Mempersiapkan Masa Baligh pada Anak

mempersiapkan masa baligh

Mempersiapkan masa baligh berarti juga mempersiapkan generasi muda yang kokoh dan meyakinkan, sebagaimana Al-Qur’an telah menggambarkannya sebagai sosok yang matang secara mental, kokoh dalam tauhid, berkata ‘tidak’ pada kemaksiatan, sekaligus berani melawan kezhaliman.

Baligh, Tak Sekadar Fase Hidup

Seiring proses kehidupannya, seorang anak akan mengalami perubahan secara fisik maupun psikis, dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Di antara dua masa tersebut, ada masa peralihan, yang biasanya dikenal dengan istilah remaja atau masa puber. Fenomena menarik yang perlu dikritisi oleh para pakar adalah memendeknya usia pubertas anak-anak kita hari ini, yang ditengarai bukan semata-mata disebabkan oleh asupan nutrisi, melainkan karena paparan dan rangsangan seksual yang begitu agresif dan terlampau dini.

Kecenderungan ini pun menumbuhkan fenomena baru, yaitu fenomena anak-anak baligh tetapi belum akil. Matang secara fisik namun tidak diimbangi kematangan mental dan pemikiran. Baligh yang tidak integral. Padahal dalam pandangan Islam, fase kehidupan manusia hanya terbagi menjadi dua tahap, yaitu fase kanak-kanak dan fase dewasa atau baligh.

Adanya perbedaan di antara dua fase ini didasarkan pada pembebanan hukum syariah (mukallaf). Seorang yang telah dewasa (baligh) dan memiliki akal yang sehat, praktis akan dihadapkan pada konsekuensi dan tanggung jawab penuh terhadap seluruh perbuatan yang dilakukannya. Dia mendapat pahala dengan melakukan perbuatan wajib dan sunnah dan berdosa ketika meninggalkan perbuatan wajib atau melakukan perbuatan haram. Adapun anak kecil atau orang dewasa yang tidak sempurna akalnya, tidaklah terbebani dengan hal tersebut. Inilah makna baligh yang sesungguhnya menurut Islam.

Oleh sebab itu, sangat penting bagi orangtua untuk selalu mengamati perkembangan anak-anaknya dan mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan mereka, baik secara fisik, mental, terlebih pemantapan iman dan ilmu, sehingga saat baligh kepribadian Islam anak telah terbentuk.

Masa baligh perlu dipersiapkan, karena mempersiapkan anak-anak memasuki usia baligh tidak hanya semata-mata mempersiapkan mereka secara individu untuk bisa menjalani hidup sebagai orang dewasa, tetapi juga dalam rangka menjalankan tugas mulia sebagai hamba Allah Ta’ala. Artinya, memasuki usia baligh anak dipersiapkan agar siap menjadi pemimpin yang terbaik bagi umat pada masa yang akan datang dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi.

Anak tidak lagi kaget dengan perubahan kondisinya saat itu, karena telah terlatih untuk mengendalikan pola pikir dan sikapnya berdasarkan Islam, sehingga di masa balighnya mereka telah siap untuk menerima segala konsekuensi syariat yang dibebankan kepadanya. Jika masa baligh betul-betul dipersiapkan dengan baik, takkan ada lagi istilah ‘baligh tapi belum akil’. Inilah pertanggung-jawaban terberat orangtua di hadapan Allah Ta’ala.

Bagaimana Mempersiapkan Masa Baligh?

Seorang pakar pendidikan Islam, Dr. Khalid Ahmad Syanthut telah melakukan penelitian tentang anak-anak remaja di Mekah dan Madinah. Subyek dari penelitian ini adalah keluarga yang memiliki komitmen tinggi terhadap Islam dan mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan Islami. Target penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan psikologis anak-anak yang memasuki masa pubertas.

Ternyata hasilnya cukup menggembirakan. Meski penelitian ini dilakukan di tengah masyarakat Muslim yang sebenarnya masih jauh dari ideal, tetapi hasilnya jauh berbeda dengan masyarakat lain (non muslim, khususnya dalam hal ini adalah Barat –Amerika–)

Penelitian beliau dilengkapi dengan kuesioner kepada para orangtua tentang sarana yang digunakan untuk menghadapi anak-anak di masa remaja. Berikut ini beberapa hal yang dapat kita jadikan acuan (diurutkan berdasarkan jawaban yang paling banyak digunakan):

  1. Turut sertanya keluarga (orangtua) dalam membimbing anak-anaknya memilih teman
  2. Mengisi waktu mereka dengan olahraga, khususnya berenang
  3. Mengisi waktu mereka dengan membaca serta mendampinginya belajar
  4. Mengikutsertakan mereka ke kajian-kajian di masjid dan ulama (mulazamah)
  5. Mengintensifkan pengawasan dan pengarahan orangtua
  6. Mengisi waktu mereka dengan ibadah (mulai membiasakan qiyamullail)
  7. Mengikutsertakan mereka ke halaqoh-halaqoh Qur’an
  8. Mengikutsertakan mereka ke camp-camp Islami
  9. Mengisi waktu mereka dengan kegiatan-kegiatan ilmiah atau kegiatan pengembangan lifeskill dan minat bakat (komputer/IT, otomotif, bertani-beternak, sains, jurnalistik-literasi, dsb)
  10. Keteladanan orangtua
  11. Keterbukaan orangtua terhadap anak serta memposisikan diri sebagai teman bagi anak
  12. Membiasakan anak untuk berpuasa
  13. Doa orangtua

Ketigabelas poin di atas mungkin masih sangat sederhana. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana upaya orangtua mempersiapkan anak-anaknya menghadapi masa baligh, bagaimana para orangtua mengisi waktu anak-anak mereka yang sedang bertumbuh besar. Ternyata Islamlah yang menjadi panduan keluarga-keluarga tersebut. Ya, karena kita adalah keluarga Muslim, tentu tidak ada panduan terbaik selain Al-Qur’an dan As-Sunnah.

“Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka ketahuilah, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia takkan tersesat dan takkan celaka…” (QS. Thaha: 123)

Wallaahu a’lam.


Referensi bacaan:

Ashari, Budi. Remaja, Antara Hijaz dan Amerika (Panduan Penyiapan Masa Baligh). Depok: Parenting Nabawiyah.

Iklan

Mewariskan Keshalehan

mewariskan keshalehan

Allaah akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak Allaah di waktu mudanya. Allaah akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan, kecerdasan, bahkan hingga keturunannya. Maka jagalah hak-hak Allaah di masa-masa lapang, agar Ia menjaga kita di masa sempit dan hilang kekuatan.

Visioner. Inilah yang seharusnya menjadi karakter utama seorang Muslim. Pandangan hidup seorang Muslim tidak sekadar berkutat pada kehidupan dunianya saja, melainkan terbentang jauh hingga kehidupan setelah matinya; akhirat. Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga, keluarga Muslim hendaknya tak sekadar mengupayakan kebahagiaan semu di dunia, namun juga kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya.

Keluarga bervisi akhirat tentu berpangkal dari pasangan yang visioner pula. Keluarga yang sholeh akan melahirkan anak-anak yang sholeh pula, atas izin Allaah. Sebuah pohon yang tumbuh subur dengan buah yang ranum, tentu berasal dari benih yang baik dan akar yang kuat. Keshalehan ayah dan ibu adalah faktor penentu keshalehan anak-anak.

Mari kita luangkan sejenak akal dan hati kita untuk merenungi sebuah kisah berharga dari seorang pemuda sholeh. Ia adalah seorang pemuda yang kokoh keimanannya, meski ujian keimanan justru datang dari keluarganya sendiri; ayahnya. Siapakah pemuda mengagumkan ini?

Ya, dialah Ibrahim ‘alayhissalam, seorang Nabi sekaligus kekasih Allaah. Sebelum kita menyimak pribadinya sebagai seorang ayah, terlebih dulu kita simak bagaimana Al-Qur’an telah mengabadikan gambaran kokohnya aqidah Nabi Ibrahim tatkala masih belia. Pada surah Al-Anbiya’ ayat 52 – 70, tergambar jelas bagaimana Ibrahim mencoba berdiskusi tentang keimanan kepada Allaah terhadap ayahnya. Bahkan dengan sepenuh keberanian, ia menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya.

Tatkala Ibrahim telah menjadi ayah, keshalehannya pun terus memancar kuat. Hal ini tergambar jelas ketika turun perintah Allaah untuk menyembelih putra kesayangannya, Isma’il alayhissalam. Tak keluar sedikitpun gerutu dari lisannya ketika menerima titah seberat itu. Simak juga bagaimana penuturan Isma’il ketika sang ayah menanyakan pendapatnya tentang perintah Allaah tersebut. “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allaah kepadamu. In syaa Allaah, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kini kita beralih pada kisah seorang pemuda mengagumkan lainnya. Ialah Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Siapakah di antara kita yang belum mendengar kisahnya yang menakjubkan? Ia adalah seorang yang dipercaya menjadi “asisten” Rasulullaah tatkala usianya masih sangat belia. Ia juga salah seorang dari 7 shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Ibarat perguruan tinggi, Anas bin Malik telah banyak “meluluskan” ulama-ulama hebat dalam sejarah.

Keshalehan dirinya tak diragukan lagi, sehingga suatu ketika beliau pernah didoakan Rasulullaah, “Ya Allaah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya.” Maka benar saja, berkat doa Nabawi tersebut, terkumpullah beberapa keistimewaan padanya; usia yang panjang, anak yang banyak dan sholeh, harta yang banyak, serta ilmu yang luas. Maa syaa Allaah!

Membicarakan Anas bin Malik tentu tak lepas dari peran besar sosok ibunda sholehah yang telah membentuk kepribadian dan mendidik akhlaknya. Ialah Ummu Sulaim radhiyallaahu ‘anha, seorang yang ibu yang rela “menghadiahkan” anaknya di usia 8 tahun kepada Rasulullaah, sebagai bentuk kecintaannya kepada beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Dari sekelumit kisah nyata di atas, kita dapat memetik sebuah pelajaran berharga. Keshalehan Ibrahim telah terbentuk sempurna di usia mudanya, sebelum ia berumah tangga. Isma’il pun mewarisi keshalehannya. Keshalehan Ummu Sulaim telah diwariskan kepada Anas bin Malik. Anas bin Malik pun telah mewariskan keshalehannya kepada seluruh keturunannya.

Maka sampai disini, semoga kita telah memahami betapa pentingnya membangun keshalehan diri –sesuatu yang layak diperjuangkan di masa-masa single, ketimbang terus menghabiskan waktu dalam kegalauan yang berpotensi memandulkan produktivitas.

Kisah di atas menjadi pengingat bagi generasi muda, para ikhwan dan akhwat yang akan maupun sedang memulai langkah membangun keluarga. Keshalehan di masa muda akan lebih mudah diwariskan daripada keshalehan yang dibangun tatkala rambut telah dipenuhi uban. Hal ini semata-mata merupakan bentuk penjagaan dan balasan Allaah bagi orang yang telah bersungguh-sungguh menjaga hak Allaah di masa mudanya.

Kisah di atas semoga juga menjadi pengingat bagi orang tua agar terus berupaya membimbing anak-anak mudanya dalam bingkai keimanan, agar kelak mereka memiliki bekal yang memadai saat amanah menjadi suami, istri, ayah, atau ibu bergulir di pundak mereka.

Sungguh, peradaban besar bercahaya dimulai dari keluarga, dari rumah-rumah kita. Oleh sebab itu, jadikan pernikahan sebagai momentum melipatgandakan ketakwaan, mengakumulasi semangat perbaikan, dan meregenerasi keshalehan… In syaa Allaah.

Persiapkan perbekalan menuju perjalanan panjang!

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lil muttaqiinaa imaamaa. Rabbanaa hablanaa milladunka dzurriyyatan thayyibah. Rabbanaa wa taqabbal du’aaa’…

[Rekomendasi bacaan]

‘Ulwan, Abdullah Nashih. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Solo: Insan Kamil. 2012.

Al-‘Adawy, Musthafa. Fiqih Tarbiyah Abna wa Tha’ifah min Nasha’ih Al-Athibba. Jakarta: Qisthi Press. 2006.

Baswedan, Sufyan bin Fuad. Ibunda Para Ulama. Jakarta: Pustaka Al-Inabah. 2014.

Ashari, Budi. Inspirasi dari Rumah Cahaya. Depok: CS Publishing. 2014.

Mendidik Anak dengan Positive Parenting ala Nabi

NAKI_1

“Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).” — Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Bismillaahirrahmanirrahiim,

Tulisan kali ini adalah ekstraksi kajian Ramadhan 1438 H bertema “Anakku Mutiara Hidupku” di Masjid Al-Azhar 14 Semarang yang menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ust. Mohammad Fauzil Adhim (hafizhahullaah).

Saya terlambat sekitar setengah jam, jadi mungkin ada bagian yang terpotong ya. Belum lagi narasi beliau yang rasanya ingin dicetak tebal semua, sedangkan kemampuan menulis cepat saya terbatas. Hehehe. Semoga sedikit yang saya bagi ini bermanfaat. Wallaahul muwaffiq.

Di awal pemaparan, hal yang saya garisbawahi adalah tentang konsep aqil baligh. Mengapa anak-anak di masa sekarang lebih cepat baligh? Mayoritas masyarakat serempak menjawab, “Karena makanan anak-anak masa kini lebih bergizi.” Beliau menampik tegas pendapat ini. Menurut beliau, kalau memang ini alasan yang digunakan masyarakat, mestinya anak-anak di Timur Tengah kematangan seksualnya lebih cepat dibandingkan anak-anak Amerika, Eropa, atau Asia, seperti: Indonesia.

Makanan masyarakat Timur Tengah jauh lebih bergizi tinggi, terlebih protein dan lemak (jadi nostalgia materi kuliah dulu, bahwa nutrisi yang merangsang pembentukan hormon adalah protein dan lemak), tetapi mengapa anak-anak di Amerika, Eropa, atau Asia justru lebih cepat mengalami menarche? Padahal Amerika dan Eropa dengan budaya junk food-nya, Asia (Indonesia contohnya) dengan budaya makanan yang dominan karbohidrat dan sayur mayur.

Jawaban yang lebih tepat untuk pertanyaan di atas adalah, “Karena exposure dan rangsangan seksual terhadap anak-anak di wilayah-wilayah tersebut lebih dahsyat!” Anak-anak kita hari ini lebih cepat baligh ternyata bukan semata-mata karena asupan nutrisi yang lebih baik, tetapi juga karena rangsangan seksual di sekitar mereka yang lebih besar, dengan atau tanpa kita sadari. Astaghfirullaah… Contoh sexual exposure: ikhtilath (bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan) di sekolah anak-anak kita hari ini. Belum lagi paparan televisi dan internet yang serba bebas dan tak terkendali, yang sudah menyelinap ke rumah-rumah keluarga Muslim, lewat ponsel yang bebas digenggam kapanpun, dimanapun, siapapun.

Mohon maaf, beberapa bagian tercatat berupa poin-poinnya saja.

  • Memperdengarkan musik Mozart katanya merangsang anak untuk matang daya analitiknya, khususnya pada pelajaran eksak, seperti: matematika. Padahal waktu saya ke berkesempatan berkunjung ke Wina, saya baru sadar bahwa orang-orang Wina sendiri tidak pernah “mengidolakan” Mozart. Itu semua cuma permainan bisnis. Bahkan Mozart saja tidak pandai matematika. Begini kurang lebih yang beliau sampaikan.
  • Kita perlu belajar mendidik anak untuk mencintai amal shaleh, bukan mencintai dirinya karena telah beramal shaleh, karena ini benih ‘ujub (berbangga diri), riya, dan sum’ah (suka pamer).
  • Kita juga perlu belajar mendidik anak siap diolok/direndahkan. Ada sharing pengalaman dari beliau ketika mengajarkan kepada putra-putrinya respon ketika disakiti teman. Ajarkan kepada anak konsep selfhelp dan survive yang benar. Pertama, ajarkan anak untuk bersabar pada pukulan yang pertama dengan mendoakan teman yang menzhaliminya. Kedua, jika masih disakiti, ajarkan anak untuk bersabar dengan menasehatinya. Ketiga, jika masih terus disakiti, sabar kali ini adalah kelemahan. Balas, tapi jangan melampaui batas.
  • Anak usia 6 – 7 tahun = masa tamyiz, mampu membedakan yang benar – salah, baik – buruk à ajarkan shalat yang benar, usia sebelum itu berupa dorongan atau ajakan saja, jika anak belum mau, jangan paksa, itu hak dia.
  • Anak usia 10 tahun = persiapan masa baligh dan mukallaf (terkena beban syari’at) –> sex education dalam Islam sebenarnya bagian integral dari pendidikan Islam itu sendiri, bukan berdiri sendiri –> contoh: mengajarkan shalat yang didahului mengajarkan thaharah (bersuci) kan pasti menyinggung soal ini (pembatal wudhu, sebab mandi janabah, dsb) –> tanamkan dalam diri anak bahwa pelanggaran terbesar pada fase mukallaf adalah meninggalkan shalat!

Konsep Islam dalam Memerintah dan Melarang

Saat melarang sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Luqman: 13 – 19. Setidaknya, beliau mencoba merangkumkan garisbesarnya menjadi 3 hal, yaitu:

  • Awali kalimat larangan dengan panggilang sayang (lembut atau kasar?) –> cermati ayatnya, “Yaa bunayya…” bukan “Yaa, Ibnii…” yang secara bahasa maknanya sama, tapi kadar kelembutannya berbeda.
  • Ikuti dengan serangkaian perintah –> catatan: jika perintahnya berurutan, pastikan anak sedang dalam kondisi nyaman dan perintah tersebut tidak untuk dikerjakaan saat itu juga (menghindari misunderstanding).
  • Ikuti larangan dengan penjelasan –> memberi perintah tanpa penjelasan dapat melahirkan kejumudan (statis, skeptis).

Saat memerintahkan sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Ali-Imran: 102 – 103. Garisbesarnya adalah:

  • Awali dengan panggilan yang baik dan memuliakan –> cermati ayatnya, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu…”
  • Ikuti dengan perintah/komando yang jelas
  • Iktui pula dengan larangan sebagai penegas

Rambu-rambu dalam Perintah dan Larangan

Beliau memaparkan 3 hal yang perlu diperhatikan dalam memerintah atau melarang, yaitu:

  • Jauhi fazhzhan (suara yang keras dan kasar)
  • Jauhi ghalizhal qalbi (hati yang kaku dan keras)
  • Jauhi suara keledai (suara yang “sengak” dan tidak enak didengar)

Beberapa catatan tambahan…

  • Jika terjadi pelanggaran adab, ambil pelajaran dari kisah Umar bin Abu Salamah tentang makan dengan tangan kanan.

Dari ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau makan, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, makanlah makanan yang terdekat denganmu.” ‘Umar bin Abu Salamah) berkata, “Maka sejak itu aku makan dengan cara itu (cara yang diajarkan oleh Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam).” [HR. Ahmad]

  • Jika terjadi pelanggaran halal-haram, ambil pelajaran dari kisah Hasan bin Ali saat memakan kurma sedekah.

Dari Rabi’ah bin Syaiban berkata, “Aku bertanya pada Hasan bin Ali radhiyallaahu ‘anhu, “Apa yang paling berkesan bagimu tentang diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Aku pernah masuk ke ruang sedekah bersama beliau, lalu aku mengambil sebutir kurma dan memasukkannya ke dalam mulutku. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera menegurku, “Buang kurma itu, sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi kita (ahlul bait).” [HR. Ahmad]

  • Jika bermaksud memberi teguran keras, ambil pelajaran dari kisah Ibnu ‘Umar tentang pemuda Quraisy yang sedang menjadikan burung sebagai sasaran anak panah. Teguran keras (bahkan hingga keluar peringatan tentang laknat) sebaiknya diberikan ketika anak menjelang remaja, itupun untuk perbuatan zhalim yang mengancam nyawa, baik manusia maupun binatang.

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia sedang lewat di depan pemuda-pemuda Quraisy yang melempari seekor burung, dan mereka memberikan kepada pemilik burung itu satu tombak untuk setiap lemparan yang salah. Ketika mereka melihat Ibnu ‘Umar datang, pemuda-pemuda itu berlarian, beliau berkata, “Siapa yang melakukan ini? Sungguh, Allah telah melaknat pelaku perbuatan ini! Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran (kekerasan).” [HR. Bukhari – Muslim]

Bekal Penting Membangun Diskusi dengan Anak

Beliau memaparkan ini sebagai jawaban dari salah seorang peserta, “Bagaimana agar orangtua dapat berdiskusi dengan anak-anak (terkait perintah dan larangan)?” Beliau menjelaskan,

  1. Tumbuhkan rasa percaya anak terhadap orangtua. Kuncinya ada pada QS. An-Nisaa’: 9. Qaulan sadiidaa… Qaulan sadiidaa adalah perkataan yang setidaknya mencakup 5 hal, yaitu:
  • Straight to the point
  • Tidak menutupi kebenaran
  • Tidak mengandung kebohongan
  • Mau mengakui kesalahan di depan anak
  • Mau meminta maaf kepada anak
  1. Tumbuhkan rasa hormat anak kepada orangtua –> rasa hormat itu ditumbuhkan, bukan diperintah, “Kamu harus hormat ya, Nak, sama Ayah Ibu..” Ustadz menambahkan, “Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).”

Bagaimana Pengaruh Lingkungan terhadap Pendidikan Anak?

Ini juga pertanyaan peserta. Ustadz membuka jawaban dengan pertanyaan, “Mengapa anak yang hidup di lingkungan yang sama dapat tumbuh dengan karakter dan pemahaman yang berbeda?” Lalu beliau menjelaskan bahwa hal ini setidaknya terjadi karena:

  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua (keluarga inti) terhadap anak-anaknya
  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua terhadap teman anak-anaknya à coba teman anak-anak diajak ke rumah, dibuat nyaman bermain di rumah bersama anak-anak, sambil menasehati dan meluruskan jika ada yang keliru
  • Bekali anak-anak dengan visi dan misi yang kuat sebelum melangkah keluar rumah –> gali lagi pelajaran di QS. Luqman, atau Adz-Dzariyat: 56, atau Ali-Imran: 110.

In syaa Allaah cukup, semoga bermanfaat. Sebaik-baik perkataan adalah kalamullah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah yang datang dari Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam.

Wallaahu a’lam, wastaghfirullaah wa atuubu ilaih, laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Diresume dengan segala keterbatasan, oleh:

@laninalathifa 🙂

*bismillaah, saatnya ngeblog lagi! tadaaa! 😀

Kartini Masa Kini dan Kodrat yang Pudar

kartini 2017

Euforia selebrasi 21 April masih berulang di tahun ini. Anak-anak sekolah kembali memecah perhatian para pengguna jalan dengan kilauan perhiasan sanggul, busana, dan kosmetik yang katanya “Ala Kartini”. Didukung dengan perangkat elektronik canggih abad ini, anak-anak perempuan penerus bangsa itu juga turut disibukkan dengan berfoto ria di setiap sudut jalan dan ruang, mengabadikan momen dan bedak yang tidak anti luntur. Ada yang berkelindan dalam pikiran. Seperti inikah style Kartini tempo dulu? Inikah yang dulu diperjuangkan Kartini lewat tulisannya? Lalu dimanakah sebenarnya relevansi antara meneladani spirit belajar Kartini dengan merias rupa anak-anak sekolah dengan make up super tebal?

Terpisah dari anak-anak perempuan dan para calon ibu di masa depan itu, tulisan-tulisan seputar Kartini masih membanjiri media sosial. Siapa dan bagaimana Kartini terus menuai pro-kontra. Ada yang menyoroti fakta kedekatan Kartini dengan Belanda dan Theosofi. Ada juga yang menelisik sisi spiritualitas Kartini. Namun kali ini, mari sejenak kita melepaskan diri dari pro-kontra Kartini, sang putri priyayi.

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902)

Salah satu isi surat Kartini di atas mungkin jarang dibicarakan. Padahal, isi surat tersebut justru merefleksikan apa yang selama ini menjadi mimpinya. Mengapa ia begitu bersemangat menyuarakan pendidikan bagi kaum perempuan. Ternyata karena Kartini menyadari peran domestik perempuan sebagai madrasah bagi buah hatinya, dan ia ingin kaumnya juga menyadari peran vital itu.

Kartini kala itu merasakan sendiri bagaimana perempuan tidak dipenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan. Mereka menghabiskan waktu dalam pingitan, bagaikan burung yang terpenjara dalam sangkar. Ia menyadari posisinya kala itu dan tak ingin terus terkungkung dalam kondisi demikian. Kartini mendobrak tradisi itu. Kartini melawan. Kartini berjuang. Ia dan kaumnya merasa berhak memperoleh pendidikan.

“…Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anakTangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Lantas bagaimanakah ibu dapat mendidik anak kalau ia sendiri tak berpendidikan?”

Hampir di setiap suratnya, Kartini mengangkat tema besar tentang pendidikan perempuan. Ia bertumpu pada persoalan bahwa perempuan adalah sekolah pertama bagi buah hatinya, generasinya. Namun yang mengherankan, hari ini apa yang didengungkan oleh khalayak tentang emansipasi, yang konon lahir dari buah pikir dan perjuangan Kartini, justru seakan menjauhkan perempuan dari semangat keibuan itu sendiri. Spirit back to home justru dipandang sebelah mata dan dianggap menyalahi konsep emansipasi wanita.

Emansipasi yang diterjemahkan publik hari ini adalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Perempuan berkarir sebebas mungkin, berpendidikan setinggi mungkin, memperoleh kesetaraan hak dengan lelaki di setiap lini, berlomba mengembangkan diri dan meraih prestasi, namun mereka terlena dengan itu semua hingga lupa bahwa Allah menitipkan rahim dalam jiwa dan tubuhnya. Rahim dalam jiwa berupa kelembutan dan kasih sayang, rahim dalam tubuh berupa “wadah” untuk tempat bertumbuh janin yang kelak menjadi generasi penerusnya. Kedua hal ini adalah fitrah mulia yang tak dimiliki kaum lelaki.

Perempuan mendadak lupa kodrat bahwa di belakangnya ada generasi yang menantinya untuk dididik dan dibesarkan sepenuh jiwa. Perempuan juga mendadak lupa betapa terhormatnya kedudukan istri yang taat kepada suaminya, melebihi kehormatan gelar duniawi yang berhasil diraihnya. Bukankah prestasi ini yang telah ditawarkan oleh Rasulullah kepada kaum wanitanya? Lalu mengapa para Muslimah seakan berlomba mencari kemuliaan lain di luar semua itu?

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan dan kehormatannya (dari perbuatan zina), dan ia taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR. Ahmad)

Perempuan masa kini barangkali sudah terlalu sibuk memoles fisik, berusaha eksis di mata publik, tapi jika ditanya kesiapan dan kesadarannya menjadi ibu pendidik, seolah mereka terdiam tak berkutik. Jadi benarkah emansipasi hari ini telah ditempatkan sesuai kodrat dan fungsinya? Jika belum, sudah saatnya kita tak lagi terjebak pada euforia selebrasi semata. Untuk apa mempercantik fisik “ala Kartini” jika pola pikir kita justru kontradiktif dengan apa yang selama ini Kartini perjuangkan.

Euforia hari Kartini semestinya tidak membuat kita menanggalkan fitrah keperempuanan yang kita miliki. Kartini tak pernah meminta dibebastugaskan dari kewajiban sebagai seorang ibu dan istri. Melalui surat-suratnya, Kartini seolah berpesan kepada perempuan untuk bangun dan sadar terhadap kodratnya sebagai “ratu” di dalam rumah yang terhormat; menjadi istri pendukung suami dan ibu pendidik generasi. Tentu untuk melakukan dua tugas besar ini, perempuan membutuhkan ilmu dan pendidikan.

Sekali lagi, terlepas dari pro-kontra soal kisah kepahlawanan Kartini, sebagai Muslimah semestinya kita tak ikut limbung dan hilang arah. Tak ada yang perlu dirayakan dari 21 April, tak ada yang istimewa dari tanggal itu. Islam telah lebih dulu mengajarkan kita spirit keilmuan dan pendidikan, sesuatu yang konon begitu diperjuangkan Kartini. Namun demikian, esensi perjuangan Kartini semestinya juga dimiliki para Muslimah untuk berkarya dan berprestasi dari dalam rumah. Sebagai umat yang diwarisi Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai pengaburan makna emansipasi justru mencederai fitrah kita sebagai perempuan, sebab dien kita telah menempatkan perempuan pada kedudukan yang mulia.

Salam,

Nina dan keresahannya. 🙂

Dicari: Pendidik Sholeh!

pendidik yang shaleh

Oleh: Ust. Budi Ashari, Lc

Kebesaran seorang pendidik bisa dilihat dari hasil didikannya. Dunia hingga hari ini belum bisa menduplikat pemimpin sesholeh dan sehebat Umar bin Abdul Aziz. Dia adalah hasil dari perjalanan panjang sebuah pendidikan.

Agar kita sadar bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah karya besar para pendidiknya, perlu diketahui beberapa hal:

  1. Ayah dari Umar yaitu Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang Gubernur Mesir yang bertugas lebih dari 20 tahun. Sementara Umar bin Abdul Aziz besar dan menuntut ilmu di Madinah, kota kelahirannya. Jadi keberadaan anak dan orangtua yang berjauhan jelas memerlukan pengasuhan para pendidik yang istimewa.
  2. Umar bin Abdul Aziz bukan anak yang sudah mudah diatur sejak awal. Ada beberapa kisah di masa kecilnya Umar yang menunjukkan bahwa gaya seorang anak pejabat begitu lekat pada dirinya. Seperti menghabiskan waktu untuk bersolek yang mengakibatkan terabaikannya kewajiban.

Juga kisah berikut ini,

Suatu saat Umar bin Abdul Aziz ditanya, “Bagaimana kisah pertama kali kamu menjadi baik?”

Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Suatu saat saya ingin memukul pembantu saya. Dia berkata kepada saya, ‘Hai Umar, ingatlah suatu malam yang paginya adalah hari kiamat’.”

Artinya, Umar bin Abdul Aziz yang memang cerdas dan sesungguhnya sangat bersemangat belajar sejak awal usianya, juga mempunyai celah-celah diri yang memerlukan seorang pendidik yang mampu mengubahnya menjadi ledakan potensi yang dahsyat.

Salah seorang pendidik Umar bin Abdul Aziz yang langsung diserahi oleh ayahnya adalah seseorang yang bernama: Sholeh bin Kaisan. Kita harus mengenal Sholeh bin Kaisan. Sebagai petunjuk bagi para pendidik atau pengasuh generasi yang diserahi amanah untuk mendidik anak orang lain. Beginilah pendidik yang berhasil melahirkan pemimpin fenomenal tiada duanya di bumi ini!

Sholeh bin Kaisan sebenarnya tadinya hanya seorang maula (mantan budak yang dibebaskan) Bani Ghifar. Tapi begitulah, ilmu dan iman mengangkat seseorang. Hingga para ahli sejarah dan ulama seperti adz-Dzahabi (dalam Siyar a’lam an Nubala’ dan Tadzkiroh al Huffadz ) menyebut Sholeh bin Kaisan sebagai berikut: Al Imam, Al Hafidz, Ats Tsiqoh, salah satu ulama besar hadits.

Sholeh mengumpulkan ilmu hadits, fikih dan muruah (kewibawaan menjaga kehormatan diri). Dia adalah salah seorang ulama besar Kota Madinah. Sebutan Imam, Hafidz, Tsiqoh adalah merupakan sebutan para ahli hadits yang menunjukkan tingkatan ilmu yang sangat tinggi dan amanah serta kesholehan yang tidak diragukan.

Dari semua sifat mulia inilah maka para pendidik hari ini bisa belajar. Bahwa seorang pendidik harus benar-benar menghiasi dirinya dengan berbagai sifat mulai tersebut. Setidaknya ada 3 sifat yang ada pada gelar-gelar bagi Sholeh bin Kaisan, yang harus ada pada sifat para pendidik hari ini:

a. Ilmu yang mumpuni
b. Kesholehan yang tidak diragukan
c. Muruah (sebuah sifat yang menjaga seseorang dari rusaknya citra, walau hal tersebut bukan dosa)

Sholeh bin Kaisan diberikan Allah usia yang panjang. Menurut sebagian riwayat, Sholeh meninggal dengan usia lebih dari 100 tahun. Meninggal setelah tahun 140 H. Dengan usia yang panjang itulah, dia bisa menyaksikan hasil didikannya yaitu Umar bin Abdul Aziz saat menjadi Khalifah hingga Umar meninggal tahun 101 H. Umar bin Abdul Aziz yang telah merasakan hasil didikan dalam dirinya yang telah ditempa oleh Sholeh bin Kaisan, maka Umar juga menitipkan anak-anaknya agar dididik juga oleh Sholeh bin Kaisan.

Dr. Ali Ash-Shallaby menjelaskan hal ini, “Seorang guru atau pendidik terhitung sebagai salah satu ruang sudut dalam proses pengajaran. Umar bin Abdul Aziz telah memilih pendidik bagi anak-anaknya dari orang terdekatnya, sangat dikenalnya dan sangat dipercayainya.” (Lihat dalam bukunya, “Umar ibn Abdil Aziz”)

Orang itu adalah Sholeh bin Kaisan. Penjelasan ini selain menjadi pelajaran bagi para pendidik, juga menjadi wejangan bagi para orangtua yang mau menitipkan anak-anaknya dalam pendidikan. Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang ayah menitipkan pendidikan dan pengasuhan anaknya kepada orang yang dikenalnya betul dari semua sisi juga sangat dipercayainya.

Para pendidik – arsyadakumullah (semoga Allah membimbing antum semua) -, menjadi guru atau pendidik generasi bukanlah sekadar sebuah profesi yang dengannya seseorang mendapatkan uang. Tetapi ini adalah amal mulia yang membanggakan di sisi Allah.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik dengan keilmuwan yang tak diragukan.
Jangan berhenti belajar ketika telah menjadi guru.
Karena inilah masalah yang sering dijumpai dari para guru.
Peningkatan ilmu hampir tidak terlihat saat telah menjadi seorang guru.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik dengan kesholehan diri yang tidak meragukan lagi.
Karena anak didik kita tidak hanya mendengarkan ilmu yang disampaikan.
Tetapi juga melihat gerak-gerik para guru.
Kesholehan guru adalah sesuatu yang tidak terajarkan tetapi tertanamkan pada anak. Inilah bahayanya para pendidik dengan ketidakjelasan moral.
Bagaimana jadinya generasi ini, tanpa pendidik yang sholeh.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik yang menghiasi dirinya dengan kewibawaan seorang ahli ilmu.
Dia menjaga dirinya bukan saja dari dosa.
Tetapi juga dari berbagai hal yang akan mencederai kewibawaan dirinya sebagai ahli ilmu.
Bisa jadi bukan dosa, tetapi karena perbuatan itu maka jatuhlah harga diri seorang guru.
Maka apalah jadinya anak-anak, jika para pendidik telah jatuh harga dirinya di hadapan orangtua murid dan anak-anak.

Dicari pendidik seperti Sholeh bin Kaisan!
Untuk melahirkan anak didik seperti Umar bin Abdul Aziz!

Dialog Iman: Pilih Mana, Nak?

faktor pendidikan anak

Nak, nak, kalo disuruh milih nih…

Satu. Sekolah yang suuuper baguuus. gedungnya bertingkat, ada pake lift, ada AC-nya, ada kolam renangnya, ada banyak fasilitas bermainnya, ada ayunan, ada rumah pasir yang seru itu. Tapi… Disana kalian ga diajarin Al-Qur’an, ga diajarin nutup aurat, ga diajarin shalat, ga ada teman yang suka nasehatin.

Lalu dua,

Sekolah yang biasa aja. Gedungnya sederhana, ada kipas angin juga alhamdulillah, dindingnya berlapis tembok juga alhamdulillah, lantainya berkeramik juga alhamdulillah, kalo hujan ada bocor-bocor dikit, kalo panas ada sumuk-sumuk dikit, ga ada mainan seru. Tapi… Disana kalian diajarin Al-Qur’an, diajarin shalat, diajarin nutup aurat, temannya baek-baek, suka nasehatin pula.

Kalian pilih yang mana nak?

Tanpa dikomando, anak-anak serempak menjawab, “Duaaaaa!”

Dengan ekspresi super polosnya, cuma satu anak di kelas Awwal satu yang jawab, “Satu…” karena katanya pengen nyobain kolam renangnya… Hihihi, maa syaa Allaah. Berani beda yang patut diapresiasi. 🙂

Yakin nih? Emang apa enaknya tempat kayak gitu?

Dan tampak dengan seyakin-yakinnya mereka menjawab lagi, “Iyaaa, soalnya kan kita bisa belajar Al-Qur’an, ga buka-buka aurat, punya teman-teman baik juga…”

Maa syaa Allaah, inilah fitrah anak-anak, dimana setiap anak di muka bumi ini, tanpa kecuali, sebenarnya diciptakan dengan desain yang sama: mudah menerima kebenaran. Justru yang menjadi pengecualian adalah orang tuanya (termasuk guru-gurunya). Mau diapakan, dikemanakan, dan dibagaimanakan fitrah-fitrah bersih nan jujur itu…

Doa Sang Guru

doa guru

Muhammad bin Ismail Al-Bukhari mengisahkan tentang masa kecilnya,

Di masa aku kecil, aku sering datang ke majelis para ahli fikih (fuqaha). Ketika datang kesana aku merasa malu untuk mengucapkan salam kepada mereka.

Suatu ketika, muaddib (guru) berkata kepadaku, “Berapa (pelajaran) yang kamu tulis?” “Aku menulis dua”, jawabku (maksudnya beliau menulis dua hadits, tapi tidak lengkap dalam menjawab pertanyaan muaddib-nya sehingga mengundang tawa para hadirin di majelis ilmu tersebut).

Maka salah satu syaikh di majelis tersebut menasehati mereka, “Jangan kalian tertawakan anak ini, bisa jadi suatu hari nanti kalian akan ditertawakan anak ini.”


Dengarkanlah wahai orangtua dan para guru perkataan emas sang syaikh! Beliau menanamkan kepercayaan diri kepada anak yang baru saja ditertawakan di majelis ilmu.

Syaikh tersebut –semoga Allah merahmati beliau- memberi pelajaran yang tidak pernah terlupakan oleh murid-muridnya tentang makna menghormati dan tidak merendahkan orang lain. Majelis ilmu adalah majelis terhormat, bukan majelis bullying. Dengan taufik dari Allah, motivasi sang guru meneguhkan langkah Imam Bukhari menjadi ahli ilmu terkemuka. Sebagai bukti tak terbantahkan, kitab Shahih Bukhari adalah adalah kitab yang paling shahih setelah Kitabullah. Allahu Akbar!

Maka simpanlah doa-doa terbaikmu dan lantunkan di saat yang tepat kepada murid-muridmu, wahai bapak dan ibu guru!

(Dikutip dari facebook Kuttab Al-Fatih Banda Aceh, tulisan Ust. Baidhawi Razi)