Timbuktu : Kota Legenda Islam di Afrika Barat

Timbuktu; sepetak negeri di Afrika yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.

I'm Proud To be Muslim

Timbuktu

Sungguh tragis nasib Timbuktu. Kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam di benua Afrika Barat itu kini telah berubah menjadi wilayah yang terisolasi dan terpencil. Situasi dan pemandangan “negeri di ujung dunia” itu begitu kontras bila dibandingkan dengan Timbuktu 900 tahun lalu ketika Islam mencapai kejayaannya di wilayah itu.

Sejarah mencatat pada abad ke-12 M Timbuktu telah menjelma sebagai salah satu kota pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang termasyur. Di era kejayaan Islam, Timbuktu juga sempat menjadi sentra perdagangan terkemuka di dunia. Rakyat Timbuktu pun hidup sejahtera dan makmur.

Sejarawan abad XVI, Leo Africanus menggambarkan kejayaan Timbuktu dalam buku yang ditulisnya. “Begitu banyak hakim, doktor, dan ulama disini (Timbuktu). Semua menerima gaji yang sangat memuaskan dari Raja Askia Muhammad – penguasa negeri Songhay. Raja pun menaruh hormat pada rakyatnya yang giat belajar,” tutur Africanus.

Di era keemasan Islam, ilmu pengetahuan dan peradaban tumbuh sangat pesat di Timbuktu. Rakyat di daerah…

Lihat pos aslinya 513 kata lagi

Iklan

Inspiring Words for Bloggers

Menulis itu, emm, semacam katarsis. Dan blog adalah salah satu wadah penampungnya. :))

Arip Blog

inspiring words for bloggers

Selamat malam Minggu bagi yg merayakan!

Meminjam judul bukunya Mohammad Fauzil Adhim, Inspiring Words for Writers, saya menyortir berbagai kata-kata motivasi yg diperuntukan buat para penulis, khususnya narablog. Sebenarnya ini dibuat sebagai nutrien saja bagi diri pribadi.

  1. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. – Pramoedya Ananta Toer
  2. Semua harus ditulis. Apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti akan berguna.Pramoedya Ananta Toer
  3. Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.Pramoedya Ananta Toer
  4. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.Ali bin Abi Thalib
  5. Jika kamu bukan seorang raja, Jika kamu bukan seorang ulama besar, Jadilah seorang penulis! – Imam Ghozali
  6. Mungkin ada orang yang menulis untuk mengatakan kata hatinya, maafkan aku kalau salah, karena…

Lihat pos aslinya 519 kata lagi

Tentang Kontribusi

Blog Pribadi Abu Ezra Al Fadhli

Kita sepakat bahwa seorang muslim wajib berkontribusi dalam dakwah dan jihad, sekecil apapun kontribusinya. Baik itu dengan menggunakan harta, tenaga, pikiran, jiwa, dan raga. Setiap orang dengan kompetensinya masing-masing bisa menyumbangkan apa yang ia miliki sebagai bagian dari kontribusinya untuk Islam.

Namun demikian seseorang tidak bisa memaksakan orang lain untuk berkontribusi dengan sesuatu yang sama. Sesuatu yang sesuai dengan apa yang ia atau golonganya miliki. Hal ini disebabkan bahwa setiap orang memiliki kapasitas ilmu, pengatahuan, dan pemahaman yang berbeda-beda dalam tataran praktis. Islam tidak menghendaki semua orang menjadi ahli fiqih, sebagaimana Islam juga tidak menghendaki semua orang menjadi ahli kesehatan. Semua memiliki porsinya, dan peradaban yang akan dibangun membutuhkan semua itu.

Kita tidak menutup mata bahwa ada sebagian orang yang memiliki multi talenta dalam ilmu dan pengetahuan sehingga ia bisa menjadi ahli fiqih sekaligus tabib yang ahli, bahkan memahami dengan mendalam tafisr Al-Quran dan ilmu Hadits. Namun, jumlah orang seperti…

Lihat pos aslinya 138 kata lagi

Tentang Dakwah via Demokrasi

“Namun apa jadinya bila semua itu menjadi ajang saling vonis yang satu terhadap yang lainnya. Kelompok yang mengharamkan aktivitas dakwah parlemen memberikan vonis kafir-musyrik bahkan seringkali ditujukan secara ta’yin (personal), sedangkan para aktivis dakwah parlemen sering menuduh mereka yang anti demokrasi sebagai orang-orang yang menyerang dari dalam, menggunting dalam lipatan, dan menusuk dari belakang.”

Blog Pribadi Abu Ezra Al Fadhli

Democrazy Democrazy

Sampai saat ini saya masih berpegang pada pendapat yang disampaikan oleh Al Ustadz Farid Okbah, bahwa memanfaatkan demokrasi sebagai wasilah dakwah merupakan ikhtilaaf tanawwu’ fil ijtihaad [perbedaan pendapat variatif dalam berijtihad].[1] Namun adapun seseorang akan beramal memilih yang mana, tentu berbeda-beda tingkatan kewajibannya:

(1) Bila ia sanggup mengkaji dalil, maka wajib bagi dirinya melakukan tarjih (mengkaji mana yang lebih kuat dan dekat kepada kebenaran) atas pendapat-pendapat yang ada. Ini adalah maqam-nya para ulama dan mujtahid.

(2) Bila ia belum mampu, maka wajib bagi dirinya berijtihad untuk memilih jalan yang paling selamat di dunia dan terutama di akhirat, berdasarkan kaidah “yusannul khuruuj anikhtilaafil ulamaa” [disunnahkan keluar dari perbedaan pendapat para ulama]. Ini mungkin maqam-nya para thalabul ilmi. [2]

(3) Bila ia masih belum mampu karena sangat awam terhadap permasalahan tersebut, maka ijtihadnya adalah “memilih imam mana yang paling layak untuk ditaklidi.” [3] Saya harap kita sekalian…

Lihat pos aslinya 978 kata lagi