Mendidik Anak dengan Positive Parenting ala Nabi

NAKI_1

“Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).” — Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Bismillaahirrahmanirrahiim,

Tulisan kali ini adalah ekstraksi kajian Ramadhan 1438 H bertema “Anakku Mutiara Hidupku” di Masjid Al-Azhar 14 Semarang yang menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ust. Mohammad Fauzil Adhim (hafizhahullaah).

Saya terlambat sekitar setengah jam, jadi mungkin ada bagian yang terpotong ya. Belum lagi narasi beliau yang rasanya ingin dicetak tebal semua, sedangkan kemampuan menulis cepat saya terbatas. Hehehe. Semoga sedikit yang saya bagi ini bermanfaat. Wallaahul muwaffiq.

Di awal pemaparan, hal yang saya garisbawahi adalah tentang konsep aqil baligh. Mengapa anak-anak di masa sekarang lebih cepat baligh? Mayoritas masyarakat serempak menjawab, “Karena makanan anak-anak masa kini lebih bergizi.” Beliau menampik tegas pendapat ini. Menurut beliau, kalau memang ini alasan yang digunakan masyarakat, mestinya anak-anak di Timur Tengah kematangan seksualnya lebih cepat dibandingkan anak-anak Amerika, Eropa, atau Asia, seperti: Indonesia.

Makanan masyarakat Timur Tengah jauh lebih bergizi tinggi, terlebih protein dan lemak (jadi nostalgia materi kuliah dulu, bahwa nutrisi yang merangsang pembentukan hormon adalah protein dan lemak), tetapi mengapa anak-anak di Amerika, Eropa, atau Asia justru lebih cepat mengalami menarche? Padahal Amerika dan Eropa dengan budaya junk food-nya, Asia (Indonesia contohnya) dengan budaya makanan yang dominan karbohidrat dan sayur mayur.

Jawaban yang lebih tepat untuk pertanyaan di atas adalah, “Karena exposure dan rangsangan seksual terhadap anak-anak di wilayah-wilayah tersebut lebih dahsyat!” Anak-anak kita hari ini lebih cepat baligh ternyata bukan semata-mata karena asupan nutrisi yang lebih baik, tetapi juga karena rangsangan seksual di sekitar mereka yang lebih besar, dengan atau tanpa kita sadari. Astaghfirullaah… Contoh sexual exposure: ikhtilath (bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan) di sekolah anak-anak kita hari ini. Belum lagi paparan televisi dan internet yang serba bebas dan tak terkendali, yang sudah menyelinap ke rumah-rumah keluarga Muslim, lewat ponsel yang bebas digenggam kapanpun, dimanapun, siapapun.

Mohon maaf, beberapa bagian tercatat berupa poin-poinnya saja.

  • Memperdengarkan musik Mozart katanya merangsang anak untuk matang daya analitiknya, khususnya pada pelajaran eksak, seperti: matematika. Padahal waktu saya ke berkesempatan berkunjung ke Wina, saya baru sadar bahwa orang-orang Wina sendiri tidak pernah “mengidolakan” Mozart. Itu semua cuma permainan bisnis. Bahkan Mozart saja tidak pandai matematika. Begini kurang lebih yang beliau sampaikan.
  • Kita perlu belajar mendidik anak untuk mencintai amal shaleh, bukan mencintai dirinya karena telah beramal shaleh, karena ini benih ‘ujub (berbangga diri), riya, dan sum’ah (suka pamer).
  • Kita juga perlu belajar mendidik anak siap diolok/direndahkan. Ada sharing pengalaman dari beliau ketika mengajarkan kepada putra-putrinya respon ketika disakiti teman. Ajarkan kepada anak konsep selfhelp dan survive yang benar. Pertama, ajarkan anak untuk bersabar pada pukulan yang pertama dengan mendoakan teman yang menzhaliminya. Kedua, jika masih disakiti, ajarkan anak untuk bersabar dengan menasehatinya. Ketiga, jika masih terus disakiti, sabar kali ini adalah kelemahan. Balas, tapi jangan melampaui batas.
  • Anak usia 6 – 7 tahun = masa tamyiz, mampu membedakan yang benar – salah, baik – buruk à ajarkan shalat yang benar, usia sebelum itu berupa dorongan atau ajakan saja, jika anak belum mau, jangan paksa, itu hak dia.
  • Anak usia 10 tahun = persiapan masa baligh dan mukallaf (terkena beban syari’at) –> sex education dalam Islam sebenarnya bagian integral dari pendidikan Islam itu sendiri, bukan berdiri sendiri –> contoh: mengajarkan shalat yang didahului mengajarkan thaharah (bersuci) kan pasti menyinggung soal ini (pembatal wudhu, sebab mandi janabah, dsb) –> tanamkan dalam diri anak bahwa pelanggaran terbesar pada fase mukallaf adalah meninggalkan shalat!

Konsep Islam dalam Memerintah dan Melarang

Saat melarang sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Luqman: 13 – 19. Setidaknya, beliau mencoba merangkumkan garisbesarnya menjadi 3 hal, yaitu:

  • Awali kalimat larangan dengan panggilang sayang (lembut atau kasar?) –> cermati ayatnya, “Yaa bunayya…” bukan “Yaa, Ibnii…” yang secara bahasa maknanya sama, tapi kadar kelembutannya berbeda.
  • Ikuti dengan serangkaian perintah –> catatan: jika perintahnya berurutan, pastikan anak sedang dalam kondisi nyaman dan perintah tersebut tidak untuk dikerjakaan saat itu juga (menghindari misunderstanding).
  • Ikuti larangan dengan penjelasan –> memberi perintah tanpa penjelasan dapat melahirkan kejumudan (statis, skeptis).

Saat memerintahkan sesuatu, kita bisa menggali pelajaran dari QS. Ali-Imran: 102 – 103. Garisbesarnya adalah:

  • Awali dengan panggilan yang baik dan memuliakan –> cermati ayatnya, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu…”
  • Ikuti dengan perintah/komando yang jelas
  • Iktui pula dengan larangan sebagai penegas

Rambu-rambu dalam Perintah dan Larangan

Beliau memaparkan 3 hal yang perlu diperhatikan dalam memerintah atau melarang, yaitu:

  • Jauhi fazhzhan (suara yang keras dan kasar)
  • Jauhi ghalizhal qalbi (hati yang kaku dan keras)
  • Jauhi suara keledai (suara yang “sengak” dan tidak enak didengar)

Beberapa catatan tambahan…

  • Jika terjadi pelanggaran adab, ambil pelajaran dari kisah Umar bin Abu Salamah tentang makan dengan tangan kanan.

Dari ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau makan, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, makanlah makanan yang terdekat denganmu.” ‘Umar bin Abu Salamah) berkata, “Maka sejak itu aku makan dengan cara itu (cara yang diajarkan oleh Rasulullahi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam).” [HR. Ahmad]

  • Jika terjadi pelanggaran halal-haram, ambil pelajaran dari kisah Hasan bin Ali saat memakan kurma sedekah.

Dari Rabi’ah bin Syaiban berkata, “Aku bertanya pada Hasan bin Ali radhiyallaahu ‘anhu, “Apa yang paling berkesan bagimu tentang diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Aku pernah masuk ke ruang sedekah bersama beliau, lalu aku mengambil sebutir kurma dan memasukkannya ke dalam mulutku. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera menegurku, “Buang kurma itu, sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi kita (ahlul bait).” [HR. Ahmad]

  • Jika bermaksud memberi teguran keras, ambil pelajaran dari kisah Ibnu ‘Umar tentang pemuda Quraisy yang sedang menjadikan burung sebagai sasaran anak panah. Teguran keras (bahkan hingga keluar peringatan tentang laknat) sebaiknya diberikan ketika anak menjelang remaja, itupun untuk perbuatan zhalim yang mengancam nyawa, baik manusia maupun binatang.

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia sedang lewat di depan pemuda-pemuda Quraisy yang melempari seekor burung, dan mereka memberikan kepada pemilik burung itu satu tombak untuk setiap lemparan yang salah. Ketika mereka melihat Ibnu ‘Umar datang, pemuda-pemuda itu berlarian, beliau berkata, “Siapa yang melakukan ini? Sungguh, Allah telah melaknat pelaku perbuatan ini! Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran (kekerasan).” [HR. Bukhari – Muslim]

Bekal Penting Membangun Diskusi dengan Anak

Beliau memaparkan ini sebagai jawaban dari salah seorang peserta, “Bagaimana agar orangtua dapat berdiskusi dengan anak-anak (terkait perintah dan larangan)?” Beliau menjelaskan,

  1. Tumbuhkan rasa percaya anak terhadap orangtua. Kuncinya ada pada QS. An-Nisaa’: 9. Qaulan sadiidaa… Qaulan sadiidaa adalah perkataan yang setidaknya mencakup 5 hal, yaitu:
  • Straight to the point
  • Tidak menutupi kebenaran
  • Tidak mengandung kebohongan
  • Mau mengakui kesalahan di depan anak
  • Mau meminta maaf kepada anak
  1. Tumbuhkan rasa hormat anak kepada orangtua –> rasa hormat itu ditumbuhkan, bukan diperintah, “Kamu harus hormat ya, Nak, sama Ayah Ibu..” Ustadz menambahkan, “Rasa hormat itu lebih baik daripada ketaatan itu sendiri, karena jika telah tumbuh rasa hormat, maka tumbuh pula ketaatannya. Ketiadaan rasa hormat hanya akan menumbuhkan ketaatan untuk sekadar menghindari musibah (taat karena takut dimarahi/dihukum ortu).”

Bagaimana Pengaruh Lingkungan terhadap Pendidikan Anak?

Ini juga pertanyaan peserta. Ustadz membuka jawaban dengan pertanyaan, “Mengapa anak yang hidup di lingkungan yang sama dapat tumbuh dengan karakter dan pemahaman yang berbeda?” Lalu beliau menjelaskan bahwa hal ini setidaknya terjadi karena:

  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua (keluarga inti) terhadap anak-anaknya
  • Kuat lemahnya pengaruh orangtua terhadap teman anak-anaknya à coba teman anak-anak diajak ke rumah, dibuat nyaman bermain di rumah bersama anak-anak, sambil menasehati dan meluruskan jika ada yang keliru
  • Bekali anak-anak dengan visi dan misi yang kuat sebelum melangkah keluar rumah –> gali lagi pelajaran di QS. Luqman, atau Adz-Dzariyat: 56, atau Ali-Imran: 110.

In syaa Allaah cukup, semoga bermanfaat. Sebaik-baik perkataan adalah kalamullah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah yang datang dari Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam.

Wallaahu a’lam, wastaghfirullaah wa atuubu ilaih, laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Diresume dengan segala keterbatasan, oleh:

@laninalathifa 🙂

*bismillaah, saatnya ngeblog lagi! tadaaa! 😀

Emansipasi; Dari Siapa Untuk Siapa?

textgram_1493202083

Semarang, 23 April 2017 (26 Rajab 1438)

Bismillaahirrahmanirrahim,

Jadi gini, ini adalah materi Kulwap UKKI UNNES. Iya, ceritanya lagi sok-sokan ngisi kulwap, hehehe. 😀 Tempo hari dimintai tolong teman untuk cuap-cuap di grup whatsapp Lentera Muslimah. Bismillaah, saya iyain aja. Menyadari kekurangan dan ke-apalah-an saya, menyanggupi tawaran itu semata-mata berharap ada manfaat dan barokah dari cuap-cuap lewat dinding maya. Semoga Allaah ridhai amal yang sedikit ini. 🙂

Topik diskusinya kemarin tentang emansipasi. Sebenarnya ini adalah pengalaman kedua saya ngisi kulwap. Artikel kulwap pertama saya share menyusul yah. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.


Sesi materi

Sebenarnya emansipasi itu apa sih? Saya kutipkan dulu definisinya dari KBBI ya:

Emansipasi adalah (1) pembebasan dari perbudakan, (2) persamaan hal dalam berbagai aspek kehidupan; proses pelepasan diri wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju.

Hari Kartini 21 April lalu identik dengan topik emansipasi, sebab sampai hari ini rakyat Indonesia masih percaya bahwa emansipasi adalah buah pikir yang diperjuangkan Kartini. Tapi pertanyaannya, emansipasi yang bagaimanakah yang diinginkan Kartini? Persamaan hak di sisi manakah yang diperjuangkan Kartini? Konteks ini seringkali luput ditelisik para wanita, bahkan Muslimah –sebagai kaum yang diwarisi Al-Qur’an dan As-Sunnah– seakan-akan ikut terbawa arus emansipasi yang maknanya masih berkabut.

Kita coba bold dulu definisi KBBI di atas. Persamaan hal dalam berbagai kehidupan. Bermuara dari definisi ini diusunglah tema-tema seputar kesetaraan gender.

Lalu pertanyaannya, mungkinkah?

Beberapa hari ini saya sedang asik menikmati tulisan Buya Hamka dalam 2 bukunya. Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan dan yang satu lagi berjudul Ghirah, Cemburu Karena Allah.

Izinkan saya mengutip dan mengisahkan beberapa isinya disini ya. Menarik sekali. 🙂

Dalam buku pertama (Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan), ulama perintis Majelis Ulama Indonesia ini menuliskan bahwa Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan bukanlah berarti bahwa pekerjaan yang hanya bahu lelaki yang kuat memikulnya, lalu perempuan disuruh pula memikulnya.”

Tentu sesuatu yang mustahil jika laki-laki dan perempuan yang memang secara kodratnya diciptakan berbeda, lalu mereka menuntut hak yang sama dalam segala hal. Islam, sebagai agama yang syumul (menyeluruh), dalam syari’atnya bahkan menetapkan perintah yang ‘cocok’ dengan kondisi perempuan.

Ada kisah menarik yang saya dapatkan juga di buku Buya Hamka. Ketika itu beliau mengisahkan bahwa di tahun 1938, di Minangkabau, ada pemuda yang dipenjara 15 tahun karena membunuh seorang lelaki ketahuan menzinahi saudara perempuannya. Ketika lelaki itu ditanya tentang hukuman yang diterimanya, ia menjawab dengan mantap, bahwa ia senang dan legawa menerima hukuman itu. Justru jika ia diam ketika menyaksikan saudara perempuannya dinodai kehormatannya, itulah sebuah kehinaan yang besar. Sebuah kecemburuan yang mulai pudar hari ini…

Perempuan, secara fitrahnya memang butuh dilindungi, diayomi, dididik, dan dibina. karena itulah Islam mengibaratkannya gelas-gelas kaca, yang butuh kelembutan dalam merawatnya.

Emansipasi yang didengungkan hari ini jelas lahir dari pemikiran sekuler yang ingin mencabut sense of belonging umat Islam terhadap agamanya. Para perintisnya mencoba menggiring pemahaman Muslimah untuk menuntut persamaan hak di segala bidang, dengan dalih emansipasi.

Peradaban Barat, yang begitu keukeuh memperjuangkan hal ini, justru menampilkan ketidakadilan pemikirannya sendiri di berbagai tempat. Salah satu contohnya di Inggris. Di dalam UU Inggris, ketika seorang perempuan bersuami, seluruh hartanya akan menjadi milik suaminya. Selain itu, Barat juga memiliki kultur yang bertentangan dengan ajaran Islam, yaitu menasabkan nama perempuan dengan nama suaminya. Bukankah kultur semacam ini secara tidak langsung mencederai makna emansipasi itu sendiri? Perempuan yang menikah seolah menjadi hak penuh suaminya, dimana ia tak memiliki hak atas dirinya sendiri. Tak heran, di Barat angka perceraian begitu tinggi, sehingga mereka memilih tradisi kumpul kebo ketimbang menikah. Perempuan Barat banyak yang takut menikah karena konsekuensi hukum yang tidak mudah.

Sekali lagi, Allah telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan fitrah penciptaan yang berbeda. Semua tentu mengandung hikmah yang besar. Kedudukan yang sederajat di sisi Allah adalah dalam usaha mereka meraih gelar takwa. Tapi pada praktik fungsionalnya, perempuan tetaplah perempuan, lelaki tetaplah lelaki.

Untuk itu mengapa lelakilah yang disebut sebagai qowwam. Mengapa perempuan diciptakan diciptakan dari tulang rusuk. Mengapa lelakilah yang diwajibkan mencari nafkah. Mengapa perempuan diperintahkan taat kepada suami dan mendidik anak-anaknya.

Tentu semua ada hikmah yang begitu indah… 🙂


Sesi tanya jawab

Tanya 1: Apakah emansipasi adalah bagian dari ghazwul fikri?

Jawab: Jika emansipasi yang dimaksud adalah persamaan hak lelaki dan perempuan di segala bidang, sebagaimana yang didengungkan kaum sekuler, tentu itu bagian dari ghazwul fikri, perang pemikiran, yang tujuannya mencabut ruh Islam dari akal dan hati kaum muslimin.

Tanya 2: Bagaimana menanggapi hal ini? Bolehkah kita memperingati dan meneladani sosok Kartini?

Kalau memperingati, sebagai umat Islam tentu kita mencukupkan diri dengan hari Raya yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Itulah hari besar umat Islam yang disunnahkan untuk dirayakan dengan penuh kegembiraan. Merayakannya (dengan memperhatikan kaidah syar’i) akan mendulang pahala, in syaa Allaah.

Lalu jika pertanyaannya, bolehkah meneladani sosok Kartini? Sebagaimana artikel yang saya tulis sebelumnya, lalu di-repost di Kiblat Muslimah (Kartini dan Kodrat yang Pudar), tulisan-tulisan seputar Kartini masih begitu simpang siur kebenarannya. Banyak pro-kontra soal status kepahlawanannya, meski pada artikel tersebut saya menyoroti salah satu isi surat yang disebut-sebut milik Kartini, dimana isi surat tersebut memang ada benarnya, bahwa ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya.

Maka saya sampaikan bahwa sebagai Muslimah, kita tak perlu ikut bingung. B Allah dan Rasul-Nya telah menjamin kebaikan agama dan akhlak para istri Rasulullah, yang mendapat gelar sebagai Ummahatul Mukminin; Ibunda orang-orang yang beriman? Jadi semestinya merekalah yang lebih dulu kita jadikan panutan. Merekalah ibu kita, ibunda para Muslimah…

Adapun pahlawan Muslimah dari Indonesia, tidak hanya Kartini sebenarnya. Ada Rohana Kudus, Rahmah El Yunusiyah, dsb.

Tanya 3: Bagaimana sudut pandang Islam tentang kepemimpinan wanita.

Ada nash yang sangat jelas akan hal ini. Coba dibuka QS. An-Nisaa’: 34

Ar rijaalu qowwamuuna ‘alan nisaa.

Lelakilah yang dipilih menjadi pemimpin wanita. Mengapa?

Mari kita garisbawahi kalimat berikutnya,

Bimaa fadhdholallaahu ba’dhohum ‘alaa ba’dhin.

Karena Allaah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk menjadikan laki-laki sebagai pemimpin kaum wanita karena kelebihan yang telah dianugerahkan Allaah kepada kaum lelaki. Kelebihan yang khusus diberikan kepada laki-laki inilah yang mendukung peran fungsionalnya sebagai pemimpin.

Termasuk pada aplikasinya, konsensus ulama mewajibkan syarat seorang khalifah atau pemimpin negara adalah laki-laki. Pucuk kepemimpinan tertinggi haruslah diamanahkan kepada laki-laki.

Ada perbedaan pendapat ulama mengenai boleh tidaknya jika wanita memimpin dalam lingkup yang lebih sempit (dalam kondisi heterogen; lelaki dan perempuan dalam satu tempat). Pendapat yang membolehkan memberlakukan syarat yang cukup ketat, di antaranya adalah ketiadaan laki-laki yang berkompeten untuk mengurus hal tersebut.

Tentu hal di atas sama sekali bukan bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Justru berlakunya syari’at tersebut adalah untuk melindungi fitrah perempuan.

Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan bukanlah berarti bahwa pekerjaan yang hanya bahu lelaki yang kuat memikulnya, lalu perempuan disuruh pula memikulnya.”

Bahu perempuan tidak didesain untuk memikul amanah yang amat berat sebagai khalifah atau pemimpin negara. 🙂

Closing statement

“Sesungguhnya laki-laki dan wanita yang Muslim, laki-laki dan wanita yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan wanita yang berlaku benar, laki-laki dan wanita yang sabar, laki-laki dan wanita yang khusyu’, laki-laki dan wanita yang bersedekah, laki-laki dan wanita yang berpuasa, laki-laki dan wanita yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan wanita yang banyak mengingat Allaah, sungguh Allaah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Beginilah Islam mengajarkan kita ’emansipasi’…

Wallaahu ta’ala a’lam. Wastaghfirullaah, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamin, semoga bermanfaat. 🙂

Kartini Masa Kini dan Kodrat yang Pudar

kartini 2017

Euforia selebrasi 21 April masih berulang di tahun ini. Anak-anak sekolah kembali memecah perhatian para pengguna jalan dengan kilauan perhiasan sanggul, busana, dan kosmetik yang katanya “Ala Kartini”. Didukung dengan perangkat elektronik canggih abad ini, anak-anak perempuan penerus bangsa itu juga turut disibukkan dengan berfoto ria di setiap sudut jalan dan ruang, mengabadikan momen dan bedak yang tidak anti luntur. Ada yang berkelindan dalam pikiran. Seperti inikah style Kartini tempo dulu? Inikah yang dulu diperjuangkan Kartini lewat tulisannya? Lalu dimanakah sebenarnya relevansi antara meneladani spirit belajar Kartini dengan merias rupa anak-anak sekolah dengan make up super tebal?

Terpisah dari anak-anak perempuan dan para calon ibu di masa depan itu, tulisan-tulisan seputar Kartini masih membanjiri media sosial. Siapa dan bagaimana Kartini terus menuai pro-kontra. Ada yang menyoroti fakta kedekatan Kartini dengan Belanda dan Theosofi. Ada juga yang menelisik sisi spiritualitas Kartini. Namun kali ini, mari sejenak kita melepaskan diri dari pro-kontra Kartini, sang putri priyayi.

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902)

Salah satu isi surat Kartini di atas mungkin jarang dibicarakan. Padahal, isi surat tersebut justru merefleksikan apa yang selama ini menjadi mimpinya. Mengapa ia begitu bersemangat menyuarakan pendidikan bagi kaum perempuan. Ternyata karena Kartini menyadari peran domestik perempuan sebagai madrasah bagi buah hatinya, dan ia ingin kaumnya juga menyadari peran vital itu.

Kartini kala itu merasakan sendiri bagaimana perempuan tidak dipenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan. Mereka menghabiskan waktu dalam pingitan, bagaikan burung yang terpenjara dalam sangkar. Ia menyadari posisinya kala itu dan tak ingin terus terkungkung dalam kondisi demikian. Kartini mendobrak tradisi itu. Kartini melawan. Kartini berjuang. Ia dan kaumnya merasa berhak memperoleh pendidikan.

“…Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anakTangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Lantas bagaimanakah ibu dapat mendidik anak kalau ia sendiri tak berpendidikan?”

Hampir di setiap suratnya, Kartini mengangkat tema besar tentang pendidikan perempuan. Ia bertumpu pada persoalan bahwa perempuan adalah sekolah pertama bagi buah hatinya, generasinya. Namun yang mengherankan, hari ini apa yang didengungkan oleh khalayak tentang emansipasi, yang konon lahir dari buah pikir dan perjuangan Kartini, justru seakan menjauhkan perempuan dari semangat keibuan itu sendiri. Spirit back to home justru dipandang sebelah mata dan dianggap menyalahi konsep emansipasi wanita.

Emansipasi yang diterjemahkan publik hari ini adalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Perempuan berkarir sebebas mungkin, berpendidikan setinggi mungkin, memperoleh kesetaraan hak dengan lelaki di setiap lini, berlomba mengembangkan diri dan meraih prestasi, namun mereka terlena dengan itu semua hingga lupa bahwa Allah menitipkan rahim dalam jiwa dan tubuhnya. Rahim dalam jiwa berupa kelembutan dan kasih sayang, rahim dalam tubuh berupa “wadah” untuk tempat bertumbuh janin yang kelak menjadi generasi penerusnya. Kedua hal ini adalah fitrah mulia yang tak dimiliki kaum lelaki.

Perempuan mendadak lupa kodrat bahwa di belakangnya ada generasi yang menantinya untuk dididik dan dibesarkan sepenuh jiwa. Perempuan juga mendadak lupa betapa terhormatnya kedudukan istri yang taat kepada suaminya, melebihi kehormatan gelar duniawi yang berhasil diraihnya. Bukankah prestasi ini yang telah ditawarkan oleh Rasulullah kepada kaum wanitanya? Lalu mengapa para Muslimah seakan berlomba mencari kemuliaan lain di luar semua itu?

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan dan kehormatannya (dari perbuatan zina), dan ia taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR. Ahmad)

Perempuan masa kini barangkali sudah terlalu sibuk memoles fisik, berusaha eksis di mata publik, tapi jika ditanya kesiapan dan kesadarannya menjadi ibu pendidik, seolah mereka terdiam tak berkutik. Jadi benarkah emansipasi hari ini telah ditempatkan sesuai kodrat dan fungsinya? Jika belum, sudah saatnya kita tak lagi terjebak pada euforia selebrasi semata. Untuk apa mempercantik fisik “ala Kartini” jika pola pikir kita justru kontradiktif dengan apa yang selama ini Kartini perjuangkan.

Euforia hari Kartini semestinya tidak membuat kita menanggalkan fitrah keperempuanan yang kita miliki. Kartini tak pernah meminta dibebastugaskan dari kewajiban sebagai seorang ibu dan istri. Melalui surat-suratnya, Kartini seolah berpesan kepada perempuan untuk bangun dan sadar terhadap kodratnya sebagai “ratu” di dalam rumah yang terhormat; menjadi istri pendukung suami dan ibu pendidik generasi. Tentu untuk melakukan dua tugas besar ini, perempuan membutuhkan ilmu dan pendidikan.

Sekali lagi, terlepas dari pro-kontra soal kisah kepahlawanan Kartini, sebagai Muslimah semestinya kita tak ikut limbung dan hilang arah. Tak ada yang perlu dirayakan dari 21 April, tak ada yang istimewa dari tanggal itu. Islam telah lebih dulu mengajarkan kita spirit keilmuan dan pendidikan, sesuatu yang konon begitu diperjuangkan Kartini. Namun demikian, esensi perjuangan Kartini semestinya juga dimiliki para Muslimah untuk berkarya dan berprestasi dari dalam rumah. Sebagai umat yang diwarisi Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai pengaburan makna emansipasi justru mencederai fitrah kita sebagai perempuan, sebab dien kita telah menempatkan perempuan pada kedudukan yang mulia.

Salam,

Nina dan keresahannya. 🙂

Menyatukan Frekuensi

munir 2

Pernah suatu saat saya terbayang, sebenarnya apa sih yang membuat Suciwati kala itu begitu mantap menerima pinangan Munir; lelaki yang “sukses” menjadi “buronan” aparat pemerintah karena keberanian level singa dalam mengungkap borok dalam kasus penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Tapi seketika rasa penarasan saya terjawab karena teringat sebuah kalimat, bahwa seorang lelaki bermental singa, tentu layak mendapatkan perempuan yang bermental singa pula. Saya rasa, keduanya memang klop. Laiknya pedang bertemu baju besinya yang saling menjaga, menguatkan, dan mendukung. Kisah Munir dan orang-orang bermental pejuang yang semisal dengannya, memang selalu menarik diungkap dari sisi yang berbeda. Sebagai wanita, tentu kita perlu tertarik untuk menelisik kisah sepak terjang sang istri. Apa yang membuatnya seberani itu bersuamikan lelaki yang namanya –jika boleh dikatakan–, “di-blacklist pemerintah”, karena dianggap membahayakan kaum elite yang haus harta, tahta, dan tentu saja… darah.

“Pahlawan adalah Martir Kebebasan.”

Saya teringat kata-kata Suciwati tentang sang suami, yang diungkapkannya pada bulan April dua tahun silam saat acara peresmian jalan Munir di kawasan Den Haag, Belanda. Ia berujar bahwa suaminya pernah menuturkan, seorang yang pantas disebut pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara.

munir 1

Pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara. (Munir Umar Thalib)

Wanita yang sempat menyayangkan mengapa nama suaminya justru “diabadikan” di negeri lain, bukan di tanah kelahiran suaminya sendiri inipun menambahkan, “Nilai-nilai yang diyakini dan hal-hal baik yang dilakukan oleh seorang pejuang kebenaran tak perlu dikenang (dengan penghargaan, –ed).” Karena baginya, kebenaran dan keadilan adalah sesuatu yang pantas diperjuangkan siapapun di muka bumi ini, entah dihargai atau tidak.

Peran Ganda Seorang Istri

Sepak terjangnya mengungkap dalang pembunuh sang suami yang hingga saat ini belum juga terungkap tuntas, tak putus dilakukannya. Di samping itu, ia adalah seorang single fighter yang berperan ganda; mendidik dan membesarkan anak-anak, serta menjadi ‘benteng pertama’ dalam mem-back up perjuangan suaminya. Tidak itu saja, bahkan (menurut sebuah sumber yang pernah saya baca) Suciwati bersama rekan-rekannya mendirikan taman kanak-kanak di Malang. Luar biasa, bukan? Tentu ketangguhan semacam ini patut diapresiasi bahkan ditiru wanita masa kini. Betapa wanita tidak selalu identik dengan sifat lemah dan tak berdaya. Kelembutan naluri tidak berarti berbanding lurus dengan kelemahan mental.

Fitrah wanita sebagai pendidik generasi yang menuntut kita memahami dunia anak-anak, bahkan tak jarang membuat kita perlu bertingkah seperti anak-anak, tak berarti membuat jiwa dan karakter kita kekanak-kanakan juga, bukan?

Menikah; Seni Menyatukan Frekuensi

Suciwati tidak pernah berjuang seorang diri, sebab istri-istri pejuang telah diwakilkan oleh banyak nama. Suciwati adalah salah satu potret wanita tangguh. Bahkan jauh sebelum Munir berjuang bersama istrinya, memperjuangkan sesuatu yang telah menjadi nafas dalam geraknya, Nabi Ibrahim juga telah berjuang bersama istrinya, Hajar. Memperjuangkan sebuah keyakinan, “Jika yang kita kerjakan ini adalah perintah Allah, niscaya kita takkan pernah disia-siakan oleh-Nya.”

Atau sebagaimana kebenaran abadi yang diperjuangkan Rasulullah bersama Khadijah, di masa-masa kritis awal mereka berdua berjuang dan bergerak. Atau sebagaimana istri Najmuddin Ayyub yang mencari suami yang sefrekuensi visi dengannya, hingga akhirnya –bi idznillah, bermula dari kesamaan visi itulah lahir Shalahuddin Ayyub, Al-Fatihnya Palestina. Lalu ada juga istri Buya Hamka yang pernah mengingatkan suaminya untuk “menjauhi kursi penguasa” karena baginya amanah sebagai seorang penjaga masjid lebih utama di sisi Allah.

Menyinggung Suciwati, saya pun teringat istri Siyono (Allahu yarham), Mufida. Segepok “uang tutup mulut” dari aparat pemerintah atas kasus pembunuhan suaminya; imam masjid yang ditangkap tanpa surat izin penangkapan lalu pulang dalam kondisi nyawa telah meregang, ditolaknya mentah-mentah. Sebuah perjuangan mempertahankan izzah dan keyakinan yang patut diteladani.

Barangkali apa yang menjadi inspirasi dan nafas perjuangan Munir dan istrinya tidak sama dengan beberapa contoh figur teladan di atas. Tapi skenario hidup yang mereka alami serupa. Kehilangan seorang suami atau bahkan istri pejuang. Kehilangan nahkoda atau awak perjuangan. Kehilangan belahan jiwa yang dicintai, bahkan lebih dari sekadar belahan jiwa. Sebab nafas perjuangan mereka telah mengalir sehati sejiwa. Skenario semacam itu tentu berpotensi membuat oleng bahtera yang tengah berlayar di tengah samudera yang berombak ganas. Namun sejak awal, mereka telah memilih mengikrarkan akad mitsaqan ghalizha di atas sebuah kesamaan frekuensi, keselarasan visi dan misi. Kesamaan frekuensi inilah yang menjadi benih awal timbulnya sakinah, ketenangan dalam rumah tangga. In sya Allah.

JCPP

Kesamaan Tujuan adalah Titik Awal Keberangkatan

Bermodalkan rasa “klik” yang tumbuh dari kesibukan yang sama di dunia advokasi buruh, meski ia sendiripun telah menyadari konsekuensi jika hidup bersama Munir, Suciwati menerima pinangan aktivis HAM itu. Katanya, “Karena apa yang kami perjuangkan sama…”

Kesamaan tujuan dan ruang gerak inilah yang memang lebih mudah menumbuhkan ketenangan jiwa, karena kita paham apa yang partner hidup kita kerjakan, bagaimana lingkungan dan rekan-rekan kerjanya, serta yang lebih penting adalah memahami bagaimana risiko dan konsekuensi menjalani hidup bersamanya. Saya tidak mengatakan bahwa guru tidak cocok dengan dokter, atau relawan kemanusiaan tidak klop dengan pegawai kantoran karena atmosfer dan konsekuensi ruang gerak yang berbeda. Tapi yang ingin saya garisbawahi adalah kesetaraan ghoyyah (tujuan) dalam mengarungi bahtera pernikahan, agar pernikahan itu tak sekadar digadang-gadang keindahannya di dunia, namun abadi hingga surga.

Maka jika boleh merumuskan teori, jangan cari pasangan yang pasang gelarnya cuma sampai S2 (sehidup semati), ini jelas sangat kurang. Atau cuma S3 (sehidup semati seperjuangan), ini juga masih kurang. Tapi carilah yang S4 (sehidup semati sesurga seperjuangan), nah barangkali ini barulah lengkap. 🙂

Yaa Rabb, anugerahkanlah kepada kami keshiddiqan dalam ghayyah, keikhlasan dalam melangkah, serta kesabaran dalam memperjuangkan Jannah. Aamiin.

Best regards,

Nina dan remah-remah pikirannya 😉

Presiden yang Di-Bully?

pemimpin zhalim

قال رسول الله ﷺ “ يقبض الله الأرض يوم القيامة ، ويطوي السموات بيمينه ثم يقول “ أنا الملك أين ملوك الأرض؟ “ البخاري 7382

Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Allah menggenggam bumi pada hari Kiamat dan menggulung langit dengan tangan kanan-Nya, lalu Ia berseru, ‘Akulah Raja, mana para raja dunia?’.”

Allah tunjukkan kekuasan-Nya pada hari Kiamat dengan menggenggam bumi dan menggulung langit dengan tangan kanan-Nya. Fakta yang belum terjadi tapi harus sudah diyakini. Hari itu yang Allah hinakan adalah para penguasa di dunia. Bisa raja, bisa perdana menteri, bisa presiden, dll.

Semuanya dipanggil dalam konteks ‘bully’. Saat Allah pamerkan kekuasaan-Nya sambil ‘mem-bully’ mantan-mantan penguasa dunia seolah membawa pesan bahwa yang paling Allah murkai adalah para ‘pesaing’ kekuasaan-Nya. Yang paling Allah musuhi adalah para penguasa dunia yang menggunakan kekuasaannya untuk durhaka kepada Allah, tak gunakan aturan Allah.

Oleh sebab itu, durhaka paling bejat dan destruktif adalah kedurhakaan yang dipayungi kekuasaan, legal secara konstitusi dan dikawal tentara serta polisi. Bukan tukang sihir yang Allah sebut, bukan koruptor, bukan pendeta, bukan perampok, bukan pezina, dsb. Melainkan yang Allah ancam pertama kali adalah para penguasa.

(diinisiasi dari kultwit Ust. Lukman Hakim, Lc; @LHSyuhada)

Selamat Dunia Akhirat(?)

fitrah anak

Papan baliho iklan sebuah sekolah kenamaan yang mejeng di pinggir jalan yang biasa saya lewati, ternyata berhasil mengusik perhatian. Strategi marketing yang sukses. Jargonnya nggak nanggung. “Selamat Dunia Akhirat”. Sambil lewat, saya hanya bisa mengamini. Mudah-mudahan segenap jajaran instansi sekolah tersebut benar-benar berkomitmen dengan visinya. Kerja keras.

Selamat dunia akhirat. Tentu ini sebuah visi besar yang harus diapresiasi. Rata-rata sekolah berbasis Islam memanggul cita-cita yang sama. Namun mengawal proses untuk mewujudkannya adalah konsekuensi lain dari ‘iming-iming’ itu. Sungguh, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan sarana dan fasilitas di dalamnya.

Memilihkan sekolah atau metode pendidikan terbaik bagi anak-anak kita memang bagian dari ikhtiar. Namun buah dari ikhtiar tidak jatuh jauh dari tujuan dan niat kita. Bagi lembaga maupun nonlembaga pendidikan pun demikian. Menyediakan berbagai fasilitas terbaik bagi anak didik juga bagian dari ikhtiar. Namun ketiadaan sumber daya manusia yang beradab, menjadikan segala fasilitas itu tiada artinya. Niat yang benar tidak selalu berbuah baik. Ikhtiar yang baik juga tidak selalu berdasar niat yang benar. Keduanya disebut ujian. Namun semestinya, niat yang jujur sejalan dengan ikhtiar yang benar.

Guru-guru berkualitas internasional bisa saja kita ‘beli’ ilmu dan pengalamannya. Namun, tidak ada yang mampu membeli keikhlasannya, kecuali Allaah. Anak-anak yang lugu, polos, dan lucu-lucu itu bisa saja kita titipkan pada lembaga-lembaga berkelas internasional. Namun, tidak ada yang ‘menjual’ fitrahnya yang bersih dan lurus, kecuali Allaah.

Lalu berhasratkah kita para orangtua dan pendidik ‘membeli’ fitrahnya? Tidak ada alat tukar fitrah anak-anak kita selain dengan fitrah itu sendiri. Tukar dengan iman kita. Tukar dengan doa kita. Tukar dengan kesabaran kita. Tukar dengan keikhlasan kita. Tukar dengan ikhtiar terbaik kita; ikhtiar yang diridhai-Nya.

Laa haula walaa quwwata illaa billaah…