Mempersiapkan Masa Baligh pada Anak

mempersiapkan masa baligh

Mempersiapkan masa baligh berarti juga mempersiapkan generasi muda yang kokoh dan meyakinkan, sebagaimana Al-Qur’an telah menggambarkannya sebagai sosok yang matang secara mental, kokoh dalam tauhid, berkata ‘tidak’ pada kemaksiatan, sekaligus berani melawan kezhaliman.

Baligh, Tak Sekadar Fase Hidup

Seiring proses kehidupannya, seorang anak akan mengalami perubahan secara fisik maupun psikis, dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Di antara dua masa tersebut, ada masa peralihan, yang biasanya dikenal dengan istilah remaja atau masa puber. Fenomena menarik yang perlu dikritisi oleh para pakar adalah memendeknya usia pubertas anak-anak kita hari ini, yang ditengarai bukan semata-mata disebabkan oleh asupan nutrisi, melainkan karena paparan dan rangsangan seksual yang begitu agresif dan terlampau dini.

Kecenderungan ini pun menumbuhkan fenomena baru, yaitu fenomena anak-anak baligh tetapi belum akil. Matang secara fisik namun tidak diimbangi kematangan mental dan pemikiran. Baligh yang tidak integral. Padahal dalam pandangan Islam, fase kehidupan manusia hanya terbagi menjadi dua tahap, yaitu fase kanak-kanak dan fase dewasa atau baligh.

Adanya perbedaan di antara dua fase ini didasarkan pada pembebanan hukum syariah (mukallaf). Seorang yang telah dewasa (baligh) dan memiliki akal yang sehat, praktis akan dihadapkan pada konsekuensi dan tanggung jawab penuh terhadap seluruh perbuatan yang dilakukannya. Dia mendapat pahala dengan melakukan perbuatan wajib dan sunnah dan berdosa ketika meninggalkan perbuatan wajib atau melakukan perbuatan haram. Adapun anak kecil atau orang dewasa yang tidak sempurna akalnya, tidaklah terbebani dengan hal tersebut. Inilah makna baligh yang sesungguhnya menurut Islam.

Oleh sebab itu, sangat penting bagi orangtua untuk selalu mengamati perkembangan anak-anaknya dan mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan mereka, baik secara fisik, mental, terlebih pemantapan iman dan ilmu, sehingga saat baligh kepribadian Islam anak telah terbentuk.

Masa baligh perlu dipersiapkan, karena mempersiapkan anak-anak memasuki usia baligh tidak hanya semata-mata mempersiapkan mereka secara individu untuk bisa menjalani hidup sebagai orang dewasa, tetapi juga dalam rangka menjalankan tugas mulia sebagai hamba Allah Ta’ala. Artinya, memasuki usia baligh anak dipersiapkan agar siap menjadi pemimpin yang terbaik bagi umat pada masa yang akan datang dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi.

Anak tidak lagi kaget dengan perubahan kondisinya saat itu, karena telah terlatih untuk mengendalikan pola pikir dan sikapnya berdasarkan Islam, sehingga di masa balighnya mereka telah siap untuk menerima segala konsekuensi syariat yang dibebankan kepadanya. Jika masa baligh betul-betul dipersiapkan dengan baik, takkan ada lagi istilah ‘baligh tapi belum akil’. Inilah pertanggung-jawaban terberat orangtua di hadapan Allah Ta’ala.

Bagaimana Mempersiapkan Masa Baligh?

Seorang pakar pendidikan Islam, Dr. Khalid Ahmad Syanthut telah melakukan penelitian tentang anak-anak remaja di Mekah dan Madinah. Subyek dari penelitian ini adalah keluarga yang memiliki komitmen tinggi terhadap Islam dan mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan Islami. Target penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan psikologis anak-anak yang memasuki masa pubertas.

Ternyata hasilnya cukup menggembirakan. Meski penelitian ini dilakukan di tengah masyarakat Muslim yang sebenarnya masih jauh dari ideal, tetapi hasilnya jauh berbeda dengan masyarakat lain (non muslim, khususnya dalam hal ini adalah Barat –Amerika–)

Penelitian beliau dilengkapi dengan kuesioner kepada para orangtua tentang sarana yang digunakan untuk menghadapi anak-anak di masa remaja. Berikut ini beberapa hal yang dapat kita jadikan acuan (diurutkan berdasarkan jawaban yang paling banyak digunakan):

  1. Turut sertanya keluarga (orangtua) dalam membimbing anak-anaknya memilih teman
  2. Mengisi waktu mereka dengan olahraga, khususnya berenang
  3. Mengisi waktu mereka dengan membaca serta mendampinginya belajar
  4. Mengikutsertakan mereka ke kajian-kajian di masjid dan ulama (mulazamah)
  5. Mengintensifkan pengawasan dan pengarahan orangtua
  6. Mengisi waktu mereka dengan ibadah (mulai membiasakan qiyamullail)
  7. Mengikutsertakan mereka ke halaqoh-halaqoh Qur’an
  8. Mengikutsertakan mereka ke camp-camp Islami
  9. Mengisi waktu mereka dengan kegiatan-kegiatan ilmiah atau kegiatan pengembangan lifeskill dan minat bakat (komputer/IT, otomotif, bertani-beternak, sains, jurnalistik-literasi, dsb)
  10. Keteladanan orangtua
  11. Keterbukaan orangtua terhadap anak serta memposisikan diri sebagai teman bagi anak
  12. Membiasakan anak untuk berpuasa
  13. Doa orangtua

Ketigabelas poin di atas mungkin masih sangat sederhana. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana upaya orangtua mempersiapkan anak-anaknya menghadapi masa baligh, bagaimana para orangtua mengisi waktu anak-anak mereka yang sedang bertumbuh besar. Ternyata Islamlah yang menjadi panduan keluarga-keluarga tersebut. Ya, karena kita adalah keluarga Muslim, tentu tidak ada panduan terbaik selain Al-Qur’an dan As-Sunnah.

“Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka ketahuilah, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia takkan tersesat dan takkan celaka…” (QS. Thaha: 123)

Wallaahu a’lam.


Referensi bacaan:

Ashari, Budi. Remaja, Antara Hijaz dan Amerika (Panduan Penyiapan Masa Baligh). Depok: Parenting Nabawiyah.

Mewariskan Keshalehan

mewariskan keshalehan

Allaah akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak Allaah di waktu mudanya. Allaah akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan, kecerdasan, bahkan hingga keturunannya. Maka jagalah hak-hak Allaah di masa-masa lapang, agar Ia menjaga kita di masa sempit dan hilang kekuatan.

Visioner. Inilah yang seharusnya menjadi karakter utama seorang Muslim. Pandangan hidup seorang Muslim tidak sekadar berkutat pada kehidupan dunianya saja, melainkan terbentang jauh hingga kehidupan setelah matinya; akhirat. Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga, keluarga Muslim hendaknya tak sekadar mengupayakan kebahagiaan semu di dunia, namun juga kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya.

Keluarga bervisi akhirat tentu berpangkal dari pasangan yang visioner pula. Keluarga yang sholeh akan melahirkan anak-anak yang sholeh pula, atas izin Allaah. Sebuah pohon yang tumbuh subur dengan buah yang ranum, tentu berasal dari benih yang baik dan akar yang kuat. Keshalehan ayah dan ibu adalah faktor penentu keshalehan anak-anak.

Mari kita luangkan sejenak akal dan hati kita untuk merenungi sebuah kisah berharga dari seorang pemuda sholeh. Ia adalah seorang pemuda yang kokoh keimanannya, meski ujian keimanan justru datang dari keluarganya sendiri; ayahnya. Siapakah pemuda mengagumkan ini?

Ya, dialah Ibrahim ‘alayhissalam, seorang Nabi sekaligus kekasih Allaah. Sebelum kita menyimak pribadinya sebagai seorang ayah, terlebih dulu kita simak bagaimana Al-Qur’an telah mengabadikan gambaran kokohnya aqidah Nabi Ibrahim tatkala masih belia. Pada surah Al-Anbiya’ ayat 52 – 70, tergambar jelas bagaimana Ibrahim mencoba berdiskusi tentang keimanan kepada Allaah terhadap ayahnya. Bahkan dengan sepenuh keberanian, ia menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya.

Tatkala Ibrahim telah menjadi ayah, keshalehannya pun terus memancar kuat. Hal ini tergambar jelas ketika turun perintah Allaah untuk menyembelih putra kesayangannya, Isma’il alayhissalam. Tak keluar sedikitpun gerutu dari lisannya ketika menerima titah seberat itu. Simak juga bagaimana penuturan Isma’il ketika sang ayah menanyakan pendapatnya tentang perintah Allaah tersebut. “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allaah kepadamu. In syaa Allaah, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kini kita beralih pada kisah seorang pemuda mengagumkan lainnya. Ialah Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Siapakah di antara kita yang belum mendengar kisahnya yang menakjubkan? Ia adalah seorang yang dipercaya menjadi “asisten” Rasulullaah tatkala usianya masih sangat belia. Ia juga salah seorang dari 7 shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Ibarat perguruan tinggi, Anas bin Malik telah banyak “meluluskan” ulama-ulama hebat dalam sejarah.

Keshalehan dirinya tak diragukan lagi, sehingga suatu ketika beliau pernah didoakan Rasulullaah, “Ya Allaah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya.” Maka benar saja, berkat doa Nabawi tersebut, terkumpullah beberapa keistimewaan padanya; usia yang panjang, anak yang banyak dan sholeh, harta yang banyak, serta ilmu yang luas. Maa syaa Allaah!

Membicarakan Anas bin Malik tentu tak lepas dari peran besar sosok ibunda sholehah yang telah membentuk kepribadian dan mendidik akhlaknya. Ialah Ummu Sulaim radhiyallaahu ‘anha, seorang yang ibu yang rela “menghadiahkan” anaknya di usia 8 tahun kepada Rasulullaah, sebagai bentuk kecintaannya kepada beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Dari sekelumit kisah nyata di atas, kita dapat memetik sebuah pelajaran berharga. Keshalehan Ibrahim telah terbentuk sempurna di usia mudanya, sebelum ia berumah tangga. Isma’il pun mewarisi keshalehannya. Keshalehan Ummu Sulaim telah diwariskan kepada Anas bin Malik. Anas bin Malik pun telah mewariskan keshalehannya kepada seluruh keturunannya.

Maka sampai disini, semoga kita telah memahami betapa pentingnya membangun keshalehan diri –sesuatu yang layak diperjuangkan di masa-masa single, ketimbang terus menghabiskan waktu dalam kegalauan yang berpotensi memandulkan produktivitas.

Kisah di atas menjadi pengingat bagi generasi muda, para ikhwan dan akhwat yang akan maupun sedang memulai langkah membangun keluarga. Keshalehan di masa muda akan lebih mudah diwariskan daripada keshalehan yang dibangun tatkala rambut telah dipenuhi uban. Hal ini semata-mata merupakan bentuk penjagaan dan balasan Allaah bagi orang yang telah bersungguh-sungguh menjaga hak Allaah di masa mudanya.

Kisah di atas semoga juga menjadi pengingat bagi orang tua agar terus berupaya membimbing anak-anak mudanya dalam bingkai keimanan, agar kelak mereka memiliki bekal yang memadai saat amanah menjadi suami, istri, ayah, atau ibu bergulir di pundak mereka.

Sungguh, peradaban besar bercahaya dimulai dari keluarga, dari rumah-rumah kita. Oleh sebab itu, jadikan pernikahan sebagai momentum melipatgandakan ketakwaan, mengakumulasi semangat perbaikan, dan meregenerasi keshalehan… In syaa Allaah.

Persiapkan perbekalan menuju perjalanan panjang!

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lil muttaqiinaa imaamaa. Rabbanaa hablanaa milladunka dzurriyyatan thayyibah. Rabbanaa wa taqabbal du’aaa’…

[Rekomendasi bacaan]

‘Ulwan, Abdullah Nashih. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Solo: Insan Kamil. 2012.

Al-‘Adawy, Musthafa. Fiqih Tarbiyah Abna wa Tha’ifah min Nasha’ih Al-Athibba. Jakarta: Qisthi Press. 2006.

Baswedan, Sufyan bin Fuad. Ibunda Para Ulama. Jakarta: Pustaka Al-Inabah. 2014.

Ashari, Budi. Inspirasi dari Rumah Cahaya. Depok: CS Publishing. 2014.

Al-Fatihah Pertama

ayah ibu

Membaca artikel-artikel seputar parenting, saya pernah menemukan soal ini, “Ajarkan anakmu membaca Al-Fatihah.” Inti dari tulisan itu adalah bahwa Al-Fatihah seharusnya menjadi ayat Al-Quran yang diajarkan langsung oleh ayah dan ibu, bukan guru ngaji, atau bahkan (maaf) PRT. Alasannya sederhana, karena Al-Fatihah adalah surat yang akan dibaca berulang kali oleh sang anak saat shalat. Pahala jariyah untuk si pengajar, tentunya.

Iya, saya setuju. Sangat setuju, bahkan. Tapi jujur saya lupa, siapa yang pertama kali mengajarkan itu kepada saya. Sebab saya memang tidak terlahir dari keluarga kyai, ustadz, atau lingkungan agamis lainnya, meskipun saya pernah mencicipi teduhnya belajar Al-Quran di TPQ. Maka bisa jadi, orang yang pertama kali mengajarkan Al-Fatihah itu justru ustadz/ah di TPQ.

Tapi bagi saya, kebaikan orang tua tetaplah tidak terganti oleh posisi pengajar kebaikan di TPQ manapun. Kontraksi rahim ibu yang pernah menjadi jaminan hidup dan matinya, tentu saja tidak terbayar dengan kebaikan ustadzah yang mengajarkan Al-Fatihah. Kerja keras ayah sedari pagi hingga petang tentu juga tidak sebanding dengan kesabaran ustadz yang menemani kita bermuraja’ah. Kesabaran mereka dalam membesarkan kita selama ini, semoga menjadi penebus kekurangan-kekurangan mereka dalam mendidik kita.

Iya, saya sadar betul bahwa mereka memang bukan orang tua terbaik di dunia ini. Tapi sampai kapanpun, merekalah ayah dan ibu terbaik di dunia saya. Semoga Allaah melimpahkan kebaikan dunia dan akhirat buat ayah dan ibu terbaik kita. Dan semoga, Allaah pun menolong kita menjadi anak-anak yang shalih bagi mereka. Aamiin. :’)

Mendidik Anak dengan Positive Parenting ala Nabi

NAKI_1

“Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).” — Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Bismillaahirrahmanirrahiim,

Tulisan kali ini adalah ekstraksi kajian Ramadhan 1438 H bertema “Anakku Mutiara Hidupku” di Masjid Al-Azhar 14 Semarang yang menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ust. Mohammad Fauzil Adhim (hafizhahullaah).

Saya terlambat sekitar setengah jam, jadi mungkin ada bagian yang terpotong ya. Belum lagi narasi beliau yang rasanya ingin dicetak tebal semua, sedangkan kemampuan menulis cepat saya terbatas. Hehehe. Semoga sedikit yang saya bagi ini bermanfaat. Wallaahul muwaffiq.

Di awal pemaparan, hal yang saya garisbawahi adalah tentang konsep aqil baligh. Mengapa anak-anak di masa sekarang lebih cepat baligh? Mayoritas masyarakat serempak menjawab, “Karena makanan anak-anak masa kini lebih bergizi.” Beliau menampik tegas pendapat ini. Menurut beliau, kalau memang ini alasan yang digunakan masyarakat, mestinya anak-anak di Timur Tengah kematangan seksualnya lebih cepat dibandingkan anak-anak Amerika, Eropa, atau Asia, seperti: Indonesia.

Makanan masyarakat Timur Tengah jauh lebih bergizi tinggi, terlebih protein dan lemak (jadi nostalgia materi kuliah dulu, bahwa nutrisi yang merangsang pembentukan hormon adalah protein dan lemak), tetapi mengapa anak-anak di Amerika, Eropa, atau Asia justru lebih cepat mengalami menarche? Padahal Amerika dan Eropa dengan budaya junk food-nya, Asia (Indonesia contohnya) dengan budaya makanan yang dominan karbohidrat dan sayur mayur.

Jawaban yang lebih tepat untuk pertanyaan di atas adalah, “Karena exposure dan rangsangan seksual terhadap anak-anak di wilayah-wilayah tersebut lebih dahsyat!” Anak-anak kita hari ini lebih cepat baligh ternyata bukan semata-mata karena asupan nutrisi yang lebih baik, tetapi juga karena rangsangan seksual di sekitar mereka yang lebih besar, dengan atau tanpa kita sadari. Astaghfirullaah… Contoh sexual exposure: ikhtilath (bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan) di sekolah anak-anak kita hari ini. Belum lagi paparan televisi dan internet yang serba bebas dan tak terkendali, yang sudah menyelinap ke rumah-rumah keluarga Muslim, lewat ponsel yang bebas digenggam kapanpun, dimanapun, siapapun.

Mohon maaf, beberapa bagian tercatat berupa poin-poinnya saja.

  • Memperdengarkan musik Mozart katanya merangsang anak untuk matang daya analitiknya, khususnya pada pelajaran eksak, seperti: matematika. Padahal waktu saya ke berkesempatan berkunjung ke Wina, saya baru sadar bahwa orang-orang Wina sendiri tidak pernah “mengidolakan” Mozart. Itu semua cuma permainan bisnis. Bahkan Mozart saja tidak pandai matematika. Begini kurang lebih yang beliau sampaikan.
  • Kita perlu belajar mendidik anak untuk mencintai amal shaleh, bukan mencintai dirinya karena telah beramal shaleh, karena ini benih ‘ujub (berbangga diri), riya, dan sum’ah (suka pamer).
  • Kita juga perlu belajar mendidik anak siap diolok/direndahkan. Ada sharing pengalaman dari beliau ketika mengajarkan kepada putra-putrinya respon ketika disakiti teman. Ajarkan kepada anak konsep selfhelp dan survive yang benar. Pertama, ajarkan anak untuk bersabar pada pukulan yang pertama dengan mendoakan teman yang menzhaliminya. Kedua, jika masih disakiti, ajarkan anak untuk bersabar dengan menasehatinya. Ketiga, jika masih terus disakiti, sabar kali ini adalah kelemahan. Balas, tapi jangan melampaui batas.
  • Anak usia 6 – 7 tahun = masa tamyiz, mampu membedakan yang benar – salah, baik – buruk à ajarkan shalat yang benar, usia sebelum itu berupa dorongan atau ajakan saja, jika anak belum mau, jangan paksa, itu hak dia.
  • Anak usia 10 tahun = persiapan masa baligh dan mukallaf (terkena beban syari’at) –> sex education dalam Islam sebenarnya bagian integral dari pendidikan Islam itu sendiri, bukan berdiri sendiri –> contoh: mengajarkan shalat yang didahului mengajarkan thaharah (bersuci) kan pasti menyinggung soal ini (pembatal wudhu, sebab mandi janabah, dsb) –> tanamkan dalam diri anak bahwa pelanggaran terbesar pada fase mukallaf adalah meninggalkan shalat!

Konsep Islam dalam Memerintah dan Melarang

Saat melarang sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Luqman: 13 – 19. Setidaknya, beliau mencoba merangkumkan garisbesarnya menjadi 3 hal, yaitu:

  • Awali kalimat larangan dengan panggilang sayang (lembut atau kasar?) –> cermati ayatnya, “Yaa bunayya…” bukan “Yaa, Ibnii…” yang secara bahasa maknanya sama, tapi kadar kelembutannya berbeda.
  • Ikuti dengan serangkaian perintah –> catatan: jika perintahnya berurutan, pastikan anak sedang dalam kondisi nyaman dan perintah tersebut tidak untuk dikerjakaan saat itu juga (menghindari misunderstanding).
  • Ikuti larangan dengan penjelasan –> memberi perintah tanpa penjelasan dapat melahirkan kejumudan (statis, skeptis).

Saat memerintahkan sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Ali-Imran: 102 – 103. Garisbesarnya adalah:

  • Awali dengan panggilan yang baik dan memuliakan –> cermati ayatnya, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu…”
  • Ikuti dengan perintah/komando yang jelas
  • Iktui pula dengan larangan sebagai penegas

Rambu-rambu dalam Perintah dan Larangan

Beliau memaparkan 3 hal yang perlu diperhatikan dalam memerintah atau melarang, yaitu:

  • Jauhi fazhzhan (suara yang keras dan kasar)
  • Jauhi ghalizhal qalbi (hati yang kaku dan keras)
  • Jauhi suara keledai (suara yang “sengak” dan tidak enak didengar)

Beberapa catatan tambahan…

  • Jika terjadi pelanggaran adab, ambil pelajaran dari kisah Umar bin Abu Salamah tentang makan dengan tangan kanan.

Dari ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau makan, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, makanlah makanan yang terdekat denganmu.” ‘Umar bin Abu Salamah) berkata, “Maka sejak itu aku makan dengan cara itu (cara yang diajarkan oleh Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam).” [HR. Ahmad]

  • Jika terjadi pelanggaran halal-haram, ambil pelajaran dari kisah Hasan bin Ali saat memakan kurma sedekah.

Dari Rabi’ah bin Syaiban berkata, “Aku bertanya pada Hasan bin Ali radhiyallaahu ‘anhu, “Apa yang paling berkesan bagimu tentang diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Aku pernah masuk ke ruang sedekah bersama beliau, lalu aku mengambil sebutir kurma dan memasukkannya ke dalam mulutku. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera menegurku, “Buang kurma itu, sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi kita (ahlul bait).” [HR. Ahmad]

  • Jika bermaksud memberi teguran keras, ambil pelajaran dari kisah Ibnu ‘Umar tentang pemuda Quraisy yang sedang menjadikan burung sebagai sasaran anak panah. Teguran keras (bahkan hingga keluar peringatan tentang laknat) sebaiknya diberikan ketika anak menjelang remaja, itupun untuk perbuatan zhalim yang mengancam nyawa, baik manusia maupun binatang.

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia sedang lewat di depan pemuda-pemuda Quraisy yang melempari seekor burung, dan mereka memberikan kepada pemilik burung itu satu tombak untuk setiap lemparan yang salah. Ketika mereka melihat Ibnu ‘Umar datang, pemuda-pemuda itu berlarian, beliau berkata, “Siapa yang melakukan ini? Sungguh, Allah telah melaknat pelaku perbuatan ini! Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran (kekerasan).” [HR. Bukhari – Muslim]

Bekal Penting Membangun Diskusi dengan Anak

Beliau memaparkan ini sebagai jawaban dari salah seorang peserta, “Bagaimana agar orangtua dapat berdiskusi dengan anak-anak (terkait perintah dan larangan)?” Beliau menjelaskan,

  1. Tumbuhkan rasa percaya anak terhadap orangtua. Kuncinya ada pada QS. An-Nisaa’: 9. Qaulan sadiidaa… Qaulan sadiidaa adalah perkataan yang setidaknya mencakup 5 hal, yaitu:
  • Straight to the point
  • Tidak menutupi kebenaran
  • Tidak mengandung kebohongan
  • Mau mengakui kesalahan di depan anak
  • Mau meminta maaf kepada anak
  1. Tumbuhkan rasa hormat anak kepada orangtua –> rasa hormat itu ditumbuhkan, bukan diperintah, “Kamu harus hormat ya, Nak, sama Ayah Ibu..” Ustadz menambahkan, “Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).”

Bagaimana Pengaruh Lingkungan terhadap Pendidikan Anak?

Ini juga pertanyaan peserta. Ustadz membuka jawaban dengan pertanyaan, “Mengapa anak yang hidup di lingkungan yang sama dapat tumbuh dengan karakter dan pemahaman yang berbeda?” Lalu beliau menjelaskan bahwa hal ini setidaknya terjadi karena:

  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua (keluarga inti) terhadap anak-anaknya
  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua terhadap teman anak-anaknya à coba teman anak-anak diajak ke rumah, dibuat nyaman bermain di rumah bersama anak-anak, sambil menasehati dan meluruskan jika ada yang keliru
  • Bekali anak-anak dengan visi dan misi yang kuat sebelum melangkah keluar rumah –> gali lagi pelajaran di QS. Luqman, atau Adz-Dzariyat: 56, atau Ali-Imran: 110.

In syaa Allaah cukup, semoga bermanfaat. Sebaik-baik perkataan adalah kalamullah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah yang datang dari Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam.

Wallaahu a’lam, wastaghfirullaah wa atuubu ilaih, laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Diresume dengan segala keterbatasan, oleh:

@laninalathifa 🙂

*bismillaah, saatnya ngeblog lagi! tadaaa! 😀

Dicari: Pendidik Sholeh!

pendidik yang shaleh

Oleh: Ust. Budi Ashari, Lc

Kebesaran seorang pendidik bisa dilihat dari hasil didikannya. Dunia hingga hari ini belum bisa menduplikat pemimpin sesholeh dan sehebat Umar bin Abdul Aziz. Dia adalah hasil dari perjalanan panjang sebuah pendidikan.

Agar kita sadar bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah karya besar para pendidiknya, perlu diketahui beberapa hal:

  1. Ayah dari Umar yaitu Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang Gubernur Mesir yang bertugas lebih dari 20 tahun. Sementara Umar bin Abdul Aziz besar dan menuntut ilmu di Madinah, kota kelahirannya. Jadi keberadaan anak dan orangtua yang berjauhan jelas memerlukan pengasuhan para pendidik yang istimewa.
  2. Umar bin Abdul Aziz bukan anak yang sudah mudah diatur sejak awal. Ada beberapa kisah di masa kecilnya Umar yang menunjukkan bahwa gaya seorang anak pejabat begitu lekat pada dirinya. Seperti menghabiskan waktu untuk bersolek yang mengakibatkan terabaikannya kewajiban.

Juga kisah berikut ini,

Suatu saat Umar bin Abdul Aziz ditanya, “Bagaimana kisah pertama kali kamu menjadi baik?”

Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Suatu saat saya ingin memukul pembantu saya. Dia berkata kepada saya, ‘Hai Umar, ingatlah suatu malam yang paginya adalah hari kiamat’.”

Artinya, Umar bin Abdul Aziz yang memang cerdas dan sesungguhnya sangat bersemangat belajar sejak awal usianya, juga mempunyai celah-celah diri yang memerlukan seorang pendidik yang mampu mengubahnya menjadi ledakan potensi yang dahsyat.

Salah seorang pendidik Umar bin Abdul Aziz yang langsung diserahi oleh ayahnya adalah seseorang yang bernama: Sholeh bin Kaisan. Kita harus mengenal Sholeh bin Kaisan. Sebagai petunjuk bagi para pendidik atau pengasuh generasi yang diserahi amanah untuk mendidik anak orang lain. Beginilah pendidik yang berhasil melahirkan pemimpin fenomenal tiada duanya di bumi ini!

Sholeh bin Kaisan sebenarnya tadinya hanya seorang maula (mantan budak yang dibebaskan) Bani Ghifar. Tapi begitulah, ilmu dan iman mengangkat seseorang. Hingga para ahli sejarah dan ulama seperti adz-Dzahabi (dalam Siyar a’lam an Nubala’ dan Tadzkiroh al Huffadz ) menyebut Sholeh bin Kaisan sebagai berikut: Al Imam, Al Hafidz, Ats Tsiqoh, salah satu ulama besar hadits.

Sholeh mengumpulkan ilmu hadits, fikih dan muruah (kewibawaan menjaga kehormatan diri). Dia adalah salah seorang ulama besar Kota Madinah. Sebutan Imam, Hafidz, Tsiqoh adalah merupakan sebutan para ahli hadits yang menunjukkan tingkatan ilmu yang sangat tinggi dan amanah serta kesholehan yang tidak diragukan.

Dari semua sifat mulia inilah maka para pendidik hari ini bisa belajar. Bahwa seorang pendidik harus benar-benar menghiasi dirinya dengan berbagai sifat mulai tersebut. Setidaknya ada 3 sifat yang ada pada gelar-gelar bagi Sholeh bin Kaisan, yang harus ada pada sifat para pendidik hari ini:

a. Ilmu yang mumpuni
b. Kesholehan yang tidak diragukan
c. Muruah (sebuah sifat yang menjaga seseorang dari rusaknya citra, walau hal tersebut bukan dosa)

Sholeh bin Kaisan diberikan Allah usia yang panjang. Menurut sebagian riwayat, Sholeh meninggal dengan usia lebih dari 100 tahun. Meninggal setelah tahun 140 H. Dengan usia yang panjang itulah, dia bisa menyaksikan hasil didikannya yaitu Umar bin Abdul Aziz saat menjadi Khalifah hingga Umar meninggal tahun 101 H. Umar bin Abdul Aziz yang telah merasakan hasil didikan dalam dirinya yang telah ditempa oleh Sholeh bin Kaisan, maka Umar juga menitipkan anak-anaknya agar dididik juga oleh Sholeh bin Kaisan.

Dr. Ali Ash-Shallaby menjelaskan hal ini, “Seorang guru atau pendidik terhitung sebagai salah satu ruang sudut dalam proses pengajaran. Umar bin Abdul Aziz telah memilih pendidik bagi anak-anaknya dari orang terdekatnya, sangat dikenalnya dan sangat dipercayainya.” (Lihat dalam bukunya, “Umar ibn Abdil Aziz”)

Orang itu adalah Sholeh bin Kaisan. Penjelasan ini selain menjadi pelajaran bagi para pendidik, juga menjadi wejangan bagi para orangtua yang mau menitipkan anak-anaknya dalam pendidikan. Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang ayah menitipkan pendidikan dan pengasuhan anaknya kepada orang yang dikenalnya betul dari semua sisi juga sangat dipercayainya.

Para pendidik – arsyadakumullah (semoga Allah membimbing antum semua) -, menjadi guru atau pendidik generasi bukanlah sekadar sebuah profesi yang dengannya seseorang mendapatkan uang. Tetapi ini adalah amal mulia yang membanggakan di sisi Allah.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik dengan keilmuwan yang tak diragukan.
Jangan berhenti belajar ketika telah menjadi guru.
Karena inilah masalah yang sering dijumpai dari para guru.
Peningkatan ilmu hampir tidak terlihat saat telah menjadi seorang guru.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik dengan kesholehan diri yang tidak meragukan lagi.
Karena anak didik kita tidak hanya mendengarkan ilmu yang disampaikan.
Tetapi juga melihat gerak-gerik para guru.
Kesholehan guru adalah sesuatu yang tidak terajarkan tetapi tertanamkan pada anak. Inilah bahayanya para pendidik dengan ketidakjelasan moral.
Bagaimana jadinya generasi ini, tanpa pendidik yang sholeh.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik yang menghiasi dirinya dengan kewibawaan seorang ahli ilmu.
Dia menjaga dirinya bukan saja dari dosa.
Tetapi juga dari berbagai hal yang akan mencederai kewibawaan dirinya sebagai ahli ilmu.
Bisa jadi bukan dosa, tetapi karena perbuatan itu maka jatuhlah harga diri seorang guru.
Maka apalah jadinya anak-anak, jika para pendidik telah jatuh harga dirinya di hadapan orangtua murid dan anak-anak.

Dicari pendidik seperti Sholeh bin Kaisan!
Untuk melahirkan anak didik seperti Umar bin Abdul Aziz!

Dialog Iman: Pilih Mana, Nak?

faktor pendidikan anak

Nak, nak, kalo disuruh milih nih…

Satu. Sekolah yang suuuper baguuus. gedungnya bertingkat, ada pake lift, ada AC-nya, ada kolam renangnya, ada banyak fasilitas bermainnya, ada ayunan, ada rumah pasir yang seru itu. Tapi… Disana kalian ga diajarin Al-Qur’an, ga diajarin nutup aurat, ga diajarin shalat, ga ada teman yang suka nasehatin.

Lalu dua,

Sekolah yang biasa aja. Gedungnya sederhana, ada kipas angin juga alhamdulillah, dindingnya berlapis tembok juga alhamdulillah, lantainya berkeramik juga alhamdulillah, kalo hujan ada bocor-bocor dikit, kalo panas ada sumuk-sumuk dikit, ga ada mainan seru. Tapi… Disana kalian diajarin Al-Qur’an, diajarin shalat, diajarin nutup aurat, temannya baek-baek, suka nasehatin pula.

Kalian pilih yang mana nak?

Tanpa dikomando, anak-anak serempak menjawab, “Duaaaaa!”

Dengan ekspresi super polosnya, cuma satu anak di kelas Awwal satu yang jawab, “Satu…” karena katanya pengen nyobain kolam renangnya… Hihihi, maa syaa Allaah. Berani beda yang patut diapresiasi. 🙂

Yakin nih? Emang apa enaknya tempat kayak gitu?

Dan tampak dengan seyakin-yakinnya mereka menjawab lagi, “Iyaaa, soalnya kan kita bisa belajar Al-Qur’an, ga buka-buka aurat, punya teman-teman baik juga…”

Maa syaa Allaah, inilah fitrah anak-anak, dimana setiap anak di muka bumi ini, tanpa kecuali, sebenarnya diciptakan dengan desain yang sama: mudah menerima kebenaran. Justru yang menjadi pengecualian adalah orang tuanya (termasuk guru-gurunya). Mau diapakan, dikemanakan, dan dibagaimanakan fitrah-fitrah bersih nan jujur itu…

Selamat Dunia Akhirat(?)

fitrah anak

Papan baliho iklan sebuah sekolah kenamaan yang mejeng di pinggir jalan yang biasa saya lewati, ternyata berhasil mengusik perhatian. Strategi marketing yang sukses. Jargonnya nggak nanggung. “Selamat Dunia Akhirat”. Sambil lewat, saya hanya bisa mengamini. Mudah-mudahan segenap jajaran instansi sekolah tersebut benar-benar berkomitmen dengan visinya. Kerja keras.

Selamat dunia akhirat. Tentu ini sebuah visi besar yang harus diapresiasi. Rata-rata sekolah berbasis Islam memanggul cita-cita yang sama. Namun mengawal proses untuk mewujudkannya adalah konsekuensi lain dari ‘iming-iming’ itu. Sungguh, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan sarana dan fasilitas di dalamnya.

Memilihkan sekolah atau metode pendidikan terbaik bagi anak-anak kita memang bagian dari ikhtiar. Namun buah dari ikhtiar tidak jatuh jauh dari tujuan dan niat kita. Bagi lembaga maupun nonlembaga pendidikan pun demikian. Menyediakan berbagai fasilitas terbaik bagi anak didik juga bagian dari ikhtiar. Namun ketiadaan sumber daya manusia yang beradab, menjadikan segala fasilitas itu tiada artinya. Niat yang benar tidak selalu berbuah baik. Ikhtiar yang baik juga tidak selalu berdasar niat yang benar. Keduanya disebut ujian. Namun semestinya, niat yang jujur sejalan dengan ikhtiar yang benar.

Guru-guru berkualitas internasional bisa saja kita ‘beli’ ilmu dan pengalamannya. Namun, tidak ada yang mampu membeli keikhlasannya, kecuali Allaah. Anak-anak yang lugu, polos, dan lucu-lucu itu bisa saja kita titipkan pada lembaga-lembaga berkelas internasional. Namun, tidak ada yang ‘menjual’ fitrahnya yang bersih dan lurus, kecuali Allaah.

Lalu berhasratkah kita para orangtua dan pendidik ‘membeli’ fitrahnya? Tidak ada alat tukar fitrah anak-anak kita selain dengan fitrah itu sendiri. Tukar dengan iman kita. Tukar dengan doa kita. Tukar dengan kesabaran kita. Tukar dengan keikhlasan kita. Tukar dengan ikhtiar terbaik kita; ikhtiar yang diridhai-Nya.

Laa haula walaa quwwata illaa billaah…