tertanamkan pada anak. Inilah bahayanya para pendidik dengan ketidakjelasan moral.
Bagaimana jadinya generasi ini, tanpa pendidik yang sholeh.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik yang menghiasi dirinya dengan kewibawaan seorang ahli ilmu.
Dia menjaga dirinya bukan saja dari dosa.
Tetapi juga dari berbagai hal yang akan mencederai kewibawaan dirinya sebagai ahli ilmu.
Bisa jadi bukan dosa, tetapi karena perbuatan itu maka jatuhlah harga diri seorang guru.
Maka apalah jadinya anak-anak, jika para pendidik telah jatuh harga dirinya di hadapan orangtua murid dan anak-anak.

Dicari pendidik seperti Sholeh bin Kaisan!
Untuk melahirkan anak didik seperti Umar bin Abdul Aziz!

Dialog Iman: Pilih Mana, Nak?

faktor pendidikan anak

Nak, nak, kalo disuruh milih nih…

Satu. Sekolah yang suuuper baguuus. gedungnya bertingkat, ada pake lift, ada AC-nya, ada kolam renangnya, ada banyak fasilitas bermainnya, ada ayunan, ada rumah pasir yang seru itu. Tapi… Disana kalian ga diajarin Al-Qur’an, ga diajarin nutup aurat, ga diajarin shalat, ga ada teman yang suka nasehatin.

Lalu dua,

Sekolah yang biasa aja. Gedungnya sederhana, ada kipas angin juga alhamdulillah, dindingnya berlapis tembok juga alhamdulillah, lantainya berkeramik juga alhamdulillah, kalo hujan ada bocor-bocor dikit, kalo panas ada sumuk-sumuk dikit, ga ada mainan seru. Tapi… Disana kalian diajarin Al-Qur’an, diajarin shalat, diajarin nutup aurat, temannya baek-baek, suka nasehatin pula.

Kalian pilih yang mana nak?

Tanpa dikomando, anak-anak serempak menjawab, “Duaaaaa!”

Dengan ekspresi super polosnya, cuma satu anak di kelas Awwal satu yang jawab, “Satu…” karena katanya pengen nyobain kolam renangnya… Hihihi, maa syaa Allaah. Berani beda yang patut diapresiasi. 🙂

Yakin nih? Emang apa enaknya tempat kayak gitu?

Dan tampak dengan seyakin-yakinnya mereka menjawab lagi, “Iyaaa, soalnya kan kita bisa belajar Al-Qur’an, ga buka-buka aurat, punya teman-teman baik juga…”

Maa syaa Allaah, inilah fitrah anak-anak, dimana setiap anak di muka bumi ini, tanpa kecuali, sebenarnya diciptakan dengan desain yang sama: mudah menerima kebenaran. Justru yang menjadi pengecualian adalah orang tuanya (termasuk guru-gurunya). Mau diapakan, dikemanakan, dan dibagaimanakan fitrah-fitrah bersih nan jujur itu…

Doa Sang Guru

doa guru

Muhammad bin Ismail Al-Bukhari mengisahkan tentang masa kecilnya,

Di masa aku kecil, aku sering datang ke majelis para ahli fikih (fuqaha). Ketika datang kesana aku merasa malu untuk mengucapkan salam kepada mereka.

Suatu ketika, muaddib (guru) berkata kepadaku, “Berapa (pelajaran) yang kamu tulis?” “Aku menulis dua”, jawabku (maksudnya beliau menulis dua hadits, tapi tidak lengkap dalam menjawab pertanyaan muaddib-nya sehingga mengundang tawa para hadirin di majelis ilmu tersebut).

Maka salah satu syaikh di majelis tersebut menasehati mereka, “Jangan kalian tertawakan anak ini, bisa jadi suatu hari nanti kalian akan ditertawakan anak ini.”


Dengarkanlah wahai orangtua dan para guru perkataan emas sang syaikh! Beliau menanamkan kepercayaan diri kepada anak yang baru saja ditertawakan di majelis ilmu.

Syaikh tersebut –semoga Allah merahmati beliau- memberi pelajaran yang tidak pernah terlupakan oleh murid-muridnya tentang makna menghormati dan tidak merendahkan orang lain. Majelis ilmu adalah majelis terhormat, bukan majelis bullying. Dengan taufik dari Allah, motivasi sang guru meneguhkan langkah Imam Bukhari menjadi ahli ilmu terkemuka. Sebagai bukti tak terbantahkan, kitab Shahih Bukhari adalah adalah kitab yang paling shahih setelah Kitabullah. Allahu Akbar!

Maka simpanlah doa-doa terbaikmu dan lantunkan di saat yang tepat kepada murid-muridmu, wahai bapak dan ibu guru!

(Dikutip dari facebook Kuttab Al-Fatih Banda Aceh, tulisan Ust. Baidhawi Razi)

7 Cara Meningkatkan Kecerdasan Anak

cover-blog_7-cara-meningkatkan-kecerdasan

Ditulis oleh: Dr. Jasim Al- Muthawwa’ (Pakar Parenting dari Kuwait)

Diterjemahkan oleh: Ust. Ahmad Fadhail, Lc (Penanggungjawab Syariah Kuttab Al-Fatih Surabaya)

Mungkin pembaca terkejut ketika mengetahui bahwa penyebab pertama meningkatkan kecerdasan dan ketajaman nalar adalah (cinta). Jika kita curahkan cinta dan kasih sayang pada anak melalui kata-kata, sentuhan dan rangkulan, maka jiwanya akan stabil (tenang) dan merasa diterima oleh orang tuanya, lalu bertambah kedermawanannya, kelembutannya dan kecerdasannya.

Penelitian dan pengalaman telah menunjukkan itu semua, setiap kali ibu menghadirkan cinta sejak dini bagi anaknya, maka ia telah memberikan kontribusi dalam mengembangkan nalar otaknya untuk kecerdasan, pembelajaran dan ingatan.

Sebab kedua meningkatkan kecerdasan anak adalah mengaktifkan pancaindranya yaitu; penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan dan rasa untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Dan ini membutuhkan pendidikan dan latihan dari kedua orang tuanya.

Sebab ketiga, kita mendengarkan anak dan berbicara dengannya, anak bisa belajar mengevaluasi ide-ide dan analisisnya dari mendengarkan dan meninjau kembali idenya. Belajar berbicara bisa melatih otaknya untuk menganalisa dan mengambil kesimpulan.

Sebab keempat, menghafal Al-Quran, mentadabburi maknanya, memahami ayat-ayatnya dan membaca tafsirnya. Al-Quran mengajak kita merenung dan mentadabburi penciptaan langit dan bumi, itu semua bisa menggerakkan pikiran. Selain itu menghafal Al-Quran dan mereview (memuraja’ahnya) bisa mengaktifkan sel-sel otak dan membuat mereka selalu termotivasi. Karena itu, para penghafal Al-Quran jarang yang pikun ketika menginjak usia tua.

Sebab kelima, memberikan permainan yang berkontribusi pada pertumbuhan kecerdasan anak, baik permainan verbal seperti teka-teki, atau permainan olahraga yang memerlukan perencanaan, seperti menyerang dan bertahan, atau game yang bersandar pada hitungan, atau permainan elektronik yang butuh kecepatan berpikir.

Sebab keenam, mengunjungi situs-situs dan tempat-tempat untuk memperkenalkan pada anak para penemu dan orang-orang cerdas dan belajar bagaimana menghadapi kesulitan hidup dan masalahnya, serta juga mengunjungi museum atau situs-situs arkeologi kuno atau mengunjungi orang-orang cerdas.

Sebab ketujuh, mengonsumsi makanan yang bisa mengaktifkan memorinya dan bisa meningkatkan kecerdasan. Pembaca bisa mencari jenis-jenis makanan tersebut di internet atau bertanya kepada pakar di bidang makanan yang bisa menunjukkan makanan tersebut.

Inilah tujuh sebab yang bisa meningkatkan kecerdasan dan ketajaman nalar anak.

Barangsiapa yang mengkaji dan merenungkan siroh para Nabi, para sahabat, dan ulama’ akan menemukan bahwa sifat cerdas melekat pada mereka. Ini yang menyebabkan mereka berbeda dengan yang lain.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, tatkala hijrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar memboncengnya, lalu bertemu suatu kaum, mereka bertanya: “Siapa yang bersamamu?”. Abu Bakar menjawab: “Penunjuk jalan yang menuntunku”. Inilah jawaban cerdas Abu Bakar agar tidak diketahui rahasia hijrahnya.

Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu suatu hari dihadirkan padanya para pemuda yang mencuri unta seseorang. Tatkala umar melihat tubuh mereka kurus, ramping dan menderita karena fakir serta terlihat wajah mereka kuning, Umar berkata kepada tuannya: “Aku hampir saja menghukum mereka kalau tanpa sepengetahuanku bahwa kamulah penyebab kelaparan mereka. Ketika mereka lapar mereka mencuri, aku tidak akan menghukum mereka, tapi aku akan menghukummu”. Maka diketahui dari keadaan mereka bahwa mereka dizalimi. Inilah sikap cerdas Umar.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya masalah seorang suami yang bersumpah untuk mencerai istrinya jika dia tidak menjima’nya di siang hari bulan Ramadhan. Ali menjawab: “Lakukan safar agar kamu bisa menjima’nya di siang hari bulan Ramadhan”. Ali memberikan solusi dari masalah dan menjaga keutuhan keluarga dengan jawaban cerdas.

Imam Abu Hanifah rahimahullah ditanya oleh seseorang: “Jika aku melepas bajuku dan mandi di sungai, kemanakah aku menghadap? Ke arah kiblat atau membelakanginya?”. Dengan tenang Abu Hanifah menjawab: “Sebaiknya kamu menghadapkan wajahmu kearah dimana pakaianmu berada agar tidak dicuri orang”. Inilah jawaban cerdas sang imam walaupun secara zahir jawaban humor.

Seperti inilah ulama-ulama kita. Karenanya Al-Quran memaparkan kepada kita model kecerdasan hingga kita bisa menjadikan konsep dalam mendidik anak-anak kita. Seperti tindakan ratu Balqis ketika menguji Nabi Sulaiman dengan hadiah. Tindakan saudarinya Musa mengirim Musa kepada ibunya agar disusui dengan cara yang cerdas. Tindakan Asiyah yang cerdas dalam menjaga Musa saat kecil dari kekerasan dan keberingasan Fir’aun dalam membunuh para wanita dan anak-anak.

Banyak kisah dalam sejarah kita yang mengisahkan kecerdasan Aisyah radhiyallahu ‘anha, kecerdasan Khalid bin Walid, Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhum dan banyak lagi yang lainnya. Tetapi yang paling penting dari itu semua bagaimana kita mentransfer pemahaman-pemahaman dan nilai-nilai qur’ani-nabawi ini pada realita praktis di rumah-rumah kita bersama anak-anak dan masuk pada kurikulum pendidikan kita.

Kita berusaha mencerdaskan anak-anak dan perhatian dalam menumbuhkan nalar mereka agar mereka bisa berkontribusi di masa depan membangun negerinya dan berkhidmah untuk agamanya.

Jangan lupa, terus doakan anak-anak kita… 🙂

BBO… Oh… BBO

childhood_3

Salah satu perangkat wajib dari pembelajaran di Kuttab adalah BBO (Belajar Bersama Orangtua). Ini semacam lembar portofolio yang berisi rangkuman materi ajar selama 2 pekan, tugas atau PR, dan laporan hasil pendampingan belajar (yang diisi oleh wali santri kemudian diserahkan kepada guru kelas). Namanya juga belajar bersama orangtua, maka lembaran BBO diserahkan kepada wali santri, rangkuman materi menjadi arsip bagi wali santri, dan penugasan adalah aspek wajib yang harus dikerjakan santri bersama orangtuanya.

Ada yang menarik hari ini. Membaca lembar BBO (Belajar Bersama Orangtua) hari ini diliputi rasa geli sekaligus terharu. Hehehe. 😀

BBO pertama.

Tugas: membiasakan diri untuk membaca ta’wudz ketika marah.

Laporan:

“Alhamdulillaah, ada kejadian menarik dari kaka Sholihah (nama disamarkan). Kemarin 2 adik dari kaka Sholihah bertengkar, adu mulut sampai pukul-pukulan. Tiba-tiba kaka Sholihah datang melerai. Ia memegangi si adik yang sedang marah, kemudian, “Dek, baca ta’awudz, baca ta’awudz!” Sambil mencoba men-talqinkan kalimat “A’uudzubillaahi minasy syaithanirrajiim…”. Bahkan ia juga menuntun si adik yang sedang tersedu-sedu itu untuk melantunkan terjemahnya, “Aku berlindung kepada Allaah dari godaan setan yang terkutuk…” Begitu terus berulang kali, sampai akhirnya si adik mengikuti komandonya, meski masih sambil tersedu-sedu. Ending cerita, alhamdulillaah, si kaka berhasil mendamaikan keduanya.”

BBO kedua.

Tugas: berlatih menangis saat membaca Al-Qur’an.

Laporan:

“Saya heran kenapa kaka Qonita (nama disamarkan), berkali-kali bolak-balik ke dapur untuk minum. Eh ternyata katanya… ini demi menuntaskan tugas bbo-nya kali ini. Dia bilang air matanya yang keluar hanya sedikit, setetes-setetes saja. Dan dia berharap dengan minum air yang banyak, air matanya jadi banyak juga…”

Rabbii hablii minash shaalihiin. Yaa Rabbanaa, jadikan anak-anak kami, anak didik kami, anak-anak di sekeliling kami, anak-anak di segala penjuru Bumi manapun, menjadi anak yang shalih, menjadi kebanggaan ummat, menjadi generasi yang membawa cahaya gemilang peradaban.

Saya percaya, seperti apapun kita sebagai orangtua (pendidiknya), segala keterbatasan kita, seberjuang apa kita mendidiknya, anak-anak memiliki fitrah yang luhur, bersih, dan mudah dekat pada kebenaran. Dengan mengharap ridha dan pertolongan-Nya, mari kawal fitrah anak-anak kita, wahai Ayah Bunda, dan segenap Guru… 🙂

best regards,

nina, guru yang tuntas belajarnya