Kartini Masa Kini dan Kodrat yang Pudar

kartini 2017

Euforia selebrasi 21 April masih berulang di tahun ini. Anak-anak sekolah kembali memecah perhatian para pengguna jalan dengan kilauan perhiasan sanggul, busana, dan kosmetik yang katanya “Ala Kartini”. Didukung dengan perangkat elektronik canggih abad ini, anak-anak perempuan penerus bangsa itu juga turut disibukkan dengan berfoto ria di setiap sudut jalan dan ruang, mengabadikan momen dan bedak yang tidak anti luntur. Ada yang berkelindan dalam pikiran. Seperti inikah style Kartini tempo dulu? Inikah yang dulu diperjuangkan Kartini lewat tulisannya? Lalu dimanakah sebenarnya relevansi antara meneladani spirit belajar Kartini dengan merias rupa anak-anak sekolah dengan make up super tebal?

Terpisah dari anak-anak perempuan dan para calon ibu di masa depan itu, tulisan-tulisan seputar Kartini masih membanjiri media sosial. Siapa dan bagaimana Kartini terus menuai pro-kontra. Ada yang menyoroti fakta kedekatan Kartini dengan Belanda dan Theosofi. Ada juga yang menelisik sisi spiritualitas Kartini. Namun kali ini, mari sejenak kita melepaskan diri dari pro-kontra Kartini, sang putri priyayi.

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902)

Salah satu isi surat Kartini di atas mungkin jarang dibicarakan. Padahal, isi surat tersebut justru merefleksikan apa yang selama ini menjadi mimpinya. Mengapa ia begitu bersemangat menyuarakan pendidikan bagi kaum perempuan. Ternyata karena Kartini menyadari peran domestik perempuan sebagai madrasah bagi buah hatinya, dan ia ingin kaumnya juga menyadari peran vital itu.

Kartini kala itu merasakan sendiri bagaimana perempuan tidak dipenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan. Mereka menghabiskan waktu dalam pingitan, bagaikan burung yang terpenjara dalam sangkar. Ia menyadari posisinya kala itu dan tak ingin terus terkungkung dalam kondisi demikian. Kartini mendobrak tradisi itu. Kartini melawan. Kartini berjuang. Ia dan kaumnya merasa berhak memperoleh pendidikan.

“…Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anakTangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Lantas bagaimanakah ibu dapat mendidik anak kalau ia sendiri tak berpendidikan?”

Hampir di setiap suratnya, Kartini mengangkat tema besar tentang pendidikan perempuan. Ia bertumpu pada persoalan bahwa perempuan adalah sekolah pertama bagi buah hatinya, generasinya. Namun yang mengherankan, hari ini apa yang didengungkan oleh khalayak tentang emansipasi, yang konon lahir dari buah pikir dan perjuangan Kartini, justru seakan menjauhkan perempuan dari semangat keibuan itu sendiri. Spirit back to home justru dipandang sebelah mata dan dianggap menyalahi konsep emansipasi wanita.

Emansipasi yang diterjemahkan publik hari ini adalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Perempuan berkarir sebebas mungkin, berpendidikan setinggi mungkin, memperoleh kesetaraan hak dengan lelaki di setiap lini, berlomba mengembangkan diri dan meraih prestasi, namun mereka terlena dengan itu semua hingga lupa bahwa Allah menitipkan rahim dalam jiwa dan tubuhnya. Rahim dalam jiwa berupa kelembutan dan kasih sayang, rahim dalam tubuh berupa “wadah” untuk tempat bertumbuh janin yang kelak menjadi generasi penerusnya. Kedua hal ini adalah fitrah mulia yang tak dimiliki kaum lelaki.

Perempuan mendadak lupa kodrat bahwa di belakangnya ada generasi yang menantinya untuk dididik dan dibesarkan sepenuh jiwa. Perempuan juga mendadak lupa betapa terhormatnya kedudukan istri yang taat kepada suaminya, melebihi kehormatan gelar duniawi yang berhasil diraihnya. Bukankah prestasi ini yang telah ditawarkan oleh Rasulullah kepada kaum wanitanya? Lalu mengapa para Muslimah seakan berlomba mencari kemuliaan lain di luar semua itu?

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan dan kehormatannya (dari perbuatan zina), dan ia taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR. Ahmad)

Perempuan masa kini barangkali sudah terlalu sibuk memoles fisik, berusaha eksis di mata publik, tapi jika ditanya kesiapan dan kesadarannya menjadi ibu pendidik, seolah mereka terdiam tak berkutik. Jadi benarkah emansipasi hari ini telah ditempatkan sesuai kodrat dan fungsinya? Jika belum, sudah saatnya kita tak lagi terjebak pada euforia selebrasi semata. Untuk apa mempercantik fisik “ala Kartini” jika pola pikir kita justru kontradiktif dengan apa yang selama ini Kartini perjuangkan.

Euforia hari Kartini semestinya tidak membuat kita menanggalkan fitrah keperempuanan yang kita miliki. Kartini tak pernah meminta dibebastugaskan dari kewajiban sebagai seorang ibu dan istri. Melalui surat-suratnya, Kartini seolah berpesan kepada perempuan untuk bangun dan sadar terhadap kodratnya sebagai “ratu” di dalam rumah yang terhormat; menjadi istri pendukung suami dan ibu pendidik generasi. Tentu untuk melakukan dua tugas besar ini, perempuan membutuhkan ilmu dan pendidikan.

Sekali lagi, terlepas dari pro-kontra soal kisah kepahlawanan Kartini, sebagai Muslimah semestinya kita tak ikut limbung dan hilang arah. Tak ada yang perlu dirayakan dari 21 April, tak ada yang istimewa dari tanggal itu. Islam telah lebih dulu mengajarkan kita spirit keilmuan dan pendidikan, sesuatu yang konon begitu diperjuangkan Kartini. Namun demikian, esensi perjuangan Kartini semestinya juga dimiliki para Muslimah untuk berkarya dan berprestasi dari dalam rumah. Sebagai umat yang diwarisi Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai pengaburan makna emansipasi justru mencederai fitrah kita sebagai perempuan, sebab dien kita telah menempatkan perempuan pada kedudukan yang mulia.

Salam,

Nina dan keresahannya. 🙂

Menyatukan Frekuensi

munir 2

Pernah suatu saat saya terbayang, sebenarnya apa sih yang membuat Suciwati kala itu begitu mantap menerima pinangan Munir; lelaki yang “sukses” menjadi “buronan” aparat pemerintah karena keberanian level singa dalam mengungkap borok dalam kasus penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Tapi seketika rasa penarasan saya terjawab karena teringat sebuah kalimat, bahwa seorang lelaki bermental singa, tentu layak mendapatkan perempuan yang bermental singa pula. Saya rasa, keduanya memang klop. Laiknya pedang bertemu baju besinya yang saling menjaga, menguatkan, dan mendukung. Kisah Munir dan orang-orang bermental pejuang yang semisal dengannya, memang selalu menarik diungkap dari sisi yang berbeda. Sebagai wanita, tentu kita perlu tertarik untuk menelisik kisah sepak terjang sang istri. Apa yang membuatnya seberani itu bersuamikan lelaki yang namanya –jika boleh dikatakan–, “di-blacklist pemerintah”, karena dianggap membahayakan kaum elite yang haus harta, tahta, dan tentu saja… darah.

“Pahlawan adalah Martir Kebebasan.”

Saya teringat kata-kata Suciwati tentang sang suami, yang diungkapkannya pada bulan April dua tahun silam saat acara peresmian jalan Munir di kawasan Den Haag, Belanda. Ia berujar bahwa suaminya pernah menuturkan, seorang yang pantas disebut pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara.

munir 1

Pahlawan adalah para martir kebebasan yang tak dikenal, gugur di medan perang, dan dikebumikan tanpa pusara. (Munir Umar Thalib)

Wanita yang sempat menyayangkan mengapa nama suaminya justru “diabadikan” di negeri lain, bukan di tanah kelahiran suaminya sendiri inipun menambahkan, “Nilai-nilai yang diyakini dan hal-hal baik yang dilakukan oleh seorang pejuang kebenaran tak perlu dikenang (dengan penghargaan, –ed).” Karena baginya, kebenaran dan keadilan adalah sesuatu yang pantas diperjuangkan siapapun di muka bumi ini, entah dihargai atau tidak.

Peran Ganda Seorang Istri

Sepak terjangnya mengungkap dalang pembunuh sang suami yang hingga saat ini belum juga terungkap tuntas, tak putus dilakukannya. Di samping itu, ia adalah seorang single fighter yang berperan ganda; mendidik dan membesarkan anak-anak, serta menjadi ‘benteng pertama’ dalam mem-back up perjuangan suaminya. Tidak itu saja, bahkan (menurut sebuah sumber yang pernah saya baca) Suciwati bersama rekan-rekannya mendirikan taman kanak-kanak di Malang. Luar biasa, bukan? Tentu ketangguhan semacam ini patut diapresiasi bahkan ditiru wanita masa kini. Betapa wanita tidak selalu identik dengan sifat lemah dan tak berdaya. Kelembutan naluri tidak berarti berbanding lurus dengan kelemahan mental.

Fitrah wanita sebagai pendidik generasi yang menuntut kita memahami dunia anak-anak, bahkan tak jarang membuat kita perlu bertingkah seperti anak-anak, tak berarti membuat jiwa dan karakter kita kekanak-kanakan juga, bukan?

Menikah; Seni Menyatukan Frekuensi

Suciwati tidak pernah berjuang seorang diri, sebab istri-istri pejuang telah diwakilkan oleh banyak nama. Suciwati adalah salah satu potret wanita tangguh. Bahkan jauh sebelum Munir berjuang bersama istrinya, memperjuangkan sesuatu yang telah menjadi nafas dalam geraknya, Nabi Ibrahim juga telah berjuang bersama istrinya, Hajar. Memperjuangkan sebuah keyakinan, “Jika yang kita kerjakan ini adalah perintah Allah, niscaya kita takkan pernah disia-siakan oleh-Nya.”

Atau sebagaimana kebenaran abadi yang diperjuangkan Rasulullah bersama Khadijah, di masa-masa kritis awal mereka berdua berjuang dan bergerak. Atau sebagaimana istri Najmuddin Ayyub yang mencari suami yang sefrekuensi visi dengannya, hingga akhirnya –bi idznillah, bermula dari kesamaan visi itulah lahir Shalahuddin Ayyub, Al-Fatihnya Palestina. Lalu ada juga istri Buya Hamka yang pernah mengingatkan suaminya untuk “menjauhi kursi penguasa” karena baginya amanah sebagai seorang penjaga masjid lebih utama di sisi Allah.

Menyinggung Suciwati, saya pun teringat istri Siyono (Allahu yarham), Mufida. Segepok “uang tutup mulut” dari aparat pemerintah atas kasus pembunuhan suaminya; imam masjid yang ditangkap tanpa surat izin penangkapan lalu pulang dalam kondisi nyawa telah meregang, ditolaknya mentah-mentah. Sebuah perjuangan mempertahankan izzah dan keyakinan yang patut diteladani.

Barangkali apa yang menjadi inspirasi dan nafas perjuangan Munir dan istrinya tidak sama dengan beberapa contoh figur teladan di atas. Tapi skenario hidup yang mereka alami serupa. Kehilangan seorang suami atau bahkan istri pejuang. Kehilangan nahkoda atau awak perjuangan. Kehilangan belahan jiwa yang dicintai, bahkan lebih dari sekadar belahan jiwa. Sebab nafas perjuangan mereka telah mengalir sehati sejiwa. Skenario semacam itu tentu berpotensi membuat oleng bahtera yang tengah berlayar di tengah samudera yang berombak ganas. Namun sejak awal, mereka telah memilih mengikrarkan akad mitsaqan ghalizha di atas sebuah kesamaan frekuensi, keselarasan visi dan misi. Kesamaan frekuensi inilah yang menjadi benih awal timbulnya sakinah, ketenangan dalam rumah tangga. In sya Allah.

JCPP

Kesamaan Tujuan adalah Titik Awal Keberangkatan

Bermodalkan rasa “klik” yang tumbuh dari kesibukan yang sama di dunia advokasi buruh, meski ia sendiripun telah menyadari konsekuensi jika hidup bersama Munir, Suciwati menerima pinangan aktivis HAM itu. Katanya, “Karena apa yang kami perjuangkan sama…”

Kesamaan tujuan dan ruang gerak inilah yang memang lebih mudah menumbuhkan ketenangan jiwa, karena kita paham apa yang partner hidup kita kerjakan, bagaimana lingkungan dan rekan-rekan kerjanya, serta yang lebih penting adalah memahami bagaimana risiko dan konsekuensi menjalani hidup bersamanya. Saya tidak mengatakan bahwa guru tidak cocok dengan dokter, atau relawan kemanusiaan tidak klop dengan pegawai kantoran karena atmosfer dan konsekuensi ruang gerak yang berbeda. Tapi yang ingin saya garisbawahi adalah kesetaraan ghoyyah (tujuan) dalam mengarungi bahtera pernikahan, agar pernikahan itu tak sekadar digadang-gadang keindahannya di dunia, namun abadi hingga surga.

Maka jika boleh merumuskan teori, jangan cari pasangan yang pasang gelarnya cuma sampai S2 (sehidup semati), ini jelas sangat kurang. Atau cuma S3 (sehidup semati seperjuangan), ini juga masih kurang. Tapi carilah yang S4 (sehidup semati sesurga seperjuangan), nah barangkali ini barulah lengkap. 🙂

Yaa Rabb, anugerahkanlah kepada kami keshiddiqan dalam ghayyah, keikhlasan dalam melangkah, serta kesabaran dalam memperjuangkan Jannah. Aamiin.

Best regards,

Nina dan remah-remah pikirannya 😉

Dicari: Pendidik Sholeh!

pendidik yang shaleh

Oleh: Ust. Budi Ashari, Lc

Kebesaran seorang pendidik bisa dilihat dari hasil didikannya. Dunia hingga hari ini belum bisa menduplikat pemimpin sesholeh dan sehebat Umar bin Abdul Aziz. Dia adalah hasil dari perjalanan panjang sebuah pendidikan.

Agar kita sadar bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah karya besar para pendidiknya, perlu diketahui beberapa hal:

  1. Ayah dari Umar yaitu Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang Gubernur Mesir yang bertugas lebih dari 20 tahun. Sementara Umar bin Abdul Aziz besar dan menuntut ilmu di Madinah, kota kelahirannya. Jadi keberadaan anak dan orangtua yang berjauhan jelas memerlukan pengasuhan para pendidik yang istimewa.
  2. Umar bin Abdul Aziz bukan anak yang sudah mudah diatur sejak awal. Ada beberapa kisah di masa kecilnya Umar yang menunjukkan bahwa gaya seorang anak pejabat begitu lekat pada dirinya. Seperti menghabiskan waktu untuk bersolek yang mengakibatkan terabaikannya kewajiban.

Juga kisah berikut ini,

Suatu saat Umar bin Abdul Aziz ditanya, “Bagaimana kisah pertama kali kamu menjadi baik?”

Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Suatu saat saya ingin memukul pembantu saya. Dia berkata kepada saya, ‘Hai Umar, ingatlah suatu malam yang paginya adalah hari kiamat’.”

Artinya, Umar bin Abdul Aziz yang memang cerdas dan sesungguhnya sangat bersemangat belajar sejak awal usianya, juga mempunyai celah-celah diri yang memerlukan seorang pendidik yang mampu mengubahnya menjadi ledakan potensi yang dahsyat.

Salah seorang pendidik Umar bin Abdul Aziz yang langsung diserahi oleh ayahnya adalah seseorang yang bernama: Sholeh bin Kaisan. Kita harus mengenal Sholeh bin Kaisan. Sebagai petunjuk bagi para pendidik atau pengasuh generasi yang diserahi amanah untuk mendidik anak orang lain. Beginilah pendidik yang berhasil melahirkan pemimpin fenomenal tiada duanya di bumi ini!

Sholeh bin Kaisan sebenarnya tadinya hanya seorang maula (mantan budak yang dibebaskan) Bani Ghifar. Tapi begitulah, ilmu dan iman mengangkat seseorang. Hingga para ahli sejarah dan ulama seperti adz-Dzahabi (dalam Siyar a’lam an Nubala’ dan Tadzkiroh al Huffadz ) menyebut Sholeh bin Kaisan sebagai berikut: Al Imam, Al Hafidz, Ats Tsiqoh, salah satu ulama besar hadits.

Sholeh mengumpulkan ilmu hadits, fikih dan muruah (kewibawaan menjaga kehormatan diri). Dia adalah salah seorang ulama besar Kota Madinah. Sebutan Imam, Hafidz, Tsiqoh adalah merupakan sebutan para ahli hadits yang menunjukkan tingkatan ilmu yang sangat tinggi dan amanah serta kesholehan yang tidak diragukan.

Dari semua sifat mulia inilah maka para pendidik hari ini bisa belajar. Bahwa seorang pendidik harus benar-benar menghiasi dirinya dengan berbagai sifat mulai tersebut. Setidaknya ada 3 sifat yang ada pada gelar-gelar bagi Sholeh bin Kaisan, yang harus ada pada sifat para pendidik hari ini:

a. Ilmu yang mumpuni
b. Kesholehan yang tidak diragukan
c. Muruah (sebuah sifat yang menjaga seseorang dari rusaknya citra, walau hal tersebut bukan dosa)

Sholeh bin Kaisan diberikan Allah usia yang panjang. Menurut sebagian riwayat, Sholeh meninggal dengan usia lebih dari 100 tahun. Meninggal setelah tahun 140 H. Dengan usia yang panjang itulah, dia bisa menyaksikan hasil didikannya yaitu Umar bin Abdul Aziz saat menjadi Khalifah hingga Umar meninggal tahun 101 H. Umar bin Abdul Aziz yang telah merasakan hasil didikan dalam dirinya yang telah ditempa oleh Sholeh bin Kaisan, maka Umar juga menitipkan anak-anaknya agar dididik juga oleh Sholeh bin Kaisan.

Dr. Ali Ash-Shallaby menjelaskan hal ini, “Seorang guru atau pendidik terhitung sebagai salah satu ruang sudut dalam proses pengajaran. Umar bin Abdul Aziz telah memilih pendidik bagi anak-anaknya dari orang terdekatnya, sangat dikenalnya dan sangat dipercayainya.” (Lihat dalam bukunya, “Umar ibn Abdil Aziz”)

Orang itu adalah Sholeh bin Kaisan. Penjelasan ini selain menjadi pelajaran bagi para pendidik, juga menjadi wejangan bagi para orangtua yang mau menitipkan anak-anaknya dalam pendidikan. Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang ayah menitipkan pendidikan dan pengasuhan anaknya kepada orang yang dikenalnya betul dari semua sisi juga sangat dipercayainya.

Para pendidik – arsyadakumullah (semoga Allah membimbing antum semua) -, menjadi guru atau pendidik generasi bukanlah sekadar sebuah profesi yang dengannya seseorang mendapatkan uang. Tetapi ini adalah amal mulia yang membanggakan di sisi Allah.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik dengan keilmuwan yang tak diragukan.
Jangan berhenti belajar ketika telah menjadi guru.
Karena inilah masalah yang sering dijumpai dari para guru.
Peningkatan ilmu hampir tidak terlihat saat telah menjadi seorang guru.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik dengan kesholehan diri yang tidak meragukan lagi.
Karena anak didik kita tidak hanya mendengarkan ilmu yang disampaikan.
Tetapi juga melihat gerak-gerik para guru.
Kesholehan guru adalah sesuatu yang tidak terajarkan tetapi tertanamkan pada anak. Inilah bahayanya para pendidik dengan ketidakjelasan moral.
Bagaimana jadinya generasi ini, tanpa pendidik yang sholeh.

Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan.
Seorang pendidik yang menghiasi dirinya dengan kewibawaan seorang ahli ilmu.
Dia menjaga dirinya bukan saja dari dosa.
Tetapi juga dari berbagai hal yang akan mencederai kewibawaan dirinya sebagai ahli ilmu.
Bisa jadi bukan dosa, tetapi karena perbuatan itu maka jatuhlah harga diri seorang guru.
Maka apalah jadinya anak-anak, jika para pendidik telah jatuh harga dirinya di hadapan orangtua murid dan anak-anak.

Dicari pendidik seperti Sholeh bin Kaisan!
Untuk melahirkan anak didik seperti Umar bin Abdul Aziz!

Doa Sang Guru

doa guru

Muhammad bin Ismail Al-Bukhari mengisahkan tentang masa kecilnya,

Di masa aku kecil, aku sering datang ke majelis para ahli fikih (fuqaha). Ketika datang kesana aku merasa malu untuk mengucapkan salam kepada mereka.

Suatu ketika, muaddib (guru) berkata kepadaku, “Berapa (pelajaran) yang kamu tulis?” “Aku menulis dua”, jawabku (maksudnya beliau menulis dua hadits, tapi tidak lengkap dalam menjawab pertanyaan muaddib-nya sehingga mengundang tawa para hadirin di majelis ilmu tersebut).

Maka salah satu syaikh di majelis tersebut menasehati mereka, “Jangan kalian tertawakan anak ini, bisa jadi suatu hari nanti kalian akan ditertawakan anak ini.”


Dengarkanlah wahai orangtua dan para guru perkataan emas sang syaikh! Beliau menanamkan kepercayaan diri kepada anak yang baru saja ditertawakan di majelis ilmu.

Syaikh tersebut –semoga Allah merahmati beliau- memberi pelajaran yang tidak pernah terlupakan oleh murid-muridnya tentang makna menghormati dan tidak merendahkan orang lain. Majelis ilmu adalah majelis terhormat, bukan majelis bullying. Dengan taufik dari Allah, motivasi sang guru meneguhkan langkah Imam Bukhari menjadi ahli ilmu terkemuka. Sebagai bukti tak terbantahkan, kitab Shahih Bukhari adalah adalah kitab yang paling shahih setelah Kitabullah. Allahu Akbar!

Maka simpanlah doa-doa terbaikmu dan lantunkan di saat yang tepat kepada murid-muridmu, wahai bapak dan ibu guru!

(Dikutip dari facebook Kuttab Al-Fatih Banda Aceh, tulisan Ust. Baidhawi Razi)

Bukan Zaman Abrahah

Sejarah selalu memiliki periode. Sejarah pasti diciptakan oleh para punggawanya. Kelak, kitalah bagian dari sejarah itu.
Sejarah selalu memiliki periode. Sejarah pasti diciptakan oleh para punggawanya. Kelak, kitalah bagian dari sejarah itu.

Penulis: Dr. Raghib As-Sirjani

Penerbit: Aqwam

“Kemenangan membutuhkan kerja keras, karena kini bukan lagi zaman Abrahah, sebuah era dimana musuh-musuh Islam dibinasakan dengan pertolongan langsung dari Alloh Ta’ala berupa burung-burung ababil. Jika kalian menolong agama Alloh, pastilah Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.”

Peristiwa “Pasukan Gajah” merupakan peristiwa terakhir dalam menolong agama Alloh dengan cara yang “luar biasa”, yaitu dengan mengirimkan pasukan burung Ababil yang menghanguskan musuh-musuh-Nya. Alloh telah memberikan berbagai aturan yang jelas dalam melakukan perubahan, dimana keberadaannya berbeda-beda sesuai tahapan yang dilalui kaum muslimin. Pada suatu masa, kaum muslimin cukup hanya berdakwah saja, bisa dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Pada suatu masa yang lain, kaum muslimin perlu melakukan perjanjian damai. Namun, pada saat yang lain pula, mereka perlu meninggikan bendera jihad. Bagaimanapun bentuk usaha itu, yang pasti saat ini:

“Pertolongan Alloh tidak akan turun kepada orang-orang yang pasif dan enggan bergerak untuk menciptakan perubahan.”

Sesungguhnya, kondisi yang saat ini sedang menimpa umat Islam bukan lagi sekedar problem kenegaraan, masyarakat, ataupun individu. Ini adalah problem umat Islam secara keseluruhan. Sadarkah kita, jika umat yang berabad-abad lalu mendongakkan kepala terhadap orang-orang kafir, kini justru mengangguk-anggukkan kepala ke sisi Barat dan Timur? Permasalahan utama umat Islam saat ini adalah permasalahan yang bersifat pemikiran, yakni ketidakpahaman terhadap Islam, bukan semata-mata masalah kekuatan (fisik). Bukankah saat ini jumlah umat Islam berada pada jumlah yang sangat fantastis? Ingatkah kita dengan kisah perang Badar yang dengan ijin-Nya dapat meraih gemilang, padahal jumlah kaum Muslimin saat itu sangatlah sedikit (300 : 1000). Tetapi, karena kualitas ruhaniyah (bukan jasmaniyah) mereka, maka Alloh-pun mempergilirkan kemenangan itu kepada mereka (bisa dibuka QS. Ali-Imran : 123). Solusi nyata dari problematika ini adalah kembali memahami Islam dari sumber-sumber aslinya.

10 Prinsip yang Harus Dipahami Umat Islam

  1. Jika Engkau menolong agama Alloh, niscaya Dia akan menolongmu (QS. Muhammad: 7)
  1. Umat Islam adalah umat pilihan yang tidak akan pernah mati. Sunnah pergiliran itu pasti, dimana selain mempergilirkan kemenangan, Alloh juga mempergilirkan generasi. Generasi Islam yang rusak akan digantikan dengan generasi yang shalih, yaitu generasi yang merindukan jihad, berjuang, bergerak, dan mempersembahkan segala sesuatunya kepada Alloh Ta’ala semata. (QS. Muhammad: 38)
  1. Umat dzolim yang memusuhi umat Islam pasti binasa (QS. Ali Imran: 196-197)
  1. Kegagalan sangat erat dengan perpecahan dan berbantah-bantahan. “Kemenangan tidak akan bersisian dengan perpecah-belahan.” (QS. Al-Anfal: 46 dan Ali-Imron: 103). Bukankah Rasulullah juga telah berpesan kepada kita untuk bergabung dan saling menguatkan dalam jama’ah?
  1. Kemenangan tidak dapat diimpor dari negara/bangsa/umat lain.

    “Bukankah untuk menggaruk kulit tidak ada yang sebanding dengan kuku jari sendiri? Seperti itulah kemenangan. Kita yang membutuhkan kemenangan, maka kita sendirilah yang mengusahakan, bukan dengan mengemis pada musuh untuk meminta bantuan.”

  1. Suatu kaum akan dipimpin dengan orang yang sesuai dengan kondisi kaum tersebut. Pada dasarnya, pemerintah adalah gambaran riil kondisi suatu masyarakat yang dipimpinnya.
  1. Waspadai strategi usang yang diusung musuh-musuh Alloh (Amerika dan sekutunya). Strategi perlawanan yang dilakukan Amerika dan antek-anteknya sebenarnya merupakan strategi usang kaum kafir berabad-abad silam untuk mengeluarkan kita dari cahaya Islam. Mereka hanya melakukan modernisasi, hingga tanpa sadar saat ini kita sedang kembali diperangi.
  1. Umat Islam bukan umat yang lemah. Umat Islam adalah umat yang dianugerahi berbagai macam potensi. Di atas semua potensi yang ada pada tubuh umat Islam, ada satu kekuatan yang mahadahsyat, yaitu kekuatan aqidah yang TIDAK DIMILIKI UMAT LAIN, yaitu kekuatan berupa keyakinan yang menghujam: “Cukuplah Alloh sebagai pelindung kami, dan tiada pelindung sedikitpun bagi mereka.”
  1. Kejayaan Islam membutuhkan rasa tanggung jawab individual. Jikalau seluruh umat Islam hanya duduk berpangku tangan dan enggan melakukan pergerakan, maka untuk alasan apa kita ikut bermalas-malasan? Jikalau seluruh manusia ingin pergi ke Neraka, maka untuk alasan apa kita juga mengikuti kebinasaan mereka?
  1. Jangan menunda pekerjaan yang bisa dikerjakan saat ini hingga menunggu saat berikutnya

    Setan tidak serta merta membisiki kita untuk berhenti berbuat kebaikan, melainkan hanya menyuruh kita dengan menundanya, maka berbuatlah sekarang, saat ini juga.

Kemudian Apa yang Bisa Dilakukan Kaum Muslimin?

  1. Jelaskan pandangan dan persepsi Islam terhadap perubahan. Ajarilah orang lain semampu kita. Ciptakanlah suasana yang dapat membuat umat Islam bangga dengan ke-Islamannya, sehingga tumbuhlah dalam jiwa-jiwa mereka harapan untuk bangkit, cinta berjihad fii sabilillah, serta kerinduan untuk meraih kesyahidan.
  2. Membina anak-anak dan para pemuda dalam rangka perbaikan serta menebarkan ruh jihad dan semangat juang untuk menyongsong kejayaan Islam.
  3. Senantiasa memanjatkan doa dengan penuh ketundukan mengiringi berbagai usaha yang telah dikerjakan.

Mengapa Umat Islam Terpuruk Seperti Ini?

Faktor penyebab keterpurukan itu secara garis besar terbagi menjadi 2, yaitu:

  1. Ulah kaum muslimin sendiri, yaitu ketika mereka melalaikan agama Alloh, bahkan jusru bersekutu dengan musuh-musuh-Nya.
  2. Konspirasi jahat musuh-musuh Alloh yang benang merahnya sudah ditenun sejak berabad-abad silam. Konspirasi jahat tersebut memainkan berbagai peran antagonis, diantaranya: kejahatan dalam memalsukan sejara, kejahatan memutar-balikkan fakta, sekaligus bermain peran sebagai “pembunuh karakter”, serta kejahatan dalam mendewakan negara Barat.

Tentu belum kering dalam benak kita, bagaimana mereka memberikan label-label yang memunculkan Islamofobia di hati umat Islam saat ini, seperti: teroris, Islam radikal, Islam garis keras, dsb. Padahal label-label tersebut tersemat pada tubuh umat Islam yang berusaha menjalankan syari’at-Nya, bukan pada kaum yang secara terang-terangan membunuhi anak-anak dan wanita, bukan pada kaum yang secara sistematis merusak pemikiran pemuda penerus perjuangan.

10 Realita bahwa Umat Islam Tidak Akan Pernah Mati

  1. Sunnah pergiliran. Alloh ‘Azza wa jalla berkehendak mempergilirkan masa kejayaan dan kemunduran di antara manusia agar kita dapat mengambil pelajaran. (QS. Ali-Imran: 140)
  1. Umat Islam adalah umat yang selalu unggul dan menang. Tabiat Islam adalah:

    “Keberadaannya tidak akan jatuh, kecuali setelahnya pasti bangkit kembali. Eksistensinya tidak akan melemah, kecuali setelahnya akan kuat kembali. Dan kedudukannya tidak akan terhina, kecuali setelahnya akan mulia kembali. Mengapa demikian? Karena tabiat umat Islam adalah umat yang menjadi saksi atas umat yang lainnya.”

  1. Hakikat peperangan. “Sesungguhnya jika terjadi peperangan antara umat Islam dengan orang-orang kafir, maka hakikatnya orang-orang kafir tersebut sedang memerangi Alloh. Peperangan yang terjadi sebenarnya adalah antara Alloh dengan orang yang keluar dari jalan-Nya, mengingkari-Nya, ridha dengan hukum selain hukum-Nya, dan rela mengambil syari’at selain dari Kitab-Nya yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 17)
  1. Hakikat berita gembira dalam Al-Quran dan As-Sunnah. “Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47) “Sesungguhnya urusan ini (Islam) benar-benar akan menguasai daerah-daerah yang mampu dijangkau siang dan malam (yaitu seluruh bumi).” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)
  1. Hakikat sebuah sejarah. “Tidak ada sejarah di muka bumi ini yang menyamai sejarah kaum Muslimin. Dan tidak ada pula generasi di muka bumi ini yang mampu menyamai generasi kaum Muslimin. Tabiat kita memang berbeda dengan mereka, karena Alloh sendirilah yang akan memuliakan perjuangan kita.”
  1. Hakikat sebuah realitas. Realita hari ini yang dapat kita saksikan adalah semakin berkembangnya umat Islam di muka bumi ini.
  1. Hakikat musuh. “Musuh umat Islam hakikatnya adalah musuh-musuh Alloh. Mereka adalah kaum yang suka berzina, minum-minuman keras, dan terbiasa dengan berbagai kemaksiatan. Maka, dengan alasan apa kita meragukan pertolongan Alloh jikalau musuh-musuh kita adalah manusia yang berperilaku demikian?”
  1. Pertolongan Alloh sejalan dengan usaha yang maksimal. “Ingatlah, bahwa pertolongan Alloh itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)
  1. Harapan bukanlah sesuatu yang dapat diminta dengan tergesa-gesa

    “Jangan terlalu cepat berprasangka bahwa pertolongan Alloh datang terlambat. Alloh lebih tahu dengan apa yang pantas kita dapatkan saat ini.”

  1. Pahala tidak diukur dengan datangnya pertolongan, melainkan amal perbuatan. Ketahuilah, sesungguhnya pahala akan lenyap jika keyakinan terhadap datangnya pertolongan juga hilang. Sebab, pertolongan tidak akan datang kecuali dengan keyakinan akan kedatangannya. (QS. Al-Hajj: 15)

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali-Imran: 139)

Sejarah selalu memiliki periode. Dan kita (umat Islam) adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, sebab Alloh adalah pelindung kita, Nabi Muhammad adalah teladan terbaik kita, syari’at Islam adalah syari’at kita yang mulia, yang mencakup urusan dien dan dunia, jasad dan ruhani, juga akal dan hati, serta persaudaraan diantara umat Islam adalah persaudaraan yang paling kuat ikatannya. Maka ketahuilah dan tanamkan dalam-dalam keyakinan hati kita, bahwa masa depan adalah milik dien yang mulia ini (Islam), bukan milik umat yang lain. Bukankah cahaya fajar tidak akan muncul kecuali setelah hari berpindah dari pelukan malam?

Sekilas tentang penulis

Syaikh Dr. Raghib As-Sirjani adalah seorang dosen kehormatan di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo. Pernah lulus dengan predikat cumlaude serta meraih gelar doktor di bidang Spesialis Bedah Ginjal di tahun 1998. Di sela kesibukannya, beliau sempat menyelesaikan program tahfidzul Qur’an 30 juz pada tahun 1991. Penulis kelahiran 1964 ini dikenal memiliki perhatian serius terhadap berbagai persoalan umat. Salah satu sumbangsih berharganya bagi umat Islam adalah mendirikan Islamic Civilization Centre for Historical Studies di Kairo.

Subhanallaah. 🙂

Nyalakan Semangatmu!

Umurmu, dihabiskan untuk apa? Masa mudamu, diisi dengan apa?
Umurmu, dihabiskan untuk apa? Masa mudamu, diisi dengan apa?

Penulis: Dr. Raghib As-Sirjani

Penerbit: Samudera

Buku lawas terbitan tahun 2007 ini adalah buku yang berisi nasihat penggugah jiwa, spesial untuk para pemuda pendamba surga.

“Tidak akan beranjak kaki anak Adam dari hadapan Alloh hingga ditanya tentang lima hal, diantaranya: Tentang umurnya, dihabiskan untuk apa? Tentang masa mudanya, diisi dengan apa?…” (HR. Tirmidzi)

Catatan Sejarah Generasi Muda Islam

Zubeir bin Al-Awwam Di usia 15 tahun telah menjadi teman diskusi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, anggota pasukan berkuda Islam, tentara yang pemberani, dan pemimpin dakwah Islam di jamannya.

Thalhah bin Ubaidillah Di usia 16 tahun telah menjadi seorang pembesar utama barisan Islam di Mekkah, singa podium yang handal, tentara berkuda yang masyhur karena kelihaian dan keberaniannya, donatur infaq fi sabilillah, juga mendapat julukan dari Rasulullah sebagai Thalhatul Khair (pohon kebaikan).

Sa’ad bin Abi Waqqash Di usia 16 tahun, beliau menjadi sahabat yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam.

Ali bin Abi Thalib Di usia 10 tahun, menjadi sosok yang dipercaya Rasulullah untuk diberitahukan kabar gembira perihal Rasulullah mendapatkan wahyu yang pertama kali.

Zaid bin Tsabit Di usia 13 tahun, memiliki tekad yang sangat besar untuk ikut bergabung dengan pasukan Islam pada Perang Badar. Namun, karena postur tubuhnya yang kecil, Rasulullah dan para sahabat mengkhawatirkan keikutsertaan beliau bisa membahayakan dirinya sendiri. Sang ibunda pun berpesan, “Jangan sedih, Anakku. Engkau bisa mengabdi kepada Islam dengan jalan yang lain. Jika tidak dengan mengusung pedangmu ke medan jihad, engkau masih bisa berjihad dengan lisan dan penamu !” Berkat nasihat ibundanya ini, Zaid bin Tsabit pun pernah ditunjuk Rasulullah menjadi penulis wahyu.

Mu’adz bin Amr dan Mu’adz bin ‘Afra’ Mereka adalah sahabat karib, yang masing-masing berusia 14 dan 13 tahun. Mereka berlomba-lomba untuk membunuh Abu Jahal dalam Perang Badar. Mu’adz bin Amr berhasil memotong betis Abu Jahal, yang mengakibatkan tangannya terpenggal. Sedangkan Mu’adz bin ‘Afra’ berhasil membuat Abu Jahal tersungkur karena sabetan pedangnya, dan membuat Abu Jahal menghadapi pedihnya sakaratul maut. Jika Mu’adz bin Amr mengorbankan tangannya, maka Mu’adz bin ‘Afra’ ini mengorbankan nyawanya saat meneruskan peperangan setelah menyerang Abu Jahal.

Usamah bin Zaid Di usia 18 tahun diangkat Rasulullah menjadi panglima perang Muslim untuk menggempur pasukan Romawi di Syam. Yang perlu digarisbawahi dari seorang Usamah bin Zaid ini, beliau bukanlah “orang ideal” seperti yang didambakan remaja sekarang; ternama, ganteng, berasal dari keluarga terpandang. Tahukah kalian bahwa Usamah bin Zaid adalah putra dari Zaid bin Haritsah, pembantu Rasulullah yang notabene dahulu adalah seorang budak. Usamah terlahir dari keluarga miskin. Bukan seorang anak juragan, saudagar, bahkan wakil rakyat. Dia juga tidak memiliki penampilan keren. Sebaliknya, penampilan beliau sebenarnya kurang menarik. Ini semua cermin bahwa bagi remaja, faktor penunjang keberhasilan yang hakiki adalah agama, akal, ilmu, kemampuan, dan berlatih. Bukan karena faktor keturunan, bentuk fisik, juga harta. Bukankah Alloh lebih melihat kondisi hati daripada fisik kita?

Empat Faktor Penggiring Generasi Islam pada Kehancuran

  1. Hilangnya tarbiyah Islamiyah (pendidikan Islam)

Generasi muda sekarang ini tak lagi mengecap sisi positif yang diinjeksikan oleh metode pendidikan Islami, yaitu yang menimbulkan rasa memiliki Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kini, agama yang seharusnya menjadi way of live tak ubahnya menjadi mata pelajaran yang terkesan dikesampingkan. Metode pendidikan sekarang ini bukan mendidik mereka untuk berpikir, “Aku harus bersungguh-sungguh dalam belajar, karena Alloh mengawasi dan memberi balasan atas gerak-gerik kita.” Melainkan pemikiran seperti ini, “Aku harus belajar dengan tekun karena sebentar lagi ujian. Kalau lulus ujian dengan nilai baik, aku bisa mendapat kerja dan gaji untuk membeli rumah atau kebutuhan lain.”

Pendidikan Islam diharapkan mampu membentuk karakter fi sabilillah. Jadi, mereka adalah generasi yang hidup fi sabilillah, belajar fi sabilillah, bergaul fi sabilillah, hingga bersantaipun fi sabilillah.

Bukankah Alloh memang menciptakan kita tidak lain hanya untuk mengibadahi-Nya? Cek QS. Adz-Dzariyat ayat 56.

  1. Krisis keteladanan

Pola pendidikan dengan sistem “mencontoh” seribu kali lebih efektif dibandingkan memanfaatkan media ceramah atau khutbah. Bagaimana mungkin seorang menteri atau polisi menghentikan tindak kekerasan jika mereka sendiri masih terbiasa berbuat kasar dan keras? Bagaimana mungkin mengajar tanpa adanya teladan? Seperti sekarang ini, bukan berarti tidak ada lagi sosok teladan yang dapat dijumpai. Sosok teladan ini masih bertebaran di sekeliling kita. Mereka adalah sosok yang mampu memadukan antara syari’at Islam dengan kehidupan Islami. Bukan hanya di satu bidang, tapi berbagai bidang seperti : dakwah dan syari’ah, kedokteran, teknik, kimia, astronomi, dan ekonomi. Mereka bisa lelaki juga perempuan, baik pelajar maupun bukan. Sosok teladan tersebut tidak akan lekang, sebagaimana kebaikan yang akan terus bersemayam. Kehadiran sosok teladan ini menjadi begitu penting karena seseorang akan terseret oleh perilaku teladan yang diidolakannya. “Telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Alloh…” (QS. Al-Ahzab ayat 21)

  1. Minder

Menanamkan impian dan cita-cita kepada generasi muda adalah hal yang paling utama, karena keputusasaan bukanlah sifat seorang mukmin. “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabb-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” Cek QS. Al-Hijr ayat 56. Sepahit apapun kenyataan yang kita hadapi, seruwet apapun perkaranya, janganlah mengenal putus asa.

  1. Liberalisasi media informasi

Media informasi ibarat sayap kedua dalam membentuk pola pikir manusia, di samping metode pendidikan sebagai sayap utamanya. Beberapa kelompok “aliran” media informasi yang marak tersebar di sekitar kita :

  1. Media yang memasyarakatkan liberalisme yang menghancurkan sendi-sendi akhlaq masyarakat
  2. Media yang memojokkan Islam, memberikan label yang sangat buruk bagi Muslim yang teguh menjalankan syari’at, misalnya : Teroris, Radikal, Garis Keras, dsb.
  3. Media yang menggambarkan Islam sebagai agama yang sangat damai, tanpa perang, jihad, dan tidak punya kemuliaan karena nihilnya pertahanan. Media seperti ini jelas sangat melemahkan semangat mempertahankan kemuliaan Islam, karena tetap merasa damai meskipun harga diri Islam diinjak-injak.
  4. Media yang menggambarkan Islam memiliki sejarah yang kelam karena penuh dengan peperangan. Budaya Islam adalah budaya yang tidak pantas dibanggakan.
  5. Media yang gemar mengagung-agungkan dunia barat dan menginginkan kaum muslimin berada dalam genggaman barat.
  6. Media yang mendewakan segala tindakan penguasa, bahkan mengkamuflasekan kemampuan yang sesungguhnya.

Di tengah kenyataan tersebut, ternyata masih banyak generasi muda Islam yang bisa menyikapinya dengan bijak, tak terpengaruh sedikitpun, bahkan sanggup menciptakan media-media tandingan yang mengembalikan pemikiran masyarakat ke arah yang benar. Mungkin dengan meluncurkan tulisan-tulisan sederhana ke tengah masyarakat, menerbitkan majalah, atau buletin kecil yang mengupas fakta, juga pemanfaatan sarana internet dengan kapasitas jangkauan yang sangat luas, bisa dijadikan media informasi oleh para generasi muda yang masih menggaungkan Islam dalam hatinya.

Inilah Nasihat Penggugah Jiwa

  1. Jauhilah kemaksiatan

Menjauhkan diri dari kemaksiatan adalah lebih utama dibanding mengerjakan kebaikan. “Apa yang kami larang, maka jauhilah. Dan apa yang kami perintahkan kepadamu, kerjakanlah semampumu.” (HR. Bukhari-Muslim)

  1. Pelajarilah agamamu (Islam)

Ilmu agama ini sangat padat dan keras, maka masukilah secara halus. Susun sebuah jadwal untuk mengkaji ilmu tersebut secara ideal. “Barangsiapa menempuh suatu perjalanan dalam rangka menuntut ilmu, maka Alloh akan memudahkannya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

  1. Rindulah dengan masjid

Menghadiri kegiatan-kegiatan masjid, seperti : majelis ta’lim, majelis tahfidz Al-Qur’an, atau sebatas kultum di akhir shalat berjama’ah, jika biasa (rutin) dikerjakan maka berdampak besar pada kecintaan kita terhadap masjid, hati kita akan terikat olehnya, dan dapat membentuk seorang muslim menjadi pribadi yang shalih.

  1. Bersiaplah berkompetisi

Adalah hal yang lucu jika umat yang kitab sucinya turun dengan diawali oleh kalimat “Bacalah” justru menjadi kelompok negara berkembang, bukan negara maju. Suatu kejadian yang juga menyayat hati ketika melihat remaja Islam yang teguh memegang ajaran agamanya tetapi gagal dalam studi. Ketahuilah, Islam sangat jauh dari pemahaman seperti ini. Islam adalah agama yang mengajak umatnya terjun ke medan laga, berlomba, dan berkompetisi dalam kebaikan.

  1. Sambunglah silaturrahmi

“Maka apakah kiranya jika kalian telah berkuasa, kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” Cek QS. Muhammad : 22-24.

  1. Pilihlah sahabatmu

Jika kita menghendaki jalan yang terang menuju surga-Nya, maka carilah sahabat yang shalih, yaitu yang setia mengingatkan kebaikan pada kita, bahkan mungkin di setiap detik aktivitas kita. Bersyukurlah jika kita memiliki mereka. “Seorang manusia di atas agama temannya, maka lihatlah dengan siapa dia berteman.” (HR. Tirmidzi)

  1. Pekalah terhadap zamanmu

Buka dan pelajari lembaran fakta hidup yang sedang terjadi. Ikutilah perkembangan berita-berita di dunia. Gemarlah bertanya, berdiskusi, serta menciptakan solusi.

  1. Giatlah berolahraga

Sifat yang penting dikantongi oleh generasi muda Islam adalah kuat, sehat, dan berwawasan luas. Kesehatan akal hendaknya berbanding lurus dengan kesehatan badan.

  1. Ajaklah saudaramu

Jika engkau berhasil merasakan manisnya agama ini. Jika engkau merasakan betapa berat tanggung jawab generasi muda Islam dalam memperbaiki kondisi umat Islam apabila dilakukan seorang diri. Jika engkau merasakan betapa nestapanya hidup jauh dari kehidupan yang Islami. Jika engkau merasakan semua ini, maka ajaklah saudaramu dengan tutur kata yang santun dan menawan untuk bergabung denganmu, minimal untuk bersisian di sampingmu untuk terus mendukung dan menyemangatimu.

  1. Aturlah waktumu

Modal hidup kita adalah umur, maka berhati-hatilah dengannya.


Sadarkah kita, Alloh menciptakan kita untuk menebar kasih sayang, kebaikan, dan kemakmuran di bumi ini

Kehadiran umat Islam adalah kabar baik untuk bumi

Umat ini tidak akan mati, mungkin di saat tertentu melemah, tapi sekali lagi, tidak akan pernah mati

Maka jadilah kita generasi yang mulia, yang menjadi penerang menuju kesuksesan Islam, seperti gemilang yang pernah diraih di masa silam

Aturlah ritme semangatmu

Yakinlah, ketetapan Alloh atas kemenangan umat ini sekali-kali tidak akan pernah berubah

Timbuktu : Kota Legenda Islam di Afrika Barat

Timbuktu; sepetak negeri di Afrika yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.

I'm Proud To be Muslim

Timbuktu

Sungguh tragis nasib Timbuktu. Kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam di benua Afrika Barat itu kini telah berubah menjadi wilayah yang terisolasi dan terpencil. Situasi dan pemandangan “negeri di ujung dunia” itu begitu kontras bila dibandingkan dengan Timbuktu 900 tahun lalu ketika Islam mencapai kejayaannya di wilayah itu.

Sejarah mencatat pada abad ke-12 M Timbuktu telah menjelma sebagai salah satu kota pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang termasyur. Di era kejayaan Islam, Timbuktu juga sempat menjadi sentra perdagangan terkemuka di dunia. Rakyat Timbuktu pun hidup sejahtera dan makmur.

Sejarawan abad XVI, Leo Africanus menggambarkan kejayaan Timbuktu dalam buku yang ditulisnya. “Begitu banyak hakim, doktor, dan ulama disini (Timbuktu). Semua menerima gaji yang sangat memuaskan dari Raja Askia Muhammad – penguasa negeri Songhay. Raja pun menaruh hormat pada rakyatnya yang giat belajar,” tutur Africanus.

Di era keemasan Islam, ilmu pengetahuan dan peradaban tumbuh sangat pesat di Timbuktu. Rakyat di daerah…

Lihat pos aslinya 513 kata lagi