Mewariskan Keshalehan

mewariskan keshalehan

Allaah akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak Allaah di waktu mudanya. Allaah akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan, kecerdasan, bahkan hingga keturunannya. Maka jagalah hak-hak Allaah di masa-masa lapang, agar Ia menjaga kita di masa sempit dan hilang kekuatan.

Visioner. Inilah yang seharusnya menjadi karakter utama seorang Muslim. Pandangan hidup seorang Muslim tidak sekadar berkutat pada kehidupan dunianya saja, melainkan terbentang jauh hingga kehidupan setelah matinya; akhirat. Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga, keluarga Muslim hendaknya tak sekadar mengupayakan kebahagiaan semu di dunia, namun juga kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya.

Keluarga bervisi akhirat tentu berpangkal dari pasangan yang visioner pula. Keluarga yang sholeh akan melahirkan anak-anak yang sholeh pula, atas izin Allaah. Sebuah pohon yang tumbuh subur dengan buah yang ranum, tentu berasal dari benih yang baik dan akar yang kuat. Keshalehan ayah dan ibu adalah faktor penentu keshalehan anak-anak.

Mari kita luangkan sejenak akal dan hati kita untuk merenungi sebuah kisah berharga dari seorang pemuda sholeh. Ia adalah seorang pemuda yang kokoh keimanannya, meski ujian keimanan justru datang dari keluarganya sendiri; ayahnya. Siapakah pemuda mengagumkan ini?

Ya, dialah Ibrahim ‘alayhissalam, seorang Nabi sekaligus kekasih Allaah. Sebelum kita menyimak pribadinya sebagai seorang ayah, terlebih dulu kita simak bagaimana Al-Qur’an telah mengabadikan gambaran kokohnya aqidah Nabi Ibrahim tatkala masih belia. Pada surah Al-Anbiya’ ayat 52 – 70, tergambar jelas bagaimana Ibrahim mencoba berdiskusi tentang keimanan kepada Allaah terhadap ayahnya. Bahkan dengan sepenuh keberanian, ia menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya.

Tatkala Ibrahim telah menjadi ayah, keshalehannya pun terus memancar kuat. Hal ini tergambar jelas ketika turun perintah Allaah untuk menyembelih putra kesayangannya, Isma’il alayhissalam. Tak keluar sedikitpun gerutu dari lisannya ketika menerima titah seberat itu. Simak juga bagaimana penuturan Isma’il ketika sang ayah menanyakan pendapatnya tentang perintah Allaah tersebut. “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allaah kepadamu. In syaa Allaah, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kini kita beralih pada kisah seorang pemuda mengagumkan lainnya. Ialah Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Siapakah di antara kita yang belum mendengar kisahnya yang menakjubkan? Ia adalah seorang yang dipercaya menjadi “asisten” Rasulullaah tatkala usianya masih sangat belia. Ia juga salah seorang dari 7 shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Ibarat perguruan tinggi, Anas bin Malik telah banyak “meluluskan” ulama-ulama hebat dalam sejarah.

Keshalehan dirinya tak diragukan lagi, sehingga suatu ketika beliau pernah didoakan Rasulullaah, “Ya Allaah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya.” Maka benar saja, berkat doa Nabawi tersebut, terkumpullah beberapa keistimewaan padanya; usia yang panjang, anak yang banyak dan sholeh, harta yang banyak, serta ilmu yang luas. Maa syaa Allaah!

Membicarakan Anas bin Malik tentu tak lepas dari peran besar sosok ibunda sholehah yang telah membentuk kepribadian dan mendidik akhlaknya. Ialah Ummu Sulaim radhiyallaahu ‘anha, seorang yang ibu yang rela “menghadiahkan” anaknya di usia 8 tahun kepada Rasulullaah, sebagai bentuk kecintaannya kepada beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Dari sekelumit kisah nyata di atas, kita dapat memetik sebuah pelajaran berharga. Keshalehan Ibrahim telah terbentuk sempurna di usia mudanya, sebelum ia berumah tangga. Isma’il pun mewarisi keshalehannya. Keshalehan Ummu Sulaim telah diwariskan kepada Anas bin Malik. Anas bin Malik pun telah mewariskan keshalehannya kepada seluruh keturunannya.

Maka sampai disini, semoga kita telah memahami betapa pentingnya membangun keshalehan diri –sesuatu yang layak diperjuangkan di masa-masa single, ketimbang terus menghabiskan waktu dalam kegalauan yang berpotensi memandulkan produktivitas.

Kisah di atas menjadi pengingat bagi generasi muda, para ikhwan dan akhwat yang akan maupun sedang memulai langkah membangun keluarga. Keshalehan di masa muda akan lebih mudah diwariskan daripada keshalehan yang dibangun tatkala rambut telah dipenuhi uban. Hal ini semata-mata merupakan bentuk penjagaan dan balasan Allaah bagi orang yang telah bersungguh-sungguh menjaga hak Allaah di masa mudanya.

Kisah di atas semoga juga menjadi pengingat bagi orang tua agar terus berupaya membimbing anak-anak mudanya dalam bingkai keimanan, agar kelak mereka memiliki bekal yang memadai saat amanah menjadi suami, istri, ayah, atau ibu bergulir di pundak mereka.

Sungguh, peradaban besar bercahaya dimulai dari keluarga, dari rumah-rumah kita. Oleh sebab itu, jadikan pernikahan sebagai momentum melipatgandakan ketakwaan, mengakumulasi semangat perbaikan, dan meregenerasi keshalehan… In syaa Allaah.

Persiapkan perbekalan menuju perjalanan panjang!

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lil muttaqiinaa imaamaa. Rabbanaa hablanaa milladunka dzurriyyatan thayyibah. Rabbanaa wa taqabbal du’aaa’…

[Rekomendasi bacaan]

‘Ulwan, Abdullah Nashih. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Solo: Insan Kamil. 2012.

Al-‘Adawy, Musthafa. Fiqih Tarbiyah Abna wa Tha’ifah min Nasha’ih Al-Athibba. Jakarta: Qisthi Press. 2006.

Baswedan, Sufyan bin Fuad. Ibunda Para Ulama. Jakarta: Pustaka Al-Inabah. 2014.

Ashari, Budi. Inspirasi dari Rumah Cahaya. Depok: CS Publishing. 2014.

Keluarga Bercahaya

keluarga bercahaya

Salah satu ciri khas Al-Qur’an adalah pada penamaan suratnya. Selalu ada kaitan antara nama surat dengan salah satu ayat di dalam surat tersebut. Contohnya, surat Al-Baqarah yang di dalamnya terdapat kisah tentang sapi betina. Atau Ali Imran, yang di dalamnya memuat kisah indah keluarga Imran yang dimuliakan. Atau juga surat An-Naml, yang di dalamnya terabadikan kisah unik antara semut dan nabi Sulaiman.

Lalu tentang keluarga, ada surat yang begitu padat berisikan tema-tema keluarga, dari awal hingga akhirnya. Ialah surah An-Nuur. Maa syaa Allaah, namanya saja menyiratkan harapan bahwa keluarga Muslim harus bercahaya. Coba baca kesinambungan ayat dan hikmah dari surat ini, khususnya pada ayat 35 – 37.

Pada ayat 35, Allah menerangkan mukjizat informatif tentang cahaya, bahwa Allah-lah sang pemberi cahaya di langit dan bumi. Lalu ayat berikutnya, secara langsung Allah menyambung ayat tersebut dengan redaksi yang kontennya “how to”, bagaimana cara mendapatkan “cahaya” itu. Jawabannya, dengan banyak bertasbih (berdzikir) kepada Allah, khususnya di dalam masjid-masjid, baik di waktu pagi maupun petang. Masjid dan ibadah. Ternyata ini kunci rumah-rumah yang bercahaya itu.

Kesinambungan ayatnya ternyata tidak berhenti sampai disitu. Pada ayat 37, Allah pun masih melengkapi redaksi ayat dengan konten yang sifatnya, “what and why”. Apa yang membuat sebuah rumah (keluarga) kehilangan “cahaya”nya? Jawabannya, bisnis dan perniagaan dunia. Mengapa? Kok bisa? Jawaban lengkapnya, laki-laki yang dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari ibadah kepada Allah…

Jadi ternyata, penyebab hilangnya “cahaya” di dalam rumah-rumah kita adalah karena pekerjaan, bisnis, dan mata pencaharian yang seringkali menggeser prioritas ibadah kita kepada Allah. Yang menarik, ayat ini secara tegas menyandingkan kata “lelaki” sebagai subyeknya. Mengapa? Karena laki-lakilah yang diamanahi tugas sebagai qowwam, yang menafkahi, yang memang kesehariannya pasti beririsan dengan dunia bisnis dan mata pencaharian.

Maa syaa Allaah. Hanya kepada Allaah kita memohon pertolongan. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

*Tulisan ini disadur dari buku “Inspirasi Rumah Cahaya, tulisan Ust. Budi Ashari, Lc (hafizhahullaah)

*Disclaimer: Buku ini daging banget, maa syaa Allaah. Ga bosan merepetisi. Saya hanya mencoba menarasikannya kembali. Semoga bermanfaat. 😊

Menjadi Lelaki

being man

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” [QS. An-Nisaa’: 34]

*note: tulisan ini repost dari blog jadul. rencananya sih mau angkut2 tulisan dari fesbuk dan blog jadul kesini. semoga rencana yang tak sekadar wacana yaaa, hihihi :p

Mengapa Allah memilih lelaki sebagai qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga?

As simply, jawaban atas pertanyaan itu hanya ada 2, yaitu:

  1.  Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain
  2. Karena laki-laki telah menafkahkan sebagian harta mereka

Alasan pertama. Kita menyadari bahwa perempuan memiliki kelebihan sebagaimana laki-laki, tetapi Allah menetapkan kelebihan laki-laki atas perempuan adalah dalam rangka menunjang kesuksesan kepemimpinan rumah tangga. Di sisi lain, kelebihan perempuan, seperti kelembutan, ketenangan, dan rasa kasih sayang diciptakan-Nya dalam rangka menunjang kesuksesannya sebagai pendidik dan teman anak-anak bertumbuh dan berkembang.

Jadi, jika kita mengetahui bahwa perempuan lebih banyak berbuat berdasarkan perasaannya, tentu saja itu bukan sebagai bentuk kelemahan atau kekurangan dirinya, melainkan kelebihan yang dibutuhkan untuk memelihara sifat-sifat alami pendidikan anak. Oleh sebab itu, porsi kelebihan ini kurang mendukung jika diposisikan sebagai pemegang tampuk kepemimpinan rumah tangga.

Alasan kedua. Laki-laki telah menafkahkan sebagian harta mereka (untuk keluarganya). Oleh sebab itu, usaha lelaki untuk menjadi qawwam seutuhnya tidak lain adalah upaya untuk menonjolkan dan menguatkan kelebihannya dalam memimpin, termasuk memenuhi kebutuhan belanja keluarga. Usaha untuk menjadi seutuhnya lelaki adalah usaha untuk menguatkan keistimewaan fisik dan psikis, serta optimalisasi diri dalam berpenghasilan.


Menjadi lelaki, karakter adalah penting dalam hidupnya, sebab nantinya karakter itulah yang akan sangat menentukan seberapa baik pilihan-pilihan yang diambil dalam sejarah hidupnya. Maka, membentuk karakter adalah hal penting dalam kehidupan seorang laki-laki. Kelak, menjadi laki-laki berarti menjadi qawwam bagi perempuannya, bagi anak-anaknya, bagi keluarganya, dan bagi generasi yang diwariskannya.

Menjadi lelaki, karakter dan kesadaran diri adalah variabel yang akan menentukannya mengambil keputusan-keputusan penting, yang bahkan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Maka menjadi laki-laki, harus mampu menentukan karakter terbaiknya, jauh sebelum ia memperbaiki atau bahkan mewariskan karakter bagi orang lain.

Menjadi lelaki, bisa saja semata-mata mengandalkan penampilan, popularitas, status sosial, atau sederet parameter lain. Tapi tidakkah kita ingat bahwa parameter yang baru saja kita sebut itu sangat rentan dihabiskan oleh waktu? Penampilan bisa menipu, fisik bisa segera melemah, popularitas bisa sewaktu-waktu kandas, dan status sosial pun sangatlah nisbi. Semua hal berubah oleh waktu. Maka menjadi laki-laki, jika karakternya lemah dan abu-abu, semua parameter itu akan tampak semakin semu.

Menjadi lelaki adalah menjadi laki-laki bagi perempuannya. Menjadi lelaki adalah menjadi qawwam bagi perempuannya. Menjadi lelaki adalah menonjolkan keunggulan fisik dan psikisnya demi ketenteraman perempuan dan anak-anaknya. Menjadi lelaki adalah perjuangan menempa kepribadian diri.

Selamat menjadi lelaki. Semoga tidak lelah memperjuangkan kehormatan menjadi sebenar-benar qawwam!

Reff: “Menjadi Laki-Laki” (Eko Novianto Nugroho; Penerbit: Gema Insani Press)

Ayah ASI

dad-and-baby

“You can shower your wife with all breastfeed gadgets in the world, but by the end of the day, she just neeed you beside her.”

 

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Membahas topik seputar ASI (Air Susu Ibu) biasanya identik dengan perempuan, sehingga seolah-olah muncullah hipotesis bahwa ASI adalah urusan ibu-ibu. Benarkah? Kemudian dimanakah kontribusi ayah dalam proses bonding ini? Benarkah menyusui adalah monopoli hubungan ibu dan anak?

Topik Ash-Shihah kali ini mencoba mengangkat isu seputar Father Breastfeeding atau Ayah ASI. Topik ini sempat mem-booming lewat sebuah buku bertajuk #AyahASI yang berisi tentang kisah delapan ayah dalam mendampingi istri tercinta mereka saat menyusui.

Sebenarnya bagaimanakah peran ayah dalam menyusui? Bagaimanakah kontribusi ayah untuk mengambil bagian dalam proses bonding atau jalinan perasaan orang tua-anak melalui ASI?

Menurut dr. Utami Roesli, Sp.A, “Penelitian menunjukkan bahwa dari 115 orang ibu yang suaminya tidak memberikan dukungan untuk menyusui secara eksklusif, ternyata tingkat keberhasilannya hanya sebesar 26,9 persen. Sementara pada kelompok ibu menyusui yang mendapat dukungan dari ayah, tingkat keberhasilannya hampir 100 persen, yakni 98,1 persen.”

Dalam sebuah penelitian lain pun menyebutkan bahwa 50% kegagalan pemberian ASI Eksklusif merupakan 50% kegagalan ayah (suami) dalam mendukung ASI eksklusif, sebab peran suami adalah pendukung, bukan penuntut, apalagi penghambat tercapainya program ASI Eksklusif.

Menyusui adalah bentuk komunikasi antara ibu dan anak. Perlu diketahui bahwa ada dua hormon yang memiliki peranan penting dalam menyusui, yaitu hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin erat kaitannya dengan produksi ASI, sementara oksitosin erat kaitannya dengan kelancaran ASI yang keluar. Hebatnya, hormon oksitosin ini ternyata dipengaruhi oleh perasaan dan pikiran seorang ibu, dimana hormon ini dapat dirangsang melalui sentuhan, gambar dan suara. Semua perasaan positif akan meningkatkan hormon oksitosin. Itu artinya, semakin baik perasaan ibu (good mood) maka ASI akan keluar semakin lancar (deras). Begitupun sebaliknya, jika banyak unsur negatif dalam pikiran dan perasaan ibu (bad mood), maka hal tersebut akan menghambat sekresi hormon oksitosin, sehingga ASI tidak lancar. Oleh sebab itu, kontribusi ayah dalam keberhasilan ASI eksklusif terletak pada membantu tercapainya kondisi good mood istri saat menyusui.

“You can shower your wife with all breastfeed gadgets in the world, but by the end of the day, she just neeed you beside her.”

Yap. Yang dibutuhkan oleh seorang istri yang sedang menyusui bukan sekedar terpenuhinya segala komponen yang membantu proses menyusui, seperti pompa ASI, kulkas dan botol kaca untuk bank ASI, asupan nutrisi yang memadai, dan sebagainya. Ternyata bukan hanya itu. Sebagaimana fitrah perempuan yang selalu ingin dimengerti, maka sebenarnya yang dibutuhkan istri adalah perhatian dan kesiapsiagaan suami.

Menyusui adalah sebuah proses kehidupan yang cukup menyita waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaan perempuan. Bagaimana saat perempuan kehilangan kepercayaan diri saat menyusui, sehingga menyebabkan ASI tidak lancar. Bagaimana saat perempuan harus rela payudaranya lecet karena menyusui. Bagaimana perempuan harus terjaga semalaman demi buah hati yang terus merengek karena lapar. Semua itu harus dimengerti suami jauh-jauh hari, bahwa menjadi ibu memang tidaklah mudah.

“Menyusui adalah sebuah proses. Proses itu membutuhkan waktu untuk mencapai hasil yang maksimal dan tidak bisa dicapai secara instan.” (A. Rahmat Hidayat)

Berikut ini adalah beberapa kiat menjadi Ayah ASI super. Semoga dapat dipraktikkan. Happy “breastfeeding”, Dad! 🙂

  • Be A Nice Personal Assistant. Jika sedang berada di rumah atau pulang kerja, terlibatlah dalam mengurus bayi. Bisa dengan menggendongnya, membuat dia tertidur, menggantikan popok, mengajak bicara, bermain dan lainnya. Biarkan istri kita beristirahat sebentar. Ingat, jika kita (suami) pulang ke rumah untuk beristirahat, maka kemanakah istri kita untuk beristirahat? Kemana lagi arah pulang itu jika bukan suami? Ingat, kadang perempuan hanya membutuhkan dua telinga yang bersedia mendengarkan dengan baik, bukan lisan yang terus menuntut ini dan itu. 🙂
  • Be A Google Man. Menyusui banyak tantangannya, mulai dari puting payudara yang lecet sehingga hasil perahannya mungkin menurun. Cobalah mencari tahu banyak hal tentang ASI dan proses menyusui. Memang, sudah seharusnya perempuan lebih mumpuni soal ini, tetapi tidak ada salahnya juga kan jika pria juga tidak kalah pintar soal ASI? Mulai saat ini, ubah mindset bahwa ASI bukan lagi topik ibu-ibu.
  • Make your own surprise. Istri selalu senang dengan kejutan kecil yang berarti. Kejutan kecil itu tidak harus dengan barang-barang mahal. Cukup dengan memberinya perhatian seperti membuatkan istri sarapan, menyediakan waktu atau bahkan mempersiapkan makan malam, atau sekedar memberikan pijitan tanpa diminta. Ingat, rasa senang akan membuat hormon oksitosin meningkat dan ASI menjadi lancar.
  • Be A Guardian AngelDi Indonesia ada begitu banyak mitos seputar menyusui yang bisa memengaruhi semangat seorang ibu. Suami harus menjadi benteng pertahanan istri dari segala serangan mitos tersebut. Suami, bagaimanapun adalah benteng terakhir seorang istri, sehingga jangan biarkan dia merasa berjuang sendirian mengurus anak. Percayalah, menjadi orangtua bukan monopoli tugas seorang istri.
  • Best Nurse Ever. Menghubungi dokter atau konselor laktasi mungkin akan memakan waktu lebih lama ketika istri menemui tantangan dalam menyusui, apalagi ketika puting lecet atau halangan lainnya. Cari tau segala hal tentang common problemsmenyusui dan cara mengatasinya. Jadilah perawat nomor satu bagi istri ketika menyusui.
  • Last but not least:Find Your Own Support. Kita paling tahu siapa istri kita dan bagaimana membuatnya nyaman dan senang. Cari cara sendiri untuk memberikan dukungan untuk istri kita. Apapun bentuknya pasti seorang istri akan menghargai usaha kita. Bukankah menikah itu untuk mencapai tujuan bersama? Kalau tidak berusaha bersama, lalu apa jadinya?

Kemudian, berikut ini adalah beberapa informasi seputar kriteria rumah sakit yang “sayang ibu dan anak”. Atau dengan kata lain, rumah sakit yang mendukung keberhasilan program ASI Eksklusif.

  1. Tersedia kelas untuk kelompok pemberian ASI
  2. Memiliki aturan tentang ASI eksklusif
  3. Mengajarkan ibu cara menyusui, dan menjaga agar terus menyusui, walau terpisah dari bayinya
  4. Memiliki tenaga kesehatan yang telah dilatih Manajemen Laktasi
  5. Tidak memberi minum atau makanan lain kepada bayi selain ASI pasca melahirkan, kecuali ada indikasi medis
  6. Melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
  7. Mendukung ibu dapat memberi ASI sesuai kemauan bayi (on demand)
  8.  Memberikan penjelasan manfaat menyusui dan ASI eksklusif
  9. Tidak memberi dot atau kempeng pada bayi yang menyusu
  10. Menyediakan ruang rawat gabung ibu dan bayi.

Maroji’:

Al-Qur’anul Karim

ayahasi.org

10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui – WHO

Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kesehatan Ash-Shihah Edisi Desember 2013

Qiyamullail dan Kesehatan Janin

come back

Rahim ibu merupakan lingkungan pertama yang membentuk seorang manusia. Lingkungan pertama ini sangat erat hubungannya dengan perkembangan janin. Janin adalah bagian yang tak terpisahkan dari ibu yang mengandungnya. Karena itulah, semua kondisi dan keadaan yang dialami oleh ibu akan berpengaruh terhadap janin.

Hasil studi dan riset yang dilakukan oleh para ahli (Dr. Fakhir Aqil, ‘Ilm Al-Nafs Al-Tarbawi hal: 46-47), membuktikan bahwa kesehatan jasmani dan kondisi psikis ibu sangat berpengaruh pada janin. Rasa cemas, kalut, takut, dan sebagainya, dapat mengakibatkan hal yang serupa pada jiwa anak. Ibu hamil sebaiknya tak hanya memperhatikan kesehatan fisik, kesehatan psikis pun sama pentingnya. Pasalnya, kondisi psikis yang kurang baik akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik. Jika keduanya dalam kondisi tak sehat, akan berpengaruh terhadap pertumbuhan janin. Stres bisa memicu terjadinya perdarahan yang berpengaruh terhadap suplai oksigen ke janin. Stres yang dialami ibu hamil dapat meningkatkan Corticotrophin Releasing Hormone (CRH) di awal kehamilan. CRH secara berurutan dapat menyebabkan kelahiran prematur, karena dapat membatasi aliran darah ke daerah rahim dan menghambat bayi memperoleh oksigen secara optimal. Jika suplai oksigen berkurang, bisa memicu terjadinya kelainan pertumbuhan janin.

Setiap orang sebenarnya mengalami stres, namun kadarnya ada yang ringan dan berat. Kadar yang berat biasanya akan mempengaruhi kondisi kejiwaan ibu sehingga menyebabkan daya tahan tubuhnya menurun. Jika daya tahan tubuh menurun, dikhawatirkan membuat ibu mudah terserang penyakit. Penyebab stres pada ibu hamil umumnya ialah kondisi kehamilan itu sendiri, seperti mual-muntah yang terlalu berat, morning sickness, kecemasan terhadap penampilan yang berubah pasca hamil, dan lainnya. Tetapi ada pula yang disebabkan dari luar, semisal beban pekerjaan yang terasa sangat berat saat hamil sebagaimana yang banyak dialami oleh para wanita karir yang memiliki aktivitas cukup padat.

Sebuah penelitian mengungkapkan, 10% wanita hamil berpotensi mengalami stres, dari yang ringan hingga berat. Stres ringan biasanya dapat diatasi sendiri dengan melakukan hal-hal menyenangkan atau relaksasi. Tetapi stres ringan yang diremehkan, terus-menerus dipendam dan dirasakan sendiri, serta tidak segera diatasi, akan terakumulasi yang pada akhirnya dapat berpotensi menjadi stres berat.

DETEKSI DAN ANTISIPASI

Yang pertama dapat dilakukan adalah mencari penyebab stres. Apakah karena beban pekerjaan yang terlalu menekan atau karena sebab lain. Nah, carilah solusi untuk mengatasi supaya bebannya berkurang. Bila karena tekanan pekerjaan di kantor, cobalah  berbicara dengan atasan mengenai kondisi kehamilan, sehingga butuh keringanan pekerjaan; mengorganisasikan pekerjaan lebih baik agar tak menumpuk terlalu lama; meminta diantar-jemput oleh suami saat pergi atau pulang kantor; mendelegasikan tugas-tugas ke bawahan, dan lainnya.

Selanjutnya, ibu hamil bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti membaca buku, bertemu teman-teman lama, berlibur ke tempat yang nyaman bersama keluarga, atau meminta waktu cuti dari kantor sampai kondisinya membaik. Ketika melakukan aktivitas menyenangkan tersebut,  lepaskanlah pikiran-pikiran yang terkait dengan kantor. Nikmati kesenangan itu secara maksimal, sehingga semua beban yang tersimpan bisa keluar dengan bebas.

Jangan lupa meminta dukungan dari suami, orangtua, saudara dan teman, atau anak terhadap kehamilan yang sedang Anda jalani. Suami hendaknya lebih memahami kondisi istrinya yang sedang hamil dengan membantu pekerjaan-pekerjaan rumah yang sulit dilakukan ibu hamil atau membantu meringankan beban kehamilan seperti memijat bagian yang pegal. Dari orangtua, ibu hamil bisa meminta petuah-petuah berdasarkan pengalaman yang sudah lebih dulu mereka alami. Sementara dari anak, bangunlah rasa pengertiannya untuk memahami kondisi kehamilan sang ibu.

Pengaruh Qiyamullail terhadap Psikis Ibu hamil dan Janin

“Bangunlah (untuk beribadah) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)…” (QS. Al-Muzzammil: 2)

Ibadah tahajud memang menakjubkan. Terlihat berat pada awal pelaksanaan ketika belum terbiasa, tetapi akan menjadi sesuatu yang ringan, menentramkan, bahkan dapat membuat sang pengamal qiyamullail tersebut menitikkan air mata ketika melewatkan satu kesempatannya.

Dr. Sholeh dalam bukunya yang berjudul, “Terapi Shalat Tahajud” berhasil memaparkan sebab ilmiah dari ibadah yang membutuhkan kesungguhan ini. Diilhami dari sebuah sabda Nabi SAW, “Shalat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan diri dari penyakit.” (HR. Tirmidzi), maka beliau pun menjadikannya sebagai bahan disertasi dengan topik khusus tentang hormon kortisol dan kaitannya dengan shalat tahajud.

Dalam dunia medis, hormon kortisol dan metabolismenya dibutuhkan untuk melawan stres harian, hanya saja di sisi lain, secara alami kortisol pun berpengaruh negatif dalam menekan sistem imun (daya tahan tubuh), yang dapat mengakibatkan seseorang rentan terhadap penyakit. Pertanyaannya adalah, “Bagaimana cara kita menurunkan kadar kortisol secara umum agar sistem imun kita tidak terganggu, namun di sisi lain kita tetap kuat menghadapi stres?”

Maa syaa Allaah, ternyata jawaban dari pertanyaan itu telah berhasil dipaparkan oleh hasil peneitian Dr. Sholeh di atas. Kunci jawaban tersebut adalah dengan melakukan qiyamullail atau shalat tahajud. Pada penelitian beliau yang melibatkan sekitar 41 responden siswa di salah satu SMA di Surabaya, beliau berhasil mempertahankan disertasinya dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Judul disertasi beliau adalah, “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi.”

Hasilnya: didapatkan kadar hormon kortisol yang stabil dan relatif lebih rendah pada siswa yang mampu melaksanakan shalat tahajud secara rutin. Ketika diuji kadar sistem imunnya, diperoleh hasil yang bermakna pada uji statistik dalam kelompok tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa shalat tahajud berpengaruh terhadap peningkatan respon ketahanan tubuh. Hal ini dapat terjadi karena shalat tahajud yang dijalankan secara tepat, kontinyu, khusyuk, dan ikhlas mampu menumbuhkan persepsi dan motivasi positif, serta membantu memperbaiki mekanisme tubuh dalam mengatasi perubahan yang tengah dihadapi atau beban yang diterima. Hal ini tentu saja berpengaruh positif terhadap ibu hamil yang mengalami perubahan cukup drastis dalam kehidupannya, baik secara fisiologis (tubuhnya) maupun perubahan psikologis (kejiwaan).

Maroji’:

Ramadhani, Egha Zainur. Super Health: Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Yogyakarta: Pro-U Media. 2007.

Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kesehatan Ash-Shihah Edisi November 2014

Tak Sekadar Surat Cinta

“Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Yunus: 57]
“Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Yunus: 57]
Sebagian orang malas membaca Al-Quran, padahal di dalamnya terdapat petunjuk hidup bagi manusia, baik bagi kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Sebagian orang merasa tak memiliki waktu untuk membaca Al Quran, padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar, yang dihitung kebaikan pada setiap hurufnya. Sebagian orang pun telah kebingungan mencari obat, baik bagi raga maupun jiwanya, padahal obat itu dekat. Ialah Al-Quran yang dibiarkan berdebu, tersimpan rapi di dalam almari-almari masjid.

“Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Yunus: 57]

Membaca Al-Quran; Perdagangan yang Tidak Pernah Merugi

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” [QS. Fathir: 29-30]

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Mutharrif bin Abdullah –salah seorang tab’in- jika membaca ayat ini beliau berkata, “Ini adalah ayat bagi orang-orang yang suka membaca Al-Quran.”

Di antara sebab mengakrabi Al-Quran adalah perdagangan yang tidak akan merugi adalah sebagai berikut:

  • Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan, bahkan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan.

Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran, maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” [HR. Tirmidzi, dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’ no. 6469]

  • Membaca Al-Quran adalah contoh amalan baik, dimana amalan kebaikan akan menghapuskan kesalahan.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” [QS. Hud: 114]

  • Setiap kali bertambah kuantitas bacaan, bertambah pula ganjaran pahala dari Allah.

Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam, maka dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” [HR. Ahmad, dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’ no. 6468]

  • Membaca Al-Quran, bagaimanapun keadaannya (lancar maupun terbata-bata) adalah kebaikan

Seorang yang lancar membaca Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia yang senantiasa staat kepada Allah. Adapun yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan merasa kesulitan atas bacaan tersebut, maka baginya dua pahala.” [HR. Muslim]

  • Bacaan Al-Quran dapat menjadi syafa’at bagi pembacanya

Bacalah Al-Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” [HR. Muslim]

Al-Quran dan Keindahan Tata Bahasa

Tidak ada kitab pegangan umat sepanjang sejarah yang kesucian dan kemurniannya senantiasa terjaga dari noda hitam tangan-tangan manusia fasik yang ingin menggubah keagungan kitab suci tersebut, melainkan Al-Quran. Hanya kitab ini yang cahayanya dari hari ke hari justru semakin kuat menyinari kegelapan hati yang tertutup oleh kebodohan, fanatisme, dan keangkuhan dari cahaya kebenaran. Al-Quran disebut mukjizat karena tidak mampu ditandingi oleh para ahli sastra dan ilmuwan untuk mendatangkan kitab tandingan yang mampu menyamai atau bahkan menyaingi derajat keindahan dan ketinggian bahasa Al-Quran. Al-Quran adalah kitab penyejuk kalbu bagi umat dari segala penyakit, baik yang menggerogoti jiwa maupun raga manusia.

Menyitir penjelasan Syaikh Ibnu Atiyyah tentang kesempurnaan tata bahasa Al-Quran, beliau mengatakan,

“Sisi terkuat Al-Quran adalah pada sistematika, keshahihan makna, dan kefasihan kosa katanya. Yang demikian itu karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah mengetahui kata mana yang tepat untuk menyertai kata pertama untuk merangkai makna demi makna dari awal hingga akhir. Manusia diciptakan dengan segala keterbatasan, kebodohan, sifat lupa, dan kelemahan ilmunya dalam segala ha. Sementara itu, sistematika Al-Quran datang dengan derajat estetika yang tinggi menjulang, sehingga tampak jelas kesalahan perkataan mereka, yaitu orang-orang Arab yang berupaya mendatangkan yang serupa dengan Al-Quran, namun kekuatan mereka dicabut sehingga mereka lemah tidak berdaya menandingi Al-Quran.

Sungguh, tidak ada satu pun yang mampu mendatangkan kitab tandingan. Jika Anda meyakini kelemahan mutlak manusia tanpa terkecuali dan melihat bagaimana orang fasih menyusun khutbah atau bait syair dengan sekuat tenaga, kemudian ia senantiasa memperbaiki bagian-bagiannya setahun penuh, kemudian Anda menyodorkannya pada yang lain dan ia pun masih mengoreksi dan memperbaiki, dan begitulah seterusnya. Adapun Al-Quran, perbedaannya sangat jauh dengan kreasi-kreasi sastra manusia. Jika Anda ingin membuang satu kata dari ayat-ayatnya dan menggantinya dengan kata lain, yakinlah Anda tidak akan menemukan kata lain yang lebih tepat darinya dilihat dari sistematika pemaknaan yang ada.”

Al-Quran; Fakta Medis dan Psikologis

Banyak ayat Al-Quran yang mengisyaratkan tentang pengobatan, karena bagaimana pun Al-Quran memang diturunkan Allah sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin. Hal ini termaktub dalam sebuah ayat,

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang dzalim, selain kerugian.” [QS. Al-Isra’: 82]

Menurut hasil penelitian Al-Qadi di Florida Amerika Serikat yang dirilis oleh Malik Badri, membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan bacaan Al-Quran, seorang Muslim –baik yang mampu berbahasa Arab ataupun tidak- mampu merasakan perubahan fisiologis yang cukup besar. Perubahan fisiologis itu antara lain seperti penurunan depresi, kesedihan, bahkan dapat menimbulkan rasa tenang dan meningkatkan sistem imun (daya tahan) tubuh. Penelitian Qadi ini dilakukan dengan bantuan peralatan elektronik mutakhir untuk mendeteksi detak jantung, ketahanan otot dan kulit terhadap aliran listrik. Hasilnya menunjukkan bahwa Al-Quran berpengaruh hingga sebesar 97% dalam memberikan efek ketenangan dan penyembuhan penyakit.

Hasil penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian serupa yang dilakukan oleh Muhammad Salim yang telah dipublikasikan oleh Universitas Boston. Obyek penelitian Salim adalah lima orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan dua wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab. Mereka juga tidak diberi tahu jika yang akan diperdengarkan kepadanya adalah Al-Quran. Penelitian ini dilakukan sebanyak 210 kali yang terbagi dalam 2 perlakuan, yaitu membacakan Al-Quran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Quran. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa responden mendapatkan ketenangan hingga 65% ketika diperdengarkan bacaan Al-Quran, dan hanya 35% ketika diperdengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Quran.

Pengaruh yang serupa juga ditunjukkan pada janin dan bayi yang diperdengarkan Al-Quran. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar “Konseling dan Psikoterapi Islam” pada tahun 1997, beliau memaparkan bahwa bayi berusia 48 jam yang diperdengarkan bacaan Al-Quran menunjukkan respon tersenyum dan kondisi psikis yang lebih tenang.

Tidak dipungkiri lagi bahwa Al-Quran adalah kitab suci yang berisi nasihat, kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta berita ancaman bagi mereka yang ingkar. Oleh sebab itu, di dalamnya terdapat selaksa kalimat-kalimat baik yang dalam istilah Al-Quran sendiri disebut ahsan al-hadits. Kalimat-kalimat yang penuh kebaikan tersebut dapat memberikan efek autosugesti yang positif bagi manusia. Autosugesti positif dapat menimbulkan rasa tenang dan dorongan positif untuk melakukan hal-hal baik.

Indahnya mengakrabi Al-Quran, baik dengan membaca, mentadabburi, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnya. Benar-benar bukan sekedar “surat cinta”, kan? Semoga kita mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah karena mengakrabinya. Maa syaa Allaah…

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al-Quran dan akan merendahkan kaum yang lain dengannya pula.” [HR. Muslim]

Maroji’:

Ramadhani, Ega Zainur dr. Super Health: Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Yogyakarta: Pro-U Media. 2007.

Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kesehatan Ash-Shihah Edisi Juli 2014

When Words Turn Into Weapons

write 9
Tulisan ini disarikan dari buku “Menjadi Powerful Da’i dengan Menulis Buku” karya Pak Bambang Trim.

Of all the weapons of destruction that man could invent, the most terrible and the most powerful was the word. Daggers and spears left traces of blood. Arrows could be seen at a distance. Poisons were detected in the end and avoided. But the words managed to destroy without leaving clues. (Paulo Coelho)

“Sungguh, Indonesia kini membutuhkan lebih banyak lagi para da’i penulis yang bisa menggalang kekuatan pemikiran di garda terdepan perjuangan menegakkan syariat dan meniscayakan kebangkitan Islam di Indonesia. Banyak sekali pertempuran pemikiran yang harus dihadapi para da’i, terutama di bidang tulis-menulis. Hanya kekuatan pena yang bisa menghadapi kekuatan pena. Hanya buku yang bisa menghadapi buku.” Ungkap Pak Bambang Trim membuka tulisan ini.

Dakwah, semestinya tidak lagi didefiniskan secara sempit berupa ceramah dan khutbah saja, sebab dakwah adalah sebuah aktivitas yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Maka dalam konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa ceramah saja belum cukup untuk dapat menuntaskan problematika yang dihadapi umat.

Dakwah adalah upaya mengajak orang pada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran, apapun bentuknya, apapun perannya. Oleh sebab itu, dakwah sebenarnya dapat dilakukan oleh siapapun dalam bentuk apapun. Maka dari itu, da’i seharusnya bukan lagi pekerjaan para tokoh bertitel ustadz atau ustadzah saja. Setiap kita bisa dan harus menjadi da’i yang menyeru pada kebaikan itu. 🙂

Sesungguhnya, sejarah hanya diwarnai dengan dua warna, yaitu merah darah para syuhada dan hitam tinta para ulama. (Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah)

Maka cukuplah mulia seorang yang menggunakan penanya untuk berdakwah, sebab Allaah pun telah bersumpah dengan pena dalam surah Al-Qalam. Maka kelak jika para syuhada itu mempersaksikan pedang mereka sebagai senjata, biarlah para ulama turut mempersaksikan senjata mereka berupa tulisan; kata-kata.

Kekuatan kata-kata memang tak selamanya bisa menancap kuat dalam pikiran seseorang. Sebagai ilustrasi, Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam pernah melarang para shahabatnya untuk menuliskan hadits-hadits sebelum program hafalan dan penulisan Al-Quran selesai lebih dulu. Namun, setelah Al-Quran diyakini dapat dihafal dan mulai dituliskan, barulah beliau shalallaahu ‘alayhi wasallam mengizinkan para shahabat untuk menghimpun dan menuliskan hadits. Maka dari ilustrasi ini, dapat kita simpulkan bahwa Rasulullah meyakini jika basis dakwah pun harus dibangun dengan kekuatan qalam; pena, tulisan, kata-kata.

Dengan qalam tersebut, kelak akan ada sesuatu yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga dengannya, akan ada hikmah dan pelajaran yang dapat direnungkan.

Tuliskanlah, Meski Hanya Satu Ayat

Efektivitas tulisan sebenarnya bisa menjangkau secara massal, bertahan lama dari masa ke masa, sangat fleksibel dengan perubahan, serta dapat dibaca kapanpun-dimanapun-dalam kondisi apapun. Namun yang mencengangkan adalah kata-kata sastrawan Taufiq Ismail berikut ini,

Selain buta membaca, bangsa kita juga rabun menulis.

Itu artinya, kegiatan membaca dan menulis ternyata belum menjadi sebuah kemampuan untuk melihat dengan cerdas setiap fenomena yang terjadi di dunia ini. Padahal, sudah menjadi bukti sejarah bahwa Islam mengalami masa keemasan ketika ilmu begitu melimpah dan dituangkan ke dalam berjilid-jilid karya tulis berupa buku. Penulisan kembali Al-Quran dan Al-Hadits juga sebenarnya cukup menjadi bukti kuat bahwa umat Islam memiliki keandalan dalam menyusun kitab yang sebelumnya tersebar berupa hafalan, sehingga dapat dirumuskan menjadi karya yang terstruktur sebagai bagian dari karunia Allaah Ta’ala.

Jika sekarang para da’i meninggalkan kebiasaan membaca dan menulis, tentu hal ini akan menjadi sebuah kemunduran telak. Bukankah kita telah dan sedang menyaksikannya saat ini? Bagaimana melongonya kita melihat aliran gagasan yang begitu dahsyat dari para penulis non-Muslim yang begitu tendensius. Iya, kan?

Jika perlu bukti, baiklah, sebutlah satu nama diantara para penulis non-Muslim paling populer. Oke, coba nama ini dulu: Dale Carnegie, yang begitu memukau khalayak dengan gagasan-gagasan lewat tulisan tentang pengembangan diri. Tidak cukup sampai disitu, bahkan ilmu pengembangan diri itu menjadi ajang training jutaan rupiah yang dibanjiri orang-orang yang haus motivasi. Salah satu buku terkenalnya adalah How to Win Friends and Influence People yang berkisah tentang pentingnya silaturrahmi dan mengembangkan prinsip dipercaya oleh orang lain. Anyway, saya punya buku ini di rumah, warisan dari budhe saya. Hehehe. 😀

Bukti lain adalah gagasan yang dituangkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People, yang kemudian diperbarui dengan judul The 8th Habit. Kabarnya, buku tersebut terjual satu juta kopi hanya dalam waktu setahun pasca diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam 32 bahasa. Fantastik!

Dalam buku tersebut, Covey memaparkan hasil penelitiannya tentang karakter manusia untuk dapat mencapai kesuksesan. Bahkan pada buku terakhir, ia menambahkan pentingnya suara hati yang bermakna sebagai spriritualitas yang tinggi.

Satu nama lagi, J.K. Rowling. Anda pasti sudah sangat mafhum dengan yang satu ini. Novelis paling populer abad ini, mungkin ya. Karya fenomenalnya; Harry Potter yang sebenarnya sarat dengan propaganda ilmu sihir itu memang nyatanya telah berhasil menyihir sebagian besar kawula muda negeri ini. 😦

Memang harus kita akui, mereka adalah para penulis Barat yang hebat. Soal ini, mau tidak mau kita memang harus mengakuinya demikian, sebab meski sebagian besar mereka tidak melahirkan gagasan yang berlandaskan syariat, namun apa yang datang dari Barat tidak perlu semuanya ditampik. Kita tetap bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang berharga dari mereka.

Namun, adalah sebuah keanehan ketika kita (khususnya sebagai umat Islam) tahu bahwa kita telah memiliki contoh nyata yang lebih hebat, yaitu Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallam, tetapi kita seolah-olah mencukupkan diri dengan apa yang digagas oleh ilmuwan-ilmuwan Barat. Apa yang dipaparkan oleh Carnegie dan Covey sebenarnya sudah ditunjukkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah. Namun keanehan itu semakin nyata ketika kita merasa bahwa apa yang dibawa oleh kedua orang tersebut adalah sesuatu yang baru bagi umat Islam.

Dari sini semoga kita bisa mulai menarik benang merah. Carnegie dan Covey semestinya menjadi hikmah besar bagi umat Islam, bahwa mereka benar-benar berpikir dan menuliskan apa yang dipikirkannya sehingga menjadi gelombang perubahan yang dahsyat bagi manusia. Maka sampai hari ini, sungguh naif jika kita tidak atau belum segera memulai menuliskan apapun tentang kedahsyatan Islam; dien kita.

Andaikan dihadapkan kepadaku dua orang penulis, maka aku akan memilih yang paling gigih. Tanpa bakat, orang bisa menjadi penulis hebat. Namun tanpa kegigihan, seorang penulis berbakat tak berarti apa-apa. (Mohammad Fauzil Adhim)

Tiga Bekal Menulis

Banyak yang bilang menulis itu sulit. Yang pasti, di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Allaah mengaruniakan tekad, i’tikad, dan manfaat sehingga menulis menjadi aktivitas yang penuh tantangan sekaligus mengasyikkan. Namun ingat, meski kemampuan menulis adalah karunia Allaah, kemampuan tersebut bukanlah bakat yang dibawa sejak lahir. Menulis adalah kemampuan yang bisa dan sangat mungkin dipelajari.

Pak Bambang Trim mencoba membagikan tips bagi kita semua tentang bagaimana menstimulus gagasan untuk memulai sebuah tulisan. Ini dia. 🙂

1. Banyak membaca Yap! Pasangan menulis tidak lain dan tidak bukan adalah membaca. Banyak membaca dapat merangsang gagasan, memperkaya kosa kata, dan menemukan gaya tulisan.

2. Banyak berjalan Bepergian akan memberikan input dan hikmah yang besar bagi kita. Hal inilah yang dapat menstimulus ide dalam pikiran kita. Ingatlah, para ulama terdahulu yang banyak menulis buku umumnya adalah para pengembara. Maka mulai saat ini, jangan lagi sekadar jalan-jalan, travelling, atau naik gunung. Tapi niatkan sesuatu yang lebih bermakna dari itu, yaitu sebagai sarana untuk menekuri ayat-ayat-Nya. Termasuk juga, rajin-rajinlah berjalan untuk mendatangi majelis atau kajian ilmu, seperti: seminar, bedah buku, talkshow, dan sebagainya. 😉

3. Banyak bersilaturrahmi Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam pernah mengingatkan kita tentang kedahsyatan silaturrahmi, diantaranya dapat menjadi jalan pembuka rezeki. Rezeki silaturrahmi itu bisa berupa ilmu dan ide untuk tulisan. Oleh sebab itu, jangan pernah lagi melewatkan momen untuk bersilaturrahmi kepada orang-orang yang keberadaannya di dunia ini sarat akan hikmah, pelajaran, dan inspirasi. Temukan mereka di sekitar kita! 😉

Gagasan yang tidak diminati orang akan sia-sia. Tulisan yang tidak dibaca orang akan sia-sia. Lebih sia-sia lagi dakwah dan pemikiran yang tidak diterbitkan. (Bambang Trim)


Catatan: Resume buku ini in syaa Allaah akan saya bagi menjadi beberapa bagian. To be continued… 😉