Keluarga Bercahaya

keluarga bercahaya

Salah satu ciri khas Al-Qur’an adalah pada penamaan suratnya. Selalu ada kaitan antara nama surat dengan salah satu ayat di dalam surat tersebut. Contohnya, surat Al-Baqarah yang di dalamnya terdapat kisah tentang sapi betina. Atau Ali Imran, yang di dalamnya memuat kisah indah keluarga Imran yang dimuliakan. Atau juga surat An-Naml, yang di dalamnya terabadikan kisah unik antara semut dan nabi Sulaiman.

Lalu tentang keluarga, ada surat yang begitu padat berisikan tema-tema keluarga, dari awal hingga akhirnya. Ialah surah An-Nuur. Maa syaa Allaah, namanya saja menyiratkan harapan bahwa keluarga Muslim harus bercahaya. Coba baca kesinambungan ayat dan hikmah dari surat ini, khususnya pada ayat 35 – 37.

Pada ayat 35, Allah menerangkan mukjizat informatif tentang cahaya, bahwa Allah-lah sang pemberi cahaya di langit dan bumi. Lalu ayat berikutnya, secara langsung Allah menyambung ayat tersebut dengan redaksi yang kontennya “how to”, bagaimana cara mendapatkan “cahaya” itu. Jawabannya, dengan banyak bertasbih (berdzikir) kepada Allah, khususnya di dalam masjid-masjid, baik di waktu pagi maupun petang. Masjid dan ibadah. Ternyata ini kunci rumah-rumah yang bercahaya itu.

Kesinambungan ayatnya ternyata tidak berhenti sampai disitu. Pada ayat 37, Allah pun masih melengkapi redaksi ayat dengan konten yang sifatnya, “what and why”. Apa yang membuat sebuah rumah (keluarga) kehilangan “cahaya”nya? Jawabannya, bisnis dan perniagaan dunia. Mengapa? Kok bisa? Jawaban lengkapnya, laki-laki yang dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari ibadah kepada Allah…

Jadi ternyata, penyebab hilangnya “cahaya” di dalam rumah-rumah kita adalah karena pekerjaan, bisnis, dan mata pencaharian yang seringkali menggeser prioritas ibadah kita kepada Allah. Yang menarik, ayat ini secara tegas menyandingkan kata “lelaki” sebagai subyeknya. Mengapa? Karena laki-lakilah yang diamanahi tugas sebagai qowwam, yang menafkahi, yang memang kesehariannya pasti beririsan dengan dunia bisnis dan mata pencaharian.

Maa syaa Allaah. Hanya kepada Allaah kita memohon pertolongan. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

*Tulisan ini disadur dari buku “Inspirasi Rumah Cahaya, tulisan Ust. Budi Ashari, Lc (hafizhahullaah)

*Disclaimer: Buku ini daging banget, maa syaa Allaah. Ga bosan merepetisi. Saya hanya mencoba menarasikannya kembali. Semoga bermanfaat. 😊

Menjadi Lelaki

being man

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” [QS. An-Nisaa’: 34]

*note: tulisan ini repost dari blog jadul. rencananya sih mau angkut2 tulisan dari fesbuk dan blog jadul kesini. semoga rencana yang tak sekadar wacana yaaa, hihihi :p

Mengapa Allah memilih lelaki sebagai qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga?

As simply, jawaban atas pertanyaan itu hanya ada 2, yaitu:

  1.  Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain
  2. Karena laki-laki telah menafkahkan sebagian harta mereka

Alasan pertama. Kita menyadari bahwa perempuan memiliki kelebihan sebagaimana laki-laki, tetapi Allah menetapkan kelebihan laki-laki atas perempuan adalah dalam rangka menunjang kesuksesan kepemimpinan rumah tangga. Di sisi lain, kelebihan perempuan, seperti kelembutan, ketenangan, dan rasa kasih sayang diciptakan-Nya dalam rangka menunjang kesuksesannya sebagai pendidik dan teman anak-anak bertumbuh dan berkembang.

Jadi, jika kita mengetahui bahwa perempuan lebih banyak berbuat berdasarkan perasaannya, tentu saja itu bukan sebagai bentuk kelemahan atau kekurangan dirinya, melainkan kelebihan yang dibutuhkan untuk memelihara sifat-sifat alami pendidikan anak. Oleh sebab itu, porsi kelebihan ini kurang mendukung jika diposisikan sebagai pemegang tampuk kepemimpinan rumah tangga.

Alasan kedua. Laki-laki telah menafkahkan sebagian harta mereka (untuk keluarganya). Oleh sebab itu, usaha lelaki untuk menjadi qawwam seutuhnya tidak lain adalah upaya untuk menonjolkan dan menguatkan kelebihannya dalam memimpin, termasuk memenuhi kebutuhan belanja keluarga. Usaha untuk menjadi seutuhnya lelaki adalah usaha untuk menguatkan keistimewaan fisik dan psikis, serta optimalisasi diri dalam berpenghasilan.


Menjadi lelaki, karakter adalah penting dalam hidupnya, sebab nantinya karakter itulah yang akan sangat menentukan seberapa baik pilihan-pilihan yang diambil dalam sejarah hidupnya. Maka, membentuk karakter adalah hal penting dalam kehidupan seorang laki-laki. Kelak, menjadi laki-laki berarti menjadi qawwam bagi perempuannya, bagi anak-anaknya, bagi keluarganya, dan bagi generasi yang diwariskannya.

Menjadi lelaki, karakter dan kesadaran diri adalah variabel yang akan menentukannya mengambil keputusan-keputusan penting, yang bahkan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Maka menjadi laki-laki, harus mampu menentukan karakter terbaiknya, jauh sebelum ia memperbaiki atau bahkan mewariskan karakter bagi orang lain.

Menjadi lelaki, bisa saja semata-mata mengandalkan penampilan, popularitas, status sosial, atau sederet parameter lain. Tapi tidakkah kita ingat bahwa parameter yang baru saja kita sebut itu sangat rentan dihabiskan oleh waktu? Penampilan bisa menipu, fisik bisa segera melemah, popularitas bisa sewaktu-waktu kandas, dan status sosial pun sangatlah nisbi. Semua hal berubah oleh waktu. Maka menjadi laki-laki, jika karakternya lemah dan abu-abu, semua parameter itu akan tampak semakin semu.

Menjadi lelaki adalah menjadi laki-laki bagi perempuannya. Menjadi lelaki adalah menjadi qawwam bagi perempuannya. Menjadi lelaki adalah menonjolkan keunggulan fisik dan psikisnya demi ketenteraman perempuan dan anak-anaknya. Menjadi lelaki adalah perjuangan menempa kepribadian diri.

Selamat menjadi lelaki. Semoga tidak lelah memperjuangkan kehormatan menjadi sebenar-benar qawwam!

Reff: “Menjadi Laki-Laki” (Eko Novianto Nugroho; Penerbit: Gema Insani Press)

Menyatukan Frekuensi

munir 2

Pernah suatu saat saya terbayang, sebenarnya apa sih yang membuat Suciwati kala itu begitu mantap menerima pinangan Munir; lelaki yang “sukses” menjadi “buronan” aparat pemerintah karena keberanian level singa dalam mengungkap borok dalam kasus penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Tapi seketika rasa penarasan saya terjawab karena teringat sebuah kalimat, bahwa seorang lelaki bermental singa, tentu layak mendapatkan perempuan yang bermental singa pula. Saya rasa, keduanya memang klop. Laiknya pedang bertemu baju besinya yang saling menjaga, menguatkan, dan mendukung. Kisah Munir dan orang-orang bermental pejuang yang semisal dengannya, memang selalu menarik diungkap dari sisi yang berbeda. Sebagai wanita, tentu kita perlu tertarik untuk menelisik kisah sepak terjang sang istri. Apa yang membuatnya seberani itu bersuamikan lelaki yang namanya –jika boleh dikatakan–, “di-blacklist pemerintah”, karena dianggap membahayakan kaum elite yang haus harta, tahta, dan tentu saja… darah.

“Pahlawan adalah Martir Kebebasan.”

Saya teringat kata-kata Suciwati tentang sang suami, yang diungkapkannya pada bulan April dua tahun silam saat acara peresmian jalan Munir di kawasan Den Haag, Belanda. Ia berujar bahwa suaminya pernah menuturkan, seorang yang pantas disebut pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara.

munir 1

Pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara. (Munir Umar Thalib)

Wanita yang sempat menyayangkan mengapa nama suaminya justru “diabadikan” di negeri lain, bukan di tanah kelahiran suaminya sendiri inipun menambahkan, “Nilai-nilai yang diyakini dan hal-hal baik yang dilakukan oleh seorang pejuang kebenaran tak perlu dikenang (dengan penghargaan, –ed).” Karena baginya, kebenaran dan keadilan adalah sesuatu yang pantas diperjuangkan siapapun di muka bumi ini, entah dihargai atau tidak.

Peran Ganda Seorang Istri

Sepak terjangnya mengungkap dalang pembunuh sang suami yang hingga saat ini belum juga terungkap tuntas, tak putus dilakukannya. Di samping itu, ia adalah seorang single fighter yang berperan ganda; mendidik dan membesarkan anak-anak, serta menjadi ‘benteng pertama’ dalam mem-back up perjuangan suaminya. Tidak itu saja, bahkan (menurut sebuah sumber yang pernah saya baca) Suciwati bersama rekan-rekannya mendirikan taman kanak-kanak di Malang. Luar biasa, bukan? Tentu ketangguhan semacam ini patut diapresiasi bahkan ditiru wanita masa kini. Betapa wanita tidak selalu identik dengan sifat lemah dan tak berdaya. Kelembutan naluri tidak berarti berbanding lurus dengan kelemahan mental.

Fitrah wanita sebagai pendidik generasi yang menuntut kita memahami dunia anak-anak, bahkan tak jarang membuat kita perlu bertingkah seperti anak-anak, tak berarti membuat jiwa dan karakter kita kekanak-kanakan juga, bukan?

Menikah; Seni Menyatukan Frekuensi

Suciwati tidak pernah berjuang seorang diri, sebab istri-istri pejuang telah diwakilkan oleh banyak nama. Suciwati adalah salah satu potret wanita tangguh. Bahkan jauh sebelum Munir berjuang bersama istrinya, memperjuangkan sesuatu yang telah menjadi nafas dalam geraknya, Nabi Ibrahim juga telah berjuang bersama istrinya, Hajar. Memperjuangkan sebuah keyakinan, “Jika yang kita kerjakan ini adalah perintah Allah, niscaya kita takkan pernah disia-siakan oleh-Nya.”

Atau sebagaimana kebenaran abadi yang diperjuangkan Rasulullah bersama Khadijah, di masa-masa kritis awal mereka berdua berjuang dan bergerak. Atau sebagaimana istri Najmuddin Ayyub yang mencari suami yang sefrekuensi visi dengannya, hingga akhirnya –bi idznillah, bermula dari kesamaan visi itulah lahir Shalahuddin Ayyub, Al-Fatihnya Palestina. Lalu ada juga istri Buya Hamka yang pernah mengingatkan suaminya untuk “menjauhi kursi penguasa” karena baginya amanah sebagai seorang penjaga masjid lebih utama di sisi Allah.

Menyinggung Suciwati, saya pun teringat istri Siyono (Allahu yarham), Mufida. Segepok “uang tutup mulut” dari aparat pemerintah atas kasus pembunuhan suaminya; imam masjid yang ditangkap tanpa surat izin penangkapan lalu pulang dalam kondisi nyawa telah meregang, ditolaknya mentah-mentah. Sebuah perjuangan mempertahankan izzah dan keyakinan yang patut diteladani.

Barangkali apa yang menjadi inspirasi dan nafas perjuangan Munir dan istrinya tidak sama dengan beberapa contoh figur teladan di atas. Tapi skenario hidup yang mereka alami serupa. Kehilangan seorang suami atau bahkan istri pejuang. Kehilangan nahkoda atau awak perjuangan. Kehilangan belahan jiwa yang dicintai, bahkan lebih dari sekadar belahan jiwa. Sebab nafas perjuangan mereka telah mengalir sehati sejiwa. Skenario semacam itu tentu berpotensi membuat oleng bahtera yang tengah berlayar di tengah samudera yang berombak ganas. Namun sejak awal, mereka telah memilih mengikrarkan akad mitsaqan ghalizha di atas sebuah kesamaan frekuensi, keselarasan visi dan misi. Kesamaan frekuensi inilah yang menjadi benih awal timbulnya sakinah, ketenangan dalam rumah tangga. In sya Allah.

JCPP

Kesamaan Tujuan adalah Titik Awal Keberangkatan

Bermodalkan rasa “klik” yang tumbuh dari kesibukan yang sama di dunia advokasi buruh, meski ia sendiripun telah menyadari konsekuensi jika hidup bersama Munir, Suciwati menerima pinangan aktivis HAM itu. Katanya, “Karena apa yang kami perjuangkan sama…”

Kesamaan tujuan dan ruang gerak inilah yang memang lebih mudah menumbuhkan ketenangan jiwa, karena kita paham apa yang partner hidup kita kerjakan, bagaimana lingkungan dan rekan-rekan kerjanya, serta yang lebih penting adalah memahami bagaimana risiko dan konsekuensi menjalani hidup bersamanya. Saya tidak mengatakan bahwa guru tidak cocok dengan dokter, atau relawan kemanusiaan tidak klop dengan pegawai kantoran karena atmosfer dan konsekuensi ruang gerak yang berbeda. Tapi yang ingin saya garisbawahi adalah kesetaraan ghoyyah (tujuan) dalam mengarungi bahtera pernikahan, agar pernikahan itu tak sekadar digadang-gadang keindahannya di dunia, namun abadi hingga surga.

Maka jika boleh merumuskan teori, jangan cari pasangan yang pasang gelarnya cuma sampai S2 (sehidup semati), ini jelas sangat kurang. Atau cuma S3 (sehidup semati seperjuangan), ini juga masih kurang. Tapi carilah yang S4 (sehidup semati sesurga seperjuangan), nah barangkali ini barulah lengkap. 🙂

Yaa Rabb, anugerahkanlah kepada kami keshiddiqan dalam ghayyah, keikhlasan dalam melangkah, serta kesabaran dalam memperjuangkan Jannah. Aamiin.

Best regards,

Nina dan remah-remah pikirannya 😉

Terimakasih, Sakit Hati!

hati 5

Alkisah, ada seorang lelaki yang begitu memendam harap kepada sosok perempuan idamannya. Disebutnya nama perempuan itu berulang kali dalam doa-doanya, berharap nama mereka dipersatukan dalam mahligai pernikahan.

Tekadnya sudah membaja, yaitu hendak mempersuntingnya. Dipersiapkannya segala hal yang berguna dalam melancarkan itikad baiknya. Satu yang tak pernah luput; persiapan hati. Entah ini sudah usahanya yang keberapa dalam mencoba menjalin hubungan, meski berkali-kali pula ujungnya kepahitan dan sakit hati.

“Logika lelaki dibanding perasaannya adalah 9:1, namun seketika dapat berbalik menjadi 1:9 hanya gara-gara makhluk berjenis kelamin perempuan.”

Lelaki tuna asmara itu sadar betul dengan kelemahannya. Ia terlalu ambisius mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Termasuk dalam mendapatkan gadis pujaannya. Ia pun tersadar untuk memperbaiki diri. Maka ta’aruf syar’i pun menjadi pilihannya kini.

“Semoga segala yang berpangkal baik-baik akan menemukan ujung yang baik pula.” Batinnya sendu.

Lelaki itu semakin memantapkan dirinya meminang si gadis shaleha yang telah diincarnya selama setahun belakangan. Ia adalah teman satu kelas semasa SMA dulu. Gadis itu telah berhijrah. Di situlah titik kekaguman lelaki itu bermula. Padahal dulunya, semasa SMA tidak pernah terjadi chemistry apapun.

Genap sudah segala amunisi untuk mempersunting si gadis. Dibenahinya kerah kemeja abu-abu yang dikenakannya hari ini.

“Bismillah, insyaAllah pekan depan saya akan menemuinya. Mempersuntingnya. Semoga ini pencarian terakhirku. Aku pasrah, ya Allah…”

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Belum genap sepekan rencana manisnya itu, keesokan harinya ia justru lebih dulu mendapatkan amplop berwarna merah jambu yang mendarat persis di depan pintu rumahnya. Tertulis jelas di sampul depan undangan pernikahan itu.

“Dafinah dan Yusuf”

Demi apa. Tercekat luar biasalah perasaan lelaki malang itu. Tubuhnya hampir-hampir kejang seperti habis disambar petir. Lagi dan lagi. Pil pahit lagi dan lagi. Langit yang sedari tadi cerah pun mendadak berwarna kelabu, di sudut hatinya.

“Haruskah sakit hati lagi, ya Allah?

Tiga tahun yang lalu. Begitu keras usaha lelaki itu melupakan Dafinah, gadis terakhir yang membuat tidurnya tak pernah nyenyak. Namun semenjak kejadian itu, ia menyadari bahwa itulah skenario terbaik dari Allah. Disadarinya bahwa kesiapan dirinya belumlah genap, meski rasa cintanya berulang kali meyakinkannya demikian.

“Kelak, rumah tangga tak sekedar dijalani dengan cinta, namun juga akal sehat. Mungkin Allah memang melihatku belum benar-benar siap…”

Batinnya menghibur diri.

Tapi benar juga. Semenjak kejadian pahit tiga tahun silam, lelaki itu justru semakin bersemangat menata hidup. Karirnya melejit sebagai wirausahawan muda. MasyaAllah.

“Allah knows what’s best for us. Allah brings us the perfect giving on the perfect timing. Terimakasih, Dafinah. Jika saja amplop merah muda tiga tahun yang lalu itu tidak pernah mendarat di depan rumahku, mungkin saja aku tidak mendapatkan apa yang berhasil kuraih saat ini. Sekali lagi terimakasih, Dafinah. Terimakasih, sakit hati…”

Ya, lelaki itu menyadari bahwa Allah tidak pernah iseng dalam mengatur skenario hidup kita, meski mungkin seringkali tampak sangat tidak mengenakkan, bahkan menyakitkan hati. Allah benar-benar tidak pernah main-main dengan hidup kita. Justru bukankah seringnya kita sendirilah yang main-main dengan-Nya?

Seringkali, kita justru merasa perlu berterimakasih dengan segala pil pahit yang telah dengan paksa kita telan. Sebab dengan pil-pil itu, daya tahan jiwa kita menjadi lebih kuat dan mampu memperbaiki cara pandang kita melihat masa lalu.

Semoga kita dianugerahi hati yang lembut dan lapang, sehingga selalu berprasangka baik dengan segala bentuk ketetapan Allah.

Terimakasih, sakit hati…

Note:

*Tulisan ini fiksi yang diadaptasi dari kisah nyata seorang lelaki yang meraih kesuksesan setelah gagal menikahi gadis pujaannya. Selamat mengambil ibrah. 🙂

*Suer, ini ga lagi curhat! :p

Lamar!

87618-dream-wedding-wedding-ring

Di antara hikmah mengapa khitbah sebaiknya dirahasiakan adalah untuk menjaga kehormatan dan perasaan pihak perempuan beserta keluarga besarnya, jikalau ternyata Allaah berkehendak lain atas rencana sakral itu.

Jadi plis, tolong, perhatikan adab ini, terlebih jika kita termasuk yang konon kabarnya “sudah ngaji”, biar kita tidak menjadi sebab orang lain berbuat sebagaimana kita, padahal belum tentu yang kita perbuat itu tepat.

Sungguh, menikah itu ujian kesabaran. Dulu dinanti-nanti, bahkan mungkin sampai bebanjiran air mata, begitu sudah hampir deal, masih tetap diminta bersabar menanti pula. Sabar dalam menahan diri untuk tidak mengobral kabar bahagia sampai betul datangnya hari H, plus (yang terpenting) menahan diri dari chit-chat dan interaksi tidak penting dengan si dia, tanpa melalui perantara atau walinya.

Dan lagi plis, tolong juga, karena khitbah dan prosesi menuju hari H itu sebaiknya dirahasiakan, maka baiknya kita pun tidak memberondong teman kita yang mau jadi manten itu dengan investigasi, “Hayooo, lagi proses yaaa…”

Apalagi lagu lama nih, “Hayooo, kapan nikaaah?” Eleuh, ya mana kita tau. Soal itu biar jadi urusan dan kewenangan Allaah, kita mah iyain aja kalau memang sudah waktunya. Tunggu aja undangan dan kabar bahagianya. Kan gitu. Yegak. *mukebijak*

Yang jelas, investigasi model-model gini kayaknya ga perlu dijawab lah ya, palagi ditanggepin serius. Cukup berikan senyuman kita yang paling lebar. Gini nih contohnya :)))))))

Akhir kata, tulisan ini kunasehatkan pertama kali pada diriku sendiri. Mudah-mudahan tidak lupa. Mudah-mudahan bermanfaat.

Bagi teman-teman yang sedang berproses, semoga Allaah mudahkan dan berkahi langkahnya. Bagi yang hingga hari ini hilal belum juga tampak, tidak perlu terburu-buru menggenapkan tanggal, sebab pernikahan tidak sama dengan sidang itsbat.

Doakan saja, mudah-mudahan Allaah meridhai masa lajangnya, dan jika segera menikah adalah jalan terbaik baginya, semoga Allaah menyegerakan kebaikan itu untuknya.

Best regards,

nina 🙂

*Remah-remah pikiran ini ditulis pada malam Senin 29 Ramadhan 1437 H

**Stop bertanya kapan saya merit! *awr

Merinai

“Jangan lelah berbekal, berbenah, dan mempersiapkan diri. Semoga Allaah mempertemukan kita dengan ketetapan-Nya yang terbaik…”

Idealisme saya selama ini tentang menikah–mesra–punya anak–bahagia sepertinya memang ada yang mulai perlu dibenahi. Yah, namanya juga sudah pukul 23. Urusan yang “itu tuh” terasa makin naik daun prioritas. Hehe. Ngebet? Ga juga sih. Biasa aja. Saya pikir, ya udahlah, jodoh ga bakal kemana. Kalo ga ke hatimu ya ke hati dia. Wkwkwk.

Lagi pula buat apa sih terus menerus menggalaukan sesuatu yang sebenarnya sudah ditakar pasti. Kalau bukan saat ini, ya lain kali, di waktu yang lebih tepat. Kalau bukan dengan dia, ya berarti dengan dia yang lain, yang lebih baik. Kalau bukan disini, ya in syaa Allaah di jannah-Nya. Begitu, kan?

Menikah, Kemudian Mesra?

Ya kali. Apalagi bulan-bulan permulaan membangun rumah tangga. Dunia terasa milik berdua, yang lain cuma indekos–ibu kosnya galak–terus pindah kos. Nah kan, kurang apa coba.

Terus terang, saya punya hobi bikin puisi-puisi pendek (ala saya, bukan ala Pak Sapardi, wkwkwk), yang ceritanya sih buat future husband. halah Yah, semacam gombal script gitu deh. Hobi yang apa banget ini bisa dibilang adalah efek dari postingan-postingan rayuan gombal suami istri di media sosial.

Apes! The power of social media strikes me.

Belum lagi bacaan-bacaan mendayu yang diksinya aduhai. Ternyata itu semua berpengaruh sekali terhadap hati dan perasaan saya. #tsah Makanya kalo masih jomblo, pandai-pandailah memilih dan meramu kadar bacaan. Bersiaplah menggalau sepanjang hari jika kita belum bisa move on dari bacaan mendayu-dayu semacam itu. Hehehe. 😀

Belajar dari situ, saya pun menarik kesimpulan, bahwa: memamerkan kemesraan hanya akan menyulut api cemburu dan kegalauan bagi orang lain. Saya tulis “memamerkan”, maaf kalo rada nyelekit.

No offense. Ini yang saya rasakan ya. Entah bagaimana bagi orang lain. Hanya saja, menjaga perasaan manusia ternyata memang lebih rumit daripada menjaga perasaan kucing yang sedang jingkrak-jingkrak kelaparan. Mungkin kita berasumsi bahwa dengan mem-posting tulisan-tulisan romantis, kemudian kita tag nama suami/istri kita, itu bisa menjadi motivasi menikah bagi orang lain, atau motivasi buat pasangan lain biar berlaku mesra sebagaimana yang dia lakukan. “Ini loh romantis, kunci keharmonisan rumah tangga.”

Oh, come on, rumah tangga mana sih yang tidak ingin harmonis.

Hanya saja, mungkin ada yang tidak pernah tertebak dalam benak kita. Bagaimana jika orang-orang yang sedang diuji rumah tangganya, ternyata adalah orang yang diam-diam menekuri tulisan-tulisan kita di dinding maya. Segala tagging status romantis kita, foto-foto mesra kita, kebersamaan kita dengan pasangan yang tidak henti difestivalkan, dalam waktu yang sama justru menjadi derai air mata bagi orang lain, entah siapa dia, di seberang sana. Oh, betapa dzalimnya kita…

Bukan tidak boleh romantis. Bukan tidak boleh memotivasi orang lain. Loh, bahkan itu perlu. Sangat! Namun semua hal di dunia ini memiliki kadar. Tidak semua rumah tangga dianugerahi rumah teduh semacam itu. Tidak semua pasangan memiliki kadar dan ekspresi romantis yang sama dengan kita. Tidak semua pasangan nyaman dengan kemesraan yang dibuat-buat.

Biarlah orang yang paling mengenal bagaimana romantis, mesra, dan perhatiannya kita kepada pasangan adalah pasangan kita sendiri. Biarlah setiap pasangan menemukan standar nilai kemesraan rumah tangga mereka sendiri, tanpa perlu menggunakan kacamata orang lain. Sesuatu yang memang bernilai, dengan sendirinya (nilai) sesuatu tersebut dapat dilihat orang lain, tanpa perlu difestivalkan terlebih dulu.

Boleh jadi, ada wanita yang hanya dengan ditemani ke toko buku, ia merasa bahwa suaminya adalah pria romantis stadium tiga. Atau boleh jadi juga, ada lelaki yang hanya dengan disiapkan air hangat untuk mandi, ia merasa memiliki istri yang mesranya tiada duanya. Tidak masalah kan, selama pasangannya nyaman? Meski pada dasarnya, sifat dasar lelaki dan wanita itu sama. Wanita ingin dimengerti, lelaki ingin dihargai.

Saya penyuka kata-kata indah, terus terang. Saya penggemar tulisan dengan diksi yang menarik, memang. Tapi saya sadari, boleh jadi kelak suami saya adalah lelaki yang tidak terlalu peduli dengan itu. Contohnya sekarang, saya paling gregetan dengan bahasa SMS yang lebih mirip bahasa isyarat.

Saya: “Assalamu’alaykum, Ukhti. Hari ini in syaa Allaah ada kajian bahasa Arab seperti biasa di tempat biasa. Bisa dateng ga?”

Fulanah: “Y.”

Atau,

Saya: “Assalamu’alaykum, Mbak. Saya nina. Maaf mengganggu, ada waktu sebentar untuk ngobrol?”

Fulanah: “Wss, mf sy lg klwr, bs ngbrl nnt y hbs isya. Tks.”

Hih, patah hati banget ga sih bacanya? 😥 (Haha, maaf rada curhat.)

Tapi siapa yang bisa menebak, kalau kelak saya justru berjodoh dengan suami yang hobinya ngetik pake bahasa isyarat semacam itu. Nah loh. Hehe. #mempersiapkandiri 😀

Menikah, Punya Anak, Kemudian Bahagia?

Percayalah, serepot apapun mengurus anak, rumah tangga manapun selalu mengidamkan kerepotan semacam ini.

Tidak sekali dua kali saya mengenal pasangan yang belum dikaruniai buah hati setelah bertahun-tahun menikah. Sudah jangan ditanya bagaimana perasaan mereka, sekalipun raut pilu tidak menyemburat.

Lagi-lagi media sosial menjadi ajang festival kebahagiaan. Saya tidak ingin melanjutkan bagian ini. Sudah tertebak, kan?

Hobi lain saya di masa-masa jomblo seperti ini adalah melahap buku-buku parenting. Qaddarallaah, di satu sisi, saya pun saat ini memang sedang butuh asupan otak semacam itu sebagai bekal mengajar. Tapi lebih dari itu, sebenarnya saya sendiri sedang membekali rumah tangga saya kelak. Terlepas nantinya saya dianugerahi keturunan atau tidak, semoga Allaah menilainya sebagai bagian dari ikhtiar atas doa-doa saya selama ini. Rabbi hablii minash shaalihiin…

Kelak di dunia ini, dipertemukan jodoh atau tidak, dianugerahi keturunan atau tidak, semuanya ketetapan Allaah. Mutlak, kita harus berkeyakinan bahwa ketetapan Allaah itu pasti baik bagi kita, meski tampaknya berat kita jalani. Jika kita menerimanya dengan ridha serta menambalnya dengan perbaikan diri, sederas apapun air mata yang mengiringinya, in syaa Allaah, ada hadiah yang lebih besar yang akan menggantikan permohonan kita selama ini. Percayalah, meski saya sendiri juga sedang belajar menumbuhkan dan menguatkan rasa percaya ini. #mempersiapkandiri :’)

Menikah, Membesarkan Anak, Bersama Suami?

Idealnya, husband always besides wife, anytime she needs him…

Tapi ternyata, setiap pasangan mestinya di-setting untuk siap menjadi single fighter, apapun alasannya. Bisa karena ajal, tugas panjang, atau bahkan cerai. Terutama perempuan. Ternyata menjadi perempuan yang “mandiri” itu memang penting. Mandiri dalam arti memiliki cukup bekal ilmu dan keterampilan yang bisa membantu kita tetap settle down dalam kondisi menjadi single parent.

Tentu kita berharap suami kita kelak akan terus mendampingi kita, ada di sisi kita kapanpun kita membutuhkannya, ada di dekat kita manakala anak-anak sedang bertumbuh besar. Perempuan mana yang tidak ingin? Hanya saja, terkadang idealisme kita harus terbentur dengan realita kehidupan kita sendiri.

Tidak ada yang salah dengan idealisme itu. Yang kita butuhkan hanyalah mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan. #mempersiapkandiri

Setelah ini…

Setelah menuliskan remah-remah pikiran ini, semoga saya bisa terus membekali, membenahi, dan mempersiapkan diri, terus memohon ketetapan yang terbaik, dan terus berusaha memiliki hati yang mudah ridha dengan ketetapan-Nya, apapun itu.

Belajar, belajar, belajar. Belajar mengendalikan akal, lisan, dan perasaan. 🙂

Matre!

81-wedding-planning-and-servicesBismillaahirrahmanirrahim,

“Mba, jaman sekarang jadi perempuan itu harus matre. Kalo nyari suami yang kerjanya udah mapan. Sekarang, tampang itu ga jaminan. Kalo bisa nyari yang pegawai aja, Mba, yang terjamin masa depannya. Lihat saya ini lho mba, sekarang jadi begini hidupnya, pontang-panting (blahblahblah).”  

Uweeeeh. Apaan coba. Serius, kalimat yang barusan mendarat secara mulus di telinga saya itu luar biasa menyetrum! 😆

Kuping saya berasa diasep, panas, ngebul. Haha. Habisnya ibu-ibu itu semangat banget “provokasi”nya. Luar biasa, bukan? 😀

Sayangnya, bedhug maghrib masih lama. Kalimat ibu X barusan sukses membuat saya semakin dahaga. Tenggorokan terasa kering kerontang. Aneh ya? Padahal yang menggebu-gebu kan ibunya. Saya, cuma duduk manis mendengarkan sambil menundukkan kepala. Persis penganten yang terduduk malu di pelaminan. *lah, apaan* 😆

Matre.

Judulnya sengaja saya bikin nyetrum juga. Biar menimbulkan kesan silau di mata. Haha. *jahat kamu nin* 😀

Jadi begini Saudara, ceritanya sore kemarin, saya mampir ke sebuah toko. Kebetulan, yang jaga toko itu tetangga saya sendiri. Dan, pastilah kami terjebak obrolan ngalor ngidul. Mulai dari beliau menanyakan kabar kuliah saya, urusan kerja, nanya-nanya kolesterol, asam urat juga, dan sampailah pula pada poin, “Mba Nina umurnya berapa sekarang?”

Sebenernya ga ada salahnya sih nanya umur. Saya sama sekali ga menyangka kalo dari pertanyaan umur itu akan berujung pada obrolan yang memanas, yaitu pernikahan. #eaaa 😳

Beliau melanjutkan pertanyaannya. Iya sih, beliau sedikit kepo kayaknya. Tapi saya yakin, ibu tersebut asing dengan istilah kepo, jadi saya mengurungkan niat untuk bilang, “Hayooo, ibu kepo yaaa?” Alhamdulillah, saya masih menjunjung nilai-nilai budi pekerti. 😛

Jadi ya sudahlah, lagian bukan pertanyaan yang jawabannya rahasia-rahasia banget. Kasian juga kalo beliau penasaran. Kalo ga bisa tidur kan berabe. Akhirnya saya jelaskan begini begitu. Udah persis narasumber dalam acara Satu Jam Bersama Nina. *apa deh* 😀

“Mba, udah usia segitu harusnya udah mulai mikir ke arah sana lho…”

Uwooow, ke arah sana? Arah mana, Bu? Utara, selatan, tenggara, barat daya? Mana Bu, mana? Iya sih, saya sok polos. 🙄

“Udah punya pacar belum, Mba?”

Udah dong, Bu. Kemarin saya dapet oleh-oleh haji dari eyang putri. 😆

“Udah punya calon belum? Saya punya kenalan tentara lho Mba, ada angkatan udara, laut, darat. Polisi juga ada.”

Nah. Telak. Habislah saya disitu. 😆

“Hehe, ndak Bu, terimakasih.” 😳

“Engga? Lho, kenapa? Kenalan saya itu udah pada mapan lho. Ga suka sama tentara ya? Wah, padahal masa depannya terjamin lho Mba. Sukanya apa? Kayaknya model-model Mba Nina sukanya dosen atau dokter gitu ya?”

Hebat, kan? Ibu tersebut bisa meramal segala coba. Saya hanya membatin kecut, “Emang saya keliatan kayak proposal tesis ya sampai dibilang sukanya sama dosen? Atau jangan-jangan malah mirip stetoskop karena dibilang perempuan “semodel saya” ini sukanya sama dokter.”

Ckckck. Air mana air, saya mau wudhu, panas! 😀

Tapi saya sih cuma mesam-mesem. *cuma?*

“Hehe, ya doanya aja Bu, moga-moga besok dapet yang baik untuk dunia akhirat. Sebenernya saya udah mulai mikir ‘kesana’, Bu, tapi apa daya, urusan skripsi dan pekerjaan jauh lebih menyita pikiran saya.”

Saya menjawab singkat, mencoba meredam semangat ibu-ibu separuh baya itu. Heran juga sih, ini yang mau nikah siapa, yang heboh siapa. 😆

Dan pada akhirnya, epilog drama sore hari itu berakhir dengan quote dari ibu-ibu separuh baya golden ways,

“Mba, jadi perempuan di jaman sekarang itu memang harus sedikit matre. Demi masa depan.”

Clep. Saya pun terlarut dalam perenungan abad 20(?)

Dan maa syaa Allaah. Kira-kira, hikmah apa yang bisa diambil dari kisah di atas, Saudara? 🙄


Usia dua puluh sekian memang usia yang rentan mengalami sindrom galau nikah. Menurut saya wajar, sih. Bukan sesuatu yang harus dibilang ‘wow’ sambil ngguling-ngguling. 😀 Bahkan, kadang yang galau lebih hebat justru orang-orang di sekitar kita. Kalo anak gadis, biasanya yang galau adalah ibundanya. Kalo laki-laki, yang galau hebat pastinya diri sendiri. Wkwkwk. 😀

Itu poin pertama, bahwa kegalauan jombloers ternyata dirasakan pula oleh orang-orang terdekatnya, bahkan mungkin mereka jauh lebih galau. Khawatir kalo kita bakal menjomblo sampai tua. Kedua, sekaligus topik utama dari tulisan abstrak ini adalah: Matre. Apakah kehidupan rumah tangga memang se-frontal itu perjuangannya, Saudara? Saya jadi semakin merenung, hehe. 🙂 Saya yakin, ga semua orang punya persepsi tendensius semacam itu. Saya juga mencoba berhusnudzan dengan ibu-ibu separuh baya itu. Beliau jauh lebih berpengalaman untuk urusan rumah tangga, karena sudah cukup makan asam garam mengarungi bahtera pernikahan. Jadi, saya ga punya kapasitas yang cukup berbobot untuk meng-counter statement beliau, karena persepsi saya nantinya pasti lebih condong pada idealisme.

Padahal, pernikahan itu tidak selamanya mulus sesuai idealisme kita di masa muda. Namanya juga menyatukan dua isi kepala dan hati yang berbeda, dengan karakter pribadi dan latar belakang keluarga yang berbeda pula. Kemudian tentang masa depan. Apakah kemapanan profesi adalah satu-satunya jalan menuju kemapanan masa depan? Siapa sih yang bisa menjamin masa depan kita? Ingin sekali meralat kata-kata ibu tadi, karena terkesan menyandarkan masa depan hanya sebatas materi. Tapi sekali lagi, saya tidak punya posisi tawar yang oke, hehe. 🙂 Anggaplah, ibu-ibu itu salah ucap, salah persepsi. Semoga sandaran masa depan kita tetap satu, yaitu Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

Jadi intinya? Hehe, saya kembalikan ke temen-temen aja sih. Tulisan ini bukan bermaksud menggiring pemahaman teman-teman untuk menyempurnakan kriteria. Emang siapa kita kok pede amat minta sosok yang sempurna? Sampai tutup zaman pun, kita ga akan pernah ketemu dengan yang namanya Mr/Mrs. Perfect itu. Mau yang shalih dengan profesi dokter, dosen, pengusaha, guru, engineer, yang pasti yang gajinya besar, kerjanya jelas dan mapan, masa depan pun terjamin, apapunlah. Masing-masing kita pasti punya kriteria. Tapi, jangan sampai esensi pernikahan itu menjadi kabur hanya karena kita terlalu kaku dengan kriteria. Iya betul, demi masa depan. Tapi masa depan yang bagaimana? Bukankah masa depan kita adalah sebuah negeri bernama akhirat? Saya yakin, setebal apapun dompet laki-laki, kalo hatinya ga menebal karena ketaqwaan, kita bisa apa? Bisa-bisa kita gigit jari terhadap masa depan yang sebenarnya. Wal ‘iyadzubillaah. Nangis ga sih kalo ketemu yang kayak gini? 😥

“Lebih baik memikirkan ‘bagaimana’ daripada ‘siapa’. Sebab ‘bagaimana’ lebih membuat kita bersiap, sedangkan ‘siapa’ terkadang hanya meninggalkan kecewa.” (quote nemu di Tumblr, lupa punya siapa)

Iya, yang lebih esensi sebenarnya adalah pertanyaan ‘bagaimana’ bukan ‘siapa’. Bagaimana sebenarnya pernikahan itu? Bagaimana kiat-kiat jitu mengarunginya? Bagaimana meraup keberkahannya? Bagaimana harmonisasinya? Sepertinya itu yang lebih penting kita pikirkan jauh-jauh hari, ketimbang membelit pikiran dengan kriteria. Allaahu a’lam, wastaghfirullaah. Selamat merenung. 🙂

Kontemplasi Ramadhan 1434 H (dua tahun silam… nostalgia… wkwkwk) 😛